Jumat, 19 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Kantilever Yang Melintasi Kawasan CA Sibolangit Mulai Dikerjakan

Sibolangit, 24 Januari 2022. Penyelenggaraan jalan nasional berupa pelebaran jalan dan tikungan (Kantilever) di ruas jalan Medan-Berastagi yang melintasi kawasan Cagar Alam (CA) Sibolangit, terpantau mulai dikerjakan oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Sumatera Utara, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, pada Rabu 19 Januari 2022. Kantilever ini merupakan tindak lanjut dari Perjanjian Kerja Sama antara Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara dengan Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Sumatera Utara Nomor : PKS.5578/K.3/TU/PK/11/2021 dan Nomor : HM.05.01-Bb2/2171 tentang Pembangunan Strategis Yang Tidak Dapat Dielakkan Berupa Penyelenggaraan Jalan Nasional Melintasi Kawasan Cagar Alam Sibolangit, yang ditandatangani pada tanggal 12 November 2021 yang lalu. Perjanjian Kerja Sama (PKS) tersebut didasari bahwa kebutuhan penyelenggaraan jalan untuk kepentingan nasional yang merupakan pembangunan strategis yang tidak dapat dielakkan dan mendukung pelaksanaan pengembangan KSPN Super Prioritas Danau Toba, sehingga perlu dilakukan pelebaran jalan yang melintasi kawasan CA. Sibolangit. Kegiatan pelebaran jalan, sesuai dengan ruang lingkup PKS, meliputi : penebangan pohon, melakukan galian tanah, pelebaran jalan sepanjang ± 97 meter dan lebar ± 1,5 meter, peningkatan kualitas jalan, serta pemeliharaan jalan. Sementara itu dalam pemantauan/pengamatan Kepala Resort CA./TWA. Sibolangit Samuel Siahaan, SP. di lapangan kegiatan kantilever dimulai dari Pal 1/94 CA. Sibolangit berupa pembersihan areal sepanjang ± 50 meter, dengan menggunakan alat berat excavator. Menurut pengawas lapangan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Sumatera Utara Hendro Siringo-ringo, yang juga didampingi Babinsa Sibolangit Dadang, bahwa kegiatan kantilever yang dilakukan pada hari itu berada pada titik 1 dari 13 titik yang direncanakan. Diperkirakan kantilever ini secara keseluruhan akan tuntas pada bulan Juni 2022. Namun perlu diingatkan sebagaimana kesepakatan yang tertuang dalam PKS, bahwa kegiatan kantilever harus menghindari pembangunan yang menyebabkan fragmentasi habitat yang mengganggu perpindahan hidupan liar, menghindari penggunaan material baik hidup atau mati yang dapat berakibat terjadinya perubahan struktur vegetasi dan keragaman jenis sehingga muncul spesies invasif maupun terjadi perubahan fungsi kawasan, serta menjaga dan melindungi keberadaan hidupan liar yang berada di sekitarnya. Sumber : Samuel Siahaan, SP.-PEH dan Inggrid Tarihoran, S.Hut.- Penyuluh Kehutanan pada Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Selamat Setelah Tersengat Listrik, “Elektro” Dilepasliarkan di HL Gunung Tarak

