Sabtu, 16 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

BTN Meru Betiri Hadir di Masyarakat Lewat Budidaya Jamur

Jember, 29 September 2020. Desa Mulyorejo, Kecamatan Kalibaru Banyuwangi merupakan salah satu desa penyangga kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti), kelompok SPKP Multi Kreasi sejahtera merupaka Kelompok binaan yang ada di desa tersebut. Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Kalibaru didampingi Kepala Resort Malangsari pada tanggal 28 September 2020 melakukan pendampingan Kelompok Budidaya Jamur SPKP Multi Kreasi Sejahtera. Pendampingan ini bertujuan untuk memastikan keberhasilan budidaya jamur yang dilakukan oleh Kelompok tersebut. Untuk pertama kalinya, kelompok budidaya jamur SPKP Multi Kreasi Sejahtera mencoba alat pembuatan bibit jamur F1 berupa autoclave. Percobaaan pembuatan bibit jamur menggunakan bahan jagung sebayak 5 kg yang terbagi dalam 16 kemasan. Bibit jamur F0 diperoleh dari daerah Genteng-Banyuwangi. Sedangkan alat pembibitan jamur berupa laminer dan autoclave merupakan bantuan dari program doktor mengabdi- LPPM Universitas Brawijaya. Selain itu, anggota kelompok juga melakukan pembuatan baglog dari bahan sebuk gergaji dan bekatul sebanyak 200 baglog. Setelah baglog dibuat selanjutnya disterilkan dengan cara direbus menggunakan drum, dalam waktu 7 jam. Walaupun pada musim kemarau ini pertumbuhan jamur belum optimal, kelompok budidaya jamur ini produksi jamur tetap berlanjut. Sulistrianto Kepala SPTN III Kalibaru berharap dengan adanya bantuan alat pembibitan jamur, SPKP MKS bisa lebih bersemangat mengembangkan usaha budidaya jamur. Alat dipergunakan dengan maksimal dan dipelihara, sehingga mampu memberikan kontribusi dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Stop! Beri makan Dare di Karaenta

Maros, 29 September 2020. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung bekerjasama dengan Fauna & Flora International giat kampanye penyelamatan satwa di Karaenta, Desa Labuaja, Cenrana, Maros hari ini Selasa (29/9). Kampanye akan berlangsung selama 3 hari ke depan hingga Kamis, 1 Oktober 2020 guna mengajak masyarakat, terutama bagi pengendara yang melintas di jalan poros Karaenta untuk tidak memberi makan kepada monyet. Beberapa stakeholder terkait ikut terlibat di antaranya pihak kepolisian sektor, Koramil Bantimurung, pemerintah desa, akademisi, Forum Pemandu Wisata Androcles, Forum Kader Konservasi Taman Nasional, hingga masyarakat sekitar Karaenta. Makanan manusia nyatanya memberikan dampak buruk bagi kesehatan monyet. “Dare mulai turun ke jalan karena kebiasaan masyarakat kita memberi makan. Tanpa kita sadari hal itu justru membahayakan nyawa dare itu sendiri,” ujar Yusak Mangetan, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Melalui Fardi, Koordinator Program Fauna dan Flora Internasional di Maros juga menegaskan pentingnya menyudahi kebiasan memberi makan satwa ini. “Kami berharap agar masyarakat mengerti bahwa kebiasaan pengendara memberi makan dan berinteraksi dengan Macaca yg ada di Karaenta akan berdampak pada perubahan perilaku Macaca. Oleh karena itu, kami berharap semua pihak berkontribusi secara aktif meluaskan informasi terkait ancaman yang dapat ditimbulkan dari kebiasaan pengguna jalan memberi makan atau berinteraksi dengan Macaca," pungkas Fardi. Apa dampak memberi makan monyet di Karaenta? Perilakunya akan berubah. Malas mencari makan, lebih sering nongkrong di tepi bahkan di tengah jalan. Menjadikannya rawan tertabrak kendaraan yang melintas. Perilaku lain yang tak kalah bahayanya: monyet menjadi agresif. Mulai mendekati pengendara. Jika hal ini terus berlangsung, monyet-monyet akan menyerang pengendara yang melintas. Menagih makanan yang sering mereka terima. Tak memandang bulu siapa saja yang melintas. Semoga melalui kampanye ini dapat mendukung upaya penyadartahuan dan sosialisasi kepada masyarakat akan dampak dan bahayanya memberi makan makanan manusia kepada monyet. Mari bersama jaga hutan dan monyet. Yakinlah! Dengan menjaga dan tidak merusak hutan, Monyet tidak kekurangan makanan di hutan. Sumber: Erista Murpratiwi - Penyuluh Kehutanan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Jatuh ke Rumah Warga, Elang Laut Dada Putih Diserahkan ke BBKSDA Sumut

