Sabtu, 16 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Balai Besar TaNa Bentarum adakan Pelatihan Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Penyangga Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK)

Putussibau, 20 Oktober 2020. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) melaksanakan kegiatan Pelatihan MPA lingkup Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wil. II Kedamin. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kemampuan dan kapasitas masyarakat dalam upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kapuas Hulu, khususnya di sekitar kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK). Peserta kegiatan MPA berasal dari 3 Desa yaitu: Desa Datah Dian, Desa Bungan Jaya dan Desa Tanjung Lokang yang berjumlah sebanyak 30 orang. Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 hari sejak selasa sampai dengan Kamis dari tanggal 20 s/d 22 Oktober 2020 di Hotel Mitra Sentosa dan lapangan kantor Tana Bentarum yang meliputi teori sebanyak 6 jam pelajaran, praktek lapangan sebanyak 10 jam pelajaran dan simulasi penanggulangan kebakaran sebanyak 2 jam pelajaran. Pendanaan kegiatan ini bersumber dari hibah ADB FIP-1 melalui DIPA Balai Besar Tana Bentarum. Ada yang berbeda di dalam pelatihan MPA kali ini, kegiatan ini mengikuti protokol kesehatan selama masa pandemi Covid-19, seperti memakai masker dalam setiap kegiatan yang sedang berlangsung, menjaga jarak fisik antar peserta dan panitia, serta mencuci tangan dengan handsanitizer sebelum masuk ke ruang belajar. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Balai Besar Tana Bentarum yang diwakili oleh Fery A.M Liuw, S.Hut.T., M.Sc selaku Kepala Bidang PTN Wil. II Kedamin, di damping oleh Kepala SPTN Wil. III Padua Mendalam, Kepala SPTN Wil. IV Nanga Era dan Komandan Brigdalkarhut Manggala Agni Semitau. Dalam sambutannya, Fery A.M. Liuw,S.Hut.T., M.Sc menyampaikan bahwa “Selama pandemi Covid-19 ini, upaya pengendalian harus terus di upayakan bahkan ditingkatkan, “jangan kendor dan tetap semangat”, ujarnya. Diharapkan para peserta dapat maksimal menyerap informasi dan ilmu yang diberikan oleh narasumber sehingga dapat bermanfaat bagi masing-masing desa. Melalui diseminasi dan upaya penyadartahuan oleh para anggota MPA, harapannya pada saatnya nanti, masyarakat mampu berperan dalam upaya mencegah, mengendalikan atau mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang berada di sekitar wilayahnya”. Salah satu peserta yang berasal dari Desa Datah Dian yakni Bapak Yakobus Lasah yang masih aktif menjadi anggota MPA dari awal pembentukan MPA tahun 2018 sampai dengan sekarang menyampaikan bahwa “Dengan dilakukanya kegiatan pelatihan MPA ini, tentu kami sebagai anggota MPA sangat antusias sekali untuk mengikuti kegiatan ini dikarenakan sangat penting untuk pemantapan penggunaan peralatan kebakaran hutan, prosedur kegiatan pemadaman kebakaran hutan serta peraturan hukum yang berlaku dalam hal kebakaran hutan dan lahan”. Kegiatan pelatihan dan penyegaran MPA ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan pengetahuan kepada masyarakat dan menjadi agen dalam sosialisasi mengenai pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan di wilayahnya masing-masing. Selaku narasumber, dalam paparannya Ade Arief (Kepala Brigdalkarhut Balai Besar Tana Bentarum) menjelaskan agar peserta pelatihan dapat memahami konsep teori segitiga api, sebagai salah satu strategi pengendalian Karhutla. “Perlu strategi yang tepat didalam upaya pengendalian karhutla sehingga upaya penanggulangan karhutla dapat berjalan secara efektif dan efisien yaitu dengan menekankan pada upaya pencegahan karhutla”, tambahnya. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun Danau Sentarum
Baca Berita

