Jumat, 15 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Mencari lokasi ikan kawin di Taman Nasional Kepulauan Seribu

Rabu, 16 September 2020 - Untuk kali pertama, Taman Nasional Kepulauan Seribu melaksanakan kegiatan inventarisasi area pemijahan dan identifikasi jenis ikan ekonomis (SPAgS) pada 31 agustus - 4 september 2020. Kegiatan ini dilaksanakan pada lokasi yang dikerjasamakan dengan kelompok masyarakat, yaitu perairan Pulau Pemagaran dan Pulau Panjang. Lokasi merupakan pengelolaan akses area perikanan (PAAP) bagi nelayan pancing Pulau Kelapa, Pulau Kelapa Dua dan Pulau Harapan. Tujuan kegiatan untuk mengetahui titik/spot yang biasa dijadikan sebagai tempat pemijahan ikan serta jenis ikan ekonomis apa saja yang ditemukan di lokasi kegiatan. Inventarisasi SPAgS dilaksanakan selama 5 hari dengan melibatkan perwakilan kelompok nelayan. Hal ini sesuai dengan arahan Dirjen KSDAE bahwa pentingnya keterlibatan masyarakat lokal dalam menjalankan kegiatan. Dalam kegiatan yang dilaksanakan dipadukan antara scientific dan pengalaman nelayan. Penyelaman dilaksanakan pada pagi (06.00-07.00 wib) dan sore (17.00-18.00 wib) di kedalaman 15-33 meter. Semoga di masa yang akan datang kegiatan serupa dapat dilaksanakan di seluruh kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu. Sumber: Balai TN Kepulauan Seribu Foto dan Teks: Endang Tatang Hidayat (PEH)
Baca Berita

Matalawa Tingkatkan Koordinasi Antar Stakeholder

Tambolaka, 15 September 2020 - Masa pandemic COVID-19 yang membuat perekonmian melambat akhirnya sudah mulai kembali menggeliat dengan dibukanya kembali beberapa objek wisata yang ada di Taman Nasional. Jumlah kunjungan pun mulai meningkat dari awalnya hanya wisatawan lokal Sumba, tetapi saat ini wisatawan awal Jakarta pun mulai berdatangan. Hal ini menandakan bahwa telah terjadi juga peningkatan frekuensi di pintu-pintu masuk Pulau Sumba yakni bandara dan pelabuhan. Mengantisipasi hal tersebut sehingga tidak terjadi penyelundupan satwa secara illegal, Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) berkoordinasi dengan Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Tambolaka, Sumba Barat Daya. Dalam koordinasi yang dilakukan pada tanggal 15 September, langsung ditemui oleh Kepala UPBU Tambolaka, Fuadani, ST, MM, di ruang kerjanya. Dwi Putro Notonegoro selaku Pengendali Ekosistem Hutan TN Matalawa menjelaskan beberapa satwa liar yang masuk kategori perlindungan serta peraturan yang berlaku dalam rangka mencegah peredaran satwa liar tersebut. Dalam kesempatan ini juga diberikan beberapa buku Burung-burung di Taman Nasional Matalawa serta Buku Capung Sumba untuk dijadikan referensi para petugas di bandara. Sumber: Balai TN Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Sekelompok Remaja Rela Gedor Pintu Tengah Malam Demi Si Manis

Kuala Pembuang, 13 September 2020 - Minggu semalam, jelang tengah malam 5 remaja usia belasan tiba-tiba memasuki halaman Kantor SPTN II Kuala Pembuang Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Bersama mereka, terlihat sesosok satwa yang dikekang seadanya, ingin mereka serahkan kepada petugas yang berjaga. Seekor Trenggiling (Manis javanica) berbobot sekitar 2 kg dengan panjang 60 cm mereka temukan ditepi jalan di sekitar Desa Sungai Bakau, Kuala Pembuang dengan kondisi yang terlihat cukup sehat “Kami temukan satwa tersebut di arah pulang sehabis jalan-jalan, Pak” tutur Rahman, salah satu remaja yang mendatangi kantor malam itu. Karena kasihan takut terlindas kendaraan yang seliweran, mereka memutuskan untuk membawa pulang satwa tersebut menuju kantor SPTN II Kuala Pembuang. Kepala Resort Sungai Perlu, Gideon Yones Masiring yang kebetulan tinggal di mess kantor, menjadi penerima satwa Trenggiling hasil penyerahan para remaja tersebut. Setelah melakukan pemeriksaan dan pencatatan, lalu dibuatkan kandang sederhana sebelum nantinya satwa tersebut dilepasliarkan di kawasan TN Tanjung Puting yang menjadi habitatnya. “Kami sangat berterimakasih dan mengapresiasi adik-adik generasi muda yang peduli pentingnya satwa liar, terlebih Trenggiling adalah satwa dilindungi yang tidak boleh diperdagangkan sama sekali, dan satwa yang diserahkan kemungkinan masih kategori anak melihat bobotnya “, demikian tukas Gideon selepas menerima penyerahan Si Manis. Trenggiling (Manis javanica) menjadi salah satu satwa di Indonesia yang dilarang diperdagangkan dan berstatus kritis menurut IUCN. Trenggiling sunda, juga dikenal sebagai trenggiling malaya atau jawa adalah wakil dari ordo Pholidota yang masih ditemukan di Asia Tenggara. Hewan ini memakan serangga dan terutama semut dan rayap. Trenggiling hidup di hutan hujan tropis dataran rendah. Trenggiling kadang juga dikenal sebagai anteater. Sebuah gestur sederhana dari sekelompok remaja ini memperlihatkan bahwa kesukarelaan menyerahkan tumbuhan dan satwa liar menjadi bukti kesadaran lapisan masyarakat untuk melestarikan alam, dan sekaligus menjadi aksi nyata di tingkat tapak di Hari Konservasi Alam Tahun 2020 yang kali ini mengambil tema “Nagara Rimba Nusa : Merawat Peradaban, Menjaga Alam”. Semoga semakin banyak generasi muda yang menjadi extended family TNTP! Sumber: Balai Taman Nasional Tanjung Puting Penulis: Humas Balai TNTP (Efan Ekananda/PEH) Foto : Ka Resort T. Rengas (Nur Tsani Rahmawati /PEH)
Baca Berita

Pemukulan Rebana Menandai Dibukanya Peringatan Puncak HKAN 2020 dan Kemah Konservasi