Medan, 29 September 2020. Bermula dari adanya laporan masyarakat bernama Saiful Aminan seorang karyawan swasta, yang ingin menyerahkan satwa liar yang dilindungi berjenis Elang ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara (BBKSDA Sumut). Informasi ini didapat dari dari karyawan Air Asia. Mendapat informasi, Tim Gabungan BBKSDA Sumut melalui Seksi Konservasi Wilayah II Stabat dan Yayasan Scorpion Indonesia pada Senin, tanggal 21 September 2020 menuju lokasi yang diinfokan yaitu di Jalan Karya Kasih Komplek Griya Family Kecamatan Medan Johor, Kota Medan. Setelah dicek oleh petugas satwa yang akan diserahkan adalah jenis Elang Laut Dada Putih (Haliaeetus leucogaster) sebanyak 1 (satu) ekor Sampai di lokasi, informasi yang diterima elang tersebut jatuh dari atap rumah dan tidak bisa terbang lagi, kemudian ditangkap dengan menggunakan bambu. Tim langsung melakukan pemeriksaan awal. Hasil pemeriksaan ditemukan ada luka-luka pada bagian sayap kanan dan kiri serta kepala bagian atas. Kemudian tim membawa satwa tersebut ke PPS Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit untuk proses perawatan dan rehabilitasi lebih lanjut oleh dokter hewan Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Nantinya elang ini akan dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya, apabila luka-luka pada burung ini sudah sembuh dan layak dilepasliarkan berdasarkan rekomendasi dokter hewan. Sumber : Seksi Konservasi Wilayah II Stabat Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Pelatihan identifikasi Harimau Sumatera di Taman Nasional Batang Gadis

Senin, 28 September 2020 - Telah dilaksanakannya kegiatan pelatihan identifikasi Harimau Sumatera yang dilaksanakan di Kantor Balai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) pada tanggal 25 September 2020 serta langsung dibuka oleh Bapak Kepala Balai melalui zoom meeting dan dengan pemateri oleh Bg Harray Sam Munthe yang akrab disapa Bg Harray yang sudah menyibukkan dirinya selama 8 tahun belakangan ini di dalam kawasan hutan untuk mencari dan mempelajari tentang kehidupan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). Selanjutnya tanggal 26 September 2020 kita bertolak ke Desa Paga Gunung dengan peserta Peh, Polhut, serta Penyuluh Balai TN. Batang Gadis untuk mempelajari langsung atau mengenal tentang perilaku satwa kunci tersebut. Dalam kegiatan ini kita mempelajari serta mancari tanda-tanda jejak yang ditinggalkan oleh harimau sumatera sebagai bukti keberadaan serta prilaku sehari-hari di dalam habitat aslinya. Dalam prakteknya tersebut peserta menanyakan jejak seperti apa yang biasanya yang ditinggalkan serta tanda apa yang lebih jelas untuk diidentifikasi langsung oleh petugas yang menemukan. Dalam praktek langsung, pemateri menunjukkan tanda jejak kepada peserta sebagai tanda keberadaan satwa kunci tersebut yaitu akar yang dipatahkan biasanya sebesar batang rokok oleh cakaran dimana tanda tersebut sudah cukup lama dengan tanda yang diberikan. Semoga dalam kegiatan ini menambah wawasan kita sebagai petugas konservasi dalam identifikasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) untuk dijaga dan dilindungi sebagai satwa kunci yang sudah terancam dari kepunahan serta sebagai satwa penyeimbang ekosistem hutan. Sumber: Balai TN Batang Gadis
Baca Berita

