Selasa, 16 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Tim Gabungan BBKSDA Riau Temukan 33 Jerat di SM Balai Raja

Pekanbaru, 28 September 2021. Sapu jerat kembali dilakukan Tim Balai Besar KSDA Riau. Kali ini Tim Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III bersama Rimba Satwa Foundation (RSF) melakukan penyisiran jerat di kawasan Hutan Talang, Suaka Margasatwa (SM) Balai Raja, Kab. Bengkalis. Kawasan ini merupakan salah satu kawasan konservasi yang ada di Provinsi Riau. Kegiatan dilakukan dari hari Selasa hingga Sabtu, 21 s/d 25 September 2021. Di hari pertama, Tim gabungan melakukan penyisiran di sekitaran Hutan Talang dan tidak menemukan jerat satupun. Di hari kedua ke arah Legon, Tim menemukan 17 jerat (16 jerat lontar dan 1 kawat babi). Di hari ketiga ke arah kuburan, Tim menemukan 4 jerat (3 jerat lontar dan 1 jerat sling) kemudian pada hari keempat, Tim menemukan 12 jerat (11 jerat lontar dan 1 tombak babi). Sedang dihari terakhir, arah ke helipad PHR (Pertamina Hilir Rokan), Tim tidak menemukan jerat. Secara keseluruhan dalam lima hari kegiatan telah ditemukan 33 jerat. Balai Besar KSDA Riau menghimbau STOP PASANG JERAT dalam bentuk apapun. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Menyusuri Rakitan Kayu, BBKSDA Riau Temukan Aktivitas Illegal Logging di SM Kerumutan

Pekanbaru, 28 September 2021. Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Balai Besar KSDA Riau dipimpin Kepala SKW I patroli terestrial kawasan Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan di Desa Kampung Pulau, Kec. Rengat, Kab. Indragiri Hulu pada tanggl 21-23 September 2021. Perjalanan ke lokasi diawali dengan menyusuri Sungai Mengkuang, dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 5 km. Di perjalanan, Tim bertemu dengan 2 orang warga Desa Pekan Heran, Kec. Rengat Barat yang mengaku sebagai pencari burung, kemudian Tim meminta data mereka dan memperingatkan serta memberi edukasi. Di ujung perjalanan, tepatnya Hulu Sungai Mengkuang di dalam kawasan SM Kerumutan, Tim menemukan kayu hasil illegal logging yang telah dirakit namun pelaku tidak ditemukan. Menyusuri rakitan kayu tersebut, akhirnya Tim menemukan pondok illegal logging serta aktivitas beberapa orang pelaku. Penyergapan dilakukan namun sayang para pelaku illegal logging yang diperkirakan berjumlah 10 orang berhasil melarikan diri. Tim melakukan pengejaran, namun para pelaku tak satupun dapat tertangkap. Pada lokasi illegal logging tersebut, Tim menemukan kayu olahan dengan berbagai ukuran dan sebagian telah dirakit, 6 pondok pembalak liar, 8 unit sepeda, 2 unit chainsaw, 5 unit perahu, 1 unit genset dan 1 buah radio transistor. Diduga para pelaku telah beroperasi sekitar 1 minggu. Tim langsung melakukan penghancuran terhadap barang temuan tersebut mengamankan beberapa barang sebagai barang temuan untuk proses penyelidikan lebih lanjut. Bendungan anak-anak sungai yang dibuat oleh pelaku pembalakan juga dihancurkan dan dibuka karena diduga sebagai sarana pendukung untuk mengalirkan kayu ilegal. Di hari terakhir, Tim kembali menemukan 1 pondok illegal logging lainnya yang berjarak sekitar 200 m dari pondok sebelumnya. Tim menemukan beberapa kayu olahan, 1 buah jirigen bahan bakar dan 1 unit sepeda yang langsung dimusnahkan. Peran aktif dari semua pihak diperlukan untuk ikut mengamankan hutan Riau yang tersisa. Jika tidak, niscaya rimba sumatera dan kekayaan flora fauna tinggallah cerita. Sumber : Balai Besar KSDA Riau #karenakonservasitakmungkinsendiri
Baca Berita

BBKSDA Sumut Sambut Kepulangan 6 Siamang dari Jakarta

Medan, 27 September 2021. Balai Besar KSDA Sumatera Utara kembali menyambut kedatangan satwa liar translokasi dari Jakarta. Kali ini ada 6 (enam) individu jenis Siamang (Symphalangus syndactylus) yang tiba di Bandara Kuala Namu Internasional (KNIA), Deli Serdang, pada Kamis 23 September 2021, berasal dari Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tegal Alur - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta. Keterangan yang dihimpun dari Balai KSDA Jakarta, bahwa keenam individu Siamang tersebut merupakan hasil penyerahan masyarakat kepada petugas dan sempat dititipkan di PPS Tegal Alur yang dikelola oleh Balai KSDA Jakarta. Sebelum translokasi, petugas medis PPS Tegal Alur telah melakukan pemeriksaan baik perilaku maupun kesehatan. Penilaian perilaku dan kesehatan, dengan melakukan pengamatan terhadap sifat liar, perilaku makan, kualitas feses, kondisi tubuh dan perilaku alami. Dari hasil pemeriksaan dan pengamatan, satwa-satwa tersebut tidak mengalami perubahan perilaku alaminya. Sedangkan dari segi kesehatan, keenam satwa dinyatakan sehat serta tidak menunjukkan gejala klinis penyakit menular atau penyakit infeksius. Sehingga kesimpulannya, layak untuk direlokasi guna dilepasliarkan ke habitatnya. Sebelum diberangkatkan ke Sumatera Utara, keenam Siamang (4 jantan dan 2 betina) telah dilakukan tes darah untuk memantau penyakit elisa rabies dan hasilnya dinyatakan Titer Antibodi Rabies (Non Protektif), demikian juga dengan tes Covid-19 hasilnya pun negatif. Siamang yang nama lainnya Kimbo merupakan salah satu jenis satwa yang dilindungi, sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Jo. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/ 2018 tanggal 28 Desember 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi Perlu juga diinformasikan, bahwa proses translokasi Siamang telah mengacu kepada Edaran Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Nomor : SE.4/KSDAE/KKH/KSA/4/2020 tanggal 9 April 2020 tentang Panduan Teknis Pencegahan Covid-19 Pada Manusia dan Satwa Liar, serta telah memperhatikan kesehatan manusia maupun kesejahteraan satwa dalam rangka One Health serta Animal Walfare. Setibanya di Bandara Kuala Namu, pada Kamis 23 September 2021, sekitar jam 09.00 Wib, keenam Siamang segera dievakuasi ke Pusat Rehabilitasi Orangutan dan Primata lainnya yang dikelola oleh Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Center (YOSL-OIC), mitra kerjasama Balai Besar KSDA Sumatera Utara, di Bukit Mas Besitang, kabupaten Langkat, guna menjalani proses karantina dan rehabilitasi sebelum nantinya dilepasliarkan ke habitat alaminya. Sumber : Evansus Renandi Manalu, Analis Data Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Mencari Kebenaran Penampakan Si Belang di Solok Selatan

