Minggu, 17 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Kerjasama Para Pihak Mitigasi Konflik Gajah Sumatera Di Kabupaten Pelalawan

Pekanbaru, 12 April 2021 - Balai Besar KSDA Riau bersama dengan para pihak melakukan penanganan konflik Gajah Sumatera yang terdapat di Dusun Tambun, Kelurahan Pangkalan Lesung, Kecamatan Pangkalan Lesung, Kabupaten Pelalawan pada Jumat, 9 April 2021. Secara bersama – sama, tim gabungan melakukan penyisiran terhadap satwa Gajah sumatera yang ditemukan di hutan dekat kebun masyarakat dusun Tambun. Tim melakukan penggiringan bersama masyarakat dusun Tambun, namun Gajah tidak mau keluar dari hutan yang luasnya kurang lebih 2 hektar tersebut. Gajah hanya bergerak berputar-putar saja. Hingga hampi tengah malam, Tim bersama masyarakat dusun Tambun (sekitar 40 orang) melanjutkan pengiringan Gajah untuk diarahkan ke sungai/batang Napuh Hilir. Hasilnya satwa bergerak ke tepi batang Napuh Hilir, tetapi Tim kehilangan jejak karena situasi sungai sedang banjir. Saat ini Tim memperkirakan Gajah sudah menyeberang ke batang Napuh Hilir karena jejak terakhir dipinggir sungai yang hanya berjarak kurang lebih 10 meter dari tepi sungai tersebut. Untuk memastikan, Tim kembali mengecek di hulu dan di hilir sungai namun tidak menemukan jejak Gajah baru yang memutar berbalik kebelakang. Sebagai informasi, Tim gabungan terdiri dari petugas Seksi Konservasi Wilayah I Balai Besar KSDA Riau, personil Yayasan TNTN, PT. Musim Mas dan beberapa anggota masyarakat yang berkoordinasi dengan Kapolsek Pangkalan Lesung, Ketua RW, dan Tokoh Pemuda Pangkalan Lesung. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Masyarakat Cagar Alam Gunung Nyiut Barter Puluhan Senjata Dengan Program Pemberdayaan

Pontianak, 12 April 2021 - Sebuah langkah maju telah disepakati dalam menunjang pengelolaan kawasan konservasi oleh masyarakat sekitar kawasan Cagar Alam Gunung Nyiut dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat. Balai KSDA Kalimantan Barat kembali menerima penyerahan secara sukarela senjata api rakitan jenis lantak dan bomen dari masyarakat yang ke dua kalinya selama 3 hari berturut-turut dari tanggal 6 s/d 8 April 2021, Program pertukaran senjata dengan program pemberdayaan masyarakat berkaitan dengan peningkatan perekonomian, senjata-senjata ini biasanya dipergunakan masyarakat untuk berburu di kawasan hutan termasuk di kawasan Cagar Alam Gunung Nyiut. Masyarakat secara sukarela menyerahkan puluhan senjatanya kepada pihak Polsek Tujuh Belas yang disaksikan oleh Balai KSDA Kalimantan Barat, Kepala Desa Pisak, Camat Tujuh Belas, Koramil Tujuh Belas serta Yayasan Planet Indonesia (YPI) sebagai mitra Balai KSDA di gedung balai pertemuan Dusun Dawar Desa Pisak Kecamatan Tujuh Belas Kab. Bengkayang. Sedikitnya terdapat 15 pucuk senjata yang diterima dari Dusun Dawar Desa Pisak. Selain dari Dusun Dawar, di hari berikutnya juga terkumpul sebanyak 20 senjata dari RT. 04 Dusun Mensibu dan RT.03 Dusun Umbo, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang. Sehingga total keseluruhan senjata yang diserahkan secara sukarela sebanyak 35 pucuk senjata. Sadtata Noor Adirahmanta, S. Hut, M.T selaku Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, menghadiri langsung acara serah terima senjata. Beliau pun mengungkapkan apresiasi kepada YPI yang telah mendukung program ini. “Terbentuknya ruang diolog yang cair antara pengelola dan masyarakat akan mampu menemukan jawaban atas semua permasalahan dalam pengelolaan kawasan konservasi. Penyerahan secara sukarela senpi rakitan ini merupakan bukti nyata bahwa solusi masalah dapat diwujudkan melalui dialog. Ini merupakan langkah awal yang baik dalam upaya pengelolaan Cagar Alam Gunung Nyiut secara kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat” ungkapnya. Kesadaran masyarakat dalam turut serta menjaga kelestarian kawasan konservasi, khususnya di Cagar Alam Gunung Nyiut semakin meningkat. Terbukti selama dua tahun terakhir sebanyak 150 pucuk senjata telah diserahkan oleh masyarakat dari berbagai wilayah untuk ditukarkan dengan “Program Usaha Masyarakat Konservasi”. Pendekatan petugas Balai KSDA Kalimantan Barat yang didukung YPI dalam merubah pola pikir masyarakat adalah kunci keberhasilannya. Work Fun, Stay Productive Sumber : BKSDA Kalimantan Barat.
Baca Berita