TNBG Gelar Kegiatan Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Melalui Metode METT

Senin, 28 September 2020 - Balai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) melaksanakan kegiatan penilaian efektivitas Pengelolaan Kawasan Taman Nasional Batang Gadis di Hotel DSan Panyabungan pada hari Senin, 21 September 2020. Acara ini dibuka oleh Kepala Balai TN.Batang Gadis Bapak Ir. Sahdin Zunaidi, M.Si secara daring melalui aplikasi zoom. Hadir sebanyak 32 peserta undangan yang terdiri dari kepala Dinas Lingkungan Hidup Kab Madina, perwakilan Bappeda Kab Madina, para Camat, Kepala Desa/Lurah sekitar kawasan TNBG, LSM lokal yang aktif dalam konservasi, para struktural, kepala resort dan staf Balai TNBG. Penilaian efektifitas pengelolaan ini difasilitasi oleh fasilitator Ubdit Perencanaan Pengelolaan KK, Direktorat Kawasan Konservasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggunakan metode METT (Management Effectiveness Tracking Tool) yang merupakan perangkat pengkajian tingkat efektifitas pengelolaan sesuai dengan visi, misi dan tujuan pengelolaan yang telah ditentukan sebelumnya, sesuai dengan peraturan Dirjen KSDAE No.15/KSDAE-SET/2015 tentang Pedoman Penilaian Efektifitas Pengelolaan Kawasan Konservasi di Indonesia. Penilaian ini merupakan pembaharuan penilaian pada tahun 2018, dimana hasil akhir diperoleh kenaikan nilai sebesar 5 poin untuk tahun 2020.Melalui penilaian ini Balai TNBG mendapat masukan untuk meningkatkan efektifitas pengelolaan sesuai visi misi yang disusun dalam rencana pengelolaan..Serta tak lupa kegiatan ini tetap memperhatikan dan melaksanakan protokol covid-19. Sumber: Balai TN Batang Gadis
Baca Berita

Penanganan Konflik Gajah Sumatera di Desa Kota Garo

Pekanbaru, 24 September 2020 - Balai Besar KSDA Riau menurunkan petugas dari PLG Minas untuk melakukan penanganan konflik Satwa Liar Gajah di Desa Kota Garo, Kec. Tapung Hilir, Kab. Kampar setelah mendapatkan laporan dari Babinsa Desa Kota Garo. Tim penanganan konflik berangkat ke lokasi dan melakukan pengecekan gangguan, dengan didampingi beberapa warga pemilik kebun karena tidak berjumpa dengan perangkat desa. Di lokasi tersebut, banyak dijumpai bekas tanaman kelapa sawit warga yang dimakan Gajah liar, namun saat itu Tim tidak menemukan satupun Gajah liar yang berada disana. Tim hanya menjumpai jejak gajah liar yang diperkirakan sudah 2 hari yang lalu. Saat ini tim bersama beberapa warga masih melakukan penjagaan dengan membuat api unggun di sekitar lokasi gangguan. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Diresmikan Secara Virtual, Inilah Jalan Tol Dengan Underpass Perlintasan Gajah

