Jumat, 15 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Launching Produk Tuna Suwir Kelompok KINGSAN

Kepulauan Selayar, 20 Agustus 2020. Salah satu daerah penghasil ikan tuna di wilayah Taman Nasional Taka Bonerate adalah Desa Tarupa. Untuk meningkatkan nilai ekonomis ikan tuna, Kelompok KINGSAN yang merupakan kelompok masyarakat binaan Balai Taman Nasional Taka Bonerate di Desa Tarupa me-launching produk hasil perikanan berupa olahan ikan tuna yang diberi nama Tuna Suwir. Produk olahan ini merupakan hasil karya ibu-ibu dan remaja putri yang tergabung dalam Kelompok KINGSAN. Launching produk olahan ikan tuna Kelompok KINGSAN dihadiri oleh personil Resort Tarupa dan Kepala Desa Tarupa. Kepala Resort Tarupa, Agusriadi menyampaikan bahwa launching produk ini merupakan salah satu hasil nyata pendampingan petugas Resort Tarupa terhadap kelompok masyarakat KINGSAN. “…Tuna Suwir ini akan menambah nilai ekonomis ikan tuna serta akan memperluas distribusi ikan tuna dari Desa Tarupa. Selain itu di era saat ini, masyarakat kita butuh yang praktis dan siap saji, Tuna Suwir dari Kelompok KINGSAN ini akan menjawab kebutuhan tersebut…” Ia berharap setelah produk ini di-launching masyarakat luas akan tertarik untuk mencoba dan memesan produk ini sehingga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Desa Tarupa. Tuna Suwir dari Kelompok KINGSAN ini diproduksi dari ikan tuna segar yang dipadukan dengan bumbu dan rempah pilihan dengan cita rasa lokal khas Desa Tarupa. Olahan ikan tuna siap saji ini dapat langsung dimakan sebagai lauk maupun cemilan dan akan memanjakan lidah bagi para penikmat kuliner. Sumber : Balai Taman Nasional Taka Bonerate Teks: Khoirul Anam, S.Pi. (PEH Pertama Balai Taman Nasional Taka Bonerate) Video: Agusriadi (Polhut - Kepala Resort Tarupa Balai Taman Nasional Taka Bonerate)
Baca Berita

Penanaman Bibit Dalam Merayakan Kemerdekaan Republik Indonesia

Kamis, 20 Agustus 2020 - Semangat perayaan kemerdekaan Republik Indonesia masih tersimpan dibenak anak anak PPA (Pusat Pengembangan Anak) Bukit Zaitun Desa Batu Merah, semangat para pemuda masih mengalir di dalam darah mereka. hal ini dibuktikan dengan kegiatan cinta Tanah Air yang mereka lakukan, seperti penanaman bersama Personil SPTN III Maelang, pengurus PPA Bukit Zaitun dan pemerintah desa Batu Merah di sekitar Gereja Bukit Zaitun dan di lokasi sekitaran jalan menuju puncak Batu Merah. PPA Bukit Zaitun merupakan pusat pengembangan anak yang berpusat di Gereja Bukit Zaitun Desa Batu Merah. Desa Batu Merah merupakan salah satu desa penyangga di Resort Boroko SPTN III Maelang. Sebagai informasi, anak anak PPA Bukit Zaitun tersebut merupakan anak yang berasal dari keluarga yang memiliki ekonomi rendah yang tidak bisa di sekolahkan oleh orang tuanya. Penanaman tersebut dihadiri oleh perwakilan Kepala Balai TNBNW, Kepala SPTN III Maelang, Kepala Sangadi Desa Batu Merah dan anak anak PPA Desa Batu Merah bersama pengurusnya. Bibit yang ditanampun beragam mulai dari bibit tanaman buah dan tanaman kehutanan. Kegiatan ini juga tidak lepas dari protokol kesehatan untuk mencegah penularan covid 19 seperti penggunaan masker, face shield dan cuci tangan. Anak-anak PPA sangat senang dengan kegiatan ini karena mereka merupakan bibit generasi muda yang dapat membangkitkan semangat dalam menjaga ibu pertiwi, dimulai dengan hal hal kecil seperti yang disuarakan bersama tadi “Kemerdekaan Bukan Berarti Kita Berhenti Berjuang, Melainkan Kita Harus Berjuang Lebih Keras Lagi”. Dalam Rangka Memperingati HUT ke 75 kami PPA Bukit Zaitun bersama Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dan Pemerintah Desa Batu Merah melakukan Penanaman di Pegunungan Batu Merah sebagai wujud kepedulian dan Cinta terhadap lingkungan. terima kasih anak anak PPA Desa Batu Merah semoga apa yang mereka perbuat hari ini dapat menuai banyak manfaat dikemudian hari. Sumber: Balai TN Bogani Nani Wartabone
Baca Berita

