Jumat, 15 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Warga Kampung Mena Belajar Perlindungan Biota Laut TN Teluk Cenderawasih

Kampung Mena, September 2020. Penyuluh kehutanan memegang peranan penting dalam penyadartahuan kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga satwa-satwa yang hampir punah di sekitar mereka. Salah satu usaha yang dilakukan penyuluh kehutanan di Kampung Mena adalah dengan melakukan sosialisasi mengenai perlindungan biota laut di Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) seperti spesies Penyu, Hiu Paus, Kima, Duyung dan Lumba-Lumba. Spesies tersebut telah ditetapkan sebagai Spesies Prioritas di Kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih berdasarkan Surat Keputusan Kepala Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih Nomor: SK.347/BBTNTC-Tek/2012. Sosialisasi dilaksanakan dengan metode anjangsana ke rumah-rumah warga Kampung Mena yang berada di wilayah kerja Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah IV Roon Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Kampung Mena merupakan salah satu dari tujuh kampung yang berada di Pulau Roon wilayah pengelolaan Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah IV Roon Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Sebelum dijelaskan materi sosialisasi, terlebih dahulu warga diminta mengisi kuisioner yang berkaitan dengan pengetahuan mengenai satwa yang dilindungi serta pemanfaatan satwa-satwa tersebut. Dari hasil kuisioner diketahui bahwa masih banyak warga yang belum mengetahui tentang satwa yang dilindungi di TNTC dan mereka mengakui bahwa satwa seperti penyu dan kima masih sering ditangkap untuk dikonsumsi maupun diperjualbelikan. Warga kemudian diberikan penjelasan mengenai aturan terkait satwa yang dilindungi dan aturan terkait serta menjelaskan pentingnya satwa-satwa ini dalam menjaga keseimbangan ekosistem di laut. Diharapkan warga Kampung Mena semakin sadar akan pentingnya melindungi satwa yang hampir punah serta menyadari masih banyak jenis lain yang bisa dimanfaatkan dari hasil laut. Selain kuisioner, juga diedarkan poster yang memuat daftar biota laut yang dilindungi di TNTC dan dipasang di tempat umum. Adapun biota laut yang dimaksud yakni kima (kima pasir dan kima cina), triton trompet, nautilus berongga, batu laga, kepala kambing, ketan kenari, ketam tapak kuda, ikan napoleon, ikan kakatua hijau, lumba-lumba, hiu paus, paus pilot, duyung, penyu sisik, penyu hijau, penyu ridel, penyu belimbing. Dengan menunjukkan gambar dari masing-masing jenis, masyarakat dapat mengetahui dan mengerti jenis-jenis yang dimaksud. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih
Baca Berita

Geliat Masyarakat Penyangga TN Meru Betiri Meraih Sejahtera

Jember, 9 September 2020. Desa Penyangga Taman Nasional Meru Betiri, Kandangan berada di wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) 1 Sarongan Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. Masyarakat di desa ini sebagian besar merupakan petani, peternak, dan pekerja perkebunan. Salah satu usaha yang telah difasilitasi Balai Taman Nasional Meru Betiri yaitu pemberian bantuan ekonomi produktif berupa pengembangan ternak bebek. Bantuan yang diberikan pada awal bulan Agustus 2020 melalui kelompok SPKP WANA WIRA SEJAHTERA telah mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan, Ketua SPKP Rudi Hartono mengatakan “saat ini dari 220 ekor bebek yang diberikan sudah menghasilkan telur sebanyak 154 butir, hanya dalam kurun waktu 30 hari saja”. “Rencananya 30% dari telur-telur tersebut akan diteteskan untuk dibagikan kepada anggota kelompok dan sebagian lagi dijual di pasar lokal”, kata Rudi. Kepala Resort Karangtambak Giyanto selaku pendamping kelompok ini mengatakan, “Kedepan kelompok SPKP ini akan memfokuskan kepada produksi telur fertil yang secara ekonomis lebih menguntungkan dibandingkan telur konsumsi, di pasaran harga telur bebek konsumsi hanya seribu sedangkan telur fertil/tetas bisa sampai dua kali lipat”. “TN Meru Betiri akan terus melalukan pendampingan agar usaha masyarakat ini berhasil dan memberikan dampak kesejahteraan yang meningkat bagi seluruh anggota kelompok”, imbuh Giyanto. Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Giat Koordinasi Pengaman Kawasan TNBG Desa Aek Nangali dan Desa Hatupangan