Ketapang, 24 Januari 2022. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat (BKSDA Kalbar) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang bersama Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Ketapang Selatan dan IAR Indonesia melepasliarkan satu ekor kukang kalimantan (Nycticebus menagensis) hasil penyelamatan akibat sengatan listrik ke Kawasan Hutan Lindung Gunung Tarak, Dusun Pangkalan Jihing, Desa Pangkalan Telok, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang, pada Hari Minggu, 16 Januari 2021. Tim pelepasan yang terdiri dari personel BKSDA Kalbar SKW I Ketapang, KPH Ketapang Selatan dan IAR Indonesia berangkat dari pusat penyelamatan dan konservasi IAR Indonesia pukul 15.00 WIB. Perjalanan ditempuh dengan menggunakan mobil selama lima jam dan dilanjutkan dengan berjalan kaki selama dua jam. Selama perjalanan, kondisi satwa kukang yang diberi nama Elektro ini selalu diperiksa oleh tim medis IAR Indonesia secara berkala. Tiba di titik pelepasliaran, pada pukul 22.00 WIB, kandang dibuka oleh Harison, personel dari BKSDA Kalbar SKW I Ketapang, dan drh. Arief dari IAR Indonesia. Lima belas menit kemudian, Elektro keluar dan langsung memanjat pohon. Untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan di rumah barunya, akan dilakukan pemantauan oleh tim monitoring selama beberapa hari ke depan. Kukang jantan ini diberi nama Elektro karena merujuk pada kisah penyelamatan dirinya oleh warga Kecamatan Delta Pawan, Ketapang pada 26 November 2021 silam. Ketika itu, warga menemukan Elektro tersengat listrik dan melekat di tiang listrik dengan kondisi kaku dan tidak bisa bergerak. Warga kemudian menghubungi BKSDA SKW I Ketapang, dan tim Wildlife Rescue Unit (WRU) BKSDA Kalbar SKW I Ketapang segera melakukan penyelamatan. Setelah itu, Elektro dibawa ke klinik satwa liar IAR Indonesia untuk mendapatkan perawatan. Pada pemeriksaan awal, diketahui kondisi Elektro secara umum cukup baik meskipun kemudian tim medis IAR Indonesia menemukan luka akibat sengatan listrik di jari-jari kaki kanannya. Luka yang cukup parah dan sudah mengalami pembusukan membuat tim memutuskan untuk mengamputasi jari kaki Elektro. Selama menjalani perawatan, luka di kaki Elektro berangsur sembuh. Jari-jari lain pada tangan yang dilakukan amputasi masih dapat menjalankan fungsinya dengan baik sehingga meskipun Elektro kehilangan dua jari, dia tidak kehilangan kemampuannya untuk makan, berjalan ataupun menggenggam mangsanya. Setelah diobservasi selama satu bulan, Elektro masih menunjukkan sifat liar dan kemampuan bertahan hidup di alam sehingga tim memutuskan untuk melepaskan Elektro ke habitat aslinya di HL Gunung Tarak. Hutan Lindung Gunung Tarak kembali dipilih menjadi tempat pelepasan kukang karena hutan lindung ini merupakan habitat yang cocok dengan ketersediaan jumlah dan jenis pakan yang berlimpah bagi satwa ini. Kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta menyampaikan apresiasinya atas kegiatan pelepasliaran ini sekaligus pada kisah penyelamatan yang melibatkan kerjasama berbagai pihak, terutama kepada masyarakat yang memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap nilai-nilai konservasi dengan mengambil langkah/tindakan yang tepat dengan menghubungi pihak yang berwenang. Kesadaran dan kepedulian ini perlu dijaga, bahkan perlu adanya peningkatan keterlibatan masyarakat dalam kerja-kerja konservasi melalui penyelenggaraan konservasi yang berbasis masyarakat”. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat Penanggung jawab: Kepala Balai KSDA Kalbar: Sadtata Noor Adirahmanta - 082238667543 Call Center Balai KSDA Kalbar: 08115776767
Baca Berita

Patroli Penyelamatan Telur Tuntong Laut

Medan, 24 Januari 2022. Musim bertelur Tuntong Laut (Batagur borneoensis), khususnya di sekitar kawasan Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading dan Langkat Timur Laut, diprediksi sekitar bulan Oktober 2021 – Februari 2022. Untuk itu, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Resort KSDA SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut, melakukan kegiatan patroli pengamanan habitat sekaligus penyelamatan telur Tuntong laut yang dimulai sejak bulan Desember 2021 sampai dengan Januari 2022. Kegiatan ini sebagai pengamanan terhadap habitat sekaligus menyelamatkan telurnya dari perburuan, baik oleh manusia maupun oleh predator alami. Kegiatan patroli pengamanan habitat dan penyelamatan telur Tuntong laut melibatkan Yayasan Satucita Lestari Indonesia (YSLI) dan masyarakat Desa Jaring Halus yang merupakan anggota kelompok Ipanjar, binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Hasil patroli yang dilaksanakan selama kurang lebih 42 hari tersebut, berhasil menyelamatkan dan mengamankan 55 telur Tuntong laut yang berasal dari 4 sarang. Sarang pertama ditemukan sebanyak 16 telur beserta indukannya di Desa Selotong. Indukannya kemudian dilepasliarkan kembali. Sarang kedua berhasil diamankan 14 telur yang ditemukan di Desa Tapak Kuda. Selain itu Tim juga menerima penyerahan telur Tuntong laut dari masyarakat Desa Jaring Halus yaitu dari sarang ketiga sebanyak 10 telur, dan sarang keempat sebanyak 15 telur. Selanjutnya Ke-55 telur tersebut diamankan dan dititipkan di kolam pasir penetasan yang berada di halaman rumah ketua kelompok Ipanjar, Rustam, untuk ditetaskan. Setelah telur menetas, kemudian dipindahkan ke kolam pembesaran yang berada di kawasan SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut, tepatnya di Desa Selotong, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, untuk menjalani rehabilitasi sebelum nantinya dilepasliarkan ke habitatnya. Sumber : Ainy Amelya Utami, S.Hut.- Penyuluh Kehutanan Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Penanganan Konflik Warga Dengan Beruk di Asahan

