Jumat, 15 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Selamat Datang di Dunia Bawah Air

Kepulauan Seribu, 1 September 2020. Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu, menyelenggarakan Pelatihan Selam Bagi Kelompok Pemandu dan Petugas, pada tanggal 25 s.d. 27 Agustus 2020 di Pulau Pramuka. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan SDM pemandu dan petugas khususnya keterampilan selam. Peserta sebanyak 25 orang terdiri dari 17 orang pemandu wisata dan 8 orang petugas BTNKpS, didampingi tim instruktur dan divemaster sebanyak 10 orang. Salah satu peserta adalah Bapak Stephanus H.R., Kasubag TU BTNKpS, yang sangat bersemangat mengikuti pelatihan ini. Materi terdiri dari Pendidikan Akademis Penyelaman yang diharapkan menambah pengetahuan peserta tentang kegiatan penyelaman, pengenalan dan penggunaan peralatan selam dasar dan SCUBA, serta sesi latihan di perairan terbuka dengan sasaran praktek memberikan pengalaman penyelaman sesuai prosedur. Selain wawasan penyelaman, kepada peserta juga diberikan wawasan tentang kegiatan wisata khususnya selam ramah lingkungan, tidak merusak ekosistem terumbu karang, kapal wisata tidak membuang jangkar dan memperhatikan faktor keselamatan. Protokol kesehatan diterapkan, untuk menghindari peserta berkerumun, dalam sesi-sesi latihan peserta dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang masing-masing didampingi instruktur dan asisten/ divemaster. Peserta mengikuti program ini dengan antusias, dapat mengikuti seluruh program dan dinyatakan memenuhi kualifikasi untuk mendapatkan sertifikasi selam jenjang One Star SCUBA Diver/ Open Water Diver. Harapannya, peserta dapat terus meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan pengalamannya di bidang penyelaman, sehingga menjadi mahir. Penyelaman termasuk salah satu kegiatan olah raga beresiko, namun dengan melakukan sesuai prosedur, resiko dapat diminimalkan atau dihindari, di balik itu, pengalaman dunia bawah air sangat berbeda, memberikan kesan tersendiri. Indonesia adalah salah satu tujuan penyelaman, nah, kita kapan lagi? Biru… Lautku, Hijau… Pulauku, Pulau Seribu… Surgaku. Sumber: Yohanes Budoyo, Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu
Baca Berita

Beli Kucing Hutan dari Warga, Albar Serahkan ke BBKSDA Sumut

Medan, 31 Agustus 2020. Untuk kesekian kalinya Balai Besar KSDA Sumatera Utara menerima penyerahan 1 (satu) ekor satwa liar dilindungi jenis Kucing Hutan (Felis bengalensis) dari seorang warga, Muhammad Albar, penduduk Lubuk Pakam, Deli Serdang, pada Minggu 30 Agustus 2020, yang diterima Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan, Amenson Girsang, SP. Dalam keterangannya, Muhammad Albar menjelaskan bahwa Kucing Hutan tersebut diperolehnya dari seorang warga yang memelihara satwa ini selama lebih kurang 1 bulan. Albar mencoba memberikan penjelasan kepada pemiliknya, bahwa satwa tersebut termasuk jenis dilindungi dan harus dikembalikan ke habitatnya. Namun si pemilik tidak menggubrisnya, sehingga mendorong kepedulian Albar untuk menyelamatkan satwa tersebut dengan cara membelinya dari si pemilik. Usahanya berhasil, setelah dibeli, tidak menunggu waktu lama Albar segera menghubungi Balai Besar KSDA Sumatera Utara untuk menyerahkan Kucing Hutan tersebut. Sesudah Kucing Hutan diterima, petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara kemudian mengevakuasinya ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit, pada Senin, 31 Agustus 2020, untuk diobservasi dan dirawat serta direhabilitasi sebelum nantinya dilepasliarkan. Sumber : Inggrid R Tarihoran,S.Hut. - Penyuluh Kehutanan Pertama Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Ungkap Phiska “Belajar di Alam Lebih Seru”