Klarifikasi Foto Asusila yang Terindikasi di Kawasan TNGGP

Cibodas, 22 Oktober 2020. Menindaklanjuti viralnya foto berpose “bugil” yang diduga pengambilan gambar berlokasi di Alun-alun Suryakencana, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan di-repost pada akun media sosial Instagram (IG) @exploregunung_ dan @mountnesia pada hari Rabu, tanggal 21 Oktober 2020 sekitar pk. 18.36 WIB dan diikuti oleh beberapa akun media sosial lainnya. Terkait publikasi foto tersebut, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sangat menyesalkan perbuatan tersebut karena bertentangan dengan norma agama dan sosial. Dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) Pendakian disebutkan bahwa pendaki di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, dilarang melakukan perbuatan yang melanggar kesopanan, perbuatan yang meresahkan, perbuatan tidak menyenangkan, perbuatan asusila atau perbuatan lain yang sejenis. Untuk mencegah kegiatan tersebut terulang kembali, kami mengajak seluruh pihak dan masyarakat yang bergerak di bidang pendakian dan wisata alam untuk bersama-sama melakukan edukasi “pendaki cerdas” kepada pengunjung khususnya pendaki gunung. Lokasi yang diindikasi dalam foto tersebut (Alun-alun Suryakencana – Taman Nasional Gunung Gede Pangrango) merupakan lokasi yang dianggap sakral bagi masyarakat Jawa Barat khususnya Cianjur. Oleh karena itu BBTNGGP bersama masyarakat sekitar kawasan meminta kepada pemilik akun IG @eyi_oei dan @bondanramadhani_ agar menghapus unggahan foto asusila tersebut dan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui media sosial yang bersangkutan kepada masyarakat Jawa Barat. Kepada para netizen yang ikut mengunggah/ repost foto tersebut diminta untuk tidak menyebarluaskan dan segera menghapusnya. Langkah selanjutnya Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango akan berkoordinasi dengan pihak berwajib terhadap kemungkinan terjadinya pelanggaran peraturan perundangan terkait ITE dan atau Pornografi. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango SIARAN PERS KLARIFIKASI FOTO ASUSILA YANG TERINDIKASI DI KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO Nomor: SP.1213/BBTNGGP/Tek.2/10/2020 Penanggung jawab berita: Kepala Balai Besar TNGGP - Wahju Rudianto, S.Pi., M.Si (0819 0331 1199
Baca Berita

Persiapan Kedatangan Wamen LHK, Balai TN Taka Bonerate Koordinasi ke Bupati dan Sekda Kab. Kepulauan Selayar

Kepulauan Selayar, 19 Oktober 2020. Kepala Balai Taman Nasional Taka Bonerate, Faat Rudhianto S,Hut.,M.Si melakukan koordinasi dengan Bupati Kepulauan Selayar dan Sekretaris Daerah (Sekda) pada Senin (19/10). Koordinasi tersebut dalam rangka persiapan rencana kunjungan kerja Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Wamen LHK), Dr. Aloe Dohong ke Kabupaten Kepulauan Selayar dan Taman Nasional Taka Bonerate. Pjs. Bupati Kepulauan Selayar Dr. H. Asriady Sulaiman, S.IP., M.Si., mengapresiasi rencana kedatangan Wamen LHK beserta rombongan serta akan mendukung suksesnya agenda tersebut. Beliau juga menyampaikan, bahwa segala sesuatu harus dipersiapkan dengan baik, mulai dari kedatangan hingga berakhirnya seluruh rangkaian kegiatan. Pada kesempatan yang sama, Sekda Kepulauan Selayar, Dr. Ir. H. Marjani Sultan, M.Si., turut mengapresiasi dan mendukung kegiatan ini. Kepala Balai TN Taka Bonerate, Faat Rudhianto, S.Hut., M.Si., mengucapan terimakasih kepada Bupati dan Sekda Kabupaten Kepulauan Selayar atas segala perhatian dan dukungan yang diberikan. Dukungan ini sangat berarti dalam rangka mensukseskan agenda tersebut. Sebagai informasi, kunjungan kerja Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini direncakan akan dilakukan pada minggu pertama atau kedua bulan November 2020. Sumber: Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Menyambut Hari Sumpah Pemuda, BBTNTC Dan Masyarakat Ikut Serta Tanam Mangrove

Manokwari, 20 Oktober 2020. Menyambut Hari Sumpah Pemuda ke-92 dan bulan PRB (Pengurangan Resiko Bencana) tahun 2020 serta upaya kampanye lingkungan, pada Hari Minggu 18 Oktober 2020 Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) bersama masyarakat dan gabungan Kominitas Peduli Lingkungan melakukan penanaman mangrove di Fanindi, Teluk Sawaibu, Manokwari, Papuat Barat. Lokasi tersebut berada di sekitar Kawasan TNTC yang tentu perlu mendapat perhatian akan pentingnya menjaga garis pantai agar terhindar dari abrasi air laut. Karena pasang air laut sehingga masih sebagian kecil yang telah ditanami dan diperkirakan masih 1000-2000 bibit lagi yang bisa ditanami di area tersebut. Penanaman masih akan terus dilaksanakan dan akan segera diagendakan jadwal penanaman selanjutnya untuk memenuhi target penanaman yang diinginkan. Sebelumnya telah dilakukan pertemuan dengan Bapak Jhone Rumbekwan selaku pemilik ulayat wilayah tersebut. Beliau sangat bangga dan mendukung gerakan-gerakan pemuda seperti ini. Bapak Jhone hanya meminta agar diperhatikan akses perahu nelayan agar tidak terhalang saat keluar masuk. Kegiatan yang dikoordinir Toto Rizki Darwinto ini juga merupakan upaya kampanye lingkungan yang mana melibatkan beberapa Komunitas Peduli Lingkungan yang ada di Manokwari dan sekitarnya. Penanaman tetap dilaksanakan sesuai dengan protokol kesehatan yaitu dengan membatasi maksimal hanya sepuluh komunitas yang boleh bergabung dengan perwakilan minimal tiga orang dari setiap komunitasnya. Banyaknya komunitas dan masyarakat yang memiliki kemauan untuk turut serta dalam kegiatan penanaman menunjukkan bahwa semakin banyak yang sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Gerakan peduli lingkungan harus terus disuarakan kepada masyarakat luas baik dalam bentuk kampanye lingkungan yang mengarah kepada edukasi positif, agar berdampak bagi perbaikan lingkungan. Mangrove memiliki fungsi yang sangat besar bagi lingkungan hidup kita diantaranya sebagai tumbuhan yang mampu menahan arus air laut yang mengikis daratan pantai, dengan kata lain tumbuhan mangrove mampu untuk menahan air laut agar tidak mengikis tanah di garis pantai. Sebagaimana fungsi tumbuhan yang lain, mangrove juga memiliki fungsi sebagai penyerap gas karbondioksida (CO2) dan penghasil oksigen (O2). Mangrove memiliki peran sebagai tempat hidup berbagai macam biota laut seperti ikan-ikan kecil untuk berlindung dan mencari makan. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih
Baca Berita