Pekanbaru, 28 September 2020. Tol Pekanbaru – Dumai (Permai) telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo secara virtual dari Istana Bogor pada Jum'at, 25 September 2020. Tol Permai yang menghubungkan Kota Pekanbaru ke Kota Dumai dengan panjang 131,5 kilometer adalah bagian dari Jalan Tol Trans Sumatra yang menghubungkan Bakauheni, Lampung hingga ke Banda Aceh sepanjang 2.987 kilometer. Pada Tol Permai terdapat 5 (lima) terowongan perlintasan Gajah pertama di Indonesia yang bertujuan untuk menjaga lingkungan dan ekosistem serta tidak menggangu habitat asli Gajah liar di sekitarnya. Terima kasih Bapak Presiden Joko Widodo, atas peresmian tol Pekanbaru-Dumai yang dilengkapi dengan underpass khusus satwa. Ini bentuk kebijakan pemerintah yang sangat kuat membangun infrastruktur, berdampingan dengan komitmen nyata konservasi. Dengan adanya underpass ini, satwa liar tetap bebas berkeliaran dan melintas di habitatnya, tanpa mengganggu pengguna jalan tol pertama di Provinsi Riau ini, yang merupakan rangkaian dari jalur tol Trans Sumatera. Pembangunan infrastruktur dilakukan untuk kesejahteraan masyarakat dan kelestarian satwa tetap wajib dijaga. Inilah program nyata kerja hebat dan komitmen yang kuat dari Presiden Jokowi dan para pihak di bidang konservasi. Semoga dengan adanya tol Permai ini dapat memperlancar aktifitas perekonomian masyarakat, disamping efesiensi terhadap waktu tempuh yg kini hanya 1,5 jam dari Kota Pekanbaru menuju Kota Dumai serta tetap menjaga terhadap kelestarian alam dan ekosistem di Provinsi Riau. #karenakonservasitakmungkinsendiri Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Evakuasi Satwa Ungko di Desa Pintu Gobang Kari

Pekanbaru, 22 September 2020 - Tim Resort Bukit Rimbang mendapat laporan dari bapak Sarkawi yang merupakan anggota Polres Kuantan Singingi bahwa salah seorang masyarakat Desa Pintu Gobang Kari, Kecamatan Kuantah Tengah, Kabupaten Kuantah Singingi yang bernama Bapak Yogi telah memelihara satwa liar jenis Ungko sebanyak 2 ekor (1 jantan dan 1 betina) selama 7 tahun. Berdasarkan informasinya, satwa tersebut diperoleh dari hutan yang berada tidak jauh dari kebunnya. Berdasarkan keterangan, pemilik satwa tidak mengetahui bahwa hewan peliharaannya termasuk salah satu satwa dilindungi dan tidak diperkenankan dipelihara secara pribadi. Setelah mengetahui status satwa dan aturan hukumnya, maka bapak Yogi berinisiatif menyerahkan satwa tersebut ke Balai Besar KSDA Riau secara sukarela untuk dilakukan upaya penanganan lebih lanjut demi kelestariannya sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Rabu, 23 September 2020, Tim segera melakukan evakuasi satwa Ungko (Hylobates agilis) di Desa Pintu Gobang Kari, Kec.Kuantan Tengah, Kab.Kuantan Singingi, Prov.Riau ke Klinik Satwa Balai Besar KSDA Riau di Pekanbaru. Tim melakukan sosialisasi serta himbauan kepada pemilik satwa dan masyarakat setempat terkait satwa liar yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan Dan Satwa Yang Dilindungi. Tim juga menyampaikan agar masyarakat tidak memasang jerat serta berburu satwa liar. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Kolaborasi Petugas Resort Duri Dalam Menjaga SM Balai Raja, Kabupaten Bengkalis

