Sabtu, 16 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Empat Ribu Bibit Hijaukan Bufferzone Cagar Alam Manggis

Kediri, 8 November 2020. Sekitar ratusan relawan berdatangan di sekitar pos jaga Cagar Alam Manggis Gadungan di Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, 8 November 2020. Para relawan ini memenuhi seruan dari Ketua Umum Gerakan Nasional Donor Pohon (GNDP), dr. Ari Purnomo Adi untuk mensukseskan kegiatan revitalisasi bufferzone alas simpenan Manggis, sebutan masyarakat lokal bagi cagar alam tersebut. Bufferzone sendiri memiliki luas sekitar 7,3 hektar yang merupakan kawasan Perum Perhutani masuk wilayah RPH Manggis, BKPH Pare, KPH. Kediri. Lahan tersebut mengelilingi kawasan cagar alam dan oleh pihak Perum Perhutani difungsikan sebagai bufferzone dari cagar alam. Ada sekitar 4.000 bibit pohon yang akan ditanaman di bufferzone dan dari berbagai jenis tumbuhan. Seperti Trembesi, Keluwak, Kemiri, Doyo, Asem Jawa, Beringin, Kedawung, Kepuh, Gayam, Juwet, Nyamplung, Mahoni, dan Pule. Keseluruhan bibit berasal dari Komunitas Oleng-oleng serta dari para relawan yang hadir. Menurut Siti Nurlaili, Kepala Resort Konservasi Wilayah 03 CA. Manggis Besowo Gadungan, ada beberapa jenis tanaman yang sengaja ditanam agar dapat menjadi pakan bagi satwa di dalam cagar alam. “Ada Beringin, Juwet, dan Gayam yang biasanya menjadi pakan satwa jenis mamalia dan aves,” ujarnya. Kegiatan diawali dengan apel dan pengarahan bagi para relawan dalam kegiatan penanaman nantinya. Lalu dilanjutkan dengan membersihkan lahan bufferzone dari tumbuhan gulma, membuat jalur inspeksi batas luar bufferzone dan penanaman 4.000 bibit pohon. Pada tahap awal ini, kegiatan difokuskan di bufferzone sisi utara dari cagar alam. GNDP merencanakan penanaman berkesinambungan selama musim penghujan tahun ini. Kegiatan revitalisasi bufferzone ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas daerah penyangga bagi Cagar Alam Manggis Gadungan Selain para relawan dari beberapa daerah di Jawa Timur, turut hadir Ketua DPRD Kabupaten Kediri, Muspika Puncu, Perum Perhutani BKPH Pare, dan Kepala dan staf SKW 1 Kediri dan RKW. 03 CA Manggis Besowo Gadungan. Juga BPBD, Tagana, Tim SAR, Kepala Desa Manggis, Kades Wonorejo, Kades Asmorobangun, CDK Wilker Kediri, Serta UPT PPHH Pos Kediri Dinhut Prop. Jatim, Sumber : Siti Nurlaili, S.Si. - PEH Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Balai TN Batang Gadis Salurkan Bibit Durian Musangking Di Desa Sirambas

Panyabungan, 9 November 2020. Balai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) melaksanakan penyerahan bantuan pemberdayaan masyarakat berupa bibit durian musangking kepada Kelompok Tani Parsianggunan Desa Sirambas Kec Panyabungan Barat, Kamis, (05/11). Turut hadir dalam penyerahan tersebut yakni Pak Aswar A.Ma.Pd selaku Camat Panyabungan Barat, Abu Hanifah Kepala Desa Sirambas, Tri Azhari Helmi Kepala Seksi PTN I Siabu, Rachmadani Kepala Resort 2 Longat serta anggota kelompok Parsianggunan. Dalam sambutannya, Aswar A.Ma.Pd selaku Camat Panyabungan Barat memberi sambutan dalam acara serah terima bantuan. Beliau mengatakan bahwa bantuan yang diberikan Balai TNBG sangat bermanfaat bagi kehidupan kita. Beliau juga menghimbau agar kita jangan meninggalkan air mata bagi anak cucu kita, tetapi meninggalkan mata air bagi generasi penerus kita. “Saya sangat berterima kasih kepada Balai TNBG karena telah peduli kepada masyarakat dengan bantuan bibit musangking, pinang dan petai ini, semoga ini menjadi berkah buat kita, dan janganlah kita meninggalkan air mata bagi anak cucu kita, tetapi meninggalkan mata air bagi generasi penerus kita”, ungkap Aswar Tak ketinggalan Kepala Desa Sirambas Abu Hanifah juga sangat berterimakasih atas bantuan dan pendampingan kelompok yang telah dilakukan oleh pendamping TNBG. Harapannya bantuan bibit ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa Sirambas dan TNBG dapat mendampingi kelompok sampai berhasil. “Saya dan masyarakat Desa Sirambas sangat berterima kasih atas bantuan ini, semoga dengan bantuan ini dapat meningkatkan kesejahtraan masyarakat khususnya masyarakat Desa Sirambas yang kita cintai ini”, ucap Abu Hanifah. Sumber : Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Gerakan Dharma Wanita Persatuan TN Meru Betiri Peduli Konservasi

