Sabtu, 16 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Penggunaan GPS Collar Membantu Dalam Penanganan Konflik Gajah

Pekanbaru, 6 Desember 2020 – Pada Tanggal 22 November s.d. 1 Desember 2020, Petugas Seksi Konservasi Wil III Duri Balai Besar KSDA Riau yang dipimpin Kepala Seksi Wilayah 3, MB Hutajulu menindaklanjuti laporan adanya satwa Gajah yang berada di Komplek Perumahan Chevron, Kel. Batang Serosa dan Kel Balai Raja, Kec. Mandau dan Pinggir Kab. Bengkalis. Awalnya Tim melakukan pengecekan di komplek Seulawah karena adanya informasi dua ekor Gajah yang merusak fasilitas di Perumahan. Disampaikan bahwa Gajah sudah berada di lokasi dari seminggu yang lalu dan warga banyak yang resah karena ulah satwa tersebut. Tim dapat segera mengetahui pergerakan satwa tersebut berkat GPS Collar yang telah dipasang padanya, dan tentunya hal ini sangat membantu dalam penanggulangan konflik satwa. Tim segera melakukan koordinasi dengan pihak terkait dan melakukan pengamanan serta penggiringan Gajah agar menjauh dari komplek perumahan kembali ke hutan Talang. Tim menghalangi Gajah supaya tidak merusak fasilitas umum maupun milik warga, dan melakukan penyadartahuan kepada masyarakat agar tidak melukai maupun membunuh Gajah dengan cara apapun. Hingga akhirnya pada tanggal 1 Desember 2020, hasil monitoring menemukan Gajah telah meninggalkan komplek Duri Camp dan saat ini sudah berada di hutan kecil dekat jalan Bengkalis kelurahan Balai Raja. Mudah mudahan ke depan Gajah makin aman dan manusia tidak merasa terganggu lagi dengan keberadaan Gajah, sehingga berbagi ruang antara manusia dan Gajah dapat terjalin. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Pemeriksaan Kesehatan Gajah Binaan Di Pusat Latihan Gajah Minas

Pekanbaru, 6 Desember 2020 – Tim Medis Balai Besar KSDA Riau yang terdiri dari Dokter Hewan dan Paramedis beserta para Mahout di PLG Minas, melakukan pengecekan fisik, kesehatan dan pemberian obat cacing kepada Gajah gajah binaan di Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas pada Kamis, 3 Desember 2020. Adapun pengukuran fisik yang dilakukan pada Gajah adalah pengukuran lingkar dada, pengukuran tinggi badan, penghitungan berat badan. Setelah itu kepada masing-masing individu Gajah dilakukan pemberian obat cacing. Kegiatan dimulai pukul 09.30 wib dan berakhir pada siang hari. Semoga Gajah di PLG Minas terhindar dari cacingan dan dapat tumbuh dengan sehat ya. Terima kasih banyak Dokter Hewan, Paramedis dan para Mahout. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Ngobrol Pintar Pengelolaan TN Gandang Dewata