BKSDA Maluku Amankan Dua Ekor Burung Dilindungi

Ambon, 13 April 2021. Petugas Pos Pelabuhan Yos Sudarso, Resort Pulau Ambon Balai KSDA Maluku berhasil mengamankan 1 ekor burung Nuri Maluku (Eos Bornea) dan 1 ekor Burung Kakatua Jambul Kuning (Cacatua galerita triton) pada Selasa silam (30/03/2021). Kedua burung tersebut ditemukan dari hasil pemeriksaan terhadap penumpang dan barang yang turun dan berada di atas Kapal Pelni KM Tidar yang baru tiba dari Fak-Fak, Dobo dan Tual. Saat ini burung tersebut telah diamankan di kandang transit Passo. Sumber : Meity Pattipawaej, S. Hut – Kepala SKW II Masohi Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Bantuan Dana Kelompok Kemitraan Konservasi di SM Kuala Lupak

TABUNGANEN, 6 APRIL 2021 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (Balai KSDA Kalsel) kembali menyalurkan bantuan dana kemitraan konservasi kepada kelompok masyarakat di sekitar kawasan konservasi (06/04). Kegiatan ini dilakukan dalam rangka pengembangan pemberdayaan masyarakat sekaligus sebagai upaya mendukung peningkatan ekonomi khususnya bagi masyarakat sekitar kawasan konservasi. Penerima bantuan dana kali ini adalah Kelompok Kemitraan Konservasi “Mandiri Bersama” Desa Sungai Telan Besar dan Kelompok Kemitraan Konservasi “Suka Maju” Desa Kuala Lupak dengan jenis kegiatan usaha berupa penanaman bakau dan budidaya kepiting. Kegiatan ini diadakan di salah satu tambak milik anggota kelompok, di Sungai Ladung Suaka Margasatwa (SM) Kuala Lupak. Penyerahan bantuan dana diserahkan langsung oleh Kepala Balai KSDA Kalsel didampingi oleh Kepala Sub Bag. Tata Usaha, Kepala SKW II Banjarbaru, beserta Kepala Resort KSDA SM Kuala Lupak dan SM Pulau Kaget. Kelompok penerima bantuan dana diwakili oleh ketua masing-masing kelompok kemitraan konservasi. “Bantuan dana pada tahun kedua ini diserahkan kepada kelompok kemitraan konservasi karena keberadaan kelompok ini berdasarkan penilaian kami dapat berkembang dengan jenis usaha yang telah dijalankan. Diharapkan dengan bantuan dana ini jenis usaha kelompok dapat lebih berkembang dan memberikan dampak ekonomi kepada seluruh anggota kelompok dan masyarakat desa”, ucap Kepala Balai KSDA Kalsel, Dr. Ir. Mahrus Aryadi di sela kegiatan penyerahan bantuan. Kepala Balai juga berpesan agar dana dari Pemerintah Republik Indonesia dapat dimanfaatkan secara terencana, efisien, dan transparan serta dilakukan penghitungan terperinci atas kegiatan usaha yang dijalankan sehingga dapat diketahui manfaat secara ekonominya. “Kegiatan pemberdayaan masyarakat tidak hanya membuka peluang usaha bagi sebuah kelompok namun juga diharapkan peluang tersebut dapat dimanfaatkan setiap individu anggota kelompok. Kedepannya manfaat dan peluang tersebut juga diharapkan dapat menyebar ke seluruh lapisan masyarakat melalui kelompok dan kegiatan usaha lainnya,” tambahnya. Pada kesempatan tersebut, Kepala Balai juga melakukan panen kepiting di salah satu lokasi budidaya kepiting yang memperoleh bantuan pada tahun sebelumnya. Serangkaian kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat hubungan Balai KSDA Kalsel dengan masyarakat untuk mendukung pengamanan kawasan konservasi khususnya di SM Kuala Lupak. (ryn) Salam Bekantan !!! Sumber & Dokumentasi : Cecep Budiarto, S.Hut (Penyuluh Kehutanan Balai KSDA Kalsel, SKW II Banjarbaru)
Baca Berita