Pelepasliaran 14 Ekor Burung Kakatua Tanimbar

Kepulauan Tanimbar, 17 Oktober 2020. Petugas Balai KSDA Maluku didampingi Mark O’hara dan Berenika Mioduszewska (peneliti Goffin Lab Tanimbar) telah melepasliarkan 14 ekor burung Kakatua Tanimbar (Cacatua goffiniana) di hutan petuanan Desa Rolulun Kecamatan Wertamrian Kabupaten Kepulauan Tanimbar pada tanggal 14 sd 16 Oktober 2020. Satwa-satwa tersebut merupakan satwa yang diteliti di Goffin Lab Tanimbar dengan judul penelitian “Cognitive Ecology of Goffin’s Cockatoos (Cacatua goffiniana)” yang didukung PUSLIT BIOLOGI LIPI. Ketika penelitian telah berakhir, maka satwa-satwa tersebut dilepasliarkan setelah terlebih dahulu dilakukan rehabilitasi dan dinyatakan sehat berdasarkan pemeriksaan kesehatan di Puslit-biologi LIPI Cibinong. Pelepasliaran dilakukan secara soft release agar satwa secara alami keluar dari kandang kembali ke habitatnya. Dimana kandang release dibuka hanya pada pukul 06.00 – 10.00 WIT yang merupakan waktu burung Kakatua Tanimbar melakukan aktivitas mencari makan, bermain dan juga adanya waktu satwa yang dilepasliarkan melakukan adaptasi di hutan. Pada hari pertama satwa yang keluar dari kandang sebanyak 3 ekor, hari kedua 8 ekor dan hari ketiga 3 ekor. Satwa-satwa yang dilepasliarkan akan terus dipantau oleh petugas BKSDA Maluku dibantu petugas dari Goffin Lab Tanimbar dan masih akan disediakan pakan di sekitar kandang release dan dikurangi volumenya sedikit demi sedikit setiap harinya sampai satwa-satwa beradaptasi dan mampu mencari pakan sendiri di hutan. Mari katong lestarikan Kakatua Tanimbar di habitat aslinya…. Salam Konservasi…. Sumber : Franston L. Kunu – Plh. Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Patroli Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan di Sekitar Suaka Margasatwa Bukit Batu, Desa Temiang, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis

Pekanbaru, 21 Oktober 2020. Senin(19/10) di sekitar kawasan Suaka Margasatwa (SM) Bukit Batu, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Petugas Resort Bukit Batu bersama Babinsa 3030 Bengkalis dan MPA Desa Temiang melakukan patroli pencegahan kebakaran hutan secara bersama - sama. Kondisi cuaca mendung tidak menyurutkan semangat para petugas dalam melakukan patroli pencegahan kebakaran hutan. Kegiatan patroli bersama ini dilakukan dengan melewati jalan PT Bukit Batu Hutani Alam dan lokasi perbatasan HTI serta pinggir kawasan SM Bukit Batu. Dalam pemantauan, kondisi tinggi permukaan air sungai sudah mulai menurun dan tidak ditemukan kejadian kebakaran. Disamping itu, tidak dijumpai tanda tanda jerat satwa liar baik di sekitar kawasan SM Bukit Batu atau di perkebunan sawit masyarakat yang tinggal di perbatasan kawasan tersebut. Hal ini menunjukkan sosialisasi yang dilakukan selama ini sudah menunjukkan hasil. Masyarakat sekitar kawasan sudah mulai menyadari pentingnya konservasi. Namun, Petugas tetap melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan SM. Bukit Batu agar tidak membakar hutan dan lahan dikarenakan sudah mendekati musim kemarau. Masyarakat juga dihimbau agar tetap waspada beraktifitas di perkebunan untuk menghindari terjadinya konflik antara manusia dan Satwa liar. Salam konservasi… #karenakonservasitakmungkinsendiri Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Penanganan Konflik Gajah Sumatera di Desa Pangkalan Serik, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar

