Sabtu, 16 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

BBKSDA Riau Evakuasi Burung Baza Hitam

Pekanbaru, 2 Desember 2020 – Pada Senin, 30 November 2020, Tim PANDU (Pecinta Hewan Dumai) menyerahkan Burung Baza Hitam (Aviceda Leuphotes) ke Resort Dumai, Seksi Konservasi Wilayah IV Balai Besar KSDA Riau. Dari keterangan yang disampaikan Tim PANDU, bahwa pada tanggal 26 November 2020 sekira pukul 11.00 Wib, seorang warga atas nama Junaidi menjumpai 1 ekor Burung Baza Hitam terjatuh ketika terbang menabrak tiang listrik di Dermaga Pelabuhan Kota Dumai. Keadaan burung Baza Hitam tersebut lemas dan pingsan. Burung langsung dibawa pulang ke rumah dan sdr. Junaidi melaporkan kejadian tersebut ke PANDU. Setelah mendapat laporan, Tim PANDU segera mengecek burung tersebut. Oleh karena burung masih lemas dan pingsan, Tim PANDU membawa ke Sekretariat PANDU untuk dirawat terlebih dahulu sebelum kemudian diserahkan ke Resort Dumai, Seksi Konservasi Wilayah IV. Terima kasih banyak bang Junaidi dan Tim PANDU atas upaya konservasi yang telah dilakukan serta telah menebarkan kasih sayangnya kepada sesama makhluk hidup. Semoga Tuhan membalas segala kebaikan dengan segala rejeki, kesehatan dan keberkahan.... Aamiin YRA... Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Polybag Ramah Lingkungan, Produk Kelompok Tani Desa Penyangga TN Bukit Baka Bukit Raya

Sintang, 01 Desember 2020. Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR) mendorong usaha ekonomi produktif masyarakat anggota kelompok mitra konservasi melalui berbagai upaya peningkatan kapasitas dan membuka peluang pemasaran produk-produk yang dihasilkan oleh masyarakat. Masyarakat anggota Kelompok Tani Tungku Sengkumang di Desa Nusa Poring-Kecamatan Menukung; Kabupaten Melawi pada wilayah kerja Resort Mentatai, SPTN Wilayah I Nanga Pinoh memiliki keahlian dalam hal membuat kerajinan anyaman. Berbagai jenis anyaman dari bahan rotan, bambu, kajang, purun dan resam dengan bentuk yang beragam dapat dibuat sesuai dengan kebutuhan. Pada umumnya masyarakat menggunakan bahan-bahan tersebut untuk membuat anyaman untuk perkakas dalam kegiatan pertanian dan kebutuhan sehari-hari di rumah. Kelompok Tani Tungku Sengkumang merupakan salah satu kelompok tani yang berada di desa penyangga TNBBBR dan telah menjalin kemitraan konservasi dengan BTNBBBR dalam pengelolaan zona tradisional dan pemberdayaan masyarakat. Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang selama ini dilakukan oleh masyarakat salah satunya adalah daun kajang (Pandanus epiphyticus) yang digunakan masyarakat sebagai bahan membuat anyaman tempajak (tempat penyimpan beras), tikar, kipas dan wadah bibit padi untuk berladang. Masyarakat melakukan inovasi pemanfaatan daun kajang untuk membuat anyaman dengan bentuk serupa wadah tanam/ polybag untuk menyemai bibit tanaman. Pemanfaatan bahan organik dalam proses persemaian ini diharapkan dapat meningkatkan nilai konservasi pada lingkup yang lebih luas. Bahan ini tidak meninggalkan sampah plastik dan dapat hancur dengan sendirinya saat proses penanaman bibit di alam. Penggunaan wadah tanam organik dalam proses persemaian merupakan sinergi konservasi yang melibatkan masyarakat di sekitar kawasan untuk turut memberikan andil dalam pelestarian dan konservasi alam. Melalui proses pendampingan serta pengembangan produk dan pasarnya, Kelompok Tani Tungku Sengkumang berhasil memenuhi pesanan awal dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) sebanyak 1000 buah pada bulan Oktober 2020. Pengembangan serta inovasi produk anyaman terus dilakukan masyarakat dengan pendampingan dari BTNBBBR untuk menciptakan produk-produk yang berdaya saing di pasaran serta memiliki kontribusi pada upaya konservasi dan pelestarian lingkungan. Sumber :
Baca Berita