Asahan, 20 Januari 2020. Bermula dari laporan warga Desa Silau Lama, Kecamatan Silau Laut, Kabupaten Asahan kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran pada Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, pada Senin 10 Januari 2022, terkait terjadinya konflik warga dengan satwa liar Beruk (Macaca nemestrina) yang meresahkan dan bahkan menyerang salah seorang warga desa tersebut. Menindaklanjuti laporan, Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran, Alfianto Luat Siregar, S.Hut., MT., M.PP., melakukan koordinasi dengan lembaga mitra Yayasan Scorpion Indonesia untuk peminjaman kandang jebak, dan menugaskan Tim menuju lokasi konflik. Di lokasi Desa Silau Lama, Tim berkoordinasi dengan kepala desa dan mencari keberadaan beruk. Hasil koordinasi disepakati untuk pemasangan kandang jebak di lokasi yang sering dilalui satwa tersebut. Selesai pemasangan kandang, karena keberadaan beruk tidak ditemukan, Tim memutuskan untuk kembali ke kantor Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran, dan menyampaikan himbauan kepada masyarakat untuk berhati-hati dan waspada, serta segera melaporkan bila menemukan keberadaan satwa liar tersebut. Sampai saat ini Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran masih terus memantau perkembangannya. Sumber : Arif Hidayat dan Farid Ali Harahap, S.Hut. – Polhut Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Rawan Illegal Logging, BBKSDA Riau Telusuri SM Kerumutan Selatan

Pekanbaru, 20 Januari 2022 – Patroli dan pemantauan di sekitar kawasan Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan Selatan tepatnya di Sungai Batang Rengat dilakukan Resort Kerumutan Selatan (Pekan Heran) Balai Besar KSDA Riau bersama Staf Kesbang Pol Kab. Inhu, Selasa (18/1). Sungai Batang Rengat merupakan salah satu titik rawan illegal logging dan di sekitar kawasan SM Kerumutan bagian Selatan. Tim berjumpa dengan warga yang sedang melangsir kayu olahan sebanyak +/- 1 meter kubik, menurut pengakuannya, kayu olahan tersebut adalah kayu dari kebunnya yang akan digunakan untuk bangunan pondok tidak jauh dari lokasi tersebut. Warga tersebut diberikan pembinaan agar tidak melakukan penebangan dan perambahan di dalam kawasan SM Kerumutan. Sanksi tegas akan diberikan jika kegiatan tersebut dilakukan. Tim juga menyampaikan dampak buruk yang akan terjadi jika hutan rusak. Penyisiran kemudian dilanjutkan di hulu Sungai Batang Rengat dan dijumpai satu perahu motor yang diikat tanpa ada pemiliknya. Sosialisasi langsung diberikan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan SM Kerumutan Selatan wilayah Desa Rantau Bakung, Kec. Rengat Barat. Tim mengajak masyarakat untuk ikut menjaga kawasan tersebut agar tetap lestari, karena jika terjadi kerusakan terhadap kawasan hutan, maka warga sekitarlah yang pertama akan mendapat dampak buruknya. Semoga masyarakat sekitar kawasan menyadari bahwa peran mereka sangat diperlukan sebagai salah satu benteng terjaganya kawasan hutan. Sumber : Balai Besar KSDA Riau [Teks : DI, Foto : Tim admin BBKSDARIAU |012022]
Baca Berita

Balai Besar KSDA Sumatera Utara Kembali Evakuasi Monyet Ekor Panjang Peliharaan Warga

Deli Tua, 18 Januari 2022. Untuk kedua kalinya, dalam waktu hanya 4 hari, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melakukan evakuasi Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) dari rumah warga. Jika sebelumnya pada Kamis (13/1) mengevakuasi sepasang monyet ekor panjang dari rumah warga jln. Polonia Gg. A/Masjid Lk. I Kelurahan Polonia, Kecamatan Medan Polonia, maka kali ini kembali mengevakuasi 1 individu milik Suti Herlina Nasution, warga Lk V Jln. Deli Tua No. 07, Kecamatan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang, pada Senin 17 Januari 2022. Proses evakuasi ini bermula dari laporan petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Deli Serdang tepatnya pos Damkar Deli Tua kepada Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan Amenson Girsang, S.P. tentang adanya warga yang memelihara satwa tersebut selama 7 tahun dan membuat keresahan masyarakat sekitar, karena sempat lepas dari kandang dan mencakar/melukai warga. Setelah mendapat laporan, Tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama lembaga mitra Yayasan Scorpion Indonesia serta Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Deli Serdang menuju lokasi dan melakukan evakuasi. Usai memindahkan satwa tersebut ke kandang transit, Monyet ekor panjang selanjutnya dititipkan di Yayasan Scorpion Indonesia, untuk direhabilitasi sebelum nantinya dilepasliarkan ke habitatnya. Balai Besar KSDA Sumatera Utara kembali menghimbau warga untuk tidak memelihara monyet ekor panjang. Memang saat masih kecil (imut-imut) satwa ini menyenangkan untuk dipelihara sebagai hiburan, namun ketika sudah beranjak dewasa, satwa ini cenderung memunculkan sifat liar dan ganas, sehingga lebih sering mencederai/melukai siapa saja termasuk pemiliknya. Oleh karena itu dihimbau agar masyarakat tidak memelihara satwa liar ini. Sumber : Ani, SP. – Polhut Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Ditemukan Lemas, Narso Laporkan Penemuan Elang Bido ke Resort Kemalang

