Sabtu, 16 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Bantuan Eiger Palu Untuk Murid-murid Sekolah Lipu

Palu, 4 November 2020 - Setelah postingan di media sosial Instagram @bksdasulteng tanggal 20 Oktober 2020 mengenai Joki, anak didik Sekolah Lipu yang berada di dalam kawasan Cagar Alam Morowali yang mengenakan tas dari karung bergambar logo Eiger, akhirnya pada tanggal 3 November 2020 bisa terwujud. Berkat bantuan dari Bapak Abraham dan Ibu Kartini dari Eiger Palu yang berkenan mewujudkan Sebagian mimpi dari anak-anak ini, akhirnya bukan hanya Joki bahkan seluruh murid sekolah lipu mendapatkan apa yang mereka impikan yaitu Tas Merk Eiger, buku tulis dan alat-alat sekolah. Bantuan ini diterima langsung oleh Kepala Balai KSDA Sulawesi Tengah Ir. Hasmuni Hasmar, M.Si. Dalam kesempatan ini pihak Eiger Palu berharap bantuan dari mereka ini dapat menambah semangat Joki dan murid sekolah lipu lainnya untuk belajar lebih giat dan bersemangat. Sementara itu Kepala Balai KSDA Sulawesi Tengah sangat mengapresiasi dan berterima kasih atas perhatian dan bantuan pihak Eiger Palu untuk ikut berperan serta membantu murid-murid sekolah lipu di dalam Cagar Alam Morowali. Diharapkan untuk kedepannya pihak Eiger Palu dan Balai KSDA Sulawesi Tengah akan bisa bekerjasama dalam bidang konservasi khususnya di wilayah Provinsi Sulawesi Tengah. Sumber : Amelia, Tim Humas Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Pelepasan Tukik, Lelah Yang Terbayar Tuntas

Sagulubbeg, 4 November 2020 - Diawali dengan keprihatinan banyaknya telur penyu yang diamanakan petugas Resort Sagulubbeg Seksi Pengelolaan TN. Wilayah I bersama masyarakat yang tidak sampai menetas dikarenakan tingginya gangguan alami dan non alami. Gangguan tersebut berupa pengambilan telur penyu oleh predator alami seperti anjing dan babi, abrasi, ditambah lagi telur yang ditemukan oleh masyarakat selalu diambil. Bahkan bila dijumpai penyu yang sedang bertelur, yang diambil tidak hanya telurnya namun beserta dengan penyunya untuk dikonsumsi. Pada tahun 2018, dimulailah dilakukan upaya penyelamatan telur secara mandiri, bertepatan dengan musim peneluran penyu di Desa Saggulubeg dan sekitarnya. Masa bertelurnya penyu di daerah ini terjadi pada bulan September sampai dengan April. Kegiatan ini dilakukan melalui upaya penyadartahuan oleh petugas Resort Seksi PTN Wilayah I kepada masyarakat pemburu penyu dan telur penyu. Selain itu, petugas bekerja sama dengan masyarakat dalam upaya konservasi penyelamatan telur penyu ini. Bentuk kerjasama yang dilakukan dengan masyarakat meliputi masyarakat sebagai pencari telur di habitat asli penyu sekaligus memelihara telur-telur tersebut di areal penetasan semi captive yang telah ditentukan. Setiap telur yang dipindahkan diberikan insentif kepada masyarakat. Pada upaya penyelamatan pertama, karena belum memiliki pengetahuan yang cukup maka dua sarang yang dipindahkan kemudian dilakukan proses penetasan semi alami mengalami kegagalan. Hal ini dikarenakan tempat pemindahan diterjang abrasi, sehingga telur yang dipindahkan berserakan. Pada percobaan kedua untuk ketiga sarang yang dipindahkan juga ternyata masih gagal. Kegagalan dikarenakan tempat pemindahan telur digenangi air ketika hujan turun, sehingga telur tersebut membeku karena tempat penanaman terlalu basah. Pada percobaan ketiga, petugas bekerjasama dengan masyarakat berhasil mengamankan empat sarang telur penyu jenis Lekang (Lepidochelys olivaceae) yang dipindahkan semua menetas dan tingkat penetasan telur mencapai 80 - 90 %. Dari rata-rata 90 butir telur yang dipindahkan setiap sarang menetas 78 - 95 tukik. Ketika pagi datang, kabar ini disampaikan pada anak-anak SDN Sagulubbeg, mereka gembira sembari melepas tukik kembali ke alam (habitat aslinya). Hal ini bertujuan sebagai sarana pendidikan konservasi pada usia dini. Tak diduga ternyata tukik yang menetas mampu melunasi semua dahaga dan usaha untuk menyelamatkan telur penyu yang selama ini tidak sampai menetas. Sumber: Rusdianto (PEH) - Balai TN Siberut
Baca Berita

Lepas Liar Harimau Sumatera “Sri Nabilla”