Perkembangan Sarpras Wisata Alam di TN Kepulauan Seribu

Pulau Pramuka, 9 Desember 2020. Sarana Prasarana (Sarpras) Wisata Alam Pulau Pramuka, Taman Nasional Kepulauan Seribu yang diresmikan Direktur Jenderal KSDAE pada bulan April Tahun 2018 masih dalam kondisi baik. Sarpras tersebut terdiri dari Mangrove Track, Jembatan Gantung, Kolam renang outdoor, ikon nama Taman Nasional Kepulauan Seribu, Plasa dan Labirin Mangrove. Di masa pandemi ini, semua sarpras tersebut tetap dijaga kebersihan dan fungsinya yang didukung juga oleh Pemerintah Daerah dan masyarakat Kabupaten Jakarta Kepulauan Seribu. Khusus di labirin mangrove sudah mulai banyak mangrove yang ditanam. Pengelolaan wisata bahari di Taman Nasional Kepulauan Seribu yang memiliki karakter pulau yang unik harus mempertimbangkan daya dukung alam. Pemerintah Daerah setempat terus berupaya mendukung pengembangan berbagai jenis wisata di Taman Nasional Kepulauan Seribu, di antaranya yaitu Healing tourism, Yacht tourism, dan retirement tourism. Hal itu sebagai salah satu role model Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu, yaitu Pengembangan Ekowisata Bahari di Kepulauan Seribu dalam kerangka Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Sumber : Ditjen KSDAE & Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu
Baca Berita

Mencari inspirasi Wisata Pendidikan dari Ecocamp Bandung

Jakarta, 29 November 2020. Taman Nasional Kepulauan Seribu saat ini sedang menyusun paket wisata edukasi yang berlokasi di Pulau Pramuka. Kelompok Binaan, SPKP Samo Samo menjadi salah satu kelompok yang sudah punya inisiasi membuat edupark didampingi oleh para penyuluh TN Kepulauan Seribu, agar kegiatan wisata yang dibuat dapat menarik, unik dan berkesan memberikan pengalaman bagi wisatawan, sehingga dipandang perlu melakukan studi banding ke Eco learning camp. Ecocamp, berlokasi di Dago Pakar, Bandung, Jawa Barat, di sinilah dua orang Perwakilan SPKP Samo Samo yang didampingi oleh Kepala Balai dan dua orang penyuluh pendamping mengikuti sebuah cerita dari perjalanan studi banding Pengelolaan Ekowisata serta belajar mencintai alam dengan cara berbeda. Feels like home, itu yang dirasakan saat pertama kali berada di Ecocamp ini. Romo Ferry, salah satu pendirinya menceritakan tentang aktivitas yang bisa didapatkan saat berada di Ecocamp, salah satunya tujuh kesadaran baru hidup ekologi, yang terdiri dari: Hidup Berkualitas, Sederhana, Hemat, Peduli, Semangat Saling Berbagi, Bermakna dan Harapan. Hal unik lainnya adalah saat menikmati persembahan tea ceremony untuk menyambut pertama kali pengunjung datang, seperti diajak kembali untuk merenungi dan bersyukur atas apa yang dihadirkan oleh alam untuk kehidupan kita. Pengelolaan sampah menjadi salah satu muatan pada kegiatan wisata edukasi di Pulau Pramuka yang diajarkan pula di Ecocamp. Di sini setiap org diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap sampahnya. Pengelolaan sampah organik dan anorganik, pemanfaatannya hingga penjelasan tentang proses merubah sampah anorganik menjadi organik yang sangat menarik dan memotivasi untuk dapat diaplikasikan di Kepulauan Seribu. Mas Adi, seorang volunteer pada Ecocamp mengajak melakukan hening dan nafas kehidupan, dimana peserta diajak untuk menghentikan semua aktifitas yang sedang dilakukan untuk merenung bagaimana oksigen yang dihasilkan oleh alam dihadirkan untuk kita bisa terus bernafas. Interpretasi yang sungguh menyentuh setiap pengunjung. Kegiatan yang tak kalah menarik saat Ibu Wiwien Tri Buwani yang menjelaskan tentang produk ekowisata, dan pentingnya interpretasi dalam sebuah produk ekowisata. Kita diberi pengetahuan bahwa seorang interpreter knowing when to stop dalam memberikan interpretasi ketika alamnya sudah sungguh sangat bermakna, untuk membiarkan pengunjung melebur dengan alam dan menikmatinya. Perjalanan ini sungguh menjadi pengalaman dan menginspirasi untuk membuat sesuatu yang berbeda untuk kegiatan wisata edukasi di Taman Nasional Kepulauan Seribu, salah satunya dengan kemasan interpretasi yang luar biasa. Kita bisa menyampaikan "apa yang kita anggap penting (alam Taman Nasional) untuk menyentuh hati para pengunjung". Sumber : Devi A. dan Alinar Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu
Baca Berita

