Minggu, 17 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

DPRD Bolaang Mongondow Apresiasi Kerja BTNBNW

Lolak, Selasa 6 April 2021. Bertempat di Gedung DPRD Kabupaten Bolaang Mongondow, Kecamatan Lolak, Kepala Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (Balai TNBNW) bersama Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah 2 Doloduo dan PIMP (Perempuan Inspiratif Mitra Polhut) BNW berkesempatan bersilaturahmi langsung dengan Ketua DPRD Bolaang Mongondow. Turut hadir, Ketua Komisi 3 DPRD Bolaang Mongondow, Staf Ahli Bupati bidang Kesejahteraan Rakyat, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) dan Kepala Dinas Pariwisata. Dalam pertemuan tersebut, Kepala Balai TNBNW menyampaikan kegiatan yang telah dilakukan Balai bersama masyarakat Bolaang Mongondow di sekitar TNBNW diantaranya, kegiatan Pemulihan Ekosistem Kolaboratif (PEK) masyarakat dan strategi pencarian mata pencaharian alternatif (Alternative Livelihood Strategy / ALS)). “PEK sebagai salah satu solusi terhadap penanganan masalah perambahan dan ALS sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan TNBNW. Dari data open area TNBNW wilayah Bolaang Mongondow seluas 12,4 ribu hektar, telah tertanam sekitar 800 ha dari tahun 2017 sampai dengan 2020. Kami juga telah melakukan pembentukan dan pendampingan beberapa kelompok,” jelasnya. DPRD Bolaang Mongondow sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh Balai TNBNW bersama mitranya, PIMP BNW. “Kami sangat berterimakasih dan bersyukur atas upaya dan kerjasama dari Balai TNBNW kepada masyarakat kami, apalagi Balai TNBNW telah memberdayakan srikandi-srikandi Bolaang Mongondow menjadi PIMP sebagai inspirator pemberdayaan masyarakat sekitar Kawasan”, ungkapnya. Pada kesempatan yang sama juga ditunjukkan produk-produk hasil kelompok/ masyarakat dampingan berupa kain hasil ecoprint dari desa Matayangan, jamur tongkol jagung Kelompok Sinar Baru Desa Toraut, madu hutan bogani Desa Ibolian dan gula semut aren Kelompok Harapan Baru Desa Tapaog. “Ecoprint ini adalah sebuah karya seni luar biasa yang bisa menjadi identitas Bolaang Mongondow. Gula semut mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dibanding gula batu biasa. Kami akan tindaklanjuti dan mengembangkannya,“ tambahnya. Sebagai tindak lanjut, pihak DPRD akan mengagendakan pertemuan kembali yang akan melibatkan Asisten Bupati dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait. Pada sesi akhir pertemuan dilakukan foto bersama, penyerahan hasil ecoprint dan produk kelompok masyarakat. Sumber : Balai TNBNW
Baca Berita

“Leuweung Hejo Masyarakat Ngejo” Oleh Balai Besar TNGGP, ITTO, dan Mayora

Bogor, Senin (05/04/2021). Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (Balai Besar TNGGP) bekerjasama dengan PT. Tirta Fresindo Jaya-Plant Cimande dan didukung oleh International Tropical Timber Organization (ITTO) PD 777/15 kembali melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat di sekitar desa penyangga TNGGP, untuk tahun ini dilaksanakan di Desa Sukaresmi, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan pemulihan ekosistem berupa penanaman pohon yang telah dilaksanakan pada 27 Maret 2021 di zona rehabilitasi blok Arca Resort PTN Tapos, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah VI, Bidang PTN Wilayah III Bogor. Sasaran kegiatan ini adalah KTH (Kelompok Tani Hutan) Arca Domas Pangrango dimana lokasi kegiatan KTH berdekatan dengan areal penanaman. Bentuk pemberdayaan masyarakat berupa usaha budidaya lebah madu Trigoona merupakan usulan dan keinginan dari anggota KTH sendiri pada saat rapat pembentukan KTH Arca Domas (17/02/2021). Pilihan tersebut didasarkan atas pertimbangan bahwa modal untuk usaha budidaya lebah madu Trigoona tidak membutuhkan biaya yang terlalu besar, perawatan yang relatif sederhana dan pakannya pun cukup melimpah. Pada era pandemi ini, usaha budidaya lebah madu juga cukup menjanjikan. Selain memiliki banyak potensi yang dapat dimanfaatkan pada produk madu dan turunannya, usaha ini juga dapat dijadikan salah satu wahana edukasi dalam kegiatan wisata dengan sasaran siswa-siswi Sekolah Dasar sampai Menengah Atas dan juga untuk masyarakat umum. Kegiatan pelatihan budidaya lebah madu kepada KTH bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan agar dalam usaha budidaya lebah madu KTH dapat berdaya guna dan berhasil guna. Pelatihan dilaksanakan di ruang terbuka Saung Taman Wisata Arca Domas dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Kegiatan pelatihan dibuka oleh Kepala Seksi PTN Wilayah VI Tapos mewakili Kepala Bidang PTN Wilayah III Bogor, dengan dihadiri Kepala Desa Sukaresmi, Project Management Unit (PMU) ITTO dan Wiretno Ayuningtyas selaku Section Head K3 PT. Tirta Fresindo Jaya Plan Cimande. "Kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pemberian pelatihan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat ke depannya, dimana budidaya ini akan menjadi salah satu alternatif usaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ucap Kepala Desa Sukaresmi dalam sambutannya. Narasumber pada pelatihan ini Bapak Eureka Indra Zatnika, beliau adalah pelaku sukses budidaya lebah madu yang telah memiliki nama produksi “Rumah Pak Lebah”. Materi yang disampaikan mulai dari pengenalan biologi dan jenis lebah madu, teknik budidaya lebah madu Trigoona leavicep, strategi pemasaran, pengelolaan bisnis madu hingga penanganan hama penyakit lebah madu. Tidak hanya diberikan bekal teori, peserta juga dilibatkan kegiatan praktek budidaya yang diantaranya mencakup kegiatan pemindahan dan pengelolaan koloni pada stup, proses panen madu dan pollen, penentuan ratu pada koloni, serta cara pengemasan madu. Dalam pelaksanaannya, anggota KTH terlihat sangat antusias mengingat ilmu mengenai budidaya lebah madu merupakan ilmu yang baru dan mereka berminat untuk mengembangkannya. Pada akhir pelatihan, KTH Arca Domas mendapatkan bantuan modal usaha budidaya lebah madu Trigoona berupa 20 buah stup yang telah berisi koloni dan 7 buah stup kosong untuk keperluan pemisahan koloni. Bantuan diserahkan langsung oleh pihak manajemen PT Tirta Fresindo Jaya Plant Cimande dan disaksikan oleh pihak Balai Besar TNGGP, Kades Sukaresmi, serta Koordinator Project ITTO. Dengan adanya bantuan ini, diharapkan masyarakat dapat mewujudkan harapan untuk membudidayakan lebah madu sebagai alternatif pengembangan usaha, sehingga tekanan terhadap kawasan menjadi berkurang dan semoga masyarakat pun memiliki kesejahteraan yang lebih baik sesuai slogan “Leuweung Hejo Masyarakat Ngejo” (hutan lestari masyarakat sejahtera). Teks : Ade Frima Nurcahya Intan – Polhut Pelaksana Lanjutan Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Terimakasih Pak Wamen LHK dan Rekan-rekan Media, TNGGP Pasti Lebih Baik

