Minggu, 17 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Pelepasan Penyu Hasil Serahan Masyarakat di Mantehage

Mantehage, 4 Maret 2021. Petugas Resort Mantehage Balai Taman Nasional (TN) Bunaken bersama dengan Babinsa Desa Bango, Desa Tinongko dan anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Balai TN Bunaken melepaskan dua ekor penyu sisik di dermaga Desa Tinongko hasil penyerahan masyarakat (4/3/21). Satu ekor penyu ditemukan di perairan Batu Gepe Desa Bango oleh warga Desa Tinongko (Dio Rangga Diamanti) dalam kondisi terjerat jaring rusak pada tanggal 28 Februari 2021. Satu ekor lagi ditemukan di perairan Pasir Panjang Desa Tangkasi pada tanggal 2 Maret 2021 oleh warga Desa Tinongko (Irmas Deki) dalam kondisi terperangkap plastik. Setelah menemukan penyu, kedua warga tersebut kemudian membawanya ke darat dan melaporkan kejadian ke anggota MMP di Desa Tinongko. Selanjutnya petugas MMP Desa Tinongko langsung mengamankan penyu tersebut dan melaporkan ke petugas Resort Mantehage. Sesuai dengan hasil identifikasi kedua penyu tersebut adalah jenis penyu sisik betina. Satu ekor berukuran panjang 44 cm lebar 33 cm. Satu ekor lagi berukuran panjang 50 cm lebar 32 cm. Yudi Pontoh, anggota MMP Desa Tangkasi menyampaikan bahwa penyu masih sering dijumpai di perairan Mantehage, terkadang muncul di permukaan air ketika masyarakat sedang mencari ikan. Sebelum Kawasan dikelola oleh Balai Taman Nasional Bunaken, penyu ini menjadi santapan masyarakat Mantehage terutama ketika ada acara pesta/hajatan, tapi sekarang masyarakat sudah mulai sadar dan mengetahui bahwa penyu adalah salah satu satwa yang dilindungi, ulas Yudi. Setelah melakukan pelepasan penyu petugas berterima kasih kepada masyarakat terutama kepada yang menyelamatkan penyu tersebut atas usaha dan kerjasamanya. Semoga kedepan tidak ada lagi kejadian penyu yang terjerat atau terperangkap dan semoga penyu tetap lestari di Mantehage dan di seluruh Kawasan Taman Nasional Bunaken. Sumber : Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Tim BTN Sebangau Identifikasi Zona Tradisional di Sungai Bakung

Palangkaraya, 5 Maret 2021 - Di penghujung Bulan Februari 2021, Balai Taman Nasional Sebangau (BTN Sebangau) melaksanakan kegiatan Identifikasi Zona Tradisional di Sungai Bakung. Kegiatan ini merupakan tahapan persiapan dalam mengimplementasikan kemitraan konservasi dalam bentuk perjanjian kerjasama antara BTN Sebangau dengan masyarakat desa sekitar kawasan TN Sebangau, yang mengacu pada Peraturan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor : P.6/KSDAE/SET/Kum.I/6/2018 tanggal 6 Juni 2018 tentang Petunjuk Teknis Kemitraan Konservasi pada Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Dilihat dari historisnya, masyarakat Kereng Bangkirai sejak dahulu kala telah memanfaatkan Sungai Bakung untuk mencari ikan secara tradisional, jauh sebelum kawasan ini ditunjuk sebagai kawasan konservasi pada tahun 2004. Dari kegiatan identifikasi, diperoleh informasi bahwa nelayan di Sungai Bakung berjumlah 8 Kepala Keluarga (KK). Nelayan di Sungai Bakung menangkap ikan secara tradisional dengan menggunakan rawai, tampirai, dan rambat. Dalam memasang perangkap ikan, mereka menerapkan prinsip konservasi yakni hanya mengambil ikan dewasa sedangkan anakan ikan tidak ditangkap agar tetap dapat berkembang biak. Ikan yang diperoleh umumnya adalah jenis Kapar, Patung, Kerandang, Toman dan Kihung. Umumnya, dalam satu bulan nelayan Sungai Bakung dapat memperoleh tangkapan ikan sebanyak ± 1 kuintal atau jika dirupiahkan nilainya berkisar ± Rp 2.000.000. Diharapkan dengan adanya kemitraan konservasi di Sungai Bakung, masyarakat dapat memperoleh manfaat dari kawasan TN Sebangau serta turut berpartipasi menjaga kelestarian kawasan hutan dan perairan di TN Sebangau. Sumber : Balai TN Sebangau
Baca Berita