Klaten, 18 Januari 2022. Masyarakat sisi tenggara lereng Gunung Merapi sangat mendukung upaya konservasi di sekitar kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Merapi, (TNGM) antara lain dengan melaporkan keberadaan 1 ekor Elang Ular Bido (Spilornis cheela) yang ditemukan di kawasan konservasi TNGM. Elang Ular Bido ini ditemukan dalam keadaan lemas, oleh salah seorang masyarakat bernama Narso Tukiyo, pada hari Selasa, 18 Januari 2022 jam 09.30, ketika dia merumput di Blok Deles, RPTN Kemalang. Dia kemudian langsung melaporkan pada petugas Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Kemalang, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Boyolali Klaten, karena penemuan Elang Ular Bido ini berada di kawasan RPTN Kemalang, SPTN Wilayah II Balai TNGM. Selanjutnya Elang Ular Bido tersebut diobservasi kesehatannya dan dibawa ke kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) D.I Yogyakarta. Hingga saat ini, kondisi Elang Ular Bido sehat, namun belum dapat diketahui jenis kelamin dan usia Elang Ular Bido tersebut, yang kemudian untuk observasi dan perawatan lebih lanjut, dibawa ke Stasiun Flora Fauna (SFF) Bunder BKSDA D.I Yogyakarta. **** Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Merapi Facebook : Taman Nasional Merapi Instagram : @btn_gn_merapi Twitter : @btngunungmerapi Call Center : 081327691368
Baca Berita

Rencana Dukungan Sarana Pendukung di TWA Sungai Dumai, SM Balai Raja dan SM PLG Sebanga

Pekanbaru, 18 Januari 2022 - Workshop Pembahasan Rencana Kerjasama antara Balai Besar KSDA Riau dengan PT Pertamina Hulu Rokan diselenggarakan dari tanggal 12 s.d 14 Januari 2022 di Hotel Novotel Pekanbaru. Dari workshop tersebut, Balai Besar KSDA Riau bersama dengan PT Pertamina Hulu Rokan, perwakilan Sekretariat Direktorat Jenderal KSDAE dan perwakilan Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi telah menandatangani hasil rumusan sekaligus menutup rangkaian kegiatan workshop tersebut, Jumat (14/1). Workshop fokus pada upaya membangun kesepahaman dan komitmen bersama terkait rencana kerjasama yang akan diajukan oleh PT Pertamina Hulu Rokan dalam hal pemanfaatan migas eksisting dan sarana pendukungnya di Taman Wisata Alam (TWA) Sungai Dumai, Suaka Margasatwa (SM) Balai Raja dan SM Pusat Latihan Gajah (PLG) Sebanga. Harapannya rencana kerja sama ini dapat berjalan lancar sampai dengan penandatanganan kerjasama dilaksanakan, sehingga dapat menjadi contoh harmoni kegiatan migas dan konservasi. Sumber : Balai Besar KSDA Riau [Teks : DI, Foto : Tim admin BBKSDARIAU |012022]
Baca Berita