Mamasa, 04 Desember 2020 - Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan menyelenggarakan kegiatan Workshop Pengelolaan TN Gandang Dewata dalam Kerangka Forest Program IV Watershed Mamasa Sulawesi pada tanggal 3 Desember 2020. Workshop dilaksanakan secara outdoor di Villa Edelweis Desa Tondok Bakaru Kecamatan Mamasa Kabupaten Mamasa. Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Bupati Mamasa yang diwakili oleh Asisten I Bidang Pembangunan, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Barat, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Barat diwakili oleh Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kepala Bapeda Kabupaten Mamasa, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Mamasa, Camat Mamasa, para Kepala KPH sekitar TN Gandang Dewata, perwakilan Balai Pengelolaan DAS Lariang Mamasa, Kepala Desa Tondok Bakaru, dan Kepala Desa Taupe. Selain unsur pemerintah, hadir pula akademisi dari Universitas Sulawesi Barat, WALHI, tokoh-tokoh masyarakat, perwakilan dari komunitas anggrek Tondok Bakaru serta pengelola wisata di sekitar Desa Tondok Bakaru. Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Ir. Thomas Nifinluri, M.Sc. yang membuka workshop menyatakan,” Pemandangan di Desa Tondok Bakaru sangat indah dan berpotensi menjadi destinasi wisata Kabupaten Mamasa yang bertaraf nasional karena keindahan alamnya.” Lebih lanjut, kepala balai besar menyampaikan bahwa workshop ini merupakan kick off pengembangan TN Gandang Dewata. Diharapkan potensi di dalamnya dapat lestari untuk menunjang kehidupan masyarakat. Sambutan Bupati yang disampaikan oleh Asisten I Bidang Pembangunan menyatakan harapannya agar kehadiran TN Gandang Dewata dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memajukan Kabupaten Mamasa kedepan secara signifikan. Beliau juga berharap agar kelestarian alam tetap terjaga. Pada kesempatan tersebut, Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan memberikan plakat sebagai ungkapan terimakasih kepada Bupati Mamasa atas dukungannya pada kegiatan workshop pengelolaan TN Gandang Dewata, selanjutnya Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Barat menyerahkan buku berjudul “Menyusur Jejak Alam dan Budaya Gandang Dewata” kepada Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Workshop dibagi dalam tiga tahap kegiatan yaitu pemaparan materi, Focus Group Discussion (FGD), dan penyusunan rumusan. Materi yang diberikan adalah “Pengelolaan Taman Nasional Gandang Dewata”, “Pengenalan Program FP IV Watershed Mamasa-Sulawesi”, “Pemantapan Pengelolaan Kawasan Taman Nasional Gandang Dewata”, “Peran Pemda dalam Pengembangan Wisata Alam Taman Nasional Gandang Dewata dan Peran Masyarakat dalam pelestarian Taman Nasional Gandang Dewata”. Selanjutnya dilakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan membagi peserta ke dalam dua kelompok dengan topik “Program dan manajemen FP IV watershed Mamasa-Sulawesi” dan “Mendorong wisata alam berbasis masyarakat”. Adapun penyusunan rumusan dihasilkan dari pendekatan partisipatif dengan melibatkan peserta dari berbagai pemangku kepentingan untuk menghasilkan kesepakatan Bersama. Rumusan yang dihasilkan antara lain bahwa pengelolaan TN Gandang Dewata harus memperhatikan perencanaan Kawasan konservasi, perlindungan system penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya, pemanfaatan sumberdaya hayati secara lestari, pemberdayaan masyarakat dan kerjasama. Selain itu, dirumuskan pula bahwa masyarakat di sekitar TN Gandang Dewata sebagai subyek melai perencanaan hingga aktualisasi program sehingga dapat merasakan manfaat langsung dan tidak langsung untuk peningkatan kesejahteraan. Rumusan yang tidak kalah penting adalah bahwa hutan, ekosistem, dan satwa liar di TN Gandang Dewata harus dijaga oleh semua pihak baik pemerintah, pemangku adat, masyarakat, LSM maupun swasta.Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penanggung jawab Berita : Kepala Sub Bagian Data, Evlap dan Humas BBKSDA Sulsel - Murniaty. S.Hut –(0888-0412-9757) Informasi Lebih Lanjut : Call-Center BBKSDA Sulsel - Rudy Ashadi, S.Hut (0811-4600-883)
Baca Berita

Pemanduan Kelompok Masyarakat Peduli Elang Flores

Ende, 4 Desember 2020. Seperti yang kita ketahui Elang Flores merupakan salah satu raptor di Taman Nasional (TN) Kelimutu yang dilindungi karena populasinya yang hampir punah. Oleh karena itu, untuk menjaga kelangsungan hidupnya, Balai Taman Nasional Kelimutu mengadakan kegiatan Pelatihan Pemanduan Kelompok Masyarakat Peduli Elang Flores (Jatabara) kelurahan Wolojita yang dilaksanakan di Aula kantor Kelurahan Wolojita, Senin (30 Nov - 01 Des). Dihari pertama kegiatan perserta pemanduan yang terdiri dari Anggota Kelompok, Tokoh Adat (Mosalaki), Pihak Pemerintah, serta personil Resort diberikan beberapa materi yang dibawakan oleh beberapa instruktur terdiri dari Camat Wolojita, Kepala Resort Wolojita, dan Pemandu Burung Nusantara. Kegiatan yang dilaksanakan tetap dengan mematuhi protokol kesehatan covid-19. Kegiatan dilanjutkan pada hari Kedua, dihari kedua peserta mengikuti kegiatan praktek lapangan yang berlokasi di hutan adat Otoseso. Saat turun langsung ke lokasi, perserta melakukan identifikasi beberapa jenis burung yang sempat mereka jumpai. Tak hanya itu, perserta juga melakukan tata cara aturan dan teknik pemanduan yang benar serta membuat jalur/rute perjalanan ke lokasi hutan adat. Setelah itu, dilanjutkan dengan kegiatan diskusi sekaligus arahan dalam pemanduan berupa penegasan terhadap pemburuan liar dan himbauan agar stop dalam pemburuan liar. Semoga dengan adanya kegiatan ini dapat menciptakan pemandu yang profesional dan berkompeten. Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