TWA Sungai Dumai Dikunjungi Menteri Dan Wakil Menteri LHK

Pekanbaru, 12 April 2021 - Pada Sabtu, 10 April 2021, Balai Besar KSDA Riau, pengelola UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Provinsi Riau dan Pemerintah Kota serta masyarakat Dumai menyambut kehadiran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Ibu Siti Nurbaya dan Wakil Menteri Bapak Alue Dohong bersama jajarannya di Taman Wisata Alam (TWA) Sungai Dumai, Kota Dumai. Setelah dijamu oleh Walikota Dumai, Bapak Paisal di rumah dinas serta beberapa rangkaian acara lainnya, Menteri LHK ibu Siti Nurbaya Bakar dan Wakil Menteri bapak Alue Dohong mengunjungi kawasan konservasi TWA Sungai Dumai. Kunjungan ini adalah kunjungan perdana beliau kesana. Di TWA Sungai Dumai, Ibu Menteri mendengarkan paparan tentang potensi kawasan konservasi tersebut yang disampaikan Kepala Balai Besar KSDA Riau, Bapak Suharyono. Bu Menteri dan Bapak Wakil Menteri juga berbincang dengan para pecinta alam Dumai serta berdiskusi langsung dengan Kelompok Tani Hutan Waleed Kelulut binaan Balai Besar KSDA Riau. Bahkan, bapak Wamen berkenan mencoba madu kelulut langsung dari sarangnya. Ibu Menteri berpesan, agar sarana dan prasarana di TWA Sungai Dumai lebih ditingkatkan untuk promosi wisata alam. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Dirawat Sejak Anakan, Elang Ular Bido Hasil Evakuasi BBKSDA Sumut Tidak Bisa Terbang

Medan, 12 April 2021. Bermula pada April 2020, Daniel Bangun menemukan satu ekor anakan burung yang tidak diketahui jenisnya di tempat kerja yang bersangkutan di Provinsi Riau. Kemudian burung tersebut dibawa pulang ke Langkat Sumatera Utara dan dipelihara di rumahnya. Hari berganti hari, setelah kurang lebih 1 tahun dan sudah mulai tumbuh bulu-bulu pada burung, Daniel mencari informasi jenis burung apa yang telah ditemukannya. Ternyata burung yang ditemukan dan dipeliharanya adalah burung Elang Ular Bido (Spilornis cheela). Daniel mulai mencari informasi jenis burung Elang Ular Bido (Spilornis cheela) dari internet, dan mengetahui bahwa ternyata burung tersebut jenis dilindungi. Kemudian yang bersangkutan menghubungi temannya M. Nurwansyah sesama pecinta hewan, dan menyarankan Daniel untuk menyerahkan burung tersebut kepada pihak/instansi yang berwenang. M Nurwansyah segera menghubungi aktivis konservasi, lalu diarahkan ke petugas Polhut Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Petugas BBTNGL dengan tanggap meneruskannya ke TRRC Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Pada Jumat, 9 April 2021, Tim TRRC BBKSDA Sumutera Utara bersama dengan Polhut dari BBTNGL langsung bergerak menuju rumah Daniel Bangun yang berlokasi di Kabupaten Langkat untuk mengevakuasi burung Elang Ular Bido (Spilornis cheela). Dari hasil pemeriksaan sementara oleh Tim, burung dalam kondisi sehat hanya saja karena sudah lama dipelihara tidak bisa terbang dan hanya melompat. Kemudian burung tersebut dititipkan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit untuk mendapatkan perawatan dan rehabilitasi sehingga nantinya bisa dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Sumber : M. Ali Iqbal Nasution - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

BKSDA Maluku Bentuk MPA di Tiga Desa Penyangga

Ambon, 13 April 2021. Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III Saumlaki Balai KSDA Maluku bersama Balai PPIKHL Wilayah Maluku Papua (Selasa, 30/03/2021) telah melakukan pembentukan 3 (tiga) kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) di Kec.Tanimbar Utara Kab. Kepulauan Tanimbar Provinsi Maluku. Kelompok ini dibentuk di 3 (tiga) desa penyangga kawasan konservasi, yaitu Desa Ridool, Desa Keliobar dan Desa Watidal. Kegiatan ini dihadiri oleh Camat Tanimbar Utara, Kapolsek Tanimbar Utara, para Pejabat/Kepala Desa, serta 45 anggota kelompok dari 3 kelompok MPA di 3 desa tersebut. Sumber : Franston L. Kunu – POLHUT SKW III Saumlaki Balai KSDA Maluku
Baca Berita

