Jumat, 9 Jan 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Trenggiling Penyerahan Warga Dilepasliarkan

Trenggiling dilepasliarkan petugas di kawasan Aras Napal 242 Aras Napal, 11 September 2025. Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan dan perawatan di Kandang Transit Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, 1 (satu) ekor satwa liar dilindungi jenis Trenggiling (Manis javanica) yang sebelumnya diserahkan warga Kota Tebing Tinggi melalui Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tebing Tinggi, pada Selasa (2/9) akhirnya dilepasliarkan ke kawasan Aras Napal 242 yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser, pada Kamis (4/9). Kawasan ini merupakan habitat dari satwa Trenggiling. Bersamaan dengan itu, turut dilepasliarkan 1 (satu) ekor lagi Trenggiling yang juga penyerahan dari warga Besitang kepada petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Resor Aras Napal, pada Kamis (4/9). Kedua satwa ini telah melalui pemeriksaan kondisi kesehatan oleh Tim medis Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan dinyatakan sehat serta layak untuk dilepasliarkan. Pelepasliaran ini merupakan upaya untuk menyelamatkan dan menjaga kelestarian Trenggiling di habitatnya, dengan harapan nantinya dapat hidup layak dan berkembangbiak secara alami. Trenggiling penyerahan warga Besitang kepada petugas Sumber : Tim Resor Aras Napal – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Monyet Ekor Panjang Dievakuasi Damkar Bojonegoro dan Kini Berada di BBKSDA Jatim

Bojonegoro, 8 September 2025. Suasana Desa Sukosewu, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, mendadak gempar. Seekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) jantan berukuran besar muncul di pemukiman warga dan menimbulkan keresahan. Gerakannya yang lincah dan agresif membuat masyarakat khawatir akan keselamatan mereka. Kekhawatiran itu berujung pada tindakan cepat. Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Bojonegoro turun tangan mengevakuasi satwa liar tersebut. Operasi berlangsung hati-hati, mengingat ukuran tubuh primata itu cukup besar dan tenaganya kuat. Setelah berhasil diamankan, monyet ekor panjang itu diserahkan langsung kepada petugas Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro. Kini, satwa tersebut ditempatkan di kandang transit Seksi KSDA Wilayah II untuk pemantauan. Kondisinya dipastikan masih hidup dan sehat. Penempatan sementara ini menjadi bagian dari upaya pengamanan sebelum ditentukan langkah selanjutnya, apakah direhabilitasi atau dipulangkan ke habitat yang sesuai. Kejadian ini mencerminkan potret nyata interaksi manusia dan satwa liar di wilayah pedesaan Jawa. Monyet ekor panjang, yang seharusnya hidup bebas di hutan, semakin sering muncul di tengah pemukiman akibat menyempitnya ruang jelajah mereka. Atau bahkan ulah manusia tak bertanggungjawab yang melepasliarkan satwa tanpa prosedur konservasi. Konflik pun tak terhindarkan, dan warga dihadapkan pada dilema, merasa terancam, tetapi juga berhadapan dengan makhluk hidup yang memiliki hak untuk bertahan. Bagi satwa liar itu, evakuasi menjadi jalan tengah, sebuah kesempatan untuk tetap hidup dan berpeluang kembali ke alam, jauh dari hiruk-pikuk manusia yang tanpa sadar telah menggeser ruang hidupnya. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Menyapa Sang Penjaga Rimba Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang “Argopuro”

Probolinggo, 8 September 2025. Di jalur pendakian Argopuro, kelelahan para pendaki seketika terhenti ketika sesosok Rusa Timor betina muncul dari balik semak belukar (30/08/25). Tubuhnya ramping, geraknya penuh kewaspadaan, namun tatapannya teduh seolah memberi salam. Di ketinggian yang sunyi, di mana napas manusia berpacu dengan dingin udara, kehadiran mamalia ini bagai pengingat bahwa hutan bukanlah ruang kosong, melainkan rumah kehidupan yang harus dijaga. Rusa Timor (Rusa timorensis) adalah satwa liar yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK P.106/2018. Ia menempati posisi penting dalam ekosistem hutan pegunungan, sebagai pemangkas alami vegetasi sekaligus mangsa kunci predator besar di masa lalu. Namun, perjumpaan langsung di habitat aslinya kianjarang, terdesak oleh fragmentasi hutan dan tekanan aktivitas manusia. “Perjumpaan seperti ini adalah penanda bahwa habitat Argopuro masih menyimpan denyut kehidupan. Kehadiran Rusa Timor menjadi indikator penting kualitas ekosistem,” ungkap Benediktus Rio Wibawanto, Kepala Seksi KSDA Wilayah VI Probolinggo. Ia menegaskan, kehadiran satwa tersebut tidak boleh hanya dipandang sebagai pengalaman wisata, melainkan refleksi atas tanggung jawab menjaga keseimbangan hutan. Senada dengan itu, Nur Patria Kurniawan, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, menekankan bahwa upaya konservasi harus terus diperkuat melalui patroli, monitoring, dan kolaborasi masyarakat. “Rusa Timor adalah bagian dari warisan alam Nusantara. Setiap perjumpaan di alam liar adalah bukti nyata keberhasilan menjaga kawasan, sekaligus peringatan bahwa tanggung jawab konservasi ada di pundak kita semua,” tegasnya. Bagi para pendaki, pertemuan singkat dengan rusa Timur di Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang “Argopuro” bukan sekadar cerita perjalanan. Ia adalah pengalaman spiritual, menghadirkan kagum sekaligus renungan, bahwa di balik lelah dan dingin, ada makhluk yang sejak ratusan tahun lalu bertahan Bersama hutan. Argopuro tak hanya menyajikan jalur terpanjang di Pulau Jawa, tetapi juga menyimpan kisah tentang hubungan manusia dengan alam. Dan Rusa Timor, dengan keheningan tatapannya, seakan berbisik bahwa hutan ini bukan hanya untuk dilalui, melainkan untuk dijaga. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda BBKSDA Jatim
Baca Berita