Balai TN Matalawa Akan Olah RPJP 2018-2027 Secara Efektif & Legal

Waingapu, 27 November 2020. Perencanaan kawasan merupakan faktor penting untuk mengetahui arah pengembangan baik itu jangka pendek, menengah, ataupun panjang. Dalam materinya pada kegiatan pembahasan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP), Kepala Sub Direktorat Perencanaan Pengelolaan Kawasan Konservasi, Ratna Hendratmoko, S.H, M.Hum, menyampaikan bahwa kunci dari RPJP adalah Efektif dan Legal. Efektif berarti secara tepat mewujudkan tujuan dan fungsi kawasan konservasi, serta legal berarti merujuk pada kebijakan atau aturan yang berlaku. Moko juga menjelaskan bahwa tahapan penyusunan merupakan kunci dalam membuat RPJP. Pembentukan tim kerja hingga akhirnya mencapai sebuah dokumen RPJP harus mengakomodir stakeholder terkait pengelolaan kawasan. Dokumen yang telah disusun pun nantinya dapat dievaluasi sesuai dengan kondisi tapak lewat persetujuan para pihak juga. Kepala Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa), Ir. Memen Suparman, M.M., yang mengikuti kegiatan ini memberikan highlight dan arahan khusus kepada tim penyusun RPJP untuk pengakomodiran stakeholder. Peningkatan partisipasi stakeholder terkait diharapkan dapat meningkatkan kepedulian akan rencana pengelolaan yang telah ditetapkan sehingga tujuan pengelolaan dapat tercapai. Kegiatan ini diadakan secara virtual melalui zoom meeting dengan dihadiri pegawai TN Matalawa dan Direktorat Kawasan Konservasi, Ditjen KSDAE. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Dua Hius Paus Muncul di Taman Nasional Taka Bonerate

Pulau Jinato, Kepulauan Selayar, 29 November 2020. Dua ekor Hiu Paus (Rhincodon typus) muncul di Taman Nasional Taka Bonerate, tepatnya di Selatan Pulau Jinato. Panjang hiu paus sekitar 5 (lima) meter muncul di bawah bagan kapal nelayan. Menurut nelayan setempat, ikan tersebut sering muncul saat peralihan musim, yakni memasuki Muson Barat atau Muson Timur, dan mereka percaya bahwa dengan kemunculannya, akan banyak ikan diperoleh. Semoga kehadiran Hiu Paus tersebut juga dapat menjadi atraksi menarik bagi wisatawan di Taman Nasional Taka Bonerate. Sumber : Balai Taman Nasional Taka Bonerate Video editor: yusuf ronald
Baca Berita

Hijaukan Sumba di Hari Menanam Nasional

Waingapu, 28 November 2020. Hari Menanam Nasional yang diperingati setiap tanggal 28 November memiliki arti penting bagi seluruh rakyat Indonesia. Di hari ini secara simbolis diperingati sebagai tonggak kegiatan penanaman yang dapat dilakukan di seluruh nusantara. Kegiatan penanaman dalam rangka memperingati Hari Penanaman Nasional dilakukan di 2 tempat dan 2 waktu berbeda di tanggal yang sama yakni 28 Desember. Kegiatan penanaman pertama dilakukan pada pagi hari di Blok Hutan Kambatawundut dilakukan oleh Kepala Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa), Ir. Memen Suparman, M.M., bersama dengan Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Lewa, Judy Aries Mulik, STP, beserta para pegawai di tingkat tapak. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri pejabat tingkat Kecamatan Lewa (Muspicam) yang terdiri dari Camat, Kapolsek Lewa, dan Danramil Lewa. Penanaman di Kambatawundut ini menjadi awalan dari program penanaman yang akan dilakukan untuk program Pemulihan Ekosistem (PE) Balai TN Matalawa seluas ± 30 ha. Selain pegawai Balai TN Matalawa dan Muspicam, kegiatan ini juga diikuti oleh masyarakat yang tinggal di Blok Hutan Kambatawundut dan kelompok kerja PE. Tidak lama berselang dan tidak jauh dari lokasi penanaman pertama, Kepala Balai TN Matalawa beserta rombongan yang sama menuju Blok Hutan Langgaliru untuk melakukan kegiatan penanaman kedua. Kegiatan kedua ini terselenggara berkat kerjasama dengan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) X Kupang. Hal ini merupakan komitmen BPJN dalam rangka merehabilitasi kawasan hutan yang menjadi proyek pemeliharaan jalan nasional yang memotong kawasan TN Matalawa. Kepala Balai mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan ini. Harapannya bahwa bibit yang ditanam dapat tumbuh dengan baik dan kelestarian hutan di Pulau Sumba akan meningkat. Dua kegiatan penanaman di dua lokasi dan waktu berbeda ini berhasil menanam lebih dari 600 bibit tanaman hutan yakni adinu, marra, lobung, dan langaha. Sumber: Balai Taman Nasional Matalawa
Baca Berita