Cibodas, 6 April 2021 - Dr. Alue Dohong selaku Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Wamen LHK) pada hari Selasa melakukan kunjungan kerja ke Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Wamen LHK yang didampingi oleh Kepala Biro Humas, Nunu Anugrah, S.Hut. M.Sc. dan Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi, Dr. Nandang Prihadi, S.Hut. M.Sc. beserta rombongan menghadiri acara Jurnalistik Wisata Alam untuk Forest Healing di Tengah Pandemi yang diikuti oleh wartawan media cetak (Media Indonesia, Rakyat Merdeka, Koran Sindo, Republika, Investor Daily, Jakarta Post), media online (Detik.com, Kompas.com, JPNN.com, Tropis.co, Klik Babel.com, Kumparan.com, Antaranews.com, Indopos.com, Tribunews.com, Wartakota.com, Dimensinews.co.id., Portonews.co, Suara.com, Okezone.co.), media televisi (Metro TV, Net. TV, CNN.TV, TV One), serta media radio (Radio Republik Indonesia). Satu hari sebelumnya, Senin (05/04/2021) peserta Jurnalistik Wisata Alam untuk Forest Healing di Tengah Pandemi sudah melaksanakan kegiatan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Peserta disambut oleh Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Wahju Rudianto, S.Pi. M.Si. Dalam sambutannya beliau menyampaikan, “Bagaimana mempertahankan ekosistem hujan tropis pegunungan dalam rangka meningkatkan keanekaragaman hayati. Maka dari itu Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango berusaha secara maksimal dalam mengelola potensi flora dan fauna, potensi wisata alam, potensi sumber daya air, potensi panas bumi, dan potensi karbon. Tidak hanya itu dalam upaya peningkatan pelayanan, kami telah mengembangkan ISO 14001:2015, ISO 9001, Ecco Office, Aplikasi Booking Pendakian Online dan membuat slogan MaTul JaWa (MAlu korupsi, TULus melayani, JAngan terima suap, WAjib akuntabel) dalam rangka Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi”. Sebelum melaksanakan jungle tracking ke Canopy dan Curug Ciwalen, peserta diajak menjelajah ke diorama Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) untuk memberikan informasi sejarah dan potensi TNGGP, serta memperkenalkan beberapa link pada website TNGGP, yaitu: virtual tour (http://virtual-tour.gedepangrango.org/), aplikasi Eduwisata Virtual Eco Office Gede Pangrango (http://eco-office-virtual.gedepangrango.org/), dan E-Book TNGGP. Selain itu, dijelaskan juga kepada peserta bahwa Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) sejak tahun 2019 fokus mempersiapkan pembangunan ZI menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) secara konsisten dan berkelanjutan (link informasi). Dalam rangka mewujudkan ZI menuju WBK dan WBBM serta bertepatan dengan Hari Rimbawan ke-38 dengan tema “Terus Berbakti di Tengah Pandemi untuk Lingkungan dan Hutan Lestari”, Selasa (16/03/2021) dalam acara Upacara Peringatan Hari Rimbawan ke-38 BBTNGGP telah digelar: Selanjutnya peserta diajak jungle tracking ke Resort Mandawalangi dan Canopi – Curug Ciwalen, Resort Cibodas dalam rangka mengenalkan potensi dan pengelolaan wisata TNGGP. Pada hari kedua, Selasa (06/04/2021) kegiatan Jurnalistik Wisata Alam untuk Forest Healing di Tengah Pandemi dihadiri oleh Wakil Menteri Lingkungan Hidup yang didampingi Kepala Biro Humas dan Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi. Pada kesempatan ini, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango memperkenalkan beberapa inovasi pelayanan dan pengelolaan kawasan konservasi kepada Wamen KLHK dan tim, diantaranya: buku tamu sistem barcode, aplikasi pengelolaan Barang Milik Negara (BMN), serta memperkenalkan beberapa link pada website TNGGP, yaitu: virtual tour, aplikasi Eduwisata Virtual Eco Office Gede Pangrango, dan E-Book TNGGP. Pada acara pembukaan Kepala Biro Humas, menyampaikan sambutan, bahwa kegiatan ini merupakan ajang silaturahim antara kementerian KLHK dengan teman-teman media dan TNGGP yang merupakan salah satu Taman Nasional yang tertua di Indonesia. Kepala Balai Besar TNGGP, memaparkan tentang pengelolaan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yaitu sejarah TNGGP, visi dan misi, sistem pembagian zonasi, 15 resort pengelolaan, potensi TNGGP (flora, fauna, wisata, hidrologi, dan karbon), pemanfaatan jasa lingkungan, kondisi pengunjung dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), serta menyampaikan tentang “5 Prinsip Pengelolaan Ala TNGGP”, yaitu: Wakil Menteri Ligkungan Hidup dan Kehutanan memberikan sambutannya, “Taman Nasional Gunung Gede Pangrango karena sudah menerapkan pola baru dalam mengelola wilayah konservasi di sekitar kawasan dan juga mengingatkan pentingnya pengelolaan sampah agar pengunjung tidak terganggu dengan sampah yang dibuang sembarangan. Beliau juga berpesan dengan adanya eco wisata menjadi penggerak Green Economy di lingkungan sekitar wisata dan membuka peluang kerja sehingga berkontribusi terhadap pendapatan masyarakat, daerah, dan negara”. Pada sesi diskusi, salah satu wartawan/ jurnalistik Amri dari Republika menanyakan mengenai konservasi yang berkaitan keterlibatan dengan masyarakat. Adakah rencana dalam 5 tahun kedepan untuk mengantisipasi hal-hal yang mungkin menjadi persoalan ketika penduduk semakin padat menjadi pertanian dan sebaran wilayah konservasi, apakah akan merubah menjadi alih fungsi tempat wisata atau seperti apa? “Harapan kedepannya, sawah sudah memiliki sistem agroforesting supaya fungsi TNGGP ada sifatnya pemanfaatan lingkungan dan fungsi pengawetan dan itu yang harus kita jaga melalui keterlibatan dengan kegiatan monitoring. Kawasan konservasi menjadi “the last reserve” penyelamat terakhir dari benteng kehidupan agar kita bisa meminimalisir dampak-dampak bencana kerusakan”, ujar Wamen KLHK. Rangkaian acara dilanjutkan ke Resort Selabintana, Seksi PTN Wilayah III Selabintana untuk penandatanganan Prasasti Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dan mengunjungi wisata alam Bumi Paseban serta Museum Bartel (Museum Elang Jawa) Balong Cimungkad, Resort Cimungkad, Seksi PTN Wilayah IV Situgunung, Bidang PTN Wilayah II Sukabumi. Direktur PJLHK memberikan apresiasi bahwa TNGGP mempunyai Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa Cimungkad yang memberikan gradasi berbeda dengan objek wisata lainnya. “Saya sangat terkesan dengan Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa Cimungkad suatu hal yang menarik yaitu perpaduan wisata sejarah, pendidikan, dan alam, ini merupakan implementasi dari dokumentasi sejarah Elang jawa di TNGGP”, ungkapnya. Beliau juga memberikan saran dan harapan agar mempertahankan kondisi kebersihan dan kenyaman lokasi, edukasi berupa interpretasi pengunjung perlu ditambah serta penambahan jam kunjungan dan tentunya dengan adanya obyek wisata ini kawasan TNGGP dan Elang jawa tetap lestari. Beberapa kesan dan pesan lainnnya yang disampaikan oleh peserta Jurnalistik Wisata Alam untuk Forest Healing di Tengah Pandemi. Nena peserta dari Metro TV menyampaikan pengalaman pertama berkunjung ke TNGGP, “Ternyata TNGGP tidak setakut yang saya bayangkan bagi saya yang tidak menyukai kegiatan outdoor. Saya senang sekali dapat kesempatan berkunjung ke sini dan pelayanannya luar biasa bagus”. Emir Chaerullah peserta dari Media Indonesia, “TNGGP mempunyai kawasan yang luar biasa bagus, namun sayang prasarana menuju ke lokasi objek masih ada beberapa yang kurang memadai untuk memudahkan pengunjung”. Sebagai pamungkas kegiatan, Wamen LHK memberikan pesan, “Pendekatan masyarakat harus dikuatkan untuk menumbuhan kebersamaan dan rasa memiliki serta rasa manfaat dari kawasan konservasi TNGGP dalam mendorong partisipatory patrol and control untuk mengatasi kekurangan dalam pengelolaan kawasan”. Beliau memberikan semangat untuk TNGGP agar tetap semangat dalam bekerja, kita bekerja tidak untuk sendiri namun bekerja untuk nusa dan bangsa. Dalam kunjungannya ke Cimungkad, beliau juga bekesan, “Pendekatan kepada masyarakat sudah bagus dan insprastruktur sudah tertata dengan baik”. Komunikasi, koordinasi, dan sinkronisasi dengan Pemerintah Daerah harus dikuatkan dalam rangka menjelaskan visi dan misi dari TNGGP dalam mengelola kawasan konservasi, pesan tambahan dari beliau. Semoga dengan adanya kegiatan kunjungan kerja dari Wamen LHK serta kegiatan Jurnalistik Wisata Alam untuk Forest Healing di Tengah Pandemi dapat meningkatkan pengelolaan wisata Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan terus berinovasi dalam pembangunan konservasi. Sumber: Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Road to HKAN 2021: Pemeliharaan Tanaman di SM. Pulau Kaget