Panyabungan, 9 September 2020. Balai Taman Nasional melakukan koordinasi dengan Kepala Desa Aek Nangali dan Kepala Desa Hatupangan Kecamatan Batang Natal pada tanggal 06 s/d 08 Agustus 2020. Kegiatan koordinasi tingkat desa, kecamatan dan Instansi terkait merupakan kegiatan yang rutinitas dilaksanakan Balai Taman Nasional Batang Gadis setiap tahunnya. Koordinasi pengamanan kawasan dilakukan untuk mencegah dan meminimalisir terjadinya pengrusakan kawasan Taman Nasional dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Tim disambut baik Kepala Desa Hatupangan yaitu Bapak Tafsir Nasution, beliau sangat antusias dengan kedatangan tim karena beliau ingin kembali menjalin hubungan baik setelah kejadian konflik satwa yang sampai terjadi pro kontra dengan petugas TN Batang Gadis. Menurut Kepala Desa Hatupangan kejadian – kejadian pro kontra tidak lepas dari ketidaktahuan masyarakat tentang pengelolaan TN Batang Gadis. Tim menjelaskan sistem pengelolaan kawasan TN Batang Gadis dan memberikan peta kawasan TN Batang Gadis. Disini tim juga menanyakan informasi terkait illegal logging. Menurut Kepala desa masyarakat sudah menyadari bahwa desa mereka yang dialiri sungai Aek Stuaon dan Aek Tuba berhulu di tor Sanduduk yang berada di kawasan TN Batang Gadis, yang apabila dirusak bisa berakibat fatal pada desa mereka. Kepala Desa juga berjanji akan melakukan sosialisasi bersama pihak TN Batang Gadis yang tentunya menurut Kepala Desa akan melakukan sosialisasi dulu yang di awali kepada tokoh – tokoh masyarakat dan perangkat desa. Setelah itu baru dilakukan bersama – sama tim dari TN Batang Gadis. Dari beberapa desa yang dikunjungi saat koordinasi, baik kepala desa maupun tokoh dan perangkat desa siap bekerjasama dengan pihak TN Batang Gadis dalam hal pengelolaan dan pengamanan kawasan TN Batang Gadis. Balai TNBG akan terus melaksanakan sosialisasi tentang pengelolaan dan batas kawasan TN Batang Gadis dari petugas penyuluh, seksi dan resort karena koordinasi merupakan salah satu langkah awal untuk bisa mempererat hubungan dan komunikasi yang baik diantara instansi terkait. Koordinasi merupakan kegiatan yang dilakukan baik ke tingkat desa, kecamatan maupun Instansi Penegakan Hukum di Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sumber : Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Pelanduk Napu Hasil Penyerahan Warga Dilepasliarkan

Pekanbaru, 9 September 2020 – Pada Selasa, 8 September 2020, Petugas Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Batam Balai Besar KSDA Riau melakukan pelepasliaran Pelanduk Napu (Tragulus napu) di salah satu kawasan hutan konservasi di Kota Batam. Pelepasliaran ini dilakukan pada pukul 11.05 wib oleh Tim yang terdiri dari staf SKW II, Polisi Kehutanan, Pengendali Ekosistem Hutan, dan Tenaga Pengamanan Hutan Lainnya. Sebelumnya, petugas SKW II Batam menerima satwa Pelanduk Napu sebanyak dua ekor (sepasang) dari masyarakat atas nama Bapak Andy Lynn di kantor seksi, Kota Batam. Bapak Andy Lynn baru mengetahui bahwa satwa tersebut adalah termasuk salah satu jenis satwa dilindungi. Pada saat dilakukan serah terima satwa oleh pemilik kepada petugas, salah satu satwa dalam kondisi sakit atau luka lecet dibagian tubuhnya. Keesokan paginya satu ekor pelanduk napu ditemukan mati didalam kandang transit setelah sebelumnya mendapatkan perawatan dari petugas. Kematian satwa diduga dikarenakan kondisi satwa yang sudah tidak mampu bertahan. Untuk menghindari keadaan yang tidak diinginkan, satu ekor Pelanduk segera dilepasliarkan setelah dinyatakan sehat oleh petugas. Semoga kedepannya makin banyak masyarakat yang sadar akan konservasi dan satwa liar dapat lestari di habitatnya #karenakonservasitakmungkinsendiri . Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Memerangi Illegal Logging Dengan Wisata Alam

Jember, 9 September 2020. Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo, Jember mempunyai sejarah panjang dalam kegiatan illegal logging, dari saat awal reformasi tahun 1998 sampai saat ini masih banyak oknum masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari kegiatan haram ini. Minimnya mata pencaharian menjadi salah satu faktor yang memicu masyarakat untuk melakukan kegiatan illegal logging. Dari data yang diperoleh TN Meru Betiri diketahui luas lahan milik masyarakat termasuk lahan garapan hanya sekitar 10% dari total luas wilayah desa Andongrejo, sisanya berupa kawasan hutan (85%) dan perkebunan (5%). Berbagai upaya TN Meru Betiri telah dilakukan untuk menjaga kelestarian kawasan ini, mulai dari tindakan prefentif sampai dengan represif. Penyelesaian konflik melalui dialog multipihak saat ini lebih diutamakan, melibatkan unsur pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh pemuda dengan mengedepankan aspek kemanusiaan. Program alih lokasi, alih komoditi dan alih profesi berupa kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan ekowisata dengan konsep forest healing menjadi salah satu konsep yang akan dikembangkan oleh masyarakat di lokasi-lokasi bekas penjarahan. Potensi wisata alam di TN Meru Betiri yang secara administratif masuk wilayah Desa Andongrejo sangat dikenal oleh masyarakat Jember dan sekitarnya, salah satunya Pantai Bandealit. Hal ini yang kemudian menjadi sebuah gagasan beberapa masyarakat Desa Andongrejo untuk mengembangkan ekowisata di lokasi bekas illegal logging di sekitar Pantai Bandealit. Mat Seken dan Asmui sebagai tokoh masyarakat Desa Andongrejo merupakan pendorong gagasan tersebut. Mat Seken menyampaikan bahwa konsep ekowisata ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan Deklarasi Stop Illegal Logging yang dilaksanakan oleh Polres Jember tanggal 17 Juni 2020 di Desa Andongrejo. “Kegiatan wisata bisa menjadi mata pencaharian baru bagi masyarakat Andongrejo, yang selama ini belum merasakan dampak dari kunjungan wisata di Meru Betiri. Sehingga masyarakat yang melakukan kegiatan illegal logging dapat beralih profesi menjadi pengusaha wisata alam”, kata Mat Seken. Menindak lanjuti hal tersebut hari Senin tanggal 7 September 2020 bertempat di Kantor Resort Bandealit, TN Meru Betiri bersama-sama Kepala Desa Andongrejo, tokoh masyarakat dan perwakilan pelaku illegal logging membahas pembentukan kelompok masyarakat sadar wisata. Dari pertemuan ini disepakati nama kelompok sadar wisata adalah “JAWARA MERU BETIRI”. dengan ketua Mat Seken dan Sekertaris Asmui. Saat dikonfirmasi Asmui mengatakan bahwa arti jawara merupakan kepanjangan dari Jaringan Warga Andongrejo, selain itu diharapkan juga menjadi motor penggerak utama ekonomi masyarakat Andongrejo melalui wisata alam. Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Buaya di Sungai Deli Medan - Tertangkap

