Sabtu, 16 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Beruang Madu hasil Evakuasi dari Box Trap Dilepasliarkan BKSDA Jambi

Kerinci, Januari 2021. Berdasarkan informasi dari masyarakat, diduga ada 2 ekor beruang (Helarctos Malayanus) yang telah meresahkan warga. Mengetahui informasi tersebut, tim satuan petugas Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi kemudian melakukan verifikasi kebenaran informasi, hasil dari verifikasi disimpulkan bahwa beruang telah memakan ternak salah satu warga di Desa Sangaran Agung, Kecamatan Danau Kerinci pada bulan Januari silam. Menindaklanjuti hal tersebut, tim Satgas (Satuan Petugas) Mitigasi Konflik SKW I Balai KSDA Jambi bekerjasama dengan Satgas TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat), KPH Kerinci, stakeholder, serta masyarakat sekitar kemudian terjun ke lokasi. Adapun tindakan yang dilakukan yaitu pemasangan perangkap (Box trap) sebanyak 1 unit. Dari hasil pemasangan perangkap, ± 3 hari kemudian ditemukan beruang 1 (satu) ekor beruang dewasa terperangkap di box trap. Tim langsung melakukan evakuasi beruang dari box trap. Setelah di evakuasi, satwa tersebut menjalani pemeriksaan medis oleh Dinas Peternakan Sungai Penuh. Dari hasil pemeriksaan, kondisi beruang stabil dan dalam keadaan sehat. Tidak menunggu waktu lama, tim kemudian melepasliarkan satwa ini ke kawasan TNKS. Kepala SKW I BKSDA Jambi, H. U. Ikhwanudin, SP, ME saat dikonfirmasi mengatakan bahwa, “Beruang yang kita temukan berjumlah satu ekor dan telah kita relokasi ke kawasan TNKS. Kawasan ini dipilih karena jauh dari pemukiman warga, serta memiliki ketersediaan pakan yang cukup di alam. Bekerjasama dengan tim dari TNKS, kami akan selalu memonitor beruang tersebut di habitatnya yang baru” ujarnya. Kepala Balai KSDA Jambi, Rahmad Saleh, S.Hut.,M.Si menyampaikan “Kami sangat mengapresiasi keberhasilan tim dilapangan yang dapat mengevakuasi beruang untuk di relokasi ke habitat yang lebih baik. Untuk box trap sendiri, masih kami pasang karena di duga masih ada beruang lain di lokasi. Beruang ini memiliki peran yang besar dalam menjaga kestabilan ekosistem di alam, dimana ini merupakan tanggung jawab kita sebagai sesama mahluk ciptaan Allah Subhanahu wa Taala, sesuai dengan surah al-Anbiya ayat 107 yang berbunyi, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” tutupnya. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

BBKSDA Papua Imbau Masyarakat di Sekitar Kawasan CA Cycloop Jeli Membaca Tanda-Tanda Alam

Jayapura, 6 Februari 2021. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDAS HL) Memberamo, dan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Resort Sentani pada Sabtu (6/2) memantau lokasi rawan longsor. Pemantauan terfokus pada empat aliran sungai yang berhulu di kawasan Cagar Alam (CA) Pegunungan Cycloop di Wilayah Kabupaten Jayapura dengan tujuan mengantisipasi terjadinya banjir dan longsor, agar tidak berdampak bagi masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan. Ini merupakan tindak lanjut dari pemantauan awal, Kamis (4/2). Pada pemantauan kedua ini, tim menerbangkan dua drone, dengan hasil sebagai berikut. Pertama, Sungai Makanuay di Kampung Doyo Baru. Tim memantau sejauh 700 meter dari batas kawasan. Kondisi air keruh, namun tetap mengalir normal. Tim memastikan tidak terdapat longsoran yang berpotensi menutup sungai. Kedua, Sungai Taruna di Kelurahan Hinekombe. Tim memantau sejauh 800 meter dari batas kawasan. Kondisi air keruh, namun mengalir normal. Tim memastikan tidak terdapat longsoran yang berpotensi menutup sungai. Ketiga, Sungai Sereh (Air Terjun Pos Tujuh) di Kampung Sereh. Tim memantau sejauh 800 meter dari batas kawasan. Kondisi air keruh, namun mengalir normal. Sama seperti dua sungai sebelumnya, di sungai ini juga tidak terdapat longsoran yang berpotensi menutup sungai. Keempat, Sungai Eboy di Kelurahan Toladan. Tim memantau sejauh 300 meter dari luar kawasan. Kondisi air keruh, namun mengalir normal. Pada anak Sungai Eboy yang mengering terdapat sedikit longsoran. Berdasarkan informasi dari MMP Resort Sentani, longsoran pada anak Sungai Eboy terletak sekitar 2.5 km dari batas kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Selama proses pemantauan ini, kondisi cuaca kurang mendukung. Tim merencakan pemantauan selanjutnya pada Senin (8/2). Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, menyatakan, “Posisi longsor ini pada ketinggian 300 mdpl, masih di luar kawasan Cagar Alam tetapi bagian dari Pegunungan Cycloop. Jadi ini adalah kawasan penyangga Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Longsoran ini sebenarnya terjadi setahun lalu, bukan baru. Namun, berpotensi menutup aliran sungai. Ketika debit air meningkat, curah hujan ekstrim, air akan mengalir melalui jalur ini, selain jalur utama di Sungai Eboy. Ini berpotensi membawa material ke tempat yang lebih rendah, sehingga perlu diwaspadai.” Edward mengimbau kepada masyarakat agar tetap waspada dan jeli membaca tanda-tanda alam. Dengan demikian, tidak terjadi lagi dampak kerugian yang besar seperti banjir bandang tahun 2019 silam. “Kita sama-sama berdoa, semoga tidak akan terjadi lagi banjir bandang. Kalaupun terjadi, kita sudah punya persiapan sehingga bisa meminimalkan dampaknya. Semoga situasi tetap kondusif dan masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa,” pungkas Edward. (djr) Sumber : Balai Besar KSDA Papua Call Center : 0823 9802 9978
Baca Berita