Penyerahan Beruang Oleh Suku Anak Dalam

Merangin, 30 November 2020. Berdasarkan informasi dari salah satu Pegawai Dinas Sosial Kabupaten Merangin yang membidangi Suku Anak Dalam (SAD), diduga salah satu warga dari Kelompok SAD menemukan anak beruang (Helarctos Malayanus) yang rencana nya akan mereka perjualbelikan. Mengetahui informasi tersebut, tim satuan petugas Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi kemudian melakukan kegiatan PULBAKET (Pengumpulan Bahan dan Keterangan). Dari hasil PULBAKET, didapatkan informasi bahwa salah satu warga SAD telah menguasai 2 ekor anak beruang di Desa Mentawak, Kecamatan Nalo Tantan, Kabupaten Merangin. Menindaklanjuti hal tersebut, tim kemudian melakukan Giat Patroli Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar dengan menemui pimpinan kelompok SAD tersebut. Dari hasil patroli, didapati kedua anak beruang berjenis kelamin jantan ini diperoleh warga dari wilayah hutan Nalo Tantan. Kedua anak beruang yang diperkirakan berumur 1-2 tahun tersebut ditemukan dalam kondisi baik dan sehat. Tim yang didampingi Bapak Azrul dari Dinas Sosial kemudian berusaha untuk melakukan mediasi kepada kelompok SAD agar bersedia menyerahkan dua ekor anak beruang tersebut. Proses penyerahan sempat berjalan alot, disebabkan oleh warga yang menguasai beruang enggan menyerahkan kedua ekor beruang tersebut. Tumenggung Jon Edward, selaku pimpinan kelompok mencoba memberikan pengertian kepada warganya, hingga akhirnya disepakati biaya kompensasi atas perawatan yang selama ini telah mereka lakukan. Kepala SKW I BKSDA Jambi, H. U. Ikhwanudin, SP, ME mengatakan bahwa, “Untuk sementara, kedua anak beruang tersebut telah diamankan serta dirawat di Tempat Penyelamatan Satwa SKW I BKSDA Jambi sebelum dilepasliarkan ke habitat yang sesuai di Provinsi Jambi”. Ujarnya. Kepala Balai KSDA Jambi, Rahmad Saleh, S.Hut.,M.Si saat dikonfirmasi menyampaikan bahwa “Kami sangat mengapresiasi keberhasilan tim dilapangan sehingga warga SAD bersedia menyerahkan beruang kepada petugas. Beruang ini memiliki peran yang besar dalam menjaga kestabilan ekosistem di alam, maka dari itu kita mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kelestarian Sumber Daya Alam (SDA) sebagai warisan untuk anak cucu kita mendatang dan titipan Allah SWT” tutupnya. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Kucing Hutan Hasil Temuan Diserahkan Rahmad ke BBKSDA Riau

Pekanbaru, 30 November 2020 – Pada Sabtu, 21 November 2020, Kucing Kuwuk atau Kucing Hutan (Prionailurus bengalensis) berjenis kelamin jantan, berusia sekitar 3 bulan, terlihat sedang asik bermain di kandang transit satwa Balai Besar KSDA Riau. Seorang warga Garuda Sakti bernama bapak Rahmad Fitri mengantar satwa tersebut ke Kandang Transit Satwa Balai Besar KSDA Riau setelah seseorang menemukannya di pinggir jalan dan menyerahkannya kepada Pak Rahmad. Mas Narko, seorang perawat satwa yang sangat telaten mengurus satwa - satwa yang ada di kandang transit, sesekali mengetuk-ngetuk kandang tersebut untuk mengajaknya berinteraksi. Tingkahnya lucu dan menggemaskan, tetapi terlihat liar. Kucing Hutan termasuk dalam deretan satwa liar dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan Dan Satwa Yang Dilindungi. Satwa ini baru sekitar enam hari menghuni kandang transit satwa dalam rangka observasi. #karenakonservasitakmungkinsendiri Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

School Visit 2020, Balai TN Kepulauan Seribu Kedatangan Siswa/i SD Negeri 02 Pagi Pulau Kelapa