Pekanbaru, 21 Oktober 2020. – Laporan tentang gangguan satwa Gajah kembali masuk ke call centre Balai Besar KSDA Riau pada Minggu, 18 Oktober 2020. Bhabinkamtibmas Desa Pangkalan Serik, bapak Zulkarnain menyampaikan bahwa ada satwa liar Gajah (diduga sekitar 12 ekor) yang mengganggu tanaman perkebunan milik warga di Desa Pangkalan Serik, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar dan perkebunan kelapa sawit milik PT GUP yang berbatasan dengan Kabupaten Pelalawan. Tim Gabungan Balai Besar KSDA Riau dan YTNTN segera bergerak menuju Desa Pangkalan Serik dan langsung berkoordinasi dengan Kepala Desa Pangkalan Serik, bapak Jundri. Berdasarkan informasi, kelompok Gajah liar yang berjumlah 12 ekor telah merusak sebagian kebun masyarakat dan PT. GUP. Tim selanjutnya menuju lokasi Gajah tersebut dengan jarak dari Desa Pangkalan Serik kurang lebih 12 km dan memantau keadaan di sekitarnya. Tim melakukan penelusuran terhadap keberadaan satwa namun tidak menemukan Gajah liar disekitar lokasi tersebut. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari masyarakat, kelompok Gajah telah menjauh mengarah ke hutan menuju ke sungai Kampar Kiri. Berdasarkan Analisa tim, bahwa kemungkinan kelompok Gajah hanya melintas menuju ke habitatnya di sekitar kawasan hutan Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan. Namun informasi susulan menyampaikan bahwa ada kawanan Gajah yang di perkirakan tertinggal (3 ekor) dari kelompoknya yang berada di kebun kelapa sawit. Tim meminta kepada masyarakat agar tidak berbuat anarkis terhadap satwa tersebut dan mengingatkan agar masyarakat waspada dan selalu berkoordinasi dengan Balai Besar KSDA Riau. Saat ini Tim masih melakukan pemantauan lebih lanjut. Yuuuk berbagi ruang hidup dengan makhluk lain. Karena mereka juga butuh tempat tinggal dan kehidupan.... Salam konservasi… #karenakonservasitakmungkinsendiri Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Hikmat, Acara Hari Jadi TN Aketajawe Lolobata Jadi Refleksi Akhir Tahun

Sofifi, 21 Oktober 2020. Pada Senin (19/10) lalu, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) telah genap berusia 16 tahun. Dihari yang berbahagia itu, Balai TNAL mengundang Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kehutanan, Dinas Pemuda dan Olahraga, Sekolah Pendidikan Kepolisian (SPN), Kompi, Kejaksaan Tinggi, PLN Sofifi, Bank Mandiri, BNI, Burung Indonesia dan perwakilan komunitas pecinta alam di Sofifi pada acara ramah-tamah hari jadi Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Acara tersebut tetap menggunakan protokol Covid-19. Kepala Balai TNAL pada sambutannya mengucapkan terima kasih atas kehadiran para pihak dalam acara yang dilaksanakan di halaman belakang kantor Balai TNAL. Beliau juga mengatakan bahwa, Balai TNAL ingin bekerja sama dan bersinergi dalam kegiatan-kegiatan konservasi ataupun pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan demi membangun Maluku Utara. “Terima kasih kepada Bapak Ibu yang telah berkenan hadir dalam acara sederhana ini (hari jadi), kami selalu ingin berkolaborasi dengan Bapak Ibu dalam setiap kegiatan, semoga silaturahmi ini akan tetap berlanjut dan dapat bersinergi dengan baik”, kata Heri, Kepala Balai TNAL. Setelah acara tersebut, Kepala Balai memberikan arahan kepada seluruh pegawai di Balai TNAL. Kepala Balai meminta kepada seluruh pegawai untuk bercerita dan memberikan masukan dalam pengelolaan kawasan TNAL agar menjadi lebih baik. Acara ini menjadi lebih hikmat ketika para pegawai menyampaikan “unek-unek” kepada seluruh pejabat struktural dan seluruh pegawai. Dalam acara tersebut juga diberikan penghargaan Satya Lencana kepada pegawai Balai TNAL yang telah mengabdi selama lebih dari 10 tahun. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra – Polhut BTN Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Pendampingan Polhut Kepada Pemuda-Pemudi Merauke Menuju Yakyu

