Minggu, 17 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Patroli Pemantauan Titik Api Kawasan Sm Giam Siak Kecil Oleh Tim Resort Duri BBKSDA Riau

Senin, 15 Februari 2021 - Tim Resort Duri Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau melakukan patroli dan pengecekan titik api di dalam kawasan Suaka Margasatwa (SM) Giam Siak Kecil pada hari Senin, 8 Februari 2021. Tanah gambut dan semak belukar di areal kawasan dalam kondisi kering yang disebabkan cuaca panas sehingga rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan. Menyadari hal tersebut, petugas resort meningkatkan intensitas patroli di sekitar areal kawasan SM Giam Siak Kecil yang berbatasan dengan desa Bukit Kerikil. Turut bergabung dalam kegiatan patroli tersebut perwakilan dari Kepala Pos Kepolisian (Kapolpos), Bintara Pembina Desa (Babinsa), Masyarakat Peduli Api (MPA), RT Tasik Serai, dibantu Regu Pemadam Kebakaran (RPK) dan Masyarakat Peduli Bencana (MPB) Desa Bukit Kerikil. Tim berjalan menyusuri semak belukar dan melacak ke titik masuk SM Giam Siak menuju ke perbatasan Sudigdo, Jembatan Gelodak. Dari hasil patroli, meskipun tidak ditemukan titik api kebakaran di sekitar kawasan, Tim tetap melakukan patroli intens secara berkala sebagai salah satu upaya pencegahan kebakaran lahan dan hutan. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Sadar Konservasi, Seorang Nelayan Menyerahkan Penyu Temuannya Untuk Dilepasliarkan

Pekanbaru, 13 Februari 2021 - Kabar gembira datang dari Seksi Konservasi Wilayah II Batam. Petugas Resort Taman Wisata Alam (TWA) Muka Kuning dan Taman Buru Pulau Rempang, melepasliarkan 1 (satu) ekor Penyu Hijau (Chelonia mydas) pada hari Rabu, 10 Februari 2021. Satwa tersebut merupakan hasil penyerahan dari seorang nelayan bernama Bapak Amirul yang setelah tahu bahwa satwa tersebut merupakan satwa yang dilindungi, beliau langsung menyerahkannya kepada petugas resort. Bapak Amirul beralamat di RW.05 Tanjung Banon-Sungai Buluh, Kelurahan Sembulang. Setelah satwa diterima, Petugas segera melakukan pengecekan fisik Penyu dan melakukan pengukuran. Dari hasil pengecekan, diketahui penyu tersebut memiliki panjang tubuh 45 cm, lebar 30 cm dengan berat badan ± 4 Kg. Pelepasliaran ke habitatnya segera dilakukan mengingat fisik penyu yang sehat dan masih sangat liar apabila didekati oleh manusia. Pelepasliaran dikoordinir oleh Bapak Aprianto, salah seorang petugas Polisi Kehutanan didampingi beberapa petugas lainnya serta Bapak Amirul sendiri. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Riau, Bapak Suharyono sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan Bapak Amirul yang memiliki kesadaran akan pentingnya pelestarian satwa liar. Hal ini juga menunjukkan bahwa sosialisasi yang diberikan selama ini baik oleh petugas di lapangan maupun melalui media sosial serta media lainnya sedikit banyak telah membuahkan hasil. Mari kita jaga dan lindungi keanekaragaman sumber daya alam yang ada agar tetap berkelanjutan dan lestari. Salam konservasi! Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Sambut Hari Bhakti Rimbawan, Balai Besar TaNa Bentarum Ajak "Bersama Hijaukan Bumi Kita"

Tanjung Kerja, 12 Februari 2021. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) mengadakan Penanaman Pohon sebagai bagian dari rangkaian acara memperingati Hari Bhakti Rimbawan yang ke-38 tahun 2021. Kegiatan penanaman yang membawa tema "Bersama Hijaukan Bumi Kita" ini dilaksanakan di sekitar lingkungan Kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Tanjung Kerja. Acara penanaman dihadiri Kepala Balai Besar, Kepala Bagian Tata Usaha, Jajaran Pejabat Struktural, serta para staf di lingkup Balai Besar TaNa Bentarum turut menyukseskan penyelenggaraan kegiatan tersebut. Kegiatan penanaman diawali dengan pembukaan dan arahan oleh Kepala Balai Besar, " menanam pohon adalah bagian dari tugas dan kewajiban seorang rimbawan, kita jadikan pohon yang kita tanam ini sebagai sebuah legacy dan buah manfaatnya menjadi pahala yang mengalir sepanjang waktu", pungkas Arief Mahmud sembari mulai menanam. Pohon yang ditanam merupakan jenis buah buahan seperti kelengkeng, rambutan, cempedak, jengkol, petai, dan jambu. Bibit bibit yang ditanam merupakan bibit unggul yang diperoleh atas kerjasama Balai Besar TaNa Bentarum dengan UPT Perbenihan, Pembibitan dan Kesehatan Hewan Kelansin, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kapuas Hulu. Ditanamnya jenis tanaman buah diharapkan selain berfungsi menghijaukan lingkungan sekitar, nantinya kita juga dapat menikmati buah hasil dari tanaman tersebut. Setelah aksi penanaman pohon, rangkaian acara dilanjutkan dengan doa bersama agar kiranya bibit yang telah ditanam dapat tumbuh dan bisa bermanfaat bagi lingkungan dan manusia, lalu ditutup dengan foto bersama. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Respon Cepat Tim Resort Bukit Batu Padamkan Api Di Wilayah Kawasan SM Bukit Batu

