Sabtu, 16 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Bantuan Perahu Couple Untuk Pokmas Binaan BBTN Kerinci Seblat

Musi Rawas Utara, 25 Oktober 2020. Pada hari Sabtu tanggal 24 Oktober 2020 Pukul 10.00 WIB, bertempat di atas Bendungan Objek Wisata Danau Bukit Layang, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah V Sumsel (Hendrimon Syadri, S.Hut., M.Sc) bersama Kepala Resort Musi Rawas Utara (Sarwanto, S.P) melakukan anjang sana ke Desa Bukit Ulu Kec. Karang Jaya Kab. Musi Rawas Utara Prov. Sumatera Selatan. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka meninjau dan memeriksa kondisi fisik bantuan peningkatan ekonomi Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) kepada Pokmas Binaan Balai Besar TNKS di lapangan. Bantuan yang diserahkan berupa Perahu Couple yang dapat didayung secara manual sebanyak 5 (lima) unit dengan nilai total Rp. 50.000.000. Pokmas BLI sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Balai Besar TNKS atas bantuan tersebut. Mereka berharap bantuan tersebut dapat meningkatkan ekomoni masyarakat sehingga ketergantungan masyarakat sekitar terhadap lahan TNKS berkurang. Kepala Seksi PTN Wil. V Sumsel menghimbau agar Pokmas BLI dapat mengelola bantuan ini dengan baik agar tujuan pemberian bantuan dalam meningkatkan ekonomi masyarakat dapat tercapai, hutan tetap lestari masyarakat semakin sejahtera. Terakhir Kepala SPTN Wilayah V Sumatera Selatan menyampaikan pesan kepada Pokmas BLI untuk bersama-sama menjaga kawasan TNKS, sesuai dengan pepatah orang Indian yang dikutip dalam buku Sekjen Kementerian KLHK (Bambang Hendroyono) yang menyatakan bahwa ketika pohon terakhir dari hutan telah ditebang, maka berakhir pula air yang ada di sungai, selanjutnya lahan pertanian akan kering tidak bisa dimanfaatkan lagi, dan saat itu pula manusia baru sadar jika uang yang kita miliki tidak berguna lagi. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat
Baca Berita

Antisipasi Keresahan Masyarakat, BKSDA Yogyakarta Evakuasi Buaya Muara Yang Ditemukan di Sungai Bedok

Yogyakarta 23 Oktober 2020, Tim Quick Response (QR) Balai KSDA Yogyakarta segera menindaklanjuti laporan dari masyarakat Bangunkerto, Turi, Sleman terkait adanya penemuan Buaya di Sungai Bedok hari Kamis (22/10/20). Informasi yang dihimpun Tim QR BKSDA Yogyakarta bahwa buaya ditemukan dan diamankan dari Sungai Bedok, Turi pada sore hari (Rabu,22/10) dan keesokan harinya masyarakat Bangunkerto, Turi menghubungi call center BKSDA Yogyakarta untuk penanganan selanjutnya. Proses penyerahan satwa liar yang ditemukan tersebut disaksikan oleh perangkat Desa yaitu Kepala Desa Bangun kerto, Babinkamtibmas dan Polsek Turi. Evakuasi dilakukan personil Resort Sleman dan segera dilakukan identifikasi bahwa satwa dilindungi undang-undang jenis Buaya Muara (Crocodylus porosus), berjumlah 1 ekor dengan panjang lebih kurang 1 meter. Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi segera menginstruksikan tim QR untuk melakukan penyelamatan satwa lebih lanjut. “Saya minta kepada tim QR untuk segera mengevakuasi satwa dilindungi jenis Buaya Muara ini dan segera membawanya ke kolam penampungan di Resort Sleman untuk dapat dilakukan langkah penyelamatan lebih lanjut. Evakuasi diupayakan sesegera mungkin agar tidak menimbulkan keresahan kepada masyarakat sekitar. Kepada masyarakat Bangunkerto, Turi kami sampaikan apresiasi atas kepeduliannya terhadap kelestarian satwa liar. Semoga ke depan semakin banyak masyarakat yang memiliki kesadaran seperti ini sehingga tugas menjaga kelestarian satwa liar dapat dilakukan dengan baik bersama-sama dengan masyarakat.” tutur M. Wahyudi Lebih lanjut M. Wahyudi menyampaikan “Meskipun demikian, melalui kejadian ini, Balai KSDA Yogyakarta juga perlu untuk melakukan edukasi kepada masyarakat luas bahwa habitat buaya biasanya di sungai atau muara sungai. Dengan demikian, sebaiknya tidak perlu dilakukan penangkapan atau mengusik satwa tersebut. Paradigma berbagi ruang hidup antara manusia dengan satwa perlu juga ditanamkan secara perlahan-lahan.” jelasnya. Sumber : Uut Budiharto (Polhut Balai KSDA Yogyakarta)
Baca Berita