Pulau Kaget, 1 April 2021 – Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2021 yang akan dilaksanakan di Nusa Tenggara Timur pada bulan Agustus 2021, Balai KSDA Kalimantan Selatan melaksanakan kegiatan pemeliharaan tanaman di Suaka Margasatwa (SM) Pulau Kaget Desa Tabunganen Muara Kecamatan Tabunganen Kabupaten Barito Kuala pada Hari Kamis 1 April 2021. Lokasi kegiatan merupakan areal Kegiatan Padat Karya Penanaman Mangrove Tahun 2020 kerjasama antara Balai KSDA Kalimantan Selatan dengan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungan Dan Hutan Lindung Barito Banjarbaru yang pelaksanaanya dilakukan oleh Kelompok Pemberdayaan Masyarakat “Pulau Kaget Lestari” Desa Tabunganen Muara dengan luas 25 Ha dengan jenis tanaman Soneratia SP dan Rhizophora SP dengan jumlah tanaman 3.300 per hektar. Dr. Mahrus mengingatkan kepada anggota kelompok yang hadir, agar secara rutin sebulan sekali secara bergiliran melakukan pengawasan dan pengecekan terhadap perkembangan pertumbuhan tanaman serta merawat dengan sebaik-baiknya agar tanaman dapat tumbuh dengan baik sehingga dapat memberikan manfaat yang optimal bagi kehidupan liar yang ada di SM. Pulau Kaget. Sebagai informasi, Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc hadir didampingi Kepala SKW II Banjarbaru M. Ridwan Effendi, S.Hut.,M.Si dan Kepala Resort SM. Pulau Kaget Ahmad Barkati serta perwakilan anggota Kelompok Pemberdayaan Masyarakat “Pulau Kaget Lestari” Desa Tabunganen Muara yang secara bersama-sama melaksanakan pemeliharaan areal tanaman berupa penyiangan dan penyulaman tanaman yang mati. Pada kesempatan tersebut Kepala Balai beserta seluruh pihak yang hadir melakukan penanaman Mangrove dan Rambai sebagai bagian dari upaya pemeliharaan serta pengkayaan tanaman. (ryn) Sumber : Lisnaini - PEH SKW II Banjarbaru Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Cegah Konflik Beruang Madu, Petugas Resort Siak Lakukan Pemasangan Box Trap