Medan, 8 September 2020. Bermula dari keresahan warga di Dusun 4 Gang Keluarga, Desa Kedai Durian, Kecamatan Deli Tua, Deli Serdang, pada tanggal 30 Agustus 2020, yang melihat penampakan seekor buaya berkeliaran di sungai Deli yang tidak jauh dari pemukiman warga, dan diunggah di media sosial. Menyikapi informasi tersebut, Balai Besar KSDA Sumatera Utara segera menuju ke lokasi untuk mencari dan mengumpulkan data serta keterangan, baik dari pihak pemerintahan desa maupun dari warga. Dari hasil koordinasi dengan pemerintahan desa serta pihak-pihak terkait lainnya, kemudian dilakukan langkah-langkah berupa pemantauan rutin oleh petugas di lokasi, sosialisasi kepada masyarakat untuk berhati-hati dalam melakukan aktifitas di sekitar sungai, serta memasang jerat dengan membuat umpan anak bebek untuk memancing buaya. Sementara dari Pemerintah Desa Kedai Durian juga memasang plank Pengumuman. Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan Amenson Girsang, SP. dalam keterangannya menyebutkan bahwa pada Sabtu, 5 September 2020, sekitar pukul 01.20 WIB dinihari, buaya tersebut akhirnya berhasil ditangkap dan segera dievakuasi. Selanjutnya pada pukul 08.30 WIB, buaya diserahkan ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Dari hasil observasi diketahui bahwa jenisnya adalah Buaya Muara (Crocodylus novaeguineae), berkelamin jantan, diperkirakan masih remaja, panjang tubuh 1,64 cm. dan kondisinya sehat. Untuk pemeriksaan kesehatan serta penanganan lebih lanjut Buaya Muara tersebut kemudian dititipkan ke Lembaga Konservasi mitra/binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara, R Zoo & Park, di Desa Bengabing, Kecamatan Pegajahan, Kabupaten Serdang Bedagai, ujar Amenson. Atas keberhasilan penangkapan Buaya Muara ini, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For., menyampaikan terima kasih atas dukungan dan kerjasama yang baik dari berbagai pihak serta dari masyarakat, khususnya kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Deli Serdang, Basarnas, Muspika Kecamatan Deli Tua, Kepolisian Sektor Namo Rambe, Pemerintahan Desa Kedai Durian, Komunitas Sungai Deli, Komunitas Pencinta Reptil, mitra Balai Besar KSDA Sumatera Utara PT. PAL (Pelita Alam Lestari) dan berbagai pihak sehingga penanganan konflik ini dapat berjalan dengan baik dan lancar, dimana masyarakat terlindungi dan satwa liar terselamatkan. Sumber : Evansus R. Manalu - Analis Data Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Monev dan Bantuan Ekonomi Resort Sei Lulan dan Sei Bulan