Sinergi Para Pihak Untuk Menjaga Kawasan Hutan Di Batam

Batam – 23 Oktober 2020. Balai Besar KSDA Riau melalui Seksi Konservasi Wil. II Batam melakukan kegiatan penanaman bersama Direktorat Pengamanan BP Batam, Direktorat Fasilitas Lingkungan BP Batam, Manggala Agni Daops Batam, KPHL Unit II Batam, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kepulauan Riau. Penanaman dilaksanakan dalam kegiatan Jum'at Hijau Berseri di Tembesi Tower, yang merupakan bagian dari Hutan Lindung Tembesi yang dirambah dan bekas penambangan pasir ilegal. Penanaman ini menjadi bagian dari rangkaian patroli gabungan yang sudah dilaksanakan pada hari Rabu, 21 Oktober 2020. Kawasan Hutan Lindung Tembesi memang difungsikan menjadi daerah tangkapan air untuk DAM Tembesi, sehingga keberadaan tegakan pohon menjadi penting. Jumlah pohon ditanam sebanyak 300 batang, dengan jenis tanaman kayu, Mahoni (Swietenia mahogani) dan Pulai (Alstonia scholaris). Kegiatan Patroli dan penanaman ini diharapkan menjadi awal bersinerginya para pihak untuk menjaga agar hutan di Batam tetap lestari. Penanaman akan terus dilakukan agar bagian yang terdegradasi dari hutan lindung dan hutan konservasi di Batam segera terehabilitasi, sehingga akan mendukung ketersediaan air bagi waduk-waduk yang akan menunjang kehidupan masyarakat dan kegiatan ekonomi di Batam. Disamping itu, dengan adanya patroli diharapkan semua pihak akan ikut serta menjaga hutan dan mencegah serta mengendalikan kebakaran hutan dan lahan. Pelaksanaan kegiatan ini merupakan bentuk sinergi antar instansi pusat dan daerah dalam perlindungan kawasan hutan konservasi dan hutan lindung di Batam, terutama hutan-hutan yang menjadi buffer waduk-waduk di kawasan tersebut. Sebagai tindak lanjut, pada tahun ini akan dilakukan penyusunan rencana kegiatan patroli pengamanan dan perlindungan hutan di kota Batam untuk tahun 2021 oleh para pihak. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Asah SDM, BBKSDA Riau dan Mitra Gelar Pelatihan Metode Survei Kehati

Pekanbaru, 22 Oktober 2020 – Rabu, 21 Oktober 2020, Kepala Balai Besar KSDA Riau, bapak Suharyono membuka acara Pelatihan Metode survei kehati dan SMART-RBM di aula Gajah Balai Besar KSDA Riau, Jl. HR Subrantas km. 8,5 Pekanbaru. Pelatihan tersebut merupakan salah satu wujud kegiatan kerjasama antara Balai Besar KSDA Riau dengan Fauna & Flora International (FFI) - Indonesia Programme yang akan berlangsung selama 3 (tiga) hari dari hari Rabu sd Jum'at, tanggal 21 sd 23 Oktober 2020. Materi pelatihan diantaranya adalah SMART Patrol, Camera Trap, Survei Kehati dan Teknik dokumentasi atau fotografi terhadap keanekaragaman hayati di Suaka Margasatwa (SM) Tasik Belat dan Tasik Serkap. Pesertanya berjumlah 20 orang dari seluruh Bidang lingkup Balai Besar KSDA Riau. Pada kesempatan tersebut juga diserahkan bantuan dari FFI berupa 3 (tiga) buah Laptop, 20 (dua puluh) buah Camera Trap dan 1 (satu) buah ketinting. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Community Based Management di Kampung Menarbu