Penanganan Lepasnya Dua Ekor Harimau Benggala di Sinka Island Park

Pontianak, 7 Februari 2021. Dua ekor harimau benggala Tora dan Eka yang keluar dari kandangnya pada tanggal 5 Februari 2021 di Lembaga Konservasi CV Sinka Island Park, di Kec. Singkawang Selatan, 1 ekor (Tora) telah berhasil dikembalikan lagi ke kandangnya, setelah dilumpuhkan dengan tembakan bius. Sedangkan 1 ekor (Eka) terpaksa ditembak dengan peluru tajam oleh pihak Polisi dan TNI, setelah tembakan bius tidak berhasil melumpuhkannya dan membahayakan keselamatan petugas yang berusaha menangkapnya. Kejadian ini bermula ketika pukul 13.00 WIB kedua harimau dikeluarkan oleh keepernya untuk bermain seperti biasanya di kolam yang berada di areal kandang. Keeper Agus kemudian meninggalkan dan meminta rekannya, untuk menjaga 2 ekor harimau tersebut. Setelah kembali, keeper menemukan harimau sudah tidak berada di kandang dan menemukan keeper kuda, Sdr. Fery Hermawan dalam kondisi meninggal di dekat kandang harimau. Setelah ditelusuri, keluarnya harimau diduga karena lobang yang disebabkan longsor di dekat kandang akibat hujan yang mengguyur Singkawang beberapa hari sebelumnya. Balai KSDA Kalimantan Barat telah melakukan berbagai upaya antara lain berkoordinasi dengan berbagai pihak diantaranya Pengelola Sinka Zoo Singkawang, Pemkot Singkawang, Kapolres Singkawang dan jajaran di Kepolisian Sektor Singkawang Selatan, Kodim 1202 Singkawang, Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang (YPOS) dan Dinas Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi. Tim gabungan mencari alternatif penanganan terbaik bagi keselamatan masyarakat sekitar dan ke dua harimau di lokasi kejadian, termasuk upaya-upaya penyelamatan serta mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Upaya memancing ke dua ekor harimau benggala tersebut keluar dari persembunyian telah dilakukan mulai dari memberikan umpan pakan hingga kemudian satwa tersebut memangsa satwa lain yang berada di taman satwa tersebut. Tim gabungan sudah menyiapkan senjata bius karena jarak yang tidak memungkinkan serta satwa yang sudah terllihat membahayakan bagi petugas dan masyarakat sekitar LK, maka diputuskan untuk dilakukan penembakan oleh Kapten Taufik Wiramansyah Pasi Ops Kodim 1202 SKW. Harimau benggala bernama Eka terpaksa ditembak pada jam 08.42 WIB dan harimau benggala bernama Tora dapat dilumpuhkan dengan tembakan bius pada jam 17.00 WIB oleh Tim I yang dipimpin Drh. Viktor dari Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang (YPOS) sebanyak 2 kali tembakan di bagian sasaran. Saat ini, harimau Tora yang berhasil dilumpuhkan masih diobservasi di kandang oleh Drh. Viktor YPOS bersama Drh. Dayat ketua PDHI Kalimantan barat dan Tim BKSDA Kalbar. Dirjen KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc mengatakan, “terkait dengan kejadian ini KLHK akan menurunkan Tim Evaluasi yang akan melakukan evaluasi secara menyeluruh terkait pengelolaan Lembaga Konservasi CV Sinka Island Park. Apabila ada unsur kelalaian dalam pengelolaan lembaga konservasi, akan dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku. Untuk itu kami akan berkoordinasi dengan aparat penegakan hukum untuk melihat unsur kelalaian yang menyebabkan adanya korban jiwa, sehingga perlu ada sanksi tegas terhadap individu dan atau manajemen Lembaga Konservasi tersebut. Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Sadtata Noor Adirahmanta menyampaikan ucapan terima kasih kepada para pihak: Wali Kota Singkawang, Polres Singkawang dan jajarannya, Kodim 1202 Singkawang, Dinas Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi, Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang (YPOS) dan pihak lain yang telah membantu penanganan harimau benggala di Sinka Zoo. Pemerintah juga meminta dukungan masyarakat untuk membantu mengawasi Lembaga Konservasi yang belum melakukan kesejahteraan satwa dalam pengelolaan satwanya. Sinka Island Park yang lebih dikenal dengan Sinka Zoo merupakan salah satu pemegang izin lembaga konservasi dalam bentuk Taman Satwa berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No. SK.441/Menhut-II/2007. Taman Satwa Sinka Island Park tersebut berlokasi di Jl. Malindo Teluk Karang Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan, Provinsi Kalimantan Barat. Taman Satwa Sinka Island Park tahun 2021 tercatat memiliki koleksi 188 individu termasuk 9 ekor Harimau Benggala (5 jantan, 4 betina). Harimau Benggala (Panthera tigris tigris) koleksi Taman Satwa ini berasal dari Kebun Binatang Ragunan Jakarta yang diperoleh tahun 2008. Status perlindungan satwa ini di Indonesia adalah tidak dilindungi, terancam punah/endangered menurut IUCN dan masuk Appendix I CITES. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat Penanggung jawab : Kepala KSDA Kalbar: Sadtata Noor Adirahmanta - 082238667543 Kepala Seksi Eksitu Direktorat KKH: Desy Satya Chandradewi - 08129542679 Call Center KSDA Kalbar: 08115776767
Baca Berita