Kotabaru, 3 September 2020 – Monev dan pendampingan kelompok sekaligus penyerahan bantuan di Kantor Kecamatan Pulau Laut Selatan (3/9), Balai KSDA Kalimantan Selatan menyerahkan bantuan ekonomi produktif kepada kelompok masyarakat “Bunga Tanjung” Desa Tanjung Seloka Utara dan “Madu Khas TDS” Desa Tanjung Serudung, Kabupaten Kotabaru. Bantuan diberikan berupa uang sejumlah Rp 25 juta per kelompok yang nantinya akan digunakan untuk usaha gula aren dan madu kelulut milik kelompok masyarakat. Bantuan secara simbolis diserahkan oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr.Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc kepada ketua kelompok Bunga Tanjung Bapak Ramal dan Ketua kelompok Madu Khas TSD Bapak Noviansyah. Kepala Balai didampingi Kepala Sub Bagian Tata Usaha (KSBTU) Suwandi, S.Hut.,M.A, Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III Batulicin Nikmat Hakim Pasaribu, SP, M,Sc, Kepala Resort CA Sungai Lulan Sungai Bulan Chairil Fahmi, A.Md serta para staf. Dr. Mahrus Kepala BKSDA Kalsel menyampaikan akan mengusahakan kepada kelompok masyarakat Bunga Tanjung mencarikan bibit aren yang bagus dari TN Kutai Kaltim untuk ditanam di Desa Tanjung Seloka Utara agar bisa menghasilkan aren yang baik. Anggota kelompok masyarakat Bunga Tanjung diharapkan agar kualitas aren dijaga dan perlu dipikirkan kemasannya. Kepada kelompok madu Khas TSD Kepala Balai berpesan agar lebih di perhatikan ketersediaan pakan lebah kelulutnya. Pak Camat Pulau Laut Selatan Bapak M. Yusuf, S.Pd juga menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan kepada 2 desa yang berada di wilayah kerjanya. Harapan beliau dengan adanya bantuan ini agar dapat bermanfaat bagi anggota kelompok dan keluarganya. Camat berharap agar 6 desa lainnya dapat mendapatkan bantuan ekonomi produktif dari Balai KSDA Kalimantan Selatan. Dalam kesempatan ini Ketua kelompok Bunga Tanjung pak Ramal mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan BKSDA Kalsel, dirasakan sangat bermanfaat karena pembuatan gula aren ini adalah usaha turun temurun dan sangat membantu perekonomian masyarakat. Hasil gula aren dari Desa Tanjung Seloka Utara dijual keluar daerah yaitu Kaltim khusus nya Balikpapan dan ada juga dikirim ke Banjarmasin. Kemudian, Ketua kelompok Madu Khas TSD pak Noviansyah mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang diberikan BKSDA kalsel kepada kelompok karena awalnya di Desa Tanjung Serudung ini belum ada budidaya lebah madu kelulut. Bantuan dari KLHK yang disalurkan BKSDA Kalsel ini kami sangat merasakan sekali manfaatnya, apalagi manfaat dari madu kelulut ini sangat bagus untuk kesehatan. Pembentukan kelompok masyarakat dan pemberian bantuan usaha ekonomi produktif oleh Balai KSDA Kalimantan Selatan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa penyangga Kawasan Konservasi CA Sungai Lulan Sungai Bulan. Akhir kata, tidak lupa Dr. Ir. Mahrus Aryadi M.Sc mengingatkan tentang pentingnya untuk selalu mengikuti protokol kesehatan dari pemerintah dengan 3M yaitu Memakai masker, Mencuci tangan dan Menjaga jarak. (ryn) Sumber : Eddy kurniawan astanto, A.Md - Staf Seksi Konservasi Wilayah III Batulicin Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Belajar Tentang Harimau Sumatera Bersama Bang Harray

Selasa, 8 September 2020 - Haray Sam Munthe atau lebih dikenal dengan Bang Harray pribadi yang dekat dengan alam serta bersahabat dengan para pecinta alam yang ingin belajar atau berpetualang menyusuri rimba raya yang penung dengan misteri. Beliau adalah seorang pecinta harimau sumatera yang aktivitas hidupnya berada di alam untuk mempelajari prilaku si belang asal Sumatera yang telah dihabiskannya selama 10 Tahun terakhir. Dalam kegiatan penyegaran PEH dan Polhut, kali ini tim Balai TN. Batang Gadis sengaja mengundang beliau untuk menjadi narasumber dalam pemaparan tentang materi pembelajaran Harimau Sumatera (Panthera Tigris sumatrae) dikarenakan si belang asal Sumatera ini masih banyak di jumpai tanda-tanda keberadaannya atas laporan para tim Peh dan Polhut yang mengadakan patroli pengamanan kawasan mauapun pemasangan Camera Trap di dalam kawasan hutan serta atas laporan warga. Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) adalah harta kekayaan alam yang harus dijaga kehidupannya serta populasinya sehingga tetap lestari dan terhindar dari kepunahan. Diskusi dari bersama bang Harray menambah wawasan kita mengenai satwa belang dari Sumatra, ilmu dari pengalaman beliau memberikan kita bagaimana mengetahui sifat, perilaku dan daerah jelajah harimau, dari Beliau juga kita dapat bagaimana cara-cara tepat dalam penanganan konflik manusia dengan harimau. Beliau juga masuk dalam keanggotan Sumatera Tigers sebuah lembaga yang aktif bergerak dibidang pelestarian harimau dan penganan konflik satwa manusia dengan satwa liar Sumber: Balai TN Batang Gadis
Baca Berita

Melaksanakan Koordinasi Kepoldasu Sumatera dan Penanganan Tindak Pidana Kehutanan

