Sabtu, 16 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Pengembangan Site Wisata, Balai TN Kelimutu Resmikan Gapelta Fishing Pool dan Rest Area

Ende, 15 Januari 2020. Balai Taman Nasional (TN) Kelimutu bersama Kelompok Tani Gapelta pada hari Kamis (14/01/2020) melaksanakan peresmian Tempat Pemancingan Gapelta (Gapelta Fishing Pool) dan Rest Area yang merupakan bantuan pemberdayaan masyarakat tahun 2020 kepada Kelompok Tani Gapelta. Acara peresmian ini dihadiri Kepala Balai TN Kelimutu, Kepala Seksi Pengeloaan Taman Nasional (PTN) Wilayah II Detusoko, Kepala Desa Wologai, Ketua Kelompok Gapelta (Gabungan Petani Ekoleta) serta anggota dan staf TN Kelimutu. Kepala Balai TN Kelimutu, Agus Sitepu sangat mengapresasi dibukanya Gapelta Fishing Pool & Rest Area ini yang akan menambah lokasi tempat rekreasi di sekitar Kelimutu. Kepala Balai TN Kelimutu mengatakan “Pengembangan site wisata ini selain menjadi tempat rekreasi juga bisa mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat sebagai kontribusi sosial alternatif untuk mendongkrak perekonomian masyarakat”. Perlu diketahui, Gapelta merupakan kelompok tani binaan TN Kelimutu yang mendapatkan bantuan pemberdayaan sejak tahun 2018, dimana pada tahun 2018 telah mendapatkan bantuan berupa pembuatan saung, kios pedagang, serta pembuatan gardu pandang sebagai spot berfoto yang menarik. Selanjutnya untuk meningkatkan minat wisatawan yang singgah ke rest area gapelta serta peningkatan fasilitas, maka pada tahun 2020 diberikan bantuan pemberdayaan berupa pembuatan kolam pancing sejumlah 3 kolam, pemberian bibit ikan lele, ikan nila dan ikan kapel sekitar 4000 ekor ikan serta pemberian alat pendukung lainnya berupa pancing, jaring dan lain lain. Konsep pembangunan saung, kios dan kolam pemancingan ini adalah sebagai rest area para wisatawan sebelum atau setelah berwisata ke kawasan TN Kelimutu, ataupun para wisatawan juga dapat sengaja datang dengan meluangkan waktu bagi yang memiliki hobi memancing. Diharapkan wisatawan yang datang mampu membantu peningkatan ekonomi masyarakat dan dapat menjadi sumber pemasukan tambahan bagi kelompok tani Gapelta ini terutama pada pandemi Covid-19. Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

Mati Ditinggal Ibunya, Anak Siamang Yang Dirawat Warga Diserahkan ke BBKSDA Sumut

Siantar, 14 Januari 2021. Bermula pada tanggal 5 September 2020 yang lalu, Inneke Lestari Sihombing warga dusun Maranti, desa Sibuntuon, Kecamatan Sijamapolang, Kabupaten Humbang Hasundutan, menemukan seekor anak Siamang (Symphalangus syndactylus) sedang menangisi induknya yang tergeletak di halaman rumah tetangga. Inneke yang penasaran langsung mengamati keberadaan Siamang tersebut, ternyata induk siamang tersebut mati akibat ditembak. Dibalik tubuh induk siamang yang terbujur kaku, ada bayinya yang menangis dan terus menyusu sambil memegang erat tubuh induknya. Inneke yang merasa iba langsung membawa dan merawatnya dengan harapan nantinya dapat dikembalikan ke alam jika sudah besar. Anak Siamang tersebut dirawatnya hingga berusia 4 bulan 5 hari, dengan memberi makan 3X sehari serta buah-buahan. Kadang anak Siamang diberi minum susu formula bayi. Pada Sabtu, 9 Januari 2021 sekitar pukul 02.00 wib subuh, Inneke mencari informasi melalui media sosial dan kemudian menghubungi Animal Hope Shelter di Jakarta, memohon agar dicarikan adopter untuk anak Siamang. Lalu pihaknya menghubungi Balai Besar KSDA Sumatera Utara, mengingat anak Siamang termasuk jenis satwa yang dilindungi menurut Peraturan Menteri P.106/MENLHK/SEKJEN/KUM.1/12/2018. Setelah menerima informasi, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang Konservasi Wilayah II Pematangsiantar, pada Minggu 10 Januari 2021, segera menuju ke lokasi guna mengevakuasi anak Siamang tersebut dan selanjutnya dititipkan ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit guna mendapatkan perawatan serta rehabilitasi sebelum nantinya dilepasliarkan. Sumber : Bidang Konservasi Wilayah II Pematangsiantar Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Lagi, Konflik Warga Dengan Harimau Sumatera, BBKSDA Sumut dan Tim Gabungan Pasang Kandang Jebak