Meski Curah Hujan Ekstrim, Sungai-Sungai di CA Pegunungan Cycloop Relatif Aman

Jayapura, 4 Februari 2021. Intensitas hujan yang tinggi selama beberapa hari terakhir menimbulkan keresahan tersendiri bagi masyarakat di Kota dan Kabupaten Jayapura. Ingatan atau bahkan trauma banjir bandang 2019 di Kabupaten Jayapura masih mewarnai kehidupan mereka. Demi memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat, pada Kamis (4/2), Tim Gabungan memantau beberapa sungai sebagai langkah antisipasi dampak bencana. Tim terdiri atas Balai Besar KSDA Papua, BPDASHL Memberamo, BPKH Wilayah X Jayapura, serta Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua. Tim memantau empat sungai yang berhulu di Kawasan Cagar Alam (CA) Pegunungan Cycloop, yaitu Kali Harapan, Kali Eboy, Kali Taruna, dan Kali Nauli. Sebelum turun ke lapangan, tim telah melakukan koordinasi dengan Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw. Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, menyatakan, “Ada beberapa hal yang perlu kita antisipasi, antara lain, dugaan terbentuknya bendungan alami di bagian hulu. Namun ini masih perlu kami pastikan lagi, ada atau tidak bendungan itu, dan seberapa besar potensinya akan jebol. Hari ini kami menyaksikan langsung kondisi di lapangan, dan ini menjadi bahan pertimbangan kami menyampaikan laporan kepada masyarakat. Sejauh ini kami melihat kondisi masih relatif aman. Jadi kami sampaikan kepada masyarakat di Kota dan Kabupaten Jayapura agar tetap waspada, tetapi tidak usah khawatir berlebihan.” Lebih lanjut Edward menyampaikan, Sabtu (6/2) tim akan memantau beberapa lokasi menggunakan drone. Tujuannya untuk melihat secara lebih akurat titik-titik yang diduga berpotensi rawan, sehingga dapat mengetahui koordinatnya secara pasti. Tim akan menyampaikan hasilnya kepada masyarakat, supaya mereka mendapatkan informasi yang akurat, tidak hanya menduga-duga dan malah menimbulkan keresahan atau kekhawatiran berlebihan. Memungkasi pernyataannya, Edward berpesan kepada masyarakat, “Kita tetap waspada, ya, dalam arti perhatikan aliran air. Kalau kali masih jernih, biarpun volumenya besar itu sebenarnya aman. Tidak usah khawatir. Tapi ketika kali kabur atau keruh, ada material-material yang turun, dan volumenya tidak terlalu besar, itu yang justru patut diwaspadai. Karena bisa jadi ada bendungan alami di bagian hulu. Bagaimanapun, tim kami tetap akan pantau sehingga masyarakat bisa tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa.” Pada momentum yang sama, Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, Jan Jap Ormuseray, menyatakan, “Sejak tanggal 3 Februari 2021 malam, situasi cukup membuat panik masyarakat, khususnya di Kabupaten Jayapura. Yongsu Desoyo sudah banjir meskipun tidak separah tahun 2019, juga tidak menimbulkan korban jiwa. Harapan kami, dengan langkah-langkah yang kami lakukan ini dapat memberikan ketenangan kepada masyarakat di Kota dan Kabupaten Jayapura. Mereka bisa mendapatkan informasi yang akurat, sehingga dapat beraktivitas tanpa rasa khawatir.” (djr) Sumber : Balai Besar KSDA Papua Call Center : 0823 9802 9978
Baca Berita

Serahkan “Wang” Secara Sukarela, Keluarga Aspuri Ingin Si Wang Lestari dan Hidup Layak