Pekanbaru, 30 Maret 2021 - Menindaklanjuti laporan kemunculan satwa liar Beruang Madu (Helarctos malayanus) yang terjadi di Kampung/Desa Buatan II, Kecamatan Koto Gasib (29/03), petugas resort Siak telah melakukan pemasangan perangkap/kerangkeng (box trap) di jalur kemunculan terakhir satwa beruang madu tersebut pada hari Selasa 30 Maret 2021. Hal ini dilakukan sebagai langkah awal pencegahan konflik dengan penduduk sekitar. Kegiatan pemasangan box trap didampingi langsung ketua RT setempat. Tak lupa Tim menyampaikan kepada ketua RT dan warga, untuk selalu berkoordinasi dan segera menghubungi petugas resort jika beruang dimaksud terperangkap ataupun muncul kembali di lokasi yang lain agar selanjutnya dilakukan pemindahan perangkap. Apabila satwa masuk ke dalam perangkap, maka selanjutnya akan dilakukan tindakan evakuasi ke habitat yang jauh dari pemukiman penduduk agar menghindari konflik langsung dengan manusia. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

BBKSDA Sulsel Translokasi Monyet Ekor Panjang Dari Pare-Pare

Makassar, 5 April 2021 – Tim WildLife Rescue Unit (WRU) Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan berhasil melakukan translokasi Satwa Liar jenis Monyet Ekor Panjang (Macaca Fascicularis) dari Bidang Wilayah II Parepare ke Balai KSDA Kalimantan Timur Tanggal 1 – 4 April 2021. Sebanyak 6 ekor terdiri dari 5 ekor Jantan dan 1 ekor betina. Asal usul satwa tersebut berasal dari sitaan patroli bersama Polsek KPN Parepare, Stasiun Karantina Kelas 1 Parepare dan Bidang Wilayah II Parepare pada tanggal 1 Februari 2021. Proses pemindahan dilakukan dilakukan dengan menerapkan Protokol Penanganan Covid – 19, diawali melakukan SWAB Antigen, melengkapi dokumen SAT-DN dan melakukan pemeriksaan kesehatan satwa di Balai Stasiun Karantina Kelas 1 Parepare. Pelaksanaan kegiatan translokasi menggunakan alat trasnportasi laut (KM Tanjung Manis), Tim evakuasi berangkat dari pelabuhan Cappa ujung Parepare pada hari kamis, tanggal 1 April pukul 18.00 Wita dengan tujuan Pelabuhan Samarinda Kalimantan Timur dengan waktu tempuh 2 hari 2 malam. Tim WRU Sulsel tiba dan merapat di pelabuhan Samarinda hari Sabtu, tanggal 3 April 2021 pukul 09.30, dan kemudian satwa diterima oleh Tim WRU Seksi Konservasi Wilayah II Tenggarong, yaitu Kepala Resor Samarinda (Bapak Puji Mulyanto, S.Hut, MP) dan Bapak Surya D, Amd. Kondisi satwa sehat dan ditempatkan di kandang transit Balai KSDA Kaltim sebelum dilakukan pelepasliaran dihabitatnya pada hari Senin, tanggal 5 April 2021. Kepala Balai Besar KSDA Sulsel Ir.Thomas Nifinluri, M.Sc dalam keterangannya mengatakan “terimakasih kepada Bapak Nur Patria S.Hut, M.Sc (Plt.Kabalai KSDA Kaltim), Bpk Puji Mulyanto, S.Hut, MP, Surya, A.Md ( SKW II Tenggarong), atas kerjasama dan pelayanan selama Tim berada di Samarinda”. “Terimakasih juga Kapolsek KPN Parepare, Kepala Stasiun Karantina Kelas 1 Parepare, Polairud Parepare, dan seluruh pihak terkait dalam penanganan Peredaran Satwa Liar di Pelabuhan Parepare" tutup Thomas. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penanggung Jawab Berita : Kepala Subag Data, Evlap dan Humas - Murniaty, S.Hut
Baca Berita