BBKSDA Sumut Update Terkini : 9 OU Repatriasi dan Kemitraan Konservasi

Medan, 5 Maret 2021. 9 (sembilan) Orangutan Sumatera (Pongo abelii) yang direpatriasi dari Malaysia dan tiba di Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, pada tanggal 18 Desember 2020 yang lalu, sudah menjalani proses karantina di Pusat Karantina Orangutan Sumatera (PKOS) - Sumatran Orangutan Conservastion Programme (SOCP) di Batu Mbelin-Sibolangit, Deli Serdang, selama 2 bulan lebih. Guna meng- up date kondisi terkini dari 9 orangutan tersebut kepada publik, Balai Besar KSDA Sumatera Utara menggelar konferensi pers yang dilaksanakan pada Rabu, 3 Maret 2021, di ruang rapat Balai Besar KSDA Sumut. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For. didampingi Kepala Bagian Tata Usaha Teguh Setiawan, S. Hut., MM., dalam paparannya menyebutkan bahwa ke 9 orangutan tersebut, masing-masing : Unas/betina/12 kg, Shielda/betina/17 kg, Yaya/betina/21 kg, Ying/betina/15 kg, Mama Zila/betina/17 kg, Feng/jantan/18 kg, Papa Zola/jantan/20 kg, Payet/jantan/11 kg dan Sai/jantan/17 kg, secara umum kondisinya saat ini setelah dipindahkan dari kandang transportasi ke kandang permanen dalam keadaan baik. “Rekan-rekan dari PKOS-SOCP pada tahap awal kedatangan di pusat karantina fokus pada pemantauan kondisi kesehatan 9 orangutan dimaksud. Setelah itu secara bertahap akan dilakukan rehabilitasi baik secara fisik maupun psikisnya, seperti sifat manja harus dirubah karena mereka nanti akan hidup di alam” ujar Hotmauli. Harapannya kedepan, setelah kondisinya benar-benar sehat dan pulih, serta telah melalui tahapan rehabilitasi dan bila direkomendasikan layak untuk dilepasliarkan, maka Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama dengan SOCP siap untuk melepasliarkannya ke habitatnya, urai Hotmauli mengakhiri penjelasannya. Selain konferensi pers up date informasi repatriasi 9 Orangutan Sumatera dari Malaysia selama menjalani proses karantina dan rehabilitasi di PKOS-SOCP, juga bersamaan dilakukan konferensi pers kegiatan Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam memulihkan ekosistem kawasan konservasi melalui kemitraan konservasi. Dalam paparannya, Kepala Balai besar KSDA Sumatera Utara menjelaskan bahwa sepanjang tahun 2017 s.d 2020, Balai besar KSDA Sumatera Utara telah menjalin kerjasama kemitraan konservasi dengan 9 (sembilan) Kelompok Tani Hutan (KTH) yang tersebar di beberapa kawasan konservasi. 5 (lima) diantaranya dilakukan dengan KTH di kawasan SM. Karang Gading dan Langkat Timur Laut. Dari 5 kerjasama kemitraan yang dibangun, 3 KTH telah menuai hasil dan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat serta manfaat bagi pengelolaan kawasan. Ketiga KTH tersebut, masing-masing : KTH Tumbuh Subur, yang memulai kerjasama kemitraan sejak tahun 2017 dalam rangka pemulihan ekosistem di areal 244 ha di Desa Tapak Kuda Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat, dengan menanam tanaman asli baik tanaman kehutanan maupun tanaman produktif yang bermanfaat bagi masyarakat. Saat ini masyarakat sudah dapat merasakan manfaatnya dengan panen buah-buahan. Kelompok Tani Hutan Indah Bersama, memulai kerjasama kemitraan dalam rangka pemulihan ekosistem sejak tahun 2019 di areal seluas 207 hektar di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat, yang secara bertahap mengganti tanaman non kehutanan seperti kelapa sawit dengan jenis tanaman asli baik tanaman kehutanan maupun tanaman produktif. Dan manfaatnya sudah dirasakan dimana masyarakat sudah memanen buah semangka. Kelompok Tani Hutan Gading Hijau, memulai kerjasama kemitraan dalam rangka pemulihan ekosistem sejak tahun 2019 di areal seluas 125 hektar di Desa Karang Gading Kecamatan Labuhan Deli Kabupaten Deli Serdang, yang memulihkan ekosistem kawasan dengan pola silvofishery memadukan budidaya ikan bandeng dengan tehnik empang paluh dan budidaya tanaman asli jenis mangrove. Saat ini masyarakat sudah menikmati hasilnya dengan panen ikan bandeng sebanyak ± 600 kg. “Balai Besar KSDA Sumatera Utara berkomitmen untuk tetap mengharmonisasikan upaya-upaya pelestarian dan pemulihan kawasan konservasi sejalan dengan peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan dengan pola kerjasama kemitraan konservasi. Untuk itu dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak, terutama rekan-rekan jurnalis dari berbagai media, baik cetak, elektronik maupun media sosial guna menyebarluaskan informasi ini agar menjadi motivasi dan inspirasi bagi masyarakat maupun kelompok tani hutan lainnya,” ujar Hotmauli mengakhiri paparannya. Konferensi pers yang tetap menerapkan protokol kesehatan, selain diikuti oleh jurnalis dari berbagai media baik cetak, elektronik dan media on-line, juga dihadiri Kepala Divisi Konservasi Eksitu SOCP, dokter hewan Citra Nente, Kepala Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe Mustafa Imran Lubis, SP., Kepala Sub Bagian Data, Evaluasi Pelaporan dan Kehumasan Balai Besar KSDA Sumut Andoko Hidayat, S.Hut., MP. dan Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat Herbert BP. Aritonang, S.Sos., MH. Sumber : Evansus Renandi Manalu - Analis Data Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Pelepasliaran Elang Brontok di Site Monitoring Situgunung - Cimungkad