Jember, 8 November 2020. Memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2020, Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti) melalui Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Ambulu tepatnya di blok Pletes Resort Wonoasri melaksanakan kegiatan penanaman bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) Balai TN Meru Betiri pada tanggal 6 November 2020. Sesuai dengan tema HCPSN 2020 yaitu “Puspa dan satwa harapan untuk ketahanan pangan dan kesehatan”, peserta melakukan penanaman beberapa jenis pohon yang menjadi sumber pangan bagi masyarakat antara lain Petai, Kemiri dan Pakem sebanyak 140 batang. Diikuti seluruh Keluarga besar DWP dan Pegawai TN Meru Betiri sebanyak 35 orang. Kegiatan ini juga bertujuan dalam upaya pemulihan sebagian kawasan TN Meru Betiri yang mengalami kerusakan. Andik Boediono selaku Kepala Resort Wonoasri menyambut baik acara ini “Diharapkan bibit pohon yang ditanam dapat tumbuh dengan baik, serta kegiatan ini dapat memberikan semangat bagi petugas lapangan untuk bekerja dengan lebih giat dan baik” kat Andik. Ibu Atih Maman Surahman selaku Ketua DWP menyampaikan “Kegiatan ini akan dilakukan secara rutin di sekitar kawasan TBMB dengan melibatkan DWP TNMB sebagai bentuk kepedulian kelestarian lingkungan dan dukungan pelaksanaan tugas bagi suami kita” kata Atih. Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Balai TN Batang Gadis Kenalkan Kemitraan Konservasi di Desa Aek Ngali

Panyabungan, 9 November 2020. Balai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) malaksanakan kegiatan sosialisasi Kemitraan konservasi di Desa Aek Ngali, Kecamatan Panyabungan Barat, Jumat (6/11). Kegiatan dihadiri Kepala Desa Aek Ngali Saleh Nasution, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNBG Bobby Nopandry, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Siabu Bapak Tri Azhari Helmi dan Kepala Resort 2 Longat Rachmadani. Kepala Desa Aek Ngali mengawali dengan mengatakan apresiasi dan rasa terimakasih atas kedatangan tim Balai TNBG untuk melakukan diskusi tentang kemitraan konservasi. Dimana kegiatan ini adalah salah satu program pemerintah dalam meningkatkan ekonomi masyarakat di sekitar Desa penyangga Taman Nasioanal Batang Gadis. “Saya sangat berterima kasih kepada Balai TNBG karena telah melakukan diskusi kemitraan konservasi ini, kiranya masyarakat bisa memaknai kegiatan konservasi ini sebagai langkah meningkatkan ekonomi masyarakat kedepannya”, ungkap Saleh. Selain itu, Kepala Seksi PTN Wilayah I Siabu mengatakan kegiatan ini adalah untuk bersama mengelola kawasan konservasi dimana masyarakat sebagai pengelola. Didalam pelaksanaan kemitraan akan dibentuk kelompok tani sebagai wadah untuk berbagi informasi serta Keja sama dengan TNBG, semoga kegiatan ini berjalan dengan baik dan kedepannya semakin meningkat dalam kesadaran akan pentingnya menjaga kawasan hutan. Disamping itu Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNBG Bobby Nopandry menjelaskan jika kegiatan ini sebenarnya berawal dari pertemuan penyuluh dengan perangkat desa Aek Ngali, dengan agenda mempertegas wilayah garapan masyarakat di daerah Taman Nasional Batang Gadis. Beliau mengatakan tentang kebun masyarakat yang ada dalam kawasan TNBG, Dikarenakan pembuatan dan penataan oleh pemerintah dalam pengelolaan kawasan hutan di tingkat pemerintah pusat serta TNBG dibagi beberapa zona seperti zona inti, rimba, tradisional, pemanfaatan, khusus. Semangat dimasyarakat atas adanya kebun di kawasan pemanfaatan menjadi peluang untuk membentuk kelompok yang akan dibina dan merupakan program pemerintah dalam pemberdayaan masyarakat. Beliau menambahkan jika program pemerintah ini harus didukung oleh masyarakat agar berjalan seperti yang diharapkan. Beliau berharap dengan sosialisasi ini menemukan kesepakatan kerja sama berikutnya dengan agenda konservasi sehingga terjadi peningkatan ekonomi di masyarakat dengan memadukan potensi TNBG dengan masyarakat sehingga tercipta keharmonisan yang baik. “Saya berharap semoga dengan diadakannya sosialisasi ini dapat menemukan kesepakatan atas kemitraan konservasi dengan masyarakat khususnya di Desa Aek Ngali ini”, tutup Bobby. Sumber : Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Saka Wanabakti Kwarcab Kapuas Hulu Lantik Anggota Baru

Sepandan, 8 November 2020. Satuan Karya (Saka) Pramuka Wanabakti Kwartir Cabang (Kwarcab) Kapuas Hulu menggelar Pelantikan Anggota Saka Wanabakti Tahun 2020 di Pulau Sepandan Kecamatan Batang Lupar. Kegiatan diawali dengan upacara pembukaan di Resort Sepandan dengan tetap menerapkan protokol Kesehatan yang dipimpin oleh Kak Gunawan Budi Hartono selaku Kepala Bidang Wilayah III. Dalam arahannya Kak Gunawan berpesan agar adik-adik dapat menjaga alam sekitar khusus ya di Pulau Sepandan ini dengan tidak membuang sampah sembarangan serta menerapkan standar protokol kesehatan Covid-19’. “Jangan ambil sesuatu, kecuali gambar Jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak, Jangan bunuh sesuatu selain waktu” tegas kak gunawan. Rangkaian kegiatan pelantikan selama 2 hari ini di kemas semenarik dan seceria mungkin yang diawali dengan perkenalan pembina bersama para anggota serta diakhiri dengan pentas seni oleh perwakilan peserta. Kegiatan dilaksanakan oleh Dewan Saka juga didampingi oleh instruktur, pamong saka dan pembina. Kegiatan pelantikan anggota Saka Wanabakti ini diikuti oleh 15 peserta yang berasal dari Ranting Embaloh Hulu, 7 orang Ranting Batang Lupar dan 6 orang dari Cabang Kapuas Hulu serta 5 orang peserta mengikuti pelantikan secara online. Pelantikan anggota baru Saka Wanabakti dilakukan oleh Kak Arief Mahmud selaku Mabi Saka Wanabakti Kapuas Hulu. “Selamat kepada anggota baru Saka Wanabakti yang sudah di lantik semoga menjadi tambahan kekuatan baru kita semua, Saya berharap Saka Wanabakti dapat memberikan semangat dalam melaksanakan program pemerintah serta dapat berkontribusi untuk kegiatan sosial kemasyarakatan” ungkap Kak Arief dalam arahannya. “Kegiatan ini penting dilaksanankan karena merupakan regenerasi Saka Wanabakti di Kapuas Hulu, ke depan meskipun dalam kondisi pandemi Covid-19 dengan menerapkan protokol kesehatan kita yakin saka Wanabakti akan Jaya”. Tegas Kak Ardi Andono selaku Ketua Saka Wanabakti Kapuas Hulu Semoga kegiatan ini berhasil menumbuhkan kader - kader konservasi yang dapat menyampaikan pesan konservasi kepada masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan kita. Sumber : Balai Besar Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TN Bentarum)
Baca Berita