Pekanbaru, 09 Februari 2021 - Tim Resort Bukit Batu melakukan pemadaman kebakaran yang terjadi di wilayah kawasan Suaka Margasatwa (SM) Bukit Batu. Kebakaran terjadi di bagian pinggir dan bagian dalam kawasan. Pemadaman dilakukan oleh Tim Resort bersama anggota Regu Pemadam Kebakaran (RPK) dari PT BBHA serta Anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Temiang, sejak dari pagi hari sekitar pukul 08:00 waktu setempat. Dalam aksinya, Tim Resort menggunakan satu unit speed boat Balai Besar KSDA Riau yang membawa satu unit mesin pemadam ministracker dan 4 gulungan selang pemadam. Pada akhirnya, Tim Resort dan mitra berhasil melakukan pemadaman api di dua titik kebakaran hingga tuntas. Saat ini kondisi rawan terjadi kebakaran di wilayah kawasan, dikarenakan musim kemarau dan air sungai yang mulai mengering. Mari bersama kita tingkatkan pengawasan, jaga kebun, hutan dan lahan dari kebakaran. Karena mencegah lebih baik daripada menanggulangi. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Kelahiran Rusa Sambar di Penangkaran PLTU Asam-Asam SKW I Pelaihari

Pelaihari, 5 Februari 2021 – Penangkaran rusa sambar (Cervus unicolor) milik PLTU Asam-Asam dengan nomor izin penangkaran : SK. 5790/BKSDAKALSEL-1.4.1/2016 berhasil menambah individu rusa sambarnya. Hal ini berdasarkan laporan dari tim penangkaran PLTU Asam-Asam kepada Seksi Konservasi Wilayah (SKW) 1 Pelaihari, Balai KSDA Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel). Menindaklanjuti laporan tersebut, Ibu Mirta Sari selaku kepala SKW 1 Pelaihari menugaskan tim untuk melakukan pengecekan terhadap laporan tentang kelahiran individu Rusa Sambar di penangkaran milik PLTU Asam-Asam itu. Tim tersebut diketuai oleh Kepala Resort Jorong Bapak Ahmad Fauzan beranggotakan Bapak Debi Imam, Badrul Arifin dan Hendar Wibawa. Sesampainya di lokasi penangkaran, Tim diterima oleh Bapak Kahfi dan tim dari seksi environment PLTU Asam-Asam. Dalam penyampaiannya, beliau menjelaskan bahwa terdapat 3 ekor rusa yang melahirkan dalam 4 bulan terakhir. “Ini merupakan kabar bahagia dan merupakan sebuah progress dari upaya kami menangkarkan Rusa Sambar. Dimana pada awalnya kami hanya menangkarkan 3 ekor rusa dan sekarang sudah menjadi 12 ekor rusa,harapan kami kedepannya lokasi penangkaran ini dapat menjadi lokasi ekowisata bagi masyarakat untuk mengenal rusa sambar” ujarnya. Selain melakukan pengecekan terhadap rusa yang melahirkan, tim juga mencoba berdiskusi dan menggali permasalahan yang dialami oleh tim dari seksi environment PLTU Asam-Asam dalam menangkarkan Rusa. “Tujuan dari kedatangan kami adalah untuk mengecek dan melihat kondisi rusa yang baru melahirkan. Selain itu, kedatangan kami ini juga merupakan giat rutin dalam rangka pembinaan lembaga konservasi pada wilayah kerja Resort Jorong, SKW 1 Pelaihari” Ujar Bapak Ahmad Fauzan selaku ketua tim. “Kami sangat bahagia dengan kunjungan bapak-bapak dari BKSDA Kalsel, kami berharap kunjungan ini dapat terus berlanjut untuk mendampingi dan mengevaluasi kami dalam upaya menangkarkan Rusa ini.” Ujar Ibu Nining, salah satu dari tim environment PLTU Asam-Asam. Menurut wanita asal Lumajang ini, masalah yang dihadapi saat ini adalah ruang penangkaran yang tidak bertambah, sementara individu rusa terus bertambah. Untuk diketahui, bahwa pada saat pengecekan tim juga menemukan setidaknya terdapat 2 individu rusa sambar yang sedang hamil dan akan melahirkan dalam waktu dekat. Untuk itu, pihaknya mengaku sedang menyusun penataan ruang baru termasuk untuk penangkaran rusa ini. “kami sedang menyusun rencana tata ruang baru termasuk untuk menata lagi penangkaran rusa ini, harapannya dapat segera tersusun dan terwujud penataan ruang yang baru ini.” tambahnya. Kegiatan pendampingan ini sejalan dengan arahan Kepala BKSDA Kalimantan Selatan, Bapak DR. Ir.Mahrus Aryadi, M.Sc agar petugas di masing-masing resort BKSDA Kalimantan Selatan bertindak proaktif dalam mendampingi dan membina setiap lembaga konservasi termasuk penangkaran di wilayahnya masing-masing sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat. Sebagaimana diketahui, Rusa Sambar (Cervus unicolor) merupakan rusa yang terbesar diantara 3 rusa asli Indonesia lainnya, seperti rusa timor (Cervus timorensis), rusa bawean (Axis kuhlii), dan kijang (Muntiacus muntjak). Status konservasi rusa sambar oleh IUCN Redlist dikategorikan dalam “Vulnerable” (VU; Resiko Rendah) dan merupakan salah satu jenis satwa yang dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri LHK nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1//6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang dilindungi. Meskipun rusa sambar masih berstatus “Resiko Rendah” (Vulnerable), namun kita tidak boleh lengah untuk senantiasa menjaga kelestarian habitat dan rusa terbesar ini agar tidak punah dan tetap menjadi kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia. (ryn) Sumber : Badrul Arifin, S.Hut - PEH Seksi Konservasi Wilayah I Pelaihari
Baca Berita