Belajar Mengenal TSL Dilindungi di Kampung Buah-Buahan

Manokwari, 18 Agustus 2020. Penyuluh Kehutanan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Papua Barat dibawah pengelolaan Bidang KSDA Wilayah II Manokwari memberikan sosialisasi kepada masyarakat Ayambori tentang fungsi kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Meja dan tumbuhan satwa liar (TSL) yang dilindungi dalam kawasan TWA Gunung Meja pada 11 Agustus 2020 silam. Sosialisasi digelar di Balai Kampung Ayambori yang dihadiri masyarakat Ayambori yang dilatarbelakangi ketidaktahuan masyarakat bahwa kawasan TWA Gunung Meja telah berubah menjadi Kawasan Pelestarian Alam (KPA), dengan demikian fungsi dan pengelolaannya sama dengan Taman Nasional. Lebih lanjut, sosialisasi tersebut juga untuk menegaskan status dan fungsi TWA Gunung Meja sebagai KPA kepada masyarakat Ayambori. Sebelumnya masyarakat telah mengetahui status hutan Gunung Meja dengan menyebut sebagai “hutan lindung” atau “tanah kehutanan”, hal tersebut dikarenakan sejarah TWA Gunung Meja yang telah mengalami beberapa perubahan status sejak diusulkan oleh pengelola TWA Gunung Meja sebagai hutan lindung tahun 1954 hingga ditetapkan TWA Gunung Meja tahun 2012 silam. TWA Gunung Meja merupakan rumah bagi beberapa jenis satwa dilindungi yang terdaftar dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor P.106 tahun 2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Beberapa jenis satwa dilindungi yang terdapat di dalam TWA Gunung Meja antara lain kakatua koki (Cacatua galerita), kasturi kepala hitam (Lorius lory), nuri bayan (Eclectus roratus), kuskus pontai (Spilocuscus maculatus), kupu-kupu sayap burung (Ornithoptera priamus). Sedangkan jenis tumbuhan yang dilindungi antara lain Sagu hutan (Pigafetta filaris). Jenis TSL yang dilindungi tersebut juga disampaikan oleh penyuluh kehutanan dalam acara sosialisasi agar masyarakat Ayambori dapat mengetahui jenis TSL yang dilindungi dan turut bersama pengelola TWA Gunung Meja, dengan demikian diharapkan melalui kegiatan sosialisasi mampu meningkatkan peran aktif masyarakat dalam melindungi dan mengelola kawasan. Masyarakat Ayambori berharap agar kawasan TWA Gunung Meja tetap lestari hingga dapat diwariskan kepada anak cucu di masa depan, hal ini menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi telah memberikan pemahaman baru kepada masyarakat mengenai pentingnya TWA Gunung Meja bagi masyarakat di desa penyangga. Kampung Ayambori merupakan salah satu desa binaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Papua Barat dibawah pengelolaan Bidang KSDA Wilayah II Manokwari. Kampung Ayambori yang merupakan kampung tertua berbatasan dengan kawasan konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Meja dan sebagai kampung penyangga yang secara administrasi terletak di Distrik Manokwari Timur, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat. Untuk mencapai Kampung Ayambori dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Apabila ditempuh dari Kantor Bidang Wilayah II Manokwari melalui jalur darat akan membutuhkan waktu sekitar 20 menit ketika kondisi jalan tidak macet. Masyarakat Kampung Ayambori merupakan Suku Arfak Manokwari yang terbagi dalam 3 (tiga) marga besar yaitu Marga Mandacan, Saroy, dan Dowansiba. Dalam kesehariannya Marga Mandacan menggunakan bahasa “Meyakh”, Marga Saroy menggunakan bahasa “Hatam”, dan Marga Dowansiba menggunakan bahasa “Soug”. Disamping bahasa lokal, masyarakat juga fasih menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi satu sama lain. Bagi masyarakat Ayambori kebiasaan memakan pinang, baik pinang buah maupun pinang kering merupakan bagian dari budaya dan menjadi bahan kontak dengan dilengkapi sirih dan kapur (cangkang kerang yang dihaluskan) yang mesti ada di setiap kegiatan sosialisasi atau penyuluhan bersama masyarakat. Kampung Aymabori dikenal oleh masyarakat Manokwari sebagai Kampung Buah-Buahan dikarenakan berbagai jenis tanaman buah yang biasa dipanen oleh masyarakat setiap tahun, buah-buahan tersebut antara lain buah langsat, rambutan, durian, pepaya, nangka dan pisang. Buah rambutan dan langsat merupakan buah-buahan hasil kebun utama masyarakat dan buah durian hasil panenya dipengaruhi oleh cuaca yang baik. Buah pepaya, nangka dan pisang merupakan tanaman sela di kebun masyarakat. Selain menanam tanaman tahunan, masyarakat kampung Ayambori juga menanam tanaman musiman yaitu jagung, rica (bahasa lokal dari cabai), kasbi (singkong), betatas (ubi jalar), sawi, dan terong. Tanaman tersebut diairi oleh masyarakat dengan mengandalkan air hujan. Potensi buah-buahan yang beragam dan keahlian masyarakat dalam bercocok tanaman dapat menjadi sebuah potensi pengembangan Agrowisata di kampung Ayambori. Lebih lanjut, masyarakat juga beternak babi tanpa dikandangkan, namun dilepaskan di sekitar lingkungan rumah. Mata pencaharian dominan masyarakat Ayambori sebagai petani, sedangkan sisanya sebagai pegawai dan tukang ojek. Miker Jog Merembra, Merembra Jog Miker ! (Bahasa Meyakh) Kita Jaga Hutan, Hutan Jaga Kita ! Sumber : Meyanti Toding Buak, S.Si. - Calon Penyuluh Kehutanan Balai Besar KSDA Papua Barat (Penulis dan Foto)
Baca Berita