BBKSDA Riau-AVSEC Gagalkan Pengiriman 22 Ekor Buaya Muara

Pekanbaru, 24 Maret 2021. Pihak Keamanan Bandara (AVSEC) dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau berhasil menggagalkan pengiriman Buaya muara (Crocodilus porosus) di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Kecurigaan bermula dari pemeriksaan mesin X-Ray yang dilakukan petugas AVSEC terhadap sebuah paket kiriman, yang kemudian menyampaikan ke pihak Balai Besar KSDA Riau. Selanjutnya, paket tersebut pun dibuka oleh petugas untuk dilakukan pemeriksaan bersama. Dari hasil pemeriksaan, terdapat total 22 ekor Buaya Muara, 7 ekor diantaranya telah dalam kondisi mati sedangkan 15 ekor lainnya masih hidup. Buaya muara tersebut rencananya akan dikirimkan dari Riau ke Jakarta. Buaya dikemas dalam 8 kantong plastik, dimana setiap kantong plastik terdapat lubang udara dan sabut kelapa dengan kondisi lembab. Paket dikirim melalui salah satu perusahaan jasa ekspedisi domestik, dengan nama dan alamat pengirim dari Bengkalis serta penerima paket tertera di resi beralamat di Jakarta Timur. Dari hasil penelusuran sementara, diketahui bahwa pengiriman paket bukanlah berasal dari wilayah Kabupaten Bengkalis, namun berasal dari wilayah Kabupaten Siak, sedangkan alamat tujuan sebenarnya merupakan alamat perorangan dan bukan alamat dari penerima yang tercantum di resi tersebut. Tim Balai Besar KSDA Riau terus melakukan koordinasi dengan pihak Direktorat Kriminal Khusus Polda Riau dan Balai KSDA DKI Jakarta untuk mengusut pelaku. Setelah dilakukan serah terima barang bukti dari pihak AVSEC, tim Balai Besar KSDA Riau membawa buaya tersebut ke Klinik Transit Satwa Balai Besar KSDA Riau untuk dilakukan pengecekan kondisi kesehatan satwa dan perawatan sementara. Sedangkan 7 ekor buaya yang telah mati, disimpan di Freezer Klinik Transit Satwa. Mari STOP perdagangan satwa yang dilindungi! Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Pembukaan Terbatas OWA Tlogo Muncar dan Plunyon

Sleman, 31 April 2021. Pembukaan kembali Obyek Wisata Alam (OWA) Tlogo Muncar (Kaliurang, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman) dan Plunyon (Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman), dilaksanakan setelah melalui koordinasi dan konsultasi dengan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) dan Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman. Kedua OWA tersebut sebelumnya ditutup selama kurang lebih setahun, dikarenakan pandemi dan kenaikan status Gunung Merapi menjadi SIaga (level III). Sejak tanggal 31 Maret 2021, kedua OWA tersebut dibuka, dengan dasar surat Pengumuman Nomor PG.04/BTNGM/TU/Ren/03/2021 tanggal 30 Maret 2021 tentang Pembukaan Terbatas OWA Tlogo Muncar dan Plunyon TNGM. Pembukaan kedua OWA ini menyusul pembukaan OWA Jurang Jero yang telah lebih dahulu dibuka pada tanggal 1 Maret 2021 silam. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Balai TNGM Muhammad Wahyudi menyampaikan bahwa pada pembukaan terbatas ini, ada ketentuan untuk para pengunjung agar tetap mematuhi protokol kesehatan, serta jam berkunjung 09.00 – 15.00 WIB. Diisampaikan juga bahwa untuk OWA Tlogo Muncar dan Pulunyon pada setiap hari Senin ditutup untuk umum, sedangkan OWA Jurang Jero ditutup setiap hari Jumat, dalam rangka pengecekan, pembersihan serta penyemprotan desinfektan. Selain itu, beliau juga menyampaikan bahwa OWA Tlogo Muncar dan OWA Plunyon berada pada batas aman aktivitas (yaitu jarak 7 km dari puncak Gunung Merapi), seusai dengan yang direkomendasikan oleh BPPTKG yaitu lebih dari 5 km. Demikian juga dengan OWA Jurang Jero. Pada pemantauan hari pertama pembukaan terbatas, pengunjung masih sedikit, karena selain hari kerja, juga dimungkinkan masih minim informasi tentang pembukaan terbatas kedua OWA tersebut. Diharapkan dengan pembukaan OWA ini dapat menstimulus perekonomian masyarakat sekitar OWA Tlogo Muncar, OWA Plunyon, maupun OWA Jurang Jero, tutup Wahyudi. * Sumber : Titin Septiana R. - Balai Taman Nasional Gunung Merapi Penanggung Jawab : Plt Kepala Balai TN Gunung Merapi : Muhammad Wahyudi, SP, M.Sc FB : Taman Nasional Merapi Twitter : @btngunungmerapi Instagram : @btngunungmerapi Call center : 081327691368
Baca Berita

Terperangkap Jerat Babi, BKSDA Sumsel Berhasil Evakuasi Beruang Madu

Lahat, 31 Maret 2021. Balai KSDA Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) melalui Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Lahat bersama Unit Pidana Khusus (Pidsus) Polres Lahat berhasil menyelamatkan seekor Beruang madu yang terperangkap jerat babi di daerah Talang Kabu, Pagar Agung, Lahat pada Selasa (30/3). Informasi satwa dilindungi yang terjerat tersebut bermula dari laporan yang disampaikan Unit Pidsus Polres Lahat. Saat tim datang, beruang dewasa berjenis kelamin jantan tersebut dalam kondisi hidup dan terjerat pada bagian tangan kanan. Sedangkan bagian tangan kiri terluka, membengkak serta memar. Lokasi temuan tersebut, kondisi vegetasinya berupa semak belukar dan perkebunan warga. Sampai dengan saat ini, beruang tersebut masih dalam perawatan dan penanganan medis sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Sebagai langkah antisipatif ke depannya, petugas SKW II Lahat menghimbau masyarakat agar segera melapor ke perangkat desa setempat ataupun call center BKSDA Sumsel apabila menjumpai adanya pergerakan satwa liar, terutama jenis satwa dilindungi sehingga dapat segera diupayakan penyelamatannya. Ayo lebih peduli dan sayangi satwa liar. Jangan lagi pasang jerat, karena akan membuat satwa sekarat. Bila tetap pasang jerat, tunggu saja nanti ada aparat. Sumber : Julita Pitria - Balai KSDA Sumatera Selatan Call center BKSDA Sumsel : 0812-7141-2141
Baca Berita