Terjadi Lagi, BBKSDA Riau Mitigasi Konflik Gajah Liar Dengan Multistakeholder

Pekanbaru, 18 Januari 2022 - Mitigasi konflik satwa liar gajah sumatera di Desa Alim, Desa Lahai, Desa Sipang, dan Desa Kp.Baru, Kec. Batang Cenaku, Kab. Indragiri Hulu dilakukan Tim Resort Kerumutan Selatan Balai Besar KSDA Riau dari tanggal 14 s.d 16 Januari 2022. BBKSDA Riau menggandeng Yayasan FZS Jambi, Sekdes dan Masyarakat Desa Alim serta Ketua BPD dan RT Desa Kp. Baru bersama menyelesaikan mitigasi konflik tersebut. Selain itu juga berkoordinasi dengan Kepala Resort Lahai Balai Taman Nasional Bukit TigapuluhTNBT dan Bhabinkamtibmas Polsek Batang Cenaku. Tim terlebih dahulu berkunjung dan bersilahturahmi bersama Sekdes ke rumah warga yang lahan pertaniannya dirusak gajah liar kemudian keesokan harinya bersama masyarakat turun ke lokasi lahan dan kebun yang dirusak oleh satwa gajah liar. Jejak dan kotoran satwa gajah liar ditemukan tim di lokasi. Diperkirakan satwa berjumlah dua ekor. Sosialisasi juga dilakukan kepada masyarakat yang dijumpai dan menyampaikan bahwa satwa gajah merupakan salah satu satwa liar yang dilindungi dan sudah hampir punah, sehingga menghimbau agar tidak anarkis terhadap satwa tersebut. Banyaknya pemukiman warga dan lahan perkebunan kelapa sawit serta tanaman padi yang sebagian siap dipanen membuat Tim sulit bergerak melakukan penggiringan. Dari hasil pemantauan pergerakan satwa gajah liar yang berjumlah dua ekor, kedua gajah sudah menjelajah beberapa desa dan kecamatan yang ada di Kab. Inhu dan Kab. Pelalawan. Terakhir mereka terpantau berada di Desa Kp. Baru, Kec. Batang Cenaku, dimana sebelumnya satwa sudah mendekati perbatasan kawasan Propinsi Riau dan Jambi di Desa Alim, namun diperkirakan kembali mengarah ke Kec. Batang Peranap. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Tim Resort Sentani Antisipasi Dampak Siklus Alam yang Berulang

Jayapura, 14 Januari 2022 – Seperti siklus alam yang terus berulang, setiap awal tahun Jayapura seolah diliputi kecemasan. Ini terjadi karena curah hujan begitu tinggi, ditambah trauma banjir bandang 2019 masih terang di ingatan. Menyikapi situasi tersebut, tim Resort Sentani Balai Besar KSDA Papua berpatroli untuk memantau kemungkinan terbentuknya bendung alam pada sungai-sungai yang berhulu di Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Patroli berlangsung tiga hari, yaitu Senin sampai Rabu (10 – 12/01). Langkah ini sangat penting untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan atau dampak yang berpotensi merugikan, baik bagi alam maupun masyarakat sekitar. Kepala Resort Sentani, Eddy Sam Lau, menjelaskan, “Ini patroli pertama tim Resort Sentani di tahun 2022. Kali ini patroli kami benar-benar manual, tidak bisa terbangkan drone untuk pantau situasi, karena area patroli di sekitar Bandar Undara Internasional Sentani dan Rindam XVII/Cenderawasih.” Menurut laporan Eddy, tim Resort Sentani memantau sembilan sungai atau biasa disebut kali oleh masyarakat Jayapura, yaitu Kali Bak, Jembatan Dua, Harapan, Menanti, Eboy, Sereh, Pos Tujuh, Taruna, dan Kemiri. Secara umum, kondisi sungai-sungai tersebut relatif aman, mengalir pada jalurnya, dan tidak terdapat bendung alam, meskipun aliran beberapa sungai tampak keruh. Terkait banjir yang melanda Jayapura pada Jumat (07/01), Eddy menegaskan bahwa kondisi itu sebagian besar dipengaruhi oleh menumpuknya sampah di sungai. Dalam konteks ini, Eddy memaparkan fakta tentang Kali Menanti. “Sebenarnya Menanti itu kali kering, tapi tumpukan sampahnya sangat banyak. Ketika curah hujan tinggi, aliran kali itu tersumbat, ya pasti meluap dan banjir,” kata Eddy. Ia mengimbau kepada semua masyarakat, khususnya di Kabupaten Jayapura yang menjadi wilayah kerjanya, agar lebih memperhatikan masalah sampah. Bagaimanapun, sampah adalah persoalan klasik yang sangat krusial, karena masih banyak masyarakat bersikap abai, atau mungkin mereka memerlukan edukasi lebih lanjut lagi. Sementara itu, Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, menyampaikan apresiasi atas kinerja tim Resort Sentani. “Dengan segala keterbatasan, tim ini tetap bekerja dengan baik dan tanpa pamrih, demi menyajikan fakta-fakta kepada masyarakat. Pada kesempatan ini, saya menegaskan bahwa segala perilaku kita terhadap alam nantinya akan kita tuai buahnya dengan ukuran dan takaran yang setara. Maksud saya, bila kita memperlakukan alam dengan baik, alam akan membalas dengan baik pula. Sebaliknya, bila kita memperlakukan alam semena-mena, bencanalah yang kita terima,” kata Edward Sembiring. (dd) Sumber : Balai Besar KSDA Papua Call Center BBKSDA Papua : 0823 9770 9728
Baca Berita