Bogor, 31 Agustus 2020 - Merupakan hari yang tak akan terlupakan bagi siswa/i kelas V SDS-IT At Thoriq. Masa pandemi yang sudah berlangsung sejak Maret 2020 memaksa mereka untuk adaptasi kebiasaan baru, belajar di rumah (daring) pun sudah berjalan selama beberapa bulan. Aktivitas yang serba terbatas membuat anak-anak mengalami kejenuhan dan masa-masa sekolah menjadi yang paling mereka tunggu-tunggu. Namun kejenuhan itu terobati, Senin (31/08/2020) anak-anak SDS-IT At Thoriq mendapatkan undangan untuk mengikuti kegiatan School Visit. Kegiatan School Visit dilaksanakan di lokasi wisata alam Lebak Ciherang (LBC) Resort PTN Tapos, Seksi PTN Wilayah VI Tapos, Bidang PTN Wilayah III Bogor, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP). Kegiatan ini dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Baik pihak sekolah maupun Balai Besar TNGGP Mengontrol kondisi peserta dari mulai keberangkatan hingga berakhirnya kegiatan. Memulai kegiatan siswa/i dicek melalui standar pengecekan Covid-19 di sekolah, dipastikan suhu badan peserta tidak lebih dari 37,50C. Selain itu peserta diberikan masker dan cairan pembersih tangan (hand sanitizer) dan selama berjalan kegiatan panitia, peserta, dan guru pendamping diwajibkan mengenakan masker. Untuk menjaga peserta berkerumun dalam jumlah banyak, peserta dibagi menjadi tiga kelompok. Masing-masing kelompok didampingi oleh satu orang pendamping asisten mentor dan guru dari sekolah. Bambang Mulyawan, Kepala Seksi PTN Wilayah VI yang merupakan penanggung jawab kegiatan ini menyampaikan bahwa persiapan kegiatan ini telah dilakukan semaksimal mungkin untuk menghidari adanya hal-hal yang tidak diinginkan di tengah pandemi ini. Pihak sekolah sangat kooperatif dalam persiapan kegiatan baik secara administrasi maupun kesiapan peserta untuk mengikuti kegiatan ini. Materi dalam kegiatan School Visit ini dibuat dalam bentuk pos-pos kegiatan. Terdapat tiga pos materi yaitu Memeluk Pohon, Mini Sample Plot, dan Erosion Control. Materi dikemas dalam bentuk belajar sambil bermain dengan melibatkan peserta sebagai pelaku utama. Dengan School Visit diharapkan peserta akan lebih mudah memahami dan menyerap pengetahuan yang disampaikan oleh mentor. Belajar langsung di alam merupakan pengalaman pertama bagi para siswa kelas V SDS-IT At Thoriq. Mereka terlihat sangat antusias mengikuti setiap materi pada pos masing-masing. Bercanda di sepanjang jalur interpretasi LBC bersama teman-teman yang dirindukan sembari menghirup udara segar memompa kembali semangat mereka. Semangat ini tetap terlihat hingga akhir kegiatan. Pada akhir sesi setelah diskusi, peserta mendapat pengetahuan dasar tentang budidaya lebah madu yang dipandu oleh anggota KTH LBC Lestari. KTH LBC Lestari merupakan mitra BBTNGGP yang saat ini sedang menggeluti budidaya lebah madu dan pengembangan wisata alam LBC berbasis masyarakat, berada di Desa Cileungsi, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor. Aktivitas KTH LBC Lestari Peserta sudah terlihat kelelahan namun saat bagian memanen madu, peserta berebut untuk merasakan langsung proses memanen madu dari stup lebah Trigona. Begitu juga pada sesi diskusi, meski di awal peserta malu-malu saat diminta untuk maju namun akhirnya seluruh peserta semangat ingin menyampaikan pengalaman yang diperoleh hari itu. “kegiatan ini sangat menyenangkan, belajar di alam ternyata lebih seru dibanding belajar di kelas” ungkap Phiska salah satu peserta dalam kegiatan School Visit ini. Khansa terlihat sangat emosional ketika mengikuti kegiatan di pos memeluk pohon. Bahkan peserta ini menitikkan air mata ketika mentor memintanya untuk memeluk pohon sambil membayangkan akibat yang akan terjadi jika gunung-gunung menjadi gundul dan tidak ada pohon lagi di muka bumi. Harapan dari pelaksanaan kegiatan ini selain memberikan suasana baru bagi peserta untuk melepas kepenatan dan kejenuhan selama menjalani masa pandemi, peserta dapat memahami materi yang disampaikan dengan baik. Hingga pada akhirnya materi tersebut akan menjadi bagian dari kehidupan peserta, sehingga mereka akan lebih bijaksana dalam memanfaatkan dan mengelola alam lingkungan di sekitarnya. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks: Woro Hindrayani - PEH Dok : Tim School Visit TNGGP 2020
Baca Berita

Memelihara Bibit Tanaman untuk masa depan

Jember, 1 September 2020. Musim kemarau yang mulai dirasakan di wilayah Taman Nasional Meru Betiri, membuat kondisi alam di sekitar kawasan terasa panas dan gersang. Kondisi ini menyebabkan tanaman semakin sulit untuk tumbuh hidup dan berkembang. Begitupula kondisi Pohon Beringin (Ficus benjamina) yang di tanam oleh Bapak Dirjen KSDAE Ir Wiratno di Blok Kandang Motor, Resort Andongrejo SPTN Wilayah II Ambulu pada saat kunjungan ke TN Meru Betiri, tanggal 28 Januari 2020. Anggota Resort Andongrejo pada hari Selasa tanggal 1 September 2020, melakukan pemeliharaan tanaman monumental tersebut melalui pembersihan gulma semak belukar dan penyiraman air agar pohon beringin tersebut tidak mati dan mampu menahan panas dan gersangnya cuaca di kawasan TN Meru Betiri. Pemantauan terakhir Pohon tersebut tetap mampu bertahan dan tumbuh dengan ketinggian 75 cm. Selain itu pemeliharaan dilakukan juga pada tanaman pokok di zona Rehabilitasi. Heman Sutresna sebagai Kepala Resort Andongrejo melaporkan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan oleh Resort Andongrejo melalui kegiatan Patroli dan Pendampingan masyarakat khususnya Petani yang mengelola lahan di zona rehabilitasi di TNMB, harapannya dengan tumbuhnya pohon monumental tersebut mampu dijadikan contoh bagi Petani Rehabilitasi bahwa menghijaukan kawasan TNMB khususnya zona rehabilitasi bukan merupakan hal yang mustahil. Sumber: Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Inovasi untuk Kesejahteraan Masyarakat Penyangga TN Meru Betiri