Begini Cara Masyarakat Madiun Belajar Menyikapi Satwa Liar

Madiun, 9 September 2025. Di balik gemuruh dan denyut kehidupan satwa liar, ada cerita tentang manusia yang belajar kembali menghormati sesama penghuni bumi. Pada 5–6 September 2025, Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Bidang KSDA Wilayah I Madiun bersama komunitas Jaga Satwa Indonesia (JSI) Pusat Madiun menggelar kegiatan sosialisasi di Obyek Wisata Pangonan, Sukosari, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun. Kegiatan ini tidak sekadar pertemuan formal, tetapi menjadi ruang dialog antara manusia, hukum, dan satwa. Sekitar 70 peserta hadir, berasal dari berbagai komunitas pecinta satwa se-Karesidenan Madiun, mulai dari Bolo Reptil Madiun, Komunitas Pecinta Satwa Magetan, Independent Reptil Ngawi, Ponorogo Exotic Animal Keeper, hingga Morelia dan Edukasi Tangguh Bencana Kanigoro. Mereka berkumpul, satu tujuan yaitu untuk memahami bahwa konservasi bukan sekadar tugas negara, melainkan tanggung jawab kolektif. Materi yang disampaikan mencakup peraturan perundangan konservasi dari Undang-Undang No. 5 Tahun 1990, Undang-Undang No. 32 Tahun 2024, hingga Permen LHK No. 18 Tahun 2024 tentang pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL). Tak hanya soal teks hukum, para peserta juga dikenalkan pada berbagai jenis satwa dilindungi yang masih sering diperdagangkan, serta strategi mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar. Konservasi hanya akan berhasil bila masyarakat menjadi garda terdepan. Pemerintah hadir sebagai penguat, tapi roh sebenarnya ada di partisipasi bersama, sebuah pesan yang dalam kegiatan ini. Bukan kali pertama JSI dan BBKSDA Jatim bersinergi. Sebelumnya, pelatihan dasar konservasi TSL telah digelar untuk 30 anggota baru JSI. Kini, api semangat itu diperluas, mengikat lebih banyak tangan dan hati yang peduli pada masa depan satwa. Antusiasme peserta menjadi bukti bahwa kepedulian lahir bukan dari wacana, melainkan dari perjumpaan langsung dengan nilai-nilai pelestarian. Setiap diskusi, setiap tatap mata di forum itu, menghadirkan kesadaran bahwa harmoni antara manusia dan satwa bukanlah utopia, melainkan pilihan yang bisa diwujudkan. Dengan kegiatan ini, BBKSDA Jatim dan JSI menegaskan kembali komitmen bahwa menjaga kelestarian satwa bukan sekadar menyelamatkan mereka dari ancaman, tetapi juga menyelamatkan jati diri manusia sebagai makhluk yang beradab. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Baung Ecological Camp, Gen Z Bukan untuk Gengsi, Tapi untuk Menjaga Bumi