Cekakak Belukar Spesies Burung Penghuni Hutan TN Batang Gadis

Panyabungan, 9 November 2020. Cekakak belukar adalah sejenis burung raja udang dari suku Halcyonidae (sebelumnya Alcedinidae) dengan genus Halcyon. Burung yang disebut juga Cekakak dada putih ini memiliki tubuh berukuran agak besar (27 cm). Berwarna biru dan coklat, dagu, tenggorokan dan dan dada berwarna putih. Kepala leher dan sisa tubuh bagian bawah coklat. Mantel, sayap dan ekor biru terang berkilau. Penutup sayap atas dan ujung sayap coklat tua. Ketika terbang, sisi bawah sayap tampak biru dengan bulatan putih besar ditengahnya. Iris coklat tua, paruh dan kaki merah. Mengeluarkan suara yang keras terkekek-kekek "kii-kii-kii-kii", dikeluarkan sewaktu terbangatau dari tenggeran serta suara parau "cewer-cewer". Di Sumatera, Cekakak belukar sering terlihat sendirian dan suka mengunjungi daerah atau lahan terbuka di dekat air, menggantikan Cekakak sungai sebagai raja udang, habitat yang digunakan burung ini cukup luas meliputi : perkebunan kelapa sawit, pohon-pohon tepi jalan, persawahan, kebun, kolam, bendungan, kanal air, sungai kecil, rawa nipah, tepi hutan mangrove dan lain-lain hingga ketinggian 900 mdpl. Spesies ini sangat lincah dan menjadi pemburu yang ribut di lahan terbuka, sungai, kolam dan pantai dengan aneka mangsanya meliputi jenis serangga, yuyu, kodok, katak, ular dan anak burung. Status konservasi : Beresiko rendah/ Least Concern (LC) di dalam daftar Red List IUCN (International Union for the Conservation of Nature). Sumber : Muliyadi Moel - PEH Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Mendampingi LIPI Studi Ekologi dan Populasi Bunga Bangkai Raksasa