Rawa Biru, 17 Oktober 2020 - Polisi Kehutanan Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah 3 Wasur mendapatkan kesempatan mendampingi para pemuda-pemudi Merauke yang gemar berpetualang di alam bebas yang menamai diri mereka sebagai Tim Eksplore Merauke. Pada kesempatan tersebut, Polhut SPTNW 3 Wasur mendampingi Tim Eksplore Merauke untuk melakukan perjalanan menuju ke Dusun Yakyu. Dusun Yakyu merupakan bagian dari RT di Kampung Rawa Biru dalam kawasan Taman Nasional (TN) Wasur dan berbatasan langsung dengan Negara Papua Nugini. Dusun Yakyu diakui keberadaannya pada tahun 2010 dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 28 KK dan jumlah penduduk + 112 jiwa. Masyarakat Yakyu merupakan masyarakat Suku Kanume yang masih termasuk dalam bagian wilayah administrasi Kampung Rawa Biru RT 03, Distrik Sota, Kabupaten Merauke. Masyarakat Yakyu pernah berpindah ke Papua Nugini sekitar tahun 1960 pada saat Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera), namun kemudian kembali lagi ke Indonesia pada tahun 2010 dan menetap di Yakyu hingga sekarang. Perjalan menuju ke Yakyu dapat ditempuh mengunakan kendaraan roda 2 maupun roda 4 dan disambung dengan menggunakan perahu ketinting yang memakan waktu sekitar 2 – 3 jam. Perjalanan melalui jalur darat hanya dapat dilakukan pada saat musim kemarau yaitu sekitar bulan Juli hingga Desember, disamping itu diperlukan pendampingan masyarakat setempat agar tidak tersesat, mengingat tipe vegetasi di dalam kawasan TN Wasur adalah hutan dominan jenis Melaleuca. Tim Eksplore Merauke terdiri dari orang-orang yang memiliki latar belakang bervariasi seperti Apoteker, Bidan, TNI/Polisi, PNS, Wartawan, Wirausahawan, dan Freelancer. Visi misi mereka adalah membangun kepedulian terhadap Kota Merauke serta mewujudkan Kota Merauke sebagai tujuan wisata terkemuka yang menampilkan budaya dan panorama keindahan alam di ujung timur Indonesia. Berangkat dari visi misi tersebut, maka Tim Eksplore Merauke selalu berkomitmen bahwa setiap perjalanan harus memberikan manfaat yang berarti bagi Kota Merauke. Polhut SPTN Wilayah 3 Wasur bersama Tim Eksplore Merauke dengan jumlah rombongan sebanyak 12 orang memulai perjalanan pada pukul 15.30 WIT dengan menggunakan kendaraan roda dua sebanyak 12 unit. Sekitar pukul 16.30 WIT rombongan tiba di dermaga penyeberangan Kampung Rawa Biru, kemudian melakukan penyeberangan menggunakan perahu ketinting menuju dusun Yakyu. Beberapa orang ada yang menuju ke Pulau Kelapa untuk kemudian melanjutkan perjalanan darat dengan kendaraan roda dua hingga mencapai dusun Yakyu. Berbagai rintangan seperti medan berlumpur, kayu-kayu tumbang yang melintang di tengah jalan setapak, dan gelapnya malam telah berhasil dilalui oleh rombongan yang melakukan perjalanan darat dari Pulau Kelapa menuju Dusun Yakyu. Pada akhirnya rombongan tiba di Kampung Yakyu sekitar pukul 21.00 WIT dan selanjutnya melapor kepada Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (Satgas Pamtas TNI AD) Wilayah Perbatasan NKRI-PNG yang mendirikan Pos Pamtas di sekitar dusun Yakyu. Polhut SPTN Wilayah 3 Wasur besama Tim Eksplore Merauke kemudian melakukan diskusi membahas agenda-agenda esok hari seperti perjalan ke patok Batas Negara Indonesia dan Papua Nugini, kemudian melihat habitat burung Cenderawasih, dan dilanjutkan dengan melakukan wawancara dengan penduduk kampung, pengambilan video, foto serta data pendukungan lainnya untuk kebutuhan ekspose dan promosi potensi dusun Yakyu. Dusun Yakyu merupakan habitat alami dan rumah bagi burung cenderawasih yang mulai ditemukan sejak tahun 2010. Pada sore hari, Polhut bersama Tim Eksplore Merauke mengisi waktu dengan berbagi cerita bersama anak- anak kampung, kemudian juga membagikan alat olah raga seperti bola voly dan bola kaki yang dititipkan kepada para personil Pos Satgas Pamtas TNI AD di Yakyu, serta membagikan pakaian layak pakai. Usai kegiatan tersebut, Polhut SPTN Wilayah 3 Wasur bersama Tim Eksplore Merauke yang didampinginya berpamitan kepada warga Dusun Yakyu untuk kembali pulang ke Kota Merauke. Sumber : Zaenal Arifin A.Md. - Polhut SPTN Wilayah 3 Wasur Balai Taman Nasional Wasur (Penulis dan Foto)
Baca Berita