Malinau, 4 Februari 2021 – Berawal dari laporan masyarakat Kabupaten Malinau atas nama Aspuri Usat yang hendak menyerahkan seekor satwa di lindungi jenis Beruang Madu (Helarctos malayanus). Petugas Balai TN Kayan Mentarang segera ke kediaman Bapak Aspuri Usat di Desa Tanjung Keranjang Kecamatan Malinau Kota, Kabupaten Malinau untuk meninjau beruang Madu yang akrab di panggil “Wang”. Hasil peninjauan kemudian dilaporkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim) dengan hasil identifikasi bahwa Wang berusia 1,5 Tahun berjenis kelamin jantan dengan bobot kurang lebih 30 Kilogram dan dalam kondisi sehat. BKSDA Kaltim melalui Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Berau menuju TKP dengan peralatan lengkap termasuk perlengkapan bius serta kandang transit untuk melakukan evakuasi Wang dari kandang besi (3/2). Balai TN Kayan Mentarang melalui Plt. Kepala Balai TN Kayan Mentarang Bambang Widiatmoko, S.Hut., M.Sc bersama Tim BKSDA Kaltim yang dikoordinir langsung Kepala SKW I Berau Denny Mardiono, S.Hut., M.Sc . langsung menuju kediaman keluarga bapak Aspuri Usat. Setibanya di Kediaman keluarga Bapak Aspuri Usat, Tim kaget karena di sambut dengan auman keras dan perilaku agresif Wang yang mulai terlihat tak tenang di dalam kandang besi di pinggir rumah majikannya. Evakuasi pun sempat mengalami kesulitan dikarenakan hingga 6 (enam) kali suntikan bius yang telah ditembakkan ke arah bokong Wang, mulai dari dosis rendah hingga sedang tak juga membuatnya tenang dan terlelap kendati Wang sudah tak mampu lagi berdiri. Akhirnya Tim mencoba metode lain untuk mengevakuasi Wang dengan bantuan keluarga Bapak Aspuri Usat. Sebelumnya Tim BKSDA telah menembakan 1 (satu) suntikan bius terakhir kepada Wang untuk menjaga efek bius sebelumnya yang mulai reda. Wang mulai terlihat kehilangan agresifitasnya dan dapat di evakuasi ke kandang transit. Meskipun terlihat ramah kepada majikannya, auman yang diperlihatkan Wang menunjukkan masih adanya naluri buas dan berpotensi berbahaya jika ia terus menerus di pelihara dan tumbuh di lingkungan masyarakat. Aspuri Usat menyatakan bahwa kecintaan keluarganya terhadap Wang sudah cukup dalam. Namun dari kecintaan itulah keluarga Bapak Aspuri memiliki kesadaran untuk menyerahkan Wang kepada Pemerintah secara sukarela agar dapat hidup lebih layak dan lestari di hutan. Balai TN Kayan Mentarang dan BKSDA Kaltim melalui Kepala SKW I Berau BKSDA Kaltim Denny Mardiono, S.Hut.,M.Sc menyampaikan apresiasi terhadap keluarga Bapak Apuri Usat dan tak lupa memberikan pemahaman kepada masyarakat agar turut serta melestarikan satwa yang dilindungi. “Kami mewakili pemerintah sangat berterimakasih atas kesediaan pak Aspuri menyerahkan satwa peliharaannya Beruang Madu (Helarctos malayanus). Beruang madu adalah satwa yang dilindungi dimana telah diatur oleh undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Hayati dimana semua orang dilarang memelihara, memiliki, memperjualbelikan, mengangkut, hingga membunuh satwa yang di lindungi. Bagi siapapun yang melanggar undang-undang tersebut akan di kenakan sangsi pindana” Ungkap Denny Mardiono, S.Hut.,M.Sc Di Ketahui bahwa sejak tahun 1994 hingga kini status konservasi beruang madu masuk dalam kategori “Rentan” atau Vulnerable (VU) oleh IUCN. Beruang ini sedang mengalami resiko kepunahan di alam liar. Selain itu, jenis beruang terkecil di dunia ini juga dimasukkan dalam CITIES Apendix I sejak tahun 1979. Sumber : Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Berita

BBKSDA Riau Jemput Trenggiling dari Pecinta Hewan Dumai

Pekanbaru, 4 Februari 2021 - Resort Dumai, Seksi Konservasi Wilayah IV, Balai Besar KSDA Riau mendapat informasi dari sahabat konservasi Pecinta Hewan Dumai (PANDU) pada Senin, 1 Februari 2021 bahwa ada satwa dilindungi undang-undang yaitu Trenggiling (Manis javanica) yang telah dievakuasi dari rumah warga dan akan diserahkan ke Balai Besar KSDA Riau untuk dilepasliarkan bersama. Tim Resort Dumai kemudian melakukan pengecekan ke TKP yang ditindaklanjuti dengan serah terima dari PANDU ke Tim Resort Dumai dan segera mengidentifikasi satwa tersebut. Dan pada tanggal 2 Feberuari 2021, Tim Balai Besar KSDA Riau bersama Tim PANDU secara bersama sama melakukan pelepasliaran Trenggiling kembali ke habitatnya. Sebagai informasi dari PANDU, bahwa kronologis kejadian adalah pada tanggal 29 Januari 2021, sekitar pukul 08:00 wib, Tim PANDU mendapat Informasi di jalan Terikat, Kel. Bumi ayu, Kec. Dumai Selatan, Kota Dumai, di salah satu rumah warga terdapat seekor Trenggiling. Dengan serta merta Tim PANDU segera berupaya menyelamatkan satwa tersebut dan menyerahkannya ke pihak Balai Besar KSDA Riau untuk dilepasliarkan. Terima kasih banyak Tim PANDU atas kepeduliannya, semoga makin banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya konservasi. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Kembali Beraksi, Petugas Resort Duri BBKSDA Riau Temukan Aktivitas Illog