Balai TN Kelimutu Belajar Mengelola Publikasi Media Sosial

Ende, 4 Desember 2020. Sudahkah kita mengelola media sosial dengan baik dan benar?? Saat ini media sosial merupakan bagian penting dalam keseharian kita, karena media sosial berperan dalam membangun koneksi dan komunikasi dengan publik melalui konten yang ditampilkan. Netizen dengan beragam latar belakang, usia, pendidikan marak menggunakan media sosial untuk berbagai kepentingan. Namun demikian, kita dituntut untuk tidak salah gunakan media sosial. Seiring dari hal tersebut, pada tanggal 2-3 Desember 2020 Balai Taman Nasional (TN) Kelimutu menyelenggarakan Peningkatan Kapasitas SDM bidang Jurnalistik dan Fotografi di Ende – Flores - Nusa Tenggara Timur. Hal ini dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan SDM Balai Taman Nasional Kelimut dalam mengelola akun media sosial organisasi. Selain itu, Balai Taman Nasional Kelimutu belakangan ini aktif mengelola media sosial untuk kepentingan penyebaran informasi pengelolaan TN Kelimutu dan mendukung kinerja 4.0 dan SAORIA. Dalam kegiatan ini, secara khusus Balai Taman Nasional Kelimutu mengundang Bapak Wicaksono atau lebih dikenal sebagai @ndorokakung dalam akun media sosialnya, untuk berbagi ilmu dan pengalaman tentang strategi menyiapkan konten media sosial yang memiliki nilai, relevan dan mampu membangun interaksi dengan publik pengguna internet/medsos. Peserta yang terlibat merupakan pegawai Balai TN Kelimutu dari unsur Balai, Seksi dan Resort, sehingga diharapkan kedepannya proses publikasi dapat berjalan dengan baik pada setiap unsur pengelolaan. Walau hanya 2 hari saja yang terasa sangat singkat, @ndorokakung banyak memberikan masukan, pencerahan dan tips/trik dalam membuat dan mengelola konten terutama pada akun Instagram. Hal ini jelas sangat membantu tim publikasi TN Kelimutu kedepannya untuk membuat dan mengembangkan konten media sosial organisasi yang valuable, relevan dan engage. Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

Restocking Curik Bali, Penangkar Jateng Dukung Strategi Ex-Situ Link To In-Situ di TN Bali Barat

Gilimanuk, Balai Taman Nasional Bali Barat, Kamis,2020 – Keberadaan burung curik bali di habitat alami kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) tidak terlepas dari dukungan para pihak. Sejalan dengan hal ini, penangkar burung curik bali di Jawa Tengah dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah (BKSDA Jateng) kembali melaksanakan restocking di Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Penyerahan burung dilaksanakan secara seremonial di Aula Kantor Balai TNBB dihadiri oleh Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH), pada hari Kamis tanggal 3 Desember 2020. Dalam sambutannya Kepala Balai TNBB, Drh Agus Ngurah Krisna menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Balai KSDA dan Mitra Penangkar yang telah mendukung upaya pelesatrian burung curik bali di alam. Dalam beberapa tahun terakhir, populasi di alam menunjukkan peningkatan yang signifikan dan tahun 2020 merupakan jumlah tertinggi berdasarkan catatan populasi mulai dari tahun 1974. Berdasarkan hasil monitoring terakhir bulan Nopember 2020, jumlah burung curik bali sebesar 341 ekor meningkat dari populasi sebelumnya tahun 2019 sebanyak 256 ekor dan baseline data tahun 2015 sejumlah 57 ekor. Ditambahkan bahwa restocking akan menjadi fresh blood yang membantu menjaga kualitas genetik burung curik bali. Kepala Sub Bagian TU BKSDA Jateng Ilmi Budi Martani, S.Si., M.Sc menyampaikan bahwa di Jateng terdapat 366 Unit Penangkar Burung, dengan 268 diantaranya adalah penangkar burung curik bali. Selain memberikan kontribusi Penerimaan Negara Bukan Pajak, usaha penangkaran mampu menyerap kurang lebih 700 tenaga kerja di luar pihak lain yang terlibat seperti penjual pakan, kandang dan usaha lainnya. Hal yang juga menggembirakan dan membanggakan adalah komitmen kuat penangkar dalam mendukung kelestarian burung di alam. Ini ditunjukkan melalui kesediaan untuk melaksanakan kewajiban restocking di TNBB yang telah dilakukan 3 kali yaitu tahun 2017 sebanyak 24 ekor, tahun 2018 sebanyak 28 ekor dan tahun 2020 sebanyak 55 ekor. Direktur KKH, Drh. Indra Exploitasia, M.Si., dalam arahannya menyampaikan bahwa strategi ex-situ link to in-situ merupakan bagian dari upaya peningkatan populasi di alam. Upaya konservasi ini bertujuan untuk memulihkan populasi satwa-satwa prioritas yang terancam punah. Strategi ini memerlukan proses panjang yang dimulai dari keberhasilan menangkarkan burung dan kesediaan untuk menyerahkan 10 persen dari hasil penangkaran sebagai bagian dari restocking. Balai TNBB selanjutnya akan melakukan rehabilitasi dan habituasi sebelum melepasliarkan burung dimaksud. Setelah dilepasliarkan Petugas TNBB melaksanakan pengamanan, monitoring, pembinaan habitat dan populasi untuk memastikan burung berkembang biak di alam. Melalui perkembangan populasi di alam yang sudah mencapai 341 ekor, Direktur KKH menyampaikan apreasi dan terima kasih kepada Balai TNBB, BKSDA Jateng dan Mitra Penangkar, atas sinergi dan upaya yang konsisten dalam meningkatkan populasi burung curik bali di alam. Untuk kepentingan rehabilitasi dan adaptasi perilaku 55 ekor burung untuk tujuan restocking, di tempatkan terlebih dahulu di kandang Suaka Satwa Curik Bali TNBB untuk menjalani proses keliaran burung tersebut. Burung yang telah menjalani proses dimaksud, akan ditempatkan di kandang habituasi yang ada di Cekik, Brumbun dan Labuan Lalang selama minimal 3 bulan untuk kemudian dilepasliarkan ke alam. Kegiatan diakhiri dengan kunjungan ke Resort Brumbun untuk melepasliarkan 24 ekor burung curik bali yang telah menjalani proses rehabilitasi dan habituasi di kandang habituasi. Mitra penangkar berkesempatan melihat dan mendengarkan penjelasan petugas Resort Brumbun mengenai kondisi habitat dan populasi serta perilaku burung curik bali di habitat alaminya. Sumber : Balai Taman Nasional Bali Barat Penanggung jawab berita: Kepala Balai TN Bali Barat - Drh. Agus Ngurah Krisna K, M.Si (082191094519) Informasi lebih lanjut: Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Direktorat Jenderal KSDAE - Drh. Indra Exploitasia, M.Si (08111702551) Call center Balai TNBB No Hp. 082247475988
Baca Berita