Aisandami, 23 Oktober 2020. Kampung Menarbu merupakan salah satu desa binaan Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) tepatnya berada di Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Aisandami. Kampung ini terletak di Provinsi Papua Barat. Sejak tahun 2018, masyarakat di kampung ini sudah giat dan secara mandiri membangun kegiatan pengelolaan konservasi laut. Kegiatan ini biasa dikenal dengan “Sasi” atau masyarakat Kampung Menarbu biasa menyebutnya dengan “Kadup”. Sasi atau Kadup ini merupakan praktek pengelolaan sumber daya alam oleh masyarakat adat dengan menutup pemanfaatan dan wilayahnya untuk jangka waktu tertentu. Sasi/Kadup yang dilakukan di Kampung Menarbu ini diadakan dalam rentang waktu 2-3 tahun. Sasi yang dimulai pada tahun 2018 telah dibuka pada bulan Maret 2020, dan ditutup kembali pada bulan Mei 2020. Pembukaan sasi selanjutnya menurut Bapak Yohanis Ayamiseba selaku Ketua Tim Pengelola Sasi Kampung Menarbu, rencananya akan dilakukan pembukaan sasi kembali pada Bulan Mei 2023. Tujuan masyarakat Kampung Menarbu melakukan Sasi/Kadup ini yaitu untuk menjaga dan melestarikan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati yang terdapat di perairan sekitar kampung. Tidak hanya sekadar membuka dan menutup kawasan sasi. Masyarakat di Kampung Menarbu juga melakukan pengawasan dan pengontrolan terhadap kawasan perairan yang diberlakukan sasi. Pengawasan ini bertujuan mencegah adanya masyarakat dari kampung lain yang menangkap ikan. Tim pengelola sasi dan masyarakat Kampung Menarbu juga sudah membuat beberapa larangan terkait sasi/kadup, diantaranya: 1) Alat tangkap dan jenis penangkapan yang dilarang yaitu Pengeboman, Kompresor, Potasium, dan Akar tuba; 2) Biota laut yang dilarang yaitu Hiu, Penyu, Dugong, Kima, Ikan Napoleon, Lobster dan Semua Jenis Ikan. Selain melakaukan pengawasan, tim pengelola sasi juga melakukan pengontrolan, yang dimaksud pengontrolan disini ialah monitoring keanekaragaman hayati di dalam kawasan perairan yang diberlakukan sasi. Monitoring ini dilakukan dengan teknik timed swim dan manta tow. Metode berenang dengan waktu (timed swim) dilakukan dengan berenang pada lintasan waktu yang telah ditentukan. Sedangkan manta tow, perenang akan mengamati selama 2 menit dengan ditarik dengan tali yang terikat di perahu, dan kemudian pengamat akan mencatat hasil temuan pada papan. Bentuk pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat Kampung Menarbu merupakan bentuk pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat atau Community Based Management. Dimana terdapat sekelompok masyarakat secara mandiri mengelola, melakukan pengawasan di daerah tempat tinggalnya. Masyarakat tidak hanya bergerak sendiri, mereka didukung oleh Pemerintah Kampung, Gereja serta Tokoh-tokoh adat lainnya. Pengelolaan sumberdaya laut yang mereka lakukan, mereka sesuaikan dengan nilai-nilai lokal dan hasilnya pun mereka manfaatkan secara bertanggung jawab, hal ini sangat membuka ruang bagi masyarakat lainnya untuk turut serta berpartisipasi menjaga keberlanjutan sumberdaya alam laut. Hal ini sesuai dengan bunyi Pasal 6 Undang – Undang Nomor 31 Tahun 2004 yang berbunyi pengelolaan perikanan untuk kepentingan penangkapan ikan dan pembudidaya ikan harus mempertimbangkan hukum adat dan/atau kearifan lokal serta memperhatikan peran serta masyarakat. Pelaksanaan Community Based Management ini diharapkan dalam beberapa tahun kedepan dapat memberikan perubahan-perubahan yang lebih baik dan semakin maju. Perubahan tersebut diantaranya dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya sumberdaya pesisir dan laut dalam menunjang kehidupan, meningkatkan kemampuan dan kapasitas masyarakat sehingga mampu berperan aktif dalam setiap tahapan pengelolaan secara terpadu, dan meningkatkan pendapatan masyarakat dalam bentuk pemanfaatan yang lestari dan berkelanjutan dengan tetap memperhatikan kaidah konservasi lingkungan.[RL] Sumber: Rusthesa Latritiani, S.Pi - Calon Penyuluh Kehutanan Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih
Baca Berita

Kepala Balai KSDA Yogyakarta Buka Uji Petik Pemetaan Kompetensi Polhut

Yogyakarta 23 Oktober 2020, Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi mewakili Kepala Pusat Perencanaan dan Pengembangan SDM KLHK membuka secara resmi uji petik Pemetaan Kompetensi Jabatan Fungsional Polisi Kehutanan di wilayah D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah hari Jum’at (23/10/20). Bertempat di Hotel Santika Premier Yogyakarta, kegiatan uji petik diikuti oleh 30 peserta yang merupakan pejabat fungsional Polisi Kehutanan lingkup D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah yang berasal dari unit kerja Balai KSDA (Yogyakarta dan Jawa Tengah); Balai Taman Nasional (Gunung Merapi, Gunung Merbabu dan Karimun Jawa); serta Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum LHK Wil. Jawa Bali Nusa Tenggara. Uji petik pemetaan kompetensi dimaksudkan untuk mendapatkan data profil kompetensi Jabatan Fungsional Polhut sebagai bahan acuan dalam pelaksanaan pengembangan kompetensi Jabatan Fungsional Polisi Kehutanan. Dalam sambutannya, M. Wahyudi menyampaikan tujuan pelaksanaan uji petik kompetensi ini. “Melalui penyelenggaraan uji petik kompetensi jabatan fungsional Polisi Kehutanan yang diselenggarakan hari ini akan dapat dilakukan pengukuran kompetensi untuk memperoleh data kompetensi jabatan fungsional Polisi Kehutanan di wilayah sasaran, selain itu melalui uji petik ini kita juga akan mendapatkan informasi terkait instrumen dan aplikasi sebagai masukan untuk perbaikan selanjutnya.” kata M. Wahyudi. Lebih lanjut, M. Wahyudi menjelaskan “Penting sekali dilakukan uji petik kompetensi jabatan ini sehingga akan dapat diketahui data kesenjangan atau gap antara kompetensi yang dimiliki dengan yang dipersyaratkan. Harapannya, gap yang dijumpai tidak terlalu lebar, sehingga personil-personil polhut yang ada memang memiliki kompetensi sebagaimana yang diharapkan.” jelasnya. Pemetaan kompetensi dilaksanakan dengan mengacu pada standar kompetensi jabatan fungsional POLHUT sesuai dengan PermenLHK No. P.54 Tahun 2016. Masih dalam kondisi pandemi saat ini, secara teknis pelaksanaan uji petik dilakukan secara online menggunakan aplikasi Sistem Informasi Pemetaan Kompetensi SDM Aparatur (SPEKTRA). Sumber : Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Tim Medis Balai Besar KSDA Riau Siaga Penyelamatan Satwa Dilindungi