Jakarta, 30 November 2020. “Anak-anak kecil, yang mulai belajar mengenal alam ibarat kertas putih yang wajib ditulisi pemahaman konservasi”. Demikian yang disampaikan Bapak konservasi kami Ir. Wiratno, M.Sc ( Dirjen KSDAE) agar memberikan pemahaman tentang konservasi sejak dini untuk mencintai alam dan lingkungan” Sabtu, 28 November 2020, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Pulau Kelapa Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu menerima kunjungan yang terdiri dari 35 orang siswa berasal dari kelas 4, 5 dan 6, serta didampingi guru dalam kegiatan School Visit. Kegiatan yang didukung oleh PT Nusantara Regas bertujuan mengajak siswa-siswi untuk mengenal lebih dalam tentang kegiatan konservasi yang dilakukan di Taman Nasional Kepulauan Seribu. Sebelum melaksanakan aktifitas, para siswa dilakukan pengukuran suhu tubuh dan tracing Kesehatan dengan baik. Protokol Kesehatan 3 M (Mencuci Tangan, Menjaga Jarak-Memakai Masker) juga dilakukan dengan sangat baik oleh para siswa, berbaris dengan rapi menunggu giliran. Kegiatan School Visit ini dikemas secara sederhana, namun memuat banyak informasi yang edukatif dan mudah dipahami oleh para siswa untuk merawat dan mencintai alam lingkungan tempat tinggal mereka. Siswa-siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang dinamai berdasarkan sumberdaya kehati. Selain agar lebih fokus dalam setiap pembelajaran, juga meminimalisir kerumunan yang terlalu banyak saat aktifitas yang dilakukan. Setiap kelompok memiliki yel yel sendiri yang selalu diserukan untuk saling menyamangati dalam setiap aktifitas dan berjalan menuju pos pos kegiatan. Ya, sebagai antisipasi mengurangi kerumunan, school visit kali ini dilakukan dengan membuat Pos Pos yang didatangi oleh kelompok siswa secara bergantian. Nama setiap pos mencerminkan informasi dan kegiatan yang dilakukan, seperti: Pos Terumbu Karang, Pos Mangrove dan Pos Penyu. Kakak Aldo, seorang Kader Konservasi TN Kepulauan Seribu bertugas menjaga Pos Terumbu Karang. Kak Aldo menjelaskan tentang fungsi terumbu karang melalui permainan “Berikade Karang”, dimana anak-anak diminta berbaris seperti berikade yang diibaratkan sebagai karang dan Kak Aldo menjadi ombak yang berusaha menerjang. Permainan ini mengajarkan kepada anak-anak, karang yang kuat dapat menahan gempuran ombak dan menjaga pulau-pulau. Sebagai aksi nyatanya, anak-anak juga diajak untuk melakukan transplantasi karang. Pos Mangrove yang dijaga oleh Kakak Iskandar (Ketua SPKP Bintang Laut) mengajak anak-anak untuk menanam mangrove dengan metode rumpun berjarak, dimulai dari mencari bibit hingga melakukan penanaman bibit tersebut. Kak Iskandar juga menceritakan tentang sejarah Pulau Kelapa Dua yang terkikir ombak, dan perlahan ditanami mangrove oleh Taman Nasional Kepulauan Seribu yang saat ini menjadi benteng untuk pulau-pulau. Pos selanjutnya, Pos Penyu dijaga oleh Kakak Zoel yang berlokasi di Habituasi Penyu SPTN I Pulau Kelapa yang menjelaskan tentang penyu. Penjelasan yang dilakukan dengan cara bercerita seolah Ayah kepada anak-anaknya. Dimulai dengan seloroh: “Elok ya Penyunya?” yang kemudian cerita mengalir dimulai dari penyu yang mendarat untuk membuat sarang, memulai bertelur dan kecerdasannya dalam membuat sarang dengan jejak yang membingungkan para pencuri telur penyu. Selain itu, Kak Zoel juga mengajak anak-anak memberi makan tukik dengan kasih sayang agar gigi tukik tidak tertusuk duri, yaitu membuang duri dan kepala ilan selar. Selanjutnya, melepas tukik yang dikakukan dengan sangat gembira oleh anak-anak. Semoga anak anak yang seputih kertas ini dapat menerima setiap informasi tentang konservasi yang dijelaskan dan kemudian mencintai, serta menularkannya pada kehidupan kesehariannya. Sumber: Wira Saut Parianto Simanjuntak - Penyuluh Kehutanan Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu
Baca Berita