Pasuruan, 8 Sepetember 2025. Di tengah derasnya pembangunan yang kian masif, sebuah ruang belajar tumbuh di Taman Wisata Alam Gunung Baung, Jawa Timur. Baung Ecological Camp 2025 bukan sekadar perkemahan, tetapi sebuah “sekolah kehidupan” yang menanamkan kesadaran bahwa pembangunan harus selaras dengan konservasi, demi keberlangsungan peradaban manusia. “Konservasi itu harus sejalan dengan pembangunan, selaras dengan kesinambungan kehidupan,” tegas Nur Patria Kurniawan, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, ketika membuka sekaligus memberikan materi utama dalam kegiatan ini. Hutan sebagai Kitab Kehidupan Dalam pemaparannya, Nur Patria mengingatkan bahwa hutan adalah karunia Tuhan sekaligus sistem penyangga kehidupan, penyedia udara bersih, air, tanah subur, hingga habitat satwa dan tumbuhan. Beliau menegaskan bahwa hutan bukanlah warisan leluhur semata, melainkan titipan untuk generasi mendatang: “Jika kita gagal menjaganya hari ini, maka esok tak ada yang bisa diwariskan.” Materi yang dibawakan mencakup, Landasan hukum kehutanan dan konservasi, fungsi hutan dalam ekologi, ekonomi, sosial-budaya, dan kehidupan global, Tiga pilar konservasi: perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman hayati, dan pemanfaatan lestari serta Ancaman nyata menjadi sebuah pemicu semangat betapa pentingya peran gen Z dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Beliau juga menekankan bahwa konservasi hanya bisa berhasil bila dijalankan bersama antara pemerintah, daerah, akademisi, NGO, dunia usaha, dan masyarakat. Harapan besar, Baung Ecological Camp tidak berhenti pada kegiatan hari ini. Menurutnya, konservasi ke depan harus berkembang melampaui daratan, merambah ke ekologi laut, pesisir, dan areal preservasi di luar kawasan hutan yang kaya biodiversitas. “Baung Ecological Camp wajib hadir kembali pada tahun 2026. Bukan sekadar kegiatan, tetapi sebuah mandat untuk melahirkan dialog, inovasi, dan pembaruan ilmu,” ujarnya penuh keyakinan. Pesan untuk Gen Z Di akhir kegiatan, pesan yang menggema kuat bagi para peserta muda, “Gen Z bukan untuk gengsi, tetapi untuk berkreasi dan berinovasi. Inovasi itu harus diarahkan untuk mendukung keberlangsungan keanekaragaman hayati. Selalu ada ruang untuk melahirkan ide-ide baru yang membawa kebaikan bagi bumi,” tegasnya menutup sesi. Dari Gunung Baung, pesan itu mengalir untuk jaga hutan, pulihkan habitat, lestarikan satwa. Sebab menjaga hutan hari ini adalah memastikan keberlangsungan hidup generasi esok. (dna) Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda BBKSDA Jawa Timur
Baca Berita

Dinas Damkar Tebing Tinggi Serahkan Trenggiling dan Monyet Ekor Panjang Ke Petugas

Trenggiling yang diserahkan petugas Damkar Tebing Tinggi Tebing Tinggi, 9 September 2025. Petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Resort Bandara Kuala Namu dan Pelabuhan Belawan bersama dengan lembaga mitra Yayasan Scorpion Indonesia, pada Selasa (2/9) melakukan evakuasi 1 (satu) ekor satwa liar dilindungi jenis Trenggiling (Manis javanica) dan 1 (satu) ekor satwa liar jenis Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tebing Tinggi. Dalam keterangannya, petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tebing Tinggi menjelaskan bahwa satwa liar jenis Trenggiling merupakan penyerahan sukarela dari masyarakat Kota Tebing Tinggi. Sedangkan satwa liar jenis Monyet Ekor Panjang merupakan hasil penyelamatan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tebing Tinggi yang masuk ke rumah masyarakat dan sempat menimbulkan keresahan warga. Petugas menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas koordinasi dan kerjasama yang baik dari petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tebing Tinggi dan berharap kedepan kerjasama ini dapat terus dibina dalam upaya penyelamatan satwa liar termasuk jenis yang dilindungi. Sebagaimana diketahui bahwa Trenggiling merupakan satwa liar dilindungi yang diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/MENLHK/ SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi, oleh karena itu kepada masyarakat dihimbau untuk tidak memburu, memperdagangkan dan atau memelihara satwa ini. Bila menemukannya agar segera menyerahkan ke petugas terkait terdekat. Partisipasi dan peran serta masyarakat sangat membantu dalam upaya penyelamatan satwa liar dilindungi. Serah terima satwa dari petugas Damkar dan Penyelamatan Kota Tebing Tinggi kepada petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara Usai penyerahan, petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara kemudian mengevakuasi Trenggiling dan Monyet Ekor Panjang ke Kandang Transit Seksi Konservasi Wilayah II di Stabat untuk proses pemeriksaan kesehatan. Sumber : Tim Resort Bandara Kuala Namu dan Pelabuhan Belawan – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Raja Angkasa yang Terselamatkan, Elang Jawa Diserahkan Warga di Mojokerto