Pengukuran tangkai daun dan panjang kanopi daun Amorphophallus titanum oleh tim LIPI dan Balai Besar KSDA Sumatera Utara di CA dan TWA Sibolangit Sibolangit, 4 Nopember 2020 - Bunga Bangkai Raksasa (Amorphophallus titanum) merupakan tumbuhan dari suku talas-talasan (Araceae), endemik pulau Sumatera dan termasuk jenis dilindungi sebagaimana diatur dalam Undang-undang No. 5 /1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya jo. PP No.7/1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar. Kondisi keberadaannya saat ini mulai terancam di alam. Salah satu faktor utama yang mengancamnya adalah manusia yang mengambil bagian dari bunga bangkai tersebut di habitatnya, seperti pengambilan umbi untuk diperjualbelikan. Bahkan tangkai daun atau batang semu anakan, juga sudah mulai marak dijual bersamaan dengan tanaman hias lainnya dimasa pandemi ini. Melihat kondisi di atas, untuk tetap terjaga dan terlindungi bunga bangkai ini di habitatnya, tim Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya yang terdiri dari 2 orang peneliti, yaitu : Angga Yudaputra, M.Sc (Ketua) dan Dr. Izu Andry Fijridiyanto, M.Sc selaku anggota tim, didampingi petugas lapangan Balai Besar KSDA Sumatera, Kepala Resort CA/TWA Sibolangit Samuel Siahaan,SP. melakukan Studi Ekologi dan Populasi Amorphophallus titanum di Sumatera Utara. Adapun lokasi penelitian yang dikunjungi adalah habitat Bunga Bangkai Raksasa di kawasan konservasi Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Sibolangit pada tanggal 22-24 Oktober 2020, Cagar Alam Dolok Sipirok pada tanggal 28 Oktober 2020, dan beberapa titik di luar kawasan konservasi di wilayah Kerja Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Hasil Tinjauan di lapangan oleh Tim LIPI didapat 9 Individu titanum di Cagar Alam Sibolangit dan 3 Individu di Taman Wisata Alam Sibolangit. Sedangkan di Cagar Alam Dolok Sipirok Tim LIPI yang didampingi petugas CA. Dolok Sipirok Nasir Siregar, berhasil mengidentifikasi 5 individu titanum. Seluruh Individu Bunga Bangkai raksasa yang ditemukan selanjutnya dihitung jumlah individunya, diukur tinggi tangkai daun, diameter tangkai daun, dan diameter daun majemuknya. Sedangkan variabel lingkungan yang diukur antara lain: pH Tanah, kelembaban tanah, suhu, kelembaban udara, tutupan kanopi, ketinggian lokasi, kemiringan lereng, arah lereng, dan koordinat GPS pada setiap lokasi tumbuhnya Bunga Bangkai sebagai bahan penelitian yang akan dikaji kembali setelah tim LIPI selesai dari lapangan. Sedangkan di luar kawasan konservasi yang menjadi obyek penelitian Bunga Bangkai adalah di Desa Namo Suro Baru Kec. Sibiru biru, Kabupaten Deli Serdang yang tumbuh subur di sekitar dan dibawa rimbunan bambu. Di lokasi ini sebelumnya salah satu Bunga Bangkai bulan Juni 2020 tumbuh mekar sempurna. Tim LIPI melakukan pendataan Bunga Bangkai yang masih pada fase Vegetatif, terdapat 5 individu pada fase vegetatif yang berukuran cukup besar dan 10 individu anakan. Peneliti LIPI melakukan pengukuran tinggi tangkai daun, pengambilan dokumentasi dan cek bunga bangkai di Desa Namo Suro Baru, Kec. Sibiru-biru, Kabupaten Deli Serdang Lokasi penelitian lainnya adalah kawasan HPT Desa Batu Katak, Kec. Bahorok Kabupaten Langkat. Di Batu Katak, Tim LIPI menemukan Bunga Bangkai yang telah layu, seminggu setelah mekar dan 1 batang Bunga Bangkai serta 4 anakan. Bunga Bangkai yang telah layu pasca mekar 1 minggu di Desa Batu Katak-Kec.Bahorok Kab. Langkat. Tinjauan lapangan yang dilakukan oleh Tim LIPI ini merupakan kegiatan penelitian dengan judul “Habitat characteristic, population assessment and predicting potential distribution of endangered titan arum (Amorphophallus titanum) in Sumatra”, sudah dimulai pada awal bulan Oktober 2020, dari Provinsi Lampung, Bengkulu, Sumbar, Sumatera Utara, dan Aceh. Titik beratnya pada penelitian “Karakteristik habitat, Asesmen populasi dan prediksi potensi persebaran titan arum (Amorphophallus titanum) yang terancam punah di Sumatera”. Nantinya hasil penelitian disajikan dalam bentuk Laporan Hasil Penelitian, juga disajikan dalam bentuk rekaman perjalanan hasil penelitian berupa Dokumentasi Photo dan Video, ujar Angga selaku Ketua Tim. Semoga hasil yang dilaksanakan Tim LIPI kelak memberikan harapan masa depan Bunga Bangkai Raksasa di Indonesiau umumnya, dan khususnya Pulau Sumatera sebagai habitatnya. Upaya-upaya konservasi yang dilakukan berguna bagi dunia ilmu pengetahuan, pengelola kawasan konservasi dan kawasan lainnya untuk dunia pendidikan, edukasi dan wisata alam melihat Bunga Bangkai di habitatnya tetap terjaga. Sumber: Balai Besar KSDA Sumatera Utara Samuel Siahaan (PEH Pertama - Kepala Resort CA/TWA Sibolangit)
Baca Berita

Pemasangan GPS Collar Dalam Mencegah Konflik Manusia dan Gajah Sumatera

Pekanbaru,5 November 2020 - Pada tanggal 20 s.d. 26 Oktober 2020, Upaya meminimalisir terjadinya konflik manusia dan satwa liar, Balai Besar KSDA Riau bersama Rimba Satwa Foundation (RSF), Perkumpulan Gajah Indonesia (PGI), dan penggiat satwa melakukan pemasangan GPS Collar dengan dukungan pihak ketiga. Pihak Balai Besar KSDA Riau menurunkan dua dokter hewan yaitu drh. Rini Deswita dan drh. Danang, selain itu dibantu oleh drh. Anhar dari penggiat satwa. Untuk pemasangan GPS Collar, Balai Besar KSDA Riau juga menurunkan tim mahout dan tiga ekor Gajah jinak yang terdiri dari dua Gajah jantan dan satu betina yang bernama Bangkin (45 th), Jovi (40 th), dan Indah (51 th). Pemasangan GPS Collar diharapkan dapat memonitor posisi dan pola pergerakan satwa tersebut sehingga bisa dipergunakan untuk mitigasi konflik antara manusia dan Satwa liar dalam hal ini Gajah Sumatera. "Harapannya pada tahun 2021, semua kelompok Gajah Sumatera yang ada di Provinsi Riau sudah terpasang GPS Collar," ujar Kepala Balai Besar KSDA Riau, Bapak Suharyono, Senin (26/10/2020). Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Pelepasliaran Satwa Liar Dilindungi Jenis Burung Merak Hijau