Jember, 1 September 2020. Segala daya upaya untuk mencapai kesejahteraan masayarakat, khususnya yang berada di sekitar kawasan TN Meru Betiri telah dilakukan harapannya dengan sejahteranya masayarakat kelestarian TN Meru Betiri dapat tercapai. Begitu pula yang dilakukan oleh Masyarakat Desa Wonoasri yang merupakan salah satau desa penyangga di kawasan TN Meru Betiri, didampingi oleh Petugas Balai TN Meru Betiri khususnya yang berada di resort Wonoasri, SPTN Wilayah II Ambulu beserta Aparat Desa Wonoasri Kecamatan Tempurejo, Jember mengembangkan usaha mikro berupa Batik Cap. Inisiasi Pengembangan Batik Cap ini diwadahi dalam kelompok Batik Cap Wono Betiri Asri yang beranggotakan ibu rumah tangga di Desa Wonoasri. Pada Hari Selasa tanggal 1 September 2020 bertempat di Kantor Resort Wonoasri Kelompok tersebut telah berhasil memproduksi Batik Cap dengan motif tema flora dan fauna yang berasal dari kawasan TN Meru Betiri. Agust Dwi Andono, selaku Kepala SPTN Wilayah II Ambulu menegaskan “Bahwa kegiatan Kelompok ini merupakan salah satu bentuk Pemberdayaan Masyarakat di sekitar Kawasan TN Meru Betiri” “Kedepannya BTN Meru Betiri akan selalu memberikan dukungan bagi kegiatan tersebut agar masyarakat mampu mandiri dan berdaya serta tidak bergantung kepada sumber daya hutan saja”, kata Agust. Kepala Resort Wonoasri M Andik Boediono menambahkan “bahwa pendampingan terhadap kelompok masyarakat Batik Cap Wono Betiri Asri perlu terus menerus dilakukan agar kelompok ini mampu memproduksi dan memasarkan batik cap buatan mereka sehingga bisa memberikan tambahan penghasilan bagi anggota kelompok tersebut”. Sumber: Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Warga Pematang Siantar Serahkan Kukang dan Trenggiling

Pematangsiantar, 31 Agustus 2020. Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar menerima 1 ekor Kukang (Nycticebus coucang) dan 1 ekor Trenggiling (Manis javanicus) dari masyarakat pada Senin, 24 Agustus 2020. Dari keterangan yang disampaikan bahwa satwa Kukang memasuki pemukiman warga di daerah Sinaksak, Pematangsiantar kemudian diamankan warga. Mengetahui bahwa satwa tersebut jenis dilindungi, warga kemudian menyerahkannnya kepada petugas Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar. Sedangkan untuk satwa Trenggiling, pada awalnya seorang warga menerima seekor Trenggiling pemberian dari temannya dan sempat dirawat selama sebulan. Namun karena biaya pakan yang cukup tinggi dan tak mampu lagi merawatnya, mendorong warga tersebut menyerahkan Trenggiling dimaksud ke Kantor Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar. Selanjutnya setelah semua administrasi terpenuhi, pada Selasa, 25 Agustus 2020, Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar memerintahkan agar kedua satwa dilindungi tersebut diserahkan ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit, untuk mendapat perawatan dan rehabilitasi. Sebagaimana diketahui, menurut P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 satwa Kukang dan Trenggiling merupakan hewan yang dilindungi dengan status Kritis (Critically Endangered) berdasarkan IUCN (International Union for Conservation of Nature). Kukang dan Trenggiling bukanlah hewan buruan, mari kita selamatkan mereka dan habitatnya. Salam Konservasi !!! Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Mencetak Konten Kreatif Melalui Inhouse Training Fotografi Jurnalistik dan Videografi

