Senin, 15 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Burung Kacer Hasil Operasi Dilepasliarkan

Pekanbaru, 7 September 2021 - Balai Besar KSDA Riau melepasliarkan burung jenis kacer ke habitatnya, yaitu kawasan hutan terdekat di Kabupaten Siak, Jumat (3/9). Burung - burung tersebut merupakan titipan Barang Bukti (BB) hasil operasi Korps Polisi Perairan dan Udara (Korpolairud) Baharkam Polri di kawasan Pelabuhan Lalang, Sungai Apit sekitar 1200 ekor, Kamis (2/9). Memperhatikan kelangsungan hidupnya yang rawan kematian, maka burung kacer tersebut segera dilakukan pelepasliaran. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Agar Lebih Aktif & Produktif, BBKSDA Riau Serahkan 4 Ekor Sapi Untuk Kelompok Tani Binaan

Pekanbaru, 5 September 2021 - Balai Besar KSDA Riau lagi – lagi merealisasikan amanah Pemerintah dengan pemberian bantuan ekonomi produktif kepada Kelompok Tani binaan yang berada di dalam wilayah kerja Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I, Bidang Wilayah I, Rabu (1/9). Kepala Bidang KSDA Wilayah I, Andri Hansen Siregar beserta anggotanya menyerahkan bantuan ternak sapi kepada Kelompok Tani Setia Baru yang berkedudukan di Kel. Teluk Meranti, Kec. Teluk Meranti, Kab. Pelalawan. Bantuan senilai Rp.50.000.000,- (lima puluh juta rupah) direalisasikan dalam bentuk 4 ekor sapi Bali. Balai Besar KSDA Riau mendukung penuh kepada kelompok tani agar lebih aktif membangun kelompoknya dan peduli terhadap kawasan Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan sehingga dari bantuan yang diberikan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan hutan pun tetap terjaga. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Lagi, Sinergi BKSDA Sumsel Dengan Para Pihak Pulangkan Satwa Liar

Bangka, September 2021 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) dan Yayasan ALOBI kembali melepasliarkan empat individu satwa liar pada Sabtu (4/9) di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Gunung Menumbing Kabupaten Bangka Barat. Keempat individu satwa liar tersebut adalah dua individu jenis satwa dilindungi, Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus) dan dua individu jenis satwa tidak dilindungi, Musang Pandan (Arctogalidia trivirgata). Jenis Musang Pandan berasal dari serahan masyarakat kepada BKSDA Sumatera Selatan yang kemudian dititipkan kepada PPS Alobi sebagai titipan negara sejak 30 Juli 2021. Sedangkan, jenis Elang Brontok berasal dari Translokasi PPS Tegal Alur ke PPS Alobi pada tanggal 6 Agustus 2021. Kedua jenis satwa yang dilepasliarkan telah dinyatakan sehat melalui Surat Kesehatan Satwa (SKH) Nomor 048/SKKH/LK-PPS/VIII/2021 tanggal 30 Agustus 2021. Sepanjang tahun 2021, BKSDA Sumsel dan Yayasan ALOBI bersama para pihak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah melepasliarkan satwa liar sebanyak 13 kali dengan total 32 individu satwa. Harapan utamanya, upaya ini dapat meningkatkan populasi satwa liar di alam, yang merupakan ‘rumah’ sesungguhnya bagi satwa. Kegiatan ini merupakan bentuk nyata program Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bertemakan “Living in harmony with nature : Melestarikan satwa liar milik negara”. Para pihak yang terlibat dalam kegiatan pelepasliaran ini diantaranya Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka Barat, Wakil Kepala Kepolisian Resor Bangka Barat, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bangka Barat, Unsur Seksi Wilayah III Balai Gakkum LHK Wilayah Sumatera, Direktur Pengembangan Usaha PT. Timah Tbk., Kepala Unit Metalurgi PT. Timah, Tbk., Direktur PDAM Tirta Sejiran Setason, dan Ketua Yayasan Ikan Endemik Bangka Belitung. Turut hadir dan mendukung kegiatan ini adalah Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Dirjen Gakkum LHK). Kepala BKSDA Sumsel, Ujang Wisnu Barata, menyampaikan bahwa kegiatan pelepasliaran telah menjadi agenda rutin BKSDA Sumsel. Agenda tersebut tidak hanya penting bagi lingkungan secara ekologis, namun juga sebagai media kampanye dan edukasi kepada berbagai lapisan masyarakat bahwa pelepasliaran satwa liar harus melalui tahapan yang benar, diantaranya proses rehabilitasi sehingga dinyatakan layak dari aspek kesehatan fisik dan pemulihan sifat liarnya. Dalam sambutannya, Dirjen Gakkum LHK, Rasio Ridho Sani, menyampaikan bahwa Tahura Gunung Menumbing sangat penting bagi bangsa Indonesia, terutama masyarakat Bangka Belitung, juga merupakan tempat bersejarah dalam menjaga Kemerdekaan Republik Indonesia, dimana pendiri bangsa Indonesia, Soekarno, Muhammad Hatta, Haji Agus Salim, Mohammad Roem, dan Ali Sastroamijoyo pernah ditawan dan diasingkan disini. “Hari ini kita semua pun melakukan langkah bersejarah di tempat yang bersejarah. Kita bersama-sama melepasliarkan, memerdekakan 4 ekor satwa liar dengan jenis Musang Pandan dan Elang Brontok. Elang merupakan salah satu top predator khususnya di Bangka Belitung, kontrol populasi sangat penting dengan adanya Elang. Sedangkan Musang berfungsi sebagai penyebar biji yang sangat bermanfaat bagi kelestarian alam. Kita harus jaga dan tindak hukum tegas pelaku kejahatan lingkungan hidup dan kehutanan di kawasan ini. Apresiasi bagi BKSDA Sumsel dan Yayasan ALOBI yang telah melaksanakan kegiatan pelepasliaran ini, serta Bupati, Wakil Bupati Bangka Barat dan para pihak yang terus menjaga lingkungan dan hutan Gunung Menumbing”, pungkasnya. Sumber : Balai KSDA Sumatera Selatan Penanggungjawab Berita : Kepala Balai KSDA Sumatera Selatan - Ujang Wisnu Barata (0852 0780 4307) Narahubung : Septian Wiguna – 0853 7017 4069 Call Center BKSDA Sumsel – 0812 7141 2141
Baca Berita