Medan, 12 Januari 2021. Mencermati tingginya intensitas konflik antara warga dengan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Kabupaten Langkat, setelah sebelumnya melaksanakan konferensi pers pada Kamis 7 Januari 2021, Balai Besar KSDA Sumatera Utara kembali melakukan konferensi pers pada Senin 11 Januari 2021 di ruang rapat Balai Besar KSDA Sumut, guna menyampaikan perkembangan terkini penanganan konflik kepada jurnalis dari berbagai media baik cetak, elektronik maupun on-line, dengan harapan informasi dan pesan dapat tersampaikan kepada masyarakat luas. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For., dalam penjelasannya menguraikan informasi terkini dari lokasi konflik di Dusun Selayang, Desa Laudamak, Kecamatan Bahorok, dimana 5 ekor lembu milik warga menjadi korban dimangsa harimau. 4 ekor diantaranya digigit di bagian tengkuk namun tidak dimakan, sedangkan yang 1 ekor lagi dimakan di bagian ekor. Upaya yang ditempuh dengan membagi tugas, sebagian tim melakukan pengusiran di Batujongjong dan sebagian lagi melakukan penjagaan kandang jebak di Lau Damak. Kandang jebak mulai dipasang pada Jumat 8 Januari 2021, dan sampai saat ini sudah terpasang sebanyak 2 kandang jebak. Tim gabungan yang terdiri dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Balai Besar TN. Gunung Leuser, KPH I Stabat, lembaga mitra WCS, SRP (Sumatera Ranger Projeck) dan Yayasan Petai, melakukan penjagaan serta patroli di lokasi selama pemasangan kandang jebak. Tim juga melakukan kegiatan jaga malam di Dusun Selayang. Selain itu, pada Sabtu 9 Januari 2021, tim melakukan pertemuan dengan Kepala Desa Lau Damak dan masyarakat Dusun Selayang. Dalam pertemuan tersebut tim menyampaikan bahwa Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam mitigasi konflik di Desa Lau Damak telah melakukan pemasangan 2 unit kandang jebak untuk persiapan mengevakuasi harimau yang telah meresahkan masyarakat, apabila nantinya tertangkap/terperangkap. Langkah ini juga sebagai upaya agar tidak menimbulkan kerugian di pihak Harimau Sumatera dan masyarakat, papar Hotmauli. “Kita juga menghimbau agar seluruh hewan ternak yang saat ini ada di sekitar ladang/kebun ditarik ke permukiman, untuk memaksimalkan perhatian harimau pada umpan yang ada di kandang jebak. Untuk sementara waktu diharapkan masyarakat tidak melakukan aktifitas di sekitar kandang jebak terutama sore dan pagi hari,” ujar Hotmauli. Bila nantinya harimau telah tertangkap, diminta juga agar masyarakat menyerahkan penanganan selanjutnya kepada petugas dan jangan ada yang coba-coba anarkis dengan melukai satwa tersebut, lanjut Hotmauli. Sebelumnya Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara telah menerbitkan surat yang ditujukan kepada masyarakat, yang intinya menghimbau agar : mengkandangkan ternak peliharaan, tidak beraktivitas di lokasi rawan dari jam 17.30 -06.30 WIB, tidak memburu satwa Harimau Sumatera, melaporkan kepada petugas terdekat bila menemukan jejak Harimau Sumatera serta berkoordinasi dengan pihak camat dan kepolisian. Konferensi pers turut dihadiri Kepala Bagian Tata Usaha Teguh Setiawan, S.Hut., MM., Kepala Sub Bagian Data, Evlap dan Kehumasan Andoko Hidayat, S.Hut., MP., Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat Herbert BP. Aritonang, S.Sos., MH dan Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan Amenson Girsang, SP. Sumber : Inggrid R. Tarihoran, S.Hut. - Penyuluh Kehutanan Pertama Balai Besar KSDA Sumut
Baca Berita

Kolaborasi Dengan Direktorat Polairud POLDA DIY, BKSDA Yogyakarta Amankan Buaya Muara