Cegah Konflik Satwa dengan Masyarakat, BBKSDA Sulsesl Pasang 4 Papan Peringatan Rawan Buaya

Makassar, 15 Januari 2022. Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan bersama warga dan Lurah Manggala, aparat kamtibmas, serta Babinsa wilayah Manggala, Kota Makassar, memasang empat papan bicara “Peringatan Daerah Rawan Buaya" di sekitar lokasi kemunculan buaya, di Blok 10 Perumnas Antang, Kelurahan Manggala, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada Rabu, 13 Januari 2022. Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV Balai Besar KSDA Sulsel, Santiago Pereira, S.P. menjelaskan kepada masyarakat, “Pemasangan papan bicara peringatan ini merupakan respon cepat tim WRU Balai Besar KSDA Sulsel atas laporan masyarakat melalui Call Center tentang kemunculan dua ekor buaya di Blok 10 Perumnas Antang, sekaligus langkah antisipasi agar tidak terjadi konflik buaya dengan masyarakat”. “Selama dua hari, tim WRU melakukan observasi di sekitar lokasi kemunculan buaya dan hasilnya diperkirakan ada dua ekor buaya dengan ukuran lima meter. Buaya yang muncul di rawa-rawa tersebut diduga merupakan jenis buaya muara (Crocodylus porosus), yang memiliki gigitan paling kuat. Buaya tersebut diperkirakan naik dari sungai Tello dan terjebak di rawa-rawa pada saat air laut pasang. Selanjutnya tim WRU menyiapkan kandang jebak sesuai dengan ukuran buaya, dan akan dipasang dalam satu atau dua hari kedepan. Untuk itu dihimbau agar warga tidak melakukan aktivitas di daerah rawan buaya”. Di lokasi pemasangan papan peringatan, Lurah Manggala, Arwinah Amirudin, mengatakan, “Alhamdulillah kita sudah melakukan pemasangan papan bicara peringatan daerah rawan buaya, sehubungan dengan munculnya dua ekor buaya di sekitar rawa yang sangat dekat dengan pemukiman warga”. “Kami sangat berterimakasih kepada Balai Besar KSDA Sulsel yang cepat merespon laporan, segera melaksanakan observasi dan langkah-langkah antisipasi agar tidak banyak dampak buruk dari kemunculan buaya ini”. Kepala Balai Besar KSDA Sulsel Ir.Thomas Nifinluri, M.Sc menambahkan “Konflik satwa liar dengan manusia terjadi karena dinamika perubahan lanskap dan kehidupan yang pesat. Konflik tersebut dapat dimininalisir dengan membuat batas-batas yang jelas namun tetap terbatas, karena banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan. Satwa liar seperti buaya memiliki wilayah jelajah, sementara ruang hidup sudah terbatas. Sedangkan manusia dalam berkegiatan cenderung tanpa batas. Untuk itu, melakukan kelola habitat dengan baik adalah salah satu cara menghindari konflik antara manusia dan satwa liar. “Apresiasi saya sampaikan kepada tim Wildlife Rescue Unit (WRU) yang bergerak cepat untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan serta peran aktif dan bantuan warga Blok 10 Perumas Antang, aparat keamanan setempat, Kambtibnas, Babinsa dan Lurah Manggala”. Dikutip dari detik.com, bahwa buaya muara memiliki adaptasi yang sangat tinggi, dimana muara hanya salah satu dari bermacam habitat hidupnya. Buaya dapat hidup di air tawar, air payau dan air laut. Buaya muara berada di urutan 706 dalam daftar satwa dilindungi berdasarkan Permen LHK RI Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penanggung Jawab Berita: Kepala Sub Bagian Data, Evlap dan Kehumasan - Eko Yuwono, S.Hut (0852-2843-2097)
Baca Berita