Kesadaran Melestarikan Penyu Itu Muncul dari Diri Sendiri

Jayapura - 03 September 2021. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua mendampingi Desa Binaan Marekisi Nung di Kampung Yewena, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, melepasliarkan 96 penyu lekang (Lepidochelys olivacea). Kegiatan yang dilaksanakan 3 September 2021 di Kampung Yewena, sekaligus menandai diresmikannya Desa Binaan Konservasi Marekisi Nung, wilayah kerja Resort Tepera Yewena Yosu Cagar Alam (CA) Pegunungan Cycloop. Upaya pelestarian penyu lekang di Kampung Yewena dimulai sejak tahun 1995 oleh Karel Indey, salah satu warga di sana. Karel merasa iba melihat penyu-penyu dan puluhan atau bahkan ratusan telurnya dikonsumsi oleh masyarakat setempat. Ia kemudian meminta tiga butir telur dari masyarakat dan mencoba menetaskannya. Pada waktu itu Karel Indey ingin tahu, apakah telur penyu dapat menetas setelah dipindahkan dari liang tempat induknya bertelur. Ia pun membawanya ke rumah. Tak disangka, tiga butir telur itu menetas, menjadi tiga tukik yang mungil dan sehat. Sejak itu Karel Indey rutin menetaskan telur penyu setiap musim, yang dominan adalah jenis penyu lekang. Bertahun-tahun Karel Indey melestarikan penyu lekang seorang diri, dan melepasliarkannya dengan sederhana. Kecintaannya terhadap penyu kian bertambah seiring waktu. Kesadaran Karel Indey melestarikan penyu diwariskan kepada anaknya, Andarias Indey, yang telah lulus menempuh jenjang pendidikan strata satu dan menyandang gelar Sarjana Kelautan. Andarias kini memegang peran penting dalam pelestarian penyu di Kampung Yewena yang telah dirintis ayahnya lebih dari dua puluh tahun silam. Andarias menjabat sebagai Ketua Kelompok Desa Binaan Konservasi Marekisi Nung, dengan jumlah anggota 19 orang. Sementara fokus kegiatan mereka adalah pelestarian penyu lekang. Menurut Andarias, saat ini masyarakat di kampungnya telah memiliki kesadaran untuk melestarikan penyu lekang. Hal ini dibuktikan dengan keterlibatan mereka dalam penyelamatan telur penyu untuk ditetaskan. Menanggapi hal ini, Kepala BBKSDA Papua, Edward Sembiring, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas upaya masyarakat di Kampung Yewena dalam pelestarian penyu lekang. Edward mengatakan, “Kampung Yewena punya peran penting sebagai salah satu kampung di kawasan penyangga Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Kegiatan penyelamatan penyu ini bisa menjadi salah satu daya tarik wisata minat khusus. Apalagi pelopornya adalah masyarakat setempat. Saya pikir ini bisa menjadi contoh yang sangat baik bagi kita semua, tentang konservasi alam. Kesadaran menjaga dan melestarikan alam beserta seluruh isinya sangat penting kita tumbuhkan, sebab ini adalah tugas mahamulia dalam pandangan saya.” Pada saat yang sama, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Wiratno, menyatakan kekaguman kepada pelopor konservasi penyu dan masyarakat di Kampung Yewena. “Para pelestari penyu lekang di Kampung Yewena tentulah orang-orang hebat yang dengan ikhlas mendedikasikan hidupnya kepada pelestarian alam. Mereka adalah local champion yang inspiratif dan harus kita beri apresiasi. Mudah-mudahan akan banyak muncul local champion yang lain. Terima kasih, Pak Karel Indey! Sukses terus, Kampung Yewena dan Desa Binaan Marekisi Nung, tetap semangat menjaga keanekaragaman hayati dari ujung timur Indonesia”. Penyu lekang termasuk jenis satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLKH/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Sementara dalam Daftar Merah Spesies Terancam IUCN, penyu lekang berstatus Vulnerable/VU (rentan) dengan tren populasi yang menurun. Di sisi lain, penyu lekang termasuk dalam Appendix I CITES, artinya tidak ada pemanfaatan kecuali untuk hasil penangkaran teregister di CITES Secretariat. (dd) Sumber: Balai Besar KSDA Papua Call center BBKSDA Papua – 0823 9802 9978
Baca Berita