Selasa, 15 September 2020 - Dalam suasana cuaca yang cerah, tarian Buluh Den Sanga, sajian dari Kota Bontang menyambut para tamu undangan dan peserta Kemah Konservasi. Direktur Jenderal KSDAE yang diwakili oleh Sekretaris Ditjen KSDAE, Tandya Tjahyana bersama Walikota Bontang, dr. Neni Murniaeni, Sp.OG membuka acara Peringatan Puncak Hari Konservasi Alam Nasional 2020 (HKAN 2020) dan Kemah Konservasi, di Bontang Mangrove Park, Taman Nasional Kutai, Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur. Pembukaan acara ini, ditandai dengan pemukulan rebana. Acara pembukaan peringatan puncak HKAN 2020, dihadiri oleh para tamu undangan seperti dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kepala Badan Restorasi Gambut, Gubernur Kalimantan Timur, Para Pejabat Eselon I dan II lingkup Kementerian LHK dan lingkup Provinsi Kalimantan Timur, Kepala Balai Besar/Balai TN dan KSDA, Pejabat lingkup Kota Bontang, Pimpinan Badan Usaha, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kota Bontang, Mitra Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan; Mitra Taman Nasional Kutai, Pimpinan Organisasi/Lembaga serta Tokoh Masyarakat, Aktivis lingkungan dan konservasi, insan media; dan peserta Kemah Konservasi. Sebagaimana disampaikan dalam sambutannya, Walikota Bontang mengapresiasi dan menyambut baik peringatan HKAN 2020. “Saya harap, acara ini dapat menjadi contoh penyelenggaraan acara yang dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang ketat, sehingga diharapkan tidak ada kasus covid-19 setelah penyelenggaraan acara HKAN ini selesai,” tegas Neni Murniaeni. Ia juga menghimbau kepada masyarakat kota Bontang, untuk berperan aktif dalam menjaga dan melindungi alam dari kerusakan, tidak membuang sampah sembarangan, menanam jenis-jenis tanaman endemik dan jenis langka, melepas satwa liar yang dilindungi ke habitatnya, menghindari dan meminimalisir penggunaan barang-barang yang sulit terurati seperti plastik, tidak melakukan pembakaran lahan tanpa terkendali serta turut berpartisipasi mencegah pembalakan liar dan perdagangan tumbuhan dan satwa liar. Walikota Bontang menerapkan dalam jajarannya bahwa jika ada ASN yang naik pangkat wajib untuk menanam pohon. Aturan ini juga diberlakukan untuk pasangan yang menikah. Sementara itu Ditjen KSDAE dalam sambutannya yang dibacakan oleh Sekretaris Ditjen KSDAE, Tandya Tjahyana, mengajak para pengelola kawasan konservasi untuk untuk membangkitkan kembali kegiatan-kegiatan pemanfaatan potensi kawasan sesuai dengan koridor pemanfaatan yang berlaku. Dijelaskan bahwa pandemi Covid-19 berdampak terhadap kawasan konservasi, dengan ditutupnya kawasan Taman Nasional dan Taman Wisata Alam untuk mengurangi rantai penyebaran virus Covid-19 baik antar pengunjung maupun pengunjung terhadap petugas dan sebaliknya. Direktorat Jenderal KSDAE menutup sementara 72 kawasan konservasi terhitung tanggal 26 Maret 2020, hal ini menyebabkan hilangnya mata pencaharian masyarakat yang sehari-hari bergantung pada aktivitas wisata alam. Sebagai contoh, pemandu wisata, porter, penyedia jasa transportasi, penjual makanan minuman, penjual souvenir tidak dapat bekerja karena kawasan tempatnya mencari nafkah ditutup. Oleh karena itu, pandemic Covid-19 telah menyebabkan ribuan masyarakat sekitar kawasan terdampak dari sisi perekonomian. “Setidaknya berdasarkan catatan kami, tidak kurang dari 4.251 orang masyarakat penyedia jasa wisata alam dan 1.859 orang pekerja pada bidang usaha sarana wisata alam harus kehilangan sumber pendapatannya selama periode pandemi ini berlangsung.” Berbagai studi multiplier effects dari kegiatan pemanfaatan kawasan konservasi menunjukkan bahwa multiplier effects dari kegiatan pemanfaatan jasa lingkungan seperti wisata alam adalah 15 sampai 20 kali lipat lebih besar dari nilai PNBP yang diterima negara. Saat ini beberapa kawasan konservasi telah dibuka kembali secara bertahap. Dengan mempertimbangkan berbagai aspek terutama pemulihan perekonomian masyarakat, serta keselamatan dan kesehatan baik pengunjung maupun pengelola kawasan. “Saya berpesan kepada seluruh pengelola kawasan yang hadir hari ini, untuk merangkul masyarakat, memberikan akses serta prioritas kepada masyarakat sekitar kawasan untuk ikut terlibat dalam pengelolaan kawasan, serta memberikan pendampingan berkelanjutan terhadap masyarakat sekitar kawasan”. Selamat Hari Konservasi Alam Nasional 2020! Sumber: Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK)
Baca Berita

Talkshow Bontang Green City, Smart City dan Creative City

Selasa, 15 September 2020 - Sebagian besar wilayah Kota Bontang terdiri dari kawasan lautan. Dengan kondisi itulah, Bontang menetapkan visinya untuk menjadi kota maritim berkebudayaan industri yang bertumpu pada kualitas SDM dan Lingkungan hidup untuk kesejahteraan masyarakat. Visi ini akan diwujudkan dalam bentuk Bontang Green City, Smart City dan Creative City yang berfokus pada kualitas peningkatan SDM, peningkatan kualitas lingkungna hidup dan pengembangan perekonomian berbasis sektor maritim. Itu lah sedikit yang disampaikan Walikota Bontang, dr. Neli Neni Moerniaeni, Sp. OG dalam talkshownya di acara peringatan puncak Hari Konservasi Alam Nasional 2020 di Bontang Mangrove Park, Taman Nasional Kutai,Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur. Dengan kondisi Kota Bontang yang dikelilingi oleh banyak perusahaan, menjadi peluang dan tantangan tersendiri. Ancaman terhadap degradasi lingkungan yang mungkin disebabkan industri industri tersebut.dimanfaatkan untuk menggandeng mitra umtuk lebih peduli terhadap lingkungan. Untuk peningkatan kualitas LH, Walikota Bontang telah mengeluarkan Instruksi Walikota Bontang yang mewajibkan setiap calon pengantin dan ASN yang diangkat menjadi pegawai negeri, mendapatkan kenaikan pangkat, kenaikan gaji berkala dan kehormatan satuan lencana karya satya PNs untuk menanam pohon. Kebijakan ini telah dilaksanakan mulai tahun 2017 yang lalu. Tidak hanya itu, yang menarik juga dari talkshow ini adalah cerita dari M. Ali, ketua kelompok Tani Mangrove Lestari yang memulai pembuatan pembibitan hutan mangrove di Bontang secara swadaya. Awalnya pak Ali menbuat pembibitan untuk ditanam sendiri. Sampai akhirnya mampu menggerakkan kelompok tani yang sebagian besar anggotanya adalah kaum perempuan sehingga mampu meningkatkan pendapatan anggota kelompoknya melalui pembibitan dan penanaman lahan mangrove. Selamat Hari Konservasi Alam Nasional 2020! Sumber: Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK)
Baca Berita

Diperjualbelikan, 5 Ekor Nuri Maluku Akhirnya Diserahkan Sukarela

Jumat, 11 September 2020 - Petugas Resort Buru melaksanakan kegiatan patroli mandiri terhadap peredaran tumbuhan dan satwa liar di Pasar Mako, Kecamatan Waiapo, Kabupaten Buru. Ditemukan adanya masyarakat yang memperjualbelikan satwa burung Nuri Maluku (Eos bornea) sebanyak 5 ekor. Pemilik burung atas nama Pak Edo berusia 37 Tahun. Petugas melakukan pendekatan dan mensosialisasikan aturan terkait perlindungan satwa dan burung tersebut diserahkan secara sukarela kepada petugas. Burung Nuri Maluku (Eos bornea) diamankan di kantor resort dan direncanakan pada Sabtu tanggal 12 september 2020 burung tersebut akan dilepasliarkan di hutan lindung Unit 15 di Desa Waitele, Kecamatan Waiapo, Kabupaten Buru. Sumber : Balai KSDA Maluku Meity Pattipawaej, S.Hut – Kepala Seksi Konservasi Wilayah III
Baca Berita