Pekanbaru, 28 September 2020 – Jum'at, 25 September 2020, Petugas Resort Duri, Seksi Konservasi Wilayah III, Bidang KSDA Wilayah II Balai Besar KSDA Riau melakukan patroli mandiri di Suaka Margasatwa (SM) Balai Raja pada Jum'at, 25 September 2020. Selain melakukan patroli, para petugas juga melakukan pemasangan spanduk larangan menjerat bersama anggota HIPAM dalam kegiatan penyisiran jerat di sekitaran hutan Talang, SM Balai Raja serta spanduk demplot penanaman kemitraan konservasi bersama kelompok Tani Hutan Jaya Sepakat. Inilah bentuk kolaborasi bersama mitra dalam upaya konservasi dan dalam pelestarian alam serta satwa. #karenakonservasitakmungkinsendiri Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Kunjungan Kerja BTN Bunaken ke Jurang Jero, TN Gunung Merapi

Magelang, 27 September 2020. Pengelolaan kawasan bersama masyarakat menjadi model pengelolaan kawasan konservasi yang dianut seluruh UPT balai taman nasional di Indonesia, demikian juga yang dilaksanakan oleh Balai Taman Nasional Bunaken (BTNB) serta Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM). Pada kesempatan ini, 8 (delapan) orang dari TN Bunaken melakukan kunjungan kerja ke Obyek Wisata Alam (OWA) Jurang Jero, TNGM. Jurang Jero merupakan salah satu OWA yang dikelola BTNGM bersama dengan Kelompok Wisata Taman Jurang Jero. Ada karakter yang tentu berbeda dengan pengelolaan kawasan konservasi di tempat lain, khususnya terkait wisata. TN Bunaken memiliki kawasan yg didominasi pantai, laut dan kepulauan, sedangkan di TNGM didominasi oleh ekosistem gunung dan pegunungan. Ramah tamah dan diskusi berlangsung dengan akrab antara pengelola OWA Jurang Jero, Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Srumbung, serta TNB. Asrinya Jurang Jero, di lereng Gunung Merapi sisi barat, menjadi daya tarik tersendiri bagi rekan-rekan TNB, karena berbeda dengan habitat asli TNB. Banyaknya kunjungan kerja ke kawasan konservasi TNGM menjadi sarana untuk berdiskusi tentang pengelolaan kawasan konservasi di UPT masing-masing, sehingga dari TNGM pun mendapat ilmu dari UPT lain tanpa harus berkunjung langsung ke sana. *** Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Berita

SKW IV Menerima Satwa Dilindungi Lutung Kelebu dari Masyarakat di Kota Dumai

Pekanbaru, 23 September 2020 - Ibu Wira Maya Fitri Sundari yang berdomisili di Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai, menyerahkan satwa dilindungi seekor anak Lutung Kelabu (Trachypihecus cristatus) secara sukarela. Penyerahan dilakukan melalui Seksi Konservasi Wilayah IV (SKW), yang diterima oleh Pak Soebono. Anak Lutung Kelabu tersebut dirawat oleh Ibu Wira, karena sebelumnya beliau mendapatkan dari kerabatnya yang menjumpai satwa tersebut saat memancing di daerah Pelintung, Kecamatan Medang Kampai sekitar bulan Juni 2020. Saat itu, anak Lutung Kelabu terlepas dari gendongan induknya dan terjatuh, lalu induknya memanjat pohon dan meninggalkannya. Kondisi anak Lutung Kelabu tersebut terus menangis dan masih sangat kecil, sehingga Ibu Wira menyelamatkannya dan dibawa pulang. Setelah beberapa lama dipeliharanya, anak Lutung diserahkan ke Balai Besar KSDA Riau dalam kondisi sehat, berumur + 3 bulan dan berjenis kelamin Betina. Selanjutnya pada hari yang sama, Bapak Soebono dari Seksi Konservasi Wilayah IV langsung menitipkan anak Lutung Kelabu tersebut kepada klinik satwa Balai Besar KSDA Riau melalui bapak Novi Mulyadi,S.Hut untuk diobsevasi lebih lanjut. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Tes SKB CPNS Kementerian LHK Di Sumatera Utara