BBKSDA Riau Evakuasi Bangkai Duyung

Pekanbaru, 10 Februari 2021 - Petugas Resort Dumai, Seksi Konservasi Wilayah (SKW) IV, Balai Besar KSDA Riau pada Minggu, 7 Februari 2021 menindaklanjuti laporan masyarakat tentang adanya bangkai satwa yang terdampar di pantai dekat PT. Pelabuhan Mundam (PMS) sebelah Pantai Pulai Bungkuk Kelurahan Mundam Kecamatan Medang Kampai. Hasil pengecekan petugas, Duyung (Dugong dugon) ditemukan dalam kondisi mati dengan panjang sekitar 2 meter, lingkar perut 40 cm dan berat sekitar 140 Kg. Adapun penyebab kematian tidak diketahui karena ditubuh satwa tersebut tidak ditemukan ada bekas luka atau sobekan (bila kena jaring atau baling2 kapal). Karena bau bangkai Duyung (Dugong Dugon) tersebut sudah sangat menyengat, maka Tim Resort Dumai, Seksi Konservasi Wilayah IV bersama dengan masyarakat setempat langsung menguburkan bangkai Duyung (Dugong dugon) tersebut. Sebagai informasi, kronologis kejadiannya pada tanggal 6 Februari 2021 sekitar pukul 18.00 WIB, masyarakat atas nama Djohar Mayuda yang bekerja di PT. Pelabuhan Mundam Sejahtera mencium bau bangkai tak sedap dan menyengat di sekitar pantai PT tersebut. Karena keingintahuannya, akhirnya Yuda mendekat ke sumber bau dan dilihatnya ada bangkai yang dia duga sebagai seekor Pesut. Yuda langsung melaporkan ke call center Balai Besar KSDA Riau. Kemudian pada tanggal 7 Februari 2021, sesuai perintah dan arahan Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV, Tim Resort Dumai bersama masyarakat setempat dan KPA Jenggala langsung mengecek ke lokasi. Setelah dicek ternyata bangkai tersebut bukan Pesut, akan tetapi seekor Duyung (Dugong dugon). Satwa tersebut sudah mati dan terdampar kurang lebih 30 meter dari bibir pantai. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Kunjungi SKW II Batam, Kababes KSDA Riau Pantau Pengawasan Peredaran Satwa Liar & Reaktivasi Wisata Alam

Pekanbaru, 10 Februari 2021 - Kepala Balai Besar KSDA Riau bapak Suharyono didampingi Kepala Bagian Tata Usaha, bapak Hartono melakukan kunjungan kerja ke Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Batam pada awal Februari 2021. Beliau melakukan pembinaan pegawai dan arahan terkait pelayanan serta pengawasan peredaran satwa liar lingkup Kepulauan Riau. Selain itu, beliau bersama Kepala Seksi Konservasi Wilayah II bapak Decky dan staf lainnya turun langsung ke blok pemanfaatan area publik Taman Wisata Alam (TWA) Muka Kuning - Kel. Muka Kuning, untuk memberikan arahan pelayanan wisata yang masih tutup terkait pandemi Covid-19 dan persiapan pengaktifan (reaktivasi) pelayanan wisata kembali. Beliau juga mengunjungi masyarakat Tembesi Bengkel dan Kelompok Sadar Wisata Wahana Bumi Madani binaan SKW II Batam untuk bersilaturahmi serta menggali keinginan kelompok sadar wisata tersebut dalam meningkatkan edukasi pengetahuan, sikap dan keterampilan membangun konsep wisata agroforestry karena di lokasi tersebut rencananya akan dibangun sarana, prasarana dan fasilitas penunjang wisata. Semoga terwujud masyarakat sejahtera sekaligus memperkuat kawasan konservasi yang ada. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Lahirnya Sang Primata Setia di Bulan Penuh Cinta