Pekanbaru, 4 Februari 2021 – Petugas Resort Duri Balai Besar KSDA Riau kembali beraksi pada Selasa, 02 Februari 2021. Bang Pamusuk dan bang Herman Aruan melakukan patroli mandiri di kawasan konservasi Suaka Margasatwa (SM) Giam Siak Kecil, Desa Tasik Serai, Kec. Talang Muandau, Kab. Bengkalis. Sebelumnya petugas mendapat informasi terkait adanya alat berat di dalam kawasan SM. Giam Siak Kecil. Setelah dilakukan pengecekan di lapangan, ternyata alat berat itu sudah tidak berada di lokasi lagi. Dari jejak tapak alat berat yang terlihat, jejak tersebut masih berada diluar kawasan. Menurut keterangan warga yang menyaksikan, alat berat tersebut digunakan untuk mengambil kayu Akasia Carpa di dekat kawasan. Petugas kemudian melanjutkan melakukan pengecekan aktivitas illegal logging (illog) di dusun sungai Geronggang. Ditemukan bekas pemuatan kayu yang terlihat masih baru karena tempat pemuatan kayu tersebut masih lembab. Dari temuan tersebut, petugas akan melakukan pemantauan lebih lanjut. Tak berhenti sampai disitu, segera petugas melakukan pemasangan rambu-rambu kawasan dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dan melakukan aktivitas illegal logging di kawasan SM. Giam Siak Kecil. Karena jika masih dilanggar, hukum akan diberlakukan dengan tegas. Segera hubungi call centre Balai Besar KSDA Riau (081374742981) jika melihat atau menyaksikan hal melawan hukum di dalam kawasan konservasi. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Patroli Cegah Karhutla dan Illegal Logging di SM Giak Siak Kecil

Pekanbaru, 3 Februari 2021 - Resort Duri Balai Besar KSDA Riau kembali melakukan patroli mandiri di kawasan konservasi Suaka Margasatwa (SM) Giam Siak Kecil pada Senin, 1 Februari 2021. Petugas Resort Duri yang disapa bang Lilik dan bang Pipin menyusuri hutan semak belukar melalui jalur darat. Tanah gambut sudah mulai mengering dan air di sungai maupun kanal sudah mulai menyusut. Tanda alam minta perhatian untuk lebih sering dipantau supaya menghindari terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Di sekitaran SM. Giam Siak Kecil perbatasan Sudigdo terpantau aman, nihil titik asap dan kegiatan perambahan. Namun di sekitar lokasi jembatan gelodak RT.10, tim menemukan ada bekas atau tanda kegiatan illegal logging. Tim segera melaporkan temuan tersebut dan mencari tahu tentang adanya kegiatan yang mungkin melawan hukum. Bagi siapapun yang mengetahui adanya kegiatan illegal logging ataupun tindakan melawan hukum lainnya yang terkait dengan kawasan konservasi, agar segera menghubungi call centre Balai Besar KSDA Riau di nomor 081374742981. Perlu peran bersama untuk mengamankan hutan yang tersisa demi kelangsungan hidup anak cucu kita. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

BKSDA NTB dalam Peluncuran Destinasi Ekowisata Bahari Gili Meno

Lombok Utara, 01 Februari 2021 - "Sinergi" merupakan sebuah kata yang mudah untuk diucapkan namun dalam perjalanannya butuh effort yang tidak mudah. Tetapi tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. Hal ini dibuktikan melalui kegiatan Peresmian Coral Garden Tahun 2020 oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan di Gili Meno Kab. Lombok Utara. Sinergi Pentahelix ini merupakan sinergi antara pemerintah, BUMN, Pihak Swasta, Masyarakat, dan NGO (Non-Govermental Organization). Lebih rinci lagi, Dua lembaga besar pemerintah yakni Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui alai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB) dan Kementerian Kelautan Perikanan, Bank Indonesia cabang NTB, PT. Lombok Samudera Abadi (Pengusaha Budidaya Terumbu Karang), Kelompok Masyarakat Penyelam (KAPELA NTB), dan NGO "Wildlife Conservation Society". Seluruh elemen bergerak dan bekerja bersama membangun Kebun Raya Karang (Coral Garden) Gili Meno di Taman Wisata Perairan (TWP) Gili Matra yang nantinya akan menjadi salah satu Dive Spot "Garuda Point" yang diresmikan KKP di Indonesia seluas kurang lebih 120 ha dengan 95.786 struktur. Tema Patung Garuda (Replika) dipilih sebagai struktur karang guna memupuk jiwa kebangsaan dan patriotisme. Harapannya agar menjadi daya tarik wisata meskipun belum penuh ditumbuhi karang. Perlu waktu sekitar 2-3 tahun sebelum Struktur Patung Garuda dipenuhi karang sehingga dibantu dengan pemasangan spider-web sebagai nursery ground. KAPELA NTB sebagai Social Enterprise menjadi motor rehabilitasi karang yang akan dikembangkan di lokasi destinasi ekowisata bahari coral garden ini. Apresiasi Direktur Jasa Kelautan (Kementerian Kelautan dan Perikanan) atas gerak bersama ini. Dengan mengucap Bismillahirrohmaanirrohiim, Coral Garden Gili Meno di-launching. Sebanyak 500 substrat karang hasil budidaya ditanam pada kesempatan ini. Dalam diskusi, Plt. Kepala BKSDA NTB Dedy Asriady, S.Si, M.P. menyampaikan bahwa kerjasama antar instansi dalam kerja konservasi adalah sebuah keharusan. Substrat karang yang ditanam ini merupakan kewajiban perusahan (PT. Lombok Samudera Abadi) selaku Pemegang Ijin Edar Terumbu Karang di Provinsi NTB untuk melakukan restocking ke alam sebanyak 10 % dari kuota tangkap. Pemulihan pariwisata melalui rehabilitasi ekosistem, perlu ada jaminan dari penanaman, pemeliharaan sampai dengan pemanfaatan berkelanjutan. Kerjasama Pentahelix (konsep pembangunan di mana unsur pemerintah, masyarakat atau komunitas, akademisi, pengusaha, dan media bersatu membangun kebersamaan dalam pembangunan) menjadi kuncinya. Bersama kita bisa! Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Monev Rehab DAS IPPKH PT. Adaro Indonesia di SM Kuala Lupak