Mojokerto, 6 September 2025. Di atas kanopi hutan pegunungan Jawa, Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) dikenal sebagai simbol kejayaan dan penjaga keseimbangan ekosistem. Namun pada Sabtu pagi, seekor jantan muda dari satwa langka itu ditemukan tergeletak lemas di kawasan Bukit Semar, Desa Dilem, Kecamatan Gondang, Mojokerto. Sayap kirinya patah, diduga akibat tembakan. Nasib sang “raja angkasa” nyaris berakhir tragis, sebelum terselamatkan oleh kepedulian seorang pendaki. Agung Nugroho, seorang warga Sidoarjo yang tengah mendaki, melihat Elang Jawa itu dibawa oleh seorang pencari madu hutan. Merasa iba sekaligus sadar akan pentingnya satwa dilindungi ini, Agung memberanikan diri untuk meminta satwa tersebut. Demi keselamatan sang elang, ia bernegosisasi dengan pencari madu tersebut agar satwa tidak jatuh ke tangan yang salah. Kesadaran sederhana itu menjadi titik balik penyelamatan. Agung segera menghubungi petugas Taman Hutan Raya (TAHURA) Raden Soerjo, yang kemudian berkoordinasi dengan Tim Penyelamatan Satwa Liar (MATAWALI) Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Mojokerto - Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Bersama Tim RPH 08 Claket TAHURA, Tim Matawali RKW 09 Mojokerto turun langsung ke lapangan, memastikan proses evakuasi berlangsung cepat dan aman. Pemeriksaan singkat di lokasi menunjukkan luka patah pada sayap kiri, kuat dugaan akibat tembakan. Kondisi ini mengingatkan kita bahwa perburuan satwa liar masih nyata terjadi di kawasan hutan. Seekor elang yang seharusnya terbang gagah di langit Jawa, kini harus berjuang untuk bertahan hidup akibat ulah manusia. Satwa tersebut kemudian dievakuasi untuk pemulihan dan rehabilitasi ke Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Jatim di Sidoarjo untuk mendapat perawatan intensif. Harapannya, setelah melalui rehabilitasi, ia dapat kembali mengudara di habitat aslinya, melanjutkan perannya sebagai predator puncak ekosistem hutan Jawa. Elang Jawa bukan sekadar satwa, ia adalah identitas bangsa. Statusnya sebagai satwa dilindungi (UU No. 5 Tahun 1990 & Permen LHK P.106/2018) serta masuk dalam Appendix II CITES menegaskan pentingnya perlindungan penuh terhadap burung endemik ini. Kisah penyerahan ini menjadi bukti bahwa kepedulian masyarakat dapat menyelamatkan kehidupan liar. Tanpa keberanian Agung Nugroho, kemungkinan besar Elang Jawa ini tidak akan pernah mendapatkan kesempatan kedua. Meski upaya penyelamatan berhasil, fakta adanya aktivitas perburuan di sekitar lokasi menjadi alarm bagi semua pihak. BBKSDA Jatim bersama TAHURA Raden Soerjo akan meningkatkan sosialisasi dan pengawasan lapangan, agar tragedi serupa tidak terulang. Bagi masyarakat luas, kisah ini adalah ajakan, mari kita bersama-sama menjaga hutan dan satwa yang ada di dalamnya. Setiap tindakan kecil, setiap kepedulian, dapat menjadi penyelamat kehidupan. Kini, seekor Elang Jawa jantan tengah dirawat dengan penuh harapan di WRU Sidoarjo. Luka pada sayapnya adalah luka kita bersama, pengingat bahwa menjaga satwa liar berarti menjaga warisan alam bangsa. Semoga kelak, ketika luka itu pulih, sayapnya kembali mengepak di langit pegunungan Jawa. Saat ia terbang bebas, itu bukan hanya kemenangan seekor elang, melainkan kemenangan kita semua, manusia yang memilih untuk berdiri di sisi alam dan hidupan liat. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda BBKSDA Jatim
Baca Berita