Padang, 27 September 2021. Penampakan satwa liar jenis harimau sumatera kembali terjadi untuk kesekian kalinya di wilayah Sumatera Barat, kali ini terjadi di Nagari Persiapan Balun Pakan Rabaa Tangah Kecamatan Koto Parit Gadang Diatas (KPGD), Kabupaten Solok Selatan. Menanggapi informasi tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Sumatera Barat (BKSDA Sumbar) turunkan tim penanganan konflik satwa. Kepala BKSDA Sumbar Ardi Andono, S. TP. M. Sc., menurunkan personil Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III Sijunjung yang diketuai Kepala Resort Solok Afrilius. S IP untuk melakukan tindakan penanganan guna menciptakan ketentraman pada masyarakat dan juga demi keselamatan satwa liar jenis harimau sumatera dari tindakan pemburu liar. Langkah awal dengan mengumpulkan keterangan dari saksi mata, selanjutnya mencari jejak di lapangan serta memasang kamera trap, dari hasil tersebut akan dianalisa jumlah harimau, umur, dan ukuran serta jenis kelamin sebagai pertimbangan lebih lanjut. Untuk sementara ini, dihimbau kepada warga untuk tidak masuk ke kebun sendirian dan beraktivitas siang hari saja, mengingat satwa ini berburu pada sore, malam hingga pagi hari. Selain itu masyarakat diharapkan membawa petasan untuk dibunyikan di kebunnya ketika sedang beraktivitas. Ditemui di Nagari Persiapan Balun Pakan Rabaa Tangah minggu 26 September 2021 Kepala Resort Solok Afrilius mengungkapkan. "Kita akan lakukan penanganan agar masyarakat tenang dan dapat beraktivitas sprti semula, dilihat dari lokasi kejadian yang bersebelahan dengan kawasan TNKS kita akan lakukan pengusiran dengan menggunakan bunyi-bunyian dengan meriam karbit yang kita bawa". Ditambahkan Afrilius bahwa satwa liar jenis harimau sumatera adalah jenis satwa liar yang sangat menghindari kontak dengan masyarakat. Namun ada dua hal si belang menampakkan diri, yang pertama karena habitatnya terganggu oleh aktivitas masyarakat. Kedua, bisa juga sudah tidak tersedianya kecukupan satwa mangsa akibat perburuan yang dilakukan oleh masyarakat. Jika informasi yang beredar benar, bahwa harimau tersebut adalah induk dan 2 ekor anaknya. Maka kemungkinan sang induk dalam masa menyapih ank harimau untuk belajar berburu satwa mangsa sebagai makanannya. Afrilius juga menjelaskan, sebelum turun ke lapangan, BKSDA Sumbar sudah berkomukasi dengan rekan-rekan dari Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan KPHL Batang Hari serta berkoordinasi dengan Polsek setempat agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan bersama. Kronologis pertama kali diketahui dari keterangan salah seorang warga, Randi Risno (Kepala Jorong Sungai Ipuh) yang ditemui di lokasi bahwa pada hari kamis 2 September 2021 saat Randi pergi ke ladang melihat penampakan satwa liar jenis harimau sumatera. Tanpa berpikir panjang Randi langsung lari ke perkampungan dan bercerita kepada warga yang lain bahwa "Saya melihat harimau di jalan menuju ke kebun". Merasa tidak nyaman dengan keberadaan harimau sumatera yang terlihat di kebun tersebut, pada tanggal 13 September Randi lantas membuat Surat pernyataan di Kantor Wali Nagari tentang perjumpaan satwa liar di lokasi kebun yang di alaminya. Tak berselang lama pada tanggal 20 September seorang warga lain yang bernama Jul Masri (46 thn) bersama istrinya saat pulang dari kebun dikejutkan oleh penampakan harimau sumatera di pinggir sungai batang Suliti "Kami melihat 2 ekor harimau saat pulang dari menyadap getah karet di kebun, sekitar pukul 15:30 WIB" imbuhnya. Lantas pada tgl 23 September 2021 seorang kakek bernama Erjon bersama tiga orang cucunya juga melihat penampakan satwa liar jenis harimau sumatera di lokasi yang tidak berjauhan dari lokasi penampakan oleh bapak Jul Masri. Informasi juga diperoleh petugas di lapangan bahwa ada warga atas nama Heri mendapat cerita dari sopir travel yang memberikan kabar melihat harimau sebanyak 3 ekor melintas di jalan ke arah Batang Suliti. Sumber : Balai KSDA Sumatera Barat
Baca Berita