Pekanbaru, 22 Oktober 2020 – Klinik transit satwa Balai Besar KSDA Riau kehadiran anak Lutung yang ditemukan tergeletak di jl. Lintas Kampar dalam kondisi sakit pada Senin silam (19/10). Saudara Mario yang menolong satwa tersebut, menyerahkan ke klinik transit satwa untuk diberikan perawatan. Memperhatikan keadaan satwa lutung tersebut, drh. Rini segera menggendong dan berusaha memberikan pertolongannya. Disamping satwa lutung tersebut, terlihat juga beberapa anak dari satwa primata yang sedang dirawat disana. Satwa – satwa dilindungi yang masih anakan memerlukan perhatian khusus, sehingga ditempatkan di Klinik tersebut dengan pantauan langsung dokter hewan, paramedis dan perawat satwa. Namun, terdapat juga satwa yang tidak dilindungi yang butuh pertolongan untuk diobati mereka layani. Apabila kondisi satwa dilindungi yang dititipkan atau diserahkan tersebut dirasa sudah lebih mandiri baru akan ditempatkan di kandang transit satwa sementara sembari dilatih untuk hidup kembali dialam terutama dari jenis makanannya. Jika berdasarkan observasi satwa – satwa tersebut sudah dapat survive hidup di alam bebas, maka dapat segera dilepasliarkan di habitatnya yang jauh dari pemukiman penduduk untuk menghindari terjadinya konflik antara manusia dan satwa liar. Tetap semangat terus dokter Rini, dokter Danang, paramedis bang Aswar, kak Fitra, perawat satwa mas Narko, mas Surono dan bang Deby. #karenakonservasitakmungkinsendiri Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Monev dan Panen Perdana Bantuan BRG Untuk Masyarakat Sekitar Kawasan TN Berbak

Jambi, 22 Oktober 2020 – Bertempat di aula kantor Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang (BTNBS), dilakukan monitoring dan evaluasi oleh Kapoja Pengawasan Internal Badan Restorasi Gambut (BRG) terhadap kegiatan revitalisasi sumber mata pencaharian masyarakat (R3) yang telah dilakukan Sub Pokja Jambi terhadap masyarakat di sekitar kawasan Taman Nasional Berbak. Kegiatan ini dihadiri Pratono Puroso (Kepala BTNBS), Bobby Sandra (Kepala SPTN I BTNBS), Nurazman (Kepala SPTN III BTNBS), Zulfikar Ali (Kepala Subpokja BRG Jambi), A. Triko Iriandi (Kepala Pengawasan Internal BRG), Penyuluh BTNBS, Pendamping BRG, Kades, serta Ketua Kelompok Tunas Muda dan Telago Biru. Revitalisasi sumber mata pencaharian masyarakat merupakan salah satu kegiatan restorasi gambut yang telah dilakukan BRG Subpokja Jambi selain kegiatan pembangunan sekat kanal dan sumur bor serta revegetasi pada tahun 2020. Kegiatannya berupa pemberian bantuan kepada 5 kelompok masyarakat (Pokmas) disekitar kawasan Taman Nasional Berbak, yaitu Pokmas Kemuning Kelurahan Simpang (Pengembangan Depot Air Isi Ulang), Pokmas Tunas Muda Desa Rantau Rasau (Budidaya Lebah Madu Apis mellifera), Pokmas Telago Biru Desa Telago Limo (Budidaya Lebah Madu Apis mellifera), Pokmas Berkat Usaha Desa Air Hitam Laut (Ternak kambing sebesar), dan Pokmas Porja Desa Air Hitam Laut (Pengembangan Depot Air Minum Isi Ulang). Kepala Balai TNBS, Pratono Puroso mengharapkan agar setiap anggota kelompok masyarakat penerima bantuan tetap menjaga kekompakan, menerapkan transparansi dalam pengelolaan keuangan, membicarakan permasalahan dan rencana yang akan dilakukan serta segera menyusun AD/ ART Kelompok. Pratono juga menyampaikan komitmen BTNBS untuk melakukan pendampingan dalam upaya peningkatan pendapatan masyarakat dan meminta dukungan masyarakat dalam upaya pelestarian kawasan dan keanekaragaman hayati TNBS. Tim BRG juga berharap kegiatan ini bisa berkelanjutan dan kelompok dapat berkontribusi kepada kelompok lain. "Pengawasan termasuk kegiatan Monev yang dilakukan untuk meminimalisir dan memperbaiki bila ditemukan kesalahan. Diharapkan penerima bantuan revitalisasi memiliki tanggung jawab moral dan memberikan dampak positif terhadap kawasan dan mempertahankan keberhasilan untuk meningkatkan manfaat bagi warga desa lainnya" ujar Kepala Pokja Pengawasan Internal, A. Triko Iriandi. Sebagai informasi, Kepala Balai beserta Tim BRG Sub Pokja Jambi pada Rabu (21/10) mendampingi Ka Pokja Pengawasan melakukan kunjungan lapangan dan melakukan panen perdana budidaya lebah madu Kelompok Telago Biru dan Kelompok Tunas Muda. Pemberian bantuan ini merupakan salah satu upaya peningkatan pendapatan masyarakat Desa Rantau Rasau dan Telago Limo yang selama ini teridentifikasi melakukan aktifitas penebangan liar di kawasan TN Berbak. Adanya budidaya lebah madu memberikan alternatif lapangan pekerjaan bagi masyarakat kedua Desa tersebut, sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap kawasan Taman Nasional Berbak. Sumber : Balai Taman Nasional Berbak Sembilang
Baca Berita