Meru Betiri Gandeng PLN Sejahterkan Masyarakat Sekitar Kawasan

Jember, 3 September 2021. Dua kelompok masyarakat binaan Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti) yakni Kelompok Gerakan Pemuda Sarongan (GPS) dan Masyarakat Ekowisata Rajegwesi (MER) mendapatkan bantuan CSR PLN Peduli di homestay Java Turtle, Kamis (2/9). Bantuan yang diserahkan berupa uang Rp. 50.000.000 untuk kelompok Gerakan Pemuda Sarongan dan uang Rp. 100.000.000 untuk kelompok Masyarakat Ekowisata Rajegwesi untuk pembelian 2 buah perahu wisata. Kegiatan diawali dengan diskusi pengembagan usaha ekonomi kelompok masyarakat di masa pandemi, dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara serah terima bantuan CSR PLN Peduli. Bantuan ini diharapkan dapat meningkatkan taraf ekonomi kelompok dan mendukung kegiatan pariwisata di Taman Nasional Meru Betiri. Roni, Ketua kelompok Gerakan Pemuda Sarongan menyampaikan terima kasih kepada Kepala Balai TN MerBeti dan semua pihak yang selalu memberikan dukungan dan mendampingi kelompok GPS hingga sampai saat ini. “Saya berharap dengan adanya tambahan fasilitas yang didapatkan ini, dapat meningkatkan semangat dan penjualan air minum dalam kemasan serta meningkatkan ekonomi selaku kami UMKM binaan TN MerBeti” ungkap Roni. Maman Surahman, Kepala Balai TN MerBeti menyampaikan bahwa “Ini merupakan bentuk nyata kehadiran Negara di tengah masyarakat yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sehingga kesejahteraan meningkat, dan pada akhirnya kelestarian TN MerBeti dapat diwariskan hingga anak cucu kita”. Penyerahan bantuan ekonomi ini merupakan bagian dari pelasanaan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Balai TN Meru Betiri dan PLN Distribusi Jawa Timur yang tertuang dalam Dokumen PKS 360/T.15/TU/KSK/05/2019 dan 0006.MOU/KON.03.01/DIST-JATIM/2019 tanggal 24 Mei 2019 dalam kerangka pembangunan strategis yang tidak dapat dielakkan berupa pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaan jaringan tenaga listrik di Taman Nasional Meru Betiri. Kegiatan dihadiri Kepala Balai Taman Nasional Meru Betiri, Bapak Maman Surahman, S.Hut., M.Si. , Bapak Krisantus Hendro Setyawan selaku Manager PLN UP 3 Banyuwangi, Sekdes Sarongan serta mitra Taman Nasional lainnya. Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Apel Siaga, Brigdalkarhut Balai TN Tesso Nilo Siap Hadapi Ancaman Karhutla

Pangkalan Kerinci, 2 September 2021 – Tim Brigdalkarhut Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) ikuti Apel Gelar Kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) khusus wilayah Kabupaten Pelalawan tahun 2021 di halaman kantor Bupati Pelalawan. Apel siaga dipimpin langsung oleh Danrem 031/WB. Pasukan TNI, Polri, Satpol PP, Pemerintah Daerah Pelalawan dan seluruh tim pemadam kebakaran dari berbagai instansi dan perusaan yang ada di Kabupaten Pelalawan turut hadir. Dalam apel siaga, komandan apel menyampaikan amanat berupa sikap siap siaga kebakaran yang tidak boleh pudar oleh semua tim yang hadir. Usai apel, komandan apel dan jajaran memeriksa kelayakan setiap peralatan pemadam kebakaran yang dibawa oleh tim yang hadir. Peralatan Tim Brigdalkarhut Balai TN Tesso Nilo lulus uji kelayakan dan dinilai siap untuk digunakan turun langsung di lapangan. Tim Brigdalkarhut Balai TN Tesso Nilo juga berkomitmen untuk tetap siap siaga dalam mengemban tanggungjawab mencegah dan melindungi kawasan hutan dari kebakaran lahan. Apel siaga yang diikuti diharapkan dapat semakin memupuk semangat tim dalam melaksanakan tugas. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