Cibodas, 4 Maret 2021 - Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) bersama Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (BTNGHS) melaksanakan kegiatan pelepasliaran Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) ke habitat alaminya di kawasan TNGGP (Resort PTN Situgunung) yang merupakan lokasi wisata. Pelepasliaran ini dapat dijadikan edukasi kepada masyarakat agar lebih peduli lagi terhadap satwa liar. Jenis Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) yang akan dilepasliarkan sebanyak 2 (dua) individu bernama “Febi” dan “Jack” merupakan hasil dari rehabilitasi di Pusat Suaka Satwa Elang Jawa (PSSEJ) BTNGHS. Elang Brontok “Febi” direhabilitasi selama 1 (satu) tahun 2 (dua) bulan dan di kandang karantina selama 4 (empat) bulan, sedangkan Elang Brontok “Jack” direhabilitasi selama 7 (tujuh) bulan dan 2 (dua) bulan di kandang karantina. Selasa (02/03/2021) malam dilakukan habituasi Elang Brontok di lokasi release, dengan terlebih dahulu dilakukan pembangunan kandang habituasi. Setelah melalui proses habituasi tersebut, Elang masih liar dan sehat, sehingga diputuskan untuk langsung dilakukan proses hard release. Proses pelepasliaran di site monitoring Resort Situgunung-Cimungkad, telah melalui prosedur pelepasliaran satwa, kemurnian jenis, penentuan lokasi rehabilitasi dan habituasi satwa, serta langkah-langkah teknis lainya sesuai dengan standar IUCN. Hal ini dilakukan oleh Pusat Suaka Satwa Elang Jawa (PSSEJ) BTNGHS dan BBTNGGP selaku penerima satwa. Elang Brontok yang di-release Kamis (04/03/2021) di Site Monitoring Situgunung Cimungkad dengan identitas lengkap sebagai berikut: Empat hari sebelumnya, Minggu (28/02/2021) tepat pukul 07:30 WIB telah dilepasliarkan 1 (satu) individu jenis elang yang sama Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) di Resort PTN Bodogol. Elang Brontok ini juga sempat dirawat di Pusat Suaka Satwa Elang Jawa (PSSEJ) BTNGHS karena kecelakaan menabrak tiang listrik di Kampung Pasir Muncang, Kabupaten Bogor. (https://www.gedepangrango.org/kompak-masyarakat-tnggp-tnghs-pssej-selamatkan-si-brontok/) Secara umum kawasan TNGGP sangat mendukung kehidupan Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) di habitat aslinya, mempunyai bentang alam yang berbukit dengan lembah tempat berburu serta pohon yang tinggi tempat mengintai mangsa. Selain itu, adanya ketersediaan pakan dan rendahnya aktivitas manusia. Upaya restorasi kawasan yang terdegradasi juga terus dilakukan (eks hutan produksi, alih fungsi menjadi kawasan konservasi). Kondisi ekosistem tersebut diharapkan akan semakin mendukung kehidupan jenis-jenis satwa langka, termasuk Elang Brontok. Dalam rangka semangat Hari Konservasi Alam Nasional Tahun 2021, Hari Ulang Tahun (HUT) Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ke-41, dan HUT Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang ke-24 mari kita bersama-sama menjaga kelestarian alam salah satunya dengan menjaga keberadaan satwa Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) pada habitat aslinya. Sumber: Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Vonis Penjara Untuk Dua Pembunuh Gajah di Kelayang

Pekanbaru, 4 Maret 2021 - Tim penegak hukum Polda Riau, Polres Indragiri Hulu, Kejaksaan Indragiri Hulu dan Balai Besar KSDA Riau menangkap 2 orang pelaku pembunuhan gajah di Kelayang, Indragiri Hulu. Perkara ini telah inkrah dan telah dijatuhi putusan pengadilan, barang buktipun ditindaklanjuti sesuai hasil putusan pengadilan. Bapak Ujang Holisudin selaku Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan Balai Besar KSDA Riau, menerima penyerahan barang bukti sepasang Gading Gajah dengan panjang (kiri 95 cm dan kanan 94 cm) serta satu tengkorak kepala Gajah pada hari Kamis, 25 Februari 2021. Penyerahan barang bukti dilakukan di kantor Kejaksaan Negeri Indragiri Hulu oleh Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Indragiri Hulu, bapak Jimmy Manurung. Kasus tindak pidana a.n. Anwar Sanus alias Ucok bin (almarhum) Buniran divonis 3 tahun, 4 bulan penjara dan denda Rp. 100 juta. Selain Anwar, Sukar bin (almarhum) Ibrahim juga telah divonis 3 tahun penjara dan denda Rp. 100 juta oleh PN Rengat pada tanggal 18 November 2020 dengan ketentuan apabila denda Rp. 100 juta tidak dibayarkan maka kedua terdakwa harus menggantinya dengan pidana kurungan selama 6 bulan penjara. Saat ini barang bukti telah disimpan di gudang penyimpanan Barang Bukti Balai Besar KSDA Riau dan menunggu arahan lebih lanjut. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Siap Siaga Karhutla, BTN Sebangau Ikut Apel Siaga di Pulang Pisau