BKSDA Yogyakarta & Tim Direktorat KKH Ingatkan Bahaya Zoonosis

Yogyakarta, 3 Desember 2020. Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi diwakili Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I, Untung Suripto dan Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Thomas Suryo Utomo serta beberapa personil SKW I (user web zoonosis, PEH dan Polhut) Balai KSDA Yogyakarta melakukan pendampingan kunjungan Subdit Keamanan Hayati dan Subdit Pengawetan Jenis, Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) ke Lembaga Konservasi (LK) di DIY yakni Gembira Loka Zoo (GL Zoo) dan Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY) hari Kamis (3/12/20). Kunjungan dilakukan dalam rangka supervisi dan pengambilan data penyakit satwa yang masih termasuk dalam rangkaian Bimbingan Teknis Pengelolaan Zoonosis. Pandemi Covid 19 telah menyadarkan kita semua bahwa zoonosis menjadi ancaman serius dalam penyebaran wabah penyakit di masyarakat. Oleh karena itu perlu antisipasi yang bijaksana dalam pengelolaan penyakit satwa termasuk di Lembaga Konservasi. Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian Subdit Keamanan Hayati, Dr Ichwan Muslih, S.Si, M.Si menyampaikan bahwa KLHK juga memiliki tanggung jawab dalam menangani kesehatan masyarakat utamanya terkait zoonosis dan akan mengadakan pelatihan sistem pendataan penyakit bagi petugas di Lembaga Konservasi. Pada kunjungan tersebut selain pengecekan lapangan juga dilakukan diskusi terkait penanganan zoonosis di Lembaga Konservasi. M. Wahyudi yang diwakili Untung Suripto dalam kesempatan tersebut mengapresiasi langkah Direktorat KKH yang melakukan pembinaan terhadap LK utamanya terkait zoonosis dan peraturan terkait penyelamatan satwa. Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Satwa dan Nutrisi GL Zoo, drh Berta Alviyanto mengatakan “GL Zoo telah melakukan medical check up (pemeriksaan darah, urine, X-ray ,paru, abdomen) secara rutin setahun sekali terhadap 25 satwa prioritas walaupun tidak ada suspect zoonosis. Pemeriksaan tidak hanya dilakukan pada satwa tetapi juga pada keeper. Terhadap keeper yang menangani primata, secara rutin diberikan vaksinasi hepatitis maupun rabies serta selalu menggunakan APD lengkap sesuai prosedur. Lebih lanjut drh. Berta menjelaskan “Pada masa pendemi GL Zoo telah melakukan rapid test untuk beberapa satwa prioritas, menutup sementara beberapa area yang rawan interaksi dengan pengunjung, meniadakan atraksi satwa tunggang dan meniadakan pemberian pakan satwa oleh pengunjung. Petugas kesehatan satwa GL Zoo pun telah secara rutin melaporkan kejadian penyakit satwa (morbiditas) dan kematian (mortalitas) satwa kepada manajemen GL Zoo.” jelasnya. Di tempat yang sama, Thomas Suryo Utomo menyampaikan perlu dilakukan percepatan sistem pelaporan zoonosis “Pelaporan zoonosis dan penyakit baru yang didukung sistem informasi yang cepat dan sederhana akan sangat membantu meminimalisir dampak yang mungkin ditimbulkan, oleh karenanya penting sekali untuk dilakukan pelatihan (in house training) bagi petugas BKSDA agar sistem pelaporan dapat berjalan dengan cepat dan tepat. Mewakili LK YKAY, drh. Guruh Jaya Wisnu Wardhana menyampaikan bahwa tahun ini tidak ada kasus zoonosis di YKAY. Hasil tersebut diperoleh dari pemeriksaan sample elang yang dirawat untuk mendeteksi avian influenza dan Newcastle desease dan hasil yang diperoleh adalah negatif. Sumber : Dwi Nuryan Dani - PEH Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Kemunculan Harimau Sumatera, Tim BBKSDA Riau Siaga