Peserta Kemah Konservasi Mendapat Pencerahan Jurnalistik

Senin, 14 September 2020 - Ada yang berbeda pada peringatan puncak HKAN 2020 kali ini. Terkait dengan masa pandemi Covid 19 yang masih terjadi di tanah air, Jambore Kemah Konservasi yang pada tahun-tahun sebelumnya diikuti oleh ratusan perserta dari seluruh penjuru tanah air, maka pada tahun ini peserta dibatasi hanya 50 orang dan berasal dari Kota Bontang. Ke 50 peserta ini berasal dari Kader Konservasi, Saka Wana Bakti, dan beberapa komunitas seperti Komunitas Peduli Sampah, Laska Taman Nasional Kutai, Green Generation serta Bontang Adventure. Pada hari ini, peserta Kemah Konservasi mendapat pencerahan di bidang jurnalistik yaitu Fotografi Alam Liar, Fotografi Human Interest dan Teknik Menulis. Setiap materi disampaikan oleh preofsional di bidangnya yaitu fotograger satwa liar Riza Marlon yang akrab dipanggil Bang Caca, Andi Gondronk, dan Agus Prijono,kontributor National Geographic Indonesia. Mini workshop ini diselenggarakan di aula yang berada di area pelaksanaan peringatan HKAN 2020, dan tentu saja dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Selain membawa tempat makan dan minum serta alat tulis masing-masing, memakai masker selama workshop, jarak duduk antar peserta juga diatur (jarak duduk antar peserta 1 meter). Seperti apa suasana mini workshop hari ini?yuk kita simak. Menurut Bang Caca, memotret alam adalah merekam sejarah alam yang momentnya tidak akan terulang. Apalagi alam Indonesia sangat luas dengan hidupan liarnya yang khas, namun dihadapkan pada situasi yang mengkhawatirkan karena ancaman illegal logging, alih fungsi lahan yang menyebabkan penyempitan habitat satwa dan perdagangan satwa liar itu sendiri. Dalam memotret, Bang Caca berpesan agar kita berlaku bebas dan jujur, menangkap moment dengan cerdas, membuat konsep dan perencanaan sebelum memotret, menguasai alat yang digunakan, memperhatikan komposisi foro, memilih latar belakang foto yang menarik dan sesuai, memperhatikan waktu pemotretan dan sumber sinar karena akan mempengaruhi settingan pada alat yang dipergunakan. Bang Caca juga menekankan bahwa tehnik, informasi, waktu, kesabaran dan kejelian fotografer merupakan faktor penting dalam menghasilkan suatu karya foto yang baik. Hal ini disampaikan saat peserta bertanya bagaimana menghasilkan mengasilkan foto hidupan liar yang baik. Peserta sangat antusias mengikuti materi dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sangat kritis dan dijawab dengan jitu oleh Bang Caca. Seorang peserta yang juga seorang kader konservasi bertanya bagaimana menghasilkan foto hidupan liar yang bagus hingga foto tersebut dapat dimuat di majalah. “ Untuk menghasilkan foto satwa yang baik, modalnya dari dalam diri yaitu kita harus menyukai hidupan liar, menyukai petualangan dan menyukai fotograf. Mengambil foto hidupan liar juga harus sabar, berulang kali mendatangi habitat hidupaN liar itu dan melakukan riset terlebih dahulu terhadap target foto dan lokasi foto. Datang berulang kali ke lokasi penting untuk mendapatkan posisi yang baik dalam mengambil foto,”jelas Bang Caca. “Kapan waktu waktu yang tepat dalam mengambil foto hidupan liar,”tanya seorang peserta. Bang Caca menjelaskan bahwa waktu yang terbaik untuk memotret hidupan liar di Indonesia adalah antara Bulan Mei-September, umumnya tidak berhujan. Jam pengambilan adalah jam 9 s.d jam 15. Tetapi untuk waktu tentu setiap lokasi punya kekhasan sendiri sehingga kembali sebelumnya diperlukan riset untuk optimalisasi kegiatan. Bang Caca mengingatkan bahwa fotografi hidupan liar di taman nasional harus mengikuti peraturan di taman nasional, diantaranya mempunyai ijin masuk dan tidak boleh sendiri, minimal berdua. Pertimbangan utamanya adalah faktor keselamatan. Bang Caca juga menyebutkan bahwa seorang fotografer harus membranding dirinya sendiri, sehingga fotonya memiliki ciri khas sehingga mudah dikenali khalayak. Terakhir Bang Caca mengingatkan kepada para peserta agar menjadi tuan rumah di wilayah sendiri, buatlah foto-foto khas di lokasi sekitar dan dokumentasi dan publikasikan dalam bentuk buku dan atau media lainnya. Menurut Bang Andi, untuk membuat foto human interest yang bagus, dibutuhkan karakter yang kuat/menarik, ekspresi yang hidup dan cerita yang menyentuh. Foto human interest biasanya dibuat dengan candid, maka kita harus jeli dalam melihat moment. Selain itu, kita juga harus menguasai pengaturan kamera. Masih kaitannya dengan menangkap momen, Bang Andi mengingatkan agar kita menggunakan foto berturut-turut untuk menangkap momen yang setiap detiknya berubah dengan cepat. Dalam fotografi human interest, komposisi yang baik adalah yang menonjolkan ekspresi atau bahasa tubuh subjek foto dari lingkungan hidupnya. Bang Andi juga menyinggung penggunaan kamera pada smartphone yang saat ini sudah canggih fasilitasnya dan selalu kita bawa kemana-mana. Namun ia mengingatkan bahwa lensa di kamera smartphone biasanya lensa sudut lebar, itulah sebabnya obyek jadi terlihat lebih kecil dibandingkan sebenarnya. Dan kita seringkali tergoda untuk melakukan pinch to zoom saat memotret dengannya. Maka, sebaiknya hindarilah untuk melakukan pinch to zoom, agar hasil foto bagus. “Rawatlah kamera yang kita miliki. Rajin-rajin membersihkan lensa,” demikian pesan Bang Andi. Pertanyaan menarik berasal dari komunitas sampah, yaitu bagaimana menghindari komentar negatif dari seseorang yang menjadi obyek foto human interest. Bang Andi menjawab bahwa punya banyak foto candid dari orang-orang tetapi belum pernah sekalipun mendapat serangan atau hujatan dari orang yang difoto, karena foto-fotonya tidak melanggar etika umum dan kesusilaan. Yang penting lagi adalah tidak menyentuh privasi si obyek foto. Hal ini juga berlaku bila kita memotret selebriti, etikanya jangan mempublikasikan foto saat mereka ada di properti pribadi. Sementara foto saat mereka ada di tempat umum atau even, tidak akan dituntut oleh selebriti tersebut. Bang Agus menjelaskan tips untuk menulis yaitu : niat dan konsisten, menulist itu ketrampilan sehingga perlu latihan terus-menerus, berproses sepanjang waktu. Kemudian, buatlah ide atau tema agar tulisan fokus pada suatu ide atau isu. Merancang kerangka tulisan juga wajib dilakukan sebelum menulis agar dapat diketahui apa saja yang harus dikumpulkan untuk tulisan yang akan disusun. Kerangka tulisan menjadi panduan dalam menulis artikel. Bang Agus juga mengingatkan bahwa menulis adalah proses, dimuai dari mengumpulkan materi baik dari pustaka, internet atau wawancara dengan narasumber, melakukan riset untuk hal-hal yang relevean, serta diskusi untuk mengembangkan poin-poin utama yang akan menjadi pokok pikiran paragraf. Menulis sebaiknya ringkas, tidak berpanjang-panjang, menggunakan kalimat kerja aktif, diselingi kalimat sederhana dan kalimat kompleks, serta tanda baca yang tepat. “Jangan malas untuk mengedit setelah tulisan selesai,”tegas Bang Agus. Editing atau penyuntingan diperlukan untuk mengoreksi dan memperbaiki jika ada kesalahan dalam menggunakan huruf besa dan kecil, tanda baca, runtutan kalimat, alur cerita, fakta-fakta yang dipergunaan. “Periksa kembali apakah kalimat sudah enak dibaca, tidak bertele-tele dan alur ceritanya enak untuk diikuti,” tutur Bang Agus. Arya dari Laskar TN Kutai menyebutkan bahwa Laskar Kutai saat ini memiliki akun istagram yang berperan dalam kampanye konservasi TN Kutai, meminta saran supaya bisa lebih mumpuni menjalankan peran tersebut. Bang Agus menyebutkan bahwa akun istagram memeiliki gaya tersendiri. Bahwa netizen rata2 hanya 10 detik dalam membaca setiap postingan, sehingga buatlah postinganyang ringkas, caption jangan lebih dari 11 kata. Tulisan semakin ringkas semakin berenergi. Materi tulisan bisa bisa diambil dari sumber lain tetapi jangan copy paste, tetapi direwrite sesuai karakter kita. Berdiskusilah dengan orang lain, bukan hanya dengan ahli tetapibisa dari teman yang bisa memperkaya diksi. Peserta dari Laskar Pelangi lain juga bertanya berapa lama Bang Agus membutuhkan waktu untuk menulis. Bang Agus mencontohkan tilisan mengenai harimau yg menjadi cover story di paparannya. “Pertama kali yang penting adalah ide tulisan. Kemudian mengumpulkan bahan dengan sebelumnya melakukan riset untuk materi tulisan, menemui informan-informan yang relevan, bahkan menjalani prosesi dengan tetua adat. Mengumpulkan bahan bisa dua minggu. Kemudian proses menulis memakan waktu tujuh hari, dengan terus menelaah ulang, memperbanyak diskusi dan jalan kaki,” jelas Bang Agus. Cara Bang Agus untuk mempengaruhi generasi milienial untuk membaca literasi konservasi, secara yang lebih populer dan menjual adalah literasi fiksi (romantika, futuristis, asmara). Buku selain fiksi yang banyak di Indonesia adalah texbook yaitu buku-buku bahan kuliah/sekolah. Mulailah buat litersi konservasi alam yang mudah dicerna yaitu dengan menggunakan gaya story telling, pergunakan diksi yang sesuai usia, tambahkan dengan tokoh-tokoh yang menarik. Maka pesan-pesan konservasi dapat tersampaikan kepada geberasi muda Usai mengikuti penjelasan teori fotografi dan menulis, para peserta melakukan praktek di lokasi. Selamat Hari Konservasi Alam Nasional 2020! Sumber: Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK)
Baca Berita