Bantuan Pemberdayaan Masyarakat di TWA Pelaihari SKW I

Batakan, 14 Agustus 2020 – Balai KSDA Kalimantan Selatan melaksanakan penyerahan bantuan pemberdayaan masyarakat bertempat di Taman Wisata Alam (TWA) Pelaihari Pantai Batakan. Tujuan kegiatan ini dalam rangka pengembangan kegiatan pemberdayaan masyarakat dan mendukung peningkatan ekonomi masyarakat sekitar kawasan yang terdampak pandemi Covid-19. Penyerahan bantuan sebesar 20 juta rupiah untuk kelompok Jasa Wisata “Maju Bersama” dan 50 juta untuk kelompok kemitraan konservasi “Tani Lestari” yang diserahkan langsung oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc, didampingi Kepala SKW 1 Pelaihari Mirta Sari, S.Hut., M.P. dan Kepala Resort TWA Pelaihari Alfredo De Araujo serta disaksikan oleh Kepala Desa Batakan Bapak Arsani, Perwakilan Kecamatan Panyipatan, Perwakilan Dinas Pariwisata, Babinsa dan Babintibmas serta tokoh masyarakat lainnya. Kepala Balai Dr. Mahrus menyampaikan bahwa kegiatan pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu sarana komunikasi dan penguatan silaturahmi antara pengelola kawasan dengan masyarakat sekitarnya. Kepada anggota kelompok masyarakat agar dapat digunakan secara tepat, transparan dan manfaat. Bantuan ini jangan sampai menimbulkan perselisihan yang dapat merugikan semua pihak. Sebaliknya, bantuan ini untuk bersama-sama memajukan Pantai Batakan dan peningkatan ekonomi. Acara tersebut makin terasa spesial dengan bergabungnya Direktur Jenderal KSDAE Bapak Ir. Wiratno, M.Sc di sela kesibukan beliau. Dalam diskusi dan obrolan hangat dengan kelompok masyarakat mitra konservasi Tani Lestari dan Maju Bersama, Dirjen KSDAE lewat virtual menanyakan kepada masyarakat tentang potensi yang dapat dikembangkan di daerah sekitar kawasan TWA Pelaihari Pantai Batakan. Dalam akhir diskusi, Bapak Ir. Wiratno, M.Sc memberikan arahan agar kelompok masyarakat memiliki kas/ tabungan kelompok yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bantuan secara terencana, efisien, transparan dan manfaat guna peningkatan usaha ekonomi masyarakat sekitar kawasan. (ryn) Sumber : Nadya Arta Uly Siagian, S.H - Polhut Seksi Konservasi Wilayah I Pelaihari Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Coffee Morning Live Talkshow Global Tiger Day 2020

Kotaagung, 18 Agustus 2020 - Bertempat di halaman Kantor Balai Besar TNBBS Kotaagung, Pelaksana Tugas Kepala Balai Besar TNBBS Ismanto, S.Hut.,M.P. membuka acara Coffee Morning Live Talkshow Global Tiger Day 2020 “17 Agustus, Harimau dan Kemitraan Konservasi”, Selasa 18 Agustus 2020 pukul 09.35 WIB. Acara ini diselenggarakan oleh Balai Besar TNBBS bersama Mitra Kerja, antara lain : WCS-IP; UNDP Tiger Project; PT. Adhiniaga Kreasi Nusa (PT. AKN); PILI; dan YABI. Live Talkshow menampilkan beberapa Narasumber yang aktif dalam upaya konservasi Harimau Sumatera khususnya di Landscape Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan untuk memperingati HUT Republik Indonesia yang ke 75 dan Global Tiger Day yang dirayakan setiap tanggal 29 Juli 2020. Nara Sumber yang hadir antara lain: Ismanto, S.Hut.,M.P (Plt. Kepala Balai Besar TNBBS); Subakir, S.H.,M.H. (Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas); Hifzon Zawahiri, S.E.M.M (Kepala SKW III BKSDA Bengkulu); Guntur W. Mukti (Koordinator Konservasi TWNC); Drh. Sugeng Dwi H (Praktisi Wildlife Welfare Veterinary); Tabah (WCS-IP); dan Ahmad Latief (Masyarakat Pelaku Kearifan Lokal di pinggiran TNBBS Desa Rajabasa). Direktorat KKH ikut berpartisipasi dalam Live Talkshow melalui Video teleconference diwakili oleh Kepala Subdit Pengawetan Jenis Konservasi Keanekaragaman Hayati Ir. Sri Mulyani, M.Si. Pada kesempatan ini, Sri Mulyani menyampaikan bahwa Pulau Sumatera dari ujung utara yaitu Aceh sampai dengan ujung selatan yaitu Provinsi Lampung merupakan habitat Harimau Sumatera. Upaya konservasi Harimau Sumatera telah dilakukan berbagai lembaga baik dari Lembaga Pemerintah maupun Lembaga Non Pemerintah. “Seperti kita ketahui bersama, ancaman paling besar dari Harimau Sumatera adalah perburuan. Berdasarkan laporan hasil Patroli SMART yang dilakukan, banyak ditemukan jerat di dalam kawasan hutan. Kasus terakhir konflik Harimau Sumatera dengan masyarakat terjadi di Bulan Januari 2020 daerah Muara Enim Sumatera Selatan”, tegas Sri Mulyani. Live Talkshow yang dimoderatori oleh Rikha A. Surya yang juga merupakan Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai Besar TNBBS ini, memunculkan berbagai pernyataan para Nara Sumber sebagai berikut: Subakir, S.H.,M.H. (Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas): “Way Kambas satu-satunya Taman Nasional yang tidak ada zona tradisional. Padahal, Way Kambas berbatasan langsung dengan tanah masyarakat (tanah milik). Namun, TWNK juga TN yang tidak ada perambahan. Perburuan satwa liar merupakan permasalahan utama di Way Kambas”. Hifzon Zawahiri, S.E.,M.M (Kepala SKW III Balai KSDA Bengkulu): “Kita berhasil melakukan evakuasi Harimau Sumatera yang diberi nama Kiay Batuah dari Suoh, Direktorat KKH mengakui keberhasilan ini. Namun, untuk tindak lanjut perlu dilakukan kajian jika akan melepas liarkan Kiay Batuah”. Drh. Sugeng Dwi H (Praktisi Wildlife Welfare Veterinary): “TNBBS dalam melaksanakan tugas dan fungsi konservasi Harimau Sumatera tidak memiliki dokter hewan, sedangkan dalam upaya evakuasi satwa harimau diperlukan tenaga medis (dokter hewan). Solusi dalam hal ini, TNBBS dapat meminta bantuan pada dokter hewan terdekat. Kita harus mewaspadai zoonosis, yaitu penularan penyakit dari hewan ke manusia atau sebaliknya”. Ahmad Latief (Masyarakat Pelaku Kearifan Lokal di pinggiran TNBBS Desa Rajabasa): “Kami adalah masyarakat yang berada di sekitar kawasan TNBBS, daerah Talang 11 Pekon Rajabasa, telah aktif dalam penanganan konflik dengan Harimau Sumatera sejak tahun 1996. Tahun 2004, harimau sempat memasuki rumah saya. Alhamdulillah saat ini, kita bersama WCS telah mendirikan Gardu Jaga, untuk menjaga harimau dari gangguan orang dari luar daerah. Saat ini, tidak ada konflik dengan Harimau Sumatera karena di dalam hutan ketersediaan pakan masih cukup. Masyarakat belum melihat secara langsung harimau, hanya sebatas jejak cakar dan sisa makanannya. Ada pembagian ruang dan pola waktu antara masyarakat dengan Harimau Sumatera”. Tabah (WCS-IP): “Kami melakukan upaya penanggulangan konflik satwa liar Harimau Sumatera dengan mengacu pada Permenhut Nomor P.48 tahun 2008. Upaya edukasi dan pendampingan masyarakat terus dilakukan, khususnya pada masyarakat di daerah penyangga TNBBS. Kemerdekaan bagi satwa Harimau Sumatera adalah kebebasan untuk hidup dihabitatnya tanpa adanya gangguan manusia yang berupaya melakukan perburuan liar”. Guntur W. Mukti (Koordinator Konservasi TWNC dengan menggunakan video conference): “Kita harus konsisten dalam melakukan monitoring Harimau Sumatera. Selain itu, ekosistem habitat Harimau Sumatera tetap kita jaga, misalnya dalam upaya pemberantasan tanaman invasif Mantangan di kawasan Tambling. Harimau Sumatera tinggal 1 langkah lagi menuju kepunahan, hak azasi hewan di atas hak azasi manusia di Tambling”. Live Talkshow juga menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh masyarakat melalui Media Sosial Instagram Balai Besar TNBBS. Salah satu pertanyaannya adalah “Bagaimana pengamanan yang dilakukan oleh TNBBS atas keberadaan Harimau Sumatera, serta tingkat kepadatan Harimau Sumatera di Kawasan TNBBS?”. Plt. Kepala Balai Besar TNBBS Ismanto, S.Hut.,M.P menjawab : “Balai Besar TNBBS telah melakukan patroli secara rutin, baik patroli pengamanan kawasan secara mandiri maupun patroli pengamanan yang dilakukan bersama mitra kerja. Selain itu, kita juga melakukan operasi pembersihan jerat di kawasan TNBBS. Untuk kepadatan Harimau Sumatera, data tahun 2018 di site monitoring ada 37 ekor di bagian selatan TNBBS dan 18 ekor di bagian utara TNBBS. Untuk populasi dibagian selatan, data dari TNBBS bersama PT. AKN pada tahun 2020 ada 45 ekor”. Sumber: HUMAS Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan
Baca Berita