BKSDA Yogya Sosialisasi di Pasar Hewan dan Tumbuhan PASTY

Yogyakarta 26 November 2020. Balai KSDA Yogyakarta melakukan sosialisasi Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No : P. 106/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018. Bertempat di Pasar Hewan dan Tumbuhan PASTY Yogyakarta, kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Kamis (26/11/20). Sosialisasi dilakukan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Dalam kegiatan ini BKSDA Yogyakarta bekerja sama dengan berbagai stakeholder yaitu POLDA DIY, Pengelola Pasar PASTY, Ketua Paguyuban Pedagang Pasar PASTY, dan Polsek Mantrijeron. Materi sosialisasi meliputi Peraturan MenLHK No : P. 106/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang perubahan kedua atas peraturan MenLHK no :P. 20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang jenis TSL yang dilindungi khususnya terkait jenis-jenis satwa yang dilindungi. Kegiatan diawali dengan arahan teknis. Dalam arahannya, Kepala Balai KSDA Yogyakarta, Muhammad Wahyudi sebagaimana disampaikan Kepala Seksi Konservasi Wilayah I sangat mengapresisasi kerja sama yang dilakukan antara BKSDA Yogyakarta, POLDA DIY, Pengelola Pasar PASTY, dan Paguyupan Pedagang Pasar PASTY. Melalui kegiatan seosialisasi ini diharapkan dapat meminimallisir terjadinya perdagangan satwa dilindungi secara illegal khususnya di Pasar PASTY. Sasaran sosialisasi adalah para pedagang satwa khususnya jenis burung yang ada di pasar PASTY dan pengunjung yang dijumpai. Selain mensosialisasikan jenis-jenis burung yang dilindungi berdasarkan peraturan P. 106/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018, disampaikan apabila ada kepemilikan satwa dilindungi yang baru masuk dalam daftar p.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 dihimbau untuk mendatakan satwanya ke kantor BKSDA hingga tanggal 20 Januari 2021. Pada kesempatan ini juga diserahkan souvenir kepada instansi yang terlibat dalam kegiatan dan para pedagang. Souvenir berupa leaflet satwa dan tumbuhan yang dilindungi, gantungan kunci, tumbler, kaos, dan payung. Pengelola pasar PASTY dan POLDA DIY berharap kegiatan sosialisasi dapat dilaksanakan secara rutin dan berkesinambungan. “Melalui kegiatan sosialisasi ini kami berharap pedagang satwa yang ada di pasar PASTY tahu dan paham tentang jenis-jenis satwa yang dilindungi berdasarkan peraturan terbaru dan secara suka rela tidak lagi memperjualbelikan satwa yang dilindungi”, papar Wahyudi dalam kesempatan terpisah. Sumber : Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Operasi Gabungan Penyelamatan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling

Pekanbaru, 27 November 2020 – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Direktorat Jenderal Penegakan Hukum (Ditjen Gakkum) KLHK dan Polda Riau membongkar belasan tempat pengolahan kayu (sawmill) ilegal dalam operasi gabungan untuk menyelamatkan Suaka Margasatwa (SM) Bukit Rimbang Bukit Baling, pada tanggal 18-22 November 2020. Operasi gabungan tersebut berhasil mengamankan 664 batang kayu gelondong dan 2.559 keping kayu olahan. “Operasi gabungan ini sudah direncanakan cukup lama. KLHK sangat serius dan konsisten memerangi kejahatan lingkungan hidup dan kehutanan. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, kami telah melakukan lebih dari 1.400 operasi penindakan,” kata Dirjen Gakkum KLHK, Rasio Ridho Sani. Operasi gabungan yang melibatkan 456 personel ini menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai adanya aktivitas pembalakan ilegal dan sawmill ilegal yang mengolah kayu alam dari kawasan SM Rimbang Baling. Dirjen Gakkum mengapresiasi semua pihak yang terlibat dalam operasi ini. Kapolda Riau, Irjen Pol. Agung Setya Imam Efendi, mengatakan bahwa keberhasilan operasi ini berkat sinergitas dan kerja sama antara KLHK dan Polda Riau. Upaya penegakan hukum terhadap kegiatan ilegal yang mengancam kelestarian sumber daya alam dan lingkungan akan terus dilakukan. Tim mengamankan 404 batang kayu gelondong, 2.559 keping kayu olahan dari penampung kayu ilegal di Desa Teratak Buluh, Kabupaten Kampar dan 260 batang kayu gelondong di Sungai Subayang dan Dermaga Kayu Desa Gema, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Selain itu, tim juga mengamankan 2 truk, 12 mesin bandsaw pengolah kayu, 7 mesin diesel penggerak, dan 25 bilah mata gergaji bandsaw. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Balai TN Way Kambas Ngopi Bareng Masyarakat Tegal Yoso