BBKSDA Jawa Timur Terima Translokasi 7 Ekor Lutung Budeng

Malang, 8 April 2021 – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, Resort Konservasi Wilayah (RKW) 22 Malang menerima translokasi 7 ekor Lutung budeng (Trachypithecus auratus) dari BBKSDA Jawa Barat. Lutung budeng yang diterima terdiri dari 3 ekor berjenis kelamin jantan dan 4 ekor berjenis kelamin betina. Satwa-satwa tersebut sebelumnya merupakan satwa hasil penyerahan dan hasil penyitaan yang sudah Inkrah proses hukumnya dari wilayah Jawa Barat dan DKI Jakarta. Lutung budeng yang ditranslokasikan telah melalui serangkaian proses pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan administrasi dan sudah mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal KSDAE. Hasil pemeriksaan kesehatan, menunjukkan bahwa semua Lutung budeng dalam kondisi sehat, terbebas dari bahaya penyakit menular, dan sudah dilakukan pemasangan Microchip Transponder pada masing-masing individu. Sebelumnya Lutung Budeng ini ditampung pada Javan Primate Rehabilitation Center (JPRC) / Pusat Rehabilitasi Primata Jawa dikawasan Patuha Bandung Selatan Jawa Barat. Translokasi ini dilakukan karena berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan pemeriksaan fisik menunjukkan bahwa 7 ekor Lutung budeng tersebut merupakan Lutung-lutung yang berasal dari kawasan hutan di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Proses translokasi dari Jawa Barat ke Jawa Timur menggunakan transportasi darat Kereta Api Malabar, dikawal oleh petugas dari Balai Besar KSDA Jawa Barat bersama petugas JPRC dan dilengkapi dengan Surat Angkutan Tumbuhan Dan Satwa Liar Dalam Negeri (SATS-DN). Setibanya di Stasiun Kota Malang, satwa langsung dibawa oleh petugas Balai Besar KSDA Jawa Timur untuk dititipkan dan direhabilitasi ke Pusat Rehabilitasi Lutung Jawa di Coban Talu Batu, yang dikelola oleh The Aspinall Foundation Indonesian Program (TAF-IP). Satwa tersebut akan melalui serangkaian proses rehabilitasi terlebih dahulu sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya. Lutung budeng merupakan salah satu jenis Primata endemik yang dimiliki Indonesia dan hanya terdapat di Pulau Jawa. Lutung Budeng sudah dikategorikan sebagai satwa yang dilindungi Negara berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 733/Kpts-11/1999 tentang Penetapan Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) sebagai Satwa Dilindungi. Keputusan tersebut diperkuat dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Sumber : Hari Purnomo - Polisi Kehutanan Madya Balai Besar KSDA Jatim
Baca Berita

Menulusuri Sarang Orangutan di TANAGUPA

Kayong Utara, 12 April 2021. Untuk mengetahui keberadaan Orangutan di lokasi Hutan Rawa Gambut yang termasuk ke dalam wilayah desa Sedahan Jaya Kecamatan Sukadana Kabupaten Kayong Utara pada tanggal 17 Maret sampai dengan 24 Maret 2021, tim Pengendali Ekosistem Hutan Balai Taman Nasional Gunung Palung beserta masyarakat melakukan monitoring populasi Orangutan di lokasi tersebut. Adapun metode yang digunakan adalah metode Line transect survey. Jumlah transek sebanyak 4 pada masing-masing transek dengan panjang transek 1 km dan lebar antar transek 200 m. Pencarian sarang dilakukan dengan berjalan menelusuri transek yang di mulai pada titik awal dan mengikuti arah jalur transek. Setiap penemuan sarang orangutan di catat kedalam Thally sheet dan diberi tanda (tagging) pada bagian pohon yang dijadikan sarang bagi orangutan agar tidak terjadi pengulangan pengambilan data. Pengambilan data primer perilaku bersarang Orangutan berupa data jumlah sarang, karakteristik sarang, tinggi sarang, tinggi pohon, jenis pohon dan diameter, batang pohon sarang yang ada di lokasi tersebut. Hasil monitoring Orangutan kali ini didapatkan bahwa jumlah sarang pada keempat transek sebanyak 69 sarang, didominasi Kelas Sarang C, yaitu sarang dengan kondisi semua daunnya sudah coklat sebanyak 27 sarang, diikuti kelas D yaitu alas sarangnya sudah berlubang dan bentuknya kurang utuh. Sedangkan kepadatan populasi Orangutan adalah 1,839 ekor/km². Sebagai informasi, kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), yang didominasi oleh hutan dataran rendah merupakan habitat yang penting untuk sub populasi Orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii). Salah satu habitat di Kawasan TANAGUPA yang sering ditemukan keberadaan populasi Orangutan yaitu hutan rawa gambut. Orangutan merupakan satwa semi soliter yang cenderung hidup sendiri dan memiliki pergerakan yang lambat dalam rimbunan pohon-pohon di hutan. Bersarang merupakan aktivitas yang penting bagi kehidupan orangutan karena sarang mempunyai fungsi tertentu untuk menunjang aktivitas harian orangutan. Sumber : Siti Roqayah, S.Si - PEH Ahli Pertama Balai Taman Nasional Gunung Palung
Baca Berita