Kolaborasi Menjaga Hijau Pulau Bawean, Langkah Cegah Kebakaran Hutan

Bawean, 8 September 2025. Di tengah teriknya musim kemarau akhir Agustus 2025, langkah para rimbawan menyusuri hutan Suaka Margasatwa (SM) Pulau Bawean menggema di antara batang pohon yang kering. Mereka datang bukan untuk berburu jejak satwa, melainkan untuk melawan musuh yang tak kasat mata yaitu ancaman kebakaran hutan dan lahan. Selama lima hari, 25–29 Agustus 2025, tim Balai Besar KSDA Jawa Timur menggelar Patroli Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran Hutan di tiga blok rawan, Kumalasa, Alas Timur, dan Payung-payung. Patroli ini bukan sekadar rutinitas, melainkan ikhtiar menjaga rumah terakhir satwa endemik legendaris: Rusa Bawean (Axis kuhlii), yang tak akan bertahan jika habitatnya lenyap terbakar api. Langkah pertama bukan cangkul, melainkan kata-kata. Tim menyapa warga di tepian hutan, menyampaikan pesan agar selalu waspada terhadap percikan api di tengah kemarau panjang. Pesan ini tidak berhenti di jalanan dusun, tapi akan digema­kan oleh para kepala desa hingga ke mimbar acara maulid di setiap dusun. Sebuah pendekatan kultural, agar setiap telinga mendengar dan setiap hati tergerak menjaga hutan. Di lapangan, kerja keras tak kalah penting dilakukan. Dengan peralatan sederhana, para petugas dan warga membuka jalur sekat bakar, garis pertahanan yang kelak bisa menjadi pembatas api jika kebakaran tiba-tiba meluas dari lahan warga ke kawasan konservasi. Hingga patroli usai, tidak ada titik api ditemukan. Hutan tetap hijau, dan Bawean masih aman. Sebagaimana diingatkan para rimbawan, pencegahan kebakaran tidak bisa hanya ditanggung petugas. Setiap warga, setiap kepala dusun, bahkan setiap keluarga memiliki peran untuk memastikan api tidak pernah berkobar di hutan Bawean. Di pulau kecil yang terisolasi laut, kebakaran hutan akan menjadi bencana yang tak mengenal kompromi. Bukan hanya pepohonan yang hilang, tetapi juga sumber air, udara, hingga kehidupan satwa endemik yang hanya ada satu-satunya di dunia. Patroli ini adalah pengingat, bahwa konservasi bukan sekadar kata, melainkan tindakan nyata. Pulau Bawean menyimpan kekayaan hayati yang tak ternilai, dan menjaga agar ia tetap hijau berarti menjaga warisan bagi generasi mendatang. Hutan yang terbakar akan padam dalam hitungan jam, tetapi luka ekosistem bisa bertahan puluhan tahun. Itulah sebabnya, satu langkah kecil pencegahan di musim kemarau berarti satu harapan besar bagi kelestarian Pulau Bawean. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Balai TN Batang Gadis Gelar SMART Patrol di Resor 7

Mandailing Natal, Senin 8 September 2025. Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) melaksanakan kegiatan SMART Patrol di Desa Aek Nangali, Kecamatan Batang Natal. Kegiatan ini berlangsung pada 25 s.d. 31 Agustus 2025 di wilayah kerja SPTN Wilayah III Resort 7 sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian hutan dan satwa liar. SMART Patrol bertujuan untuk meningkatkan pengamanan kawasan sekaligus mengumpulkan data keanekaragaman hayati. Kehadiran petugas di lapangan menjadi langkah nyata dalam melindungi ekosistem dari berbagai potensi ancaman yang dapat mengganggu kelestarian alam. Selain patroli, tim juga melakukan pemasangan camera trap untuk memantau aktivitas satwa liar di kawasan hutan. Metode ini diharapkan dapat memperkuat efektivitas SMART Patrol dalam mendukung konservasi flora dan fauna yang ada di Taman Nasional Batang Gadis. Dengan adanya kegiatan ini, TNBG berkomitmen untuk terus menjaga keutuhan kawasan konservasi serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian lingkungan hidup. Sumber: Balai TN Batang Gadis
Baca Berita

7 Hari Menyusuri Pulau Saobi, Dapat Apa ?

Sumenep, 3 September 2025. Tujuh hari penuh, 18–24 Agustus 2025, petugas Balai Besar KSDA Jawa Timur dari Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Madura Kepulauan menyusuri hutan Cagar Alam Pulau Saobi. Dengan metode SMART Patrol, mereka melaksanakan sensus flora dan satwa untuk memastikan kondisi ekosistem di pulau seluas 436 hektar itu. Sebanyak 58 grid seluas 48,4 hektar berhasil ditapaki, meski medan sulit harus mereka hadapi: semak belukar rapat, aliran air yang menghalangi jalur, hingga teriknya matahari pesisir yang membakar kulit. Namun perjuangan itu membuahkan hasil. Sebanyak 1.451 pohon berhasil ditandai dan diukur, mencakup jenis dominan, bernilai penting, dan rawan pencurian. Tak hanya flora, tanda-tanda kehidupan satwa juga terekam. Tim mencatat 10 bukti keberadaan satwa berupa jejak rusa, sarang burung, hingga gesekan tanduk rusa. Bahkan, dua ekor burung gosong sempat terlihat, meski tak sempat didokumentasikan kamera. Semua data lapangan dikumpulkan rapi melalui aplikasi Avenza Maps, foto, dan tally sheet, untuk menjadi basis pengelolaan kawasan di masa depan. Patroli ini juga memastikan tidak ada aktivitas ilegal yang ditemukan. Sebaliknya, tim menyempatkan diri melakukan sosialisasi konservasi kepada warga yang melintas, mengingatkan bahwa hutan adalah rumah bersama yang harus dijaga. Hingga kini, SMART Patrol di Pulau Saobi telah mencakup 79% wilayah, setara dengan 347 hektare dari total 436 hektare. Angka itu bukan sekadar capaian teknis, melainkan bukti nyata bahwa rimbawan terus berjuang di garis depan, menjaga hutan agar tetap bernapas meski dalam sunyi. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Podcast Kabar Simpenan dari Lereng Kelud