Yogyakarta 13 Januari 2021. Mengawali tahun 2021, Balai KSDA Yogyakarta kembali berkolaborasi dengan Bagian Perlindungan Direktorat Polairud Polda DIY menertibkan perdagangan illegal satwa dilindungi hari Rabu (13/01/21). Berawal dari adanya informasi yang diperoleh melalui jejaring sosial facebook pada tanggal 12 Januari 2021, anggota Intel Subdit Gakkum Ditpolairud Polda DIY menemukan adanya postingan dengan akun Raya Rambu Langit yang menawarkan buaya muara untuk diperjualbelikan. Setelah dilakukan pengumpulan bukti dan pendalaman lebih lanjut, Ditpolairud Polda DIY berkoordinasi dengan Balai KSDA Yogyakarta untuk menindaklanjuti temuan tersebut. Selanjutnya Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi memerintahkan personil Resort Konservasi Wilayah (RKW) Sleman – Kota untuk menindaklanjuti kasus tersebut dengan berkoordinasi dengan Tim Polairud Polda DIY. Hasil temuan di lapangan dari kediaman pemilik satwa yang berada di Sumberan, Ngesiharjo, Bantul berhasil ditemukan adanya 1 (satu) ekor satwa dilindungi undang-undang jenis buaya muara (crocodylus porosus) dengan panjang kurang lebih 110 cm dalam kondisi hidup. Pemilik satwa buaya kemudian diamankan ke Kantor Ditpolairud Polda DIY untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Menyikapi masih maraknya perdagangan illegal satwa dilindungi di wilayah DIY, Direktur Polairud Polda DIY, Kombes Nurodin, SIK mengharapkan adanya kerjasama yang lebih intens dalam menangani kasus perdagangan satwa dilindungi di wilayah DIY ini, dengan demikian kedepan dapat terjalin sinergisitas terkait tugas-tugas bersama guna penertiban perdagangan illegal satwa liar dilindungi di DIY. Sementara itu, Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi dihubungi di tempat terpisah mengingatkan jajarannya pentingnya upaya penyadartahuan kepada masyarakat terkait satwa liar dilindungi. “Saya mendorong teman-teman di lapangan untuk lebih sering bertemu dengan masyarakat, memberikan sosialisasi dan pemahaman terkait kepemilikan satwa liar dilindungi yang tentu saja secara hukum merupakan tindakan illegal yang melawan hukum. Masyarakat perlu diedukasi dampak bahaya yang mungkin ditimbulkan akibat kepemilikan satwa liar tersebut. Selanjutnya terhadap satwa buaya muara yang berhasil diamankan dari pemiliknya tersebut segera dilakukan upaya tindaklanjut dan penyelamatan satwa ke LK YKAY untuk dapat dilakukan perawatan lebih lanjut.” Kata M. Wahyudi. Wahyudi juga mengapresiasi langkah koordinasi yang telah dilakukan Direktorat Polairud Polda DIY dan menegaskan bahwa penanganan kasus pelanggarana di bidang kehutanan dapat diselesaikan karena adanya koordinasi yang baik antara semua pihak terkait. Sumber : Balai KSDA Yogyakarta Penanggung jawab berita: Kepala Balai KSDA Yogyakarta-Muhammad Wahyudi (HP 0852-4401-2365) Kontak informasi: Call center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)
Baca Berita

Terlilit Tali, BKSDA Jambi dan Tim Gabungan Selamatkan Anak Gajah

Tanjabbar 7 Januari 2021. Upaya-upaya pelestarian satwa liar terus dilakukan. Salah satu nya dengan melakukan penanganan konflik satwa liar seperti penggiringan satwa, tindakan medis terhadap luka satwa dan lainnya. Bekerjasama dengan FZS, Drh. Zulmanudin dari Pemerintah Kabupaten Batanghari, Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi berhasil melakukan penanganan satwa gajah korban konflik di areal hutan produksi Kecamatan Renah Mendaluh, Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar). Sebelumnya, seekor anak gajah telah terpisah serta tertinggal dari kelompoknya dengan kondisi kaki terluka akibat terlilit tali di Desa Lubuk Kambing. Mengetahui hal tersebut, warga merekam anak gajah yang terluka melalui telepon genggam yang kemudian melaporkannya kepada petugas. Atas laporan warga, tim gabungan melakukan upaya pengobatan pada gajah betina tersebut. Usaha pengobatan gajah dimulai pada pagi hari dengan melakukan tracking untuk mengetahui posisi anak gajah yang sedang terluka. Setelah diketahui posisi anak gajah yang terluka tersebut, tim medis melakukan upaya pembiusan menggunakan tulup dan berhasil melaksanakan tindakan medis terhadap anak gajah sekitar pukul 14.00 WIB. Adapun luka di kaki anak gajah telah mengalami infeksi dan masih terdapat tali yang masih melilit kaki di posisi luka. Setelah dilakukan penanganan medis, anak gajah berusia 5 tahun ini diberikan antidot untuk memulihkan kesadarannya. Setelah siuman, anak gajah mulai berjalan meninggalkan lokasi dilakukannya pengobatan yang dilanjutkan memonitoring keadaan gajah di hari berikutnya. “Alhamdulillah, proses penanganan medis oleh dokter hewan BKSDA Jambi yaitu Drh. Yuli Akmal bekerjasama Drh. Zulmanudin beserta tim gabungan berlangsung lancar dan kondisi gajah pasca pengobatan sehat. Kondisi gajah akan selalu dipantau sampai kembali bergabung bersama kelompoknya.” Ujar Faried, SP, Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III BKSDA Jambi yang turut serta dalam proses tindakan medis pada gajah. Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) adalah subspesies dari gajah Asia yang hanya berhabitat di Pulau Sumatera. Gajah sumatera berpostur lebih kecil daripada subspesies gajah india. Gajah memberikan kontribusi yang cukup bermanfaat bagi alam. Bagi hutan atau alam, kotoran gajah nantinya akan menyuburkan pepohonan dan tumbuhan serta penyebaran bijinya juga dilakukan oleh gajah. Gajah memakan biji-bijian yang kemudian ia buang dalam kotoran ke berbagai tempat yang dilewatinya. Setelah diolah oleh sistem pencernaan, biji-bijian yang jatuh ke tanah itupun seakan langsung disuburkan oleh kotoran alami tadi sehingga tumbuh lebih cepat. Namun, Populasinya semakin menurun dan menjadi spesies yang sangat terancam. Sekitar 2000 sampai 2700 ekor gajah sumatera yang tersisa di alam liar. International Union for Conservation of Nature (IUCN) menggolongkan gajah Sumatera sebagai species critically endangered. Kepala Balai KSDA Jambi, Bapak Rahmad Saleh., S.Hut., M,Si saat dikonfirmasi mengatakan bahwa “Dengan adanya kerjasama BKSDA Jambi dengan perusahaan dalam upaya penyelamatan dan perawatan satwa liar, kedepannya kami berharap upaya penyelamatan dan pelestarian satwa dapat terlaksana dengan baik dimana hal ini merupakan tanggung jawab kita sebagai sesama mahluk ciptaan Allah Subhanahu wa Taala, sesuai dengan surah al-Anbiya ayat 107 yang berbunyi, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” Menutup pernyataannya. Sumber : Balai KSDA Jambi Penanggung Jawab Berita: Humas BKSDA Jambi CP: Faried,SP (0811745364)
Baca Berita