Warga Desa Tapak Kuda Serahkan Tuntong Laut Kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Tapak Kuda, 17 Januari 2022. Untuk kesekian kalinya kesadaran dan kepedulian warga dengan menyerahkan satwa liar kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Kali ini Syafi'i, warga Desa Tapak Kuda, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat yang menyerahkan 1 individu Tuntong Laut (Batagur borneoensis), pada Sabtu 15 Januari 2022. Sebelumnya Syafi'i, yang merupakan anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Tumbuh Subur mitra konservasi Balai Besar KSDA Sumatera Utara, menginformasikan kepada petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah II Stabat pada Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe, pada Jumat 14 Januari 2022, terkait Tuntong laut yang berada di kediamannya. Satwa tersebut terjerat jaring nelayan saat melaut. Mengetahui Tuntong laut jenis satwa dilindungi, nelayan dimaksud kemudian menyerahkannya kepada Syafi'i. Lalu Syafi'i berinisiatif untuk menyerahkan kepada petugas Seksi Konservasi Wilayah II Stabat. Selanjutnya petugas Resort Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading dan Langkat Timur Laut bersama dengan Yayasan Satucita Lestari Indonesia menyambangi kediaman Syafi'i dan melakukan evakuasi Tuntong laut berkelamin jantan, dengan berat badan 6,3 kg, panjang karapas 37,5 cm dan lebar karapas 34 cm, ke kolam pembesaran di Desa Selotong, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, untuk direhabilitasi sebelum nantinya dilepasliarkan ke habitatnya. Sumber : Ainy Amelya, S.Hut. – Penyuluh Kehutanan dan Esra Barus, S.Hut. - Polhut Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Warga Danau Bingkuang Serahkan Kucing Hutan

Pekanbaru, 14 Januari 2021 – Balai Besar KSDA Riau menjemput satwa anakan kucing hutan (Prionailurus bengalensis) yang diserahkan Elvira warga Danau Bingkuang, Senin (10/1). Elvira secara sukarela menyerahkan kucing hutan yang ditemukannya saat bersih – bersih di kebun sawit milik keluarganya, Sabtu (8/1). Elvira sempat menunggu cukup lama, namun induk kucing hutan tidak muncul juga. Akhirnya satwa dibawa pulang untuk diserahkan ke Balai Besar KSDA Riau karena tahu bahwa satwa tersebut adalah salah satu jenis satwa yang dilindungi. Sebelum diserahterimakan, Tim melakukan pengamatan awal kondisi satwa. Satwa dalam keadaan sehat, terawat bersih, tidak ditemukan cacat atau pun luka luka dibagian tubuhnya, lincah dan sedikit jinak. Satwa kemudian segera dipindahkan ke kandang evakuasi untuk diangkut ke Pekanbaru agar dapat dilakukan observasi lebih lanjut. Sebelum kembali Tim berkesempatan memberikan sosialisasi kepada warga Desa Danau Bingkuang untuk tidak memelihara satwa yang dilindungi tanpa ijin (tidak melalui Penangkaran/Lembaga Konservasi) serta selalu berkomunikasi dengan Balai Besar KSDA Riau terkait satwa yang dilindungi. Sumber : Balai Besar KSDA Riau [Teks : DI, Foto : Tim admin BBKSDARIAU |012022]
Baca Berita

Penanganan Tipihut, Petugas Balai TN Tesso Nilo Jadi Saksi Ahli Kasus Alat Berat

Pangkalan Kerinci, 14 Januari 2022. Pengadilan Negeri Pelalawan menggelar sidang perkara terhadap kasus alat berat yang beroperasi di Resort Lancang Kuning Air Sawan, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Lubuk Kembang Bunga (LKB) Balai Taman Nasional (TN) Tesso Nilo, Senin silam (10/1). Dalam gelaran sidang tersebut, 4 (empat) orang petugas Balai TN Tesso Nilo dihadirkan sebagai saksi ahli, pendamping dan penasihat ahli selama persidangan. Petugas Balai TN Tesso Nilo hadir untuk memberikan keterangan akurat mengenai zonasi kawasan TN Tesso Nilo. Balai TN Tesso Nilo bersama dengan pihak berwenang lainnya telah berkomitmen untuk menindak dengan tegas tindak pidana hutan yang terjadi di dalam kawasan TN Tesso Nilo. Kasus-kasus serupa akan senantiasa dituntaskan untuk memberi efek jera kepada oknum oknum perusak hutan lainnya. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Wamen KLHK Resmikan Pusat Penyelamatan Satwa di Besitang