65 Ekor Satwa Hasil Sitaan Dilepasliarkan BKSDA Maluku

Ambon, 13 April 2021. Kepala Balai KSDA Maluku, Bapak Danny H. Pattipeilohy, S.Pi., M.Si., bersama-sama dengan personil Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ternate melaksanakan pelepasliaran satwa liar dilindungi di Bukit Tanah Putih, Desa Domato, Kec. Jailolo Selatan, Kab.Halmahera Barat (30/03/2021). Satwa yang dilepasliarkan berjumlah 65 ekor yang terdiri dari: 16 ekor Kakatua Putih (Cacatua alba); 31 ekor Kasturi Ternate (Lorius garrulus); 3 ekor Nuri Kalung Ungu (Eos squamata); dan 15 ekor Nuri Bayan (Eclectus roratus). Satwa terebut merupakan hasil sitaan, temuan, penyerahan dari TNI, POLRI, Masyarakat, serta hasil pengamanan petugas Polhut SKW I Ternate-BKSDA Maluku. Sebelum dilepasliarkan, satwa-satwa tersebut telah menjalani proses rehabilitasi di Kandang Transit SKW I Ternate selama ± 4 bulan, pemeriksaan kesehatan oleh dokter hewan dan dinyatakan sehat, serta menjalani proses habituasi selama dua (2) hari. Kepala Balai mengatakan bahwa, “Kegiatan pelepasliaran ini merupakan sebuah aksi konservasi yang dilakukan dalam rangka menyongsong Hari Konservasi Alam Nasional, yang mana setiap tahun dirayakan pada tanggal 10 Agustus. Satwa-satwa liar ini merupakan warisan sehingga diharapkan keterlibatan seluruh pihak terkait untuk menjaga dan melestarikannya. Oleh karena itu, apabila ditemukan indikasi pengumpulan satwa liar dalam jumlah besar dapat dilaporkan kepada petugas untuk dapat melakukan penindakan”. Sebagai informasi, kegiatan juga dihadiri Balai Karantina Pertanian Kelas II Ternate, Camat Jailolo Selatan, Danramil Jailolo Selatan, Kapolsek Jailolo Selatan, Perwakilan KPH Halmahera Barat, Kepala Desa Domato serta seluruh personil SKW I Ternate. Sumber : Raj Perkasa Alam, A.Md – Polhut SKW I Ternate Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Seratus Vanda tricolor Direlokasi di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi

Klaten, 8 April 2021. Anggrek Vanda tricolor yang menjadi ikon Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), mulai menipis keberadaannya di alam karena berbagai faktor. Hal ini menjadi keprihatinan Balai TNGM serta masyarakat di sekitar kawasan konservasi. Sehingga Komunitas Akar Bibi sebagai organisasi yang berperan aktif dalam kegiatan sosial dan budaya di lingkup Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten menginisiasi kegiatan relokasi anggrek khas Merapi ini. Masyarakat Desa Tegalmulyo ikut berperan aktif secara menyeluruh mulai dari persiapan, pelaksanaan hingga rencana pengawasan dan perawatan. Kegiatan juga di dukung penuh Pemerintah Desa Tegalmulyo, Masyarakat Mitra Polhut, Masyarakat Peduli Api, SAR Sapuangin dan Balai TNGM. Relokasi Anggrek Merapi Vanda tricolor yang dilaksanakan pada Kamis, 8 April 2021 difokuskan 4 titik lokasi utama kawasan TNGM dengan wilayah administrasi Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang dan Kabupaten Klaten. Lokasi ini meliputi 33 lokasi sanggeman/perumputan warga Desa Tegalmulyo yang juga akan ikut merawat dan menjaga Anggrek hasil relokasi ini. Melalui kegiatan ini warga masyarakat Desa Tegalmulyo telah melakukan upaya konservasi melalui pemulihan ekosistem sebagai wujud salah satu pemenuhan kewajiban kerjasama Kemitraan Konservasi. Pengawasan dan pemeliharaan anggrek yang telah direlokasi akan dilakukan secara bersama-sama, terutama oleh masyarakat perumput yang menjadi lokasi relokasi. Pelaksana tugas (Plt) Kepala Balai, Muhammad Wahyudi, S.P, MSc., menyatakan sebanyak 100 bibit anggrek yang direlokasi merupakan hasil donasi dari 43 warga Tegalmulyo yang merupakan pemanfaat akses rumput dan sudah tergabung dalam PKS Kemitraan Konservasi antara Balai TNGM - Pemerintah Desa Tegalmulyo. Hal lur biasa inilah yang harus menjadi perhatian untuk TNGM sebagai upaya untuk mendukung konservasi. Wahyudi juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada masyarakat Desa Tegalmulyo dan Akar Bibi. "Ke depannya Sapuangin, Desa Tegalmulyo dapat dikembangkan menjadi obyek daya tarik wisata alam untuk minat khusus, untuk mendukung peningkatan ekonomi masyarakat sekitar kawasan konservasi" pungkas Wahyudi. Dalam kesempatan ini hadir dan berpartispasi aktif dalam kegiatan ini, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Ketua Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Yogyakarta, perwakilan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, perwakilan Kagama Orchid, Camat Kemalang, Kepala Desa Tegalmulyo, Babinsa Tegalmulyo Kemalang, anggota Akar Bibi, masyarakat Desa Tegalmulyo, serta Mapala Silvagama Fakultas Kehutanan UGM. *** Sumber : Titin Septiana Rahmawati - PEH Balai Taman Nasional Gunung Merapi Penanggung jawab : Muhammad Wahyudi, S.P, MSc. (Plt) Kepala Balai FB : Taman Nasional Merapi Twitter : @btngunungmerapi Instagram : @btngunungmerapi Call center : 081327691368
Baca Berita

Sudah Dimusnahkan, BBKSDA Riau Buru Pelaku Penanaman Sawit

Pekanbaru, 9 April 2021. Petugas Resort Duri Balai Besar KSDA Riau melakukan patroli pengamanan hutan dan perlindungan kawasan konservasi di Suaka Margasatwa (SM) Balai Raja pada Rabu, 7 April 2021 dengan pemusnahan seluruh sawit. Sawit yang dimusnahkan sebelumnya sudah pernah dimusnahkan dan kemudian ditanam kembali oleh pelaku di lokasi yang sama di sekitar Hutan Talang kawasan konservasi SM Balai Raja. Pelaku yang tidak mengenal jera, juga melakukan penebangan beberapa pohon kayu di lokasi. Setelah melakukan pemusnahan, Tim kembali melanjutkan patroli serta pengecekan tanaman ke lokasi penanaman di sekitar kawasan Hutan Talang, kondisi bibit yang ditanam saat itu sekarang sudah dipenuhi rerumputan dan beberapa tempat ditemui bibit yang sudah mati. Kemudian Tim memutuskan untuk melakukan perawatan pada lokasi penanaman dengan membersihkan rumput, pemberian pupuk dan penyulaman bibit kembali. Saat ini, Tim masih melakukan pencarian terhadap pelaku yang menanam kembali sawit. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Kerjasama Living Boundary di 20 Desa Sekitar Kawasan TN Lore Lindu