Kepulauan Seribu, 1 September 2020. Pada tanggal 11 Agustus hingga tanggal 14 Agustus 2020, Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu melangsungkan kegiatan inhouse training Fotografi Jusnalistik dan Videografi. Kegiatan ini diikutiboleh 20 orang pegawai lingkup TNKpS, terdiri dari: PEH, POLHUT, Penyuluh dan PPNPN yang diselenggarakan di SPTN Wilayah III Pulau Pramuka. Seiring dengan perkembangan teknologi yang masif akan berdampak bagi orang lain terhadap cara menerima informasi yang disajikan. Tuntutan transformasi bagi para pelaku agar bisa mengadopsi dan berkompetensi tidak bisa dielakkan. Melalui IHT ini staf BTN Kepulauan seribu diajarkan kompetensi ilmu terkait foto jurnalistik dan videografi serta editingnya. Bapak Lucky Pransiska yang berprofesi sebagai jurnalis Harian Kompas mengajarkan ilmu terkait foto serta kaidah jurnalistik. Selanjutnya materi videografi disampaikan oleh Bapak Ensadi Joko Santoso, yang merupakan sinematografer dan dosen sinema di Institut Kesenian jakarta (IKJ) mengajarkan cara pembuatan video cerita yang dramatis terkait alam dan manusia, pengambilan angle serta kmposisinya yang pas sehingga pesan yang ingin disampaikan bisa diterima dengan baik. Kepala Balai TN Kepulauan Seribu, Ibu Badi'ah dalam sambutannya pada penutupan acara manyampaikan pentingnya pelatihan ini, sehingga diharapkan akan melahirkan konten berkualitas yang akan senantiasa memperhatikan tuntutan perkembangan teknologi dan informasi tentang konservasi alam kepada masyarakat. Sumber: Alinar, S.Hut. Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu
Baca Berita

Dipelihara Didalam Kapal, 5 Ekor Nuri Maluku di Evakuasi BKSDA Maluku

Banda, 27 Agustus 2020. Tim Resort Banda Seksi Konservasi Wilayah II Balai Konservasi Sumber Daya Alam Maluku melakukan kegiatan patroli di Pelabuhan Perikanan Banda dan menemukan sebanyak 5 (lima) ekor burung Nuri Maluku (Eos bornea) yang dipelihara dan disimpan di dalam kapal ikan KM. Mutiara 12 yang sedang bersandar. Setelah dilakukan pendekatan dengan pemilik burung tersebut dan di bantu dengan petugas dari Pos AL Banda dan Otoritas Pelabuhan Perikanan Banda, burung- burung tersebut akhirnya diserahkan kepada petugas Balai KSDA Maluku. Saat ini burung-burung tersebut sudah diamankan di Kantor Resort Banda, untuk selanjutnya akan dilepasliarkan ke alam. Sumber : Meity Pattipawaej, S.Hut – Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Tim BBKSDA Papua Tuntaskan Polemik Mahkota Cenderawasih Kuning Kecil di Nabire

Nabire, 28 Agustus 2020. Pada rentang waktu 16-19 Agustus 2020, jagat maya warga Papua terhenyak. Unggahan foto-foto sekumpulan perempuan di sebuah akun facebook berinisial IA mengundang kontroversi. Dalam foto itu, tampak para perempuan mengenakan pakaian adat Papua, lengkap dengan mahkota cenderawasih asli di kepala. Mereka tampil dalam berbagai pose, bahkan memegang tifa dan merentangkan busur panah. Penggiat konservasi mana yang tak gerah melihatnya? Menindaklanjuti keresahan bersama, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua (BBKSDA Papua) melalui media sosial mengirimkan teguran dan imbauan kepada akun facebook IA pada tanggal 28 Agustus 2020. Namun tak ada tanggapan balik dari pihak bersangkutan. Tertera pada akun facebook tersebut, lokasi unggahan foto adalah Nabire, Papua. Akhirnya, Balai Besar KSDA Papua melacak alamat rumah pemilik mahkota cenderawasih tersebut. Jannes Siadari, Polisi Kehutanan BBKSDA Papua pada Bidang KSDA Wilayah II Nabire, bersama tiga staf mendatangi rumah bersangkutan. Jannes dan tim tiba di sana, tepatnya di Kota Lama, Nabire, Papua, sekitar pukul 16.00 WIT pada Jumat, (28/8). Menurut Jannes, pemilik mahkota cenderawasih adalah perempuan berinisial An. Ia memiliki sebuah salon yang menyewakan pakaian adat, termasuk mahkota cenderawasih. Pemilik akun facebook IA menyewa pakaian adat di salon An. Saat Jannes dan tim tiba di kediaman An, mereka justru mendapatkan sambutan hangat. Tampaknya An telah menyadari kekeliruannya setelah akun media sosial ramai membicarakan foto-foto para perempuan bermahkota cenderawasih. An kemudian menyerahkan dua mahkota cenderawasih asli kepada pihak BBKSDA Papua. Berita acara penyerahan mahkota cenderawasih tersebut bernomor BA.165/K.4/BKWII/WAS/8/2020. Mengapa An hanya menyerahkan dua mahkota, sedangkan dalam unggahan foto terdapat setidaknya enam perempuan bermahkota cenderawasih? Menurut An, para perempuan itu menyewa mahkota cenderawasih dari salon yang berbeda. Mereka berpakaian adat bukan dalam acara tertentu, namun sekadar “bersenang-senang” dan berfoto bersama. Selain menjelaskan peraturan perundangan tentang KSDAE, Tim KSDA menyerahkan salinan Surat Edaran Gubernur Papua Nomor 660.1/6501/SET tahun 2017 tentang Larangan Penggunaan Cenderawasih Asli sebagai Aksesoris dan Cinderamata. An mengaku menyesali perbuatannya dan berjanji untuk turut mengampanyekan perlindungan cenderawasih kepada sesama pengusaha salon di Nabire. Menanggapi hal ini, Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut., M.Si., menyampaikan apresiasinya kepada tim dari Bidang KSDA Wilayah II Nabire yang telah bergerak cepat di lapangan. Ia mengimbau agar mahkota cenderawasih yang masih berada di tangan para pengusaha salon di Nabire itu segera diserahkan kepada BBKSDA Papua. Edward berharap upaya perlindungan satwa liar, khususnya cenderawasih didukung oleh semua pihak. Edward menegaskan, jauh lebih bermanfaat apabila satwa cenderawasih tersebut masih hidup di alam. Edward mengatakan, “Pelan tapi pasti, kita terus menyentuh hati masyarakat luas. Dengan begitu, mereka akan memiliki kesadaran tentang perlindungan satwa liar, khususnya satwa endemik Papua yang dilindungi undang-undang. Tindakan An yang akhirnya berjanji untuk turut berkampanye tentang perlindungan satwa liar, khususnya cenderawasih kuning kecil, patut diikuti oleh masyarakat luas. Semoga kejadian ini dapat mengedukasi kita semua, dan ke depannya satwa-satwa kekayaan Papua ini tetap lestari dan terjaga.” (djr) Sumber: Balai Besar KSDA Papua Call Center BBKSDA Papua: 0823 9802 9978 Kepala Bidang KSDA Wilayah II Nabire: 0822 3971 70100
Baca Berita