Selasa, 7 September 2020 - Balai Taman Nasional Batang Gadis melaksanakan pengelolaan kawasan diantaranya pengelolaan potensi, pengamanan kawasan dan penanganan konflik satwa serta perburuan liar. Polhut Balai TNBG melaksanakan Koordinasi ke POLDASU dan Seksi I Balai Gakkum Sumatera tanggal 2 s/d 5 September 2020. Rangkaian agenda koordinasi ini untuk menyampaikan penertiban penggunaan senapan angin perburuan satwa liar. Kunjungan Polhut ini disambut baik oleh Intelkam Poldasu Ipda Edi Hatuah Putra Saragih, SH. Ipda Edi Hatuah Putra Saragih, SH menyampaikan bahwa Intelkam Poldasu telah menyurati seluruh Polres di Wilayah POLDASU agar meningkatkan koordinasi dalam penanganan dilapangan. Polhut Balai TNBG juga melanjutkan Koordinasi ke kantor Seksi I Balai Gakkum Sumatera. Kepala Seksi I Balai Gakkum Sumatera Haluanto Ginting, S.Hut berpesan bahwa Gakkum Sumatera siap mendukung TN Batang Gadis dalam penegakan hukum tentang tindak pidana hutan dan peburuan satwa yang dilindungi. Kepala Seksi menyarankan agar untuk penindakkan yang melibatkan langsung tim Gakkum ke lapangan agar pihak Balai TN Batang Gadis bersurat terlebih dahulu. Akan tetapi dalam hal tertangkap tangan langsung saja dibawa ke Gakkum dan akan di pakai aturan pemeriksaan 3 x 24 jam karena jarak yang jauh menurut PPNS Gakkum. Sumber: Balai TN Batang Gadis
Baca Berita

BBKSDA Jatim Amankan Tengkorak yang Diduga Tengkorak Karnivora Besar

Malang, 7 September 2020 - Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) segera menindaklanjuti berita terkait penemuan tengkorak kepala yang diduga bagian tubuh dari karnivora besar di aliran Sungai Metro, Kota Malang. Tim Seksi Konservasi Wilayah VI selanjutnya mendatangi padepokan sekaligus kantor dari Komunitas Jelajah Jejak Malang “Kalimetro” di Kelurahan Merjosari. Mamat Ruhimat, SH. mengatakan bahwa akan mengirim tengkorak tersebut ke pihak LIPI di Bogor, untuk diketahui jenis satwa dan usia dari tengkorak tersebut. “Sebelumnya, kami juga telah mengirim bagian tubuh satwa liar ke LIPI untuk uji laboratorium dalam kasus perburuan liar, jadi harap sabar dan mudah-mudahan secepatnya dapat segera kita ketahui hasilnya”, tambah Mamat. Pada kesempatan tersebut tim BBKSDA Jatim bersama pihak Kalimetro sempat melakukan pengukuran dari tengkorak serta mendatangi lokasi sungai tempat ditemukannya. Lokasi penemuannya di Sungai Metro, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Sungai Metro yang berhulu di Pengunungan Kawi ini masih diapit oleh areal persawahan dan rumpun Bambu yang masih cukup lebat. Selanjutnya tengkorak tersebut diserahterimakan kepada pihak BBKSDA Jatim untuk dilakukan upaya lanjutan. Seperti diketahui seorang warga Kota Malang bernama Lulut Adi Sucipto menemukan kepala tengkorak yang diduga tengkorak karnivora besar pada Jumat, 4 September 2020 di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Metro, Kota Malang. Lulut mengatakan bahwa ia menemukan tengkorak itu di bawah batuan besar. Penemuan ini saat agenda rutin komunitas tersebut dengan menelusuri Sungai Metro di wilayah Kota Malang. Sumber : Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Balai TN Wakatobi Transplantasi Karang Bersama Kelompok Dewara Desa Darawa

Kaledupa, September 2020. Kelompok Dewara, Desa Darawa bersama Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Kaledupa Balai Taman Nasional Wakatobi pada tanggal 7 September 2020 melaksanakan kegiatan transplantasi karang menggunakan metode MARRS sebanyak 85 media yang ditanam di perairan Desa Darawa. Kegiatan ini untuk meningkatkan usaha ekonomi produktif masyarakat melalui bidang perikanan. Disamping itu, kegiatan ini ditujukan sebagai media pembelajaran bersama antara masyarakat dengan pihak Taman Nasional Wakatobi. Adanya kesadaran masyarakat untuk tetap menjaga dan melindungi terumbu karang menjadi dasar pelaksanaan kegiatan transplantasi terumbu karang sebagai salah satu upaya dalam memulihkan ekosistem yang terdegradasi di perairan Desa Darawa. Penanaman anakan karang pada media dilakukan dengan menggunakan metode MARRS dimana dalam 1 media transplantasi terdapat 15 anakan karang. Dalam kegiatan kali ini, media yang ditanam sebanyak 85 media dengan total jumlah anakan sebanyak 1275 bibit anakan, dengan luasan daerah yang ditransplantasi sekitar 50 m2 . Pelaksanaan kegiatan transplantasi karang ini tentunya memakan waktu yang tidak sebentar, lebih kurang selama 2 minggu masyarakat telah melakukan pengerjaan media yang selalu didampingi oleh pihak Taman Nasional Wakatobi. Sebanyak lebih kurang 50 orang masyarakat Desa Darawa khususnya kelompok Dewara ikut berpartisipasi, adanya gotong royong anggota kelompok tentunya akan menguatkan rasa kebersamaan baik antara sesama anggota kelompok maupun masyarakat sekitar dan pihak Taman Nasional. Kegiatan transplantasi karang bersama masyarakat ini didukung penuh Balai Taman Nasional Wakatobi, melalui bantuan modal operasional kegiatan. Tidak hanya dari segi konservasi, tapi juga dari segi ekonomi masyarakat mendapatkan manfaat langsung berupa upah pengerjaan baik itu pengerjaan media, pengambilan bibit, pengikatan bibit, hingga pemasangan media. Selain itu, Kegiatan transplantasi karang ini tentunya akan menambah pemahaman masyarakat mengenai cara yang tepat untuk melakukan transplantasi karang tanpa merusak terumbu karang itu sendiri, serta menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk ikut serta menjaga dan melestarikan ekosistem terumbu karang. Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi, Darman S.Hut, M.Sc, menyampaikan bahwa kegiatan transplantasi yang kita laksanakan hari ini seperti tabungan jangka panjang yang manfaatnya tidak akan pernah habis, baik dari segi ekologi maupun ekonomi. Dengan berbagai manfaat yang dapat diperoleh tentunya kegiatan transplantasi karang ini diharapkan menjadi percontohan bagi masyarakat desa-desa penyangga di Taman Nasional Wakatobi, khususnya di Pulau Kaledupa. Sumber : Prima Sagita, S.Hut – Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama Balai Taman Nasional Wakatobi
Baca Berita