Manfaat Nyata Kemitraan Konservasi Binaan BBKSDA Sumut

Tanjung Pura, 31 Maret 2021. Rombongan dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara menghadiri panen raya Kelompok Tani Hutan (KTH) Tumbuh Subur di Desa Tapak Kuda, Kecamatan Tanjung Pura dan KTH Indah Bersama di Desa Suka Maju, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat pada tanggal 30 Maret 2021. Keraguan yang selama ini muncul terhadap program kemitraan konservasi, terjawab sudah dengan keberhasilan serta manfaat nyata yang dirasakan oleh KTH Tumbuh Subur dan KTH Indah Bersama. Keberhasilan ini diharapkan menjadi role model dalam pengembangan kerjasama kemitraan konservasi kedepannya, khususnya di provinsi Sumatera Utara. Masyarakat menyambut kedatangan rombongan Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Dr. Ir. Hotmauli Siantur, M.Sc.For beserta jajarannya. Bermula dari areal KTH Tumbuh Subur, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara mendapat penjelasan dari ketua kelompok, Nazli, tentang kegiatan penanaman padi yang mereka lakukan beserta dengan hasil yang sudah didapatkan. Tidak jauh dari lokasi KTH Tumbuh Subur, rombongan Balai Besar KSDA Sumatera Utara pun disambut masyarakat dan ketua kelompok KTH Indah Bersama, Rajio. Di areal KTH Indah Bersama ini terlihat ratusan buah semangka yang siap untuk dipanen. Rajio, begitu semangat menjelaskan tentang upaya-upaya yang sudah dilakukan dan manfaat yang diperoleh. “Dari buah semangka ini, kami memperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 30 juta per hektar, setiap 2 bulan. Keuntungan ini tentunya sangat membantu dan mendukung perekonomian keluarga kami,” ujar Rajio Lebih lanjut, Rajio, menjelaskan bahwa kemitraan konservasi yang dibangun kelompoknya bersama dengan Balai Besar KSDA Sumatera Utara terbukti memberi dampak positif mensejahterakan anggotanya. Oleh karena itu, KTH Indah Bersama menyampaikan terima kasih kepada Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan merasa beruntung diberi kesempatan menjalin kerjasama kemitraan. Hal senada disampaikan Kepala Desa Tapak Kuda, Salahudin dan Kepala Desa Suka Maju, Saharuddin Ahmad, saat diwawancarai oleh awak media, yang menyampaikan apresiasi kepada Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara atas kerjasama kemitraan konservasi. Keduanya menyampaikan manfaat yang cukup besar dalam menambah penghasilan masyarakat yang pada umumnya berprofesi sebagai nelayan. “Sebagai nelayan ada masa tidak bisa melaut, sehingga kemitraan konservasi ini menjadi alternatif dalam mengatasi permasalahan penghasilan warga,” ujar Salahudin. Camat Kecamatan Tanjung Pura, Taufik Rieza, S.STP., M.AP., juga memuji program kemitraan konservasi dan berharap program ini tetap berlanjut sembari memohon bimbingan dan pendampingan dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Sumber : Evansus Renandi Manalu - Analis Data Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Respons Cepat Penanganan Konflik Beruang Madu Petugas Resort Siak

Pekanbaru, Senin, 29 Maret 2021. Petugas Resort Siak melakukan penanganan konflik Beruang Madu (Helarctos malayanus) yang berada di Desa Buatan II, Kecamatan Koto Gasib, Kabupaten Siak. Bermula dari laporan Kepala Desa (Kades) Desa Buatan II perihal kemunculan satwa liar beruang madu yang masuk ke pemukiman penduduk. Laporan tersebut direspons cepat petugas Resort Siak yang segera berkoordinasi dengan Kades dan petugas terkait Kecamatan Koto Gasib. Menurut informasi, beruang pertama kali muncul pada Minggu pagi, berjumlah 2 ekor di dekat kamp Pertamina Buatan. Selanjutnya, beruang terlihat kembali pada Senin pagi di Pasar Buatan, namun kali ini berjumlah 1 ekor berupa anakan yang dalam kondisi pincang. Diperkirakan anakan tersebut terpisah dari induknya dan mengarah ke komplek perumahan padat penduduk. Beruang terakhir terlihat pukul 10.00 WIB di belakang rumah salah satu warga dan mengarah ke kebun karet. Hal ini dikhawatirkan dapat membahayakan penduduk setempat. Petugas segera melakukan pengecekan ke lokasi dan menemukan jejak beruang dimaksud di belakang rumah warga. Sebagai langkah awal penanganan konflik, akan dilakukan pemasangan perangkap/kerangkeng (box trap) di lokasi kemunculan beruang tersebut. Selain itu, petugas juga mengharapkan kerjasama dan koordinasi dari segenap warga Desa Buatan II khususnya Kades untuk selalu menginformasikan apabila beruang muncul kembali. Salam konservasi! #karenakonservasitakmungkinsendiri Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Balai TN Gunung Merapi Belajar Pendampingan Masyarakat

Sleman, 30 Maret 2021. Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) menggelar Inhouse Training Pendampingan Masyarakat dengan narasumber dari Aliansi Relawan untuk Penyelamatan Alam (ARuPA) Yogyakarta, dan dari Direktorat Kawasan konservasi. Kegiatan diikuti seluruh personil di setiap Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Balai TN Gunung Merapi dan juga perwakilan personil Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) D.I Yogyakarta, dengan jumlah peserta 30 orang, yang di selenggarakan pada tanggal 30 Maret 2021, di Hotel Griya Persada, Sleman Yogyakarta. Harapannya, kegiatan ini dapat membuat sebuah rencana aksi pemberdayaan masyarakat, serta menggali kembali kemampuan dalam mendampingi masyarakat. Selain itu sharing pendapat dan pengalaman di lapangan dari peserta dan narasumber menjadi bagian pembelajaran dalam kegiatan ini. Kegiatan dibuka oleh Plt Kepala Balai TNGM, Muhammad Wahyudi, S.P, M.Sc. yang menyampaikan bahwa acara semacam ini sangat penting bagi pengelolaan TNGM maupun KSDA. Disampaikan juga bahwa peran dan keberdayaan masyarakat sangat penting, sehingga kemampuan para pendamping harus tepat, tidak hanya mengandalkan teori, harus tepat komunikasinya, termasuk kepada tokoh masyarakatnya. Sebagai informasi, Inhouse Training ini meningkatkan kembali kapasitas, sinergitas tim, serta perencanaan yang terintegrasi proses pendampingan yang nantinya akan menjadi sebuah penerapan rencana aksi para pendamping masyarakat dalam target waktu tertentu. Pendampingan masyarakat di kawasan dan sekitar kawasan konservasi saat ini menjadi sebuah keharusan. Keberadaan masyarakat disekitar kawasan dengan aktivitas ketergantungan dengan kawasan perlu disikapi bahwa keberadaan masyarakat adalah potensi sebagai mitra, sebagai keluarga pengelola, sebagai peran utama untuk bersama-sama mengelola kawasan. Dengan demikian pengelolaan kawasan akan terproteksi dan didukung secara otomatis oleh masyarakat sekitar, karena masyarakat merasa dijadikan mitra, diistilahkan orang Jawa "diuwongke". *** Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Merapi FB : Taman Nasional Merapi Twitter : @btngunungmerapi Instagram : @btngunungmerapi Call center : 081327691368
Baca Berita