Sungai Telan Besar, 28 Januari 2021 – Meski sempat tertunda hujan lebat, namun kegiatan monitoring dan evaluasi kegiatan izin pinjam pakai kawasan hutan (IPPKH) Rehab DAS PT. Adaro Indonesia di Suaka Margasatwa (SM) Kuala Lupak tetap terlaksana. Kegiatan monitoring dan evaluasi Rehab DAS ini dilaksanakan oleh tim dari Balai KSDA Kalimantan Selatan yang terdiri dari Kepala Balai, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc., Kepala SKW II, M. Ridwan Effendi, S.Hut, M.Si., dan juga Kepala Resort SM Kuala Lupak dan SM Pulau Kaget, Ahmad Barkati. Dalam kegiatan ini hadir pula pihak PT. Adaro Indonesia, pihak PT. Rehabilitasi Lingkungan Indonesia (RLI) dan pihak PT. Desindo selaku vendor kegiatan. Kegiatan monitoring dan evaluasi kegiatan Rehab DAS PT. Adaro Indonesia di SM Kuala Lupak dilaksanakan pada hari Rabu, 27 Januari 2021 berlokasi di Sungai Handil Bahagia Desa Sungai Telan Besar, SM Kuala Lupak. Monitoring dan evaluasi ini dilaksanakan untuk melihat dan menilai tingkat keberhasilan kegiatan Rehab DAS. Selain itu juga guna menggali kendala atau permasalahan selama kegiatan rehab DAS tersebut, dan kemudian mencari alternatif solusi secara bersama antara pengelola kawasan dan pihak yang melaksanakan Rehab DAS. Monitoring dan evaluasi kegiatan Rehab DAS ini dilaksanakan dengan menggunakan metode observasi lapangan, dimana tim menuju petak yang akan di monitoring dan evaluasi. Tanaman yang ada di dalam petak dihitung dan diukur pertumbuhannya. Tanaman yang tidak mampu tumbuh disarankan segera disulam agar persentase dalam satuan luasan tidak berkurang. Hasil dari kegiatan monev ini didapatkan hasil persentase tumbuh tanaman mencapai 80% – 90%. Namun terdapat gangguan berupa kondisi pasang air laut dan angin laut serta aktivitas kelompok Bekantan di areal tersebut, menyebabkan persentase tumbuh menjadi 50% – 60%. Pihak vendor segera melakukan penyulaman tanaman terhadap tanaman yang rusak dan persentase tumbuh yang didapat saat ini adalah mencapai 80%. Dalam kesempatan ini pihak vendor penanaman menyampaikan beberapa kendala dalam kegiatan penanaman. Diantaranya adalah kondisi pasang air laut dan angin laut yang cukup kencang, sehingga tanaman yang baru ditanam langsung roboh atau terendam air laut. Selain itu kendala lainnya adalah kelompok Bekantan yang mencari pakan di areal penanaman, yang secara tidak langsung kelompok Bekantan ini dapat memakan tanaman yang baru ditanam oleh pihak vendor. Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc. selaku Kepala Balai menyampaikan bahwa kejadian ini termasuk pada kejadian alam yang tidak dapat dielakkan. Kepala Balai mengingatkan kepada pihak vendor agar mendokumentasikan setiap kegiatan dan kejadian sebagai bentuk pertanggung jawaban pekerjaan. Dokumentasi tersebut nantinya dapat pula sebagai bukti bahwa kegiatan tersebut telah benar-benar dilaksanakan. Selanjutnya Kepala Balai menyarankan agar memperhatikan tata waktu atau musim untuk melakasanakan penyulaman, agar tanaman yang disulam tidak lagi terserang ombak dan angin laut. (ryn) Sumber : Cecep Budiarto, S.Hut - Penyuluh Kehutanan Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru
Baca Berita