BKSDA Sumbar dan Anggota DPRD Sumbar Edukasi Warga Pemikat Burung

Padang, 26 September 2021. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Barat (BKSDA Sumbar) melalui Resort Konservasi Wilayah (RKW) I Pasaman bersama anggota Komisi IV DPRD Provinsi Sumatera Barat mlakukan edukasi dan pembinaan terhadap dua orang warga Lubuk Sikaping Kabupaten Pasaman yang terciduk membawa beberapa jenis burung dilindungi ketika melintas di jalan raya Lubuk Sikaping - Padang Sawah via Langkut di sekitaran kawasan hutan Suaka Margasatwa (SM) Malampah Alahan Panjang, Kamis (23/09/2021). Kedua warga berinisial Z (58 tahun) dan I (33 tahun) tertangkap tangan oleh petugas RKW I Pasaman yang sedang melaksanakan patroli ketika sedang membawa satwa dilindungi jenis burung Cica daun besar (chloropsis sonneratia) sebanyak 2 ekor, Cica daun kecil (choloropsis cynopogon) sebanyak 10 ekor, dan 2 ekor burung tidak dilindungi jenis Siri-siri (Ixos melaccensis) dengan menggunakan sepeda motor roda dua. Selanjutnya kedua warga itu dibawa ke kantor Seksi Konservasi Wilayah I di Lubuk Sikaping untuk didata dan dilakukan pembinaan. Kedua warga tersebut disosialisasikan akan pentingnya konservasi terhadap satwa dilindungi salah satunya adalah dengan tetap membiarkannya berada di alam. Dan juga disampaikan tentang peraturan perundangan yang berkaitan dengan satwa dilindungi. Selanjutnya kedua pelaku membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi kembali perbuatannya. Sedangkan ke 14 ekor satwa burung yang baru saja mereka pikat dilepaskan kembali ke alam di kawasan hutan Suaka Margasatwa Malampah Alahan Panjang. Sementara itu Bapak Suharjono, anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat dari Komisi IV yang kebetulan melintas dan menyaksikan saat itu, ikut memberikan edukasi dan nasehat kepada kedua warga. Bapak Suharjono memberikan apresiasi dan dukungan terhadap tindakan yang dilakukan petugas di lapangan serta berharap ke depannya semakin sering dilaksanakan sehingga kelestarian satwa dapat terjaga. Pepatah bijak mengatakan "Mencintai dan menyukai itu tidak harus dengan memilikinya". Jika para sobat menyukai kicauan burung, maka biarkanlah dia tetap berada di alamnya, dan jika ingin mendengarkan suaranya berkunjunglah ke habitatnya dan jaga rumah tempat hidupnya. Yuk bersama kita jaga dan lestarikan keanekaragaman hayati kita untuk sekarang dan masa yang akan datang. Sumber : Balai KSDA Sumatera Barat
Baca Berita

Green School TaNa Bentarum Gandeng Dua Sekolah Menengah

Desa Vega, 27 September 2021. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) baru - baru ini menggelar kegiatan Green School yang dilaksanakan pada tanggal 24-27 September 2021 di Desa Vega dengan menggandeng 23 orang siswa-siswi SMAN 1 Batang Lupar, 2 orang guru pendamping serta 23 orang siswa-siswi SMAN 1 Embaloh Hulu dan 2 orang guru pendamping. Penanaman pondasi lingkungan sejak dini menjadi solusi yang dapat dilakukan untuk memperkenalkan dan memberikan pemahaman konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya kepada siswa-siswi tingkat sekolah di sekitar Kabupaten Kapuas Hulu. Selain itu, dapat dijadikan program sosialisasi pengelolaan Tana Bentarum kepada masyarakat khususnya siswa-siswi yang bersekolah di Kabupaten Kapuas Hulu dengan harapan terwujudnya kolaborasi antara pengelola UPT dengan masyarakat dalam bidang konservasi dan lingkungan hidup. Materi green school disampaikan berupa pengetahuan tentang hutan dan lingkungan hidup, Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum, pengenalan resort, praktek mengenai pengolahan sampah plastik berupa ecobrik serta pengetahuan tentang fotografi dan videografi. Green school tidak hanya dilaksanakan di Desa Vega, namun terdapat destinasi tujuan lainnya yaitu Bukit Vega, Pulau Sepandan dan Pulau Tekenang. Plt. Kepala Bidang Teknis Konservasi Taman Nasional Balai Besar TaNa Bentarum, Junaidi, S.Hut., M.Si. mengatakan kegiatan ini dapat menjadi media untuk transfer ilmu dan pengetahuan kepada siswa-siswi sehingga dapat memberikan pendidikan konservasi dan lingkungan hidup kepada generasi muda. “Kegiatan ini juga dapat menjadi wadah untuk mengenalkan Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum kepada generasi muda sehingga anak-anak muda dapat lebih mencintai alam sekitar dan turut serta mlestarikannya” ujar Bapak Gunawan Budi Hartono, S.Hut. M.Si., Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Lanjak menambahkan. Bapak Dedy Priyadi, S.P. selaku guru pendamping dari SMAN 1 Batang Lupar sangat mengapresiasi kegiatan ini karena besarnya minat dari siswa/i untuk menambah ilmu pengetahuan tentang alam sebagaimana tugas kita untuk menjaga lingkungan dan menjaga hutan serta alam sekitar kita. “Kami sangat senang karena adanya kegiatan green school dimana siswa siswi sekolah kami dapat mengikuti kegiatan dengan mendapatkan pengetahuan serta pengalaman dan wawasan tentang hutan dan cara melestarikan alam” tambah Ibu Natalia Maria Owen, S.Pd., guru pendamping dari SMAN 1 Embaloh Hulu. Elin selaku perwakilan siswa dari SMAN 1 Embaloh Hulu berharap bahwa kedepannya tidak hanya kami yang dapat mengikuti kegiatan ini namun dapat mengikutsertakan teman-teman lainnya sehingga kami semua mendapatkan pengetahuan serta pengalaman yang banyak dari kegiatan green school ini. Generasi kekinian adalah generasi muda yang memiliki pemahaman tentang lingkungan hidup dengan baik dan benar. Pendidikan lingkungan hidup yang ditanamkan sejak dini dapat menjembatani dan mendidik anak agar bersikap dan berperilaku arif dengan lingkungannya. Serta mendorong pihak sekolah untuk menerapkan kegiatan pendidikan lingkungan hidup yang berkelanjutan. Sumber : Eka - Penyuluh Kehutanan Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Bantuan Modal Usaha Untuk Dua Kelompok Tani Hutan TN Matalawa