Kediri, 3 September 2025. Di tengah sunyinya rimba konservasi di lereng Gunung Kelud, sebuah inovasi komunikasi lahir, Podcast “Kabar Simpenan”. Digagas oleh Seksi KSDA Wilayah I Kediri - Balai Besar KSDA Jawa Timur, podcast ini menjadi sarana baru untuk menyuarakan kisah hutan simpanan yang selama ini hanya bergema di bawah rimbun pohon Leses, ikon abadi Cagar Alam Manggis dan Besowo Gadungan. Podcast “Kabar Simpenan” hadir bukan sekadar obrolan santai, melainkan ruang dialog yang membumikan konservasi. Episode perdananya telah melalui masa pengambilan gambar pada 4 Agustus 2025. Diharapkan podcast ini dapat memperkenalkan kawasan konservasi, membuka wacana tentang pentingnya menjaga ekosistem di lereng Kelud. Setiap bulan, podcast ini akan menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan, Muspika, kelompok masyarakat binaan, komunitas pecinta alam, petugas BBKSDA, akademisi, hingga tokoh masyarakat. Tema yang diangkat pun beragam, mulai dari pengelolaan kawasan, regulasi penangkaran, hingga edukasi satwa dilindungi. Dengan format digital yang akrab bagi publik masa kini, “Kabar Simpenan” diharapkan mampu menembus sekat jarak dan generasi. Tidak semua orang bisa menjejakkan kaki di kawasan konservasi, tetapi melalui podcast ini, mereka bisa menyelami ceritanya, mendengar suara pengelolanya, dan memahami aturan yang melindunginya. Inilah cara baru membawa konservasi lebih dekat dengan masyarakat. Langkah ini menegaskan satu hal bahwa konservasi tidak lagi hanya berbicara melalui laporan resmi atau papan pengumuman, tetapi juga melalui medium yang relevan dengan zaman. Dari podcast hingga buletin, dari suara hingga tulisan, hutan simpanan kini bersuara lebih lantang, mengajak semua orang untuk terlibat menjaga warisan alam di Jawa Timur. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur Lihat Podcast Klik di Sini
Baca Berita

Patroli Pencegahan Kebakaran Hutan di Cagar Alam Pulau Saobi

Sumenep, 3 September 2025. Pulau Saobi, yang berada di gugusan Kepulauan Madura, menyimpan lanskap unik berupa savana yang membentang luas. Namunkeindahan itu menyimpan ancaman laten, setiap musim kemarau, satu percikan kecil api saja bisa berubah menjadi kobaran api yang melahap vegetasi dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Ancaman ini tidak hanya datang dari kondisi alam, tetapi juga dari aktivitas manusia. Jalan alternatif yang menghubungkan dusun di Desa Saobi kerap dilalui warga, dan tidak jarang puntung rokok terbuang begitu saja. Di kebun jati yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi, praktik membakar daun kering menjadi kebiasaan yang berisiko tinggi. Menyadari potensi tersebut, Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama Masyarakat Mitra Polhut melakukan patroli pencegahan kebakaran hutan pada akhir Agustus 2025. Selama sepekan, tim menyusuri savana, jalur perlintasan desa, hingga tepian kebun masyarakat. Patroli ini tidak hanya bertujuan menemukan titik rawan, tetapi juga mengajak masyarakat sekitar untuk memahami bahaya kebakaran hutan. Sosialisasi dilakukan di lapangan, di tengah aktivitas warga, dengan pesan sederhana namun tegas: api sekecil apapun bisa menjadi bencana bagi seluruh pulau. Langkah nyata pun diambil. Sekat bakar dibuat secara manual di antara kebun warga dan hutan, menjadi benteng sederhana agar api tidak merambat masuk. Warga pengguna jalan alternatif yang melintas di dalam kawasan diberi pemahaman untuk tidak membuang putung rokok atau menyalakan api sembarangan. Para petani diingatkan bahwa membuka lahan dengan cara membakar semak bukanlah pilihan yang bijak. Edukasi semacam ini menjadi jembatan penting, karena tanpa keterlibatan masyarakat, upaya konservasi akan selalu rapuh. Meski patroli berhasil memetakan titik rawan dan meningkatkan kesadaran, pekerjaan rumah masih menanti. Papan nama kawasan konservasi yang sudah using perlu segera diperbarui agar identitas Cagar Alam Pulau Saobi tetap jelas. Papan peringatan harus dipasang di lokasi-lokasi strategis untuk mengingatkan semua pihak akan bahaya kebakaran. Beberapa pal batas yang rusak juga menuntut perhatian, karena batas kawasan adalah garda terdepan yang menjaga garis pemisah antara hutan dan lahan garapan warga. Patroli di Pulau Saobi lebih dari sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah wujud komitmen menjaga keseimbangan alam, mencegah kehilangan yang lebih besar, dan memastikan bahwa savana tetap hijau untuk generasi mendatang. Seperti yang selalu diyakini para rimbawan, mencegah lebih bijak daripada memadamkan. Karena sekali api menjilat hutan, waktu puluhan tahun tidak cukup untuk mengembalikan seluruh harmoni yang hilang. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Penemuan Tiga Serak Jawa di Plafon Rumah di Mojokerto