Kunjungi TWA Seblat, Kepala BBTN Kerinci Seblat Gelar Diskusi & Pembinaan

Seblat, 23 Oktober 2020. Kepala Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) berkunjung ke Pusat Latihan Gajah TWA Seblat pada Jumat (23/10). Pada kunjungan yang menjadi agenda kerja beliau, Kepala Balai Besar TNKS didampingi Kepala BKSDA Bengkulu-Lampung, Kepala Bidang Wilayah III BBTNKS dan Kepala Sub Bagian Tata Usaha BKSDA Bengkulu-Lampung. Disela-sela kunjungannya, Kepala Balai Besar TNKS sempat melakukan pembinaan dan berdiskusi dengan staf di lapangan dan mengapresiasi kinerja petugas resort TNKS/BKSDA, KPHK, Pawang Gajah serta mahasiswa yang sedang melakukan magang/PKL. Kepala Balai Besar TNKS berpesan agar petugas dilapangan selalu melaksanakan tugas dengan penuh kebanggaan karena konservasi mempunyai peran yang sangat besar dalam kehidupan. Khusus untuk generasi muda/mahasiswa, harus mampu dan siap untuk menerima tongkat estafet untuk selalu mendukung pelestarian alam dan kawasan konservasi. Sumber : Humas Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat
Baca Berita

Maragat : Aktifitas Petani Aren di Desa Penyangga TN Batang Gadis

Panyabungan, 23 Oktober 2020. Maragat adalah bahasa mandailing yang digunakan untuk menggambarkan proses seorang petani aren (bargot) mendapatkan air nira dari pohon aren. Aktifitas maragat sudah menjadi aktifitas masyarakat di beberapa desa penyangga Taman Nasional Batang Gadis. Biasanya seorang petani aren akan berangkat menuju hutan untuk mendapatkan nira dan membawa garigit (tabung bambu) berukuran 1 sampai 1,5 meter yang digunakan sebagai tempat air nira yang diambil, untuk menaiki pohon aren petani biasanya menggunakan sigai yang terbuat dari bambu. Setelah pengambilan aren selesai dilakukan , petani aren akan meninggalkan kembali garigit yang kosong selama dua sampai tiga hari untuk dipanen . Nira yang diambil memalui proses maragat akan diolah menjadi gula aren. Sumber : Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Penyelamatan Kawasan Suaka Margasatwa Balai Raja Dengan Kemitraan Konservasi

Pekanbaru, 22 Oktober 2020 – Kegiatan kemitraan konservasi di Suaka Margasatwa (SM) Balai Raja terus menggeliat. Hal ini diakukan sebagai bentuk penyelamatan kawasan konservasi yang merupakan habitat Gajah Sumatera di Kabupaten Bengkalis. Pada Hari Selasa, 20 Oktober 2020, Petugas Resort Duri Balai Besar KSDA Riau yang terdiri dari Ahmad Fitriansyah, Pamusuk S dan kawan kawan dari Resort Duri beserta anggota Manggala Agni bersama sama melakukan kegiatan patroli di dalam kawasan SM Balai Raja. Di sela-sela patroli, Tim melakukan pemasangan rambu-rambu kawasan di sekitar hutan Talang SM. Balai Raja. Tim juga memberikan sosialisasi kawasan SM. Balai Raja kepada masyarakat dan mengajak mereka ikut berpartisipasi dalam menjaga kawasan hutan dan melakukan penanaman bibit pohon. Jenis bibit yang berhasil ditanam adalah Matoa, Sirsak, Kepencong dan Gaharu dengan jumlah keseluruhan 350 bibit. #karenakonservasitakmungkinsendiri Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Mesin Roasting Kopi Baru Kelompok Tani Sinar Baru Taruna Desa Pagar Gunung