Membatik Dengan Bahan Alami

Kotamobagu, 30 Maret 2021. Bertempat di Balai Desa Matayangan, Kecamatan Dumoga Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow, PIMP (Perempuan Inspiratif Mitra Polhut) dan Dharma Wanita (DW) Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (BTNBNW) melatih Ibu-ibu membuat ecoprint. PIMP adalah salah satu mitra BTNBNW yang dibentuk pada bulan November 2020 lalu. Semua anggota PIMP adalah perempuan, dengan tujuan menjadi inspirasi penggerak pemberdayaan masyarakat desa sekitar kawasan TNBNW. BTNBNW memiliki 15 PIMP yang terbagi di semua resort wilayah. Salah satu kegiatan PIMP wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) 2 Dolodo untuk memberdayakan masyarakat adalah melalui ecoprint. Ecoprint adalah salah satu teknik memberi pola pada kain dengan bahan alami. Bahan alami yang dipakai berupa daun-daun tanaman yang ada di sekitar rumah, sehingga mudah diperoleh. Desa Matayangan dipilih menjadi lokasi target pelatihan ecoprint karena Desa Matayangan adalah salah satu desa yang berbatasan langsung dengan kawasan TNBNW. Desa Matayangan adalah salah satu desa yang berada dalam kawasan TNBNW atau desa enclave. Balai TNBNW bersama mitra PIMP berinisiatif melakukan pemberdayaan masyarakat melalui ecoprint. Ibu-ibu DW dan Kepala Balai TNBNW mendukung penuh kegiatan dengan membantu pengadaan beberapa alat dan bahan praktek selain bahan yang disediakan sendiri oleh PIMP. Kepala Balai TNBNW menyampaikan bahwa Ecoprint Desa Matayangan bisa menjadi produk khas desa yang bisa dikembangkan untuk mendukung peningkatan ekonomi masyarakat sekitar TNBNW. Apalagi Desa Matayangan adalah pintu masuk Kab. Bolaang Mongondow dari sisi Selatan. "Hal ini akan mendukung Desa Matayangan yang sedang mengembangkan wisata Maleo, dimana ecoprint bisa menjadi souvernir wisata,” tambahnya. Berbekal kemampuan yang didapat dari pelatihan ecoprint, beberapa PIMP sangat handal mempraktekkan dan memandu Ibu-ibu Desa Matanyangan membuat ecoprint. Ibu Ketua DW BTNBNW terlibat langsung mendampingi kegiatan pelatihan tersebut. Fadlun Arrayan, salah satu PIMP Resort Dumoga Barat mengatakan ”Kami sangat senang bisa berbagi ilmu dengan Ibu-ibu di sini.” Kami juga akan terus berusaha mengembangkan ecoprint agar bisa bermanfaat untuk masyarakat sekitar TNBNW” imbuhnya. Ibu kepala desa yang terlibat langsung menjadi peserta sangat antusias meyambut pelatihan ini. Memperhatikan dengan seksama penjelasan dari rekan PIMP dan langsung mempraktekannya. Bahkan di akhir pelatihan, Ibu Kepala Desa mendapat bingkisan dari rekan-rekan PIMP karena hasil ecoprintnya dinilai menjadi yang terbaik diantara peserta lainnya. Semoga ecoprint bisa memberikan manfaat dan barokah bagi masyarakat sekitar kawasan TNBNW. Sumber : Aris Setyawan - Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
Baca Berita