Cibodas, 9 Februari 2021. Kabar menggembirakan datang di bulan Februari dari dunia “primata setia” endemik Jawa. Februari yang oleh sebagian orang menyebutnya sebagai bulan penuh cinta. Dan atas nama cintalah, 4 hari setelah Hari Primata Indonesia (30/1/2021), Rabu (3/2/2021), lahir bayi Owa jawa betina dari pasangan Owa jawa “Jolly” (betina) dan “Boby” (jantan) sebagai generasi penerus penebar biji di alam tanpa pamrih dengan proses caesar. Jolly dan Boby merupakan pasangan Owa jawa yang direhabilitasi di Javan Gibbon Center (JGC), Resort Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah Bodogol Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP). Keberadaan JGC merupakan salah satu upaya mengejawantahkan cinta untuk kelestarian Owa jawa, kerja sama antara Balai Besar TNGGP dengan Yayasan Owa Jawa (YOJ) yang didukung Conservation International Indonesia (CI Indonesia). Ini sudah kelahiran ketiga Jolly melalui operasi cessar. Lahiran pertama si Billy Putri 28 April 2018 (http://ppid.menlhk.go.id/siaran_pers/browse/1202; https://www.gedepangrango.org/menengok-baby-owa-jawa-billy-dan-ibunya-joly-2-hari-pasca-caesar/; https://www.instagram.com/p/Bi1N0ZalPhG/; dan https://www.gedepangrango.org/kondisi-terkini-si-billy-putri/). Lahiran kedua Desember 2019 namun anaknya mati setelah beberapa hari dirawat, dan lahiran ketiga 3 Februari 2021. Pada proses lahiran ketiga, satu hari sebelumnya Selasa (02/02/2021) tepatnya pukul 14.00 WIB, drh. Pristi, M.Si. dokter hewan di JGC mendapatkan laporan dari salah satu animal keeper/ perawat satwa JGC Sdr. Ayung bahwa Jolly menunjukan gejala inisial proses kelahiran atau biasa disebut kontraksi. Dikarenakan kontraksinya sudah lebih dari 12 jam dan bayi yang tak kunjung lahir, maka perlu dilakukan segera tindakan medis. drh. Pristi (JGC) dan drh. Permana (Pusat Studi Satwa Primata, IPB), yang dibantu Sdr. Ayung, serta disaksikan oleh petugas dari Resort PTN Wilayah Bodogol BBTNGGP, melakukan tindakan bedah caesar untuk menyelamatkan induk dan bayi. Bayi mungil Owa jawa berjenis kelamin betina dengan berat 370 gram berhasil dilahirkan dengan selamat melalui operasi caesar pada hari Rabu (03/02/2020) tepat pukul 10.25 WIB. Proses caesar berlangsung sekitar 25 menit. Kekhawatiran muncul ketika bayi dikeluarkan, ternyata ditemukan kondisi leher bayi Owa jawa yang terlilit tali pusar (ari-ari), dengan sigap dan secara perlahan-lahan lilitan tersebut dilepaskan dan tubuhnya dibersihkan dari darah yang menempel. Dorongan kuat si bayi saat ingin keluar dari perut induknya pun nampak berupa memar-memar di area pelipis mata dan mulut. Karena lilitan itulah bayi Owa jawa tersebut tidak bisa lahir secara normal. Ternyata kekhawatiran kami belum usai, ketika mendengar pernapasan bayi Owa jawa yang seperti sesak dan tidak muncul tangisan bayi pada umumnya pasca lahir. Setelah menunggu beberapa menit kemudian, suara tangisan bayi mulai keluar walaupun dengan nada kecil dan perlahan nada tangisnya mulai membesar ketika drh. Pristi berupaya meletakkan bayi di atas tubuh induknya untuk diberikan ASI. Owa jawa tersebut nantinya akan dilepasliarkan di habitatnya. Maka berhentilah menjadikan Owa jawa sebagai hewan peliharaan biarkan mereka hidup secara terhormat di alam bebas. Sesungguhnya cinta pada satwaliar adalah “mempertahankan mereka hidup liar di habitatnya” bukan “memiliki”. Sejak tahun 2003, jumlah Owa jawa yang direhabilitasi di JGC sebanyak 50 individu. 32 individu diantaranya telah dilakukan pelepasliaran. Semoga dapat berkembang dengan baik, agar nanti bisa menikmati “rumah” yang sesungguhnya. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks oleh : Nidia Opinta, A.Md. (Polisi Kehutanan Pelaksana Lanjutan) dan Agung Gunawan, S.Hut. (Pengendali Ekosistem Muda) pada SPTN Wilayah V Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III, BBTNGGP Dok: Nidia Opinta, A.Md. (TNGGP) dan Ayung (JGC)
Baca Berita