Pulang Pisau, 04 Maret 2021. Balai Taman Nasional Sebangau yang diwakili Bapak Suwarto, S.Hut., M.P. Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II di Pulang Pisau mengikuti Apel Gelar Personel dan Sarpras sebagai upaya kesiapsiagaan menghadapi karhutla tahun 2021. Apel digelar di Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah yang dipimpin Bapak H. Edy Pratowo, S.Sos.,MM selaku Bupati Pulang Pisau dengan agenda kegiatan simulasi peragaan alat dan prasarana yang mendukung dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Meskipun karhutla hampir terjadi setiap tahun, tahun ini trendnya mengalami penurunan tetapi tetap perlu melakukan pencegahan dengan tujuan kedepannya tidak terjadi lagi membuka lahan dengan cara dibakar. Bupati Pulang Pisau menghimbau agar upaya pencegahan karhutla dapat dilaksanakan sedini mungkin dengan melibatkan semua unsur yang ada yaitu TNI, Polri, Manggala Agni, Pemerintah Kabupaten sampai tingkat desa, dunia usaha dan organisasi kemasyarakatan secara sinergi dan terpadu. Beliau juga melakukan inspeksi kesiapsiagaan sarana dan prasarana, peralatan pemadaman sekaligus mencoba secara langsung mesin pemadam dalam simulasi pemadaman. Dalam gelar peralatan ini setiap instansi turut menurunkan mobil patroli, mobil tangki pemadam, kendaraan roda dua, mesin pemadam serta peralatan tangan. Pulang pisau merupakan Kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah yang memiliki tingkat kerawanan karhutla yang sangat tinggi, memiliki lahan gambut yang sangat luas dan dalam, kedalaman gambut terdalam di kabupaten ini mencapai lebih dari 12 meter, karenanya kesiapsiagaan terhadap bencana karhutla di kabupaten Pulang Pisau terus ditingkatkan untuk mernghadapi musim kemarau 2021 yang menurut BMKG Tahun ini termasuk kemarau basah yaitu kondisi musim kemarau tetapi hujan masih turun hujan dengan intesitas sedang hingga lebat. Sumber : Tito Surogo - Penyuluh kehutanan Balai Taman Nasional Sebangau
Baca Berita

Mengawal Sang Beruang Kembali Ke Habitatnya

Kerinci, 3 Maret 2021. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi bersama dengan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH), Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) dan Fauna & Flora Internasional melakukan pelepasliaran terhadap 3 (tiga) ekor satwa Beruang Madu (Helarctos malayanus) di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, Kabupaten Kerinci. Sebelumnya beruang madu tersebut berasal dari Pusat Penyelamatan Satwa Tegal Alur (BKSDA DKI Jakarta). Selama ± 4 (empat) bulan satwa ini di rehabilitasi di Tempat Penyelamatan Satwa (TPS) Balai KSDA Jambi. Selama dalam masa rehabilitasi, satwa-satwa ini mendapat perlakuan untuk mengembalikan insting hidup di habitat alaminya. Disamping itu juga dilakukan pengecekan kesehatan dan pengaturan diet yang ketat dari dokter hewan. Pelepasliaran satwa merupakan salah satu bagian dari aktifitas upaya penyelamatan satwa. Artinya kegiatannya belum selesai ketika satwa dikembalikan ke habitat alaminya, melainkan masih dibutuhkan upaya memonitor satwa yang dilepaskan bisa hidup dengan baik dan menjaga kelestarian habitatnya. Untuk itu dibutuhkan peran serta Pemerintah Daerah dan Masyarakat untuk memastikan satwa liar yang dimiliki bangsa ini menjadi kekayaan dan kebanggaan bangsa. TNKS merupakan hutan hujan tropis yang masih baik sehingga merupakan habitat yang ideal bagi berbagai satwa liar seperti beruang madu. Lokasi pelepasliaran dipilih di lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk berdasarkan survei yang dilakukan bersama-sama oleh Tim BBTNKS dan BKSDA Jambi. Menurut Nurhamidi (Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I BBTNKS) lokasi tersebut memiliki kondisi habitat yang cukup baik yang bisa mendukung kehidupan satwa liar beruang madu karena memiliki potensi pakan beruang madu yang melimpah berupa buah-buahan hutan yang biasa dimakan oleh beruang, serangga-serangga kecil yang hidup di tanah dan bongkahan kayu lapuk dan cukup banyak potensi lebah madu. Tim FFI yang hadir dari unit Monitoring Harimau Sumatera (MHS) dan Patroli Harimau Sumatera (PHS) beserta Program Manajer Lanskap (Abdul Hadison) sangat mengapresiasi release 3 ekor berung madu ini, ”Kami menilai sangat tepat dalam menentukan lokasi pelepasliaran secara prosedur dan daya dukungnya bagi beruang madu meskipun masih ditemukan kendala dalam teknis proses pelepasliaran, namun demikian dengan semangat kolaborasi berbagai pihak yang terlibat proses pelepasliaran berjalan dengan lancar dan baik” ujar pria yang sering dipanggil Bang Didik ini. Beruang Madu merupakan jenis paling kecil dari kedelapan jenis beruang yang ada di dunia. Selain itu, hewan ini juga memberikan kontribusi yang cukup bermanfaat bagi alam. hewan ini mampu berjalan 8 km setiap hari untuk mencari makan, mereka suka membongkar dan menggali tanah. Kebiasaannya ini bermanfaat untuk proses penguraian, daur ulang, serta penyebar biji-bijian pada hutan hujan tropis. Namun kondisi saat ini populasinya semakin menurun dan menjadi jenis yang rentan akibat alih fungsi kawasan dan perubahan tutupan lahan. Badan konservasi dunia The International Union for Conservation of Nature (IUCN), memasukan Beruang Madu dalam kategori status Genting (Endangered) dalam kategori Vulnerable (rentan). Sedangkan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of wild fauna and flora) sekarang memasukan satwa ini ke dalam apendix I. Rahmad Saleh, S.Hut.,M.Si selaku kepala Balai KSDA Jambi menyampaikan, bahwa “Ini merupakan bentuk komitmen Balai KSDA Jambi dalam mengembalikan satwa ke alam bebas dimana merupakan tanggung jawab kita semua dan tugas mulia karena membantu terciptanya keseimbangan ekosistem sehingga mewujudkan kondisi lingkungan hidup yang sehat dan terjaga kelestariannya”. Selanjutnya Kepala Balai KSDA Jambi juga mengajak semua elemen masyarakat untuk menjaga keberadaan flora dan fauna sebagai amanah dari Allah Subhanahu wa Taala. Sumber : Humas Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Pemadaman Kebakaran Hutan di SM Bukit Batu