Pendidikan Konservasi di Cagar Alam Martelu Purba

Siswa/i SDN 091349 Tigarunggu Belajar Konservasi Alam Pematang Siantar, 14 September 2020 - Dalam rangka mensosialisasikan arti penting konservasi alam kepada generasi muda, pada Kamis 10 September 2020 Kepala Resort CA. Martelu Purba Alharis Ruhidi, SP, M.Si dan Penyuluh Kehutanan pada Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar Lisbet Manurung, S.Hut melaksanakan kegiatan Pendidikan Konservasi kepada 20 orang pelajar SDN 0913949 Tigarunggu, Simalungun. Kegiatan Pendidikan Konservasi ini dilakukan dengan cara berkunjung ke sekolah menyampaikan materi yang berhubungan dengan konservasi alam dan lingkungan hidup. Tidak hanya kegiatan dalam ruangan, siswa siswi juga diajak untuk observasi langsung ke Cagar Alam Martelu Purba juga mempelajari secara langsung bagaimana manfaat hutan untuk kelangsungan hidup masyarakat di sekitar desa. Setelah melakukan pengamatan di luar ruangan dilanjutkan dengan Lomba menggambar imajinatif dan mewarnai untuk mengasah kreativitas dan kemampuan peserta didik. Kegiatan Pendidikan Konservasi sangat penting untuk ditanamkan kepada anak didik sejak dini terkait maraknya illegal logging dan pembukaan lahan dengan cara dibakar, yang berdampak kepada lingkungan dan iklim. Terjadinya banjir dan tanah longsor serta musim panca roba yang semakin jelas mempengaruhi keberlangsungan hidup makhluk hidup. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, semakin menyadarkan kita bahwa hutan dan lingkungannya sangat penting untuk dilestarikan sejak dini. Sumber: Balai Besar KSDA Sumatera Utara Lisbeth Manurung, S.Hut, (Penyuluh Kehutanan Pertama)
Baca Berita

Kader Konservasi “Manjago Harangan”

Belajar pengenalan potensi SDA hayati Batangtoru, 14 September 2020 - Ekosistem Batang Toru seluas ± 150.000 Hetar terletak di 3 (tiga) kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara dan Tapanuli Selatan memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi. Lansekap Batang Toru terdiri dari beberapa fungsi hutan mulai dari hutan konservasi, hutan lindung, hutan produksi hingga areal peruntukan lain (APL). Keberadaan kawasan ekosistem Batang Toru berperan penting pada kelangsungan hidup masyarakat di sekitarnya yaitu sebagai sumber air utama serta perlindungan dari banjir dan erosi. Masyarakat di sekitar ekosistem Batang Toru sebenarnya selama ini telah melakukan aktifitas pelestarian hutan yang mereka sebut dengan ‘Manjago Harangan”, namun belum ada pihak yang memberi perhatian khusus dengan menjadikan mereka sebagai Kader Koservasi Alam. Untuk itulah, pada tanggal 9-11 September 2020, bertempat di Desa Marancar Godang Kecamatan Marancar Kabupaten Tapanuli Selatan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan melaksanakan pendidikan/pelatihan serta pembentukan kader konservasi alam (KKA), diikuti 106 orang peserta yang berasal dari 3 (tiga) kecamatan yakni Kecamatan Sipirok, Kecamatan Marancar dan Kecamatan Batang Toru. Dengan mengusung tema “Manjago Harangan” atau Menjaga Hutan, nantinya usai pelatihan dan pembentukan KKA diharapkan masyarakat dapat berperan dalam upaya-upaya konservasi di ekosistem Batang Toru. Adapun pelaksanaan pelatihan ini telah berkoordinasi dengan Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Kabupaten Tapanuli Selatan dimana lokasi acara berada di Zona Hijau, dan dalam pelaksanaan pelatihan tetap menerapkan protokol kesehatan. Untuk itu panitia pelatihan memberikan perlengkapan peserta berupa masker, face shield, hand sanitizer dari bahan alkohol dan serai wangi, mengatur jarak kursi peserta, menyediakan air dan sabun untuk cuci tangan. Bupati Tapanuli Selatan H. Syahrul Martua Pasaribu, SH yang hadir pada pembukaan Pelatihan dan Pembentukan KKA menyampaikan, bahwa “Manjago Harangan” merupakan kearifan lokal di wilayah Tapanuli Selatan yang telah diwariskan dari para leluhur terutama bertujuan untuk menjamin kelangsungan hidup seperti tidak menebang kayu di hutan agar tata kelola air dapat berlangsung dengan baik untuk mengairi lahan persawahan dan perladangan masyarakat. Sementara itu Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For., dalam sambutannya menyampaikan, bahwa pemerintah tidak dapat menjalankan sendiri tugas dan fungsinya dalam upaya konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya. Masyarakat terutama yang berada di sekitar kawasan konservasi ataupun pada wilayah yang kaya potensi keanekaragaman hayatinya perlu diikutsertakan/dilibatkan, sehingga hutan lestari dapat dipertahankan dan memberi manfaat bagi lingkungannya. Pelatihan dan Pembentukan KKA “Manjago Harangan” dilaksanakan dengan metoda pembelajaran teori dan praktik yang disampaikan oleh narasumber dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Universitas Sumatera Utara (USU) dan Wildlife Conservation Society (WCS). Materi yang diberikan berupa Dasar-dasar Konservasi, Dasar-dasar Kepemimpinan, Dasar-dasar Ekologi, Flora dan Fauna, Bina Cinta Alam, Wisata Alam, Konservasi Orangutan, Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar, Mitigasi Konflik Satwa dan Manusia dan lain sebagainya. Penutupan kegiatan Pelatihan dan Pembentukan KKA ‘Manjago Harangan” dilaksanakan oleh Kepala Bidang Teknis KSDA BBKSASU Ir. Irzal Azhar, M.Si didampingi oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah III Gunawan Alza, S,Hut dengan memberikan sertifikat dan kartu anggota KKA bagi peserta pelatihan. Sumber: Balai Besar KSDA Sumatera Utara Dede S. Tanjung, SP. PEH Pertama
Baca Berita