BBKSDA Riau Temukan Bibit Sawit di TWA Buluh Cina

Pekanbaru, 2 September 2021 - Satu lagi hal yang tidak patut dicontoh dari oknum yang tidak bertanggungjawab terjadi. Kali ini di dalam kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Buluh Cina Kec. Siak Hulu, Kab. Kampar, Kamis (2/9). Petugas Resort Buluh Cina Balai Besar KSDA Riau bersama masyarakat setempat melakukan patroli pengamanan kawasan menuju Danau Pinang Dalam dan Pinang Luar. Tim melakukan penyisiran di sekitar daerah Danau Pinang Dalam dan menemukan tanaman sawit yang baru ditanam, pelaku sengaja menanam sawit dengan tidak membersihkan lahannya (semak belukar) untuk mengelabui petugas. Pelaku tidak dijumpai di TKP tetapi sawit sudah ditanam sekitar 30 batang. Diperkirakan umurnya sekitar 1 bulan, karena masih bisa dicabut dari lubang tanam dan akarnya belum menyatu ke tanah. Tim segera mengambil dokumentasi dan mencabut serta mencingcang sawit yang ditanam tersebut serta memasang papan peringatan dan membawa bibit sawit 2 batang ke Pos Resort Buluh Cina sebagai barang bukti. Ternyata harga sawit yang mulai membaik dapat membuat orang yang tidak bertanggungjawab gelap mata tanpa mempedulikan akibat hukumnya. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

BBTNGGP dan PT. ATL Serahkan 1000 Bibit Pohon Kepada PUSLATPUR MARINIR 6 ANTRALINA

Sukabumi, 2 September 2021. Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) menyerahkan bantuan bibit tanaman buah dan produksi yang dikembangkan PT. Alas Tiara Lestari (ATL) kepada Puslatpur Marinir 6 Antralina di Aula Golok Pusat Latihan Tempur Marinir 6 Antralina, Kamis (2/9). Bidang Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah II Sukabumi memfasilitasi kegiatan yang merupakan pemenuhan janji Kepala Balai Besar TNGGP waktu itu, Bapak Wahju Rudianto, S.Pi, M.Si kepada Komandan Puslatpur Mar 6 Antralina di tengah pelaksanaan acara pembinaan pegawai lingkup Bidang PTN Wilayah II Sukabumi pada tanggal 23 Maret 2021 yang lalu. Bibit yang diserahkan tersebut diharapkan dapat membantu peningkatan kualitas lingkungan hidup di sekitarnya. Ir. Syahrial Anuar, MM selaku kepala Bidang PTN Wilayah II Sukabumi sekaligus mewakili Kepala Balai Besar TNGGP menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada PT. ATL yang bersedia memberikan bantuan berupa bibit pohon kepada Puslatpur Marinir 6 Antralina. PT. ATL, salah satu mitra BBTNGGP yang berpartisipasi aktif dalam upaya pelestarian alam terutama kegiatan restorasi/rehabilitasi kawasan. Pada sambutannya, Direktur PT. ATL, Bapak Hendri Adrianto menyampaikan bahwa PT. ATL siap mendukung program agrowisata Puslatpur Marinir 6 Antralina dengan mengupayakan penyediaan bibit pohon yang cocok dengan iklim dan kondisi tanahnya. Pasiops Puslatpur Mar 6 Antralina, Mayor Mar Jemy Karel Warongan, mewakili Komandan Puslatpur Mar 6 Antralina menyampaikan ucapan terimakasih sebesar-besarnya kepada BBTNGGP yang telah mengupayakan dan memfasilitasi penyerahan bantuan bibit pohon tersebut. Puslatpur Mar 6 Antralina memiliki luas lahan sekitar 175 ha dengan kondisi kontur wilayah berbukit dan tebing/lereng yang didominasi vegetasi ilalang (tumbuhan bawah) sehingga rentan terjadi kebakaran lahan. “Oleh karena itu kami mempunyai program penghijauan dengan jenis pohon kaya manfaat, selain untuk mencegah kebakaran lahan juga sebagai pendukung ekologi penahan air, menghasilkan oksigen serta dapat diambil manfaat buah-buahannya” ujar Mayor Mar Jemy Karel Warongan. Tahap pertama ini, diserahkan bibit Jambu kristal, Solatri, Kayu manis, Bambu, Pisang, Rasamala, dll sebanyak 1000 batang. Kedepannya, setelah masuk musim penghujan, akan disiapkan kembali bantuan bibit pohon dengan lebih memperbanyak proporsi jenis pohon berbuah. Acara dilanjutkan dengan kunjungan ke lokasi rencana penanaman dan dilaksanakan penanaman secara simbolis oleh Kepala Bidang PTN Wilayah II Sukabumi, Direktur PT. ATL dan Pasiops Puslatpur Marinir 6 Antralina. Adapun jenis yang ditanam adalah Jambu kristal, Kayu manis dan Solatri. Kemudian acara ditutup dengan acara ramah tamah untuk semakin mengakrabkan BBTNGGP dengan mitra/stakeholder. Melalui kegiatan ini diharapkan kedepannya lingkungan di sekitar Puslatpur Marinir 6 Antralina akan menjadi lebih asri, sejuk dan nyaman serta dapat menjadi daerah tangkapan air untuk kehidupan masyarakat sekitar. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks dan Dokumentasi : Tim Publikasi Wilayah II Sukabumi
Baca Berita