Waikabubak, 27 September 2021. Perjalanan Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) dalam mendorong perekonomian masyarakat melalui pendampingan, pembinaan, pemberian akses masyarakat pada zona tradisional dan pemberian bantuan modal usaha dilakukan secara berkala seperti yang dilakukan oleh Bapak Kepala Balai bersama Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I dan jajaran dalam mengarahkan kelompok masyarakat yaitu Kelompok Tani Hutan (KTH) Hammu Desa Okawacu dan KTH Dewa Nauna Desa Manurara yang dilakukan pada tanggal 23 September 2021 bertempat di Kantor SPTN I, turut hadir juga Pemerintah Kecamatan Katikutana Selatan dan Kepala Desa Okawacu pada kegiatan tersebut. Selanjutnya Kepala Balai menyampaikan bahwa peningkatan akses masyarakat di zona tradisional dan dibekali ketrampilan, pendampingan serta bantuan modal usaha diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam mendorong usaha ekonomi masyarakat, banyak beberapa desa yang telah menunjukkan progres dalam kegiatan masyarakat melalui pembinaan oleh Balai, salah satu kelompok yang menonjol adalah kelompok KMPH Opang Madangu yang digawangi oleh Bapak Ella telah memperoleh prestasi di tingkat nasional pada kegiatan HKAN, sehingga diharapkan 2 (dua) kelompok ini juga dapat mengikuti keberhasilan kelompok tersebut. Turut serta perwakilan dari Kecamatan Katikutana Selatan menyampaikan ucapan terima kasih dan dukungan atas apa yang telah dilakukan oleh Balai TN Matalawa. Acara diakhiri dengan penyerah simbolis bantuan pendanaan ke kelompok masyarakat. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti Teks: Diecky Arif Rahman, S.Hut Foto: Dwi Putro Notonegoro, S.Hut, M.S.E, M.Ec
Baca Berita

BKSDA NTB Latih Pemandu Wisata dan Serahkan Bantuan Ekonomi Produktif di Desa Batu Putih

Lombok Barat, 22 September 2021 - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB) memberikan bantuan usaha ekonomi produktif sekaligus pelatihan hospitality (keramah-tamahan) dan pemandu wisata alam bagi kelompok masyarakat sekitar Taman Wisata Alam (TWA) Bangko-Bangko, Desa Batuputih. Sebanyak 30 peserta hadir yang berasal dari kelompok Lestari Bangko-Bangko, Surga Dua Gili dan Pesona Batuputih. Masyarakat menjadi subjek merupakan salah satu dari 10 cara baru kelola kawasan konservasi, sehingga harapannya masyarakat dapat berkontribusi aktif dalam pengembangan wisata alam di kawasan konservasi. Kepala Desa Batu Putih menyambut hangat atas bantuan dan bentuk perhatian Balai KSDA NTB untuk pengembangan ekowisata di TWA Bangko-Bangko. Nasehat bapak Kepala Desa, agar kelompok masyarakat mampu memanfaatkan bantuan dengan sebaik-baiknya. Lalu Muhammad Fadli, Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Lombok menyampaikan laporan pelaksanaan juga mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk perhatian bapak Kepala Balai KSDA NTB, Joko Iswanto, S.P., M.H. kepada kelompok masyarakat yang berada di sekitar kawasan. Kepala BKSDA NTB, Joko Iswanto, S.P., M.H. kemudian menyerahkan bantuan senilai tiga puluh juta rupiah dalam bentuk 10 set peralatan snorkling dan kamera Underwater. Bantuan diterima langsung oleh Ketua Kelompok Lestari Bangko-bangko, H. Muh Saleh. Setelah penyerahan bantuan, dilanjutkan dengan materi pengenalan pertolongan pertama pada kecelakaan yang disampaikan oleh Putu Eka, rescuer mahir Basarnas, kemudian pengenalan geowisata oleh geologist geopark Rinjani Meliawati Ang. Dilanjutkan dengan materi hospitality dan manajemen guest house dan praktik pengenalan housekeeping oleh Rata Wijaya Manajer Tunak Cottage. Karena antusiasme peserta, materi dilanjutkan dengan pengenalan guiding oleh pemandu senior dari HPI Fahrurrozi Gaffar atau yang biasa dikenal Bang Uji. Hari kedua dilanjutkan materi interpretasi personal oleh Yuniar Pratiwi dan penyusunan paket wisata oleh Fathul Rakhman manajer Geopark Rinjani Lombok. Antusiasme peserta sangat terasa ketika praktik langsung interpretasi personal mulai dari Batu lava, pemindangan tongkol dan pengenalan serta penanaman mangrove. Peserta sangat antusias mengikuti hingga akhir acara mendapatkan ilmu dan skill pemanduan serta interpretasi meskipun beberapa peserta sudah mempraktikkan langsung menjadi pemandu. Di akhir acara pengambilan video testimoni dari peserta. Sulaiman menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian BKSDA NTB dan ilmu baru yang diberikan serta kegiatan serupa dapat dilaksanakan kembali karena masyarakat sekitar TWA Bangko-Bangko haus akan ilmu pengetahuan. Semoga rasa keingintahuan dan semangat belajar untuk mengembangkan ekowisata di TWA Bangko-Bangko semakin kuat menuju Hutan lestari masyarakat sejahtera. Kegiatan berlangsung selama 2 hari yakni dari tanggal 22 hingga 23 September 2021 di Pantai Bangko-bangko Desa Batu Putih yang dihadiri Kepala BKSDA NTB, Kepala SKW I Lombok, Geopark Rinjani Lombok, Kepala Desa Batuputih, Fajrin, S. Pd., Babinsa, Babinkamtibmas, Penyuluh, PEH, POLHUT BKSDA NTB dan Kelompok Masyarakat. Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Tim Satgas Penanganan Konflik Satwa Liar Melakukan Pengecekan Kemunculan Buaya Muara