Gayo Lues, Balai Besar KSDA Sumatera Utara 3 November 2020. Sesuai rencana, dengan tetap mematuhi dan menerapkan protokol kesehatan, Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) betina “Sri Nabilla” yang masuk kandang jebak di Desa Tapus Sipagimbal, Kecamatan Aek Bilah, Kabupaten Tapanuli Selatan tanggal 24 Agustus 2020 telah dilepasliarkan di habitatnya daerah Kappi yang merupakan Zona Inti Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser Kabupaten Gayo Lues. Berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan, Kappi-Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dipilih sebagai lokasi lepas liar “Sri Nabilla”. Lokasi ini cocok untuk lepas liar mengingat di lokasi ini ditemukan kaisan harimau artinya Kappi - TNGL tepatnya di Cempege adalah habitat harimau sumatera. Luas lokasi ini ± 4 Ha, ketinggian 1.320 mdpl, datar, terbuka dan berbatu, dan bagian dari zona inti TNGL yang menyatu dengan hutan zona inti TNGL. Lokasi ini dekat sumber air dan terdapat saltlick yang tersebar. Di lokasi ini juga ditemukan tanda-tanda keberadaan satwa mangsa seperti rusa, kijang dan kambing hutan. Sebelum dilakukan lepas liar di lokasi ini sudah dilakukan pembersihan jerat oleh BBTNGL agar harimau yang dilepas liarkan tidak terjerat. Melalui koodinasi dan diskusi panjang dan efektif dengan melibatkan semua stakeholder Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) dan semua lembaga mitra yang bergerak di bidang konservasi harimau akhirnya Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) “Sri Nabilla” kita lepas liarkan di Kappi - TNGL. “Sri Nabilla” dibawa melalui jalur darat dari Sanctuary Harimau Barumun Nagari, Aek Godang, Barumun - Tapanuli Selatan – Sipirok – Siborong-borong – Dolok Sanggul – Sidikalang (Sumatera Utara) menuju Aceh melalui Kutacane Kabupaten Aceh Tenggara dan terakhir ke Blangkejeren - Kabupaten Gayo Lues Aceh di Bandara Patiambang dengan memakan waktu ± 20 jam. Selama dalam perjalanan darat “Sri Nabilla” selalu dimonitor oleh Tim BBKSDA Sumatera Utara yang dipimpin oleh Kepala Bidang Konservasi Wilayah III BBKSDA Sumatera Utara, Gunawan Alza. S. Hut dan Tim Medis oleh drh. Anhar Lubis. Dari Bandara Patiambang harimau sumatera “Sri Nabilla” diangkut menggunakan Helikopter ke lokasi lepas liar di Kappi – TNGL. Pukul 08.00 WIB kegiatan lepas liar harimau sumatera “Sri Nabilla” dimulai. Di Bandara Patiambang Blangkejeren – Gayo Lues ini, telah berkumpul Tim Lepas Liar Harimau Sumatera “Sri Nabilla” yang terdiri dari Direktorat KKH Ditjen KSDAE, Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Balai Besar TNGL, Bupati Gayo Lues, Yayasan Parsamuhuan Bodhicitta Mandala Medan, PT. Agincourt Resources, Forum Konservasi Leuser (FKL) , Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program, PIU Sumatran Tiger Project - Leuser Landscape (GEF – UNDP), serta media cetak dan elektronik. Sebagai catatan, Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) “Sri Nabilla” berkonflik sejak bulan Mei 2020 di Desa Tapus Sipagimbal, Kecamatan Aek Bilah, Kabupaten Tapanuli Selatan. Pada tanggal 4 Agustus 2020, harimau sumatera ini muncul memangsa seekor anjing dan ular serta ternak warga. Tanggal 15 Agustus 2020, kembali harimau sumatera ini memangsa ternak warga seekor kambing di dekat permukiman warga. Tanggal 22 Agustus 2020, Tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara turun ke lokasi, bersama-sama dengan petugas Koramil setempat dan masyarakat memasang perangkap (kandang jebak). Tanggal 24 Agustus 2020, Harimau Sumatera “Sri Nabilla” ini masuk ke dalam kandang jebak (perangkap) kemudian dievakuasi dan di observasi ke Sanctuary Harimau Barumun Nagari – di Barumun Tapanuli Selatan. Kondisi “Sri Nabilla“ saat itu secara umum sehat namun mengalami malnutrisi sehingga tubuhnya terlihat agak kurus akibat tidak mendapatkan pakan yang cukup. Harimau juga mengalami dehidrasi dan anemia sehingga kondisinya terlihat lemah waktu itu. Selain itu banyak ditemukan parasit externa (kutu) pada tubuhnya dan terdapat indikasi gangguan hati. Umur ± 2 - 3 tahun dan berat 45,2 Kg. Pengecekan kesehatan secara berkala dilakukan selama dirawat 2,5 bulan di Sanctuary Harimau Barumun Nagari – Barumun Tapanuli Selatan. Pengecekan kesehatan yang dilakukan pada tanggal 25 Agustus 2020 dan 8 September 2020, kesehatan dan perilaku harimau sumatera menujukkan kesehatan “Sri Nabilla” semakin sehat dan baik. Selama dalam masa perawatan monitoring juga selalu dilakukan terhadap nafsu makan, agresifitas serta pergerakannya. Hasil pengecekan medis terakhir tanggal 30 Oktober 2020 menunjukkan kondisi Sri Nabilla sehat dan siap untuk dilepasliarkan. Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) termasuk satwa liar dilindungi sesuai Peraturan Permerintah No. 7 Tahun 1999 dan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi, sedangkan menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (Critically endangered). Populasinya diperkirakan + 500 - 600 ekor yang tersebar di hutan-hutan Pulau Sumatera (Population Viable Assesment, 2016). Terimakasih kepada Bupati Gayo Lues, Direktorat KKH Ditjen KSDAE, Balai Besar TNGL, Yayasan Parsamuhuan Bodhicitta Mandala Medan, PT. Agincourt Resources, Forum Konservasi Leuser (FKL), Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program, PIU Sumatran Tiger Project - Leuser Landscape (GEF – UNDP), media cetak dan elektronik serta semua pihak yang telah berpartisipasi dan berkontribusi pada suksesnya proses persiapan dan kegiatan lepas liar harimau sumatera “Sri Nabilla”. Semoga “Sri Nabilla” dapat beradaptasi dan survive di habitatnya. Sumber: Balai Besar KSDA Sumatera Utara Penanggung jawab berita : Kepala Subbag Data, Evlap dan Kehumasan BBKSDA Sumut Andoko Hidayat – 082161021460 Informasi lebih lanjut :
Baca Berita

4 Tahun Pelepasliaran Elang Jawa Di Ponorogo

Rabu, 4 November 2020 - Ponorogo menjadi salah satu lokasi pelepasliaran bagi Elang Jawa di Jawa Timur. Bukan tanpa maksud, karena di kabupaten ini terdapat dua cagar alam yang menjadi side monitoring, yakni Cagar Alam Gunung picis dan Cagar Alam Gunung Sigogor. Setidaknya sudah tiga ekor Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) yang telah dilepasliarkan di sekitar Cagar Alam Gunung Picis dan Cagar Alam Gunung Sigogor, Ponorogo. Dan tahun ini, tepat 4 tahun kegiatan pelepasliaran tersebut telah berlangsung. Ketiga pelepasliaran tersebut menjadi kerjasama yang solid antara Balai Besar KSDA Jawa Timur, Yayasan Konservasi Elang Indonesia (YKEI) dan PT. Pertamina. Dan semua seluruhnya dilaksanakan pada tahun 2016, 2017 dan 2019. Pada 15 Desember 2016 pelepasliaran dilakukan terhadap Gogor, seekor Elang Jawa berusia 19 bulan di Cagar Alam Gunung Picis, Ponorogo. Gogor merupakan hasil sitaan Kepolisian Daerah Jawa Timur yang telah melalui proses rehabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Yogyakarta selama kurang lebih 17 bulan. Selanjutnya, pelepasliaran juga dilakukan terhadap “Wilis” pada 2 Oktober 2017 di hutan produksi yang terletak di Dukuh Toyomarto, Desa Pupus, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo. Disekitar desa ini juga dilakukan pelepasliaran seekor Elang Jawa jantan pada 20 November 2019. Desa ini merupakan desa penyangga dari Cagar Alam Gunung Sigogor. Spesies Prioritas Awalnya, pelepasliaran Elang Jawa ini memiliki salah satu tujuan untuk meningkatkan populasi spesies prioritas utama yang terancam punah jenis Elang Jawa sebesar 10% hingga tahun 2019. Namun, secara bersamaan kegiatan pelepasliaran ini juga menjadi upaya konservasi bagi burung pemangsa tersebut yang dilakukan BBKSDA Jatim bersama YKEI dan stakeholder yang ada. Pun, sebagai media penyadartahuan kepada pelajar maupun masyarakat bahwa Elang memang seharusnya hidup di alam bebas. Menurut Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, drh. Indra Exploitasia, M.Si. bahwa tujuan pelepasliaran ini adalah untuk meningkatkan jumlah populasinya di alam. Dan jumlah Elang Jawa di side-side monitoring meningkat secara signifikan dalam 5 tahun terakhir. “Di side monitoring Cagar Alam Gunung Picis dan Sigogor ini dijumpai 7 -11 ekor. Dan untuk keseluruhan Pulau Jawa setidaknya ada 300 pasang Elang Jawa,” imbuh Indra. Bagi Gunawan dari YKEI, pelepasliaran Elang Jawa menjadi bentuk pertanggungjawaban politis dari pihak BKSDA dan para pemerhati elang bahwa satwa-satwa hasil sitaan ini dapat dikembalikan ke alam. Dengan harapan mereka dapat berkembangbiak serta dapat menjalankan fungsinya sebagai kontrol populasi. Pengamatan yang dilakukan di Cagar Alam Gunung Picis dan Cagar Alam Gunung Sigogor selama kurun waktu 2013 – 2019 menunjukkan bahwa populasi Elang Jawa di kawasan tersebut mengalami peningkatan. Hal ini ditandai dengan adanya individu-individu muda dan perjumpaan di lokasi baru. “Pada kurun waktu 2013-2018 saja, populasi elang jawa di kedua kawasan konservasi telah mengalami kenaikan sekitar 233%. Kenaikan jumlah ini disebabkan adanya program pelepasliaran serta adanya perjumpaan elang jawa di lokasi yang baru”, Pungkas Gunawan. Populasi Elang Jawa yang meningkat di kedua kawasan konservasi selain disebabkan kondisi habitat yang baik, juga karena didukung dengan kondisi habitat di sekitarnya yang juga baik. Kawasan penyangga kedua kawasan konservasi tersebut berupa hutan lindung, hutan produksi dan ladang masyarakat yang turut menyediakan habitat tambahan bagi Elang Jawa. Namun hal yang patut diperhitungkan selain luas kawasan yang hanya 210,2 Ha., juga hadirnya 11 jenis burung pemangsa lainnya. Yakni, Elang hitam, Elang ular bido, Sikep madu asia, Elang alap china, Elang alap nippon, Elang alap jambul, Beluk jampuk, Celepuk reban, Elang perut karat, Alap-alap kawah, dan Alap-alap sapi. Hal ini bisa menjadi bahan pertimbangan apakah kawasan ini akan tetap menjadi side pelepasliaran Elang Jawa kedepannya atau mencaritahu lokasi lain yang mampu menopang kehidupan Sang Garuda tersebut. Sumber: Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Pustaka Pinggir Jalan: Dari Balai TN Siberut untuk Generasi Muda Mentawai