Pekanbaru, 4 Maret 2021 – Kebakaran hutan melanda kawasan Suaka Margasatwa (SM) Bukit Batu pada hari Selasa, 2 Maret 2021. Balai Besar KSDA Riau, Tim Resort Bukit Batu bersama Tim Manggala Agni berjibaku memadamkan kebakaran tersebut. Tim segera terjun menggunakan speed boat dan melakukan pemadaman dari pukul 17.00 WIB. Sebagian lokasi kebakaran berhasil dipadamkan, namun dikarenakan jarak pandang yang terbatas, tim menghentikan pemadaman dan kembali dilanjutkan esok hari. Sampai saat ini, luas lokasi kebakaran belum dapat diperkirakan dan keadaan lokasi dinilai rawan terjadinya kebakaran karena kawasan dalam kondisi kering akibat musim kemarau sehingga mudah menyebabkan kebakaran. Sumber : Balai Besar KSDA Riau.
Baca Berita

Dirjen KSDAE Apresiasi Dukungan Multi Pihak Untuk Kegiatan Konservasi

Kotaagung, 28 Februari 2021. Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) Ir. Wiratno, M.Sc. melakukan kunjungan kerja ke Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Minggu 28 Februari 2021. Tak hanya itu, Dirjen KSDAE juga memberikan penghargaan kepada Ketua Komisi IV DPR RI, Bupati Tanggamus, Bupati Lampung Barat, Ir. H. John Kenedie, MM., Ir. H. Agus Wahyudiyono, Kepala Resort Pemerihan, Kepala Resort Suoh, Peratin Pemerihan, 13 orang Ketua Tim Satgas Penanggulangan Konflik, 5 orang Pawang/Mahout, dan Local Champions yang ada di wilayah pengelolaan TNBBS. Total piagam penghargaan yang diberikan sejumlah 40 piagam penghargaan. Para penerima penghargaan dinilai telah memberikan kontribusi positif dalam mendukung program konservasi. Dirjen KSDAE juga memberikan pembinaan dan arahan kepada pegawai lingkup Balai Besar TNBBS di kantor Balai Besar yang dilanjutkan dengan Acara Dialog Interaktif bersama Masyarakat Satgas Penanggulangan Konflik Gajah Sumatera di Rumah Dinas Ketua DPRD Kabupaten Tanggamus. Dalam kesempatan tersebut turut hadir Bupati Tanggamus, Wakil Bupati Tanggamus, Bupati Lampung Barat yang diwakili oleh Asisten ll, Ketua DPRD Kab. Tanggamus, Ketua Komisi V DPRD Lampung, Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE, Inspektur Wilayah I Sumatera, Direktur PJLHK, Kasubdit Perencanaan Direktorat KK, Plt. Kepala Balai Besar TNBBS, Kepala Balai KSDA Bengkulu Lampung, Plt. Kepala Balai TNWK serta pejabat eselon III dan IV lingkup Balai Besar TNBBS, pejabat eselon lV BKSDA Bengkulu Lampung dan BTN Way Kambas, pegawai lingkup Balai Besar TNBBS, BKSDA Bengkulu Lampung, WCS-IP, Yabi, PILI, UNDP, Peratin Sukamarga, Peratin Bumi Hantatai, Gapoktan Hutan Lestari, Gapoktan Tulung Agung, Gapoktan Mulya Agung serta Tim Satgas Penanggulangan Konflik. "Perlu dibentuk Elephant Response Unit (ERU) di wilayah Suoh. Hal ini dikarenakan telah terjadi interaksi negatif sejak Bulan Agustus 2020 hingga saat ini akibat pergerakan gajah liar 'Bunga' di Suoh" ungkap Dirjen KSDAE Wiratno. Selain itu, Dirjen KSDAE juga mengarahkan kepada masyarakat untuk lebih memperhatikan lagi terhadap pola tanam yang telah dilakukan saat ini. Bisa dengan mengubah bibit tanaman yang akan ditanam merupakan jenis tanaman yang tidak disukai oleh gajah. Tim SIGER BBS yang merupakan kepanjangan dari Sistem Informasi dan Data Gerakan Konsevasi Bukit Barisan Selatan juga berkesempatan menyajikan data dan informasi diantaranya tentang tema METT, Biodiversitas, SMART, Konflik manusia dan satwa liar, PNBP serta peta interaktif, seperti peta pergerakan gajah konflik "Bunga" yang dipasang Satelite Collar untuk mendeteksi pergerakannya, peta tutupan lahan, peta kerawanan dll. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
Baca Berita