Temuan Langsung Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon

Labuan, Februari 2021. Badak jawa (Rhinoceros sondaicus Desmarest, 1822) merupakan spesies paling langka diantara lima spesies badak yang ada di dunia sehingga dikategorikan sebagai critically endangered dalam Red List Data Book yang dikeluarkan oleh IUCN. Badak jawa juga terdaftar dalam Appendix 1 Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) sebagai jenis yang jumlahnya sangat sedikit di alam dan dikhawatirkan akan punah. Badak jawa juga diklasifikasikan sebagai jenis satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar. Kelangkaannya menjadikan satwa ini menjadi prioritas pertama untuk diselamatkan dari ancaman kepunahan. Kegiatan Monitoring dan perlindungan Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) tahun 2021 yang telah dilaksanakan bulan Januari 2021 oleh Tim Rhino Protection Unit (RPU) unit VI Marine Patrol Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), berhasil merekam secara langsung aktivitas 1 (satu) individu Badak Jawa, dengan kronologis sebagai berikut : Dengan adanya temuan langsung Badak Jawa di TNUK telah membuktikan bahwa peranan kondisi habitat Badak Jawa tersebut dalam kondisi aman terkendali, hal ini dikarenakan adanya penguatan sistem patroli kawasan yang rutin dilakukan dan kuatnya dukungan masyarakat desa di sekitar Taman Nasional Ujung Kulon dalam membantu pelaksanaan protection dan monitoring Badak. Selain itu, terdapat pula daya dukung utama ekologi/jejaring kehidupan seperti ketersediaan pakan yang melimpah, kebutuhan mengasin dan kondisi habitat yang masih relatif sangat baik di sekitar semenanjung Ujung Kulon. Sehingga kondisi tersebut mampu menjadi daya dukung utama untuk perilaku berkembang terhadap populasi individu Badak Jawa di TNUK. Sumber : Balai Taman Nasional Ujung Kulon
Baca Berita

BBKSDA Riau Pantau Aktivitas Masyarakat di Sekitar SM Kerumutan Selatan

Pekanbaru, 3 Februari 2021. Resort Kerumutan Selatan (Pekanheran) Balai Besar KSDA Riau pada Selasa, 2 Februari 2021 kemarin melakukan patroli rutin dan sosialisasi kepada masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan Selatan. Petugas melakukan pemeriksaan di tempat - tempat yang diduga digunakan oleh pelaku illegal logging untuk muat bongkar kayu olahan chainsaw di Hulu Sungai Batang Rengat dan kanal/parit yang berbatasan langsung dengan kawasan SM. Kerumutan Selatan di Wilayah Desa Sungai Guntung Tengah, Kec. Rengat. Tetapi tim tidak menemukan aktivitas masyarakat di sungai Batang Rengat tersebut. Tim melanjutkan dengan memberikan sosialisasi pencegahan dini Karhutla kepada masyarakat yang dijumpai sedang beraktivitas di kebun dan mencari ikan di sekitar kawasan SM. Kerumutan Selatan. Hal tersebut dilakukan mengingat kondisi cuaca sudah mulai panas dan intensitas hujan mulai berkurang, dikarenakan wilayah Desa Sungai Guntung Tengah, Desa Sungai Guntung Hilir dan Desa Kp. Pulau Kec. Rengat serta Desa Rantau Bakung dan Desa Redang, Kec. Rengat Barat merupakan daerah rawan Karhutla. Mari kita jaga bersama agar kawasan kita terbebas dari kegiatan melawan hukum dan terhindar dari kebakaran hutan dan lahan. Sumber : Balai Besar KSDA Riau Call Centre Balai Besar KSDA Riau : 081374742981
Baca Berita

BKSDA NTB Amankan Satwa Dilindungi dari Jual-Beli Online

Mataram, 28 Januari 2021 - Tim tumbuhan dan satwa liar (TSL) Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB) melaksanakan kegiatan pengamanan satwa di lindungi di daerah Kota Mataram dan sekitarnya bersama dengan Anggota DITRESKRIMSUS Unit IV dari Polda NTB. Kegiatan berawal dari informasi di Komunitas Jual Beli Online tentang adanya jual-beli online burung yang dilindungi dengan inisial akun "AD". Tim TSL BKSDA NTB kemudian bekerjasama dengan Anggota DITRESKRIMSUS Unit IV Polda NTB melakukan penyelidikan dan pendalaman informasi. Tim TSL BKSDA NTB bersama Anggota DITRESKRIMSUS Unit IV Polda NTB pun berangkat menuju lokasi pertama di Kota Mataram. Tim berhasil mengamankan 6 (Enam) ekor satwa dilindungi dengan rincian Kakatua Jambul Kuning (Caccatua sulphurea) 2 ekor, Kasturi Kepala Hitam (Lorius lory) 2 ekor dan Gagak Rumah (Corvus sllendens) 2 ekor. Masih di Kota Mataram berlanjut ke lokasi kedua di hari yang sama, Tim kembali berhasil mengamankan 5 (Lima) ekor satwa dilindungi dengan rincian Tiong Nias (Gracila robusta) 1 ekor, Tiong Nusa Tenggara (Gracula venerata) 2 ekor dan Jalak Putih Sayap Hitam (Acridotheres melanopterus) 2 ekor. Dengan total 11 (Sebelas) satwa dilindungi dari dua lokasi berbeda di Kota Mataram, Tim melakukan tindakan penyitaan serta Sosialisai dan Edukasi Peraturan Menetri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi kepada pemilik. Keseluruhan satwa dilindungi hingga kini diamankan di Kantor BKSDA NTB di Mataram untuk penyelidikan lebih lanjut. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Balai TN Manusela Bersama Mitra & Masyarakat Tanam 85 Bibit Pohon