Kepedulian Uzi Selamatkan Kura Kura Kaki Gajah

Padang, 1 September 2021. Untuk kesekian kalinya kehidupan satwa terselamatkan berkat kesadaran masyarakat. Terkadang kita tidak pernah tau dimana dan kapan kemunculan satwa itu dapat terjadi, bisa saja di rumah, kebun, bahkan di tempat keramaian. Seperti yang terjadi di Jorong Malabur Nagari Bawan Kecamatan Ampek Nagari, Kabupaten Agam baru-baru ini ditemukan 1 (satu) ekor satwa langka dan dilindungi jenis kura kura kaki gajah atau baning coklat (Manouria emys). Satwa ini diserahkan oleh Uzi M Fikri (37 tahun) yang merupakan Pengelola Waterboom Loebas Wisata. Satwa tersebut diperoleh ketika Uzi melihat beberapa warga membawanya dan dijadikan mainan. Kemudian Uzi berinisiatif untuk meminta kura-kura tersebut untuk dipelihara. Setelah kura-kura sudah berada di tangannya, Uzi langsung melaporkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Barat (BKSDA Sumbar) melalui Resort Agam pada hari Selasa, (31/8/21) dan menyerahkannya pada petugas mengingat satwa tersebut adalah satwa langka dan dilindungi Undang-Undang. Petugas BKSDA selanjutnya melakukan identifikasi terhadap satwa reptil tersebut dan diketahui jenisnya adalah kura kura kaki gajah atau baning coklat (Manouria emys) dengan jenis kelamin jantan, ukuran cangkang/karapas 50 cm x 44 cm, berat mencapai 10 kilogram dan termasuk dalam jenis satwa dilindungi. Selanjutnya satwa dievakuasi oleh petugas kantor Resort KSDA Agam untuk diobservasi dan kemudian melepaskan kembali satwa langka dan dilindungi itu ke habitatnya di kawasan hutan Cagar Alam Maninjau. Kura kura kaki gajah atau baning coklat memiliki ciri khas kakinya besar-besar menyerupai kaki gajah, dengan jari-jari yang tidak tampak jelas. Kaki belakang berkuku lima dan kaki depan berkuku empat, berbentuk meruncing dengan sisik-sisik di kaki menebal serupa kuku serupa perisai. Satwa ini terus mengalami penurunan jumlah populasi di alam, karena alasan itulah maka organisasi konservasi dunia, IUCN semenjak tahun 2000 menempatkan baning cokelat ini ke dalam status Terancam Kepunahan (EN, Endangered). Sedangkan di Indonesia satwa ini dilindungi sesuai dengan Undang undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor.P.106 tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Dilindungi. BKSDA Sumbar mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Uzi maupun masyarakat yang telah peduli dan membantu dalam upaya penyelamatan jenis satwa langka dan dilindungi. Jika terjadi kejadian serupa segera melapor ke petugas BKSDA setempat atau ke call center BKSDA Sumbar di nomor 081266131222. Sumber : Balai KSDA Sumatera Barat
Baca Berita

Sedang Viral, BBKSDA Riau Bersama Para Pihak Pantau Teluk Lanus

Pekanbaru, 1 September 2021 - Saat ini sedang viral dibicarakan terkait jatuhnya korban jiwa diduga akibat serangan harimau sumatera. Tim gabungan yang terdiri dari Balai Besar KSDA Riau, Polres Siak, Polsek Sungai Apit dan PT. Triomas menuju camp Uniseraya, di Teluk Lanus, Kec. Sungai Apit, Kab. Siak melakukan identifikasi di lokasi kejadian, Selasa (31/8/21). Penelusuran dilakukan di lokasi kejadian mulai dari tempat kejadian, di mana korban diduga diterkam satwa harimau sumatera, sampai tempat di mana mayat korban ditemukan. Di lokasi juga ditemukan bagian kepala korban yang sudah tidak utuh lagi, tidak jauh dari lokasi penemuan mayat tersebut. Di camp tempat tinggal korban, ditemukan banyak jejak satwa harimau sumatera. Menurut informasi masyarakat, satwa kembali mendatangi camp pada Senin (30/8/21) sore. Tim gabungan mengingatkan kepada karyawan perkebunan agar dalam bekerja tetap waspada, tidak seorang diri dan menghindari beraktifitas saat malam hari, petang atau sebelum matahari terbit. Tim gabungan akan terus memantau kondisi di lokasi kejadian serta memasang box trap yang telah dibawa dengan umpan di dalamnya. Box trap tersebut digunakan untuk mengevakuasi harimau sumatera dari tempat tersebut agar menghindari konflik lebih lanjut. Semoga konflik segera berakhir dan tidak ada lagi korban jiwa baik dari manusia maupun satwa liar. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Memulihkan Ekosistem SM Dangku Melalui Kemitraan Konservasi Bersama Masyarakat Desa Dawas