Pelaihari, 16 September 2021 – Menindaklanjuti laporan adanya kemunculan Buaya Muara (Crocodylus porosus) di Desa Swarangan, Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan menugaskan Staff Bagian Satgas Penanganan Konflik Satwa Liar dan Staff Resort Balai KSDA SM Pelaihari untuk melakukan langkah-langkah cepat dan terukur guna menghilangkan kepanikan warga dan menghindari terjadinya konflik antara satwa liar dan manusia. Tim dari BKSDA Kalimantan Selatan ini dipimpin oleh Bapak Jarot J. Mulyono, S.Hut, M.Sc. Upaya dan langkah-langkah awal yang diambil oleh tim menindaklanjuti kemunculan Buaya Muara di Desa Swarangan adalah melakukan koordinasi dengan koramil jorong dan Babinsa Desa Swarangan Bapak Serda Abdullah. Tim dari Balai KSDA Kalimantan Selatan beserta Babinsa Desa Swarangan kemudian berangkat bersama menuju Desa Swarangan. Sesampainya di Desa, tim langsung menuju kantor Desa untuk berkoordinasi dengan pihak Desa Swarangan. Bapak Taibani selaku aparat Desa Swarangan menyambut tim di Kantor Desa dan bersama-sama mengecek lokasi kemunculan Buaya Muara. Pengecekan dilakukan selama dua hari pada tanggal 14 sampai dengan 15 September 2021. Selama melakukan pengecekan tim tidak menjumpai kemunculan Buaya. Setelah melakukan pengecekan lokasi kemunculan Buaya Muara di Desa Swarangan, Tim dari Balai KSDA Kalimantan Selatan beserta Babinsa Desa Swarangan kemudian melakukan sosialisasi dan himbauan kepada masyarakat Desa Swarangan agar berhati-hati dalam beraktifitas di sungai terutama di pagi dan sore hari serta tidak membuang isi perut ternak dan sisa daging ternak ke sungai yang dapat memicu kemunculan Buaya Muara. Tim kemudian memasang spanduk peringatan di sekitaran sungai Swarangan dan pemukiman warga. “Kami mewakili masyarakat Desa Swarangan mengucapkan terimakasih kepada Tim dari Balai KSDA Kalimantan Selatan dan Bapak Babinsa Desa Swarangan atas respon cepat yang diberikan terkait laporan kami tentang kemunculan Buaya Muara di Sungai Swarangan dekat perkampungan kami.” Ujar Bapak Taibani. “Kehadiran Bapak-Bapak setidaknya dapat mengurangi kecemasan dan kepanikan warga karena kemunculan Buaya Muara ini.” tambahnya. Secara terpisah, Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Bapak Dr.Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc menyampaikan bahwa Sungai Swarangan merupakan habitat buaya muara dan berada di kawasan Suaka Margasatwa Pelaihari, yaitu areal hutan yang ditunjuk oleh negara sebagai kawasan perlindungan bagi tumbuhan dan satwa liar didalamnya. Buaya muara berdasarkan Peraturan Pemerintah No.7 tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan & Satwa liar termasuk Satwa liar yang dilindungi oleh negara. “Kemunculan satwa ini di sekitar pemukiman warga atau meluas ke arah hilir bisa sebagai penanda kewaspadaan terhadap kenaikan muka air karena cuaca hujan yang terjadi akhir-akhir ini, oleh karenanya dihimbau kepada warga untuk berhati-hati ketika beraktifitas di sungai terutama sore dan malam hari” tutup Mahrus. (ryn) Sumber : Badrul Arifin, S.Hut - PEH Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Pelaihari Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Kembali, Tim Gabungan Amankan Penjual Kulit Harimau Sumatera di Riau

Pekanbaru, 24 September 2021. Riau kembali menggeliat, Tim gabungan Balai Besar KSDA Riau, Polda Riau dan Balai Gakkum Wil Sumatera Seksi Wilayah II kembali menangkap penjual kulit satwa dilindungi Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Kronologis kejadian : 1. Sabtu, 18 September 2021 masuk laporan dari masyarakat bahwa akan ada transaksi perdagangan kulit Harimau sumatera. Tim Balai Besar KSDA Riau segera melakukan operasi pulbaket terkait dengan perdagangan satwa kulit Harimau. Selama kurang lebih 1 minggu, Tim pulbaket Balai Besar KSDA Riau melakukan pendalaman terkait informasi tersebut sampai di wilayah Darmasraya Sumatera Barat. 2. Kamis, 23 September 2021, Tim Balai Besar KSDA Riau berhasil memastikan kepada pelaku untuk bisa melakukan transaksi kulit Harimau sumatera di kota Pekanbaru. Tim Balai Besar KSDA Riau langsung melakukan koordinasi dengan Polda Riau dan Balai Gakkum Wil Sumatera, Seksi Wilayah II. 3. Jumat, 25 September 2021, sekira pukul 06.30 WIB, di SPBU Simpang Kubang, Kec. Siak Hulu, Kab. Kampar. Tim gabungan berhasil mengamankan sebanyak 4 terduga pelaku dengan barang bukti 1 buah roda 4 dan satu lembar kulit Harimau sumatera. Ke-4 terduga pelaku berinisial S, SH, R, berjenis kelamin laki laki dan satu orang berinisial M, berjenis kelamin perempuan. Saat ini pelaku dan barang bukti diserahkan ke Polda Riau dan akan segera dilakukan penyidikan oleh Tim Penyidik Polda Riau. 4. Balai Besar KSDA Riau sangat mengapresiasi sinergitas dan kerjasama selama ini atas penanggulangan perdagangan satwa liar terutama satwa liar yang dilindungi. Kepada masyarakat apabila ingin melaporkan terkait gangguan terhadap kawasan konservasi ataupun kejahatan terhadap satwa liar yang dilindungi agar melapo ke call center Balai Besar KSDA Riau di nomor 081374742981. Sumber : Balai Besar KSDA Riau Nara sumber : Plh. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Hartono Penanggungjawab berita : Humas Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Tim Gabungan Balai TN Tesso Nilo Tindak Tegas Pekerja Ilegal