Peringatan Puncak Hari Konservasi Alam Nasional 2020 Akan Diselenggarakan di Bontang Mangrove Park

Minggu, 13 September 2020 - Menjelang hitungan hari, peringatan puncak Hari Konservasi Alam Nasional akan digelar, tepatnya pada tanggal 15 – 16 September 2020. Peringatan yang akan di hadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini, akan diselenggarakan di Bontang Mangrove Park, Taman Nasional Kutai, Bontang, Kalimantan Timur. Berbagai kegiatan telah mewarnai peringatan Hari Konservasi Alam Nasional 2020 seperti: Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 tentang Hari Konservasi Alam Nasional, Hari Konservasi Alam Nasional ditetapkan pada tanggal 10 Agustus. Peringatan ini diselenggarakan setiap tahun untuk mengingatkan masyarakat umum bahwa konservasi alam merupakan bagian integral dari pembangunan yang berkelanjutan yang harus terus dilaksanakan dan dipertahankan dalam setiap kegiatan dalam upaya perlindungan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sebagai sistem penyangga kehidupan. Peringatan HKAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini bertujuan untuk mengkampanyekan pentingnya konservasi alam bagi kesejahteraan masyarakat. Selain itu juga untuk mengedukasi dan mengajak masyarakat agar berperan aktif dalam menyelamatkan alam. Tema peringatan HKAN pada tahun 2020 yaitu "Nagara Rimba Nusa: Merawat Peradaban Menjaga Alam". Tema ini menekankan pada semangat berperadaban maju yang harmoni dengan alam di era milenial dan menjadi catatan sejarah dalam pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) baru Indonesia. Meskipun demikian, semangat konservasi alam tentunya diharapkan dapat tertanam di semua generasi mengingat tidak ada generasi manapun yang tidak bergantung pada alam.Tema "Nagara Rimba Nusa: Merawat Peradaban Menjaga Alam" menggambarkan bahwa semangat konservasi alam di era peradaban maju menjadi tanggung jawab semua pihak termasuk generasi masa kini ketika kemajuan teknologi, pola hidup, berpikir terbuka, terbatasnya waktu, dan tuntutan kualitas hidup semakin meningkat dan menjadi suatu kebanggaan dan kebutuhan untuk melaksanakannya. Pada akhir tahun 2019, ujian terhadap peradaban manusia memasuki babak baru dengan munculnya episentrum wabah virus corona di Wuhan yang dikenal dengan Covid-19. Seiring dengan kemampuan penyebarannya hingga melanda seluruh dunia, World Health Organization(WHO) kemudian menyatakannya sebagai global pandemic pada tanggal 11 Maret 2020. Sejalan dengan penetapan status global ini, seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia, terus berupaya menanggulangi wabah Covid-19. Bahkan, pemerintah Indonesia telah mengkonsentrasikan sumber daya negara untuk menahan laju infeksi Covid-19 dan kematian manusia yang diakibatkannya sampai dengan ditemukannya vaksin. Pada akhirnya, kejadian pandemi ini telah membawa peradaban manusia ke dalam sebuah dimensi baru kehidupan yang mengharuskan cara hidup baru yang dikenal dengan istilah Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), agar dapat beradaptasi dan bertahan dalam situasi pandemi yang belum berakhir. Pandemi Covid-19 ini tidak hanya mengakibatkan krisis di bidang kesehatan saja, namun juga berdampak pada seluruh aspek kehidupan manusia, terutama di bidang ekonomi, termasuk sektor pariwisata alam. Upaya reaktivasi kawasan konservasi pada bulan Juli 2020 yang bersamaan dengan skenario masa transisi dan pemulihan yaitu Juli hingga Desember, jumlah pengunjung ke kawasan konservasi (suaka margasatwa, taman nasional, dan taman wisata alam) diprediksi hanya akan mencapai 50% dibandingkan dengan tahun 2019, kecuali pada bulan Juli yang diasumsikan sama dengan Maret 2019 atau lebih landai (Direktorat PJLHK,2020). Berdasarkan data dan proyeksi Direktorat PJLHK (2020), nilai ekonomi sektor pariwisata alam di suaka margasatwa, taman nasional, dan taman wisata alam yang hilang akibat pandemi Covid-19 selama tahun 2020 adalah Rp1,5 trilyun hingga Rp1,9 trilyun.Oleh karena itu, reaktivasi kawasan konservasi untuk mendukung kegiatan pariwisata alam mengusung konsep “Forest for Healing” yang berakar kuat dari sikap hidup dan budaya living with nature yang tidak mengedepankan jumlah pengunjung (mass tourism), namun justru quality tourism yang mengedepankan inovasi untuk menambah durasi kunjungan dan kemanfaatannya dari aspek kemanusiaan dan kelestarian alam. Seiring dengan optmisme yang sedang dibangun, living with nature merupakan salah satu cara pemulihan yang potensial dilakukan. Kawasan konservasi dengan pariwisata alamnya menjadi salah satu kekuatan bangsa Indonesia untuk dapat pulih pasca Covid-19 dalam tatanan baru (new normal). Matthew Silverstone (dalam buku Blinded bu Science pada 2014) menyebutkan bahwa berwisata dengan mengaktifkan interaksi panca indera dengan elemen alam, terbukti mampu meningkatkan kondisi fisik, mental, dan kesejahteraan spiritual, memberikan energi dan ketenangan. Pemulihan mental dan fisik individu dan masyarakat dapat dilakukan melalui kegiatan forest forhealing di kawasan konservasi. Dengan demikian, pentingnya memulihkan kehidupan dan peradaban manusia yang harmoni dengan alam dalam rangka menyongsong era baru (new normal) pasca pandemi Covid-19 ini akan menjadi semangat dalam peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) tahun 2020. Hal ini tentu sejalan dengan HKAN sebagai momentum keteladanan dan aksi nyata memasyarakatkan konservasi alam sebagai sikap hidup dan budaya bangsa Indonesia. Semangat HKAN ini diawali 30 tahun yang lalu dengan lahirnya UNdang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Dengan mengusung tema "Nagara Rimba Nusa: Merawat peradaban Menjaga Alam", maka penyelenggaraan HKAN tahun 2020 di Taman Nasional Kutai, Provinsi Kalimantan Timur ini diharapkan dapat menjadi titik awal kebangkitan bangsa Indonesia yang harmoni dengan alam pasca pandemi global Covid-19. Hal ini juga untuk mendukung Provinsi Kalimantan Timur sebagai calon Ibu Kota Negara (IKN) Indonesia yang baru pada lahan seluas +256.142 ha (berada di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian Kabupaten Kutai Kartanegara) yang mengusung tema Nagara Rimba Nusa yang diterjemahkan dalam konsep Forest City dalam konteks living with nature dalam rancangan pembangunannya. Sumber: Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK)
Baca Berita