Pastikan Protokol Pencegahan Covid-19 Diterapkan, Kepala Balai KSDA Yogyakarta Tinjau GL Zoo

Yogyakarta 18 Agustus 2020. Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M.Wahyudi, Selasa siang (18/08/20) mengunjungi Gembira Loka Zoo (GL Zoo). Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari telah dibukanya kembali GL Zoo bagi masyarakat umum. Inspeksi mendadak ini sengaja dilakukan oleh M. Wahyudi untuk melihat secara langsung bentuk pelaksanaan operasionalisasi kunjungan yang diterapkan pengelola GL Zoo. Dari hasil inspeksi yang dilakukan, M. Wahyudi mengapresiasi terhadap penerapan protocol pencegahan covid-19 yang telah dilakukan pihak pengelola. “Dari awal masuk komplek GL Zoo penerapan protocol pencegahan covid-19 telah diterapkan dengan baik oleh pengelola. Dimulai dari screening pengunjung, pengecekan suhu badan dan penyediaan sarpras pendukung protocol pencegahan covid-19 semua telah dipersiapkan dengan baik.” kata M. Wahyudi. Lebih lanjut M. Wahyudi mengungkapkan “Dari hasil laporan pengunjung yang saya baca, ternyata cukup banyak pengunjung yang ditolak masuk oleh GL Zoo seperti bayi, lansia, wanita hamil dan pengunjung dengan suhu badan lebih dari 37,5oC mereka tidak diijinkan masuk GL Zoo oleh petugas. Ini sejalan dengan komitmen GL Zoo yang tidak ingin menjadi kluster baru penularan covid-19 ini sehingga screening yang dilakukan sangat ketat” jelasnya. Dalam kesempatan kunjungan kali ini Kepala Balai KSDA Yogyakarta juga melihat secara langsung kondisi zona cakar yang merupakan salah zona baru yang berfungsi sebagai zona edukasi satwa di GL Zoo. Zona cakar ini sebenarnya telah dipersiapkan pengelola GL Zoo untuk dilaunching saat libur lebaran 2020, namun karena pandemi covid-19 launching zona cakar diundur hingga kondisi memungkinkan untuk dibuka bagi kunjungan umum seperti saat ini. Sumber : Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Aksi Bersih Sampah TWA Pelaihari Pantai Batakan