Lestarikan Hutan Untuk Masa Depan Lewat Aksi Penghijauan

Senin 8 Februari 2021, Pemerintah Daerah Kabupaten Maluku Tengah mengadakan kegiatan penghijauan dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) dengan mengusung slogan "Hutan Masa Depan Kita, Mari Jaga dan Lestarikan". Segenap pegawai Balai Taman Nasional (BTN) Manusela juga ikut berperan aktif menyukseskan penyelenggaraan kegiatan tersebut. Kegiatan diawali dengan sambutan dari Ketua Panitia Penghijauan HPN dan dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Maluku Tengah, Bapak Marlatu L. Leleury, SE. Penghijauan dilaksanakan di dua lokasi yaitu di Hutan Kota Masohi (belakang Pendopo Bupati) dan di SMAN 4 Masohi. Bibit-bibit yang digunakan dalam kegiatan penghijauan ini merupakan bibit tanaman berumur panjang dan berbagai jenis buah-buahan. Diharapkan kedepannya, semoga segala kegiatan dan upaya penghijauan bisa dijadikan suatu budaya baik yang berakar kokoh dan akan selalu dilestarikan oleh berbagai lapisan masyarakat serta pemangku kepentingan. Salam lestari! Sumber : Balai TN Manusela
Baca Berita

BKSDA Kalteng Bersama Mitra Akan Lepasliarkan 7 Individu Orangutan

Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, 8 Februari 2021. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah bersama Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) hari ini akan kembali melepasliarkan 7 individu orangutan dari Pusat Rehabilitasi Orangutan di Nyaru Menteng ke Hutan Lindung Bukit Batikap di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah pada tanggal 11 Februari 2021. Ketujuh orangutan yang akan dilepasliarkan terdiri dari 5 jantan dan 2 betina, dan di antara mereka, ada sepasang ibu-anak. Terakhir kali, kerja sama antara BKSDA Kalimantan Tengah dan Yayasan BOS melepasliarkan orangutan tepat setahun lalu. Handi Nasoka, S.Hut. Plt. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah menyambut baik upaya pelepasliaran ini dengan mengatakan, “Upaya pencegahan penyebaran virus korona COVID-19 telah menghambat pelaksanaan banyak sekali kegiatan terkait upaya konservasi terutama di Kalimantan Tengah. Saya menyambut baik upaya teman-teman di Yayasan BOS yang telah berusaha menyusun dan menerapkan protokol dan prosedur baru untuk mencegah terjadinya penyebaran virus COVID-19, baik di tengah masyarakat maupun di populasi satwa liar. Kami di BKSDA Kalimantan Tengah akan terus berkomitmen memastikan upaya konservasi satwa liar terus berjalan bahkan di saat pandemi belum berakhir.” Hutan Lindung Bukit Batikap yang berada di Kabupaten Murung Raya terletak jauh dari Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng. Perjalanan darat dan sungai yang biasa kami lakukan untuk mencapai situs pelepasliaran tersebut memakan waktu 3 hari 2 malam. Oleh karena itu, Yayasan BOS kali ini mengusahakan pelepasliaran orangutan menggunakan jalur darat dan udara. dengan menggunakan helikopter, waktu perjalanan bisa dipangkas hanya menjadi beberapa jam saja. Dari Nyaru Menteng, tim pelepasliaran akan membawa orangutan via jalan darat sampai ke Kuala Kurun, Kabupaten Gunung Mas. Sebuah helikopter akan menanti di sana, dan menerbangkan kandang transport orangutan dan kru yang bertugas langsung dari Kuala Kurun ke titik-titik rilis di jantung Hutan Lindung Bukit Batikap. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