Medan, 23 September 2020. Seleksi CPNS Kementerian Lingkungan Hidup dak Kehutanan (KLHK) formasi tahun 2019 saat ini memasuki tahap Seleksi Kemampuan Bidang (SKB), dikarenakan pandemi covid-19 pelaksanaannya tertunda dari jadwal sebelumnya. Akhirnya Tes SKB CPNS KLHK Sumut dilaksanakan pada hari Senin 21 September 2020 di Kantor Regional VI BKN Medan diikuti sebanyak 82 orang peserta. Penyelenggaraan seleksi SKB merujuk pada Surat Edaran Menpan RB Nomor : B.611/M.SM.01.00/2020 tanggal 16 Juli 2020 perihal Rencana Pelaksanaaan SKB Formasi Tahun 2019 dan Surat Edaran Kepala BKN Nomor : 17/SE/VII/2020 tanggal 2 Juli 2020 tentang prosedur penyelenggaraan seleksi dengan metode Computer Assisted Test Badan Kepegawaian Negara (CAT BKN) dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan dan pengendalian Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Panitia pelaksana terdiri dari Biro Kepegawaian dan Organisasi Setjen Kemenlhk, Balai Besar KSDA Sumatera Utara selaku korwil UPT KemenLHK lingkup Sumatera Utara dan Balai GAKKUM Wilayah Sumatera. Pelaksanaan test SKB dimulai dari pukul 14.30 s.d 16.00 WIB sesuai dengan surat edaran Menpan RB dan Kepala BKN tersebut. Khusus bagi peserta dengan jabatan Polisi Kehutanan usai pelaksanaan SKB diarahkan untuk berkumpul di Balai Besar KSDA Sumatera Utara guna mengikuti arahan teknis terkait pelaksanaan psikotest dan kesamaptaan. Sebagai informasi, pada hari Selasa, 22 September 2020, sebanyak 21 (dua puluh satu) peserta jabatan fungsional Polisi Kehutanan melanjutkan psikotest di Kantor Balai KSDA Sumatera Utara serta kesamaptaan di Lapangan Brigif Marindal Medan. Sumber : Inggrid R Tarihoran, S.Hut - Penyuluh Kehutanan Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Field Trip Rakornis KSDAE ke Jurangjero Taman Nasional Gunung Merapi

Magelang, 25 September 2020. Rangkaian Rapat Koordinasi Teknis Bidang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) dilaksanakan di Hotel Eastparc Yogyakarta, pada tanggal 23-25 September 2020. Hadir Kepala Balai Taman Nasional (BTN) dan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) seluruh Indonesia. Pada hari ketiga, Jumat 25 September 2020 dilaksanakan kunjungan ke tiga lokasi, yaitu Jurangjero Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Kalibiru dan Wanagama. Peserta dibagi ke tiga lokasi tersebut. Sesuai dengan tema Rakornis, mengelola kawasan konservasi adalah bekerja di lapangan, bersama masyarakat selesaikan masalah, kembangkan potensi. Hal ini sejalan dengan proses pengembangan Wisata Jurang Jero TNGM, yang menjadi ajang pembelajaran bersama UPT lain dalam kunjungan field trip sesi Jurangjero. Pada kesempatan ini, hadir ke Jurangjero, bapak Dirjen KSDAE Ir Wiratno MSc, Sekditjen KSDAE Ir Tandya Tjahyana, MSi, Direktur KKH KSDAE, drh Indra Exploitasia MSi, serta para kepala BTN dan BKSDA lainnya. Ramah tamah dan diskusi dilaksanakan di area Jurangjero dan Randu Ijo bersama rombongan serta Staf BTN Gunung Merapi, Kelompok Wisata Jurangjero Asri dan Randu Ijo selaku pengelola OWA Jurangjero. Dalam kesempatan ini, banyak hal yang menjadi ilmu pengetahuan baru bagi pihak pengelola. Diskusi sejak pagi hingga senja tiba, terlalu sayang untuk dipungkasi, dan dilanjutkan eksplorasi kawasan menggunakan jeep untuk lebih mengenal kawasan Jurangjero. *** Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Berita