Sikabaluan, 28 Oktober 2020. Dalam rangka meningkatkan minat baca masyarakat di daerah penyangga kawasan konservasi di wilayah kecamatan Siberut Utara terutama Desa Muara Sikabaluan, Desa Malancan dan Desa Monganpuola, Taman Nasional Siberut melalui Seksi PTN Wilayah II hadir dengan inovasi berupa program 'Pustaka Pinggir Jalan'. Dengan jadwal rutin 4 kali seminggu (Selasa, Kamis, Sabtu dan Minggu) dan lokasi yang berbeda-beda, program ini menyediakan fasilitas buku bacaan yang layak bagi masyarakat, terutama bagi masyarakat usia sekolah. Hingga saat ini koleksi buku mencapai hingga 200 buah, terdiri dari buku jenis fiksi ilmiah seperti (buku pengetahuan umum, best practice dll.) hingga buku non fiksi (seperti novel dan karya sastra sejenis). Program perdana dilaksanakan pada hari Selasa 27 Oktober 2020 di Pelabuhan Pokai, Desa Muara Sikabaluan, dengan peserta program mencapai 13 orang. Pelaksanaan program ini dibantu oleh 8 orang mahasiswa Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Riau yang sedang melaksanakan Praktik Kerja Kehutanan di Balai Taman Nasional Siberut. Selain berkoordinasi dengan otoritas pelabuhan, pelaksanaan program tetap mematuhi protokol kesehatan dalam rangka percepatan penanganan pandemi COVID-19 seperti penggunaan masker dan fasilitas hand sanitizer di lokasi. Respon positif didapatkan baik dari peserta maupun dari tokoh masyarakat yang mengharapkan program ini dapat berlanjut dan jumlah koleksi buku dapat bertambah. Sumber: Cecep Sumarna (Polhut) - Balai TN Siberut
Baca Berita

Warga Tungkal Temukan Ular King Kobra

Tanjabbar, 27 Oktober 2020. Didampingi petugas kantor pemadam kebakaran dan komunitas pecinta reptil, masyarakat berhasil mengamankan seekor ular king kobra (Ophiophagus hannah) di Kelurahan Tungkal 1, Kecamatan Tungkal ilir, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Ular kemudian diserahkan kepada petugas Resort Kuala Tungkal, Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi agar dapat ditindak lanjuti. Ular king kobra (Ophiophagus hannah) yang diserahkan tersebut ditemukan warga di belakang Kantor Urusan Agama (KUA) Tungkal. Atas penyerahan itu, Faried, SP, selaku Kepala SKW III langsung mengerahkan anggotanya untuk mengecek kondisi ular king kobra. Setelah dilakukan pengecekan, ular sepanjang 3,2 meter ini dalam kondisi sehat dan baik yang selanjutnya dilepasliarkan oleh petugas ke salah satu habitat yang sesuai di Provinsi Jambi. King Kobra (Ophiophagus hannah) atau juga disebut ular lanang, adalah spesies ular besar yang juga merupakan ular terpanjang di dunia. Tubuh bagian atas (dorsal) berwarna cokelat kekuningan, atau keabu-abuan, dengan bagian kepala yang berwarna cenderung lebih terang. Bagian bawah tubuhnya (ventral) berwarna kelabu atau kecokelatan, dengan daerah leher berwarna kekuningan yang dihiasi bercak kehitaman. Ular ini hidup di daerah dataran rendah hingga ketinggian 1800 meter dpl. Habitat utamanya meliputi hutan, rawa-rawa, daerah bersemak, lahan pertanian, dan bahkan di sekitar pemukiman. Dilansir dari National Geograpic, ular menjadi hewan yang sangat penting bagi ekosistemnya. Hal ini karena ular king kobra merupakan predator pemangsa dalam rantai makanan. Dalam rantai makanan sawah, kehadiran ular juga menjaga populasi tikus. Badan konservasi dunia, The International Union for Conservation of Nature (IUCN), memasukan ular king kobra ini kedalam kategori rentan. Sedangkan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of wild fauna and flora) masukkannya ke dalam daftar Appendix II , dimana daftar spesies yang tidak terancam kepunahan, tetapi mungkin terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan. Kepala Balai KSDA Jambi, Rahmad Saleh, S.Hut.,M.Si menyampaikan bahwa “Kami sangat mengapresiasi kesadaran masyarakat yang telah menyerahkan ular king kobra kepada petugas. Ular king kobra ini memiliki peran yang besar dalam menjaga kestabilan ekosistem di alam, maka dari itu kita mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kelestarian Sumber Daya Alam (SDA) sebagai warisan untuk anak cucu kita mendatang dan titipan Allah SWT” tutupnya. Sumber : Humas Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Dihadiri Sekda Maluku Utara, Begini Keseruan Festival Aketajawe