40 Jerat Ditemukan Saat Patroli Pengamanan CA Bukit Bungkuk

Pekanbaru, 31 Agustus 2020 – Seksi Konservasi Wilayah III Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau (BBKSDA Riau) melakukan kegiatan patroli pengamanan kawasan di Cagar Alam (CA) Bukit Bungkuk, Kabupaten Kampar pada Senin, 24 Agustus 2020. Maju Bintang Hutajulu, Kepala Seksi Konservasi Wilayah III memimpin langsung kegiatan tersebut menyampaikan bahwa telah ditemukan 40 buah jerat dan 1 (satu) buah senjata angin. Seluruh jerat yang ditemukan dibongkar agar tidak aktif lagi. Tim segera berkoordinasi dengan aparat desa setempat agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Monitoring Populasi Bekantan di SM Pelaihari

Pelaihari, 26 Agustus 2020 – Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel), Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc melaksanakan supervisi kegiatan monitoring populasi bekantan di SM Pelaihari. Pengarahan dilaksanakan di Kantor Seksi Konservasi Wilayah I Pelaihari, dihadiri oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Mirta Sari, S.Hut, M.Si, ketua tim monitoring bekantan Titik Sundari, S. Hut, dan 3 anggota tim yang terdiri dari fungsional PEH dan Penyuluh. Kegiatan monitoring direncanakan selama 7 hari di sepanjang Sungai Sebuhur dan Sungai Suwarangan yang merupakan site monitoring bekantan di kawasan ini. Bekantan merupakan spesies prioritas terancam punah yang telah ditetapkan oleh Dirjen KSDAE untuk Wilayah Kalimantan Selatan yang perlu ditingkatkan populasinya. Guna memenuhi mandat tersebut, dilakukan kegiatan monitoring populasi bekantan secara berkala untuk mendapatkan seri data yang baik sehingga dapat dijadikan dasar dalam mengambil kebijakan dan langkah lebih lanjut terhadap upaya peningkatan populasinya. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Balai memberikan arahan terkait efektivitas metode serta pembagian tugas personil sehingga dapat menjawab maksud dan tujuan kegiatan monitoring. Untuk mengetahui lebih jauh hal-hal apa yang menjadi kelemahan dan kelebihan dalam kegiatan monitoring, Kepala Balai turut meninjau secara langsung aktivitas kegiatan di lapangan. Karakteristik SM Pelaihari yang posisi kawasannya memanjang dan terletak di bagian paling selatan Pulau Kalimantan, menjadikan sungai-sungainya sebagai akses lalu lintas masyarakat menuju ke laut. Dengan adanya banyak akses pintu masuk tersebut berpotensi besar terjadi aktivitas manusia di dalam kawasan yang dapat mengganggu habitat bekantan. Pendekatan persuasif kepada masyarakat terus dilakukan untuk tidak merusak habitat bekantan, karena kualitas habitat merupakan kunci perkembangan populasi bekantan. Dr. Mahrus juga memberikan energi semangat kepada tim pelaksana kegiatan di tengah masa pandemi Covid 19, “Bekerja harus beradaptasi dengan kebiasaan baru sehingga hasil pengamatan dapat memberikan manfaat dalam pengelolaan satwa bekantan dan habitatnya di masa yang akan datang”. Himbau Beliau. (ryn) Sumber : Noer Vana Dwi Prasetyo - PEH Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Delapan Cenderawasih Kuning Besar Pulang ke Rumah