Baserah, 24 September 2021. Petugas Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) kembali giatkan patroli dikawasan TN Tesso Nilo pada tanggal 21 – 24 September 2021. Delapan orang petugas gabungan dari Polhut Balai, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Lubuk Kembang Bunga (LKB) dan SPTN Wilayah II Baserah melaksanakan kegiatan dari mulai menyusuri kawasan sampai memantau karhutla dan tipihut di kawasan TN Tesso Nilo. Petugas sekaligus menindaklanjuti informasi kegiatan ilegal di dalam kawasan karena ditemukannya 1 (satu) unit alat berat jenis excavator yang diduga digunakan untuk melakukan pembukaan lahan perkebunan. Pada lokasi penemuan, petugas mendapati pekerja yang mengoperasikan alat tersebut dan langsung diinterogasi dengan memberikan surat pernyataan kepada pekerja untuk segera mengeluarkan alat berat serta memberhentikan aktivitas yang dikerjakan. Mendalami kejadian tersebut, keesokan harinya penanggungjawab terhadap aktifitas alat berat tersebut dipanggil oleh petugas untuk memberikan keterangan di kantor SPTN Wilayah II Baserah. Terduga pelaku kemudian diberikan peringatan keras serta diberlakukan proses hukum terhadap perbuatan yang dilakukan di dalam kawasan. Pada hari ketiga kegiatan patroli petugas kembali menyusuri kawasan dengan kondisi terpantau aman dan terkendali serta tidak dijumpai adanya kegiatan ilegal yang mengancam keutuhan kawasan TN Tesso Nilo. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Investigasi BKSDA Sumbar Terkait Video Viral Perburuan Satwa Rusa

Padang, 22 September 2021. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Barat (BKSDA Sumbar) menindaklanjuti video viral terkait perburuan satwa rusa (Cervus unicolor) yang diunggah pada akun tiktok @saddamputra2 pada Senin (13/9). Kepala Balai KSDA Sumbar Ardi Andono, S.TP, M.Sc, pada Selasa (14/9), mengarahkan Kepala Resort Pesisir Selatan, Bilmar melakukan koordinasi dengan Polres Pesisir Selatan yang dilanjutkan dengan investigasi pada Rabu (15/9). Selanjutnya pada Selasa (21/9) di Kantor Wali Nagari Tluk Kualo Inderapura Kec. Airpura pelaku pengunggah video viral atas nama Sadam Putra warga masyarakat Kampung Rimbo Lumang Nagari Tluk Kualo Inderapura Kec. Airpura mengakui kesalahannya yang telah membuat resah warga dengan menyebar video dan terlibat dalam perburuan satwa liar yang dilindungi UU. Sadam juga mengucapkan terima kasih kepada pihak BKSDA Sumbar, Polres Pesisir Selatan dan Polsek Pancung Soal atas respon yang tanggap terkait video viral perburuan rusa di Kabupaten Pesisir Selatan. Investigas awal dilakukan Tim Balai KSDA Sumatera Barat kepada kelompok warga di Kampung Sungai Gemuruh Nagari Inderapura Selatan Kec. Pancung Soal Kab. Pesisir Selatan. Investigasi tersebut juga bekerjasama dengan Polsek Pancung Soal yang diketahui lokasi perburuan rusa bukan berada di Kampung Sungai Gemuruh Nagari Inderapura Selatan namun terjadi di Kampung Muaro Sakai dekat jembatan Ponton Nagari Tluk Amplu Inderapura Kec. Pancung Soal kab. Pesisir Selatan. Tim kemudian melanjutkan investigasi ke rumah @saddamputra2 yang mengunggah video tersebut di Kampung Rimbo Lumang Nagari Tluk Kualo Inderapura Kec. Air Pura, namun tim tidak menemukan pelaku. Berdasarkan informasi dari orangtuanya, pelaku sejak video viral telah melarikan diri karena takut ditangkap petugas. Pada Kamis (16/9), Tim bersama-sama Bhabinkamtibmas, anggota DPRD Tk. II Kab. Pesisir Selatan (Ronaldi, A. Md), Kepala Kampung Rimbo Lumang, Kepala Kampung Muaro Sakai, Pengurus ormas Pemuda Pancasila serta tokoh masyarakat lainnya mendatangi TKP. Saksi ZA alias Zul warga Nagari Tluk Amplu Inderapura Kec. Pancung Soal yang menyaksikan video perburuan rusa oleh sekelompok masyarakat memberikan keterangan bahwa perburuan rusa tersebut terjadi pada Minggu (5/9) pkl. 16.00 wib. Kronologisnya saat masyarakat sedang berburu babi, para pemburu melihat ada seekor rusa yang melintas melewati sungai dekat jembatan Ponton, spontan beberapa oknum pemburu tersebut mengejar rusa dan melakukan perburuan terhadap satwa tersebut sebagaimana di upload di akun tiktok @saddamputra2. Saksi mengaku tidak mengenal pelaku perburuan. Perwakilan tokoh masyarakat di Inderapura serta Pemerintahan Nagari Tluk Kualo Inderapura memohon kepada instansi berwenang untuk melakukan pembinaan terlebih dahulu kepada pelaku serta menjamin kejadian serupa tidak terulang kembali. Kejadian tersebut terjadi karena ketidaktahuan pelaku bahwa satwa rusa termasuk satwa yang dilindungi UU. BKSDA Sumatera Barat berharap dari kejadian ini, warga di lokasi tersebut tidak melakukan perburuan lagi terhadap satwa dilindungi bahkan turut menjaganya. Sumber : Balai KSDA Sumatera Barat
Baca Berita