Pelaihari, 14 Agustus 2020 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan melakukan aksi bersih sampah di kawasan konservasi tepatnya di Taman Wisata Alam Pelaihari Pantai Batakan Kabupaten Tanah Laut wilayah kerja SKW I Pelaihari. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai rangkaian puncak kegiatan HKAN 2020 yang selalu diperingati setiap tahunnya pada tanggal 10 Agustus dengan melakukan aksi bersih sampah di seluruh kawasan konservasi di Indonesia, dimana kegiatan bersih sampah serentak pada tanggal 10 Agustus 2020 yang lalu untuk BKSDA Kalsel dilaksanakan di TWA Pulau Bakut SKW II Banjarbaru. Kepala BKSDA Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc. yang didampingi Kepala Seksi I Mirta Sari, S.Hut., M.P dan Kepala Resort Alfredo De Araujo menyatakan bahwa peringatan HKAN 2020 mengusung tema “Nagara Rimba Nusa-Merawat Peradaban Menjaga Alam” memiliki makna bahwa semangat konservasi alam era peradaban maju menjadi tanggung jawab semua pihak. Lebih lanjut Dr. Mahrus menyampaikan bahwa peringatan HKAN 2020 dilaksanakan dalam suasana keprihatinan karena adanya pandemi Covid-19 sehingga jumlah peserta yang dilibatkan dibatasi dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan. Aksi bersih sampah di TWA Pelaihari Pantai Batakan melibatkan peserta yang terdiri dari unsur BKSDA Kalsel, Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Tanah Laut, Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Tanah Laut, Perwakilan Kecamatan Panyipatan, unsur Koramil Panyipatan dan Batakan, Polsek Panyipatan, Kepala Desa Batakan, kelompok Relawan Rumah GERBACA TWA Pelaihari serta kelompok mitra konservasi Maju Bersama dan Tani Lestari. Kegiatan ini berhasil mengumpulkan ± 500 kilogram. Balai KSDA Kalsel tetap mengedepankan protokol kesehatan dalam rangka pencegahan penyebaran wabah COVID-19. Sebagai bentuk pelaksanaan protokol kesehatan dalam kegiatan aksi bersih sampah, SKW I Pelaihari BKSDA Kalsel membagikan 200 masker untuk peserta kegiatan aksi bersih pantai untuk mencegah penularan Covid-19. Pada akhir kegiatan Kepala BKSDA Kalsel menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh peserta undangan yang hadir dan berharap agar aksi bersih sampah di TWA Pelaihari Pantai Batakan dalam rangka memperingati HKAN 2020 dapat dijadikan momentum untuk mengkampanyekan pentingnya keberadan hutan konservasi bagi kehidupan peradaban manusia dimasa mendatang. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Bantuan Ekonomi untuk Mitra Konservasi dan Pemberdayaan Masyarakat di SKW II

Barito Kuala, 5 Agustus 2020 – Balai KSDA Kalimantan Selatan kembali mengambil peran atas hadirnya pihak pemerintah khususnya KLHK di tengah-tengah masyarakat. Kali ini Balai KSDA Kalimantan Selatan melaksanakan penyaluran bantuan ekonomi masyarakat kepada kelompok kemitraan konservasi dan juga kelompok pemberdayaan masyarakat yang ada di wilayah kerja SKW II Banjarbaru. Kelompok kemitraan konservasi yang menerima bantuan ekonomi masyarakat adalah Kelompok Kemitraan Konservasi “Suka Maju” Desa Kuala Lupak, Kelompok Kemitraan Konservasi “Mandiri Bersama” Desa Sungai Telan Besar dan Kelompok Pemberdayaan Masyarakat “Maju Bersama” Desa Sungai Telan Besar. Penyaluran bantuan ekonomi masyarakat ini dilaksanakan pada hari Rabu, 5 Agustus 2020 yang bertempat di salah satu lokasi kemitraan konservasi yaitu areal tambak di Sungai Rintisan SM Kuala Lupak. Bantuan usaha ekonomi ini adalah sebagai bentuk peran serta KLHK melalui Balai KSDA Kalimantan Selatan khususnya SKW II selaku perpanjangan tangan Pemerintah Indonesia dalam upaya pemberdayaan masyarakat yang ada di sekitar kawasan konservasi dan mendukung peningkatan ekonomi masyarakat ditengah krisis pandemi Covid-19. Penyerahan bantuan usaha ekonomi masyarakat ini diserahkan langsung oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc didampingi oleh Kepala SKW II Banjarbaru, M. Ridwan Effendi, S.Hut, M.Si serta Kepala Resort KSDA SM Kuala Lupak dan SM Pulau Kaget, Ahmad Barkati. Penerima bantuan usaha ekonomi masyarakat ini diterima oleh Jawase selaku Ketua Kelompok Kemitraan Konservasi “Suka Maju” Desa Kuala Lupak, H. Nurdin selaku Ketua Kelompok Kemitraan Konservasi “Mandiri Bersama” Desa Sungai Telan Besar, dan Helmi selaku ketua Kelompok Pemberdayaan Masyarakat “Maju Bersama” Desa Sungai Telan Besar. Kepala Balai Dr. Mahrus menyampaikan pesan kepada penerima bantuan agar dalam melaksanakan kegiatan usaha ekonomi masyarakat yang diutamakan adalah keterbukaan dan kebersamaan, namun segala kendali ada pada ketua kelompok. Aspirasi anggota kelompok dan permasalahan yang terjadi dalam kelompok agar disampaikan kepada ketua kelompok dan dimusyawarahkan bersama untuk mencari solusi yang terbaik. Kepala Balai juga berharap agar bantuan ini memberikan dampak kepada anggota kelompok lainnya. Dalam arti lain, bantuan ini bergulir kepada anggota kelompok lainnya, sehingga kesejahteraan anggota kelompok dapat meningkat dengan adanya bantuan ini. Jenis usaha yang dilaksanakan kelompok kemitraan konservasi adalah penanaman bakau sebagai bentuk upaya pelestarian mangrove dan juga budidaya kepiting bakau, sedangkan kelompok pemberdayaan masyarakat adalah itik petelor. Kepala Balai juga menyampaikan pesan dari Dirjen KSDAE Bapak Ir. Wiratno, M.Sc. bahwa masyarakat harus menjadi pelaku utama dalam kegiatan, sehingga masyarakat merasa dilibatkan dan bertanggung-jawab terhadap kegiatan tersebut. Kegiatan penanaman bakau dan pemeliharaan kepiting di tambak merupakan strategi yang tepat untuk pemulihan ekosistem sekaligus peningkatan ekonomi. (ryn) Sumber : Cecep Budiarto, S.Hut - Penyuluh Kehutanan Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Rangkaian Peringatan HUT RI Ke-75 di Laut Taman Nasional Kepulauan Togean