Pemasangan Camera Trap Di wilayah SPTN III Muarasoma

Selasa, 8 September 2020 - Camera Trap merupakan alat yang digunakan untuk memantau sebaran serta aktivitas satwa liar yang ada di dalam kawasan hutan. Tidak terkecuali dengan tim Balai TN. Batang Gadis yang setiap tahunnya melaksanakan kegiatan menitoring satwa liar dengan menggunakan metode Camera Trap. Kali ini tim Seksi PTN Wilayah III Muarasoma pada Minggu pertama bulan September ini telah memasang sebanyak 5 unit Camera trap yang dipasang di setiap perlintasan satwa guna mengetahui sebaran serta aktivitas di dalam kawasan taman nasional. Diperkirakan pemasanangan Camera trap ini membutuhkan waktu selama 1 bulan kedepan sejak dipasang. Dari hasil penggunaan metode Camera trap ini setiap hasil yang di dapat akan di kumpulkan serta di telaah maupun dianalisis untuk dijadikan bahan/data tentang kekayaan flora Taman nasional Batang Gadis serta menjadi rujukan penelitian tentang sebaran satwa liar guna memperdalam serta memperbanyak referensi tentang satwa dilindungi maupun tidak lindungi. Sumber: Balai TN Batang Gadis
Baca Berita

Bupati Kulon Progo Tegaskan Dukungan Terhadap Upaya Konservasi Satwa Liar

Yogyakarta, 8 September 2020 - Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi didampingi Kepala Seksi Konservasi Wilayah I, Untung Suripto dan tim penyusun buku potensi satwa di Kulon Progo melakukan audiensi dengan Bupati Kulon Progo, Drs. H. Sutedjo hari Senin (7/9/20). Bertempat di Ruang Menoreh, Kantor Bupati Kulonprogo kegiatan audiensi dilakukan dengan diskusi terkait potensi yang ada di wilayah Kabupaten Kulon Progo. Dalam audiensi tersebut, M. Wahyudi menyampaikan mengenai dua buku yang telah disusun Balai KSDA Yogyakarta terkait potensi yang ada di Kabupaten Kulon Progo. “Kami telah menyusun buku yang mengupas mengenai potensi satwa yang ada di Kabupaten Kulon Progo yakni Jatimulyo Surga Burung Perbukitan Menoreh dan Burung Migran Pantai Trisik Kulon Progo. Melalui buku tersebut, diharapkan dapat menjadi media sosialisasi dan lebih mengenalkan potensi yang ada di Kabupaten Kulon Progo, khususnya Jatimulyo dan Pesisir Trisik, yang dapat dikembangkan sebagai obyek wisata.” ujarnya. Lebih lanjut M. Wahyudi menyampaikan “Prakarsa masyarakat dan pemerintah Kalurahan Jatimulyo terkait pelestarian satwa khususnya jenis-jenis burung patut mendapat apresiasi dan dapat dijadikan role model untuk dapat diadaptasi di tempat lain. Untuk kawasan Pantai Trisik, dilihat dari potensinya, kawasan ini dapat dipertahankan sebagai habitat bagi burung migran dan dapat diusulkan sebagai kawasan Area Bernilai Konservasi Tinggi (ABKT). Untuk pengusulannya sendiri dilakukan oleh Pemda ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan” lanjutnya. Terkait kawasan Suaka Margasatwa (SM) Sermo, M. Wahyudi menegaskan bahwa kawasan konservasi harus dapat memberi manfaat bagi masyarakat khususnya masyarakat sekitar kawasan. Untuk mendukung hal tersebut Balai KSDA Yogyakarta melaksanakan kegiatan Evaluasi Kesesuaian Fungsi (EKF). Tahun 2020 ini diharapkan Surat Keputusan TIM EKF dapat segera diterbitkan oleh Menteri LHK dan Draft Dokumen EKF dapat terselesaikan. Tim EKF yang akan bekerja nantinya melibatkan unsur tenaga teknis, unsur tenaga dari OPD Kabupaten Kulon Progo, unsur LSM dan tim ahli dari UGM. Sementara itu, dalam tanggapannya Drs. H. Sutedjo menyampaikan mengenai potensi Kabupaten Kulon Progo. “Kabupaten Kulon Progo ini merupakan daerah yang memiliki potensi yang dapat dikembangkan sebagai salah satu destinasi wisata berbasis alam. Harapan kedepan, wilayah Kabupaten Kulon Progo akan semakin maju dan berkembang terlebih dengan dibukanya Bandara Yogya International Airport (YIA) sebagai penghubung dengan Kawasan Super Prioritas Nasional (KSPN) Borobudur. Khusus untuk wilayah Kalurahan Jatimulyo, selama ini memang sudah berkembang kearifan lokal yang merupakan warisan dari nenek moyang dalam bentuk budaya tradisi “merti”, yang artinya merawat. Tradisi ini mengandung makna yang sangat mendalam dalam memperlakukan dan memanfaatkan potensi alam yang ada, termasuk pelestarian satwa khususnya burung yang ada di wilayah tersebut. Peraturan desa yang diterbitkan Kalurahan Jatimulyo merupakan perdes pertama dan menjadi tonggak kesadaran masyarakat dalam upaya konservasi alam dan keanekaragaman hayati dan semoga nantinya dapat dicontoh oleh daerah-daerah lain.” ungkapnya. Terkait status kawasan pantai Trisik yang diusulkan sebagai Area Bernilai Konservasi Tinggi (ABKT), Bupati Kulon Progo menyambut baik saran tersebut dan nantinya akan ikut mengawal dan memfasilitasi proses usulannya. Jika nantinya pantai Trisik ditetapkan sebagai ABKT akan dapat membuka peluang Kulon Progo sebagai kawasan wisata minat khusus seperti “birdwatching” dari pemerhati burung seluruh dunia. Bupati Kulon Progo juga mendukung upaya Balai KSDA Yogyakarta agar kawasan konservasi dapat membawa manfaat bagi masyarakat dan jika masyarakat merasakan manfaat dari hutan tersebut maka mereka akan ikut menjaga dan merawatnya. Di akhir acara Bupati Kulon Progo didampingi Kepala Balai KSDA Yogyakarta secara resmi me-launching buku “Jatimulyo, Surya Burung Perbikutan Menoreh” dan “Burung Migran Pantai Trisik Kulon Progo” dilanjutkan tukar menukar cindera mata. Kepala Balai KSDA menyerahkan cindera mata berupa Plakat, kripik Crispa Produk KTH Binaan BKSDA Yogyakarta dan buku Wisata Intelektual karya Dirjen KSDAE KLHK, sedangkan Bupati Kulonprogo menyerahkan kepada plakat yang berlambangkan Kabupaten Kulon Progo yang menggambarkan potensi yang ada di kabupaten tersebut. Sumber : Tri Dibyo Sumbogo (PEH) - Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Kelompok Bunga Meranti Binaan BBKSDA Sumut Asah Skill Olah Kopi