“KPK” Jinato TN Takabonerate Sambut Hangat Tim Direktorat KK

Jakarta, 13 September 2020. Mendengar kata KPK, terdengar ngeri-ngeri sedap, namun ini berbeda. KPK disini adalah Komunitas Pemuda Konservasi di Pulau Jinato yang merupakan sekelompok muda mudi yang berkomitmen menyelamatkan perairan Pulau Jinato dengan ikut terlibat kegiatan konservasi di Pulau Jinato. Pulau Jinato sendiri merupakan bagian dari wilayah kerja Balai Taman Nasional Takabonerate yang berada di Kabupaten Selayar dan masuk ke dalam Kecamatan Takabonerate. Komunitas yang dibentuk tahun 2016 ini berawal dari kekhawatiran akan masa depan Pulau Jinato terhadap kegiatan destruktif fishing baik dari orang-orang di dalam pulau maupun di luar pulau. “Adanya budaya yang hilang akan kepedulian terhadap lingkungan Jinato, sehingga muncul inisiasi untuk melahirkan lembaga atau komunitas konservasi” ucap Rizwan selaku Pembina KPK ketika Tim Direktorat Kawasan Konservasi mengunjungi Pulau Jinato Pada hari Rabu 9 September 2020. Tim Direktorat Kawasan Konservasi melakukan kunjungan lapangan terkait kegiatan pemulihan ekosistem (PE) melalui transplantasi karang di Taman Nasional (TN) Takabonerate. Kepala Balai Taman Nasional Bapak Faat Rudhianto menjelaskan bahwa salah satu pemulihan ekosistem yang keberhasilannya cukup signifikan ada di Pulau Jinato. Tidak sampai disitu, Bapak Faat juga menjelaskan keberhasilan ini tidak terlepas dari peran masyarakat di Pulau Jinato khususnya KPK yang terlibat langsung mulai dari awal perencanaan sampai pada tahap monitoring. Pada sesi diskusi Akbar selaku ketua KPK menjelaskan apa motivasi dari KPK mau bekerjasama dalam menjaga, melindungi dan melestarikan TN Takabonerate. “Kami lahir, besar dan mencari nafkah disini dan sudah sepantasnya kami mencintai Pulau ini”, ucap Akbar dengan lantang. KPK Jinato beharap misi mereka bisa menjadi motivasi di tempat lain dan menjadi virus kebaikan di desa-desa lainnya di sekitar TN Takabonerate. Dalam kurun waktu 3 tahun ini, sudah banyak aksi KPK dalam melestarikan dan menjaga ekosistem Pulau Jinato. Aksi tersebut diantaranya keterlibatan dalam pengelolaan pariwisata di TN Takabonerate, pembinaan habitat melalui penanaman cemara laut, patroli perlindungan kawasan dan yang sangat intens dilakukan adalah pemulihan ekosistem melalui transplantasi karang. Seperti yang dijelaskan oleh Kepala balai TN Takabonerate pengerjaan transplantasi karang melibatkan masyarakat dari awal sampai akhir. Dalam hal ini KPK terlibat dari proses perencanaan, pembuatan dan pemasangan rangka sampai pada monitoring rutin pemeliharaan transplantasi karang. Pada sesi diskusi KPK juga menyampaikan program kerja serta harapan KPK kedepannya untuk mewujudkan pengelolaan sumberdaya alam maupun sumber daya manusia di kawasan TN Takabonerate. Salah satunya adalah pembuatan taman baca di Pusat Informasi KPK untuk masyarakat Pulau Jinato yang saat ini sudah ada, namun masih perlu donator yang mau menyumbangkan buku-buku. Beberapa hal yang masih jadi PR KPK adalah kelembagaan KPK ini masih perlu dimantapkan serta harapan dapat membangun sinergisitas antara program KPK, program Desa dan program Balai TN Takabonerate. Dalam arahannya, Susilo Ari Wibowo selaku ketua tim dari Direktorat KK menyampaikan bahwa kerja keras yang dilakukan KPK sudah menunjukkan hasil dimana tutupan karang sudah sangat signifikan terlihat dari hasil pengamatan secara langsung ditambah statement kepala Balai TN Takabonertae bahwa kondisi Pulau Jinano “Zero Destruktif Fishing”. Selanjutnya Susilo menyampaikan dukungan kepada KPK agar terus semangat karena kelestarian TN Takabonerate dan Pulau Jinato khususnya terletak di genarasi muda saat ini. Sumber : Resi Diniyanti - PEH Muda Direktorat Kawasan Konservasi
Baca Berita

BBKSDA Jawa Timur Ringkus Penjual Satwa Online dii Kota Malang

Minggu, 13 September 2020 - Akhirnya Tim Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama Gakkum Jabalnusra, Kepolisian Sektor Lowokwaru, dan Profauna Indonesia meringkus PHR, 11 September 2020 malam di Perumahan Griyasanta Kota Malang. PHR sendiri merupakkan penjual satwa liar dilindungi secara online yang telah dipantau tim Seksi Konservasi Wilayah VI beberapa hari belakangan. Menurut Mamat Ruhimat, SH., Kepala SKW VI, semua berawal dari laporan masyarakat terkait akitivitas PHR berjualan satwa liar dilindungi secara daring. Selanjutnya tim BKSDA memantau aktivitasnya melalui akun media sosial pelaku, MA. “Beberapa hari ini tim kami telah memantau dan memastikan lokasi rumahnya,” ujar Mamat. Sementara itu , Rosek Nursahid dari Profauna Indonesia sangat mengapresiasi yang dilakukan pihak BBKSDA Jatim, bersama Gakkum dan Polsek Lowokwaru yang sigap dalam mengamankan tersangka dan barang bukti. ” Ini merupakan kolaborasi yang baik dalam menangani perdagangan satwa liar,” tambah Rosek. Adapun barang bukti yang diamankan berupa seekor Binturong, Kasuari, Kakatua Koki, Kakatua Kecil Jambul Kuning, dan 2 ekor Cendrawasih. Selanjutnya seluruh satwa diamankan ke Kandang Transit milik BBKSDA Jatim di Juanda – Sidoarjo. Sumber: Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Penanaman Gaharu Irian oleh Masyarakat Kampung Bine