Tim KSDAE Dishut Kalsel Lepasliarkan Sanca Batik dan Biawak

Banjarbaru, 12 Januari 2020. Pagi gerimis di halaman Kantor Bidang PKSDAE Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan tidak menyurutkan semangat untuk tetap produktif dimasa pandemi ini. Kepala bidang PKSDAE Pantja Satata, S.Hut mengatakan, “Kita selalu mengingatkan seluruh anggota agar tetap semangat, mengutamakan keselamatan serta menjalankan protocol kesehatan dan juga memastikan seluruh perlengkapan dan peralatan disiapkan dengan baik” ujarnya. Sebelumnya Sabtu tanggal 9 Januari dan Minggu 10 Januari Tim KSDAE Dinas kehutanan kembali menerima dua ekor satwa liar jenis Ular Sanca Batik dengan panjang kurang lebih 3 (tiga) meter dan Jenis Biawak dengan panjang 1 meter, masing-masing diserahkan oleh Barisan Pemadam Antalangu Kabupaten Banjar serta Brigade Pengendali Kebakaran Hutan dan Lahan Kayu Tangi. Satwa liar tersebut di evakuasi dari pemukiman masyarakat di Kab. Banjar. Selanjutnya satwa liar ini dibawa ke Wilayah Taman Hutan Raya Mandiangin untuk dilepasliarkan yang lokasi pelepasliarannya jauh dari pemukiman penduduk (11/01/21) Menurut Permenhut nomor 106 tahun 2018 diketahui bahwa satwa ini tidak termasuk ke dalam satwa liar yang dilindungi, akan tetapi walaupun demikian keberlangsungan satwa liar yang merupakan bagian dari sebuah ekosistem patut kita jaga dan kita lestarikan, sesuai dengan arahakan kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel ibu Fathimatuzzahra, S.Hut.MP bahwa "Menjaga ekosistem adalah tugas kita bersama, salah satunya adalah penyelamatan satwa liar ke habitatnya agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga". Supiani S.Hut.MP menambahkan bahwa saat ini pola-pola kegiatan konservasi berbasis masyarakat ini sedang dikembangkan, metode ini sangat efektif karena melibatkan masyarakat langsung dan menjadi indikator penting dalam mengukur kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai konservasi” tutupnya. Sumber : Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan
Baca Berita

BKSDA Sulteng Evakuasi 3 Ekor Monyet Hitam Sulawesi

Palu, 9 Januari 2020. Balai KSDA Sulawesi Tengah pada tanggal 8 Januari 2021 melakukan evakuasi terhadap 3 (tiga) ekor Monyet Hitam Sulawesi (Macaca tonkena) dari kandang pemeliharaan milik UPTD Tahura di Desa Ngata Baru. Evakuasi dilakukan berdasarkan permohonan dari UPTD Tahura yang sudah kerepotan untuk melakukan pemeliharaan terhadap satwa tersebut akibat imbas dari Covid 19. Dalam kegiatan evakuasi ini Tim Satgas Evakuasi Balai KSDA Sulawesi Tengah hanya dapat mengevakusai 2 (dua) ekor monyet hitam yang ada di UPTD Tahura, dikarenakan adanya kendala 1 (satu) ekor Monyet Hitam Sulawesi berperilaku sangat liar dan mengancam keselamatan Tim Satgas Evakuasi Balai KSDA Sulawesi Tengah. Selanjutnya Tim akan berkordinasi dengan petugas UPTD Tahura untuk menggunakan metode lain dalam mengevakuasi Monyet Hitam Sulawesi yang berprilaku sangat liar tersebut. Satwa yang telah dievakuasi akan di rehabilitasi di kandang transit Balai KSDA Sulawesi Tengah, yang kemudian akan di lepasliarkan di habitat alaminya. Sumber: Tim Humas Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Wisata Taman Nasional Kutai di Masa Pandemi Covid-19