Merauke, 28 Agustus 2020. Bidang KSDA Wilayah I Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua (BBKSDA Papua) melepasliarkan delapan ekor cenderawasih kuning besar (Paradiseae apoda) betina ke habitat alaminya. Lepas liar berlangsung Jumat, (28/8) pukul 10.00 WIT dengan lokasi di Taman Nasional Wasur, Merauke. Lokasi ini dipilih karena Wasur merupakan habitat alami cenderawasih kuning besar yang masih terjaga dengan baik. Kegiatan ini terlaksana berkat sinergitas yang terjalin antara Balai Besar KSDA Papua, Balai Gakkum LHK Maluku Papua, Balai Taman Nasional Wasur, Kejaksaan Negeri Merauke, dan Polres Merauke. Proses pelepasliaran disaksikan juga oleh perwakilan masyarakat adat, pemerintah kampung setempat, dan tersangka. Delapan cenderawasih kuning besar betina tersebut merupakan hasil penegakan hukum PPNS pada Balai Gakkum LHK Maluku Papua dan merupakan barang bukti tindak pidana KSDA dengan tersangka NHD, warga Kampung Wenda Asri, Distrik Jagebob, Kabupaten Merauke. Tersangka adalah pemburu dan pengumpul cenderawasih, yang diamankan beserta barang bukti. Dalam konferensi pers bersama yang dilaksanakan di Pusat Informasi Bomi Sai Taman Nasional Wasur, para pihak menyampaikan upaya-upaya perlindungan dan pelestarian satwa liar dilindungi yang telah dilakukan di Merauke dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama melakukan perlindungan dengan tidak melakukan perburuan, pemeliharaan, dan perdagangan. Karena perilaku tersebut dapat mengancam kepunahan jenis-jenis satwa endemik Papua, yang menjadi bagian dari kekayaan keanekaragaman hayati asli tanah Papua. Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut., M.Si., menyampikan harapannya terkait tumbuhan dan satwa liar (TSL) di Papua. “Semoga peristiwa ini menjadi pembelajaran penting bagi masyarakat, juga wawasan tentang satwa liar dilindungi. Menangkap, memelihara, ataupun memperdagangkan cenderawasih kuning besar adalah tindakan ilegal. Harapan saya, masyarakat semakin memahami hal ini, demi kelestarian satwa endemik Papua di masa mendatang.” Sebelum pelepasliaran, delapan cenderawasih kuning besar tersebut dirawat dan diperiksa kesehatannya. Perawatan dilakukan secara bersama antara Balai Gakkum LHK Maluku Papua, Bidang KSDA Wilayah I Merauke BBKSDA Papua, dan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Merauke. Cenderawasih kuning besar merupakan satwa liar dilindungi berdasarkan Permen LHK Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar yang Dilindungi. [] Sumber: Balai Besar KSDA Papua Call Center BBKSDA Papua: 0823 9802 9978 Kepala Bidang KSDA Wilayah I Merauke: 0821 9801 7707
Baca Berita

Bertemu Penjual Burung, Petugas Sosialisasi Satwa Dilindungi Di Sekitar CA Bukit Bungkuk

Pekanbaru, 31 Agustus 2020 – Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau (BBKSDA Riau) melakukan kegiatan patroli dan sosialisasi satwa dilindungi di sekitar Cagar Alam (CA) Bukit Bungkuk, Kabupaten Kampar pada Senin, 24 Agustus 2020. Sosialisasi dilakukan untuk menyampaikan kepada masyarakat bahwa beberapa jenis tumbuhan dan satwa liar adalah masuk dalam satwa yang dilindungi oleh undang undang dan tidak boleh diperdagangkan. Dalam pelaksanaan patroli, ditemukan penjual burung dilindungi, yakni burung Betet ekor-panjang (Psittacula longicauda) sebanyak 3 (tiga) ekor. Burung ini dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MenLHK/Setjen/KUM.1/12/2018. Tim segera meminta untuk dilepasliarkan kembali. Satwa lain yang ditemukan adalah ayam hutan, Burung jalak dan lainnya. Penjual mengatakan tidak mengetahui bahwa jenis-jenis satwa tersebut adalah jenis dilindungi. Kedepannya, penjual mengatakan tidak akan mengulangi lagi perbuatannya yang melanggar hukum. Mari selamatkan satwa yang dilindungi serta kawasan konservasi kita secara bersama sama. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Kelompok Melati "Garoppo Juku" Berbagi Ilmu di Desa Khusus Pasitallu