6 Ekor Satwa Liar Dilindungi Berhasil Dievakuasi dari Area Wisata Rimba Raja Pandita

Malinau, 8 Februari 2021 - Negosiasi dengan berbagai pihak terhadap perlindungan satwa liar di Kabupaten Malinau terus berlanjut. Belum seminggu Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Timur bersama Centre for Orangutan Protecion (COP) Berau mengevakuasi "Si Wang" Beruang Madu (Helarctos malayanus), kini Balai Taman Nasional Kayan (TN) Mentarang kembali mendampingi BKSDA Kaltim dan COP mengevakuasi satwa liar dilindungi yang diserahkan secara sukarela dari Wisata Rimba Raja Pandita (RJP). Sebanyak 6 ekor satwa dari kandang Raja Pandita telah dievakuasi sebagai tindaklanjut negosiasi sebelumnya yang dilaksanakan pada tanggal 4 Februari lalu bersama pihak pengelola wisata tersebut di Desa Belayan Kecamatan Malinau Utara. Jumlah tersebut terdiri dari 1 ekor Beruang Madu (Helarctos malayanus), 1 ekor Kucing Hutan (Felis bengalensis), 1 ekor Elang Bondol (Haliastur indus), 1 ekor Elang Laut (Haliaeetus leucogaster), dan 2 ekor Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus). Plt. Kepala Balai TN Kayan Mentarang Bambang Widiatmoko, S.Hut.,M.Sc mengatakan bahwa pihak Balai TN Kayan Mentarang tidak pernah menolak bagi siapapun yang ingin menyerahkan satwa yang dilindungi untuk membantu BKSDA Kaltim dalam penertiban satwa dilindungi khususnya di Kabupaten Malinau. "Upaya pelestarian satwa dilindungi adalah tugas kita semua, karena itu Balai TN Kayan Mentarang tidak pernah menolak siapapun yang akan menyerahkan satwa dilindungi. apalagi di Kaltara belum ada BKSDA sehingga kita kerjasama dengan BKSDA Kaltim untuk penanganan satwa dilindungi. meskipun tugas utama kami adalah upaya konservasi kawasan TNKM." ungkap Bambang. Sementara itu, BKSDA Kaltim melalui Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Berau Dheny Mardiono, S.Hut.,M.Sc menyatakan bahwa pihaknya berkomitmen untuk terus melakukan penertiban satwa liar yang dilindungi Undang-Undang. Pihaknya juga tak lupa menyampaikan apresiasinya terhadap para pihak yang telah membantu proses evakuasi terutama Batalyon Infanteri 614 Raja Pandita sehingga evakuasi dapat berjalan lancar dan satwa yang terluka akan diberikan tindakan medis. "Terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu proses evakuasi ini sehingga evakuasi berjalan lancar. kedepan nanti akan ada perawatan bagi satwa yang terluka, terutama bagi Beruang Madu oleh Dokter hewan dari COP. ada proses-proses medis yang harus dilalui agar semua satwa ini tetap sehat." terang Dheny . Selanjutnya seluruh satwa hasil evakuasi dari Komplek Asrama Militer Batalyon Infanteri 614 Raja Pandita akan dibawa ke SKW I Berau dan akan menunggu waktu pemulihan satwa agar dapat dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Sumber : Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Berita

Mitigasi Peredaran TSL Papua, BBKSDA Papua Gandeng Pihak Militer Periksa Barang Bawaan Satgas Pamtas RI

Merauke, 07 Februari 2021. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua melalui Bidang KSDA Wilayah I Merauke melakukan kegiatan pemeriksaan barang bawaan personil Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Republik Indonesia (Satgas Pamtas RI) yang telah purna tugas di Kabupaten Merauke dan Boven Digoel. Pemeriksaan yang bertempat di Pelabuhan Laut Merauke itu terlaksana berkat kerja sama dengan pihak militer dalam hal ini Detasemen Polisi Militer Angkatan Darat dan KOREM 174/ATW. Ini merupakan pemeriksaan rutin yang dilakukan setiap adanya pergantian Pamtas di Sektor Selatan Papua. Tujuannya adalah mencegah terjadinya peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) yang dilindungi. Pada momentum ini, Satgas Pamtas Yonif 125/SMB sejumlah 450 personil akan kembali ke Tanah Karo, Sumatera Utara. Sementara Satgas Pamtas Yonmek 516/CY sejumlah 450 personil akan kembali ke Surabaya, Jawa Timur. Mereka menggunakan moda transportasi KRI Makassar. Kepala Bidang KSDA Wilayah I Merauke, Irwan Effendi, menyampaikan terima kasih kepada jajaran TNI, khususnya Korem 174/ATW yang selalu bersinergi dengan BBKSDA Papua dalam upaya menjaga Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) yang dilindungi. Senada dengan Irwan Effendi, Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, juga menyampaikan hal serupa. Ia menambahkan, “Kita berupaya menjaga TSL dilindungi dengan berbagai cara. Pemeriksaan ini termasuk cara yang kita tempuh. Semaksimal mungkin kita mengawasi setiap celah yang memungkinkan TSL Papua bisa dibawa ke luar Papua". Lebih lanjut, Edward menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada semua pihak yang mendukung pemeriksaan rutin ini. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada semua Satgas yang telah menjaga kedaulatan RI, termasuk di dalamnya keanekaragaman hayati. (djr) Sumber : Balai Besar KSDA Papua Call Center : 0823 9802 9978
Baca Berita