Pekanbaru, 3 Desember 2020 – Pada Selasa, 1 Desember 2020, Resort Siak, Bidang KSDA Wilayah 2 Balai Besar KSDA Riau menindaklanjuti laporan Humas PT. Kimia Tirta Utama (KTU) tentang kemunculan satwa liar Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae). Kemunculan dilaporkan terjadi di areal kebun sawit PT. KTU, Kampung Kuala Gasib, Kecamatan Koto Gasib, Kabupaten Siak. Tim turun untuk melakukan penanganan dan berkoordinasi dengan Humas PT. KTU. Setelah itu Tim langsung melakukan peninjauan TKP yang berlokasi di Afdeling Eko PT. KTU. Di lokasi tersebut dijumpai jejak satwa Harimau Sumatera berukuran dewasa yang diduga berjumlah sebanyak 1 (satu) individu. Pada hari ke-2, masih di lokasi Afdeling, Tim kembali menjumpai jejak dan melakukan pengukuran. Ukuran tapak kaki sekitar 16 cm, sedangkan ukuran jarak langkah + 78 cm. Dugaan sementara jejak yang ditemukan masih satu individu satwa yang sama. Tim kembali meneruskan penelusuran dan melakukan pemasangan kamera trap di lokasi tersebut. Mari, bersama kita selamatkan satwa liar yang tersisa dan hindarkan dari konflik dengan manusia. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Swab Massal BKSDA Sultra

Kendari, 3 Desember 2020. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Tenggara (BKSDA Sultra) melakukan swab massal di lingkup pegawai BKSDA Sultra. Swab massal ini diikuti oleh seluruh karyawan balai, seksi wilayah 1,2 dan petugas Masyarakat Mitra Polhut (MMP) sejak tanggal 1-3 Desember 2020 dengan total 137 peserta. Kepala Balai KSDA Sultra Sakrianto Djawie, SP., M.Si mengatakan bahwa swab massal ini menggunakan jasa dari klinik Rapha Kendari. "Swab massal ini merupakan upaya antisipasi bersama untuk menanggulangi sebaran Covid-19. Untuk seterusnya jangan pernah kendor untuk tetap mematuhi protokol kesehatan,"ujarnya. Swab massal ini merupakan pelacakan secara masif untuk mendeteksi awal karyawan dan petugas dilapangan yang terjangkit virus covid-19, dalam rangka mencegah terjadinya cluster pegawai di lingkup wilayah kerja BKSDA Sultra. Swab massal dilaksanakan di kantor BKSDA Sultra. "Nantinya jika ada karyawan yang hasilnya positif akan langsung di karantina. Berbagai cara dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran covid-19 salah satunya dengan selalu memberikan masker kepada karyawan dan petugas lapangan, penambah daya tahan tubuh seperti vitamin, madu dan selalu menghimbau untuk tetap gunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak" pungkasnya. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tenggara
Baca Berita