Musi Banyuasin, 1 September 2021 – Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) melaksanakan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) kemitraan konservasi dalam rangka pemulihan ekosistem dengan Ketua Kelompok Tani Hutan Konservasi (KTHK) Sido Mulyo Desa Dawas Kecamatan Keluang Kabupaten Musi Banyuasin pada Rabu (1/9) di Sekayu. PKS ini didasarkan pada prinsip saling menghargai, saling percaya, dan saling menguntungkan yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi ekosistem yang terdegradasi secara bertahap di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Dangku. Proses PKS ini telah mengikuti mekanisme yang diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.44/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.85/Menhut-II/2014 tentang Tata Cara Kerjasama Penyelenggaraan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, serta Peraturan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor P.6/KSDAE/SET/KUM.1/6/2018 tentang Petunjuk Teknis Kemitraan Konservasi Pada Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Selanjutnya, juga berpedoman pada persetujuan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor S.406/KSDAE/KK/KSA.1/5/2021 tanggal 18 Mei 2021 perihal Arahan dan Persetujuan Kerja Sama Kemitraan Konservasi antara Balai KSDA Sumatera Selatan dengan Kelompok Tani Hutan Konservasi Sido Mulyo di Blok Rehabilitasi SM Dangku Resor Wilayah Konservasi I Dangku Seksi Konservasi Wilayah I Balai KSDA Sumatera Selatan. Ruang lingkup program kerja sama yang telah disepakati adalah perlindungan dan pengamanan di area kerja sama, pemulihan ekosistem kawasan SM Dangku, serta peningkatan ekonomi dan penguatan kelembagaan kelompok. Sebagai mandat dari penandatanganan PKS, dalam kesempatan ini juga dilakukan penandatanganan dokumen Rencana Pelaksanaan Program (RPP) Periode 2021-2025 dan Rencana Kerja Tahunan (RKT) Tahun 2021 yang sebelumnya telah disusun secara bersama-sama. RPP menggambarkan program kegiatan yang akan dilaksanakan selama jangka waktu kerja sama, sedangkan RKT merupakan penjabaran RPP yang akan dilaksanakan selama 1 tahun. RPP dan RKT disusun untuk menjadi acuan dalam pelaksanaan program kerja sama sehingga tujuan kerja sama dapat tercapai sesuai dengan target yang telah ditentukan. Kepala BKSDA Sumsel, Ujang Wisnu Barata, mengatakan bahwa kerja sama ini sebagai awal. Selanjutnya, amanah ini menjadi wujud bahwa kemitraan konservasi merupakan solusi jalan tengah dalam menjaga dan melindungi kawasan konservasi beserta keanekaragaman hayatinya bersama masyarakat. “Terimakasih kepada KTHK Sido Mulyo dan Kepala Desa Dawas yang telah mengakui keberadaan anggota masyarakatnya yang berada di dalam kawasan SM Dangku. Apresiasi atas komitmen untuk menjadi bagian dari solusi konflik tenurial serta atas kesediaan pernyataan dengan memenuhi ketentuan dan kewajiban-kewajibannya. Dalam perjanjian kerja sama kemitraan konservasi, sangat penting syarat, ketentuan, dan tahapannya harus dipastikan benar-benar dipenuhi dan dilalui. Kami tunggu sumbangsih KTHK Sido Mulyo dalam peran memulihkan ekosistem, melindungi dan menjaga kawasan, serta sekaligus mendapatkan manfaat kolektif bagi semua anggota dengan menjalankan peran itu” ujarnya. Letak Desa Dawas, yang berbatasan langsung dengan kawasan SM Dangku, berperan penting sebagai penyangga kawasan. Sejumlah 51 warga Desa Dawas yang tergabung dalam KTHK Sido Mulyo dan bermukim di dalam kawasan SM Dangku, telah memanfaatkan blok rehabilitasi SM Dangku sebagai lahan kebun seluas 118,19 hektar. Hasil inventarisasi dan verifikasi terhadap usulan KTHK Sido Mulyo tersebut, termasuk kerusakan ekosistem yang diakibatkan penggunaan kawasan non prosedural sebagai lahan kebun, menjadi dasar dalam penyusunan rencana kemitraan. Ketua KTHK Sido Mulyo, Jaenal, sangat bersyukur akhirnya melalui PKS ini, masyarakat di anggota kelompoknya dapat menjadi mitra BKSDA Sumsel. Dia berharap, kerjasama ini dapat semakin menyejahterakan masyarakat dan melestarikan kawasan SM Dangku sebagai penyangga kehidupan. “Kami juga siap berkomitmen untuk mengawal terpulihkannya SM Dangku melalui program yang tertuang dalam kemitraan konservasi”, tuturnya. SM Dangku memiliki luasan 47.996,45 hektar dengan tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah, merupakan salah satu kawasan konservasi yang kewenangan pengelolaannya berada di BKSDA Sumsel. Secara administratif, SM Dangku terletak di wilayah Kabupaten Musi Banyuasin dan mendukung empat kecamatan sebagai wilayah penyangganya yaitu Bayung Lencir, Tungkal Jaya, Batanghari Leko, dan Keluang. Sumber : Balai KSDA Sumatera Selatan Penanggungjawab Berita : Kepala Balai KSDA Sumatera Selatan Ujang Wisnu Barata - 0852 0780 4307 Narahubung : Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Sekayu Yusmono – 0812 7819 856 Call Center BKSDA Sumatera Selatan – 0812 7141 2141
Baca Berita