Simalungun, 7 September 2020. Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah II Pematangsiantar Balai Besar KSDA Sumatera Utara menyelenggarakan Peningkatan Kapasitas Kelompok Bunga Meranti berupa Pelatihan Budidaya dan Pengolahan Kopi di Saabas Roastery Home Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun pada Sabtu, 5 September 2020. Kegiatan diawali dengan sambutan dan pembukaan oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, Seno Pramudito, S.Hut, ME. Dilanjutkan dengan penyampaian materi dan praktek budidaya serta pengolahan kopi oleh Saabas Roastery Home. Ludianto Manik narasumber sekaligus pemilik Saabas Roastery Home telah menggeluti dunia kopi mulai dari tahun 2009. Banyak kisah pengalaman yang dibagikan kepada Kelompok Bunga Meranti. Saabas Roastery Home sendiri sudah menghasilkan produk olahan kopi dengan berbagai varian rasa. Ludianto Manik juga sebagai penggagas kopi konservasi dimana konsep konservasi ini sangat cocok diterapkan oleh Kelompok Bunga Meranti mengingat Nagori Purba Tongah berbatasan langsung dengan Cagar Alam Martelu Purba. "Jangan pernah berpikir apakah produk yang akan kita hasilkan ini laku apa tidak. Bangun brand image. Manfaatkan sumberdaya yang ada. Jangan selalu mengeluh. Fokus pada tujuan. Semoga usaha produktif pengolahan kopi Kelompok Bunga Meranti berjalan lancar dan menghasilkan produk kopi unggulan" pesan Ludianto Manik kepada Kelompok Bunga Meranti. Ketua Himpunan Masyarakat Kopi Arabika Simalungun, Henra Purba turut hadir dan Perwakilan dari UPT Dinas Pertanian Kabupaten Simalungun, Pamuji yang semakin melengkapi kegiatan ini dan memberi semangat kepada Kelompok Bunga Meranti untuk menghidupkan kembali kejayaan kopi purba. Pemberdayaan masyarakat di daerah penyangga kawasan konservasi masih merupakan program prioritas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatera Utara, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Salah satu desa penyangga yang menjadi target pembinaan tahun 2020 ini adalah Nagori Purba Tongah Kecamatan Purba Kabupaten Simalungun yang merupakan desa penyangga Kawasan Konservasi Cagar Alam (CA) Martelu Purba melalui Kelompok Tani Bunga Meranti. Berdasarkan Keputusan Dirjen KSDAE Nomor SK.114/KSDAE/SET/REN.2/5/2020 tanggal 12 Mei 2020 tentang Daftar Penerimaan Bantuan dan Jumlah Barang yang akan Diserahkan kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2020, Kelompok Bunga Meranti akan menerima Bantuan Ekonomi Produktif berupa peralatan pengolahan kopi dan akan mendapatkan kegiatan peningkatan kapasitas dimana peningkatan kapasitas harus inline dengan bantuan yang akan diserahkan. Sumber : Lisbeth - Penyuluh Kehutanan Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Masih Dilakukan, Begini Aksi Peduli Covid-19 Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata Di Desa Penyangga