Mojokerto, 31 Agustus 2025. Di tengah denyut kehidupan padat Desa Kauman, Mojosari, Mojokerto, sebuah peristiwa kecil namun sarat makna kembali terjadi. Tiga ekor burung Serak Jawa (Tyto alba) ditemukan bersembunyi di plafon rumah warga. Bagi sebagian orang, keberadaan satwa malam itu bisa jadi hanya dianggap gangguan. Namun bagi alam, ketiganya adalah bagian dari keseimbangan yang lebih besar, pengendali alami hama tikus di persawahan yang menopang kehidupan manusia. Burung-burung itu ditemukan pada Minggu pagi oleh Dio Mahendra, warga setempat, sekitar pukul 08.00 WIB. Tidak sendirian, ia bersama keluarga merasakan ketidaknyamanan karena suara dan keberadaan satwa di plafon rumah. Atas kesadaran sendiri, melalui Sarwendah Yuni A., yang melaporkan kejadian ini kepada tim Matawali RKW 09 Mojokerto. Akhirnya pada Minggu malam Tim segera turun dan mengevakuasi ketiga satwa tersebut. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ketiga burung tersebut masih anakan. Kondisi ini membuatnya belum siap untuk kembali ke alam liar. Tim Matawali RKW 09 Mojokerto, memutuskan untuk membawa satwa ke Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Jatim di Sidoarjo. Di sana, mereka akan menjalani perawatan, rehabilitasi, dan pemulihan perilaku agar suatu hari dapat kembali dilepasliarkan. Meskipun status Serak Jawa tidak termasuk satwa dilindungi dan hanya tercatat dalam Appendiks II CITES, peran ekologisnya sebagai pemangsa alami tikus membuat keberadaannya tak ternilai. Kepada pemilik rumah, tim memberikan arahan penting, pasang genteng kaca atau buat rubuha (rumah burung hantu) di sekitar sawah. Dengan cara ini, Serak Jawa tetap dapat kembali dan bersarang, namun tidak lagi mengganggu kenyamanan rumah tinggal. Lebih jauh, masyarakat diedukasi tentang pentingnya burung ini. “Serak Jawa adalah sahabat petani. Ia memburu tikus-tikus yang merusak padi, mengurangi kerugian tanpa pestisida, dan menjaga ekosistem tetap seimbang,” jelas Ferdinan Sabastian, Penyuluh Kehutanan BBKSDA Jatim. Upaya mitigasi sederhana ini diharapkan mampu menumbuhkan harmoni, manusia tetap nyaman, satwa tetap lestari, dan alam tetap terjaga. Kisah tiga Serak Jawa di Mojokerto ini mungkin terlihat sepele. Namun sejatinya, inilah gambaran hubungan rapuh antara manusia dan satwa liar. Setiap penemuan, setiap penyelamatan, dan setiap edukasi adalah bagian dari mozaik besar menjaga keseimbangan alam. BBKSDA Jawa Timur melalui tim Matawali RKW 09 Mojokerto Kembali menegaskan, konservasi bukan sekadar melindungi satwa di hutan belantara, tetapi juga merawat harmoni di sekitar rumah kita sendiri. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Aroma Kopi menyatu dengan Ekonomi dan Kelestarian Alam di Hutan Madiun