Pendidikan Konservasi Di SMK 3 Sang Tombolang

Maelang, 1 September 2021. Guna meningkatkan pelaksanaan Latihan Dasar Kepemimpinan, SMK 3 Sang Tombolang bersama Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) 3 Maelang Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TN Bonawa) melaksanakan pendidikan konservasi, Rabu (1/9). Pendidikan Konservasi merupakan salah satu bentuk kegiatan pengelolaan yang dilakukan oleh Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya konservasi kepada masyarakat sejak dini. Salah satu lapisan masyarakat yang menjadi target pendidikan konservasi untuk usia remaja adalah pelajar di tingkat sekolah menengah, khususnya yang berada di desa daerah penyangga Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Mereka merupakan sasaran yang potensial dan produktif untuk dapat menerima wawasan dan pengetahuan akan pentingnya Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, selain itu masa remaja merupakan suatu masa dimana sangat cocok untuk dilakukan penanaman nilai - nilai konservasi karena mereka lebih mudah memahami dan membayangkan tentang apa yang diberikan serta mereka merupakan generasi penerus yang akan melanjutkan kehidupan kedepannya. Kegiatan pendidikan Konservasi dibawakan oleh Kepala SPTN Wilayah 3 Maelang Bapak Yulian Sadono dan Calon Polisi Kehutanan Bapak Amal Hidayat. Siswa siswi sangat antusias mengikuti kegiatan ini dengan rangkaian kegiatan antara lain materi tentang membangun kreativitas dan inovasi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, kuis interakif serta games seputar TN Bonawa untuk menuntut mereka aktif dalam kegiatan. Melalui kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran, pengetahuan, keterampilan para pelajar dan dapat mempengaruhi orang – orang terdekatnya (keluarga) mengenai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, serta dapat mengimplementasikan nilai – nilai konservasi dalam kehidupannya sehari - hari. Sumber : Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
Baca Berita

Peran Serta Milenial Untuk Keselamatan Satwa

Padang, 31 Agustus 2021. Semakin berkembangnya teknologi dan media sosial maka semakin mudah untuk mengakses informasi yang dibutuhkan, tak terkecuali di bidang konservasi. Dengan media sosial maka pemerintah maupun penggiat di bidang konservasi dapat mensosialisasikan pentingnya konservasi terutama untuk satwa dan tumbuhan yang dilindungi. Hal ini membuat masyarakat semakin tahu pentingnya untuk ikut andil di bidang konservasi sehingga kelestarian hutan, satwa maupun tumbuhan dapat terjaga dengan baik. Salah satu andil kaum milenial dalam penyelamatan satwa datang dari seorang mahasiswa UNP bernama Nagra Aulia. Nagra melapor ke call center Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Barat (BKSDA Sumbar) pukul 15.20 WIB, bahwa ia menemukan seekor kura-kura kaki gajah di Padang Pariaman dan mau menyerahkan nya ke BKSDA Sumbar. Melalui informasi yang diperoleh maka Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II memerintahkan Resort Konservasi Wilayah (RKW) Padang Pariaman untuk melakukan evakuasi. Petugas sampai pada pukul 18.30 di Korong Kandang Ampek Nagari Guguak kab. Padang Pariaman dan langsung melakukan evakuasi terhadap satwa. Satwa saat ini dalam keadaan baik dan cukup liar, dengan ukuran cangkang/karapas 33 x 40 cm. Sekira pukul 19.10 WIB dilakukan serah terima satwa dilindungi jenis kura kura kaki gajah yang dilengkapi dengan dokumen Berita Acara Serah Terima satwa dilindungi. Selanjutnya satwa akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Jika terjadi kejadian serupa segera melapor ke petugas BKSDA setempat atau ke call center BKSDA SUMBAR di nomor 081266131222. Sumber : Balai KSDA Sumatera Barat
Baca Berita

Kucing Hutan Tersesat Dikamar Mandi Warga

Pekanbaru, 31 Agustus 2021 - "Gadang matonyo...," begitu kata warga yang Senin, 30 Agustus 2021 kemarin di kamar mandinya masuk satwa liar dilindungi yaitu kucing hutan. Warga RT.01/RW.01 Kelurahan Merangin, Kecamatan Minas, Kabupaten Siak tersebut kemudian melapor dan Tim Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas turun ke lokasi terjebaknya kucing hutan di dalam kamar mandi untuk proses evakuasi. Hasil evakuasi dan identifikasi dari Tim PLG Minas bahwa kucing hutan berjenis Prionailurus bengalensis. Kucing hutan kemudian dibawa ke PLG Minas yang kemudian dilepasliarkan kembali di Kawasan Hutan Tahura. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Ditemukan Di Rak Piring, Kucing Hutan Dilepasliarkan Kembali