Ampana, 19 agustus 2020 - Balai Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKT) melaksanakan rangkaian untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke-75 Tahun 2020. Pada tanggal 16 Agustus 2020 pukul 08.00 WITA Tim TNKT dan Touna Diving Club melakukan transplantasi karang di wilayah SPTN 2 Lebiti. Kegiatan ini sekaligus sebagai Langkah awal pencanangan transplantasi sejuta karang di Kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean. Kerusakan Ekosistem karang Taman Nasional Kepulauan Togean yang diakibatkan oleh destructive fishing sudah cukup meresahkan dan mengganggu perkembangan sektor pariwisata di Taman Nasional Kepulauan Togean. Untuk itu, perlu Kerjasama semua pihak untuk memulihkan ekosistem terumbu karang yang telah rusak dengan jalan melakukan kegiatan transplantasi karang. Setelah kegiatan transplantasi karang dilanjutkan dengan persiapan pengibaran bendera di dalam laut Pada tanggal 17 Agustus 2020 dilaksanakan Upacara Bendera di Pelabuhan Desa Katupat dihadiri oleh Wakapolres Tojo Una-Una bersama istri, dan Bpk. Ir. Bustang (Kepala Balai TNKT) bersama istri, Bpk. Frengki (Kejaksaan), aparat Desa katupat, Guru dan Siswa SDN Katupat, Ibu PKK Desa Katupat, Darma wanita TNKT dan Masyarakat Desa Katupat. Pada saat sebelum upacara dimulai pegawai Balai TNKT membagikan masker kepada seluruh peserta upacara dan masyarakat desa ketupat. Dalam pelaksanaan kegiatan ini tetap mengedepankan prinsip-prinsip protokol Kesehatan. Setelah selesai upacara bendera di Pelabuhan Desa katupat dilanjutkan dengan Pengibaran bendera di dalam laut yang diikuti oleh Jafar M. Amin anggota DPRD Kab. Tojo Una-Una, Tim Dive TNKT, komunitas Ampana Dive, dan Tim Dive Desa Katupat. Sumber : Indriyanti (Humas) Balai TN Kepulauan Togean
Baca Berita

Masih Ditengah Pandemi, Balai TN Bunaken Latih Olah Sampah & Hidroponik

Manado, 19 Agustus 2020. Sebanyak 60 orang dari perwakilan desa penyangga di Kawasan Taman Nasional (TN) Bunaken diundang mengikuti pelatihan pengolahan sampah dan hidroponik yang bertempat di Grand Luley Hotel Manado pada 15 Agustus 2020. Sebanyak 25 desa masing-masing mengirimkan utusannya masyarakatnya sebanyak 2 orang, dengan 1 orang terlibat di pelatihan pengolahan sampah dan 1 orang di pelatihan hidroponik. Pelatihan yang digelar di masa pandemik Covid-19 diharapkan akan memberikan bekal kemampuan ketrampilan masyarakat menghadapai era new normal. Kepala Balai TN Bunaken Dr. Farianna Prabandari dalam sambutannya menyampaikan bahwa untuk peningkatan kapasitas masyarakat penting dilakukan mengingat potensi pengolahan sampah menjadi paving block dan handycraft akan menunjang sektor wisata alam di kawasan TN Bunaken. Dalam kesempatan tersebut turut hadir dan memberikan motivasi kepada peserta Pelatihan Asisten Potensi Maritim Lantamal VIII mewakili Danlantamal VIII (Hendy Dwi Bayu Ardiyanto) dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Sulawesi Utara (Marlie Gumalag). Letkol Hendy dalam sambutannya menekankan bahwa potensi maritim yang besar dan kuat juga harus dibarengi dengan kualitas sumber daya manusia. Sampah masih menjadi salah satu momok masyarakat diwilayah pesisir sehingga perlu dioptimalkan pengolahannya menjadi sesuatu yang berharga. Demikian pula yang disampaikan oleh Kadis LHD Prov. Sulawesi Utara Ibu Marlie Gumalag, secara umum pelatihan serupa sering di gelar, tapi kompetensi perlu ditingkatkan, apalagi dalam masa pendemik seperti ini. Untuk menghadapi era new normal pengetahuan tambahan masyarakat pesisir dalam pengelolaan sampah juga perlu di tambah, tutur Marlie. Sumber : Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Hidroponik Solusi Sayur Sehat di Penyangga Taman Nasional Bunaken