Palu, 9 April 2012. Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) sebagai sebuah kawasan konservasi memiliki peran penting dalam menjaga dan memelihara keberlanjutan fungsi-fungsi ekosistem hutan di wilayah Kabupaten Sigi dan Poso. Melalui keberadaannya, TNLL berupaya agar memberikan manfaat bagi masyarakat yang berdomisili di sekitar kawasan. Upaya yang dilakukan Balai Besar TN Lore Lindu (BBTNLL) sebagai pengelola kawasan ini diantaranya melaksanakan kegiatan penanaman batas hdup (Living Boundary) di 20 desa sekitar kawasan TNLL yang terbagi di Kab. Sigi, yaitu Desa Karunia, Sintuwu, Tongoa, Bulili, Kadidia, Langko, Ollu, Tomado, Anca dan Puroo. Sedangkan di Kab. Poso, yaitu Desa Tuare, Kageroa, Lengkeka, Kolori, Lelio, Dodolo, Kaduwaa, Sedoa, Watumaeta dan Wuasa. Penanaman batas hidup bertujuan untuk memperjelas batas antara TNLL dengan lokasi di sekitarnya untuk mendukung integritas kawasan taman nasional. Selain memberikan legitimasi batas kawasan sekaligus dapat memberikan kontribusi ekonomi melalui pemilihan jenis tanaman yang menghasilkan hasil hutan bukan kayu (HHBK) kepada masyarakat juga mendukung program pemulihan ekosistem (PE) di kawasan TN Lore Lindu. Sebelum melakukan kegiatan penanaman batas hidup, pihak BBTNLL beberapa waktu sebelumnya melakukan prakondisi melalui kegiatan fasilitasi penanaman batas hidup di masing-masing desa dan penandatanganan surat perjanjian kerjasama penanaman batas hidup dengan 20 desa di Kantor BBTNLL Palu yang disaksikan Kepala Balai Besar TNLL, Ir. Jusman dan pihak Forest Program III Sulawesi (FP III). Batas hidup (living boundary) dibangun sepanjang ± 5.000 meter atau 5 Ha di setiap desa lokasi Kemitraan Konservasi melalui pemberdayaan masyarakat di TNLL yang tertuang terlebih dahulu dengan Perjanjian Kerjasama (PKS) diantara BBTNLL dengan des-desa sekitar kawasan. Pemilihan jenis pohon secara partisipatif. Jenis pohon pada kegiatan ini adalah pohon asli TNLL dan multi purpose tree species (MPTS) seperti kemiri, alpukat, durian dan lainnya yang dapat dimanfaatkan hasilnya oleh masyarakat dan memenuhi unsur kehutanan. Implementasi penataan batas kawasan TN Lore Lindu ini menggunakan model Wanatani (Agroforestry) yang telah didiskusikan dengan masyarakat supaya dalam pengelolaan ada kolaborasi atau keterlibatan masyarakat dan menumbuhkan rasa kepemilikan (ownership). Melalui penanaman batas hidup yang melibatkan masyarakat desa-desa sekitar kawasan TNLL ini, diharapkan mampu untuk mendukung pemantapan kawasan, pemulihan ekosistem dan kemitraan konservasi masyarakat antara TNLL dengan masyarakat desa sekitar kawasan sehingga terjalin sinergitas pengelolaan kawasan TNLL yang partisipatif. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu
Baca Berita

Penutupan Kembali Objek Wisata Alam Air Tejun Lapopu

Waikabubak, 9 April 2021. Badai siklon Seroja yang terjadi beberapa hari lalu di Nusa Tenggara Timur saat ini sudah menjauh, namun ternyata dampak yang ditimbulkan luar biasa. Jembatan penghubung di objek wisata alam Air Terjun Lapopu di Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) yang minggu lalu baru selesai diperbaiki kembali rubuh akibat tersapu derasnya air sungai. Terkait dengan rubuhnya jembatan ini, Kepala Balai TN Matalawa, Ir. Memen Suparman, M.M., telah mengeluarkan pengumuman untuk menutup kawasan sementara waktu hingga jembatan selesai diperbaiki dan dapat dilalui pengunjung. Koordinasi terkait penutupan ini juga dilakukan dengan Pemerintah Kabupaten Sumba Barat oleh Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Waibakul, Abdul Basit Nasriyanto, S.Hut, M.Sc. Abdul Basit yang berkunjung ke Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumba Barat menyampaikan kondisi terkini Air Terjun Lapopu kepada Kepala Dinas. Selain itu, disampaikan pula kondisi sarana dan prasarana di luar kawasan objek wisata yang memerlukan peningkatan kualitas sehingga objek wisata yang menjadi unggulan di Kabupaten Sumba Barat ini tetap nyaman dikunjungi oleh wisatawan. Hal lain yang dilaporkan adalah tetap terlaksananya protokol pencegahan COVID-19 selama berkunjung di Lapopu guna menekan laju penyebaran wabah virus corona. Dalam kegiatan koordinasi ini, Kepala SPTN I juga memberikan buku Informasi Wisata TN Matalawa dan Sekitarnya serta masker kain Matalawa. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Dampak Siklon Seroja di TN Matalawa