Sofifi, 2 November 2020. Festival Aketajawe merupakan kegiatan yang diselenggarakan atas kerjasama Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata dan Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Utara dengan panitia pelaksana adalah Komunitas Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Maluku Utara. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan Sail Tidore pada bulan Juli tahun depan. Festival dengan tema “Escape to National Park” ini dilaksanakan di kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) di Resort Tayawi selama 2 hari, pada tanggal 30 dan 31 Oktober 2020. Titik kumpul peserta dipusatkan di kantor Balai TNAL yang kemudian dilepas keberangkatannya menuju lokasi festival oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Utara dan Kepala Balai TNAL pada tanggal 30 Oktober 2020 sekitar pukul 14:30 WIT. Kepala Dinas Pariwisata dalam sambutannya mengatakah bahwa salah satu acara dalam rangka pra Sail Tidore adalah Festival Aketajawe ini. Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata yang telah bersedia menjadi lokasi kegiatan festival serta berterima kasih kepada Genpi yang telah menyiapkan kegiatan ini. Kepala Balai juga menyampaikan selamat datang kepada para peserta dan memberikan sambutan agar peserta tetap menjaga protokol kesehatan, tidak membuang sampah, tidak minum alkohol, tidak berkata kotor, dan tetap menjaga kelestarian kawasan taman nasional. Setelah sampai di Resort Tayawi, peserta langsung dipandu oleh petugas Balai TNAL menuju area perkemahan. Sesaat sebelum sampai ke area perkemahan, peserta dikejutkan oleh kedatangan masyarakat Suku Tobelo Dalam yang bersenjata lengkap berteriak-teriak dan mengusir peserta dari kawasan mereka. Atraksi ini adalah atraksi penyambutan para peserta kegiatan yang telah disiapkan oleh panitia. Seluruh pesertapun terkejut ketakutan. “Tadi Tong (saya) so mau naek kelapa dibelakang, so tara tahu mau lari kemana”, kata salah satu peserta. “Ini prank yang bikin jantung talepas”, imbuhnya. Beberapa rangkaian kegiatan Festival Aketajawe diantaranya adalah, kuis, api unggun, barbeku, diskusi konservasi, pengamatan burung Bidadari Halmahera, susur sungai, tarian adat Suku Tobelo Dalam, bakti sosial, penanaman pohon, pelepasan burung paruh bengkok, dan pembukaan kembali kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata untuk wisatawan. Diskusi konservasi menghadirkan Kepala Balai TNAL, Polisi Kehutanan, Koordinator Suaka Paruh Bengkok dan tokoh pemerhati lingkungan dari akademisi. Diskusi tersebut banyak bercerita tentang potensi dan pengelolaan wisata alam di dalam kawasan TNAL secara lestari. Acara diskusi tersebut berlangsung sampai dengan pukul 23:30 WIT. Keesokan harinya, para peserta dipandu oleh Petugas Resort menuju lokasi monitoring burung Bidadari Halmahera (Semioptera wallacii). Peserta sangat antusias ingin melihat ikon Maluku Utara ini secara langsung. Sesampainya di lokasi pengamatan, peserta melihat 1 individu Bidadari Halmahera yang sedang terbang dari pohon yang satu di pohon yang lainnya. Petugaspun menjelaskan bahwa pada bulan Oktober sampai Desember biasanya jumlah burung Bidadari Halmahera yang berada di area pangamatan mengalami penurunan dibandingkan bulan-bulan lainnya. Kegiatan selanjutnya adalah pembukaan kembali kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata untuk wisatawan. Pembukaan ini dibacakan resmi oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Maluku Utara yang didampingi oleh Kepala Balai TNAL. Setelah pembacaan reaktivasi kawasan TNAL tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan bakti sosial, yaitu pembagian sembako kepada warga Masyarakat Tobelo Dalam, penanaman dan pelepasliaran burung paruh bengkok. Sekda Provinsi Maluku Utara sangat senang dan memberikan apresiasi terhadap kegiatan ini. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra – Polhut Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Tadabur Alam di Sanctuary Maleo Muara Pusian

Kotamobagu, 1 November 2020. Meskipun sudah beberapa hari dalam perayaan hari sumpah pemuda akan tetapi semangat pemuda pemudi masih berkobar sampai saat ini, hal ini dibuktikan dengan pelaksanaan Tadabur Alam oleh Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado di Sanctuary Maleo Muara Pusian bersama Personil Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone pada Minggu (1/11). Sebanyak 66 orang dari pihak IAN Manado hadir yang juga dihadiri oleh Dekan Fakultas Tarbiyah beserta para pembimbing. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai wujud semangat mahasiswa IAIN Manado dalam merenungi dan menghayati segala sesuatu yang ada dibumi yang telah diciptakan oleh-Nya yang bertujuan untuk mengenal dan melestarikan keberadaannya. Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja mahasiswa yang melaksanakan KKT bagi mahasiswa yang berdomisili di Kabupaten Bolaang Mongondow Raya yang tersebar dalam empat posko. Kegiatan Tadabur Alam ini meliputi kegiatan aksi bersih dan penanaman pohon di areal Sanctuary Maleo Muara Pusian. Dalam sambutannya Dekan Fakultas Tarbiyah menyebutkan bahwa “kegiatan ini merupakan kegiatan yang sangat bagus yang merupakan program KKT pertama di IAIN Manado oleh karena itu melalui kegiatan tadabur alam ini kita dapat menjalin hubungan erat dengan Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) sehingga ke depannya kita dapat melaksanakan lagi kegiatan tersebut di TNBNW yang dirangkaikan dengan kegiatan lain . Harapannya mencintai dan menjaga alam semesta adalah tanggung jawab kita semua semoga apa yang kita tanam hari ini dapat kita tuai dikemudian hari.” Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dalam hal ini di wakili oleh kepala SPTN Wilayah III Maelang bapak Yulian sadono, S.Hut, MT menyampaikan Terima kasih atas kunjungannya kawan - kawan mahasiswa dari IAIN Manado dan menaruh harapan besar kepada kaum milenial untuk senantiasa menjaga alam sekitar semoga apa yang kalian perbuat hari ini dapat menjadi langkah awal kesuksesan dan dapat bermanfaat bagi Nusa dan Bangsa. Sumber : Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
Baca Berita