Pelepasliaran Buaya Muara Hasil Evakuasi

Jambi, 8 Februari 2021. Balai KSDA Jambi bersama Balai Taman Nasional Berbak & Sembilang (TNBS), PT. SHP, PT. Pertamina, PT. Energy Consulting, melakukan pelepasan terhadap 2 (dua) ekor Buaya Muara (Crocodylus porosus) di kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang pada Rabu, 3 Februari 2021. Sebelumnya, satwa tersebut berasal dari penanganan konflik di Seksi Wilayah Konservasi (SKW) III Resort Nipah Panjang. Selama 3 bulan, satwa-satwa ini dirawat di Tempat Penyelamatan Satwa (TPS) BKSDA Jambi. Disini, satwa tidak hanya mendapatkan asupan makanan yang diusahakan mendekati makanannya di alam liar, vitamin dan pengawasan dokter hewan yang memadai tetapi juga mendapatkan pengkayaan perilaku dengan pemberian perlakuan-perlakuan untuk merangsang kemampuan mencari makan di alam liar dan diupayakan pengurangan kontak dengan manusia dan siap untuk dilepasliarkan ke habitat alaminya. Lokasi pelepasliaran dipilih di kawasan TNBS karena kawasan ini dinilai memiliki habitat yang cocok untuk kehidupan Buaya Muara. Keputusan pemilihan ini diambil berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan bersama-sama antara Balai KSDA Jambi, TNBS, dan stakeholder yang terkait. Buaya berperan penting dalam suatu ekosistem perairan sungai, karena sifatnya yang merupakan karnivora (pemakan daging). Dengan ukurannya yang dapat mencapai 6 – 7 meter saat dewasa, Buaya menjadi predator tingkat tertinggi dalam rantai makanan ekosistem sungai. Badan konservasi dunia The International Union for Conservation of Nature (IUCN), memasukan buaya dalam kategori Resiko rendah. Sedangkan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of wild fauna and flora) Buaya dimasukkan dalam daftar Appendix I. Rahmad Saleh, S.Hut.,M.Si selaku kepala Balai KSDA Jambi menyampaikan, bahwa mengembalikan satwa ke alam merupakan tanggung jawab kita semua dan tugas mulia karena membantu terciptanya keseimbangan ekosistem untuk mewujudkan kondisi lingkungan hidup yang sehat dan seimbang. Selanjutnya Kepala Balai KSDA Jambi juga mengajak semua elemen masyarakat untuk menjaga kelestarian flora dan fauna sebagai amanah dari Allah Subhanahu wa Taala. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Aksi Kolektif Untuk Pelestarian Meru Betiri

Jember, 8 Februari 2021. Banjir yang beberapa kali melanda desa-desa penyangga Taman Nasional (TN) Meru Betiri di wilayah Kecamatan Tempurejo akhirnya menyadarkan banyak pihak bahwa butuh penanganan yang lebih terhadap kelestarian TN Meru Betiri. Sebagai catchment area yang akan menahan air saat penghujan sehingga tidak terjadi run off, kawasan TN Meru Betiri disadari mempunyai peran penting dalam menekan terjadinya banjir di wilayah hilir sehingga upaya pemulihan ekosistem terus dilakukan TN Meru Betiri setiap tahunnya di 3 Desa yang terdampak banjir yaitu Desa Wonoasri, Andongrejo dan Curahnongko. Diinisiasi oleh Kepolisian Resort Jember, bertempat di Blok Kandang motor, Resort Andongrejo, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Ambulu, Balai TN Meru Betiri pada hari Sabtu tanggal 6 Februari 2021 mengadakan kegiatan aksi kolektif penanaman pohon. Kegiatan ini merupakan hasil sinergi dan kolaborasi unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jember, TN Meru Betiri dan Universitas Jember. Diikuti lebih dari 300 orang dari Balai TN Meru Betiri, Polres Jember, Kodim 0824 Jember, Yonif Raider 509, Universitas Jember, dan Masyarakat yang berasal dari desa sekitar kawasan TN Meru Betiri (Desa Andongrejo dan Curahnongko). “Ini adalah sebuah momentum dan inisiatif yang luar biasa dari Forkopimda yang harus kita lakukan bersama demi mewujudkan kelestarian TN Meru Betiri di masa depan,” unkap Maman Surahman, Kepala Balai TN Meru Betiri, dalam sambutannya pada aksi kolektif pelestarian TN Meru Betiri ini. Sebagai bentuk kepedulian dan keseriusan seluruh pihak dalam kegiatan ini, semua peserta melaksanakan kegiatan penanaman sebanyak 2000 bibit tanaman di zona rehabilitasi. Bibit yang ditanam berjenis Kepuh dan Beringin sebagai tanaman kehutanan, serta tanaman Multy Purpose Tree Species (MPTS) dengan jenis Durian, Petai dan Alpukat. “Sengaja kita memilih jenis tanaman kehutanan dan MPTS supaya fungsi ekologi dan ekonomi dapat berjalan dengan baik, dari jenis tanaman MPTS kita harapkan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan mendongkrak perokonomian mereka,” kata Maman. Sumber : Humas Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Pelaku Illegal Logging Sadar, Serahkan Chainsaw ke Balai TN Meru Betiri