Asmat, 10 September 2020 - Dalam rangkaian Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2020 yang puncak perayaannya diadakan di Bontang-Kalimantan Timur, Balai Besar KSDA Papua bersama dengan Asosiasi Gaharu Indonesia (ASGARIN) melakukan penanaman Gaharu Irian (Gyrinops sp) bersama masyarakat Kampung Bine, Distrik Atsj, Asmat. Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Bupati Asmat yang diwakili oleh Sekda Kabupaten Asmat, Ketua DPRD Asmat yang diwakili oleh Ketua Komisi B, Balai Besar KSDA Papua, Ketua ASGARIN yang diwakili oleh CV. Siraga-raga, beberapa perwakilan Dinas terkait, Komandan Pos TNI AL Asmat, Kepala Distrik Atsj yang diwakili oleh Sekertaris Distrik, Babinsa, Babinkamtibmas, serta pemerintah Kampung Bine bersama masyarakat. Gaharu irian (Gyrinops sp), merupakan salah satu tumbuhan alam yang tumbuh baik di dataran rendah Kabupaten Asmat dan telah memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat Asmat sejak akhir tahun 1990. Status konservasi tumbuhan ini adalah appendix II CITES, dimana saat ini populasi di alamnya sudah mulai berkurang. Dalam rangka mempertahankan kelestarian populasinya di alam dan bersamaan dengan itu, untuk memastikan kesinambungan manfaat ekonomi bagi masyarakat maka diperlukan upaya ? upaya pengkayaan dengan melakukan penanaman kembali yang melibatkan masyarakat dan mitra pemegang ijin pemanfaatan gaharu irian. Penanaman dilakukan oleh delapan kelompok masyarakat di Kampung Bine dengan jumlah bibit yang telah ditanam sebanyak 8.890 bibit dari total 50.000 bibit yang disiapkan. Selain di Kampung Bine, ada beberapa kampung yang akan melakukan penanaman diantaranya Kampung Sogoni, Kampung Yevuwage, Kampung Fos, Kampung Wowi, Kampung Amagon, dan Mapi dengan total bibit seluruhnya sebanyak 174.000 bibit, ?ujar Azrul selaku perwakilan ASGARIN pada sambutannya. Selain itu, beliau juga berharap agar melalui penanaman gaharu di kampung Bine ini, akan menjadi investasi bagi masa depan anak-anak setempat guna mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Pada kesempatan yang sama, Bartholomeus Bokoropces, S.Sos.,M.Ec.Dev sebagai Sekda yang merupakan Putra asli Asmat menyatakan bahwa baru mengetahui niat baik ini. "Saya belum pernah dengar berita ini dan saya baru tau hari ini, bahwa sesungguhnya ada niat baik yang sudah dilakukan dan saya salut”. Mengakhiri sambutannya, Bokoropces menyampaikan terima kasih kepada Balai Besar KSDA Papua yang telah bekerja sama dengan ASGARIN dan CV. Siraga-raga yang melakukan kegiatan penanaman ini. Sinergi terus dibangun sampai masyarakat dapat menikmati hasil atas kerja dan usaha yang telah dilakuakan. Sejalan dengan hal tersebut, Edward Sembiring, S.Hut.,M.Si selaku Kepala Balai Besar KSDA Papua menyatakan bahwa "kami adalah mitra dari ASGARIN dan CV. Siraga-raga, dimana telah melakukan proses-proses ekonomi ditingkat tapak dengan melakukan pengambilan gaharu dari alam untuk bisa memberikan kehidupan". Selanjutnya, Edward menambahankan, "kita sadar bahwa ini akan habis pada waktunya, sehingga pemerintah melakukan himbauan kepada masyarakat untuk melakukan penanaman melalui dukungan dari ASGARIN. Harapan nya, pada 10 tahun akan datang sudah bisa memberikan hasil dan manfaat atas niat baik ini, Tuhan akan memberkati segala usaha Ibu dan Bapak sekalian. Sekaligus memberikan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Asmat, DPRD, dan stakeholders terkait, lebih khusus kepada Asosiasi Gaharu Indonesia (ASGARIN) melalui CV. Siraga raga serta masyarakat yang telah mendukung dan berperan aktf dalam kegiatan penanaman gaharu. Semoga gaharu yang ditanam bertumbuh dengan baik dan memberikan kehidupan bagi masyerakat. Dengan demikian, tema HKAN tahun 2020 yaitu Negara Rimba Nusa yang artinya Merawat Peradaban Menjaga Alam bisa terwujud." Sumber: Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

KLHK Menyerahkan 2 Unit Sepeda Motor Plus ke Universita Lancang Kuning

Pekanbaru, 11 September 2020 - Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau, bapak Suharyono, mendampingi Tenaga Ahli Menteri LHK, ibu Dr.Afni Zulkifli yang mewakili Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam menyerahkan dua unit sepeda motor plus kepada Universitas Lancang Kuning (Unilak). Penyerahan tersebut diterima langsung oleh Rektor Unilak, bapak Dr.Junaidi didampingi Wakil Rektor I, bapak Zamzami, S.Kom., M.Kom wakil rektor II, bapak Hardi SE.MM, serta jajaran tim LPPM dan dosen Kepala Biro Unilak di lobi gedung rektorat. Selain untuk mendukung program kebersihan kampus, dua unit sepeda motor plus yang beroda tiga ini diharapkan dapat bermanfaat untuk mendukung program disinfeksi menekan penyebaran virus Covid-19 Corona di lingkungan dan masyarakat sekitar kampus. Saat penyerahan motor bapak Suharyono sempat mencoba motor tersebut. Perlu kawan kawan ketahui, bahwa penyerahan bantuan ini merupakan lanjutan setelah sebelumnya Universitas Lancang Kuning mendapat mandat pengelolaan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) hutan pendidikan seluas 103 ha, serta keterlibatan civitas akademik Unilak dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan KLHK, baik lingkup Nasional maupun Internasional. Keterlibatan akademisi dalam isu lingkungan seperti pengelolaan sampah, telah menjadi salah satu perhatian KLHK. Terlebih lagi isu sampah sudah menjadi permasalahan Indonesia bahkan global. Untuk itu diperlukan sinergi dan kolaborasi semua pihak. Sumber: Balai Besar KSDAE Riau
Baca Berita

Balai KSDA Jambi Pelepasliaran Satwa Bersama Direktorat KKH dan BBTN Kerinci Seblat