Desa Khusus Pasitallu - Taman Nasional Taka Bonerate, 31 Agustus 2020. Kelompok Melati mendapat kehormatan untuk berbagi ilmu di desa tetangga, Desa Khusus Pasitallu Kecamatan Taka Bonerate Kabupaten Kepulauan Selayar (30/8). Memenuhi undangan Kepala Desa Khusus Pasitallu Abd.Rahman, Bu Halifa mewakili kelompok untuk berbagi ilmu kepada kelompok binaan desa Khusus Pasitallu di Kantor Desa. Giat ini dihadiri ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok desa, Kepala Desa beserta Staf dan pendamping dari desa Rusdin serta perwakilan dari Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Jinato Balai Taman Nasional Taka Bonerate, Andi Irham. Kepala desa menyampaikan bahwa desa akan siap membantu, membimbing dan mendampingi kelompok ini, baik itu terkait dana atau permodalan. Dan kedepannya diharapkan agar semua pihak-pihak terkait bisa saling membantu untuk memajukan kelompok, terutama dari pihak Taman Nasional Taka Bonerate. "Kita semua harus terus saling bersinergi mewujudkan Desa kita ini sebagai sentra penghasil produk perikanan di bagian selatan Taka Bonerate," ujar kepala desa. Giat ini dilaksanakan sehari, mulai dari proses pengolahan bahan, penggorengan hingga pengemasan produk. Selain praktek, giat ini dibuka juga sesi tanya antara Bu Halifa dan peserta pelatihan. Kiat-kiat kelompoknya bisa bertahan dengan minimnya modal, anggota silih berganti serta dinamika kelompok yang terjadi. "Saya lanjutkan ini usaha walaupun tanpa modal karena saya hargai taman nasional dengan pendampingan ini saya bisa dapat ilmu seperti ini," ujar Bu Halifa disesi tanya jawab. Kelompok ini dirintis pada tahun 2012. Bukan perkara mudah agar bisa eksis seperti sekarang. Kelompok ini melewati proses pendampingan yang panjang. Mempertahankan semangat dan kekompakan antar anggota kelompok. "Kelompok yang kita bina ini punya cerita tersendiri, Bu Halifa sebagai ketua sangat tegas terhadap anggotanya," cerita Syamsuriani, Penyuluh yang juga Pendamping Kelompok Melati ini. Selain itu, Bu Halifa tekun belajar, berinovasi meramu bahan-bahan produknya sehingga mempunyai cita rasa yang beda dengan produk-produk lain. Syamsuriani menambahkan, dalam waktu dekat selain produk unggulan "Garoppo Juku", Kelompok Melati ini mencoba mengembangkan produk untuk kecantikan berupa lulur tradisional, Bedak Lotong. Kelompok ini bergerak di bidang usaha produk makanan berbahan baku ikan. Alhamdulillah, sampai sekarang produknya dipasarkan bukan saja di sekitaran Selayar saja namun sudah sampe ke Gorontalo, Flores, Ternate dan Makassar. Dalam sehari Kelompok Melati ini bisa mengolah 25 Kg ikan untuk dijadikan amplang. "Sehari kami bisa olah 25 Kg ikan, jadinya bisa 200-an bungkus amplang. Dijual dengan harga 15 ribu/bungkus," ujar Bu Halifa Semoga dengan giat ini desa-desa lain juga bisa ikut bersinergi, saling melengkapi berbagi ilmu. Dan tentunya menjadi semangat mengelola Taman Nasional Taka Bonerate ini makin baik. Lestari dan Bertanggung Jawab. Sumber : Asri (Teks) dan Andi Irham (Foto) - Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Jinato Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

BBKSDA Riau Koordinasi dan Pantau "Codet" di Kecamatan Mandau

Pekanbaru, 31 Agustus 2020 – Resort Duri Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau (BBKSDA Riau) bersama Rimba Satwa Foundation (RSF) melakukan penanganan konflik satwa Gajah Sumatera yang terdapat di wilayah Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis pada Kamis, 27 Agustus 2020. Tim melakukan koordinasi dengan aparat setempat terkait keberadaan Gajah yang dikenal dengan sebutan "Codet." Berdasarkan keterangan, Gajah sudah berada disana lebih dari 1 minggu dan merusak tanaman perkebunan warga, yaitu kelapa sawit. Tim bersama warga menuju ke lokasi tempat Gajah tersebut berada. Siang hari, Gajah ditemukan di semak belukar di sekitaran perkebunan kelapa sawit tersebut. Sorenya, Tim bersama warga melakukan penggiringan agar Gajah dapat kembali menuju ke hutan Talang. Warga juga diingatkan agar dalam penggiringan tidak melakukan tindakan yang membahayakan masyarakat maupun satwa Gajah tersebut. Masyarakat disarankan menghidupkan api unggun untuk mencegah Gajah kembali ke pemukiman lagi. Tim melakukan pemantauan secara intensif terhadap keberadaan Gajah tersebut. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