Jember, 8 Februari 2021. Bentuk ancaman terbesar dalam pelestarian kawasan Taman Nasional (TN) Meru Betiri adalah kegiatan ilegal logging yang biasanya dilakukan oleh oknum masyarakat yang berasal dari sekitar kawasan. Untuk mencegah dan mengurangi kegiatan ilegal logging ini Balai TN Meru Betiri telah melakukan berbagai cara diantaranya adalah anjangsana, penyuluhan dan sosialisasi. Selain itu beberapa kegiatan lain yang dilakukan adalah pemberdayaan masayarakat di sekitar kawasan melalui berbagai macam bentuk kegiatan agar masayarakat dapat mencapai kesejahteraan melalui alih profesi, alih lokasi, dan alih komoditi. Harapannya dengan masyarakat yang sejahtera maka hutan di kawasan TN Meru Betiri akan lestari. Hasil nyata yang berhasil dicapai dari kegiatan pada hari Senin tanggal 8 februari 2021 di Kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Ambulu, salah satu oknum pelaku ilegal logging yang berasal dari Desa Sanenrejo dengan niat dan kesadaran sendiri menyatakan untuk berhenti dalam aktivitas illegal logging di kawasan TN Meru Betiri. Oknum tersebut membuktikan komitmennya dengan menyerahkan satu buah gergaji mesin (Chainsaw) yang didampingi oleh Kepala Resort Sanenrejo dan Aparat Pemerintah Desa Sanenrejo kepada pihak Balai TN Meru Betiri yang diterima langsung oleh Kepala Balai TN Meru Betiri, Maman Surahman. Bahrudin Selaku Kepala Resort Sanenrejo menerangkan bahwa Resort Sanenrejo telah melakukan pendekatan dan penyuluhan kepada masayarakat ini secara rutin, baik secara informal maupun semi formal pada setiap kesempatan agar masyarakat turut serta menjaga dan melestarikan hutan TN Meru Betiri. “Ini adalah hasil kerja nyata petugas yang ada di SPTN Wilayah II Ambulu, khususnya yang berada di Resort Sanerejo, semoga akan lebih banyak lagi oknum masyarakat yang akan sadar dan berkomitmen untuk ikut melestarikan TNMB melalui kegiatan-kegiatan Pemberdayaan Masyarakat yang dilaksanakan oleh Balai TN Meru Betiri,” kata Maman. Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Pelaksanaan Tranlokasi 6 Raptor Oleh BKSDA Yogyakarta Bersama Mitra

Yogyakarta, 8 Februari 2021, Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta bersama Centre for Orangutan Protection (COP) dan Wildlife Rescue Centre (WRC) Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY) baru saja melakukan translokasi 6 (enam) ekor raptor terdiri dari Elang brontok (Nisaetus cirrhatus) sebanyak 5 (lima) ekor dan Elang ular bido (Spilornis cheela) sebanyak 1 (satu) ekor ke Pusat Suaka Satwa Elang Jawa (PSSEJ), Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (BTNGHS), Jawa Barat, Sabtu (6/2/21). Persiapan menyeluruh telah dilakukan sebelumnya meliputi administrasi, tes kesehatan serta handling satwa yang dilakukan bersama dengan WRC YKAY dan COP untuk memastikan kesiapan satwa. Setelah proses persiapan selesai, tim translokasi berangkat dengan perjalanan darat menuju PSSEJ di Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Sampai di lokasi tujuan, petugas PSSEJ segera melakukan pengecekan dokumen dan fisik satwa oleh Septi Dewi Cahaya, S.Kh selaku dokter hewan dan tim PSSEJ-BTNGHS. Serah terima satwa dari BKSDA Yogyakarta kepada Balai TNGHS diterima oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha yaitu Dr. Pairah, S.Si., M.P. Dihubungi terpisah, Kepala BKSDA Yogyakarta M. Wahyudi mengapresiasi pelaksanaan translokasi raptor ini. “Kegiatan tanslokasi ini bertujuan untuk mempercepat proses rehabilitasi elang dalam rangka pelepasliaran, harapan kami proses rehabilitasi berjalan dengan lancar sehingga raptor dapat kembali ke habitatnya.” jelasnya. Lebih lanjut, M. Wahyudi menyampaikan terimakasihnya kepada Balai TNGHS, “Saya ucapkan terimakasih kepada Kepala Balai TNGHS yang telah berkenan menerima elang dari YKAY yang saat ini sedang kesulitan pembiayaan. Setelah elang yang ditranslokasikan ini dilepasliarkan dan tersedia tempat kosong untuk menampung raptor, kami berharap dapat dilakukan translokasi raptor lagi di tempat yang sama.” tutupnya. Sumber : Giyono (Pohut Balai KSDA Yogyakarta) Penanggung jawab berita : Kepala Balai KSDA Yogyakarta- Muhammad Wahyudi (HP 0852-4401-2365) Kontak informasi : Call center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)

Menampilkan 2.577–2.592 dari 11.141 publikasi