Pulau Handeleum, 5 November 2020 - Dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) tahun 2020, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat bersama dengan Balai Taman Nasional Ujung Kulon dan Yayasan Alam Satwa Tatar Indonesia (ASTI) melaksanakan pelepasliaran satwa liar dilindungi berupa burung merak hijau (Pavo muticus) yang berjumlah 3 (Tiga) ekor dengan perbandingan sex rasio2 (dua) ekor betina dan 1 (satu) ekor Jantan. Pelepasliaran dilaksanakan di Pulau Handeleum yang merupakan bagian dari kawasan konservasi kawasan Taman Nasional Ujung Kulon di Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Direktorat Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem memiliki program prioritas pelestarian tumbuhan dan satwa liar dilindungi di habitat alaminya (In-Situ), salah satu bentuk programmnya adalah menggalakkan upaya- upaya penambahan populasi satwa liar dilindungi, langkah dan endemik melalui kegiatan pelepasliaran (release satwa liar) di alam. Masih dalam suasana peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional tahun 2020, Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati mensupport Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Jawa Barat, Balai Taman Nasioal Ujung Kulon dan Lembaga Konservasi ASTI- Bogor untuk melaksanakan pelepasliaran satwa liar 3 ekor burung merak hijau (Pavo muticus) di kawasan konservasi Taman Nasional Ujung Kulon. Upaya pelestarian satwa liar dilindungi di habitatnya menjadi tanggung jawab utama BBKSDA Jawa Barat dan karena itu senantiasa mengajak semua pihak untuk terlibat dalam upaya-upaya pelestarian tersebut. ASTI sebagai salah satu pemilik ijin Lembaga Konservasi Umum yang berada dalam wilayah binaan BBKSDA Jawa Barat juga kami ajak untuk hal tersebut, hal ini mengingat bahwa ASTI selain juga memiliki peran dan tanggung jawab dalam pelestarian satwa liar juga terbukti telah berhasil mengembangkan beberapa satwa liar dilindungi termasuk salah satunya jenis burung merak hijau. Anggodo selaku kepala Balai TN Ujung Kulon dalam sambutannya menyampaikan bahwa “Kami sangat senang dan mendukung atas terpilihnya kawasan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai tempat pelepasliaran burung merak hijau. Di dalam kawasan TN Ujung Kulon memang dikenal sebagai habitat alami jenis burung merak hijau, dan saat ini populasi di alam perlu terus ditingkatkan sesuai dengan daya dukung habitatnya”. “Saya sangat mendukung dan mengapresiasi upaya pelestarian burung merak hijau di kawasan konservasi Taman Nasional Ujung Kulon, upaya-upaya seperti akan terus saya galakkan dan lanjutkan di kawasan-kawasan konservasi lainnya di Indonesia. Saya juga akan mendorong para pemilik pemilik ijin lembaga konservasi umum agar mulai melakukan program pelepasliaran khususnya satwa satwa liar dilindungi yang telah berhasil mereka kembangkan di LK nya,” kepada pihak Balai TN Ujung Kulon saya titip agar satwa yang telah dilepasliarkan ini terus dimonitor perkembangannya sehingga nantinya dapat berkembang biak dan menambah populasi burung merak hijau di TN Ujung Kulon, ucap Lana Sari,S.Pi,M.Sc selaku Kepala Bidang BBKSDA Jawa Barat Wilayah I Bogor, Kementerian LHK. Sumber:
Baca Berita

Wamen LHK Memperingati HCPSN 2020 di TN Kepulauan Seribu

Pulau Pramuka, 5 November 2020 - Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) Tahun 2020 ini menjadi istimewa bagi kami karena Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bapak Alue Dohong merayakannya bersama kami di Pulau Pramuka, Taman Nasional Kepulauan Seribu. Pada kunjungan kerjanya, beliau didampingi oleh Sekretaris Ditjen KSDAE, Kepala Balai TN Kepulauan Seribu, dan Kepala Balai BKSDA DKI Jakarta. Wamen LHK dengan penuh suka cita melakukan aktivitas konservasi, berupa: pelepasliaran 30 ekor tukik penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penanaman 400 batang mangrove jenis Rhizopora stylosa, transplantasi karang sebanyak 70 pcs fragmen karang jenis Acropora sp pada 10 modul karang. Wamen menyampaikan bahwa penyu sisik bisa menjadi maskot pada peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional berikutnya. Selain kegiatan konservasi, Wamen KLHK juga berkesempatan memberikan bantuan berupa tempat sampah dan sticker edukasi sampah kepada 3 (tiga) perwakilan masyarakat di sekitar Kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat selalu menjaga kebersihan untuk lingkungan dan alam yang selalu lestari. Bupati Kepulauan Seribu, Bapak Junaedi, beserta jajarannya dan masyarakat binaan Balai TN Kepulauan Seribu, yaitu Paguyuban Kapal Ojek, SPKP Samo-samo, Smiling Coral dan Pernitas ikut serta dalam perayaan Hari Cinta Puspa dan Satwa Alam Nasional Tahun 2020 bersama Wamen LHK. Unsur-unsur yang beragam ini membaur dalam suasana kekeluargaan di tengah rintik hujan yang cukup setia menghiasi hari itu. Hasil dari rangkaian aktivitas konservasi yang dilakukan oleh Wamen LHK dan jajarannya, Bupati dan masyarakat kelak akan memiliki andil dalam menjamin ketahanan pangan masyarakat sekitar Taman Nasional Kepulauan Seribu, karena karang dan mangrove yang ditanam akan menjadi rumah bagi berbagi biota laut yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat. Hal ini sejalan dengan tema HCPSN tahun ini, yaitu “Puspa dan Satwa untuk Ketahanan Pangan dan Kesehatan”. Pada akhir kunjungan kerjanya, Wamen LHK menyempatkan diri mengunjungi Sanctuary Elang di Pulau Kotok yang merupakan hasil Kerjasama antara Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu, Balai KSDA Jakarta dan Jakarta Aid Animal Network (JAAN) untuk melihat kondisi beberapa jenis elang, terutama Elang Bondol (Haliastur indus) dan Elang laut (Haliaeutus leucogaster) yang sedang direhabilitasi di Sanctuary Elang tersebut. Sumber: Balai TN Kepulauan Seribu
Baca Berita