SKW III BBKSDA Riau Gencar Sosialisasi Senapan Angin

Pekanbaru, 25 September 2020 – Pada pertengahan September 2020, Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Balai Besar KSDA Riau, bapak Maju Bintang Hutajulu dan anggotanya melakukan Sosialisasi larangan penggunaan Senapan Angin. Kegiatan ini gencar dilakukan lingkup Balai Besar KSDA Riau di desa - desa yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan di Kabupaten Kampar dan Kabupaten Rokan Hulu, termasuk salah satunya di sekitar Cagar Alam Bukit Bungkuk, Kabupaten Kampar. Dalam pelaksanaan sosialisasi, ternyata banyak masyarakat yang belum tahu terkait larangan kepemilikan dan penggunaan Senjata Angin ini, sehingga dibutuhkan usaha bersama yang cukup ekstra untuk sosialisasi terkait hal tersebut diseluruh lapisan masyarakat. Tentunya termasuk pengawasan dan pendampingan terhadap masyarakat oleh semua pihak juga sangat dibutuhkan demi kelangsungan kehidupan satwa liar, sehingga tidak selalu diburu, ditembak dan diperjualbelikan. Para Camat dan Kepala Desa sangat antusias dengan adanya Surat dari Kepolisian Republik Indonesia dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sehingga dapat menindak para pemilik senjata angin ilegal. Hal ini harus tegas dilakukan karena senapan angin menjadi ancaman serius bagi pelestarian satwa liar saat ini tegas Kepala Seksi Konservasi Wilayah III, bapak MB Hutajulu dan anggotanya yang tak henti-hentinya menyampaikan hal tersebut kepada masyarakat. #karenakonservasitakmungkinsendiri Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