Bontang, 10 Januari 2020. Pandemi covid-19 masih belum menunjukkan tanda-tanda akan selesai. Secara psikis, kondisi tersebut sangat berpengaruh pada masyarakat. Rasa jenuh dan sumpek karena lebih banyak berada di rumah, menyebabkan masyarakat memilih untuk mengunjungi tempat-tempat terbuka. Objek wisata alam menjadi salah satu pilihannya, karena masyarakat bisa menikmati udara bebas di tempat yang luas dan tidak terlalu khawatir dengan kerumuman orang. Balai Taman Nasional Kutai selaku pengelola dari beberapa objek wisata alam, yaitu objek wisata alam Prevab, Sangkima, dan Bontang Mangrove Park, sempat melakukan penutupan objek wisata pada bulan Maret 2020, ketika pandemi covid-19 mulai merebak. Setelah beberapa bulan tutup, pada bulan Juli 2020 setelah mendapatkan izin reaktivasi objek wisata dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan didukung dengan izin reaktivasi objek wisata dari pemerintah Kota Bontang, Balai Taman Naasional Kutai bisa kembali membuka objek wisata yang berlokasi di Kota Bontang, yaitu Bontang Mangrove Park. Dengan penerapan protokol kunjungan yang ketat dan menerapkan kuota pengunjung hanya 25% dari daya dukung kawasan, Balai Taman Nasional Kutai memastikan bahwa kegiatan wisata di Bontang Mangrove Park aman bagi pengunjung. Pada bulan November 2020, kuota pengunjung dinaikkan menjadi 50% dari daya dukung kawasan, yaitu 800 orang/hari. Selama pandemi covid-19 ini, pengunjung Bontang Mangrove Park sebagian besar merupakan pengunjung lokal. Hal ini kemungkinan besar disebabkan masyarakat merasa perjalanan di dalam kota lebih aman, sehingga masyarakat memilih untuk berwisata di objek-objek wisata yang dekat saja. Hal tersebut menyebabkan kunjungan ke Bontang Mangrove Park mengalami lonjakan cukup tinggi, lebih tinggi daripada jumlah kunjungan sebelum pandemi covid-19. Selama tahun 2020, jumlah pengunjung di objek wisata Taman Nasional Kutai tercatat sejumlah 31.641 orang pengunjung nusantara dan 63 orang pengunjung mancanegara. Meskipun objek wisata alam sempat ditutup selama beberapa bulan, ternyata jumlah pengunjung tersebut hampir sama dengan jumlah pengunjung tahun sebelumnya, meskipun jumlah pengunjung mancanegara jauh menurun. Dengan jumlah kunjungan tersebut, pada tahun 2020 Balai Taman Nasional Kutai berhasil menyumbang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sejumlah 255.547.500,00. Saat ini Balai Taman Nasional Kutai sedang melakukan persiapan untuk reaktivasi objek wisata yang berlokasi di wilayah Kabupaten Kutai Timur, yaitu Prevab yang merupakan objek wisata untuk pengamatan orangutan dan Sangkima yang terkenal dengan pohon ulin raksasanya. Dengan penerapan protokol kesehatan bagi pengujung di objek wisata, semoga kegiatan wisata di Taman Nasional Kutai tetap aman terkendali. Sumber : Balai Taman Nasional Kutai
Baca Berita

Mengenal Tarsius, Satwa Endemik CA Morowali

Palu, 9 Januari 2020. Cagar Alam (CA) Morowali merupakan kawasan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Tengah (BKSDA Sulteng) yang terbilang cukup lengkap koleksi tumbuhan dan satwa liarnya. Dari sekian banyak tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi, ada satu jenis satwa liar endemik yang kurang diketahui oleh masyarakat luas. Satwa ini bernama Tarsius (Tarsius sp). Masyarakat sekitar sering menyebutnya monyet kecil dan ada juga yang menyebutnya tangkasi. Tapi masih banyak juga masyarakat yang belum mengenal satwa tersebut. Tarsius seringkali diburu lantaran dikira sebagi tikus karena mempunyai ekor yang panjang. Padahal tarsius memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan ekologi, karena mereka memakan serangga yang merupakan hama bagi para petani. Dikutip dari berbagai sumber, berikut beberapa fakta unik mengenai tarsius yaitu Tarsius merupakan hewan endemik Indonesia, dengan spesies terbanyak terdapat di hutan-hutan Sulawesi; Tarsius merupakan primata terkecil dengan tangan terpanjang dan mata terbesar yang relatif terhadap ukuran tubuhnya; Tarsius merupakan hewan monogami biasanya tinggal di satu pohon bersama dengan keluarganya; Tarsius meruapakan hewa nokturnal dan mencari makan dari pohon ke pohon dengan melompat-lompat dan Tarsius meruapakan hewan karnivora yang memangsa serangga terbang dan vertebrata kecil Sumber : Jemi Y.S (KPHK Morowali) - Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Konferensi Pers Evakuasi Buaya dan Penanganan Konflik Harimau