Menikmati Pesona Air Terjun Mutu Esi Disela - sela Pelatihan Jalur Trekking

Ende, 4 Desember 2020. Rabu (2/12) merupakan hari terakhir dari rangkaian pelaksanaan kegiatan pelatihan teknik pemanduan jalur trekking yang dimulai sejak Senin, 30/11/2020 yang digelar Balai Taman Nasional Kelimutu. Salah satu pilihan pelaksanaan kegiatan praktek lapangan berlokasi di air terjun Muru Esi, Jalur Trekking Wolomoni (Desa Niowula). Peserta melakukan trekking menuju lokasi dengan memakan waktu hingga 2,5 jam. Kondisi jalur trekking yang menguras tenaga tak terdengar sepatah keluhan dari para peserta, sebab semuanya terbayar oleh lukisan nyata penampakkan sebuah surga dengan tumpahan air sejuk yang menyejukkan hati. Saat tiba di air terjun Mutu Esi, peserta beristirahat sejenak dengan arah mata tertuju ke air terjun yang begitu pesona. Disela menikmati indahnya pemandangan air terjun Mutu Esi, peserta diberikan beberapa materi terkait penelusuran dan pengenalan jalur trekking, teknik pemanduan serta penggunaan peralatan navigasi salah satunya dengan menggunakan kompas untuk menentukan suatu lokasi atau titik apabila pemandu sedang berada di suatu daerah yang tidak ada jaringan internet. Selain itu, peserta juga diberikan materi tentang cara pengenalan tenda Dum dan cara memasangnya. Semoga dengan kegiatan dapat menambah informasi dan pengetahuan untuk dapat diaplikasikan di jalur trekking desanya masing-masing. Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

BBKSDA Riau Amankan Musang Luwak dan Kucing Hutan dari Tempat Hiburan

Pekanbaru, 2 Desember 2020 – Pada Senin pagi, 30 November 2020, call center Balai Besar KSDA Riau menerima laporan terkait adanya beberapa satwa dilindungi yang dipelihara oleh suatu tempat hiburan. Disampaikan juga bahwa hal tersebut telah muncul dibeberapa akun media sosial sehari sebelumnya. Memperhatikan hal tersebut, Tim segera bergerak menuju lokasi. Di lokasi tersebut, Tim menemukan satu ekor Kucing Hutan (Prionailurus bengalensis) yang merupakan jenis satwa yang dilindungi dan tiga ekor Musang Luwak (Paradoxurus hermphroditus). Satu ekor dari tiga ekor Musang, saat itu dalam kondisi sakit dan lainnya dalam kondisi sehat. Tim segera memberikan sosialisasi kepada pemilik usaha, yang kemudian dengan sukarela segera menyerahkan satwa tersebut kepada bang Novi Mulyadi, petugas Polisi Kehutanan Balai Besar KSDA Riau yang turun saat itu. Dan satwa segera dibawa ke klinik satwa Balai Besar KSDA Riau untuk diberi penanganan medis. Selanjutnya satwa akan dititipkan di kandang transit satwa Balai Besar KSDA Riau untuk diobservasi dan penanganan lebih lanjut. Terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah tanggap dan cepat untuk ikut berpartisipasi dalam Konservasi. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Penyerahan Bantuan KUPS Kemitraan Konservasi Balai TN Taka Bonerate - Balai PSKL Wilayah Sulawesi

Desa Tarupa, Kepulauan Selayar, 30 November 2020. Bantuan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) adalah bantuan yang diberikan untuk membantu masyarakat dalam menjalankan kegiatan usaha perhutanan sosial dan sebagai sarana meningkatkan nilai tambah dan pendapatan dalam mencapai kemandirian usaha. Bantuan KUPS diberikan kepada kelompok yang mengajukan usulan/proposal bantuan. Usulan/proposal tersebut kemudian diverifikasi adminstrasi dan teknisnya, sebelum bantuan dicairkan. Pada awal tahun 2020, Balai Taman Nasional Taka Bonerate memfasilitasi 2 (dua) kelompok binaan dengan mengajukan proposal bantuan KUPS kepada Balai PSKL Wilayah Sulawesi, yaitu Kelompok Pulau Mas Tarupa Mandiri dari Desa Tarupa dan Kelompok Asedingge Idimaneng dari Desa Rajuni. Kedua kelompok tersebut kemudian lolos verifikasi administrasi dan teknis untuk mendapatkan bantuan KUPS. Setelah proses verifikasi, maka pada tanggal 30 November 2020, Balai Taman Nasional Taka Bonerate melaksanakan kegiatan Penyerahan Bantuan KUPS - Kemitraan Konservasi Taman Nasional Taka Bonerate yang bertempat di kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Tarupa. Dalam acara tersebut, hadir Kepala Balai TN Taka Bonerate, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Tarupa, BPD Desa Tarupa, Babinkamtibmas Desa Tarupa, ketua kelompok dan anggota masing-masing kelompok, serta personil SPTN Wilayah I Tarupa. Bantuan KUPS diserahkan kepada 2 (dua) kelompok binaan Balai TN Taka Bonerate yang telah ditetapkan Pengakuan dan Perlindungan Kemitraan Kehutanan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Bantuan yang diberikan berupa alat tangkap ikan ramah lingkungan, yang berasal dari Balai PSKL Wilayah Sulawesi. Dalam sambutannya Kepala Balai TN Taka bonerate, Faat Rudhianto, S.Hut., M.Si. menyampaikan bahwa dengan bantuan ini diharapkan dapat bermanfaat dan menjadi berkah bagi masyarakat, khususnya untuk meningkatkan kualitas dan produksi ikan tangkapan. Kepala Balai juga menyampaikan terima kasih atas kerjasama kelompok dan pihak desa, serta mengharapkan anggota kelompok dan juga pihak desa dapat mengajak masyarakat lain untuk tidak melakukan kegiatan illegal dan destructive fishing. Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan bantuan kepada kelompok melalui masing-masing ketua kelompok KUPS yang dilanjutkan dengan bimbingan teknis antara kelompok dan pendamping. Kegiatan penyerahan bantuan ini tetap menjalankan protokol pencegahan penyebaran Covid-19. Sumber : Balai Taman Nasional Taka Bonerate Teks: Asep Pranajaya (Penyuluh Kehutanan) Foto: Andi firman ali safaat (Polisi Kehutanan)
Baca Berita