Pekanbaru, 31 Agustus 2021 - Balai Besar KSDA Riau kembali melepasliarkan satwa yang dilindungi, Senin (30/8/21). Kali ini petugas Resort Duri bersama Our Nature Indonesia (ONI) melepasliarkan kucing hutan (Prionailurus bengalensis) hasil penemuan karyawan RM. Pondok Biru yang berada di Jl. Hang Tuah, Duri pada Jum'at, (27/8/21). Karyawan tersebut menemukan Kucing hutan yang bersembunyi di dalam rak piring. Mengetahui satwa ini merupakan satwa yang dilindungi, karyawan tersebut langsung menghubungi call center Balai Besar KSDA Riau pada Sabtu (28/8/21). Resort Duri bersama personil ONI langsung mengevakuasi dan mengobservasi kucing hutan tersebut dengan hasil aman, sehat, liar dan layak untuk segera dilepasliarkan. Resort Duri bersama personil ONI menemui pelapor untuk membuat berita acara serah terima dan langsung melakukan pelepasliaran kucing hutan ke habitatnya. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Kepada Dua Belas Satwa yang Kembali ke Alam, Selaksa Harmoni Kita Titipkan

Jayapura, 31 Agustus 2021. Balai Besar Koservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua mengembalikan dua belas satwa ke habitat alaminya pada Selasa (31/08/2021). Satwa-satwa terdiri atas dua ekor cenderawasih kuning kecil (Paradisaea minor) penyerahan BKSDA Jakarta dan Yogyakarta, dua ekor kakatua raja (Probosciger aterrimus) penyerahan BKSDA Jakarta, lima ekor kasturi kelapa hitam (Lorius lory) penyerahan BKSDA Jakarta, satu ekor nuri kelam (Pseudeos fuscata) penyerahan BKSDA Jakarta, dan dua ekor kasuari gelambir tunggal (Casuarius unappendiculatus) penyerahan dari masyarakat di Jayapura. Semua satwa tersebut dilindungi undang-udang berdasarkan Permen LHK Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Sementara bersadarkan Daftar Merah Spesies Terancam IUCN, semua satwa tersebut berstatus Least Concern/LC (risiko rendah), dan termasuk Appendix II CITES, kecuali kakatua raja masuk dalam Appendix I. Pihak BBKSDA Papua telah menetapkan lokasi pelepasliaran sesuai daerah persebaran satwa. Dua belas aves tersebut dilepasliarkan di Hutan adat Isyo, Rhepang Muaif, Distrik Nimbokrang, Kabupen Jayapura. Pemilihan lokasi ini sekaligus untuk mendukung upaya masyarakat adat setempat dalam mengembangkan wisata minat khusus Bird Watching, yang telah dirintis sejak beberapa tahun silam oleh Aleks Waisimon. Kepala BBKSDA Papua, Edward Sembiring, menerangkan bahwa sepuluh dari dua belas satwa yang dilepasliarkan hari ini merupakan satwa translokasi dari luar Papua. Pengembalian mereka ke habitat alaminya memerlukan energi yang demikian besar dari berbagai pihak. Namun yang paling diperhitungkan oleh Edward adalah persoalan kesejahteraan satwa (animal walfare). “Kita bayangkan, manusia saja bisa sangat lelah melakukan perjalanan, bisa jet lag dan segala macam. Begitu juga satwa. Sepasang cenderawasih dan kakatua raja kami pulangkan dari Yogyakarta dan DKI Jakarta, dengan penerbangan berjam-jam. Mereka lelah, tentu saja. Ini perlu kita perhatikan, bahwa satwa juga berhak sejahtera seperti manusia. Peran mereka sangat besar di alam dan tidak pernah bisa kita gantikan. Jadi pada kesempatan ini, kembali saya mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat: Mari Jaga Satwa Endemik Papua Sebelum Menjadi Kenangan. Biarkan mereka hidup dengan nyaman di alam” demikian ungkapan Edward. Lebih lanjut Edward menyatakan bahwa kegiatan pelepasliaran satwa ini masih dalam rangka memperingati Hari Konservasi Alam Nasional sekaligus membawa semangat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-76. Pesan penting dalam momentum pelepasliaran satwa ini adalah harapan untuk terus berjalan seirama antara manusia, Tuhan, dan alam semesta untuk mencapai keharmonisan hidup yang sesungguhnya. Pada kesempatan ini, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Wiratno, menyampaikan apresiasi kepada masyarakat adat di Rhepang Muaif atas upaya pengembangan wisata minat khusus Bird Watching. “Untuk kali kesekian kita melepasliarkan satwa endemik Papua di Hutan Adat Isyo. Hari ini kita melepasliarkan sepasang cenderawasih, simbol Papua. Semoga mereka dapat berkembang biak, beranak-pinak, menumbuhkan harmoni yang semakin utuh di hutan adat ini, dan di seluruh Papua. Ini perlu kita perhatikan, kalau populasi cenderawasih meningkat, manfaatnya untuk alam dan manusia juga akan semakin besar. Jadi, mari kita jaga satwa-satwa ini, terutama cenderawasih, beserta habitatnya untuk kesejahteraan alam semesta” kata Wiratno. (dzi) Sumber: Balai Besar KSDA Papua Call Center BBKSDA Papua – 0823 9770 9728

Menampilkan 2.145–2.160 dari 11.141 publikasi