YPKSI Salurkan Bantuan Kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Medan, 4 Maret 2021 ­­– Upaya mendukung penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL), mitra BBKSDA Sumut yaitu Yayasan Program Konservasi Spesies Indonesia (YPKSI) menyalurkan bantuan berupa 3 buah kandang transit khusus satwa yang berukuran kecil (1/3/2021) kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Penyaluran bantuan ini diharapkan dapat mempermudah evakuasi satwa hasil sitaan maupun serahan dari masyarakat. Penggunaan kandang transit tersebut akan sangat mempermudah pengangkutan maupun dari segi kesehatan satwa dalam mengurangi tingkat stres pada saat pengangkutan berlangsung. Rudianto Sembiring selaku Direktur YPKSI menyerahkan langsung bantuan tersebut kepada Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan Balai Besar KSDA Sumatera Utara Amenson Girsang, S.P. Tak lupa, Amenson menyampaikan terimakasih kepada YPKSI yang telah mendukung upaya penyelamatan satwa-satwa yang ada di Sumatera Utara. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara.
Baca Berita

World Wildlife Day, WRU BBKSDA Sulsel Rilis Satwa Di Luwu Timur

Makassar, 03 Maret 2021 – Memperingati World Wildlife Day yang jatuh pada hari ini, 3 Maret 2021, Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel) melakukan Rilis satwa atau pelepasliaran satwa ke habitatnya. Lokasi pelepasliaran kali ini terletak di Danau Towuti dan beberapa lokasi hutan di Kabupaten Luwu Timur, tentunya lokasi pelepasan jauh dari pemukiman masyarakat dan sudah dilakukan observasi sebelumnya agar satwa bisa hidup dengan baik nantinya. Proses pelepasliaran kali ini Tim Wildlife Rescue membagi menjadi 2 Tim dengan anggota 5 dan 6 orang yaitu tim rilis danau dan tim rilis hutan. Adapun jenis satwa yang dilepasliarkan tim rilis danau yaitu : 2 Ekor Buaya Muara berjenis kelamin jantan dengan panjang 1,7 meter dan Betina Panjang 1.5 meter. Ke-2 Buaya muara ini dilepasliarkan Pukul 08:55 WITA di Taman Wisata Alam Danau Towuti yang terkenal sebagai habitat Buaya muara. Ditempat terpisah Tim rilis hutan wildlife rescue melakukan pelepasliaran jenis satwa 1 Ekor Macaca tongkeana dan 1 Ekor Ular Sanca Kembang pukul 09:30 WITA di Hutan wilayah Mangkutana Kabupaten Luwu Timur. Kepala Seksi P3 Yusri sekaligus ketua tim WRU menyampaikan “Satwa-satwa yang dilepasliarkan di kedua lokasi ini berasal dari kandang transit BBKSDA Sulsel di Makassar dimana satwa-satwa ini merupakan satwa yang tim dapat dari hasil patrol, evakuasi dan penyerahan masyarakat”. Terang Yusri. “Untuk selanjutnya tim masih terus melakukan pemantauan dan monitoring satwa beberapa hari kedepan untuk memastikan satwa mampu survive di lingkungan barunya”. Tambah Yusri. Tak hanya rilis satwa, BBKSDA Sulsel juga menggelar talkshow konservasi sebagai rangkaian World Wildlife Day. Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Ir.Thomas Nifinluri, M.Sc. mengatakan “Acara talkshow ini selain mengedukasi juga sangat penting dalam memperkuat sinergitas BBKSDA Sulsel dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar dalam rangka Kelola Keanekaragaman Hayati pada lokasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) Makassar, dan sinergitas dengan Tim Animal Recue Dinas Pemadam Kebakaran Kota Makassar dalam penyelamatan satwa liar diharapkan akan semakin mendukung visi Kota Makassar Sombere dan Smart” pungkas Thomas. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel) Penanggung Jawab Berita: Kepala Subag Data, Evlap dan Humas - Murniaty, S.Hut
Baca Berita