SKW III Melakukan Sosialisasi dan Penyelamatan Burung – burung Dilindungi

Pekanbaru, 5 Oktober 2020 - Pelepasliaran satwa burung ke habitatnya dilakukan Tim Rescue Balai Besar KSDA Riau dipimpin Kepala Seksi Konservasi Wil. III, MB. Hutajulu. Adapun jenis burung yang dilepasliarkan adalah Nuri tanau (Psittinus cyanurus) sebanyak 10 ekor, Betet ekor Panjang (Psittacula longicauda) sebanyak 2 ekor, Gagak (Corvus sp.) 1 ekor (anak) dan Cica daun kecil (Chloropsis cyanopogon) sebanyak 1 ekor. Burung burung tersebut diperoleh dari penyerahan secara sukarela dari warga setelah dilakukan sosialisasi tumbuhan dan satwa yang dilindungi undang - undang oleh Tim. Dimana berdasarkan UU No. 5 Tahun 1990 Pasal 21 (2) diantaranya dinyatakan bahwa setiap orang dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang di lindungi dalam keadaan hidup. Bagi yang melanggarnya akan dikenai sanksi sesuai Pasal 40 UU dimaksud dan dapat dikenai pidana penjara paling lama 5 (ima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Refleksi Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2020

Banjarbaru, 5 November 2020 – Dalam rangka merayakan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) tahun 2020 yang rutin diperingati setiap tanggal 5 November. Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc diundang menjadi pembicara pada Radio Nirwana FM Banjarbaru. Peringatan HCPSN bertujuan untuk meningkatkan kepedulian, perlindungan, pelestarian puspa dan satwa nasional serta untuk menumbuhkan kepedulian dan mengingatkan akan pentingnya puspa dan satwa dalam kehidupan kita. Indonesia merupakan Mega Biodiversity karena memiliki 10-20% flora fauna yang ada di dunia antara lain 91.251 jenis tumbuhan, 720 jenis mamalia, 723 jenis reptilia, 1.605 jenis burung, 409 jenis ampibia dan 1.900 jenis kupu-kupu, kata Dr.Mahrus. Upaya-upaya yang telah dilakukan KLHK dalam konservasi keanekaragaman hayati berupa perlindungan habitat (DAS, hutan lindung), pengawetan (inventarisasi, monitoring, penangkaran) dan pemanfaatan (ekowisata dan perdagangan). Adapun di Kalimantan Selatan permasalahan pengelolaan kehati antara lain konflik satwa dan manusia akibat habitat yang menyempit akibat alih fungsi hutan, perburuan satwa, perdagangan satwa illegal, dan lainnya. Mengatasi permasalahan tersebut Balai KSDA Kalimantan Selatan melakukan berbagai action antara lain inventarisasi dan monitoring satwa dilindungi, pengembangan Sanctuary, sosialisasi, call center, rehabilitasi satwa, pembentukan gugus tugas penanganan konflik tingkat provinsi, koordinasi kepada pihak terkait, patroli, pembentukan kelompok masyarakat baik mitra polhut, peduli api maupun desa penyangga. Selain upaya – upaya diatas, melalui tulisan di salah satu koran terkemuka di Kalsel dan Kalteng diuraikan terkait keluarga dapat dijadikan sebagai solusi Konservasi. Melalui Extended Family (EF) dikarenakan luasnya wilayah Kelola kawasan hutan, termasuk kawasan konservasi. EF sendiri merupakan sebuah strategi pendekatan realistis dan cerdas yang dikembangkan oleh Dirjen KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc. atas dukungan Menteri LHK. EF adalah keluarga yang lebih luas dari sekedar hubungan sedarah. Nilai-nilai yang dibangun dalam EF adalah: Melalui EF dapat memberikan rasa kekeluargaan dan ketetanggaan bagi multi pihak sehingga tanggung jawab terhadap keberlanjutan tumbuhan dan satwa dipikul secara gotong royong sesuai kompetensi, peran dan fungsi para pihak. Masyarakat sebagai subjek dalam EF harus ikut terlibat dalam melindungi dan merawat serta memanfaatkan habitat dan ekosistemnya untuk kelangsungan hidup bersama. Selamat Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2020, Jaga Alam dan Rawat Peradaban, tutup Dr.Mahrus. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

SKW IV Melakuakn Evakuasi Burung Elang Brontok di Dumai

Pekanbaru, 5 November 2020 – Seekor Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) terbang dan mencari makanan disekitar Perumahan PT. Pertamina RU II Dumai. Berdasarkan keterangan penghuni perumahan, Elang tersebut sudah berada di sana sejak sekitar 1 minggu yang lalu. Warga di komplek tersebut memberinya makan, dan Elang pun mau memakannya. Namun kekhawatiran terjadi ketika si Elang menyambut makanan yang dibawa anak anak komplek. Demi keamanan dan keselamatan Elang Brontok dan warga komplek tersebut, Pak Wendi berinisiatif untuk menangkap dan menyerahkan Elang Brontok tersebut ke pihak Balai Besar KSDA Riau. Namun, Pak Wendi telah menginformasikan terlebih dahulu ke Call centre Balai Besar KSDA Riau. Berdasarkan laporan tersebut, Staf Seksi Konservasi Wilayah (SKW) IV bersama Penggiat Alam Rimbawan Pesisir serta Dokter Hewan Rut langsung mengecek Elang Brontok yang sudah diamankan di kandang ukuran 3 x 3 meter dengan tinggi 2 meter di Kolam Renang Sasana Tirta, Komplek Perumahan PT. Pertamina Bukit Datuk Dumai. Di tempat tersebut juga dilakukan serah terima oleh Pak Oky Wibisono, Manager HSSE, PT.Pertamina RU II Dumai kepada pihak Balai Besar KSDA Riau yang diwakili ibu Titin, staf SKW IV Dumai. Kondisi Elang Brontok diketahui kaki sebelah kiri putus dengan ukuran sayap ketika kembang +/- 2 meter.Selanjutnya Elang Brontok dibawa ke Pekanbaru untuk diobati dan diobservasi di Klinik Satwa Balai Besar KSDA Riau sebelum nantinya akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya yang jauh dari pemukiman penduduk. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Kunjungan Kepalai Balai BBKSDA Sulsel di Kemah Konservasi HCPSN 2020 Sahabat Penyu