Manado, 19 Agustus 2020. Selama 2 hari (13-14 Agustus) perwakilan masyarakat dari desa penyangga kawasan Taman Nasional (TN) Bunaken digembleng belajar hidroponik. Pelatihan perdana yang digelar adalah upaya menyiapkan ketahanan pangan dengan sayuran sehat keluarga di masa pandemi. Hidroponik akan menjadi solusi bagi masyarakat dalam pemanfaatan lahan terbatas dan daerah dengan kondisi salinitas tinggi. Harapan kedepan dengan pelatihan hidroponik akan memotivasi pemanfaatan tanah marginal dipekarangan dan lahan sempit sebagai penyediaan sayuran kebutuhan rumah tangga. Kepala Balai Taman Nasional Bunaken Farianna Prabandari menyampaikan, ketahanan pangan masyarakat di masa pandemik merupakan kebutuhan dasar masyarakat, kami menyiapkan pelatihan ini untuk masyarakat, bahan-bahan banyak dan tersedia di desa-desa, selepas pelatihan peserta dapat mengimplementasikan langsùng dipekarangan rumah sambil mensosialisasikan kepada keluarga dan masyarakat sekitarnya. Lebih jauh dengan pelatihan hidroponik ini juga menyiapkan peningkatan ekonomi keluarga, sayuran sehat dan layak konsumsi. Sebagian besar masyarakat bermukim dì kepulauan dan pesisir berdekatan dengan resort wisata, kedepan prospek hidroponik sangat menjanjikan sebagai bagian menu makanan sehat bagi wisatawan, tambah Farianna. Dalam materi pelatihan hidroponik juga disampaikan terkait kebijakan Pemerintah Sulawesi Utara dalam pengembangan pertanian dan peternakan untuk ketahanan pangan, serta Pemerintah Kabupaten Minahasa terkait penyuluhan agrowisata pertanian dan tanaman pangan di pekarangan. Selain itu dari Universitas Sam Ratulangi juga mengenalkan teknik menanam dengan hidroponik. Instruktur Hidroponik sekaligus pemilik Mdc HydroFarm, Andreas Tommy Danie menyampaikan kepada peserta pelatihan, hidroponik ini adalah pertanian modern, tetapi peralatan yang digunakan bisa dari yang paling sederhana sampai teknologi canggih. Praktek peserta kali ini adalah dengan langsung menanam pada media semai dengan campuran nutrisi A dan B. Perlengkapan praktek di kelas pelatihan dapat dilanjutkan di rumah masing-masing, peserta dapat meneruskan sampai penanaman, bila rajin hasil tanamannya bisa sampai 2 kali panen. Bahkan bisa langsung praktek dengan alat-alat sederhana yang ada di lingkungan sekitar rumah, tutup Tomi. Sumber : Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Balai TN Gunung Merapi Belajar Kelola Sampah Kegiatan Wisata Alam

Yogyakarta, 19 Agustus 2020. Pengelolaan sampah khususnya pada daerah wisata alam di kawasan hutan diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang mengatur kewajiban mengurangi dan menangani sampah dengan cara berwawasan lingkungan. Untuk mendukung pengelolaan tersebut, maka pada tanggal 18 – 21 Agustus 2020, Pusat Keteknikan Kehutanan dan Lingkungan mengadakan Bimbingan Teknis Pengurangan dan Penanganan Sampah Kegiatan Wisata Alam di Kawasan Hutan. Pada saat pembukaan, Kepala Pusat Keteknikan Kehutanan dan Lingkungan, Ir. Gatot Soebiantoro, M.Sc., mengungkapkan bahwa tujuan bimbingan teknis ini untuk meningkatkan kesadaran kita terhadap penanganan dan pengurangan sampah khususnya di areal wisata. Beliau juga menegaskan bahwa sampah di dalam kawasan hutan harus ditangani sebagaimana mestinya sehingga sampah dapat terkendali. Bimbingan teknis ini dibagi menjadi 2 (dua) sesi yaitu sesi pertama berupa pemaparan materi terkait kebijakan pengelolaan sampah serta penerapannya, serta identifikasi sampah yang dilakukan di Univeristy Club Hotel UGM Yogyakarta dan dilanjutkan sesi kedua yaitu praktek lapangan terkait strategi dan teknik penanganan di areal kawasan Wisata Alam Jurang Jero Taman Nasional (TN) Gunung Merapi. Materi ini diberikan Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi, Kepala Sub Direktorat Pengelolaan Sampah, Kepala Divisi Teknik Lingkungan IPB, dan Kepala Balai TN Gunung Merapi. Materi yang diberikan dari para pemateri arah pengelolaan sampah di kawasan wisata agar sampah dapat terkendali dan bahkan berkurang. Kebijakan pengelolan sampah secara umum dan implementasinya di kawasan wisata harus diterapkan agar sampah dapat tertangani. Hal ini selaras dengan surat edaran Dirjen KSDAE Nomor: SE.11/KSDAE/PJLHK/KSA.3/10/2019 tentang Pengelolaan dan Pemeliharaan Kebersihan di Kawasan Konservasi. Berkaitan dengan hal tersebut arahan yang diberikan agar zero waste zero accident pada jalur pendakian dan clean up di kawasan konservasi. Peserta yang hadir merupakan peserta yang berasal dari Wilayah Jawa dan Nusa Tenggara Barat (NTB) mengingat untuk memperkecil dampak Covid19 serta peserta yang hadir juga mempunyai wisata pada wilayah kerjanya. Total peserta bimbingan teknis berjumlah 20 (dua puluh) orang yaitu berasal dari Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru, Balai TN Gunung Merapi, Balai TN Gunung Merbabu, Balai TN Karimun Jawa, Balai TN Gunung Rinjani, BKSDA Jawa Tengah, BKSDA Yogyakarta, BKSDA NTB, P3E Jawa, dan Balai KPH Yogyakarta. Peserta yang hadir ini tertib mematuhi protokol kesehatan dengan menggunakan masker, face shield selama acara berlangsung. Diharapkan dengan adanya bimbingan teknis penanganan dan pengurangan sampah kegiatan wisata alam di kawasan hutan para peserta mampu menerapkan nilai yang didapat dari kegiatan ini dan juga para pemangku kawasan hutan lebih aware terhadap sampah yang ada dikawasan serta mampu menangani sampah yang ada. Sumber : Aldila Paramita - Balai Taman Nasional Gunung Merapi ***
Baca Berita

BBKSDA Papua Gandeng Angkasapura I Sentani Cegah Peredaran TSL di Bandara Sentani