Kebakaran di Bukit Merdeka Taman Lestari Twa Muka Kuning Berhasil Dipadamkan

Pekanbaru – 3 Maret 2021 Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Batam memperoleh laporan kejadian kebakaran di sejumlah daerah Bukit Merdeka, Taman Lestari, Taman Wisata Alam (TWA) Muka Kuning pada tanggal 28 Februari 2021, Pukul 12.30 WIB. Kepala Resor Muka Kuning Pulau Rempang berkoordinasi dengan Manggala Agni Daops Batam dan Pemadam Kebakaran (damkar) Badan Pengusahaan (BP) Batam kemudian dibentuk tim gabungan untuk dikerahkan ke lokasi kebakaran. Tim gabungan tersebut terdiri dari SKW II Batam, Manggala Agni Daops Batam, Damkar BP Batam, Polsek Batu Aji dan masyarakat sekitar Kawasan. Tim gabungan berjibaku memadamkan kebakaran tersebut. Berdasarkan update penanganan, kebakaran berhasil dipadamkan pada pukul 15.30 WIB dan dilanjutkan dengan proses pendinginan. Diketahui luas daerah yang terbakar sekitar 2 hektar dan berada pada blok rehabilitasi. Mari kita jaga lingkungan dari kebakaran hutan dan lahan! Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Serangan Harimau Sumatera di Pelalawan, Seorang Nenek Terluka

Pekanbaru, 3 Maret 2021 - Seorang nenek bernama Simi berumur 67 tahun, warga Desa Tanjung Air Hitam, Kec. Kerumutan, Kab. Pelalawan dikabarkan terluka akibat serangan Harimau Sumatera pada hari Sabtu 27 Februari 2021, pukul 09.00 WIB. Tim Rescue Bidang KSDA Wilayah I Balai Besar KSDA Riau yang dipimpin Tommy Sinambela melakukan koordinasi dan ikut terjun ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) bersama Kapolsek Kerumutan, Iptu Fajri Sentosa dan personilnya untuk melakukan mitigasi. Segera tim gabungan menemui korban. Berdasarkan keterangan anak korban Jamilus, diketahui bahwa Simi diserang satwa dari arah belakang. Peristiwa ini terjadi saat korban sedang mengambil perangkap ikan di kanal, sedangkan cucunya Habibie yang berumur 20 tahun sedang menderes karet. Berdasarkan pengamatan Tim dari kesaksian korban yang diberikan, pola serangan satwa diduga bukan Harimau Sumatera. Ditambah berdasarkan informasi lanjutan dari hasil pemeriksaan bidan desa, hanya terlihat benturan benda tumpul, dan tidak ada bekas cakaran. Korban menyampaikan bahwa dia didorong dari belakang lalu jatuh telentang. Saat itu cucunya datang membantu setelah dipanggil oleh korban. Keterangan dari korban dan cucunya, satwa yang terlihat berwarna hitam namun terlihat samar, dan tidak terlihat belang pada bagian muka maupun ekornya, satwa tersebut datang dari arah semak belukar. Untuk tindakan lebih lanjut, Tim gabungan bersama Kepala Desa Tanjung Air Hitam lakukan olah TKP di kebun karet yang disekitarnya terdapat semak belukar. Jarak lokasi kejadian kurang lebih 500 meter dari rumah korban dan berjarak kurang lebih 18 kilometer dari lokasi SM Kerumutan. Berdasarkan laporan olah TKP, Tidak terlihat bekas jejak atau cakaran satwa yang diduga sebelumnya Harimau Sumatera. Oleh karena itu, Tim akan memasang kamera jebak untuk memastikan jenis satwa yang menyerang. Selain itu, Tim memberikan himbauan kepada masyarakat agar tidak memasang jerat atau umpan, dan tetap berwaspada. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Meru Betiri Beri Bantuan Mantan Penebang Liar

Jember, 3 Maret 2021. Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti) kembali memberikan bantuan program pemberdayaan masyarakat dengan melakukan penyerahan bantuan bibit Day Old Chicken (DOC) kepada masyarakat Sanenrejo (2/3/21). Bantuan sejumlah 400 DOC ayam kampung diberikan langsung Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Ambulu, Agust Dwiandono kepada Paeman selaku Ketua Kelompok Betiri Sejahtera Lestari (BSL). Agust menyatakan, bantuan pemberdayaan masyarakat berupa DOC ini menyasar kelompok masyarakat Betiri Sejahtera Lestari (BSL) yang terbentuk dari 16 orang masyarakat yang telah sadar dan berhenti melakukan kegiatan illegal logging. “Bantuan ini merupakan wujud apresiasi Balai TN Meru Betiri kepada masyarakat yang peduli terhadap kawasan hutan, bahkan beberapa waktu lalu mereka juga menyerahkan chainsaw sebagai bukti keseriusannya berhenti merusak kawasan hutan” ungkap Agust. Kepala Balai TN Meru Betiri, Maman Surahman menyampaikan bahwa Program alih profesi, lokasi dan komoditi sebagai salah satu upaya mencarikan alternatif pendapatan bagi masyarakat yang mempunyai ketergantungan tinggi terhadap kawasan. “Tujuan dari bantuan ini adalah supaya masyarakat mendapatkan solusi ekonomi dan menghentikan pengambilan sumberdaya hutan yang eksploitatif, kemudian berujung pada kerusakan hutan,” ujar Maman. Maman pun optimis program pemberdayaan masyarakat TN Meru Betiri dengan konsep alih profesi, lokasi, dan komoditi ini akan menjadi solusi yang efektif untuk menghentikan laju deforestasi. Diharapkan saat masyarakat sekitar kawasan sejahtera hutan akan lestari. Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Pembinaan Habitat Pengkayaan Pakan Bekantan di TWA Pulau Bakut