Megaachile pluto Kembali Ditemukan di Resort Tayawi TN. Aketajawe Loloalbata

Sofifi, 20 Oktober 2020. Momentum hari jadi Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) ke 16 tahun, yang jatuh tepat pada tanggal 19 Oktober 2020. Terdapat kabar gembira yang datang dari Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Kabar gembira itu adalah Balai TNAL kembali menemukan sarang lebah raksasa Wallace "Megaachile pluto" di Resort Tayawi, Kota Tidore Kepulauan. Berukuran sebesar jempol orang dewasa lebah ini pertama kali ditemukan oleh Alfred Russel Wallace dalam expedisinya di Pulau Halmahera pada tahun 1858. Lebah ini juga masuk dalam daftar pencarian spesies yang hilang di Dunia oleh Global Wildlife Conservation (GWC). Lebah raksasa Wallace yang diduga telah punah ini, tanpa sengaja ditemukan oleh Om Anton salah satu warga suku tobelo dalam yang sedang mencari getah damar. Om Anton berhasil mengabadikan momen langkah dan berharga ini menggunakan smartphone. Pagi itu, om Anton berangkat mencari damar di hutan menyusuri bukit yang berada dikawasan resort Tayawi. Ditengah perjalanan, tanpa sengaja ia melihat seperti gundukan sarang rayap yang terletak tak jauh diatas pohon. Dia lalu menghampiri gundukan tersebut dan melihat ternyata benda tersebut mirip dengan foto yang pernah ditunjukan oleh Sukardi (salah satu staf teknis di resort Tayawi) kepada saya. Kata om Anton. Dengan logat khas orang tobelo dalam. Om Anton lanjut bercerita, "Saya duduk diam, lalu memperhatikan gundukan tersebut. Tak lama kemudian, seekor lebah besar berwarna hitam keluar dari lubang. Saya terkejut melihat Ofu (lebah) ini, mirip dengan fotonya Sukardi. Ahirnya saya mengambil handphone dan berusaha untuk mengabadikan beberapa foto yang hanya berjarak kurang lebih dua meter dari sarang tersebut". Cerita om Anton dengan penuh semangat. Lebah terbesar di muka Bumi ini, terahir terlihat pada tahun 1981 dan kembali ditemukan pada tahun 2019 oleh Eli Wyman, seorang ahli biologi asal Amerika dan beberapa orang temannya yang berhasil menemukan dan mempublikasikan hasil temuan lebah raksasa Wallace di Pulau Halmahera ke seluruh penjuru Dunia. Temuan "Megaachile pluto" di kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata di Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Membuktikan, bahwa didalam kawasan konservasi ini masih banyak menyimpan keanekaragaman hayati jenis flora dan fauna endemik Maluku Utara. Salah satunya adalah spesies serangga yang paling langka dan banyak dicari oleh para peneliti di dunia. Untuk itu, sebuah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar dan hukumnya wajib untuk tetap menjaga dan melestarikan kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata sebagai jantung dan benteng terahir Pulau Halmahera. Sumber : M. Sofyan Ansar - Polhut Balai Taman Nasaional Aketajawe Lolobata Foto : Antonius Tayawi
Baca Berita

Melestarikan Hutan, Memberdayakan Warga SKW I BauBau BKSDA Sultra Bersama Masyarakat Melakukan Penanaman di Sekitar Mata Air SM Buton Utara

Kendari,19 Oktober 2020. Seksi Wilayah I BauBau Balai Konsevasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sultra bersama masyarakat desa Lanosangia Kec. Kulisusu Utara Kab. Buton Utara melakukan penanaman di sekitar mata air. Penanaman ini dilakukan bersama BKSDA Sultra,masyarakat desa Lanosangia, Kelompok Tani Hutan (KTH) Lanosangia, siswa/i SMAN 2 Kulisusu dan Yayasan IDRAP. Kepala SKW I BauBau Prihanto,SP.,M.Si mengatakan kegiatan ini di inisiasi oleh penyuluh SKW I bersama Bakti Rimbawan untuk menumbuhkan dan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap hutan terutama generasi muda. Penanaman ini diikuti 70 orang peserta. Desa Lanosangia Kec. Kulisusu Utara Kab. Buton Utara merupakan salah satu desa penyangga di Hutan Suaka Margasatwa (SM) Buton Utara yang mana desa tersebut sangat bergantung pada hutan akan kebutuhan air dan listrik mikrohidro yang diperoleh dari hutan. Penyuluh SKW I Febriangga Harmawan,S.Hut,.M.Ikom menjelaskan pentingnya generasi millenial terhadap kelestarian hutan dengan terus memacu tumbuhnya kesadaran dan kepedulian generasi milenial untuk menanam pohon, serta menjaga kelestarian lingkungan. Kepala BKSDA Sultra Sakrianto Djawie, SP.,M.Si mengapresiasi kegiatan ini, selain manfaatnya yang akan dirasakan ke depan, karena berkaitan dengan debet mata air yang menghidupi warga sekitar, "Besar harapan kami kegiatan merawat alam, menjaga lingkungan, melestarikan sumber mata air” harapnya. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tenggara
Baca Berita