Medan, 7 Januari 2021 - Sehubungan dengan evakuasi Buaya Muara (Crocodylus porosus) di Kecamatan Tanjung Pura, Kab. Langkat serta penanganan konflik dengan satwa liar Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Kecamatan Bahorok, Kab. Langkat, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melaksanakan konferensi pers, pada Kamis 7 Januari 2021 bertempat di ruang rapat Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat Herbert BP. Aritonang, S.Sos., MH. didampingi Kepala Sub Bagian Data, Evlap dan Kehumasan Balai Besar KSDA Sumatera Utara Andoko Hidayat, S.Hut., MP., memberikan penjelasan kronologis evakuasi Buaya Muara mulai dari tertangkapnya buaya oleh masyarakat Desa Pulau Banyak, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, yang terjadi pada Senin 4 Januari 2021. Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat didampingi Kepala Sub Bagian Data, Evlap dan Kehumasan Balai Besar KSDA Sumatera Utara memberikan penjelasan kepada awak media Buaya kemudian dievakuasi sementara di kandang permanen Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, pada Selasa 5 Januari 2021 dengan kondisi kail sling sangkut dalam mulut buaya. Setelah mata kail sling berhasil dikeluarkan dari mulut dengan pembiusan oleh tim dokter Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan Yayasan Scorpion Indonesia, ditemukan disekitar mulut dan tenggorokkan banyak terdapat luka akibat mata kail. Pada Rabu 6 Januari 2021, buaya dititipkan ke penangkaran buaya Asam Kumbang, namun tidak lama kemudian buaya tersebut mati. Penyebab kematian menurut Fatimah Sari, SKH., dokter hewan Balai Besar KSDA Suatera Utara, adalah karena luka robek yang sangat parah pada bagian trakea (kerongkongan) buaya akibat mata pancing pada saat penangkapan dan diperparah dengan adanya infeksi bakteri dari sisa makanan umpan yang masih berada di trakea yang menyebabkan sepsis (komplikasi berbahaya akibat infeksi). Selanjutnya bangkai buaya segera ditanam/dikubur di lokasi penangkaran. Sedangkan penanganan konflik Harimau Sumatera di Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Herbert BP. Aritonang memaparkan bahwa informasi terjadinya konflik pada Rabu 6 Januari 2021 dari KPH I Stabat dengan korban 2 ekor ternak lembu milik warga Dusun Selayang, Desa Laudamak, Kecamatan Bahorok, Kab. Langkat.Upaya penanganan dilakukan oleh tim terpadu dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, KPH I Stabat, WCS dan YAHUA dengan pengecekan 2 bangkai lembu, pemasangan 4 unit kamera trap milik YAHUA dan melakukan musyawarah dengan masyarakat. Permohonan masyarakat yang didukung dengan surat oleh Kepala Desa Laudamak dan Camat Bahorok, menuntut untuk dilakukan translokasi, harus melalui kajian para pakar dan translokasi adalah pilihan terakhir. Sampai saat ini Tim terpadu masih melakukan patroli dan pengamanan di lokasi. Wawancara dengan awak media usai penjelasan Konferensi pers diikuti oleh jurnalis dari berbagai media baik media cetak, elektronik dan media on-line, seperti : Kompas TV, CNN Indonesia, I News TV, Tribun Medan, Digtara.com, Suaraindonesia.co.id., Kompas.com dan media lainnya. Sumber: Inggrid R. Tarihoran (PEH Pertama) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Pesona Jamur Biru CA Morowali

Palu, 8 Januari 2020. Cagar Alam (CA) Morowali, salah satu dari sekian banyak kawasan konservasi yang berada di wilayah kerja Balai KSDA Sulawesi Tengah, menyimpan begitu banyak keindahan dan pesonanya. Salah satunya adalah si Jamur Biru. Jamur Biru dengan nama latin Mycena interrupta ini adalah salah satu spesies jamur langka yang jarang ditemui. Mycena interrupta umumnya dikenal sebagai pixie's parasol. Meskipun memiliki warna-warna cerah, tetapi tidak seperti spesies Mycena lainnya yang bioluminescent (bercahaya), Mycena interupta tidak mengeluarkan cahaya sendiri. Dengan karakteristik berwarna biru cerah selama periode bibit, dan perlahan-lahan akan memudar sedikit demi sedikit selama proses pertumbuhan. Bagi para pengunjung yang pernah melakukan penelitian maupun ekspedisi ke Cagar Alam Morowali khususnya yang melewati jalur trek pendakian Gunung Tambusisi, spesies Jamur Biru ini sering mereka jumpai. Jadi, bagi para sahabat konservasi yang penasaran untuk meneliti dan melihat langsung si Jamur Biru ini maka segeralah buat SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Tengah di Palu, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yah. Sumber : LaOde Rahman - Polhut Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