Barito Kuala, 28 Februari 2021 – Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc melakukan penanaman sebagai bagian dari Pembinaan Habitat dengan Pengkayaan Pakan Bekantan (Nasalis lavartus) di kawasan konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Bakut. Ini dilakukan untuk memperbaiki kondisi ekosistem yang telah mengalami kerusakan dapat kembali pulih seperti sediakala mendekati kondisi awal/aslinya (dalam hal komposisi vegetasinya). Jenis yang ditanam untuk Pengkayaan Pakan Bekantan (Nasalis lavartus) di blok rehabilitasi TWA Pulau Bakut yaitu dengan jenis Rambai (Sonneratia caseolaris). Jumlah bibit yang ditanam sebanyak 2.000 batang dan untuk mengetahui pertumbuhan tanaman dimasa mendatang dibuat Sonneratia PUP dengan luas 0,025 Ha (50 Meter x 50 Meter). Kepala BKSDA Kalsel Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc mengharapkan tanaman yang ditanam dapat tumbuh dengan baik dan diperlukan pengawasan dan pengamanan yang lebih ekstra sehingga dapat menekan persentase kematian tumbuhan agar bisa dipertahankan persentasi hidup tanamannya, baik metode drone maupun groundcheck sehingga tanaman yang ditanam persentase tumbuhnya bisa dihitung secara cepat dan valid. Turut serta Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Banjarbaru, M. Ridwan Effendi, S.Hut, M.Si, Kepala Resort TWA Pulau Bakut Imam Riyanto S,Hut dan jajarannya, Kepala Resort Pulau Kembang, Suwandi, Ketua Kelompok Masyarakat Mitra Pariwisata Desa Beringin H. Muhammad Jainuri dan Koordinator Urusan Kawasan Konservasi BKSDA Kalsel, Mila Rabiati, S.Hut, M.Si. Sebagai informasi, kegiatan penanaman dan pengkayaan jenis dalam rangka Pembinaan Habitat dengan Pengkayaan Pakan Bekantan (Nasalis lavartus) pada kawasan yang telah mengalami kerusakan sesuai dengan Perditjen KSDAE Nomor : P.12/KSDAE-Set/2015 tentang Pedoman Tata Cara Penanaman dan Pengkayaan Jenis dalam Rangka Pemulihan Ekosistem Daratan pada Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Kegiatan ini juga merupakan rangkaian Road To HKAN 2021 lingkup BKSDA Kalimantan Selatan (ryn). Sumber : Noer Vana Dwi Prasetyo - PEH Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Tim WRU Seksi 4 Makassar BBKSDA Sulsel Evakuasi Python 5 Meter Di Maros

Makassar, 02 Maret 2021 – Petugas Wildlife Rescue Unit (WRU) seksi 4 Makassar Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel) pada Minggu (28/02/2020) yang dipimpin langsung Kabid Wilayah II BBKSDA Sulsel, mengevakuasi ular sanca kembang (Pyton reticulatus), sepanjang 5 meter, di Desa Baji Apamae Kabupaten Maros yang sebelumnya viral di Media sosial dan berita CNN Indonesia . Info awal yang diterima tim WRU bermula dari laporan media social (27/02/2021) Ular Sanca tersebut merupakan tangkapan warga desa bernama Daeng Daera saat sedang mencari tanaman Porang di Hutan. Ular tersebut dalam keadaan tidak bergerak dengan diameter perut yang besar, diduga ular tersebut baru saja menyantap babi hutan atau anak sapi menurut keterangan warga. Dari info tersebut Tim WRU segera melakukan koordinasi dengan kepala Seksi Wilayah 1 dan resort Camba Balai TN Bantimurung Bulusaraung di Maros terkait kerjasama evakuasi satwa ular tersebut. Agus Suseno, S.Hut selaku PEH dari tim Evakuasi Ular tersebut dalam keterangannya “Hasil identifikasi diketahui ular sanca kembang berukuran panjang 5,52m dan diameter 0,24m serta dalam kondisi sehat tidak terluka dan agresif. Dari proses evakuasi tim secara keseluruhan sampai pelepasliaran di habitat yang jauh dari penduduk berjalan lancar”. terang Agus. Ir. Thomas Nifinluri, MSc. menyampaikan “Terimakasih kepada teman-teman dari Seksi 1 dan Resort Camba TN. Bantimurung Bulusaraung yang membantu dan mengawal proses evakuasi Ular Sanca ini dari awal evakuasi hingga rilis.” “Di awal-awal tahun dengan intensitas hujan seperti ini memang banyak kasus konflik satwa dan masyarakat. Ini merupakan tantangan untuk Tim dan kita semua agar tidak ada kejadian yang tidak diinginkan. Oleh karena itu untuk warga yang menjumpai satwa liar seperti ular besar seperti ini segera lapor ke kami bisa melalui call center kami yang standby 24 jam atau bisa menghubungi pihak berwajib dan Damkar. Dibutuhkan profesional dalam handling satwa liar terutama satwa liar predator” tutup Thomas. Link Video Proses Rilis : https://youtu.be/jDrvUu-AJIY Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penanggung Jawab Berita: Kepala Subag Data, Evlap dan Humas - Murniaty, S.Hut

Menampilkan 2.513–2.528 dari 11.141 publikasi