BBKSDA Riau Tinjau Lokasi Gangguan Beruang Madu

Pekanbaru, 20 September 2021. Tim Balai Besar KSDA Riau dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas melakukan pengecekan satwa liar beruang madu (Helarctos malayanus) di Kel. Maharani, Kec. Rumbai, Kota Pekanbaru, Senin (20/9). Berawal dari laporan warga atas nama Arief tentang adanya kemunculan satwa liar beruang di kebunnya, menindaklanjuti laporan tersebut Plh. Kepala Bidang Wilayah II, MB Hutajulu segera menurunkan tim menuju lokasi gangguan untuk identifikasi, setelah sebelumnya berkoordinasi dengan aparat Kelurahan Maharani. Tim menghubungi pelapor, Arief untuk bersama - sama melakukan identifikasi lokasi gangguan dan dijumpai adanya bekas cakaran beruang pada tanaman jambu. Dari bekas cakaran diperkirakan beruang datang sudah dua hari yang lalu (18/9). Namun Arief menyampaikan bahwa beruang sudah berulang kali memasuki lahan kebunnya, kemungkinan karena saat ini sedang musim buah, sehingga satwa mencari makan. Sosialisasi diberikan kepada warga agar berhati-hati saat melintas di lokasi tersebut. Warga menyampaikan bahwa saat ini beruang berada di sekitar hutan belukar yang berada di pinggir PT. Kura. Semoga satwa tersebut hanya lewat dan numpang makan dan segera kembali ke habitatnya yang jauh dari pemukiman penduduk. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Ular 9 Meter Diserahkan ke BBKSDA Riau

Pekanbaru, 21 September 2021. Balai Besar KSDA Riau kembali melakukan pelepasliaran satwa ke habitatnya, yaitu seekor ular sawah/sanca batik (Malayopython reticulatus / Python reticulatus), Selasa (21/9). Satwa tersebut hasil rescue seorang warga bernama Amar di kebun sawit Desa Sungai Buluh, Kec. Bunut, Kab. Pelalawan Riau. Ular diketahui berjenis kelamin betina, dengan berat sekitar 120 kg dan panjang lebih dari 9 meter yang diperkirakan berumur lebih dari 30 tahun. Amar menyerahkan ular tersebut ke kantor Balai Besar KSDA Riau yang segera ditindaklanjuti dengan melepasliarkannya ke habitatnya di kawasan konservasi yang jauh dari pemukiman penduduk. Tim pelepasliaran harus menempuh perjalanan masuk ke dalam kawasan dengan berjalan kaki menyusuri sungai dan perbukitan sekitar 1 jam. Setelah dilakukan pelepasliaran, ular terlihat sangat bersemangat masuk ke dalam semak untuk kemudian menyatu dengan lingkungan barunya. Perlu kamu tau, kalau saat ini ular Python reticulatus bukan satwa yang dilindungi, namun dalam CITES, satwa ini termasuk dalam kategori appendiks II, yaitu spesies yang tidak terancam kepunahan, tetapi mungkin terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan. Pengaturan tersebut berupa adanya pembatasan kuota tangkap/ambil yang ditetapkan oleh Dirjen KSDAE setiap tahunnya berdasarkan rekomendasi dari LIPI dan berlaku untuk satu tahun, adapun dasar dalam penetapan kuota tersebut berdasarkan Kepmenhut No. 447/Kpts-II/2003 tentang Tata Usaha Pengambilan atau Penangkapan dan Peredaran Tumbuhan dan satwa liar. Semoga dapat hidup sehat ya. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Anggota DPRD Provinsi Sulsel Serahkan 8 Ekor Satwa Dilindungi Jenis Elang