Lolos Verifikasi Wisata Era New Normal, Sukamade Siap Sambut Pengunjung

Banyuwangi, 2 November 2020 - Oktober menjadi momentum bagi pembukaan kembali Obyek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) pantai Sukamade yang merupakan salah satu destinasi unggulan Kabupaten Banyuwangi. Tepatnya hari kamis tanggal 29 Oktober 2020 telah dilakukan penilaian dan verifikasi ODTWA oleh Tim Satgas Covid 19 Kabupaten Banyuwangi yang dipimpin langsung Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi M.Y.Bramuda, S.Sos, MBA, MM dengan anggota tim terdiri dari Kepala Seksi Pengembangan SDM kepariwisataan, Kepala Seksi Pengelolaan dan Pengembangan Destinasi Wisata, Bappeda Kabupaten Banyuwangi. Penilaian dan verifikasi ODTWA Pantai Sukamade disaksikan oleh Kepala Seksi Pengeloaan Taman Nasional (SPTN) III Kalibaru yang juga menjabat Plt. KSPTN I Sarongan Sulistriato, S.Si, M.Si, staf pengelola wisata TN. Meru Betiri, Forum Sukamade Ecotourism Service, komunitas tour operator/ jeeper dan seluruh personil Resort Sukamade. Hasil penilaian dan verifikasi dari Tim Satgas Covid 19 Kabupaten Banyuwangi tersebut menyatakan bahwa ODTWA Pantai Sukamade telah sesuai protokol Covid 19 dan boleh dibuka untuk kunjungan wisata. Kuota kunjungan wisata ODTWA Pantai Sukamade pada era New Normal sebesar 100 orang. Harapan Tim verifikasi bahwa dalam menjalankan pelayanan wisata agar seluruh petugas dan pengunjung selalu mematuhi protokol kesehatan. Purhadinata mewakli komunitas jeep menyambut dengan sangat antusias dengan lolosnya verifikasi ini dan berharap dapat kembali menggairahkan sektor pariwisata di kawasan Kabupaten Banyuwangi yang sempat lesu selama era pandemi ini. Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Pantau Hasil Transplantasi Karang, Balai TN Bunaken Ajak Korem 131 Santiago dan OASIS Dive Center

Manado, 2 November 2020. Balai Taman Nasional Bunaken melaksanakan pemantauan hasil transplantasi karang yang terletak di perairan Alung Banua, Pulau Bunaken pada Sabtu (31/10) bersama para pihak antara lain Korem 131 Santiago dan OASIS Dive Center. Karang memegang peranan penting di Taman Nasional Bunaken, sebagai salah satu ekosistem yang mendapatkan perhatian penting sebagai destinasi utama para wisatawan yang datang untuk menyelam dan snorkeling dalam menikmati keindahan alam. Dalam penyampaian Plt. Kepala Balai Taman Nasional Bunaken Nikolas Loli, SP bahwa karang sangat rentang terhadap perubahan, sebagai eksosistem unik karang memegang peranan penting dalam sumber daya perairan. Selama musim penghujan ini banyak muncul bintang laut berduri dan sampah, dan sering sekali hal ini menjadi masalah pertumbuhan karang, adapun upaya transplantasi karang merupakan pendekatan untuk memperbaiki eksositem terumbu yang selama ini terdegradasi, dan dalam kegiatan ini kami melibatkan para pihak antaranya dengan Korem 131 Santiago dan Dive center, tutur Niko. Dalam kesempatan tersebut turut hadir Komandan Korem 131 Santiago yang mensuport penuh dalam pelestarian kawasan. Kami sangat mengapresiasi kegiatan pelestarian kawasan, kepedulian kami untuk lingkungan diharapkan dapat memberikan manfaat nyata kepada kawasan. Secara teritori ini perlu dìpertahankan, sebagai aset bangsa Taman Nasional Bunaken sudah mendunia, sekecil apapun kontribusi kami dalam mendukung pelestarian lingkungan, akan memberikan manfaat nyata, tutup Danrem Transplantasi karang bersama OASIS Dive Center di perairan Alung Banua telah dilaksanakan sejak tahun 2018, dan sejauh ini hasil pemulihan ekosistem tersebut mencapai pertumbuhan yang optimal. Manajer Dive OASIS Megi Sutanto dalam kesempatan terpisah menyampaikan apresiasi yang luar biasa dalam upaya pelestarian lingkungan, utamanya karang. Dukungan kami sepenuhnya untuk memastikan terumbu karang tetap baik, sebagai bentuk kontribusi kami kedepan terhadap lingkungan dari usaha wisata di TN Bunaken. Selain pemantau hasil transplantasi karang, selama kegiatan juga dilaksanakan pelepasan tukik penyu dan pembersihan sampah di bawah laut. Sumber : Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Dua Anak Badak Jawa Lahir di Taman Nasional Ujung Kulon

Labuan, 20 September 2020. Bertepatan dengan momen perayaan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2020, diumukan kabar kelahiran dua Badak Jawa di Taman Nasional (TN) Ujung Kulon, masing-masing satu jantan dan satu betina. Kedua individu baru tersebut dapat diketahui dari hasil monitoring tim Balai TN Ujung Kulon sejak bulan Maret hingga Agustus tahun 2020 dengan menggunakan 93 video kamera jebak. Hingga Agustus tahun ini, jumlah kumulatif Badak Jawa menurut data terakhir KLHK, mencapai 74 individu, masing-masing 40 jantan dan 34 betina, dengan komposisi umur terdiri dari 15 adalah individu anak dan 59 merupakan pada klaster usia remaja-dewasa. Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK, Wiratno pada penjelasan soal Badak Jawa di Jakarta (18/09/2020) menyampaikan bahwa kondisi habitat Badak Jawa di TN Ujung Kulon terbukti masih baik, yang ditandai dengan kelahiran Badak Jawa. Tahun lalu, di TN Ujung Kulon juga terdapat empat kelahiran individu Badak Jawa. “Kelahiran Badak Jawa di TN Ujung Kulon tersebut juga mempertegas bahwa populasi Badak Jawa terus mengalami perkembangbiakan alami dengan baik, sehingga terus memberi harapan besar bagi kelangsungan hidup satwa langka spesies Badak Jawa” jelas Wiratno. Wiratno juga memastikan, perihal ketersediaan pakan Badak Jawa di semenanjung Ujung Kulon masih relatif sangat baik, sehingga menjadi daya dukung kehidupan dan perilaku Badak Jawa pada saat ini dan masa yang akan datang. Wiratno kemudian menegaskan bahwa, walaupun dalam situasi pandemi COVID-19, monitoring lapangan terus dilakukan diantaranya melalui video kamera jebak masih terus berlanjut. Kegiatan monitoring dan pengamanan penuh (full protection) terus dilakukan hingga akhir Desember 2020. “Pengambilan data dan observasi habitat terus dilakukan. Pandemi ini tidak menghentikan kegiatan lapangan KLHK khususnya petugas konservasi di TN Ujung Kulon dan taman nasional lainnya di Indonesia ,” ungkap Wiratno. Dirinya juga menyampaikan bahwa perintah Menteri LHK untuk tetap bekerja patroli dan kegiatan melindungi kawasan Konservasi termasuk satwa liar. “Dari satu kelahiran ke kelahiran selanjutnya dari Badak Jawa ini terus menyambung, dan ini memperkuat optimisme serta semangat kita, terutama dalam situasi sangat sulit masa pandemi sekarang ini. Ini salah satu pesan substansial dari Menteri LHK. Ibu Menteri juga berkesempatan memberikan nama anak badak jantan "Luther" dan yang betina diberi nama "Helen" jelas Wiratno. Menteri LHK, Siti Nurbaya pada pertemuan virtual menteri-menteri lingkungan hidup negara anggota G20 (16/09/2020), menegaskan bahwa Pemerintah sedikitnya mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak kurang dari 4 Triliun Rupiah untuk rehabilitasi lahan dan konservasi. Termasuk untuk kegiatan konservasi di Taman Nasional diantaranya TN Ujung Kulon yang merupakan rumah bagi Badak Jawa yang terus berkembang jumlah populasinya. Wiratno menyatakan, dukungan APBN untuk konservasi dan TN setidaknya menjadi penting dan memastikan tidak terjadinya kepunahan satwa-satwa kunci seperti badak. Badak merupakan salah satu spesies satwa langka kunci bersama-sama dengan gajah, orangutan, harimau, komodo, dan flagship species lainnya sebagai spesies penting di dunia. Sumber : Balai Taman Nasional Ujung Kulon & Biro Humas KLHK
Baca Berita

Masyarakat Sekitar SM Mamberamo Foja, Bertahan dalam Ruang Tradisional atau Beranjak ke Modern?