BKSDA Jambi Asah Kapasitas MMK Tangani Konflik Manusia-Gajah

Tebo 23 September 2020. Balai KSDA Jambi peduli lingkungan dan satwa liar/gajah dengan meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam upaya penanggulangan konflik. Melalui pembinaan kelompok masyarakat mitra konservasi (MMK) di 5(lima) desa, masyarakat yang tergabung di kelompok tersebut memiliki tugas untuk menangani konflik antara manusia dan satwa liar khususnya gajah di tingkat tapak. Kelima Desa tersebut adalah Desa Muara Kilis, Muara Sekalo, Suo-Suo, Semambu, dan Pemayungan. Berangkat dari hal tersebut, BKSDA Jambi melakukan upaya peningkatan kapasitas MMK melalui pelatihan dalam penanggulangan awal konflik manusia-gajah melalui SMART Patroli. Kegiatan peningkatan kapasitas ini berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam penggiat lingkungan dana satwa liar, diantaranya Bapak Koesnadi Wira Sapoetra dari anggota gugus tugas multipihak Ditjen KSDAE, Bapak Kuswanda dari Balitbang LHK Aek Nauli, Bapak Nazarudin dari WRU Taman Nasional Way Kambas, dan Ibu Diana dari FZS. “Kita harus bisa merubah pola pikir masyarakat, yang semula berfikir bahwa gajah adalah hama, menjadi teman yang berharga” Ujar Bapak Kuswanda selaku pakar dan ahli gajah di Balitbang Aek Nauli yang berperan sebagai Narasumber dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas MMK. “Pola habitat dan area jelajah gajah tidak berubah sejak dahulu. Kita sebagai manusia yang diberikan akal pikiran oleh Tuhan, wajib untuk menjaga keseimbangan alam dengan tidak merusak lingkungan dan menjaga hubungan baik dengan seluruh ekosistem beserta satwa lairnya termasuk gajah” Selain dibekali pengetahuan tentang gajah, dasar-dasar penanggulangan konflik, dan bagaimana pengaplikasian SMART Patroli melalui Resort Based Management (RBM), kelompok MMK diberikan pengetahuan bagaimana menggali dan mengembangkan potensi desa menjadi sebuah usaha untuk peningkatan ekonomi masyarakat. “Masyarakat tidak melulu harus bergantung dengan pengembangan tanaman dengan lahan dan berperang dengan gajah” Ujar Bapak Koesnadi Wira Sapoetra selaku penggiat lingkungan hidup yang turut menjadi narasumber dalam kegiatan ini. “Pengembangan usaha ekonomi seperti jenis tanaman yang tidak disukai gajah, ataupun pengembangan ekowisata satwa liarsaat ini sangat menjanjikan. Pengembangan ekowisata satwa liar dapat memberikan keuntungan bagi masyarakat dan merupakan salah satu pemecahan solusi atas konflik yang paling ramah. Diharpkan manusia tidak lagi menanggap gajah dalam perspektif yang negatif” ujarnya. Melalui kegiatan peningkatan kapasitas MMK ini, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami bagaimana mitigasi konflik antara manusia-gajah di tingkat tapak, dan mengaplikasikannya melalui kegiatan SMART Patroli, dan mampu merubah pola pikiruntuk menganggap bahwa gajah merupakan asset bersama yang penting untuk dijaga. Pengembangan ekonomi masyarakat tidak harus mengorbankan satwa liar, begitupun sebaliknya. Sehingga dengan adanya kegiatan ini, diharapkan dapat tercipta harmonisasi antara manusia dengan satwa liar secara bertahap. Sebagai informasi, konflik antara manusia-gajah yang terjadi di Kabupaten Tebo merupakan akibat dari terjadinya fragmentasi habitat gajah dan satwa liar lainnya. Habitat satwa tersebut berada di luar kawasan konservasi, sehingga pola interaksi dan konflik yang terjadi menimbulkan adanya kerugian baik dari sisi manusia maupun gajah. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Bantuan TN Meru Betiri Gairahkan Ekonomi Desa Penyangga

Jember, 25 September 2020. Bertempat di kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) wilayah III Kalibaru Balai Taman Nasional Meru Betiri pada hari Rabu 23 september 2020, telah dilaksanakan serah terima bantuan fasilitasi ekonomi produktif bagi kelompok masyarakat di sekitar kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti). Bantuan yang diberikan oleh BTN Meru Betiri berupa 1 unit mesin roasting kopi berkapasitas 3 kg yang diserahkan kepada kelompok SPKP Multi Kreasi Sejahtera yang berada di Desa Kebonrejo, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi. Penyerahan bantuan ini merupakan wujud kepeduilan dari BTN Meru Betiri dalam upaya peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat di sekitar desa penyangga TN Meru Betiri khususnya yang berada di SPTN Wilayah III Kalibaru, harapannya dengan meningkatnya kesejahteraan maka kepedulian masyarakat terhadap TN Meru Betiri juga akan lebih besar ujar Sulistrianto Kepala SPTN Wilayah III Kalibaru pada kesempatan tersebut. Samidi sebagai salah satu anggota kelompok SPKP mengungkapkan kegembiraannya atas adanya bantuan tersebut, ia berharap dengan adanya alat tersebut dapat membawa gairah baru dalam usaha peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat Desa Kebonrejo khususnya anggota kelompok SPKP , tak lupa juga menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terkira bagi BTN Meru Betiri yang telah merealisasikan kebutuhan kelompok SPKP Multi Kreasi Sejahtera tersebut, dengan adanya alat tersebut maka kelompok SPKP siap meningkatkan produksi dan memperluas pemasaran produk kopi mereka dengan label oceano arabica dan robusta. Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti)

Menampilkan 3.009–3.024 dari 11.141 publikasi