BBKSDA Sumut Menjawab Terperangkapnya Harimau Sumatera Di Tapanuli Selatan

Medan, 31 Agustus 2020. Sehubungan terperangkapnya seekor Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Desa Tapus Sipagimbal, Kecamatan Aek Bilah, Kabupaten Tapanuli Selatan, pada Senin, 24 Agustus 2020, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melaksanakan Konferensi Pers yang mengundang sejumlah awak media baik cetak, elektronik maupun media on-line, bertempat di kantor Balai Besar KSDA Sumatera Utara, pada Senin, 31 Agustus 2020. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For., menjelaskan bahwa konflik warga dengan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Desa Tapus Sipagimbal, Kecamatan Aek Bilah, Kabupaten Tapanuli Selatan, sudah terjadi sejak bulan Mei 2020, dan belakangan kembali marak. Informasi yang diperoleh dari masyarakat, Harimau Sumatera tersebut memangsa ternak warga seekor kambing, serta hewan peliharaan seekor anjing. Menerima laporan tersebut, Tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara turun ke lokasi, pada Sabtu 22 Agustus 2020, dan bersama-sama dengan petugas Koramil setempat, petugas kecamatan dan masyarakat memasang perangkap (kandang jebak), mengingat konflik sudah mengkhawatirkan, dan Harimau Sumatera hampir setiap hari masuk ke pemukiman warga, jelas Hotmauli. “Upaya yang dilakukan Tim berhasil, pada Senin, 24 Agustus 2020, Harimau Sumatera tersebut masuk ke dalam kandang jebak (perangkap). Selanjutnya si raja hutan ini dievakuasi dan di observasi ke Sanctuary Harimau Barumun untuk pengecekan kondisi kesehatannya, yang dilakukan oleh drh. Anhar Lubis bersama Tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan tim medis dari Sanctuary Harimau Barumun,” ujar Hotmauli Berdasarkan hasil pemeriksaan tim medis secara makro diketahui bahwa Harimau Sumatera yang diberi nama “Sri Bilah” ini, berkelamin betina dengan umur ± 2 - 3 tahun dan berat 45,2 Kg. Secara umum kondisinya sehat namun mengalami malnutrisi sehingga tubuhnya terlihat agak kurus akibat tidak mendapatkan pakan yang cukup. Harimau juga mengalami dehidrasi dan anemia yang mengakibatkan kondisinya terlihat lemah. Selain itu banyak ditemukan parasit externa (kutu) pada tubuhnya. Sedangkan hasil laboratorium pemeriksaan darah menunjukkan bahwa eritrosit menurun yang menandakan terjadinya anemia pada Harimau Sumatera, hal ini berkaitan dengan hasil pemeriksaan fisik secara makro dimana kondisi satwa tersebut terlihat dehidrasi, mukosa pucat yang mengakibatkan kondisinya terlihat lemah. Disamping itu, ada beberapa komponen darah yang merujuk bahwa harimau mengalami anemia. Hasil pemeriksaan kimia darah Harimau Sumatera, menunjukkan adanya peningkatan bilirubin, SGOT dan SGPT yang meningkat menandakan adanya gangguan fungsi hati pada harimau tersebut, tetapi tim medis belum bisa memastikan apakah gangguan hati ini bersifat akut atau kronis (perlu dilakukan pemeriksaan ulang setelah pengobatan). Lebih lanjut, Hotmauli menjelaskan bahwa Harimau Sumatera sampai saat ini masih dalam observasi tim medis. Pemeriksaan kesehatan lanjutan perlu dilakukan untuk melihat perkembangan kondisinya pasca pengobatan pertama, terutama pemeriksaan fungsi hati, dengan melakukan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan laboratorium nantinya. Kemudian monitoring berkaitan dengan nafsu makan, agresifitas serta pergerakannya, tetap dilakukan oleh tim medis. “Apabila hasil pemeriksaan akhir tim medis nantinya menyatakan bahwa kondisi Harimau Sumatera dalam keadaan sehat serta direkomendasikan layak untuk dilepasliarkan, maka Balai Besar KSDA Sumatera Utara akan melepasliarkan kembali ke habitat alaminya, yang saat ini sedang dilakukan survey oleh Tim BBKSDA Sumut,” ujar Hotmauli mengakhiri penjelasannya. Konferensi pers ini dihadiri sekitar 30 orang jurnalis dari berbagai media, seperti : Metro TV, TV One, Kompas TV, Antara, CNN Indonesia, Kompas.com, Tribun, Trans 7, TVRI, Elshinta, Media Indonesia, dan lain-lain. Selain itu juga dihadiri Kepala Bagian Tata Usaha Teguh Setiawan, S.Hut., MM., Kepala Bidang Teknis Ir. Irzal Azhar, M.Si., Kepala Sub Bagian Data, Evlap dan Kehumasan Andoko Hidayat, S.Hut., MP., Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan Amenson Girsang, SP. dan Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan Suyono, SH., M.Si. Sumber : Evansus R. Manalu - Analis Data Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 3.137–3.152 dari 11.141 publikasi