Pagar Gunung, 23 Oktober 2020. Balai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) hari ini (23/10) menyerahkan bantuan mesin roasting kopi kepada kelompok tani Sinar Baru Taruna desa Pagar Gunung. Acara ini dihadiri oKepala Balai TN Batang Gadis , Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah II Kotanopan, Kepala Resort 4 Pagar Gunung, Staf Balai TNBG, Kepala Desa Pagar Gunung, Perwakilan Kecamatan Kotanopan dan Anggota Kelompok Tani Sinar Baru Taruna. Kepala Balai menyampaikan semoga bantuan ini akan semakin meningkatkan produktifitas kopi desa Pagar Gunung dan berharap bantuan yang diberikan di jaga bersama oleh kelompok. Rasa terimakasih disampaikan Kepala Desa Pagar Gunung kepada Balai TN Batang Gadis atas bantuan ini serta pendampingan terhadap masyarakat Pagar Gunung dalam hal meningkatkan produktifitas kopi serta pengembangan usaha ekonomi produktif desa Pagar Gunung selama ini. Sinergitas dan pengelolaan kolaboratif akan terus dilakukan antara masyarakat dengan Balai Taman Nasional Batang Gadis untuk mewujudkan hutan lestari masyarakat sejahtera Sumber : Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Sinergitas Menjaga Eksistensi Penyu di Taman Nasional Karimunjawa

Semarang, 23 Oktober 2020. Taman Nasional Karimunjawa menjadi tempat singgah bagi tiga jenis penyu, yaitu Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Lekang (Lepidochelys olivaceae). Lebih dari 85% temuan sarang merupakan sarang penyu sisik. Tantangan pada upaya konservasi penyu di Taman Nasional Karimunjawa adalah lokasi peneluran yang tersebar di 22 pulau. Untuk memudahkan pemantauan sarang penyu, Balai TN Karimunjawa membangun tempat Penetasan Semi Alami Penyu yang terletak di Legon Janten. Pemindahan sarang penyu ke penetasan semi alami dibantu oleh masyarakat yang peduli terhadap kelestarian penyu di Karimunjawa. Program penetasan semi alami yang dilaksanakan oleh Balai TN Karimunjawa sejak tahun 2003 ini bertujuan untuk menyelamatkan telur penyu dari ancaman predator alami maupun manusia. Sampai dengan saat ini, telur penyu yang berhasil ditetaskan dan dilepasliarkan kembali ke alam sebanyak 57.831 ekor. Pada 20 Oktober 2020 rombongan Satuan Kepolisian Perairan Resor Jepara berkunjung ke Taman Nasional Karimunjawa dalam rangka tugas dinas. Disela-sela kunjungannya, Satuan Polair Resor Jepara yang dipimpin langsung oleh Kepala Satuan Polair AKP Lukman Fuadi menyempatkan untuk melepaskan tukik (anak penyu) jenis Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) sebanyak 60 ekor di Pantai Tanjung Gelam. Kegiatan yang dilaksanakan menjelang matahari terbenam ini juga dihadiri Ibu Kepala Balai TN Karimunjawa Ir. Titi Sudaryanti, M.Sc. Sebelum melepaskan tukik, Bu Titi menyampaikan ucapan terima kasih kepada Satuan Polair Resor Jepara yang telah ikut berpastisipsi dalam konservasi satwa liar dan juga berharap agar dengan kegiatan ini populasi penyu di alam semakin meningkat. Sebelum tukik dilepasliarkan ke alam, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) II Karimunjawa, Surahman, S.H. menjelaskan Standar Operasional Prosedur pelepasan tukik di alam mulai dari pembagian tukik yang menggunakan tempat khusus sehingga tidak dipegang langsung dengan tangan, jarak pelepasan dengan bibir pantai sampai tukik berhasil menuju ke laut. Keberhasilan konservasi penyu di TN Karimunjawa karena dukungan para pihak baik instansi pemerintah maupun masyarakat. Sumber : Balai Taman Nasional Karimunjawa
Baca Berita

Peduli Konservasi Orangutan, BBKSDA Sumut Bersama Para Pihak Bekali Tenaga Konservasi Orangutan