Besitang, 13 Januari 2022. Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Bapak Alue Dohong, Phd., meresmikan Pusat Penyelamatan Orangutan, Beruang, dan Primata Dilindungi Lainnya di Dusun Pante Buaya, Desa Bukit Mas, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Rabu, 12/1). Peresmian ini dilakukan pada kunjungan kerja beliau selama dua hari di Sumatera Utara, Rabu s.d Kamis (12 s.d 13 Januari 2022). Penyelamatan Orangutan, Beruang, dan Primata Dilindungi Lainnya ini didirikan pada tahun 2020, merupakan kerjasama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, BKSDA Aceh, Yayasan Orangutan Sumatera Lestari – Orangutan Information Centre (YOSL-OIC). Misi yang diusung adalah menampung, merehabilitasi serta berupaya melepasliarkan kembali satwa liar milik negara ke habitat alaminya. Misi ini tidak hanya di Sumatera Utara tetapi juga akan mendukung upaya penyelamatan satwa di Aceh. Pusat penyelamatan ini memiliki 8 staff yang terdiri dari 2 manager, 1 dokter hewan, 1 ahli biologi, 1 head keeper dan 3 animal keeper. Semua staf menjalani pemeriksaan medis sebelum mereka mulai bekerja, untuk memastikan tidak ada penyakit menular dari satwa ke manusia atau sebaliknya (Zoonosis). Selain itu, beberapa staf telah menjalani training selama 3 bulan di Pusat Rehabilitasi Orangutan (BORA) di Berau, Kalimantan Timur sehingga telah memiliki pengalaman dan kapasitas dalam perawatan satwa. Ada juga yang mengikuti training di Javan Gibbon Centre di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat. Di lokasi ini sudah mulai menerima satwa sejak tahun 2021, memiliki fasilitas memadai sebagai pusat penyelamatan satwa, terdiri dari kandang klinik/karantina, berbagai jenis kandang untuk primate dan beruang, dan peralatan medis yang lengkap untuk mendukung misi penyelamatan satwa. Semua satwa berasal dari titipan Balai Besar KSDA Sumatera Utara, dan saat ini pusat penyelamatan meawat 4 Owa ungko (Hylobates agilis), 1 Owa sarudung (Hylobates lar), 14 Siamang (Symphalangus syndactylus), 2 Orangutan (Pongo abelii), 1 Beruang Madu (Helarctos malayanus). Dalam arahannya Wakil Menteri LHK menyampaikan, bahwa keanekaragaman hayati sebagai kekayaan bangsa, pengelolaannya dimandatkan kepada Negara dan pemerintah untuk kepentingan seluruh masyarakat. "Konservasi tidak bisa dilakukan atau bekerja sendiri, harus dilakukan bersinergi dengan para pihak. Pemerintah sangat terbantu dengan filling the gap oleh para pihak, dan dibutuhkan harmonisasi antara manusia dengan satwa liar agar tidak terjadi konflik yang menyebabkan kerugian,” ujar Alue Dohong. Alue Dohong juga berharap apa yang telah dibuat mitra kerja Balai Besar KSDA Sumatera Utara, dalam hal ini YOSL-OIC melalui Penyelamatan Orangutan, Beruang, dan Primata Dilindungi Lainnya ini dapat berkontribusi pada konservasi yang ada di Indonesia dan memberikan manfaat pada masyarakat. Rangkaian dari kegiatan presmian ini adalah penandatanganan prasasti dan penguntingan pita oleh Wamen Kementerian LHK, penanaman pohon serta peninjauan beberapa kandang satwa yang ada di lokasi Penyelamatan Orangutan, Beruang, dan Primata Dilindungi Lainnya oleh Wamen LHK diikuti tamu dan undangan Peresmian ini dihadiri Direktur KKH, Plt. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, Kepala Dinas Lingkunan Hidup Provinsi Sumatera Utara, Kepala-kepala UPT lingkup Kementerian LHK Sumatera Utara serta tamu dan undangan lainnya. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

BBKSDA Sumatera Utara Evakuasi Sepasang Monyet Ekor Panjang Peliharaan Warga

Medan, 14 Januari 2021. Informasi berawal dari laporan yang disampaikan oleh Bhabinkamtibmas kepada Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan, Amenson Girsang, SP., tentang konflik satwa liar jenis Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) dengan pemiliknya, yang menyebabkan luka-luka di tubuh pemiliknya, di Jln. Polonia Gg A / Mesjid Lk. I, Kelurahan Polonia, Kecamatan Medan Polonia, Medan, pada Kamis 13 Januari 2022. Menindaklanjuti laporan tersebut, petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama dengan lembaga mitra Yayasan Scorpion Indonesia segera menuju lokasi dan melakukan tindakan evakuasi. Di lokasi ada 2 individu (sepasang) monyet ekor panjang yang sebelumnya dipelihara oleh pemiliknya selama 3 tahun. Belakangan monyet peliharaan tersebut berulah dan menggigit pemiliknya. Karena itulah pemiliknya berharap kepada petugas untuk mengevakuasi satwa tersebut guna menghindari jatuhnya korban lainnya. Akhirnya dengan penuh kesabaran, kedua satwa tersebut berhasil dievakuasi oleh Tim dan dititipkan di Yayasan Scorpion Indonesia untuk direhabilitasi sebelum nantinya dilepasliarkan ke habitatnya. Balai Besar KSDA Sumatera Utara menghimbau kepada masyarakat untuk tidak memelihara monyet ekor panjang, karena dapat membahayakan baik bagi si pemiliknya maupun masyarakat sekitar. Sumber : Ani, SP. – Polhut Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 1.809–1.824 dari 11.142 publikasi