BKSDA NTB Amati "Tamu Tahunan" di Kabupaten Sumbawa

Sumbawa, 27 November 2020 - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB), Sumbawa Biodiversity dan Birding Indonesia melakukan pengamatan burung burung pantai yang bermigrasi di Kabupaten Sumbawa pada Kamis, 26 November 2020. Wawancara juga dilakukan Tim dengan beberapa warga di Dusun Sinar Jaya, Desa Sepayung, Kec. Plampang hingga didapat informasi bahwa sejak 2013 burung undan/pelikan sudah menjadi "Tamu Tahunan" di area pertambakan mereka. Terpantau 2 individu burung Undan kacamata (Australian pelican) yang sedang mencari makan dan beristirahat di tambak ikan bandeng. Burung berukuran besar ini bermigrasi dari Australia. Mereka dikenal hanya mencari makan di Indonesia, kemudian kembali ke Australia untuk berkembang biak. Dari hasil tersebut dan dibandingkan dengan hasil pengamatan di beberapa wilayah di kabupaten sumbawa lainnya, lokasi ini dapat dikatakan sebagai lokasi terpenting untuk kehidupan burung pantai migrasi di Kabupaten Sumbawa. Disisi lain, meskipun burung ini dianggap sebagai hama bagi usaha pertambakan ikan bandeng milik warga, mereka mengatakan turut menjaga keberadaan burung tersebut dengan tidak menangkap dan memburu burung yang menjadi tamu di area ini. Jumlah populasi sebanyak yang pernah dilihat sebanyak 60 ekor pada tahun 2019. Sedangkan untuk tahun 2020 pada bulan Oktober warga mencatat 40 ekor burung undan kacamata datang di sana. Area pertambakan di Dusun Sinar Jaya, Desa Sepayung Kec. Plampang, Kab. Sumbawa yang juga kawasan HPT RTK 81 BKPH Empang merupakan lokasi penting bagi burung burung pantai yang bermigrasi dari belahan dunia di utara khatulistiwa. Sebab area pertambakan tersebut digunakan seebagai tempat mencari makan, beristirahat, serta tempat tidur oleh setidaknya 8 jenis burung pantai migran dalam jumlah individu yang tidak sedikit. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Ini Respon Cepat BBTN Kerinci Seblat Setelah Menerima Laporan Masyarakat

Sungai Penuh, 2 Desember 2020. Salah satu tugas aparatur pemerintah adalah sebagai pelayan masyarakat, seperti menerima laporan masyarakat dan merespon langsung laporan tersebut. Sebagai salah satu bentuk respon tersebut Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional (BPTN) Wilayah II Sumatera Barat (Ahmad Darwis) memimpin langsung beberapa kegiatan patroli untuk melakukan pengecekan terhadap informasi dari masyarakat. Kegiatan patroli tersebut melibatkan seluruh personil yang ada di Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Painan mulai dari Polisi Kehutanan sampai Masyarakat Mitra Polhut (MMP). Menurut kepala BPTN Wilayah II Sumbar ”Upaya ini dilakukan untuk memastikan kondisi hutan TNKS sebagai hulu dari bebarapa sungai yang ada di Kabupaten Pesisir Selatan dalam kontrol pemangku wilayah, dengan terus meningkatkan patroli yang melibatkan masyarakat dan pihak terkait. Selain meningkatkan patroli sebagai langkah pencegahan, juga membentuk kemitraan dengan beberapa kelompok masyarakat yang sudah terlanjur ke dalam kawasan TNKS sehingga melalui upaya-upaya tersebut diharapkan kedepannya tidak ada lagi upaya pengrusakan kawasan TNKS". Sebagai informasi, sebelumnya juga sudah dilakukan pengecekan di Desa/Nagari Sungai Gambir Sako Kec. Ranah IV Hulu Tapan. Pada tanggal 23-26 Nopember Kepala BPTN Wilayah II Sumbar juga telah melakukan pengecekan di Nagari Tuik Koto Gunung Kecamatan Batang Kapas. Kehadiran Kepala Bidang di lapangan memberikan energi tambahan bagi petugas dalam melaksanakan tugas di lapangan, seperti yang dituturkan salah seorang Polisi Kehutanan Ahli Pertama Hendra Yadi, S.Hut. Kepala Balai Besar TNKS (Tamen Sitorus) melalui Kepala BPTN Wilayah II Sumbar juga meminta kepada seluruh ASN bahwa petugas itu harus di lapangan, menguasai kondisi lapangan serta bisa merespon dengan cepat setiap laporan yang masuk dari masyarakat. Sumber : - Rika Putra Abbas, Polhut Pelaksana Lanjutan SPTN Wilayah III Painan - Humas Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat
Baca Berita