Tegal Yoso, 26 November 2020. Plt. Kepala Balai TN. Way Kambas, Amri, SH. M. Hum. kembali bertemu dengan masyarakat sekitar kawasan untuk bersilaturahmi dan Ngopi bareng untuk saling mengenal dan memberikan masukan-masukan yang tujuan akhirnya dapat terwujudnya masyarakat yang sejahtera dan hutan Lestari, Kamis (26/11). Pertemuan malam ini dilakukan di kediaman Bapak Sugiyanto salah satu anggota masyarakat yang kebetulan menjadi anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) dan juga sebagai anggota Masyarakat Mitra Polhut Penanggulangan Konflik Gajah. Kehadiran Bapak Plt. Ka. Balai disambut hangat oleh masyarakat Tegal Yoso yang juga dihadiri oleh Kepala Desa Tegal Yoso, Ahmad Yani. Sugiyanto sebagai tuan rumah menyampaikan rasa terimakasihnya kepada Bapak Plt. Ka. Balai TNWK yang sudah bersedia hadir di kediamannya. “Saya sampaikan terimakasih kepada Bapak Plt. Ka. Balai beserta rombongan yang sudah sudi hadir di kediaman kami menghadiri undangan masyarakat Tegal Yoso dan ini merupakan suatu kehormatan bagi kami dan kami minta maaf jika acara ini kami adakan malam hari dikarenakan pada siang hari kami semua bekerja di sawah dan kebun” ucap Sugiyanto dalam sambutannya. Sementara Kades Tegal Yoso berharap agar dengan silaturahmi ini dapat menambah wawasan kita untuk mencari solusi dalam menyelesaikan permasalahan konflik gajah yang terjadi selama ini di Tegal Yoso. “Desa Tegal Yoso ini ada 5 dusun dan 3 dusun diantaranya mengalami gangguan gajah dan sudah berlangsung cukup lama sehingga kami sudah menjadi terbiasa dengan permasalahan ini” terang pak Kades. Masyarakat Tegal Yoso ternyata sangat hangat dan welcome sekali dalam menyambut para tamunya, meskipun selama ini mereka mengalami gangguan gajah namun tidak ada rasa marah maupun dendam yang terpancar dari wajah-wajah masyarakat yang hadir malam ini. Sehingga bapak Plt. Ka. Balai sangat mengapresiasi dan mengucapkan terimakasih atas sambutan hangat dan terbuka silaturahmi kami ke masyarakat Tegal Yoso pada malam ini. “Kami hadir di sini dengan mengajak beberapa staf dan juga kami bawa teman-teman dari Forum Penggerak Usaha Masyarakat (FPUM) untuk bersama-sama mencari solusi agar perekonomian masyarakat penyangga kawasan TNWK termasuk desa Tegal Yoso ini terus bergerak dan semakin meningkat”, ucap bapak Amri, SH. M. Hum. FPUM akan membantu masyarakat meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar kawasan TNWK melalui kelompok-kelompok usaha masyarakat. Kita harus gali potensi desa ini secara bersama-sama, usaha-usaha ekonomi masyarakat harus tumbuh. Setiap desa nanti akan kita dampingi dengan penyuluh-penyuluh yang ada serta para mitra strategis akan kita arahkan untuk berkegiatan juga di desa dengan melakukan pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan berbagai stakeholder. Sehingga kesejahteraan masyarakat pinggir kawasan ini dapat kita wujudkan. Sampai saat ini berbagai upaya penanggulangan gangguan satwa gajah sudah kita lakukan namun poin penting yang harus kita bangun bersama adalah bagaimana masyarakat bisa hidup harmonis dan berbagi ruang berdampingan dengan alam dan termasuk satwa yang ada di dalamnya. “Jika semua yang kita lakukan ini bisa berjalan kami sangat yakin kelestarian kawasan TNWK akan terwujud” tutup Plt. Ka. Balai. Sumber: Humas Balai Taman Nasional Way Kambas
Baca Berita

Evakuasi Beruang Madu, Hasil Penyerahan Masyarakat Di Kecamatan Bunut

Pekanbaru, 27 November 2020 – Pada 23 November 2020, seekor satwa Liar Beruang Madu (Helarctos malayanus) tiba di kandang transit satwa Balai Besar KSDA Riau yang merupakan hasil penyerahan dari masyarakat. Petugas Seksi Konservasi Wilayah I turun ke lokasi kediaman Bapak Yusup di Desa Lubuk Mandian Gajah, Kecamatan Bunut, Kabupaten Pelalawan untuk mengevakuasi satwa. Kondisi cuaca yang kurang bersahabat tetap membuat petugas bersemangat dalam penyelamatan satwa liar yang dilindungi. Dengan dibantu oleh masyarakat, Tim berhasil mengevakuasi Beruang Madu dari dalam kandang bapak Yusup ke kandang transit yang telah disiapkan oleh Tim. Butuh waktu cukup panjang membawa satwa tersebut ke kantor Balai Besar KSDA Riau untuk dilakukan observasi sebelum pada akhirnya akan dilepasliarkan. Saat ini satwa telah berada di kandang transit satwa Balai Besar KSDA Riau. Semoga Beruang madu dapat segera dilepasliarkan ke habitatnya yang jauh dari pemukiman penduduk. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