Masamba, 20 September 2021. Delapan ekor elang dilindungi yang terdiri dari 2 ekor Elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaster), 2 ekor Elang Paria (Milvus migrans), 3 ekor Elang Bondol (Haliatus indus) dan 1 ekor Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) telah diserahkan H. Andi Syafiuddin Patahuddin, ST (anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan) kepada Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Besar KSDA Sulsel yang langsung diterima oleh Ir. Thomas Nifinluri, M.Sc selaku Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan. Penyerahan elang tersebut atas kesadaran dan inisiatif pribadi Opu Andi Sayfiuddin, mengingat populasi elang di alam yang semakin berkurang. Opu mengisahkan sejak tahun 2000 telah merawat seekor Elang laut perut putih yang diberinama BENTO yang saat ini diperkirakan telah berusia kurang lebih 25 tahun. Kemudian pasca kejadian banjir bandang menerjang Masamba pada tahun 2020, jumlah elang peliharaan Opu bertambah, serahan dari warga. Pada saat menyerahkan ke-8 elang tersebut kepada Tim WRU, Opu berpesan agar elang-elang tersebut dirawat dengan baik dan berharap agar diikutsertakan jika dilakukan pelepasliaran. “Harapan saya semoga apa yang saya berikan dengan rasa iklas dan kasih sayang ini dapat menjadi motivasi petugas BBKSDA Sulsel untuk bekerja lebih maksimal. Di tempat saya, elang-elang ini beri layanan layaknya hotel bintang satu, saya berharap di balai akan mendapatkan layanan hotel bintang lima. Apabila sudah siap dilepaskan, harap saya diberi tahu.” Ujar Opu pada saat acara penyerahan. Thomas Nifinluri menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas keiklasan Opu yang secara sukarela menyerahkan 8 ekor satwa liar dilindungi. Dalam sambutannya, Thomas mengutip pemikiran Mahatma Gandi, bahwa kebesaran dan kemajuan moral suatu bangsa dapat dinilai dari caranya dalam memperlakukan satwa. Selain itu, juga menekankan pentingnya memperhatikan kesejahteraan hewan yang tercermin dalam The Five Freedoms. “Pentingnya memperhatikan kesejahteraan satwa yang diukur melalui The Five Freedoms, yaitu bebas dari lapar dan haus, bebas dari ketidaksenangan, bebas dari sakit, bebas untuk berperilaku alami, bebas dari ketakutan dan stress” ujar Thomas Nifinluri. Dalam rantai makanan, Elang berfungsi sebagai pemangsa tertinggi, sehingga keberadaannya sangat penting dalam mengkontrol populasi satwa yang menjadi mangsanya seperti ular, tikus, burung dan ikan. Berkurangnya populasi elang di alam dikuatirkan akan terjadi ledakan populasi satwa-satwa di bawahnya dalam segitiga rantai makanan yg akan mengganggu keseimbangan ekosistem di alam. Elang merupakan jenis satwa yang setia terhadap pasangannya dan dalam dua tahun hanya mampu bertelur satu, itupun belum tentu berhasil. Dikutip dari Mongabay.co.id, di dunia setidaknya terdapat 311 jenis elang. Dari 90 jenis ada di Asia, 75 di Indonesia. Ke-75 spesies itu tersebar antara lain, Sumatera (36), Jawa (28), Kalimantan (29), Sulawesi (30), 24 species di kepulauan Nusa Tenggara, Maluku (18) dan Papua (25). Keempat jenis elang yang diserahkan tersebut termasuk jenis satwa yang dilindungi sebagaimana diatur dalam peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SEKJEN/KUM.1/12/2018. Dalam Konvensi Perdagangan Intetnasional Tumbuhan dan Satwa Liar Terancam Punah (CITES), keempat jenis elang tersebut termasuk dalam kategori Appendik II CITES. International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan status Elang laut perut putih, Elang Paria, Elang Bondol dan Elang Brontok sebagai Least Concern (risiko rendah). Pulau Sulawesi dan sekitarnya merupakan salah satu wilayah persebaran ke empat jenis elang tersebut. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penanggung Jawab Berita: Kepala Subag Data, Evlap dan Humas - Murniaty, S.Hut, M.P. Call-Center BBKSDA Sulawesi Selatan - 08114600883
Baca Berita

Bantuan Ternak Kambing Untuk Kelompok Tani Gembala Jaya

Rejang Lebong, 21 September 2021 . Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BB-TNKS) melalui Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Sumatera Selatan-Bengkulu menyalurkan bantuan pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan yang berada di wilayah Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, Selasa (21/9). Bantuan diberikan kepada Kelompok Tani Gembala Jaya Desa Karang Jaya Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong untuk usaha peternakan kambing dengan besaran bantuan senilai Rp. 50 juta. "Bantuan ini berasal dari Kementerian LHK melalui Ditjen KSDAE dalam rangka pemberdayaan masyarakat yang tinggal disekitar kawasan TNKS yang diberikan kepada Kelompok Tani Gembala Jaya Desa Karang Jaya. Bantuan ini murni usulan dari anggota kelompok untuk peternakan kambing, bantuannya langsung diberikan ke rekening kelompok senilai Rp50 juta" kata M Zainudin, Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Sumatera Selatan-Bengkulu. Dia menjelaskan bantuan pemberdayaan ekonomi serupa pada tahun sebelumnya juga sudah diberikan kepada masyarakat Rejang Lebong tepatnya di dua desa dalam Kecamatan Bermani Ulu Raya yakni Desa Bandung Marga berupa bantuan usaha peternakan sapi dan Desa Babakan Baru usaha peternakan kambing. Bantuan peningkatan ekonomi masyarakat sekitar kawasan TNKS tersebut, kata dia, pada tahun 2021 semula ada delapan paket bantuan dengan total anggaran mencapai Rp400 juta tetapi karena adanya pendemi COVID-19 kemudian terjadi pergeseran anggaran sehingga tinggal empat paket dengan jumlah bantuan Rp200 juta. "Dari delapan paket itu turun menjadi empat paket, dua di Provinsi Bengkulu yakni di Kabupaten Rejang Lebong dan satu paket di Kabupaten Lebong serta dua paket lainnya di Provinsi Sumatera Selatan. Masing-masing paket bantuan senilai Rp50 juta" terangnya. Dia berharap dengan adanya bantuan ini nantinya bisa meningkat perekonomian masyarakat di sekitar kawasan TNKS sehingga akan mengurangi mobilitas mereka masuk ke dalam kawasan TNKS. Sementara itu Kepala Desa Karang Jaya Muhammad Syaifudin menyatakan, pihaknya sangat berterima kasih kepada pihak BB-TNKS yang telah memberikan bantuan usaha pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat di desanya, kemudian bantuan pemanfaatan hutan bukan kayu berupa pemanfaatan air dari TNKS serta bantuan perizinan konservasi kaum ibu-ibu di kawasan TNKS. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat

Menampilkan 2.081–2.096 dari 11.141 publikasi