Mamberamo Raya, 30 Oktober 2020. Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut., M.Si., bersama tim mengunjungi kawasan konservasi SM Mamberamo Foja. Kunjungan berlangsung pada 27-31 Oktober 2020. Di antara tempat-tempat yang disinggahi adalah Pelabuhan Teba, Kampung Matabori, Yoke, Kapeso, Kasonaweja, Anggreso, Burmeso, Trimuris, dan Bagusa. Edward bersama tim juga mengelilingi Danau Rumbebai yang eksotis, surganya berbagai jenis burung. Edward dan tim memulai perjalanan dari Jayapura pada Selasa, (27/10) dan tiba di Pelabuhan Teba pada pagi hari Rabu (28/10). Teba, yang terletak di bagian muara Sungai Mamberamo, merupakan tempat persinggahan kapal-kapal dari Jayapura menuju berbagai kabupaten lain di Papua. Kapal Cantika Lestari 77, yang berlayar dari Jayapura ke Kasonaweja, Mamberamo Raya, juga singgah di Teba. Dapat dikatakan, Teba termasuk bagian penting dalam roda perekonomian masyarakat di sekitar muara Sungai Mamberamo. Seorang pedagang makanan di Pasar Teba menginformasikan, bahwa setiap kapal bersandar, Pasar Teba selalu ramai, baik pagi, siang, ataupun malam. Ia menjual nasi beserta tumis kangkung, dengan pilihan lauk kepiting saus dan ikan somasi (Lutjanus goldiei) goreng. Pedagang itu berasal dari Kampung Yoke, yang jaraknya terbilang cukup jauh dari Teba. Satu-satunya transportasi dari Yoke ke Teba adalah perahu motor. Berdasarkan peta kawasan konservasi, Kampung Yoke terletak di dalam kawasan SM Mamberamo Foja. Sebagian warganya menggantungkan hidup pada hutan-hutan bakau, yang merupakan habitat kepiting, ikan, dan bia (kerang). Setelah sarapan di Teba, Edward bersama tim melanjutkan perjalanan ke Kampung Kapeso menggunakan perahu motor. Mereka singgah sejenak di Kampung Matabori dan Yoke untuk menyapa warga setempat dan menyaksikan secara langsung kehidupan di sana. Kampung-kampung di perairan itu menampakkan nuansa tenang dan tenteram. Masyarakatnya terbuka dan ramah menerima tamu dari luar daerah mereka. Usai bercengkerama, dan sempat pula melihat-lihat tanaman anggrek masyarakat Yoke, Edward bersama tim langsung menuju Kampung Kapeso. Untuk tiba di sana, perahu motor melaju kencang menyusuri Sungai Mamberamo dan percabangannya, kemudian masuk ke Danau Rumbebai yang sangat luas. Di suatu tepi danau itulah Kampung Kapeso berada. Edward bersama tim dijadwalkan bermalam di sana. Seorang guru Sekolah Dasar di Kampung Kapeso mengatakan, Kapeso tergolong paling maju di antara kampung-kampung lain di sekitarnya. Meski letaknya cukup terisolir, namun Sekolah Dasar di Kapeso dapat berjalan dengan baik. Terdapat enam guru yang mengabdi di sekolah itu, terdiri dari empat guru ASN dan dua guru honorer. Keenamnya aktif mengajar, dan selama masa pandemi mereka tetap beraktifitas di sekolah secara normal. Rumah-rumah warga di Kapeso tampak seragam, berbentuk panggung rendah dari kayu yang terkesan kokoh. Seperti warga di dua kampung sebelumnya, warga Kapeso juga sangat ramah dan terbuka. Edward dan tim bahkan sempat mengenal beberapa kata dalam bahasa daerah Kapeso, seperti ucapan haci (selamat pagi), hapici (selamat siang), khutes (selamat sore), juga kata lainnya, seperti sawani yang berarti danau dan robyakha yang berarti teratai. Untuk menengarai segala sesuatu yang asli dari Kapeso, dapat dilihat dari bahasa daerah itu. Bila suatu objek memiliki nama dalam bahasa daerah Kapeso, artinya objek itu telah ada di sana semenjak zaman nenek moyang dahulu. Sebaliknya, bila tak memiliki nama dalam bahasa daerah Kapeso, dapat dipastikan objek itu pendatang baru. Seperti ikan mujair, yang begitu melimpah ruah dan berukuran raksasa di Danau Rumbebai, namun masyarakat tidak memiliki bahasa daerah untuk menyebutnya. Artinya, ikan mujair bukan asli dari Kapeso. Nuansa tradisional sangat kentara di Kapeso. Para lelakinya mahir menggunakan panah untuk berburu, sementara para perempuannya tampak sangat tangguh. Sejak matahari belum merekah di ufuk timur, para perempuan Kapeso telah beraktifitas di Danau Rumbebai. Kita dapat menyaksikan mereka mencuci perabot rumah tangga, seperti baskom, wajan, dan sebagainya. Sejak pagi buta mereka bergulir-gulir di jalanan kampung yang asri, dengan menyunggi barang-barang di kepala. Mereka akan saling menyapa setiap berpapasan satu sama lain. Rasanya, tak siapa pun tega mengusik ketenangan tradisional itu. Kehidupan masyarakat di Kapeso telah tampak sempurna, meski tanpa jaringan internet. Setelah satu malam di Kapeso, Edward bersama tim menuju Kasonaweja. Di sanalah kapal Cantika Lestari 77 bersandar untuk esoknya berlayar kembali ke Jayapura. Hari itu, Kamis (29/10), Edward dijadwalkan mengunjungi Kampung Anggreso di kawasan APL, untuk melihat rencana pembangunan jalan. Dalam kunjungan itu Edward didampingi Kepala Bappeda Mamberamo Raya dan Direktur Yayasan Intsia Papua. Dari Anggresso, mereka menuju Burmeso untuk menyampaikan materi pada lokakarya di Aula Kantor Bappeda Mamberamo Raya. Lokakarya tersebut bertema "Masyarakat Adat sebagai Pelopor Penyebaran Informasi Fungsi Kawasan Konservasi". Peserta lokakarya terdiri dari berbagai kalangan, mulai penggiat konservasi, aktivis pemuda, tokoh adat, tokoh perempuan, sampai tokoh gereja. Mereka berkumpul di Aula Kantor Bappeda Kabupaten Mamberamo Raya untuk membahas konservasi. Pada lokakarya tersebut, berbagai pandangan tersampaikan. Sebagian peserta menginginkan percepatan pembangungan di Mamberamo Raya, terutama akses jalan yang menghubungkan antartempat. Mereka menilai transportasi sungai di era ini terlalu mahal dan rumit, bahkan mereka harus bertaruh nyawa setiap melintasi titik-titik tertentu Sungai Mamberamo. Terdapat kesan, bahwa sebagian masyarakat Mamberamo sangat mendambakan kehidupan bernuansa modern, yang serba cepat dan mudah mengakses berbagai keperluan mereka. Dalam konteks ini, Edward Sembiring menyampaikan, bahwa pembangunan di Mamberamo Raya memerlukan proses panjang dan berbagai kajian. “Saya tegaskan, bahwa konservasi bukan penghambat bagi pembangunan. Kita menjaga alam ini untuk kesejahteraan manusia, terutama masyarakat di sekitar kawasan konservasi. Tetapi kita wajib menggunakan prinsip kehati-hatian. Misalnya, pembangunan itu jangan sampai mengganggu habitat satwa di dalam kawasan konservasi,” demikian pernyataan Edward. Lantas, apakah sebaiknya masyarakat di Kawasan SM Mamberamo Foja bertahan dengan kehidupan tradisional ataukah beranjak ke dunia modern? Setiap langkah terdapat konsekuensi yang menyertainya. Namun yang pasti, setiap individu menginginkan kehidupan yang nyaman, tenteram, dan bahagia. Sementara konservasi bertindak menjaga dan melestarikan alam semesta, agar manusia dapat hidup sejahtera. Perjalanan ke Mamberamo Raya telah memberikan banyak kesan. Akhirnya, tiba saat Edward bersama tim kembali ke Jayapura pada pagi hari Jumat, (30/10). Dalam perjalanan pulang, Edward menyinggahi Trimuris dan Bagusa, yang terdapat pelabuhan-pelabuhan kecil, tempat kapal Cantika singgah. Di Trimuris, Edward sempat menikmati ulat sagu bakar, salah satu makanan khas Papua yang memiliki kandungan protein tinggi. Edward bersama tim tiba di Jayapura pada Sabtu, (31/10). Semua agenda telah berjalan lancar, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan di masa pandemi. (djr) Sumber : Balai Besar KSDA Papua Call Center : 0823 9802 9978
Baca Berita