Jayapura, 19 Agustus 2020. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua menghadiri Airport Security Commite (ASC) Meeting IV yang diadakan PT. Angkasapura I. Kegiatan berlangsung di Ruang Aula Lt. 3, Kantor PT. Angkasa Pura I (Persero) Cabang Sentani, di Kabupaten Jayapura. Pihak-pihak yang hadir antara lain, Koordinator PAM TNI AU Silas Papare, Komandan Satgas Paskhas PAM Bandara Rahwan Papua, Kepala Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Jayapura, Komandan Koramil Sentani, Kepala Kepolisian Sektor Bandara Sentani, Maskapai Penerbangan Operasional wilayah Papua, serta seluruh stakeholder yang terlibat dalam kegiatan operasional di Bandara Internasional Sentani. Pada kegiatan tersebut Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut., M.Si., menyampaikan materi tentang pengendalian dan pengawasan peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) di Provinsi Papua. Edward menyampaikan UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Balai Besar KSDA Papua mengelola kawasan konservasi seluas 4,1 juta hektar, terdiri dari delapan kawasan cagar alam, tujuh suaka margasatwa, tiga taman wisata alam, dan satu KSA/KPA. Banyak potensi keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna berada di dalam kawasan konservasi tersebut. Semuanya harus dijaga dan diawasi peredarannya demi kelestarian sumber daya alam dan kesejahteraan hidup masyarakat di Papua. Para pihak yang hadir siap mendukung adanya sinergisitas dalam pelaksanaan tugas di Bandara Sentani. Koordinasi antara stakeholders dalam pelaksanaan tugas di lapangan harus selalu ditingkatkan agar jangan ada kesalahpahaman dalam implementasinya. Pihak BBKSDA Papua membagikan poster dengan judul "Kitorang jaga kekayaan alam Papua sebelum jadi kenangan". Poster tersebut berisikan informasi tentang jenis dan gambar satwa liar yang diduga banyak beredar secara ilegal di Bandara Sentani. Pada kesempatan tersebut, Edward juga berkoordinasi dengan GM. Angkasa Pura I Sentani terkait keberadaan aset BMN BBKSDA Papua, berupa Pos Jaga di lingkungan Angkasa Pura I, juga rencana penempatan Pos Jaga setelah proses renovasi dan pengembangan Bandara Sentani. [] Sumber: Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Pimpinan dan Staf Balai Besar KSDA Riau Memperingati Hut RI ke 75 Secara Virtual

Pekanbaru, 18 Agustus 2020, Senin (17/8) merupakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 75. Seluruh jajaran pimpinan beserta staf Balai Besar KSDA Riau mengikuti upacara kemerdekaan di Istana Negara secara virtual di lokasi tugas ataupun kediaman rumah masing – masing. Pimpinan dan staf Balai Besar KSDA Riau juga menghentikan segala aktivitas untuk menghormati detik – detik kemerdekaan Indonesia saat berkibarnya Sang Merah Putih dengan mengambil sikap sempurna. “DIRGAHAYU INDONESIA ke 75 TAHUN” Kami berjanji untuk mewujudkan Indonesia Maju dengan segenap jiwa raga kami. MERDEKA… Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

BKSDA Sulteng Beli HHBK Dua Kelompok Desa Binaan

Poso, 17 Agustus 2020. Balai KSDA Sulawesi Tengah pada tanggal 13 Agustus 2020 kemarin, bertempat di Gedung Serbaguna Desa Bancea Kab. Poso melakukan kegiatan pembelian produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dari 2 kelompok desa binaan Balai KSDA Sulawesi Tengah. Pembelian produk HHBK tersebut berupa gula aren dan turunannya berupa minuman kesehatan “saraba”. Selain pembelian produk HHBK tersebut, Balai KSDA Sulawesi Tengah juga memberikan bantuan peralatan produksi gula aren yang juga disaksikan oleh Bupati Poso (Bapak Darmin Agustinus Sigilipu). Pemberian bantuan diberikan kepada 2 kelompok desa Binaan yaitu Desa Bancea dan Desa Owini Kec. Pamona Selatan Kab. Poso. Dalam sambutannya Bupati Poso Darmin Agustinus Sigilipu menyampaikan rasa terimakasih yang sangat tinggi kepada Kepala BKSDA Sulawesi Tengah Ir. Hasmuni Hasmar, M.Si khususnya kepada Dirjen KSDAE Bapak Wiratno yang telah banyak membantu masyarakat Kabupaten Poso, karena kegiatan-kegiatan tersebut ternyata mampu meningkatkan ekonomi masyarakat di masa pandemi seperti saat ini. Pada kesempatan ini pula dilakukan penandatanganan Kesepakatan Pengelolaan TWA Bancea dengan melibatkan masyarakat sekitar kawasan dalam kebersihan dan pemandu wisata di kawasan TWA Bancea. Acara kemudian ditutup dengan penanaman bibit pohon di tepian Danau Poso oleh Kepala Balai KSDA Sulteng Ir. Hasmuni Hasmar, M.Si bersama dengan Bupati Poso dan seluruh unsur Tripika yang hadir. Sumber : Amelia - Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

HUT RI Ke-75, Balai Taman Nasional Wakatobi SPTN III Lepasliarkan 75 Ekor Tukik

Binongko, 17 Agustus 2020. Memperingati Hari Kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang ke 75, Balai Taman Nasional Wakatobi melalui Seksi Pengelolan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Tomia - Binongko melakukan pelepasan liaran tukik di Pantai Kollosoha. Tukik yang dilepas berjumlah 75 ekor dengan jenis penyu hijau (Chelonia mydas). Kegiatan pelepasan liaran melibatkan Kapolsek Tomia, Danramil Tomia, Pejabat Pemda kecamatan Tomia, Para Kepala Desa se-Tomia, Tokoh Adat Tomia, Komunitas Lokal Tomia dan Pelajar SMP Tomia. Tak lupa selama kegiatan berlangsung, tim Balai Taman Nasional Wakatobi SPTN III tetap memperhatikan protokol covid 19 yaitu para peserta mencuci tangan, menggunakan masker dan menjaga jarak. Sumber : Balai Taman Nasional Wakatobi

Menampilkan 3.185–3.200 dari 11.141 publikasi