Woda, Tidore Kepulauan - 5 September 2020. Masa pandemi covid-19 masih berlanjut hingga september ini, akan tetapi kehidupan "new normal" yang telah berlaku masih berdampak nyata pada kehidupan masyarakat. Untuk itu Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata melalui Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Weda kembali melakukan Aksi Peduli Covid-19 di salah satu desa penyangga taman nasional yaitu Desa Woda Kecamatan Oba Kota Tidore kepulauan, yang masih didalam wilayah Resort Tayawi. Kegiatan ini dilakukan dengan pemberian sembako dan masker untuk meringankan dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat dan mencegah penyebaran covid-19 di Desa Woda termasuk masyarakat Suku Tobelo Dalam yang bermukim di desa tersebut. Kegiatan dimulai dengan sambutan Sekretaris Camat Oba, sambutan Kepala Desa Woda, dan sambutan Kepala SPTN wilayah I Weda. Dalam sambutannya secara keseluruhan adalah memperingatkan warga agar selalu menjaga kesehatan dari bahaya Covid-19. "Saya selaku sekretaris camat kecamatan Oba, berpesan kepada masyarakat agar setiap melakukan kegiatan atau aktivitas selalu disesuaikan dengan protokol covid-19 yang telah ditetapkan oleh satgas covid", kata SekCam Oba. "Warga Woda dan Masyarakat Suku, kita harus menaati peraturan yang berlaku agar terhindar dari Covid-19, sesuai yang dikatakan Pak Sek Cam". Kata Kepala Desa Woda. Kepala SPTN Wilayah I Weda menyampaikan bahwa bantuan yang diberikan sebagai bentuk kepedulian Taman Nasional Aketajawe Lolobata kepada masyarakat disekitar kawasan yang terdampak pandemi ini, dan agar masyarakat tidak lengah untuk mencegah penyebaran covid-19 melalui langkah sederhana seperti memakai masker. Kegiatan diakhiri dengan penyerahan bantuan sebagai tambahan nutrisi saat pandemi. Penerima sembako adalah warga yang kurang mampu dan masyarakat Tobelo Dalam sejumlah 40 Kepala keluarga. Dalam penutupan Kepala Desa Woda berterima kasih kepada Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata atas bantuan sosial yang diberikan kepada warganya, dan berharap agar Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata nantinya akan tetap menjaga koordinasi dan silaturahmi dengan Desa Woda dan desa-desa penyangga lainnya. Sumber : Yoyon Arifta S.Si dan Nadya Fasha Fawzi S.Hut – PEH Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Sosialisasi Pemulihan Ekosistem di Desa Woekob, Resort Akejira

Woekob, 4 September 2020 - Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Weda Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (BTNAL) melaksanakan Sosialisasi Pemulihan Ekosistem (PE). Kegiatan berlangsung di Kantor Desa Woekob, Kabupaten Halmahera Tengah. Sosialisasi ini dihadiri oleh Sekretaris Desa (Sekdes), Ketua Kelompok Tani Dodisa, perwakilan masyarakat Desa Woekob serta tim dari BTNAL. Dalam sambutannya Sekdes Woekob Bapak John A. Dodowor menyatakan bahwa Desa Woekob merupakan salah satu desa yang masuk ke dalam lingkar tambang, kegiatan penambangan dapat mengurangi cadangan hutan. Oleh karenanya masyarakat perlu menjaga kelestarian hutan di kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Tujuan sosialisasi ini adalah memberikan informasi kepada masyarakat, khususnya kelompok Tani Dodisa terkait kegiatan Pemulihan Ekosistem di kawasan taman nasional dan tahapan pelaksanaannya. Kegiatan pemulihan ekosistem membutuhkan sinergitas yang baik kepada semua pihak, karena membutuhkan proses yang panjang, mulai penanaman, pemeliharaan, dan sampai semua pohon tumbuh dewasa sehingga dapat memulihkan ekosistem di Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Dalam kesempatan ini, tim sosialisasi juga menyampaikan hasil kajian dari pelaksanaan kegiatan lapangan Pemulihan Ekosistem seluas 34 hektar di wilayah Desa Woekob. Rencana kegiatan Pemulihan Ekosistem BTNAL tahun 2020-2024 adalah seluas 685,81 ha. Tahun ini (2020) BTNAL akan melaksanakan kegiatan PE seluas 264 ha. Tahap-tahapan kegiatan pemulihan ekosistem yang akan dilaksanakan oleh Kelompok Tani Dodisa akan didampingi oleh staf dan petugas teknis dari Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Di waktu yang sama, SPTN Wilayah III Subain jiga melaksanakan patroli pengamanan lokasi PE di Resort Ake Jawi. Sumber: Nadya Fasha Fawzi S.Hut (PEH) - Balai TN Aketajawe Lolobata

Menampilkan 3.105–3.120 dari 11.141 publikasi