Koridor Hidupan Liar di Kalimantan Tengah

Palangkaraya, November 2020. Balai KSDA Kalimantan Tengah pada bulan Oktober 2020 melakukan identifikasi dan inventarisasi potensi keanekaragaman hayati di area Food Estate Eks PLG di Provinsi Kalimantan Tengah. Pembangunan Food Estate difokuskan di Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Pulang Pisau. Perlindungan satwa dalam program ini diimplementasikan dalam bentuk pengelolaan koridor hidupan liar yang merupakan salah satu dari upaya meminimalkan dampak fragmentasi, berkurangnya jumlah atau luasan habitat yang tersedia bagi hidupan liar. Pembangunan koridor hidupan liar merupakan solusi untuk menghubungkan areal yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biologis hidupan liar. Kegiatan identifikasi dan inventarisasi potensi keanekaragaman hayati dilakukan di Blok A, B, C, D, dan E yang berlokasi di Kota Palangkaraya, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Kapuas, dan Kabupaten Barito Selatan. Satwa payung yang menjadi prioritas koridor hidupan liar yaitu orang utan (Pongo pygmaeus wurmbii) dan bekantan (Nasalis larvatus). Tim lapangan mengamati langsung aktivitas orang utan yang berada di Blok B, Grid O, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas. Orang utan banyak dijumpai di lokasi yang bervegetasi, semak, dan kebun masyarakat. Sedangkan satwa bekantan banyak dijumpai di pinggiran sungai. Langkah selanjutnya dengan ditunjuknya area koridor hidupan liar, maka dilakukan penguatan kelembagaan dan penyusunan rencana aksi yang melibatkan semua pihak yakni pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan kabupaten, masyarakat, perusahaan/pihak swasta, dan akademisi. Selain itu, dengan terbentuknya koridor hidupan liar ini diharapkan program pembangunan Food Estate dapat berjalan sinergi dengan tetap memperhatikan populasi satwa liar khususnya orang utan dan bekantan yang merupakan satwa dilindungi undang-undang. Sumber : Agnes Indra Mahanani - Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Empat Ekor Bokkoi si Beruk Siberut Kembali ke Hutan Bekemen

Sikabaluan, 2 Desember 2020. Pada hari Senin 30 November 2020 Kepala Balai Taman Nasional Siberut, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II beserta staf telah melaksanakan pelepasliaran satwa dilindungi jenis bokkoi / Beruk Siberut (Macaca siberu) berjumlah 4 ekor dengan jenis kelamin 2 ekor jantan dan 2 ekor betina hasil penyerahan dari masyarakat di sekitar kawasan untuk dilepas kembali sehingga keberadaan di habitat aslinya tetap lestari. Bokoi-bokoi yang dilepasliarkan telah menjalani karantina dan perawatan di kandang transit satwa yang terletak di Seksi PTN Wilayah II. Durasi perawatan satwa di kandang transit bervariasi tergantung waktu penyerahan dari masyarakat. Penyerahan sukarela dari masyarakat ini mengindikasikan mulai tumbuhnya kesadaran sosial akan pentingnya perlindungan satwa endemik Mentawai. Spesies yang menurut IUCN berstatus Endangered dan termasuk satwa yang dilindungi oleh pemerintah ini pun siap dikembalikan ke rumahnya di alam. Kesiapan ini dinilai setelah dilakukan pemantauan dari sisi medis dan pola perilakunya. Kepala Balai Taman Nasional Siberut menyampaikan ungkapan apresiasi dan terima kasih terhadap rekan rekan Seksi PTN Wilayah II yang telah melakukan perawatan terhadap satwa tersebut, lebih lanjut beliau berharap satwa yang dilepasliaran akan menjadi koloni baru dan menambah populasi primata di Blok Hutan Bekemen pada resort Bojakan. Sumber: Alfredo Septiano, S.Hut - PEH Balai Taman Nasional Siberut

Menampilkan 2.737–2.752 dari 11.141 publikasi