Polewali Mandar, 4 November 2020 – Kunjungan Kepala Balai Besar KSDA SULSEL Bersama tim sebagai narasumber di Talkshow dan Kemah Konservasi memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2020 (HCPSN 2020) di kediaman Sahabat Penyu, Pantai Mampie Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Dalam HCPSN 2020 di Polewali Mandar turut hadir juga Nenny Tandi Rapak, S. Hut, M. Si Kabid PHKSDAE Dishut Provinsi Sulbar, Kepala Dinas DLHK Ir. Hj. Rahmin, M.Si didampingi sekretarisnya Hikmah, ST, M.Si serta Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata H. Darwin Badaruddin, M.Pd. Dari kaum milenial dan juga pelaksana kemah konservasi HPCSN 2020 dihadiri Adriansyah duta laut Indonesia 2020 dan Yusrie Mampie seorang local champion dalam penyelematan penyu di Sulawesi Barat. Kata Adriansah “Giat ini sebenarnya sudah kami rencanakan dari tahun 2019 namun akibat covid-19 baru bisa kita laksanakan November ini.” Dalam sambutan pembukaan Kepala balai besar Ir. Thomas Nifinluri, M,SC “saya sangat mengapresiasi giat kemah konservasi dalam rangka HCPSN 2020 yang jatuh 5 November 2020 dan dilaksanakan di Desa Mampie. Apalagi Pantai Mampie dengan sahabat Penyu-nya sudah mendunia.” “mengenai penyu, memang kita belum bisa maksimal dalam konservasinya di Sulawesi Barat karena beberapa waktu ada kasus ratusan penyu yang dibunuh di Mamuju Utara karena dianggal memakan rumput laut. Dan kami BBKSDA Sulsel menyesalkan penghentian penyidikan pada kasus ini.” Tambah Thomas. “Camp Konservasi HCPSN kali ini sangat menarik rangkaian acaranya, ada Sekolah laut, Nobar atau Nonton bareng yang kreatif dan inovatif melalui media social. Semoga acara ini menambah wawasan kita dalam penyelamatan penyu dan konservasi lainnya di Polman dan sekitarnya.” Tutup Thomas. Sebagai informasi Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional rutin diperingati pada tanggal 5 November di setiap tahunnya. Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional dimulai pertama kali pada tahun 1993, Peringatan ini ditujukan untuk meningkatkan kepedulian, perlindungan, pelestarian puspa dan satwa nasional serta untuk menumbuhkan dan mengingatkan akan pentingnya puspa dan satwa dalam kehidupan kita. Kemah Konservasi HCPSN 2020 ini akan berlangsung selama 2 (dua) hari yaitu tanggal 4-5 November 2020 menerapkan protokol covi-19 dengan jaga jaga jarak, pakai masker dan rajin cuci tangan dengan peserta kemah dari berbagai kalangan dan komunitas peduli lingkungan, Traveler serta kaum milenal yang datang dari berbagai kota Sulawesi Barat. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