Masohi, 2 Februari 2021. Balai Taman Nasional Manusela menggelar kegiatan penanaman atau restorasi di area bufferzone HCV (Sungai Isai) serta sharing knowledge terkait konservasi di PT. Sumber Daya Wahana (SDW) Cocoa Plantations pada Senin, 1 Februari 2021. Sebanyak 85 bibit dengan jenis kayu besi, matoa dan linggua ditanam pada area bufferzone HCV bersama karyawan PT. SDW Cocoa dan masyarakat sekitar. Sharing knowledge yang disampaikan untuk memberikan pemahaman, informasi dan menumbuhkan kesadaran bahwa pentingnya melindungi, merawat dan melestarikan tumbuhan serta satwa liar yang ada di alam karena adanya sanksi hukum sesuai Undang Undang Nomor 5 tahun 1990 bagi yang menangkap, melukai, memelihara dan memperdagangkan tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Sumber : Balai Taman Nasional Manusela Call Center Balai TN Manusela : 08114791000
Baca Berita

BKSDA Kalteng Lakukan Penyelamatan Dua Individu Orangutan

Palangkaraya, 1 Februari 2021. Hari Minggu tanggal 31 Januari 2021, Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Pangkalan Bun Balai KSDA Kalimantan Tengah bersama Orangutan Foundation International (OFI) telah melakukan penyelamatan 2 individu Orangutan. Lokasi penyelamatan tepatnya berada di Desa Baamang Barat, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur. Kedua individu orangutan merupakan induk dan anaknya yang berada di kebun karet. Induk betina diperkirakan berumur 20 tahun dan berat 26 kg. Sedangkan anaknya masih berumur 10 bulan dengan berat 3 kg. Saat ini, kedua individu Orangutan tersebut berada di kandang transit SKW II Pangkalan Bun untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan. Apabila dalam kondisi sehat maka Orangutan tersebut akan dilakukan pelepasliaran di habitatnya. Pelepasliaran direncanakan di Suaka Margasatwa Lamandau yang sesuai dengan habitat alaminya. Balai KSDA Kalimantan Tengah mengucapkan terimakasih kepada masyarakat atau semua pihak yang telah melaporkan tentang info keberadaan Orangutan yang perlu diselamatkan dan kepada tim medis OFI yang telah mendukung upaya penyelamatan satwa yang berstatus terancam kritis (Critically endangered) ini. Laporan keberadaan satwa liar khususnya yang perlu diselamatkan dan berkonflik dengan masyarakat dapat menghubungi Call Center kami (08115218500). Semoga kepedulian kita semakin meningkat terhadap satwa liar di Kalimantan Tengah. Sumber : Agnes Indra Mahanani—Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Peningkatan SDM Pemegang Senjata Balai TN Ujung Kulon

Labuan, 1 Februari 2021. Guna meningkatkan keterampilan dan kompetensi petugas dilapangan, perlu memiliki keterampilan dalam penguasaan senjata api dalam tugas kesehariannya dalam melakukan upaya perlindungan dan pengamanan kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Balai Taman Nasional Ujung Kulon siap memberikan pengetahuan atau skill melalui beberapa cara, baik itu dalam bentuk pelatihan, penyegaran ataupun bentuk lainnya, agar tenaga pengamanan hutan tersebut mempunyai 3 (tiga) hal penting dalam bidang pengetahuan, peningkatan skill dan pengembangan sikap yang lebih baik. Bertempat di Batalyon Infantri (Yonif) 320 Badak Putih-Pandeglang, Balai TN Ujung Kulon bekerjasama dengan Yonif 320 Badak Putih - Pandeglang dan PERBAKIN Pandeglang mengadakan pelatihan menembak bagi 40 (empat puluh) orang pegawai pemegang senjata Balai TN Ujung Kulon dengan tetap mengikuti prosedur kesehatan dalam rangka mencegah penyebaran covid-19. Pelatihan pada tanggal 30 s/d 31 Januari 2021 ini bertujuan untuk penyegaran pengetahuan mengenai tata cara atau prosedur penggunaan, penyimpanan, pemeliharaan dan pengamanan senjata api dinas, juga untuk meningkatkan semangat kerja, jiwa korsa dan kebersamaan dalam pelaksanaan tugas perlindungan hutan. Berbagai teori dan praktek diberikan oleh instruktur, diantaranya adalah teori mengenai tata cara penggunaan senjata, akurasi dalam membidik sasaran, serta perawatan senjata api. Disamping itu pula praktek menembak menjadi hal penting dalam pelatihan tersebut, dimana masing-masing petugas melakukan uji coba menembak dengan senjata pegangan masing-masing ke sasaran tembak yang sudah disiapkan. Pelatihan menembak ini diakhiri dengan dilakukannya ujian praktek bagi seluruh peserta pelatihan, untuk ujian laras panjang dilakukan sebanyak 30 kali tembakan dengan posisi tiarap sebanyak 10 kali tembakan, posisi berdiri sebanyak 10 kali tembakan dan posisi jongkok sebanyak 10 kali tembakan, begitu juga untuk senjata laras pendek. Sumber : Balai Taman Nasional Ujung Kulon

Menampilkan 2.593–2.608 dari 11.141 publikasi