BBKSDA Sumut Lepasliarkan Kukang Di Hutan Lindung Batang Toru

Dolok Sanggul, 27 November 2020. Bermula dari adanya laporan masyarakat Desa Sihite I, Kecamatan Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah IV Tarutung, terkait adanya penemuan satwa liar jenis Kukang (Nycticebus coucang) yang melintas di pemukiman warga. Masyarakat yang mengetahui bahwa kukang tersebut merupakan satwa yang dilindungi, kemudian mengamankan sementara sambil menunggu dievakuasi. Tim BBKSDA Sumut kemudian melakukan serah terima satwa kukang tersebut, pada Selasa, 24 November 2020, yang disaksikan Kepala Desa. Setelah melakukan observasi diketahui bahwa kukang tersebut berjenis kelamin jantan, dewasa serta dalam keadaan sehat, sehingga Tim memutuskan untuk melakukan pelepasliaran di kawasan hutan yang merupakan habitat kukang. Kemudian Tim melepasliaran kukang tersebut di Kawasan Hutan Lindung Batang Toru Blok Barat, Desa Banuaji II, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, sekitar pukul 13.00 WIB. Pelepasliaran kukang sebelumnya telah dikoordinasikan dengan Perangkat Desa Banuaji II, dimana kawasan hutan lindung di sekitar desa memang masih banyak ditemui kukang. Tim juga menyampaikan edukasi dan penyuluhan kepada pihak Desa Banuaji II, apabila masyarakat menemukan satwajenis yang dilindungi seperti kukang, trenggiling, orangutan dan jenis lainnya, agar segera melaporkannya ke petugas BBKSDA Sumatera Utara, dan dihimbau juga agar masyarakat desa tidak memburu serta memeliharaya karena perbuatan tersebut melanggar peraturan perundang-undangan dan akan dikenakan sanksi hukum. Sumber : Hafsah P. S.Hut. Penyuluh Kehutanan Pertama- Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Srikandi Pelestari Tradisi dan Konservasi dari Desa Penyangga TANA BENTARUM

Putussibau, 27 November 2020. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) kembali harum dikancah dunia konservasi tanah air Indonesia. Pada hari Jumat, tanggal 27 November 2020 Yayasan Kehati memberikan penghargaan kategori Tunas Kehati kepada Margaretha Mala. Margaretha Mala merupakan tokoh perempuan muda berasal dari Dusun Sadap, Desa Menua Sadap yang merupakan desa penyangga kawasan di kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK). Tunas Kehati merupakan suatu penghargaan yang diberikan oleh Yayasan Kehati kepada perorangan atau kelompok remaja nusantara atau mahasiswa agar menjadi tunas harapan berikutnya dalam menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati Indonesia dimasa yang akan datang. Penghargaan tersebut berhasil diraih oleh Margaretha Mala dikarenakan peran serta beliau dalam ikut serta melestarikan budaya leluhur suku Dayak Iban yakni menenun. Ditengah perkembangan zaman saat ini, tradisi Nenun sudah dilupakan oleh generasi muda. Margaretha Mala tampil sebagai generasi muda yang mau belajar dan mengajarkan ‘nenun’ kepada generasi muda dibawahnya. Hal tersebut sebagai bentuk kontribusinya dalam melestarikan tradisi leluhur Suku Dayak Iban. Selain itu, Margaretha Mala juga turut andil dalam pelestarian atau konservasi tumbuhan pewarna alam sebagai bahan untuk mewarnai benang tenun. Bersama dengan ibu – ibu Dusun Sadap, Margaretha Mala ikut serta dalam kegiatan penanaman tanaman pewarna alam di Kebun Etnobotani Dusun Sadap yang dirintis oleh Balai Besar Tana Benatrum pada tahun 2018. Sebagai wakil ketua Kelompok Pengrajin Tenun Sadap, Margaretha Mala juga mendorong ibu – ibu Dusun Sadap agar terus menggunakan pewarna alam agar pencemaran lingkungan akibat limbah sintetis dapat dihindari. Sebagai generasi yang melek akan teknologi, saat ini kak Mala berperan sebagai fasilitator ibu – ibu Pengrajin Tenun Dusun Sadap untuk mempromosikan dan menjual kain tenun tersebut pada pembeli dari luar. Salah satunya adalah Bu Mira Widiono, Ketua Perhimpunan Pewarna Alam Nasional (WARLAMI). Tercatat pada bulan Oktober 2020 kemarin, hasil penjualan kain tenun dengan berbagai macam motif karya Ibu – Ibu Dusun Sadap terjual dengan harga Rp. 13.400.000,-. Harga yang cukup fantastis ditengah pandemi covid-19 seperti sekarang ini. “ Kemenangan ini sebagai pemantik semangat bagi saya ntuk terus melakukan upaya pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia. Saya berharap semoga tradisi menenun dengan pewarna alam ini dapat diteruskan dan digemari oleh generasi muda. Saya akan terus mengajak dan mengajarkan warisan leluhur Dayak Iban berupa Nenun ini kepada generasi muda dan akan terus melakukan penanaman tanaman pewarna alami agar tetap lestari dan bumi menjadi asri”, ungkap Margaretha Mala. Arief Mahmud selaku Kepala Balai Besar Tana Bentarum memberikan apresiasi yang sebesar – besarnya kepada Margaretha Mala dan Tim yang telah berhasil mendapatkan penghargaan Tunas Kehati Award 2020. “ Ini sebagai bukti bahwa menjaga tradisi leluhur beriringan dengan upaya konservasi alam yang sedang digalakkan dewasa ini dan saya berharap agar prestasi ini dapat ditularkan kepada generasi muda agar tradisi nenun dan konservasi tumbuhan pewarna alam dapat terwujud” pungkasnya. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum)

Menampilkan 2.753–2.768 dari 11.141 publikasi