Waingapu, 8 April 2021. Badai tropis siklon seroja yang terjadi beberapa hari lalu di sebagian wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki dampak yang luar biasa. Di Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, tempat kantor Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) berada, debit air di sungai meningkat drastis serta menyapu bangunan yang ada di pinggir sungai. Tidak hanya itu, pohon-pohon pun bertumbangan dan menutup akses jalan. Sedikitnya 10 pegawai TN Matalawa yang tinggal di sekitar Kota Waingapu ikut terkena dampak dan beberapa pegawai terpaksa mengungsi ke tetangga atau tempat yang lebih tinggi untuk menghindari terjangan banjir. Balai TN Matalawa dengan sigap membantu proses evakuasi pegawai dan lingkungan di sekitarnya ke tempat yang lebih aman serta memberikan bantuan logistik makanan, pakaian, dan bahan kebutuhan sehari-hari lainnya. Kondisi kantor Balai TN Matalawa yang terletak di Kota Waingapu relatif aman walaupun ada beberapa dahan pohon yang patah serta atap seng yang terlepas. Lain halnya dengan kawasan Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III yang sebagian kawasannya berada di bagian Selatan Pulau Sumba dan dekat dengan pusat siklon. Hingga saat ini, kondisi jalan menuju kawasan tersebut hanya dapat dilalui dengan motor. Tidak hanya itu, siklon Seroja juga meluluhlantakkan jalur yang melintasi kawasan TN Matalawa yang menjadi objek vital di Pulau Sumba yakni Hutan Tanah Daru di Kabupaten Sumba Tengah. Jalur ini menjadi satu-satunya jalan penghubung antar kabupaten yang kemarin sempat tersendat akibat longsor di beberapa titik. Dengan kerjasama yang baik antara Balai TN Matalawa dan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) X Kupang, longsor dapat dengan cepat ditangani dan jalan kembali dapat dilalui. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Ribang, Leon dan Viko Kembali ke Alam Liar

Padua Mendalam, 7 April 2021 - Sebanyak 3 individu Orangutan berhasil dilepasliarkan di Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK), pelepasliaran ini merupakan bagian dari kerjasama antara Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) dengan Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang (YPOS). Lokasi pelepasliaran dilaksanakan di wilayah kerja Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Padua Mendalam, Resort Nanga Hovat tepatnya di Hutan Blok Sungai Rongun Sub DAS Mendalam yang secara administratif lokasi pelepasliaran masuk wilayah Desa Datah Dian, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Individu Orangutan yang dilepasliarkan bernama “Ribang” berjenis kelamin Jantan, “Leon” berjenis kelamin jantan dan “Viko” berjenis kelamin betina. Spesis Ketiga Individu Orangutan tersebut dengan jenis Pongo pygmaeus. Ketiga Individu Orangutan merupakan hasil penyerahan masyarakat yang di rescue oleh YPOS dari Kabupaten Katingan, Kalimanatan Tengah dan Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat antara 2013 hingga 2015. Pelepasliaran kali ini merupakan pelepasliaran putaran ke-7 (tujuh) di Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun Sub DAS Mendalam. Mulai dari tahun 2017 sampai tahun 2021 sekarang ini sudah dilakukan pelepasliaran sebanyak 13 individu, ditambah dengan ketiga Individu Orangutan ini menjadi 16 individu Orangutan. Kegiatan pelepasliaran ini merupakan upaya untuk meningkatkan jumlah populasi orangutan yang sudah terancam punah sehingga perlu dipastikan Individu Orangutan yang dilepasliarkan tersebut dapat bertahan hidup. Individu Orangutan yang dilepasliarkan ini sudah melalui tahap pemeriksaan kesehatan agar bebas dari penyakit menular, diantaranya yaitu: HIV, TBC, Hepatitis dan Covid-19. Selanjutnya untuk memastikan perkembangan Individu Orangutan yang telah dilepasliarkan ini maka akan dilakukan monitoring orangutan pasca pelepasliaran yang akan dilakukan oleh petugas dari TNBK dan YPOS. Kepala Balai Besar TaNa Bentarum, Ir. Arief Mahmud, M.Si menjelaskan bahwa dengan kegiatan pelepasliaran ini dapat meningkatnya populasi Orangutan di kawasan TNBK sehingga ekosistem hutan akan lebih terjaga. “Orangutan tempatnya bukan di rumah bersama manusia tetapi rumahnya ada di dalam hutan, TNBK merupakan rumah yang ideal bagi Orangutan untuk bisa hidup dan berkembangbiak” tambahnya. Setiap Petugas yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan Pelepasliaran maupun Monitoring Pasca pelepasliaran tetap melaksanakan Disiplin Protokol Kesehatan dengan 3 M (Mencuci Tangan, Memakai Masker, dan Menjaga Jarak). Selain itu juga jumlah petugas dibatasi dan tidak melibatkan kerumunan banyak orang. Setiap pelaksanaan kegiatan akan dilakukan pengecekan suhu tubuh dan diberikan nutrisi dan vitamin untuk menjaga imunitas tubuh agar selalu bugar dan sehat selama kegiatan pelepasliaran maupun pasca pelepasliaran yang akan dilakukan. Sumber: Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum

Menampilkan 2.417–2.432 dari 11.141 publikasi