Pembinaan MMP Balai Taman Nasional Karimunjawa

Karimunjawa, 20 Oktober 2020 - Kepala Balai Taman Nasional Karimunjawa, Ir. Titi Sudaryanti, M.Sc. secara resmi membuka kegiatan Pendampingan dan Pembinaan terhadap kelompok Masyarakat Mitra Polhut (MMP) yang dihadiri oleh 30 orang anggota MMP yang merupakan perwakilan dari 4 kelompok (desa). Kegiatan pembinaan MMP di Taman Nasional Karimunjawa menghadirkan 4 orang narasumber yaitu dari Balai TN Karimunjawa (BTNKJ) memaparkan materi tentang “Peran Serta Kelompok MMP dalam Kegiatan Perlindungan Hutan”, Kasat Polair Jepara menyampaikan tentang “Pengawasan Di Kawasan Perairan TNKJ”, Reskrimsus Polda Jateng dengan materi “Pengumpulan Informasi Pelanggaran Bidang Kehutanan dan KSDAE”, serta Kanit Hakim Polair Jepara dengan materi “Penegakan Hukum di Perairan” Sobat Nautilus, pembentukan MMP di TN Karimunjawa merupakan salah satu peran aktif masyarakat di dalam pengelolaan TN Karimunjawa yang bersama-sama POLHUT melakukan kegiatan pengamanan kawasan TN Karimunjawa. Kelompok MMP dibentuk oleh Balai Taman Nasional Karimunjawa pada tahun 2014 yang meliputi 4 kelompok dengan nama Kelompok Pengamanan Partisipatif. Kemudian sejak tahun 2016 kelompok tersebut berubah nama menjadi MMP Desa Karimunjawa, MMP Desa Nyamuk, MMP Desa Parang dan MMP Desa Kemujan dengan jumlah aktif sebanyak 78 orang. Sejauh ini Masyarakat Mitra Polhut cukup efektif membantu petugas dalam rangka membantu menjaga dan mencegah terjadinya pelanggaran di Taman Nasional Karimunjawa secara persuasive meskipun belum optimal. Oleh karenanya kegiatan pembinaan tetap dilakukan secara rutin untuk tetap menselaraskan peran MMP bersama petugas POLHUT BTNKJ. Sumber: Balai TN Karimunjawa
Baca Berita

Menengok Pemulihan Ekosistem di TWA Pelaihari

Pelaihari, 8 Oktober 2020 – Kepala Sub Direktorat Pemulihan Ekosistem Dr. U Mamat Rahmat dan Kepala Seksi Pemulihan Ekosistem Kawasan Suaka Alam Rumchani Agus Sulistyo, S.Hut., T melakukan bimbingan teknis pemulihan ekosistem kawasan konservasi di Balai KSDA Kalimantan Selatan dan Tahura Sultan Adam Provinsi Kalimantan Selatan. Kegiatan bimbingan teknis pelaksanaan pemulihan ekosistem dihadiri oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc, Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I, Wilayah II dan Wilayah III, Koordinator urusan Kawasan Konservasi dan Koordinator urusan Konservasi Keanekaragaman Hayati. Dalam kegiatan bimtek ini, Kasubdit PE menjelaskan regulasi yang menjadi dasar kegiatan pemulihan ekosistem kawasan konservasi. Dijelaskan juga terkait kunci sukses pemulihan ekosistem antara lain pendampingan kelompok secara intensif, dukungan para pihak, konsistensi pendanaan, pemilihan jenis tanaman sesuai kondisi setempat, peningkatan sumber daya manusia (masyarakat setempat), penguatan kelembagaan, dokumentasi, pembelajaran dan replikasi pada lokasi lain. Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.48/Menhut-II/2014 tentang Tata Cara Pemulihan Ekosistem pada Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA), dalam Pasal 4 ayat 3 dijelaskan bahwa KSA & KPA yang memenuhi kriteria kerusakan perlu dilakukan pemulihan ekosistem di dalamnya. Pemulihan ekosistem merupakan tindakan pemulihan terhadap ekosistem termasuk di dalamnya pemulihan alam hayatinya sehingga terwujud keseimbangan alam hayati dan ekosistemnya. Upaya pemulihan kawasan hutan dilaksanakan melalui mekanisme Pemulihan Ekosistem dimana tata cara penanaman dan pengkayaan jenisnya diatur dalam Peraturan Dirjen KSDAE Nomor: P. 12/KSDAE-Set/2015 dan pedoman pemantauan dan penilaian keberhasilannya diatur dalam Peraturan Dirjen KSDAE Nomor: P. 13/KSDAE-Set/2015. Dr. U Mamat Rahmat melengkapi kunjungannya kesalah satu lokasi kawasan pemulihan ekosistem di TWA Pelaihari yang saat ini sedang dilakukan pembibitan tanaman asli (Galam, Bangkal), tanaman kehutanan produktif (Eucalyptus, Kayu Putih) dan bibit MPTS (Multi Purpose Tree Species) (Jengkol, Durian, Pinang, Kelapa). Areal pemulihan ekosistem ini seluas ± 35 Ha berada di blok tradisional dengan melibatkan kelompok kemitraan konservasi “Kelompok Tani Lestari”. Pada kunjungan lapang ini diberikan arahan agar kelompok tani bisa menjadi pelopor konservasi didesanya dan dikembangkan sesuai kondisi alam dan kemampuan SDM yang ada. (ryn) Sumber: Alfredo De Araujo - Kepala Resort TWA Pelaihari, SKW I Pelaihari BKSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Selesaikan Konflik Tenurial, BKSDA Sulteng Rekrut Local Champion