BBKSDA Riau Evakuasi Buaya Hasil Pengamanan Warga

Pekanbaru, 7 Januari 2021 – Resort Muka Kuning, Pulau Rempang Balai Besar KSDA Riau pada Minggu, 3 Januari 2021 melakukan kegiatan evakuasi satwa liar Buaya di Sei Langkai, Kecamatan Sagulung, Kota Batam. Walaupun dalam kondisi hujan gerimis, Tim Wildlife Response Unit (WRU) Seksi Konservasi Wilayah II Batam tetap semangat dalam melaksanakan tugasnya. Berawal dari laporan Kepala Seksi Trantib Kecamatan Sagulung yang menyampaikan adanya Buaya yang telah diamankan oleh warga. Tim WRU yang dipimpin langsung oleh Kepala Seksi Wilayah II, bapak Decky bersama dua orang petugas lainnya berhasil melakukan evakuasi Buaya tersebut dan menitipkan sementara ke Manggala Agni DAOPS Batam untuk selanjutnya di evakuasi ke Lembaga Konservasi terdekat. Terima kasih atas gerak cepatnya kepada warga Sei Langkai, Kecamatan Sagulung yang berpartisipasi ikut mengamankan satwa liar tersebut. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Awal Tahun 2021, Tim KSDAE Dishut Kalsel Lepasliarkan Ular Sanca Batik

Banjarbaru, 6 Januari 2021. Minggu pertama di awal tahun 2021, Tim Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan melaksanakan kegiatan yang rutin dilakukan sebelumnya, yaitu evakuasi dan pelepasliaran satwa liar. Pasca libur panjang beberapa satwa liar jenis ular sanca batik berhasil diamankan oleh Rekan Barisan Pemadam Kebakaran Emirat Banjarmasin dari beberapa pemukiman warga, menurut penuturan anggota BPK Emirat musim hujan yang mengakibatkan naiknya permukaan air disinyalir menjadi faktor yang mempengaruhi munculnya hewan melata ini terlebih Kota Banjarmasin sejatinya merupakan daerah rawa dan banyak terdapat aliran sungai. Kegiatan kali ini berhasil mengamankan 4 ekor Ular sanca batik (Malayopython reticulatus) dengan ukuran 2 (dua) meter, 1 (satu) meter dan satu anak ular dengan panjang 30 cm. Masing-masing di evakuasi di daerah Kelurahan Pasar lama (2 ekor), Kelurahan Sungai Andai (1 ekor) dan Kelurahan Banua Anyar (1 Ekor), keterangan dari Ali Akbar salah satu anggota BPK Emirat bahwa “jumlah laporan permintaan evakuasi satwa liar di Kota Banjarmasin meningkat cukup tinggi, hal ini dikarenakan kesadaran masyarakat untuk melaporkan tarjadinya konflik antara satwa dengan manusia. Pada hari yang sama seluruh ular dilepasliarkan di wilayah Taman Hutan Raya Sultan Adam Mandiangin, pemilihan lokasinya dinilai cocok untuk habitat ular selain itu juga jauh dari pemukiman warga sehingga dapat mengurangi potensi konflik antara satwa dan manusia. Dalam kesempatan ini, Kepala Seksi KSDAE, Supiani,S.Hut.MP menjelaskan bahwa “upaya-upaya penyebaran informasi yang bertujuan mengajak masyarakat Kalimantan Selatan untuk selalu menjaga ekosistem yang salah satunya adalah penyelamatan satwa liar melalui sosial media, tv dll. pemberitaan kegiatan seperti ini kami harapkan dapat menularkan nilai-nilai konservasi di masyarakat yang selalu menjadi komitmen Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan tandasnya”. Sumber : Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan
Baca Berita

Inventarisasi Flora dan Fauna SM Balai Raja

Pekanbaru, 7 Januari 2021 – Petugas Resort Duri Balai Besar KSDA Riau pada hari Sabtu (2/1) sampai dengan hari Senin (4/1) melakukan pendampingan praktikum mahasiswa Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Riau. Kegiatan dilakukan di Suaka Margasatwa (SM) Balai Raja, tepatnya pada Hutan Talang yang terdapat di Kelurahan Pematang Pudu, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis. Para Petugas Resort Duri (Bang Ahmad Fitriansyah, Pak Pamusuk Siregar, bang Herman dan Bang Pipin) bersemangat mendampingi para mahasiswa dalam melakukan Inventarisasi Flora dan Fauna dengan mengamati jenis-jenis pohon dan satwa yang berada di dalam hutan. Disamping melakukan kegiatan tersebut, mereka juga melakukan penanaman jenis-jenis pohon hutan seperti Ketapang, Sentul dan Kelengkeng, serta melakukan wawancara kepada masyarakat untuk mengetahui dampak sosial ekonomi kawasan hutan terhadap masyarakat secara langsung. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Bersinergi Dalam Penanganan Peredaran Satwa Bersama Karantina Pertanian Pare-Pare