Lima Puluh Karya Fotografi Ditampilkan Dalam Gelaran HCPSN 2020

Bogor, 5 November 2020 - Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Yayasan IAR Indonesia dan Bogor Nature and Wildlife Photography (BNWP) bekerja sama dengan Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggelar pameran karya fotografi flora dan fauna dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2020, di Graha Samida, Komplek Kebun Raya, Bogor, Jawa Barat. Pagelaran karya fotografi yang berlangsung selama dua hari, dari tanggal 7 sampai 8 November 2020 ini menampilkan beragam flora dan fauna khas Jawa Barat, khususnya yang terdapat di kawasan TNGHS. Tidak kurang dari 50 karya fotografi flora dan fauna karya para penggiat dan pencinta fotografi satwa liar memeriahkan pameran hasil kolaborasi antara Balai TNGHS dengan sejumlah komunitas fotografi dan organisasi seperti Yayasan IAR Indonesia, Yayasan Riza Marlon Indonesia, Bogor Nature and Wildlife Photography (BNWP), Kukangku, Gibbonesia, Yayasan KIARA dan Sahabat Halimun Salak (Sahala). Foto-foto yang ditampilkan terdiri dari 5 taksa yakni mamalia, burung, herpetofauna (reptil dan amfibi), serangga, serta puspa (tumbuhan). Kepala Balai TNGHS, Ahmad Munawir mengungkapkan, pameran fotografi ini merupakan puncak dari serangkaian kegiatan yang telah dilakukan untuk memperingati HCPSN 2020. Sebelumnya telah dilalukan pengumpulan foto flora dan fauna di Resort Pengelolaan Taman Nasional Wilayah Cikaniki, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Bogor pada 16 hingga 18 Oktober 2020, pengamatan migrasi raptor di Kampung Salaka, Bogor pada 24 dan 25 Oktober 2020, serta peningkatan kapasitas mitra TNGHS mengenai peran fotografi satwa liar untuk konservasi pada Sabtu, 31 Oktober 2020 di Bumi Perkemahan Sukamantri, Bogor. “Pagelaran karya fotografi ini juga menjadi salah satu bentuk kampanye dan promosi pelestarian flora dan fauna yang terus kami lakukan. Harapannya masyarakat lebih banyak mengenal satwa dan tumbuhan di TNGHS dan terpanggil untuk ikut menjaga kelestariannya,’’ ujar Ahmad Munawir. Sementara itu Kepala Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI, R. Hendrian mengatakan selama ini LIPI telah turut aktif memperingati HCPSN melalui berbagai kegiatan ilmiah, seperti penemuan spesies baru flora dan fauna, seminar, workshop, peluncuran buku, pameran dan aneka lomba. R. Hendrian menambahkan bahwa kebun raya sangat tepat dijadikan lokasi public campaign tentang tumbuhan dan satwa Indonesia. Karena upaya untuk menggugah dan memperkuat awareness dan kepedulian publik terhadap konservasi tumbuhan selaras dengan spirit yang diusung kebun raya. “Kami berharap pengunjung Kebun Raya tidak saja datang untuk sekedar menikmati lansekap yang hijau dan kesegaran alam nan asri. Lebih dari itu, kami juga berharap dapat men-deliver pesan-pesan dan informasi terkait konservasi tumbuhan.", ujar Hendrian. Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) merupakan agenda tahunan yang diperingati setiap 5 November. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian, perlindungan, pelestarian puspa dan satwa nasional serta untuk menumbuhkan dan mengingatkan akan pentingnya puspa dan satwa dalam kehidupan kita. Tahun ini, HCPSN mengangkat tema “Puspa dan Satwa Harapan Untuk Ketahanan Pangan dan Kesehatan” dengan ikon puspa si cantik Kecombrang (Etlingera elatior) dan si gagah Rusa Timor (Cervus timorensis). Kecombrang kaya akan manfaat dan Rusa Timor sebagai sumber protein hewani yang hanya bisa didapatkan dari hasil penangkaran atau keturunan kedua bukan dari alam. Sumber: Balai TN Gunung Halimun Salak
Baca Berita

Dalam Seminggu Balai KSDA NTB amankan 1600+ TSL Tanpa Dokumen

Mataram, 26 Oktober 2020 - Tim TSL Balai KSDA NTB menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai adanya pengangkutan satwa liar jenis burung tanpa dokumen menggunakan bis yang beranjak dari Pelabuhan Padang Bai, Bali. Seteleh mendalami informasi, Tim TSL BKSDA NTB langsung bergerak menuju Pelabuhan Lembar untuk melakukan pemantauan. Bis "TM" yang menjadi target pemeriksaan-pun tiba di Pelabuhan Lembar dan Tim TSL mengikuti dari belakang hingga ke Kantor Agen Bis tersebut di daerah Bertais, Mataram. Setibanya di Kantor Agen dan Bis sedang melakukan bongkar-muat barang, Tim TSL langsung melakukan pemeriksaan di bagasi dalam dan luar bis. Tim TSL berhasil menemukan 2 (dua) keranjang yang berisi : - 1 Keranjang berisi Burung Perkutut 17 (Tujuh Belas) ekor. - 1 Keranjang berisi Burung Lovebird 45 (Empat Puluh Lima) ekor. Dari hasil interogasi dengan Supir maupun kernet bus, mereka tidak dapat menunjukkan Dokumen Resmi Pengangkutan / Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Liar Dalam Negeri (SATS-DN). Mereka juga tidak tahu siapa pemilik barang yang angkut. Oleh karena itu sebanyak 2 (dua) keranjang atau sekitar 62 (Enam Puluh Dua) ekor satwa liar tanpa dokumen ini langsung diamankan Tim TSL BKSDA NTB untuk dibawa ke kantor BKSDA NTB di Mataram untuk penyelidikan lebih lanjut. Berlanjut di lain kesempatan, tepatnya Senin 2 November 2020 Tim TSL BKSDA NTB yang kali ini berkoordinasi dengan POLRES Mataram kembali berhasil melakukan pengamanan TSL Tanpa Dokumen. Bermula dari informasi Masyarakat, Bis "SR" yang berangkat dari Wilayah Dompu menuju ke Mataram akan menurunkan sejumlah keranjang berisi TSL di wilayah Narmada Kab. Lombok Barat. Setelah melakukan pendalaman informasi, Tim langsung berangkat menuju lokasi dan melakukan penyetopan terhadap bis "SR" tepat di daerah Narmada. Pemeriksaan-pun dilakukan di bagasi dalam dan luar bis, Tim berhasil menemukan sebanyak 27 (Dua Puluh Tujuh) keranjang yang berisi satwa liar Jenis Burung Manyar yang diperkirakan total berjumlah 1620 ekor. Supir dan Kernet tak bisa menunjukkan Dokumen resmi pengangkutan TSL serta tidak tahu menahu siapa pemilik barang, sehingga sebanyak 27 keranjang TSL "Tak Bertuan" ini langsung dibawa dan diamankan di Kantor BKSDA NTB di Mataram. UPDATE (04/11/2020) : Mengingat jumlah yang banyak serta kondisi satwa yang telah melalui perjalanan panjang dalam keranjang sempit (serta tidak termasuk dalam Satwa Dilindungi), Sebanyak 1620 Ekor Satwa Burung Manyar hasil pengamanan tanggal 02 November 2020 langsung dilepasliarkan di TWA Kerandangan, Senggigi Kab. Lombok Barat. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat

Menampilkan 2.849–2.864 dari 11.141 publikasi