Medan, 21 Oktober 2020. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc. For menyampaikan bahwa konservasi Orangutan di Sumatera membutuhkan tren populasi di suatu bentang alam antar waktu tertentu. Informasi populasi dan gangguan habitat sangat dibutuhkan untuk menentukan skala prioritas konservasi orangutan di Indonesia. Pada tahun 2009 - 2011 telah dilakukan di seluruh habitat dimana terdapat populasi liar. Hasil Survei tersebut menjadi rujukan utama populasi Orangutan sumatera dalam penyusunan Strategi Rencana Aksi Konservasi Orangutan 2019- 2029. Survei dan monitoring populasi orangutan dilakukan setiap 10 tahun sekali, pada Survei tersebut fokus pada bentang alam terluas yang kenal dengan Kawasan Ekosistem Leuser, dan bentang alam lainnya dilakukan secara parsial. Dalam rentang waktu 10 tahun tersebut berbagai program konservasi Orangutan terus berjalan dengan berbagai kegiatan, untuk memastikan populasi orangutan tetap lestari. Orangutan sebagai primata arboreal membutuhkan habitat berupa kawasan hutan yang terdapat kanopi. Pada tahun 2020-2022 akan dilakukan Survei dan monitoring populasi Orangutan sumatera dan Orangutan tapanuli di seluruh kawasan hutan yang terdapat populasi liar orangutan. Dalam pelaksanaannya, Survei dengan skala luas melibatkan berbagai pihak terkait yaitu UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Unit Pelaksana Teknis Daerah Provinsi dan Kabupaten, lembaga non pemerintah dan perguruan tinggi. Karena itu, dalam melakukan Survei ini diperlukan satu standarisasi pelaksanaan survei dan koleksi data di lapangan serta pengelolaan data yang dikoleksi. Hal ini bertujuan agar hasil Survei dari berbagai tim bisa seragam sehingga dapat dianalisis dengan baik dengan bias minimum. Metode standar Survei populasi orangutan telah selesai disusun oleh Forum Orangutan Indonesia (FORINA) dan Universitas Nasional dengan judul “Buku Panduan Survei Sarang Orangutan”. Buku panduan tersebut akan digunakan sebagai acuan dalam survei dan monitoring populasi orangutan di Pulau Sumatera tahun 2020-2022. Panduan Survei sarang yang standar perlu diperkenalkan dan diterapkan kepada seluruh anggota atau tim Survei yang akan turun ke lapangan. Tim survei berasal dari akamedisi dan mitra UPT LHK serta masyarakat yang terlibat dalam Survei dan monitoring orangutan. Mengingat jumlah anggota tim dan UPT yang terlibat banyak, maka konsep pelatihan ini adalah Training of Trainer (ToT), sehingga peserta yang diutus dalam pelatihan ini adalah team leader. Hal ini dimaksudkan setiap tim leader lapangan mampu menerapkan metode standar yang memenuhi kaidah ilmiah dan mampu memberikan pengarahan yang tepat kepada masing-masing anggotanya. Tujuan dari pelatihan Survei dan monitoring populasi Orangutan Tapanuli dan Sumatera adalah membangun standarisasi pedoman dan teknik penghitungan sarang orangutan dengan metode Line Transect. Penghitungan populasi orangutan (Sumatera dan Tapanuli) dengan penghitungan sarang sesuai metode standar Line Transect harus memenuhi kaidah-kaidah ilmiah sehingga setiap perwakilan UPT, UPTD, akademisi dan para pihak yang tertarik dengan konservasi orangutan dapat menerapkan metode yang standar tersebut di lapangan. Sasaran dari kegiatan ini adalah para pemangku kepentingan utama yang mewakili UPT KSDAE BBKSDA SU, UPTD Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, dan beberapa mitra kerjasama dari Perguruan Tinggi yang mendukung konservasi dimana terdapat populasi liar orangutan. Pada Pelatihan ini, Tim BBKSDA SU dan Yayasan Ekosistem Lestari melakukan seleksi peserta yang berasal dari Perguruan Tinggi/Universitas yang nantinya akan diikutsertakan dalam tim survey orangutan Sumatera dan orangutan Tapanuli. Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pematang Siantar bekerjasama dengan Balai Besar KSDA Sumatera Utara Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) menyelenggarakan Kegiatan Pelatihan Survei Kepadatan dan Monitoring Populasi Orangutan. Kegiatan ini akan dilaksanakan selama 6 hari mulai tanggal 19 sampai dengan 24 Oktober 2020 di Ecolodge Bukit Lawang, Kecamatan Bahorok Kabupaten Langkat Sumatera Utara. 24 orang peserta yang terdiri dari aparatur dan non aparatur yang berasal dari UPT Direktorat Jenderal KSDAE, Dinas Kehutanan Provinsi dan UPTD, Perguruan Tinggi, serta lembaga yang menangani konservasi Orangutan. Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan guna untuk memberikan pembekalan kepada para tenaga konservasi orangutan dalam melakukan survey dan monitoring populasi orangutan sesuai dengan standar dan pedoman yang berlaku. Dalam rentang waktu 10 tahun tersebut berbagai program konservasi orangutan terus berjalan dengan berbagai kegiatan yang memastikan Orangutan tetap lestari. Adapun yang menjadi ruang lingkup pelatihan ini meliputi teori, penugasan dan praktik dengan menggunakan metode pelatihan meliputi ceramah interaktif, diskusi, penugasan, simulasi dan praktek.Dalam sambutannya Plt. Kepala Pusat Diklat SDM LHK, Ir. Mariana Lubis.MM menyampaikan “bahwa Pelatihan Survei Kepadatan dan monitoring populasi orangutan dilakukan mendukung peran pemangku kepentingan terkait pengelolaan orangtan baik di kawasan hutan maupun penggunaan lain yang merupakan habitat orangutan.Pelatihan ini diharapkan juga menjadi pintu masuk dalam mengembangkan dan memperkuat tenaga ganis di berbagai bidang kehutanan dan lingkungan hidup. Direktur Konservasi Yayasan Ekosistem Lestari Ir. M. Yakob Ishadamy,M.Si mengapresiasi inisiatif ini sebagai sebuah kegiatan kolaborasi yang sangat baik. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara INFORMASI LEBIH LANJUT
Baca Berita