Panen Raya Mitra Konservasi Binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Tanjung Pura, 31 Maret 2021 - Upaya Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam membangun Kerjasama kemitraan konservasi dengan beberapa Kelompok Tani Hutan (KTH) telah membuahkan hasil. Hal ini ditandai dengan panen raya yang dilakukan oleh KTH Tumbuh Subur yang berada di Desa Tapak Kuda, Kecamatan Tanjung Pura dan KTH Indah Bersama di Desa Suka Maju, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat. (30/3/2021) Sebagaimana diketahui bahwa kerjasama kemitraan konservasi Balai Besar KSDA Sumatera Utara dengan KTH Tumbuh Subur sudah dimulai pada bulan Oktober 2017, melalui perjanjian kerja sama (PKS) yang pada tahun 2020 diperbaharui dengan Adendum PKS Nomor : PKS.1224/K.3/TU/PK/3/2020 dan Nomor : 05/KT-TS/T.BKSDA/II/2020. Sedangkan PKS dengan KTH Indah Bersama dimulai pada tanggal 15 Agustus 2019 yang tertuang dalam surat Nomor : PKS.3772/K.3/TU/PK/8/2019 dan Nomor : 011/KLP-IBM/SKJ/2019. Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For selaku Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara didampingi Kepala Bagian Tata Usaha Teguh Setiawan, S.Hut., MM., Kepala Sub Bagian Program dan Kerjasama Elvina Rosinta Dewi, S.Hut. M.I.L, Kepala Sub Bagian Data, Evaluasi Pelaporan dan Kehumasan Andoko Hidayat, S.Hut., MP., Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan Amenson Girsang, S.P., serta Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat Herbert BP. Aritonang, S.Sos., MH. hadir dalam panen raya tersebut. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara saat menyaksikan panen raya, menyampaikan rasa kagum dan apresiasinya kepada kedua KTH yang telah bersungguh-sungguh melaksanakan kerjasama kemitraan konservasi sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat anggota KTH. Panen raya buah semangka, jambu air, jagung, cabai dan padi menjadi bukti keberhasilan tersebut. Jambu air yang berbuah lebat “Teman-teman wartawan, tolong dipublikasikan hasil kerja keras bapak dan ibu dari KTH Tumbuh Subur serta KTH Indah Bersama, agar masyarakat luas mengetahuinya, sekaligus menjadi contoh bagi KTH lainnya untuk berusaha dengan sungguh-sungguh guna memperoleh hasil dan manfaat seperti yang sudah dinikmati kedua KTH ini”, ujar Hotmauli. “Luar biasa, panen buah semangka ini ternyata bukan untuk yang pertama kali, tapi sudah keempat kali, dan setiap panen bapak /ibu dari KTH mampu meraup keuntungan bersih sebesar Rp. 30 (tiga puluh) juta per hektar, setiap 2 bulan. Hasil yang tentunya menggiurkan dan menjanjikan”, Lanjut Hotmauli. Hotmauli juga menjelaskan bahwa tujuan dari perjanjian kerja sama ini dimaksudkan untuk pemulihan ekosistem kawasan Suaka Margasatwa (SM) Karanggading dan Langkat Timur Laut yang rusak, upaya ini dilakukan secara bertahap dengan meningkatkan peranserta masyarakat. Selain itu, dalam masa pemulihan tersebut masyarakat juga dapat memperoleh manfaat dengan menanam tanaman produktif. Areal kegiatan kemitraan KTH Tumbuh Subur seluas 244 hektar dikelola dengan sistem agroforestry dan mempertahankan kondisi aslinya. Sedangkan pada areal kegiatan kemitraan KTH Indah Bersama seluas 207 hektar, masyarakat berencana mengganti tanaman non kehutanan seperti kelapa sawit dengan jenis tanaman kehutanan. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara.
Baca Berita

SMART Patrol Di Cagar Alam Pulau Sempu Efektifkan Pemetaan Kehati

Malang, 30 Maret 2021 – Sejumlah petugas dari Resort Konservasi Wilayah 21 dan ProFauna Indonesia melakukan patroli pengamanan bersama di Cagar Alam Pulau Sempu. (27/3/2021) Saat memasuki Teluk Sumut, Tampak seekor burung Kuntul atau Cangak Laut berdiri di gugusan karang sisi selatan teluk. Perjumpaan dengan satwa ini merupakan perjumpaan kali pertama di Cagar Alam Pulau Sempu. Kini, daftar jenis burung di Pulau Sempu bertambah menjadi 112 jenis. Data dalam daftar keanekaragaman hayati mungkin masih akan terus bertambah seiring intensitas pelaksanaan eksplorasi yang memanfaatkan Spatial Monitoring and Reporting Tools (SMART) sebagai tools pencatatan data. Perlu diketahui bahwa Cagar Alam Pulau Sempu merupakan salah satu laboratorium hutan hujan tropis dataran rendah di Pulau Jawa. Burung berukuran besar dan berwarna abu-abu gelap ini memiliki uban dan berjambul pendek. Dari Buku Atlas Burung Indonesia, pesisir Jawa timur bagian selatan merupakan habitat sebarannya. Satwa ini menghuni batu karang, hutan mangrove dan rawa. Dari data burungnesia, laporan perjumpaan di pesisir selatan Jawa Timur baru di Lumajang dan Taman Nasional Alas Purwo. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur.
Baca Berita

Revitalisasi Bufferzone Cagar Alam Manggis Gadungan Tahap III

Kediri, 28 Maret 2021. Sudah enam bulan berlalu sejak tahap pertama revitalisasi bufferzone Cagar Alam (CA) Manggis Gadungan. Sebagian besar bibit yang ditanam pada tahap pertama dan kedua tumbuh dengan baik, hanya sebagian kecil saja yang mati. Oleh karena itu pada tahap ketiga yang dilaksanakan 28 Maret 2021 ini difokuskan pada penyulaman dan perawatan bibit pohon. Lebih dari 300 relawan turut serta melaksanakan kegiatan, terdiri dari relawan GNDP, EPPI, Oleng oleng, Rante Rau, COPLAK, FPH, WWI, Pramuka Sakawanabakti serta beberapa kelompok lain. Turut hadir perwakilan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) yakni Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I kediri dan Resort Konservasi Wilayah (RKW) 03, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kediri, KPH Kediri dan CDK Wilayah Trenggalek. Bahkan yang mengejutkan anggota Pokmaswas Pantai Taman Kili-Kili Desa Wonocoyo Panggul Trenggalek pun ikut hadir. Kegiatan diawali dengan apel dan pengarahan peserta lalu dilanjutkan dengan kegiatan utama yaitu penyulaman, penanaman dan pemupukan. Menurut Nur Muhammad Daru, Plh. SKW I Kediri guna penyulaman tersebut para relawan dan stakeholder telah menyiapkan beberapa jenis bibit yang disesuaikan jenisnya dengan revitalisasi I dan II. “Ada Gondang, Trembesi, Keluwak, Kemiri, Doyo, Kalpataru, Asem Jawa, Beringin, Kedawung, Kepuh, Gayam, Juwet, Nyamplung, Mahoni, dan Pule,” tambah Daru. Bufferzone seluas 40 hektar dan mengelilingi CA. Manggis Gadungan sejatinya merupakan kawasan Perum Perhutani yang diperuntukkan sebagai zona penyangga kawasan konservasi. Diharapkan dengan kegiatan ini, bibit tanaman yang ditanam di bufferzone dapat tumbuh dengan baik dan hutan alam sekunder sebagai penyangga CA Manggis Gadungan dapat terwujud. Siti Nurlaili, S.Si. - Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 2.433–2.448 dari 11.141 publikasi