Palu, 20 Oktober 2020. Tim Balai KSDA Sulawesi Tengah yang terdiri dari Kepala Balai, Kepala Seksi Wilayah I Pangi dan Kepala Resort Tinombala melakukan upaya penyelesaian konflik tenurial pada kawasan Cagar Alam Tinombala pada Minggu (18/10). Adalah Bapak BG, yang selama ini menguasai kebun pada kawasan Cagar Alam (CA) Gunung Tinombala seluas ± 13 Hektar. Tim Balai KSDA Sulawesi Tengah secara kekeluargaan mendatangi rumah tinggal Bapak BG untuk bersilaturahmi sekaligus memberikan pengarahan/penyuluhan yang dilanjutkan di kantor Resort Tinombala Balai KSDA Sulawesi Tengah. Dari 2 kali pertemuan tersebut, diperoleh kesepakatan bahwa Bapak BG bersedia menyerahkan dengan sukarela lahan yang selama ini dikuasainya kepada Balai KSDA Sulawesi Tengah. Oleh karena itu, sebagai apresiasi terhadap Bapak BG, maka Balai KSDA Sulawesi Tengah merekrut Bapak BG menjadi Local Champion, dimana diharapkan nanti Bapak BG ini yang akan memberikan pengarahan jika ada oknum masyarakat yang ingin membuka lahan di kawasan CA Gunung Tinombala. Selain penyelesaian konflik tenurial diatas, Tim Balai KSDA Sulawesi Tengah juga melakukan pertemuan dengan para pemilik chain saw/gergaji rantai di rumah Bapak S yang difasilitasi oleh Pemerintah Desa Kayu Agung dengan hasil sebagai berikut : a. Para pemilik chain saw mengaku bahwa mereka hanya memiliki keahlian di bidang tersebut, sehingga mereka sering melakukan kegiatan penebangan pohon kelapa dan ilegal logging pada kawasan CA Gunung Tinombala. Hasil pengambilan kayu illegal ini mereka jual kepada warga setempat selain untuk sarana prasarana sosial. b. Dalam upaya pengamanan Cagar Alam Gunung Tinombala di Kabupaten Parigi Moutong maka para pemilik chain saw serta Pemerintah Desa bersepakat kedua belah pihak yakni antara Balai KSDA Sulawesi Tengah dengan para pemilik chain saw serta Pemerintah Desa bersepakat untuk tidak melakukan kegiatan penebangan dan pembukaan lahan pada kawasan CA Gunung Tinombala dengan solusi bahwa pihak Balai KSDA Sulawesi Tengah bersedia memfasilitasi untuk pengurusan izin penebangan kayu pada tanah milik masyarakat yang bersertifikat. Sumber : Amelia - Tim Humas Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Ditreskrimum Kepolisian Daerah Riau Serahkan Anakan Siamang

Pekanbaru, 19 Oktober 2020 – Bapak Willy dari Ditreskrimum Kepolisian Daerah Riau menyerahkan 1 (satu) ekor anakan Ungko (Hylobates agilis) dan 1 (satu) ekor anakan Siamang (Symphalangus syndactylus) yang diterima langsung oleh drh. Rini Deswita dan paramedis Aswar Hadhibina Nasution di Klinik satwa Balai Besar KSDA Riau pada Kamis (15/10). Satwa diperoleh dari rumah tersangka saat operasi penggeledahan oleh Ditreskrimum Polda Riau. Kedua satwa yang masih imut dan lucu tampak saling berpelukan satu sama lain seolah ingin saling melindungi. Kondisi Kesehatan kedua jenis satwa tersebut terlihat lincah dan sehat, tetapi di salah satu telinga satwa tersebut terdapat benjolan yang membesar dan akan segera dilakukan pengecekan kesehatan oleh drh. Rini Deswita. BBKSDA Riau mengucapkan terima kasih atas kerjasama Polda Riau. Mari bersama kita selamatkan satwa liar dilindungi. "Say No to Wildlife Trade and Stop Wildlife Crime". #karenakonservasitakmungkinsendiri Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

TNBG memberikan bantuan Bibit untuk Anggota Kelompok Tani Hutagodang

Mandailing Natal, 19 Oktober 2020. Kepala Balai Taman Nasional Batang Gadis melaksanakan pemberian bantuan bibit Di Kelurahan Hutagodang Kec. Ulu Pungkut.Kegiatan dihadiri oleh Camat Ulu Pungkut, Perwakilan dari Kelurahan Huta Godang, Ka Sie PTNW II Kotanopan, Karest 5 Alahan Kae dan Anggota Kelompok Tani Hutagodang Agro.Bibit yang diserahkan berupa bibit kopi sigarautang sebanyak 3000 bibit, bibit kayu manis super sebanyak 800 bibit dan bibit bawang bima brebes sebanyak 200 kg.Pemberian bantuan ini sangat bermanfaat bagi kelompok tani Hutagodang Agro, Camat Ulu Pungkut juga sangat berterima kasih dan akan selalu mendukung kegiatan yang dapat meningkatkan kesejahteraan warganya di Kelurahan Hutagodang.Dalam sambutannya Bpk Ka Balai juga sangat berharap, bibit yang diberikan dapat ditanam dan dirawat agar ketergantungan masyarakat akan kawasan hutan semakin berkurang, dan kawasan hutan tetap terjaga. Keterlibatan perempuan juga sangat diharapkan dalam kegiatan kelompok masyarakat khususnya dalam budidaya bawang merah di Kelurahan Hutagodang. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis

Menampilkan 2.913–2.928 dari 11.141 publikasi