TNKS Jalin Kerjasama dengan Dua Universitas di Provinsi Bengkulu

Hari Rabu tanggal 22 Oktober 2020. Kepala Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat Tamen Sitorus melaksanakan serangkaian agenda kunjungan kerja ke propinsi Bengkulu. Kunjungan kerja ini diawali dengan melakukan pembinaan terhadap staf Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Bengkulu. Selanjutnya, Kepala Balai Besar TNKS yang didampingi oleh Kepala BPTN Wilayah III dan Kepala Balai KSDA Bengkulu bersilaturahmi dengan Rektor Universitas Bengkulu DR Ridwan Nurwazi dan Rektor Universitas Pat Petulai Prof DR Alnopri. Pertemuan ini dilakukan dengan maksud menjalin kerjasama dengan kedua universitas tersebut untuk meningkatkan fungsi dan kelestarian kawasan TNKS, serta meningkatkan peran perguruan tinggi untuk mewujudkan Tridharma nya yang berkaitan dengan pelestarian alam, khususnya kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. Sumber: Humas Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat
Baca Berita

Parapihak Bersepakat Mendukung Penyelesaian Masalah Pengambilan Material Pasir di Kawasan TNGM di Wilayah Kabupaten Magelang

Magelang, 21 Oktober 2020. Perlindungan dan pengamanan kawasan hutan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) menjadi hal utama yang perlu diperhatikan. Terlebih untuk menyikapi kondisi terkini di kawasan TNGM, terkait dengan banyaknya aktivitas pengambilan material pasir secara tradisional yang mulai merangsek ke dalam kawasan TNGM, maka dipandang perlu meningkatkan fungsi koordinasi antar instansi terkait. Oleh karena itu, untuk mendukung fungsi tersebut, dilaksanakan Rapat Koordinasi Perlindungan dan Pengamanan Kawasan Hutan TNGM Tingkat Kabupaten Magelang Tahun 2020. Rapat Koordinasi ini dilaksanakan di Hotel Manohara Resort Borobudur Magelang, pada hari Rabu, 21 Oktober 2020. Rapat Koordinasi ini tetap mengacu pada protokol kesehatan yang berlaku. Dalam kesempatan ini, hadir 17 instansi yang diundang, yaitu antara lain dari UPT KLHK lingkup D.I Yogyakarta dan Jawa Tengah, instansi terkait lingkup Jawa Tengah, lingkup D.I Yogyakarta, lingkup Kabupaten Magelang, dan juga lingkup Kecamatan Srumbung. Rapat Koordinasi merumuskan 7 (tujuh) poin sebagai berikut : 1) penambangan di kawasan TNGM tidak hanya menimbulkan masalah ekologi (hutan dan tata air), tetapi juga masalah sosial ekonomi, sehingga semua pihak harus menyelesaikan bersama-sama. 2) Kemudian juga disampaikan bahwa Desa Kemiren dan Desa Kaliurang, Kecamatan Srumbung membutuhkan pemecahan masalah akibat dampak tambang, diantaranya berkurangnya debit air dan luas lahan. 3) Selain itu, perlunya pengawasan dari BBWSO dan dukungan dari semua pihak terhadap sungai dan sempadan sungai serta aktivitas tambang berizin maupun yang tidak berizin. 4) Aktivitas penambangan illegal berpotensi menimbulkan konflik, karena sumber daya material semakin habis. 5) Disepakati juga bahwa perlu satu suara terhadap permasalahan tambang. 6) Dan perlu adanya telaah detail dari TNGM untuk disampaikan kepada Kementerian LHK dan Kementerian ESDM serta Kemenko Maritim dan instansi terkait permasalahan aktivitas penambangan illegal. 7) Semua yang hadir di forum mendukung penyelesaian masalah penambangan di dalam kawasan TNGM di wilayah Kabupaten Magelang, dengan solusi yang konkrit dalam bentuk patroli bersama dan aksi penanaman bersama di lokasi bekas penambangan. Rapat Koordinasi ini diharapkan dapat mendukung percepatan penyelesaian masalah pengambilan material pasir di kawasan TNGM, khususnya di wilayah Kabupaten Magelang. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Merapi

Menampilkan 2.897–2.912 dari 11.141 publikasi