Kerinci, 12 September 2020. Balai KSDA Jambi bersama dengan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH), Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS), KPH Kerinci serta Fauna And Flora International (FFI) melakukan pelepasliaran terhadap satwa liar di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. Pelepasliaran dipimpin Kepala Sub Bagian Tata Usaha BKSDA Jambi (Teguh Sriyanto) mewakili Kepala BKSDA Jambi dan disaksikan oleh Sri Mulyani (Kepala SubDit Pengawetan) yang mewakili Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Ditjen KSDAE, perwakilan BBTNKS, KPH Kerinci dan FFI. Sebanyak 8 (delapan) ekor, terdiri dari 2 (dua) ekor satwa beruang madu (Helarctos Malayanus), 2 (dua) ekor owa ungko (Hylobates agilis), 3 (tiga) ekor kukang (Nycticebus coucang), serta 1 (satu) ekor kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis) dilepas kembali ke habitatnya. Satwa-satwa tersebut merupakan penyerahan warga Jambi (Kukang, owa ungko, kucing kuwuk) serta hasil penertiban oleh Balai KSDA DKI Jakarta (Beruang madu) yang dititipkan ke Tempat Penyelamatan Satwa (TPS) BKSDA Jambi. "Terima kasih kepada semua pihak yang turut terlibat dalam upaya penyelamatan satwa liar di Provinsi Jambi khususnya terhadap 8 satwa liar yang akan dilepasliarkan, baik dari proses awal penanganan konflik dan penertiban perdagangan satwa liar secara illegal maupun proses rehabilitasi dan pelepasliaran kembali ke habitatnya. Sinergi para pihak sangat diperlukan untuk penyelamatan keanekaragaman hayati di Provinsi Jambi" ujar Teguh Sriyanto. Sri Muyani juga mengatakan bahwa “Kegiatan pelepasliaran ini merupakan bagian dari upaya penyelamatan satwa liar yang dimulai dari rescue akibat konflik dengan manusia maupun penertiban perdagangan maupun pemeliharaan satwa liar oleh masyarakat secara illegal yang dilanjutkan dengan rehabilitasi satwa-satwa tersebut”. Lebih lanjut wanita biasa disapa Bu Yani menjelaskan bahwa kegiatan pelepasliaran merupakan upaya menyambungkan kegiatan konservasi eksitu dengan konservasi insitu”. Diharapkan satwa-satwa tersebut dapat bertahan hidup dan berkembangbiak dengan baik di habitat alaminya di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat ini, tutupnya. Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan hutan tropis yang memiliki keanekaagaman hayati yang tinggi dan ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO, merupakan rumah tinggal berbagai satwa liar yang ada didalamnya sehingga kawasan ini dipandang cocok untuk tempat hidup satwa-satwa yang dilepasliarkan tersebut. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

ASN Balai TANAGUPA Raih Ashton Award for Student Research 2020

Jakarta, 10 September 2020 - Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) mendapatkan sebuah prestasi di tengah Pandemi Covid-19. Salah satu Aparatur Sipil Negara (ASN) yaitu Endro Setiawan berhasil meraih Ashton Award for Student Research 2020 dari Arnold Arboretum Harvard University. Ashton Award for Student Research merupakan penghargaan untuk penelitian mahasiswa pascasarjana dan sarjana lanjutan dalam mendukung penelitian di bidang biologi hutan tropis di Asia maupun maupun negara lain. Dalam satu tahun hanya ada 2 orang yang berhak mendapatkan penghargaan ini. Endro Setiawan adalah orang Indonesia kedua dan Staff TN pertama yang berhasil mendapatkan Ashton Award setelah mengalahkan ribuan pesaing dari berbagai negara. Endro Setiawan meraih penghargaan tersebut setelah proposal penelitiannya yang berjudul “The Distribution and Abundance of Native and Invasive Orangutan Food Resources Across a Disturbance Gradient” lolos seleksi dan berhak mendapat dana penelitian senilai $4.000 USD. Endro Setiawan merupakan Pejabat Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) di Balai TANAGUPA yang bekerja sejak tahun 2000 dan saat ini sedang menempuh pendidikan Magister Biologi di Universitas Nasional (UNAS). Atas keberhasilannya ini, Endro Setiawan diundang oleh Bapak Direktur Jenderal KSDA untuk mempresentasikan proposal penelitiannya di Jakarta. Endro Setiawan mempresentasikan proposal penelitiannya di depan Bapak Dirjen KSDAE didampingi oleh Kepala Balai TANAGUPA dan Ketua Prodi Magister Biologi UNAS pada hari Kamis, 10 September 2020. Di dalam presentasinya, Endro Setiawan menyampaikan bahwa TANAGUPA memiliki Stasiun Riset Cabang Panti yang merupakan ladang tempat belajar karena banyak sekali peneliti terutama dari Harvard University, Michigan University dan Boston University. “Penelitian ini tentang tumbuhan Bellucia pentamera serta interaksinya dengan Orangutan dan vertebrata lain. Masih sangat sedikit sekali penelitian yang membahas tentang hal ini. Saya dulu belajar tumbuhan berawal dari kegelisahan saya yang merasa sebagai orang yang bekerja di TANAGUPA sudah seharusnya saya yang lebih tau apa saja yang ada di dalam kawasan. Saya belajar dengan Dr. Campbell O. Webb yang merupakan peneliti dari Harvard. Lapangan adalah tempat saya belajar” jelasnya. Terkait dengan pencapaian salah satu mahasiswanya, UNAS menyampaikan ucapan selamat kepada Endro Setiawan. “Saya pertama kali ke Cabang Panti melihat Mas Endro Setiawan ini aktif sekali dan banyak tahu tentang apa yang ada di kawasannya. Saya beberapa kali ke TN lain sangat berbeda dengan Mas Endro Setiawan dari sisi pengetahuan tentang tumbuhan, hewan dan lain sebagainya. Cita-cita saya dari dulu sangat ingin sekali ada orang Indonesia yang bekerja di TN bisa sekolah di UNAS. UNAS berkolaborasi dengan banyak universitas. Mas Endro Setiawan ini adalah staff TN pertama yang berhasil mendapatkan Ashton Award, jadi saya mengucapkan selamat atas pencapaian ini” ujar Bapak Dr. Tatang Mitra Setia, M.Si selaku Ketua Prodi Magister Biologi. Kepala Balai TANAGUPA Bapak M. Ari Wibawanto, S.Hut., M.Sc berharap semoga apa yang udah dilakukan oleh Endro Setiawan dapat menjadi inspirasi bagi PEH di TN khususnya TANAGUPA. “Saya berharap dedikasi yang dilakukan Mas Endro Setiawan ini dapat ditiru oleh PEH lain yang ada di TN seluruh Indonesia, terutama di TANAGUPA. Semoga dengan semakin meningkatnya kualitas SDM juga meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan TN yang ada di seluruh Indonesia” ujarnya. Bapak Ir. Wiratno, M.Sc selaku Dirjen KSDAE menyampaikan bahwa saat ini kecerdasan dan intelektualitas staff TN sudah berkembang. Ini merupakan aplikasi dari membangun organisasi pembelajar yang merupakan salah satu dari 10 cara baru mengelola kawasan konservasi. Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah mendukung Endro Setiawan. “Apa yang dilakukan Endro Setiawan ini menunjukkan spirit konservasi. Saya berharap penelitian ini nanti bisa dilanjutkan sampai S3 dan ini merupakan bukti bahwa SDM konservasi kita luar biasa. Endro Setiawan adalah salah satu contoh generasi muda konservasi yang mengajarkan kita bahwa lapangan adalah tempat eksplorasi yang tanpa batas. Gunung Palung adalah salah satu contoh karena memiliki Stasiun Riset Cabang Panti yang sangat terkenal dan ini akan memberikan manfaat untuk ilmu pengetahuan ke depan. Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah mendukung upaya-upaya konservasi melalui penguatan riset dan pengembangan kapasitas SDM konservasi” tutup Pak Wiratno. Sumber: Balai TN Gunung Palung

Menampilkan 3.073–3.088 dari 11.141 publikasi