Aksi Peduli Korem 131 Santiago di TN Bunaken

Manado, 2 November 2020. Berada di Pulau Bunaken, tepatnya Kelurahan Alung Banua, Kecamatan Bunaken Kepulauan, Kota Manado, jajaran Korem 131 Santiago melaksanakan aksi peduli dalam pelestarian lingkungan pada Sabtu (31/10). Gelaran aksi peduli pelestarian lingkungan tersebut dengan kegiatan penanaman karang dengan konsep MARSS, pembinaan habitat predasi karang (Acantaster planci) dan pengangkatan sampah diperairan sekitar Alung Banua. Sebanyak 36 orang jajaran dari Korem 131 Santiago terlibat dalam kegiatan ini. Selain itu, sebanyak 4 orang penyelam dari Korem 131 Santiago juga dilibatkan dalam monitoring pertumbuhan karang hasil transplantasi dengan Metode MARSS di sekitar perairan Mandolin dan Tawara. Pertumbuhan karang transplansi menunjukan hasil yang signifikan dari tahun 2018 dan 2019, di tahun 2020 rata-rata panjang 20 cm dari 10 cm diawal transplant untuk genera Acropora branching, dan Genera Acropora Tabulate dari panjang 12 cm menjadi 30 cm. Sebagaimana penyampaian Komandan Korem 131 Santiago Brigjen TNI Prince Meyer Putong, SH sangat antusias dalam mendukung pelestarian lingkungan di Taman Nasional Bunaken. Kami berharap bisa berbuat dan berkontribusi untuk konservasi, bilamana dari Balai TN Bunaken melaksanakan tansplantasi dan membuat media sebanyak 125 buah, maka kami bisa mensuport 25 buah untuk melengkapi dan ada tenaga yang bisa mendukung pelaksanaannya, tutup Danrem. Sumber : Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Lama Ditunggu, Akhirnya TN. Aketajawe Lolobata Dibuka Kembali

Sofifi, 2 November 2020. Dampak dari pandemi yang sekarang dialami oleh warga diseluruh dunia sangat terasa bagi pelaku pariwisata, tak terkecuali para wisatawannya. Bagi wisatawan yang telah membuat rencana kunjunganpun harus mengurungkan niatnya untuk melihat keindahan lokasi yang akan dituju. Informasi yang didapatkan dari beberapa pemandu lokal di Maluku Utara bahwa, para agen perjalanan maupun wisatawan mandiri membatalkan jadwal kunjungannya di kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) pada tahun 2020 ini. Sebagian besar wisatawan tersebut ingin menikmati keindahan jenis burung di dalam kawasan TNAL dan mendokumentasikannya. Pada tanggal 31 Oktober 2020, bertepatan dengan kegiatan Festival Aketajawe, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata telah membuka secara resmi kawasan TNAL bagi wistawan. Pembukaan kawasan TNAL ini dibacakan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Maluku Utara yang didampingi oleh Kepala Balai TNAL. Setelah pengumuman tersebut, Kepala Balai TNAL memberikan sambutan bahwa, pembukaan kembali kawasan TNAL terhadap kegiatan pariwisata tidak terlepas dari persetujuan Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Maluku Utara dengan tetap mengikuti protokol kesehatan. “Alhamdulillah, mulai hari ini (02/11) kegiatan kepariwisataan dan pendidikan di dalam kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata sudah bisa dilaksanakan kembali, karena telah di buka oleh Bapak Sekda Provinsi Maluku Utara”, kata Heri, Kepala Balai TNAL. “Pengunjung juga wajib mematuhi protokol kesehatan”, pungkasnya. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra – Polhut Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Tiga Pasang Owa Jawa Dilepasliarkan