Pare-pare, 7 Januari 2021 – Tim WRU Bidang Wilayah II Parepare Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel) dipimpin Kepala Resor Sidrap ( Alim Bahri ) menindaklanjuti Laporan Balai Karantina Pertanian Kelas I Parepare yaitu adanya barang bukti sitaan satwa dilindungi jenis Burung Beo (Gracula sp) dan Jalak Kerbau ( Acridotheres javanicus ). Burung tersebut disita dari Kapal Prince Soya, yang berangkat dari pelabuhan asal Samarinda dan merapat dipelabuhan Parepare tanggal 4 Januari 2020 Pukul 24.00 WIB, pemiliknya tidak diketahui dan tidak memiliki dokumen SAT-DN. Satwa tersebut disimpan dalam 6 (enam) buah kotak kemasan yaitu Burung Beo Kalimantan sebanyak 23 Ekor (tersisa 18 ekor, 5 Mati) dan Jalak kerbau sebanyak 73 ekor. Selanjutnya satwa sitaan tersebut dirawat dan diperiksa kesehatannya dilaboratorium kesehatan Hewan Balai Karantina Pertanian Kelas I Parepare. Sebelum dilakukan penyerahan Barang Bukti dan penandatanganan berita acara, Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Soppeng Benny Daly, S.Hut, M.Si dalam keterangannya mengatakan “Kordinasi penanganan kami lakukan BERSAMA guna mencegah penyelundupan dan Peredaran Tumbuhan dan Satwa dilindungi. Bersama Kapolsek Pelabuhan Nusantara Parepare, POLAIRUD, Kepala Operasional Pelindo, dan Polresta Parepare maka penanganan ini berjalan dengan baik”, terang Benny. Dari hasil pengujian dilaboratorium, seluruh burung tersebut dinyatakan sehat, maka barang bukti tersebut diserahkan oleh Kepala Stasiun Karantina Pertanian kelas I Parepare kepada Pihak BBKSDA Sulsel yaitu 18 Ekor Burung Beo (Gracula sp) dan 73 ekor Jalak Kerbau (Acridotheres javanicus ) Berita Acara Serah Terima Nomor : 17 /120/K.48.D/1/2021 tanggal 5 Januari 2021. Kepala Balai Besar KSDA Sulsel Thomas mengungkapkan, “Trimakasih kepada Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Parepare dan Tim serta Kapolsek Pelabuhan Nusantara Parepare, POLAIRUD, Kepala Operasional Pelindo, dan Polresta Parepare”. Ungkap Thomas. “Selanjutnya terhadap satwa serahan dilindungi jenis Burung Beo (Gracula sp) akan dirawat lanjutan di Makassar sebelum dilakukan translokasi ke habitat aslinya, sedangkan satwa jenis Burung Jalak Kerbau ( Acridotheres javanic jbus ) tidak termasuk dilindungi bisa langsung dilepasliarkan di habitat aslinya”, tambah Thomas. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penanggung jawab Berita : Kepala Sub Bagian Data, Evlap dan Humas BBKSDA Sulsel - Murniaty. S.Hut – 0888-0412-9757 Informasi Lebih Lanjut : Call-Center BBKSDA Sulsel : Rudy Ashadi, S.Hut – 0811-4600-883
Baca Berita

Satwa Endemik CA Gunung Tinombala yang Pemalu

Palu, 7 Januari 2021. Salah satu satwa endemik yang ada di Cagar Alam (CA) Gunung Tinombala adalah Babirusa (Babiruosa babirussa). Memiliki taring yang tersulut keluar melalui kedua sisi mulutnya dan melingkar ke atas dan melengkung ke belakang itulah Babirusa Jantan namanya. Babirusa tergolong satwa yang pemalu, namun dapat menjadi agresif jika diganggu. Babirusa biasa hidup dalam kelompok kecil dengan satu ekor jantan yang paling kuat sebagai pemimpin (Clayton, 1996). Babirusa juga sering terlihat berjalan sendiri atau dalam kelompok kecil dalam ikatan yang kuat sehingga mampu mempertahankan diri dari predator. Induk babirusa membuat sarang untuk anaknya dari berbagai bahan yang ada di hutan seperti rumput, rotan, daun dan ranting tumbuhan bawah. Apabila berjalan dalam kelompok, babirusa selalu mengeluarkan suara yang teratur dan berbalasan, kecil dan panjang, yakni suirii.………suuuuuiiiriiii. Berdasarkan hasil Monitoring Babirusa menggunakan Kamera Trap di Cagar Alam Gunung Tinombala terekam sebanyak 14 Ekor dengan pendugaan kepadatan populasi berdasarkan penghitungan jejak kaki yaitu sebanyak 100 ekor/1 km² atau 1 ekor per hektar. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Tengah (BKSDA Sulteng) akan terus melakukan berbagai macam usaha untuk mempertahankan populasi satwa endemik ini. Juga tak henti-hentinya kami mengajak para sahabat konservasi untuk terus bersama sama menjaga kawasan hutan beserta tumbuhan dan satwa yang ada di dalamnya. Sumber : Humas Balai KSDA Sulawesi Tengah

Menampilkan 2.657–2.672 dari 11.141 publikasi