Madiun, 31 Agustus 2025. Di pendopo wisata Gligi, Desa Kepel, Kecamatan Kare, harum biji kopi yang baru diseduh menyatu dengan semangat masyarakat yang berkumpul. Sebanyak 20 anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Tani Subur mengikuti Pelatihan Peningkatan Usaha Ekonomi Produktif Budidaya Kopi yang dgelar pada Jumat (29/8). Pelatihan ini bukan sekadar berbagi ilmu bercocok tanam, melainkan meneguhkan satu visi besar: bagaimana kopi yang tumbuh di bawah naungan tegakan hutan dapat menjadi penopang ekonomi tanpa merusak ekosistem. Kegiatan dibuka oleh Agustinus Krisdijantoro, S.Si., M.P., Kepala Bidang KSDA Wilayah I Madiun. Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa masyarakat sekitar kawasan hutan, khususnya anggota KTH Tani Subur, memegang peran penting dalam menjaga kelestarian Cagar Alam Picis dan Sigogor. “Semakin sejahtera masyarakat, semakin kuat pula komitmen mereka menjaga hutan. Budidaya kopi adalah salah satu jalannya,” tegasnya. Sebagai narasumber utama, hadir Eko Mulyanto, S.P., Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Red Durio Banyuwangi. Ia menuturkan filosofisederhana dalam membudidayakan kopi di hutan: “Jangan melawan alam, belajarlah menyatu dengannya.” Dalam sesi materi, peserta dikenalkan pada: - Strategi agrobisnis kopi di bawah tegakan hutan tanpa merusak keseimbangan alam, - Teknik panen berkelanjutan agar pohon tetap produktif sepanjang tahun, - Teknik sambung pucuk dengan entres berkualitas, - Pemupukan yang efektif dan efisien di lahan hutan, - hingga cara menyajikan kopi berkelas dunia yang memiliki nilai tambah. Antusiasme peserta terlihat jelas. Pertanyaan mengalir deras, mengapa kopi hanya berbuah sekali lalu tidak berlanjut, bagaimana memilih entres terbaik untuk sambungan, hingga teknik sederhana agar hasil panen tetap optimal. Pelatihan ini bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menyalakan harapan. Harapan bahwa kopi dari Madiun bisa menjadi komoditas berkelas, sekaligus benteng konservasi. Karena di balik setiap tegukan kopi, tersimpan doa agar hutan tetap lestari, satwa tetap aman, dan masyarakat tetap sejahtera. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Balai TN Batang Gadis Pasang Papan Informasi dan Tugu Prasasti di Gunung Sorik Marapi

Mandailing Natal, 2 September 2025. Balai Taman Nasional Batang Gadis (BTNBG) melalui Personil SPTN Wilayah III Muarasoma melaksanakan kegiatan pemasangan papan informasi serta tugu prasasti di kawasan pendakian Gunung Sorik Marapi. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan keselamatan pendaki sekaligus menjaga kelestarian ekosistem di kawasan taman nasional. Papan informasi dipasang di setiap pos pendakian dengan berbagai materi penting. Di antaranya berisi informasi mengenai lintasan satwa yang sering dijumpai di jalur pendakian, imbauan agar pendaki tidak membuang sampah sembarangan, serta peringatan tentang area kawah yang rawan longsor. Dengan adanya papan informasi ini, diharapkan para pendaki lebih waspada, peduli terhadap lingkungan, serta memahami potensi risiko yang ada di lapangan. Selain pemasangan papan, BTNBG juga mendirikan sebuah tugu prasasti di Puncak Gunung Sorik Marapi. Tugu tersebut diharapkan menjadi penanda baru sekaligus simbol edukasi, bahwa puncak gunung bukan hanya tujuan wisata, tetapi juga kawasan konservasi yang harus dijaga bersama. Kepala Balai Taman Nasional Batang Gadis menyampaikan bahwa pemasangan papan informasi dan tugu prasasti ini merupakan bentuk nyata komitmen BTNBG dalam memberikan pelayanan kepada pengunjung sekaligus mengedukasi masyarakat. “Pendakian Gunung Sorik Marapi bukan hanya soal mencapai puncak, tetapi juga bagaimana kita bisa menjaga kebersihan, keselamatan, dan kelestarian alam yang ada di dalamnya,” ujarnya. Dengan adanya fasilitas ini, BTNBG mengajak para pendaki untuk selalu mendaki secara bijak, mematuhi aturan yang berlaku, menjaga kebersihan jalur dan kawasan pendakian, serta mengutamakan keselamatan diri dan kelompok. Sumber: BTN Batang Gadis
Baca Berita

Survei dan Inventarisasi Potensi Kehati Spesies Bekantan di TWA Pulau Burung dan Pulau Suwangi

Batulicin, 30 Agustus 2025 – Pada bulan Agustus telah dilaksanakan kegiatan survei dan inventarisasi potensi keanekaragaman hayati spesies Bekantan di Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Burung dan Pulau Suwangi. Kegiatan ini dipimpin oleh Ibu Titik Sundari, S.Hut bersama tim Seksi Konservasi Wilayah III Batulicin. Berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan, tercatat populasi Bekantan (Nasalis larvatus)—satwa endemik Kalimantan sekaligus maskot fauna Kalimantan Selatan—masih bertahan dengan baik di kedua pulau tersebut.

Menampilkan 177–192 dari 11.095 publikasi