Bandung Selatan, 27 Oktober 2020, Tahapan akhir dari sebuah proses rehabilitasi satwa liar adalah melepasliarkan satwa yang direhabilitasi ke habitat alamnya, tentu diiringi proses perlindungan, pemantauan, dan evaluasi. Ya, itulah yang dilakukan Pusat Rehabilitasi Owa Jawa (Javan Gibbon Center, JGC) yang merupakan kerja sama Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) dengan Yayasan Owa Jawa. Selasa (27/10/2020), telah dilepasliarkan 6 (enam) individu Owa Jawa yang merupakan 3 (tiga) pasangan yakni Ukong-Gomey, Labuan-Lukas, serta Nofri-Yosi di Gunung Puntang Kawasan Hutan Lindung Malabar yang dikelola oleh Perhutani KPH Bandung Selatan. Pelepasliaran ini hampir bertepatan dengan International Gibbon Day 24 Oktober 2020. Sebelumnya (28/07/2020) prosesi pelepasliaran ini didahului dengan kegiatan translokasi dari Pusat Rehabilitasi Owa Jawa yang terletak di Resort PTN Bodogol Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ke kandang habituasi Gunung Puntang. Dengan demikian, proses adaptasi lingkungan pada kandang habituasi telah berjalan selama 3 (tiga) bulan. Selama proses habituasi, rekan-rekan warga masyarakat sekitar lokasi yang direkrut sebagai Gibbon Protection Unit (GPU) melakukan patroli pengamanan secara berkala, para keepers JGC pun secara berkala melakukan kegiatan pemberian pakan, pemantauan kondisi fisik serta aktifitas harian untuk memastikan kondisi mereka dalam keadaan baik. Kegiatan pelepasliaran dilakukan tanpa seremoni yang bersifat protokoler, acara diawali dengan briefing teknis pelepasliaran di basecamp JGC yang diikuti oleh BBTNGGP, Balai Besar KSDA Jawa Barat, Perhutani KPH Bandung Selatan, Yayasan Owa Jawa, Pertamina EP Asset 3 Subang Field serta Institusi Kepolisian dan TNI setempat dilanjutkan dengan prosesi pelepasliaran pada 3 (tiga) unit kandang habituasi. Seluruh Owa Jawa yang direhabilitasi berasal dari operasi penegakan hukum mengingat masyarakat tidak dimungkinkan untuk menjadikannya sebagai pet/ satwa yang dipelihara untuk kesenangan karena statusnya merupakan satwa dilindungi. Beberapa lainnya diperoleh dari masyarakat yang menyerahkannya secara sukarela setelah menyadari bahwa satwa liar lebih baik hidup di alam liar. Proses rehabilitasi dilakukan untuk mengembalikan sifat liar mereka: Dilatih untuk mengkonsumsi makanan yang ada di alam mengingat saat dipelihara masyarakat sebelumnya mereka terbiasa diberi makanan manusia: roti, buah atau bahkan nasi padang. Diperiksa kondisi fisiknya untuk memastikan kesehatannya. Mereka juga harus kembali memiliki sifat takut dengan manusia dan atau predator di alam. Hal penting yang dilakukan pada fasilitas rehabilitasi adalah mencarikan mereka pasangan hidup. Itu semua dilakukan untuk memastikan mereka dapat bertahan di alam, dalam keadaan sehat (tidak membawa penyakit), berkembangbiak serta menjalankan perannya pada ekosistem hutan. Sebagian besar Owa Jawa yang telah menyelesaikan masa rehabilitasi tidak dilepasliarkan pada kawasan TNGGP mengingat populasi Owa Jawa di TNGGP telah berada dalam kondisi yang seimbang dengan daya dukung habitatnya. Kawasan Hutan Gunung Puntang dipilih mengingat berdasarkan kajian yang dilakukan pada tahun 2012 kondisinya cukup baik, diketahui pernah ditinggali Owa Jawa. Pada tahun tersebut tidak ditemukan populasi Owa Jawa yang tersisa. Yayasan Owa Jawa dan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango melalui Pusat Konservasi Owa Jawa (Javan Gibbon Center) telah berhasil melepasliarkan 30 individu OJ, 2 individu di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango serta 28 sisanya dilepasliarkan di Gunung Puntang. Hal yang membahagiakan, sebagian keluarga Owa Jawa yang dilepasliarkan terpantau telah berkembang biak, ini menunjukan keberhasilan adaptasi mereka di alam. Pusat Rehabilitasi Owa Jawa akan terus melakukan pemantauan kondisi kesehatan serta keamanan Owa Jawa yang dilepasliarkan bekerja sama dengan BBKSDA Jawa Barat, Perum Perhutani KPH Bandung Selatan, Kepolisian dan aparat TNI setempat serta masyarakat sekitar kawasan. Kegiatan konservasi Owa Jawa pada Pusat Konservasi Owa Jawa ini terselenggara atas dukungan : BBTNGGP, BBKSDA Jawa Barat, Yayasan Owa Jawa, Wildlifeasia, Conservation International Indonesia, Pertamina EP Asset 3 Subang Field serta masyarakat. Kegiatan pelepasliaran Owa Jawa merupakan salah satu tolok ukur keberhasilan rehabilitasinya. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks & Dok : Agung Gunawan – Pengendali Ekosistem Hutan Muda
Baca Berita

Menuju HCPSN, Balai TanaHalisa Gelar Peningkatan Kapasitas Mitra

Bogor, Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, 31 Oktober 2020. Hari ini (31/10), bertempat di Bumi Perkemahan Sukamantri, Bogor, dilakukan kegiatan peningkatan kapasitas mitra Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TanaHalisa) dalam bidang fotografi satwa liar. TanaHalisa, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Bogor Nature Wildlife Photo ghrapy (BNWP) menggagas acara pelatihan yang diikuti oleh kader konservasi, volunteer, komunitas mitra TanaHalisa seperti Sahala, Uni Konservasi Fauna (UKF) dan Wara Wiri Adventure (WWA). Mengusung tema peran dokumentasi satwa liar dalam mendukung upaya konservasi satwa liar, acara ini menghadirkan figur pemateri yang berkompeten dalam bidang konservasi yaitu Robithotul Huda dari YIARI dengan tema konservasi kukang (Nycticebus javanicus), Rahayu Oktaviani dari Owa Halimun dengan tema konservasi Owa Jawa (Hylobathes moloch) dan Riza Marlon, fotografer alam liar senior. Mengenal alat dan dasar fotografi, mengenal subjek serta komposisi foto menjadi poin penting dalam fotografi alam liar. Kita di lapangan memiliki keunggulan lebih berupa peluang dan momen dalam mendokumentasikannya. Kepala Balai TanaHalisa, Ahmad Munawir, S.Hut, M.Si menyampaikan bahwa ini kesempatan yang bagus bagi peserta untuk mempelajari fotografi satwa liar. Ekspose dalam bentuk foto, video pada media sosial dilakukan untuk memperkuat pesan yang akan disampaikan. Fotografi ini mendukung kegiatan kampanye edukasi lingkungan. Peningkatan kapasitas ini menjadi rangkaian kegiatan dalam rangka Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional(HCPSN) yang diperingati setiap 5 November. Sebelumnya telah dilakukan kegiatan pengumpulan foto flora fauna di Resort Pengelolaan Taman Nasional Wilayah Cikaniki, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Bogor pada 16 hingga 18 Oktober 2020 serta pengamatan migrasi raptor di Salaka, Bogor pada 24 hingga 25 Oktober 2020. Puncak peringatan HCPSN berupa kegiatan pameran foto flora fauna hasil karya TanaHalisa, Yayasan IAR Indonesia, BNWP dan Yayasan Kiara yang akan dilaksanakan pada awal November 2020 ini. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Menampilkan 2.865–2.880 dari 11.141 publikasi