Jumat, 19 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Warga Besitang Serahkan Siamang kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Tanjung Pura, 25 Februari 2022. Bermula dari laporan yang diterima Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, tentang keberadaan satwa liar jenis Siamang (Symphalangus syndactylus) yang dititipkan warga ke salah seorang pemerhati tumbuhan dan satwa liar (TSL) di Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, pada Kamis 24 Februari 2022. Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh Kepala Seksi Wilayah dengan menugaskan Tim untuk mengevakuasi satwa liar dilindungi tersebut. Tim menyambangi kediaman Surianto, pemerhati TSL di Desa Pematang Cengal, Kecamatan Tanjung Pura. Dalam keterangannya kepada petugas, Surianto menjelaskan bahwa satwa tersebut diperolehnya dari Desa Sekoci, Kecamatan Besitang, ketika melakukan kegiatan memancing. Surianto melihat 1 individu Siamang yang dipelihara oleh warga, kemudian ia memberi penyuluhan bahwa satwa tersebut termasuk jenis yang dilindungi, untuk itu harus diserahkan kepada pemerintah melalui Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Warga pemilik Siamang dapat memahami apa yang disampaikan oleh Surianto dan menitipkan satwa tersebut untuk diserahkan kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Siamang yang berumur lebih kurang 1 tahun, dengan berat badan 3 kg serta berjenis kelamin betina, kemudian dievakuasi oleh petugas serta menitipkannya ke Pusat Penyelamatan Orangutan, Beruang dan Primata Dilindungi Lainnya di Dusun Pante Buaya, Desa Bukit Mas, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, yang dikelola oleh Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Center (YOSL-OIC) lembaga mitra kerjasama Balai Besar KSDA Sumatera Utara, untuk dirawat dan direhabilitasi sebelum nantinya dilepasliarkan ke habitatnya. Sumber : Esra Barus, S.Hut.- Polhut Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Resort Duri Balai Besar KSDA Riau Lakukan Patroli Pengamanan Kawasan SM Giam Siak Kecil

Pekanbaru, 25 Februari 2022 - Petugas Balai Besar KSDA Riau Resort Duri melakukan patroli di kawasan Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil, tepatnya di Desa Tasik Serai KM 68 (21/02). Dalam pelaksanaan kegiatan patroli tersebut, tim menemukan adanya kegiatan perambahan di dalam kawasan. Berawal saat petugas melakukan pengecekan di pinggir kawasan SM Giam Siak Kecil yang berbatasan dengan Desa Tasik Serai KM 68, tim menemukan jejak alat berat yang mengarah masuk ke dalam kawasan sekitar ± 900 meter dari batas kawasan. Tim menelusuri jejak alat berat tersebut. Namun, sesampainya di lokasi tidak ditemukan alat berat/excavator ataupun para pekerja. Tim hanya menemukan bekas aktivitas perambahan berupa pembukaan lahan, pembuatan badan jalan baru dan pembuatan kanal-kanal baru. Sungguh sangat disayangkan, kawasan yang harusnya rimbun dengan berbagai flora dan fauna di dalamnya, sebaliknya malah akan dijadikan lahan sawit oleh oknum tak bertanggung jawab. Tim melanjutkan penyisiran di sekitar lokasi dan menjumpai beberapa pondok perambah yang tak berpenghuni. Namun, dilokasi tersebut juga tidak ditemukan alat berat/excavator. Pemusnahan bibit sawit yang baru ditanam segera dilakukan petugas dengan mencabutnya. Tim akan terus berupaya melakukan pemantauan. Bagi yang melakukan perambahan, berhentilah! Sebelum tertangkap dan dikenai sanksi kurungan ataupun denda. Bagi warga sekitar kawasan, mari bergandengan tangan untuk selamatkan hutan yang ada. Karena, warga terdekatlah yang pertama akan terdampak imbasnya jika terjadi bencana. Sumber : Balai Besar KSDA Riau (Teks : DI, Foto : Tim admin BBKSDA Riau )
Baca Berita

Bersama Masyarakat Bersihkan Pantai Muara Sabuhur SM Pelaihari

Sabuhur, Februari 2022 – Pantai Muara Sabuhur merupakan bagian dari kawasan Suaka Margasatwa (SM) Pelaihari yang berada pada Blok Khusus dan Blok Pemanfaatan. Dengan potensi panorama alam yang indah menjadi salah satu tujuan pengelolaan wisata terbatas yang dapat dikembangkan. Akan tetapi, banyaknya sampah plastik yang ditinggalkan oleh pengunjung dan masyarakat (nelayan) yang bermukim di sekitar kawasan SM. Pelaihari serta sampah kiriman dari muara Sungai Barito mengakibatkan pantai tersebut menjadi kotor sehingga mengurangi daya tarik wisatawan. Dalam rangka rangkaian Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2022, atas arahan Kepala Balai, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I, Mirta Sari, S. Hut. M.P beserta jajarannya, melibatkan Kelompok Sadar Wisata Konservasi (POKDARWISKON) Pantai Baru beserta masyarakat Desa Sabuhur untuk melakukan pembersihan Pantai Muara Sabuhur yang terbagi menjadi 2 kelompok, yakni kelompok pembersihan pantai bagian Timur dan kelompok pembersihan pantai bagian Barat. Dengan semangat di pagi hari, sampah terkumpul sebanyak 17 kantong plastik sampah, dengan berat kurang lebih 83 kg yang didominasi oleh sampah plastik. Apresiasi disampaikan oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M. Sc. kepada semua pihak yang terlibat dalam pembersihan pantai Muara Sabuhur. Dengan diadakannya pembersihan pantai diharapkan adanya kesadaran dari pengunjung dan masyarakat setempat agar dapat memelihara keindahan serta kebersihan pantai muara sabuhur sehingga dapat ditata dan dikelola untuk dijadikan sebagai lokasi wisata terbatas di SM. Pelaihari Tanah Laut. Kita harus mengutamakan kebersihan dan keamanan jika ingin kunjungan wisata berkelanjutan. (ryn) Sumber : Hendar Wibawa - Polhut Seksi Konservasi Wilayah I Pelaihari
Baca Berita

Penyelamatan Orangutan Kumbang dari Jerat Pemburu

Pontianak, 23 Februari 2022 - Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat (BKSDA Kalbar), Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang, Resort Sukadana pada hari Kamis 17 Februari 2022 bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI/IAR Indonesia), Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kayong Utara serta Lembaga Pengelola Hutan Desa Pulau Kumbang telah melakukan penyelamatan satu individu orangutan yang terluka di Dusun Pebahan Raya, Desa Pulau Kumbang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. Orangutan jantan dewasa yang diperkirakan berusia sekitar 15 tahun ini ditemukan dalam kondisi mengalami luka di pergelangan tangan kirinya akibat terkena jerat pemburu. Meskipun berhasil lolos, jerat tali sepanjang empat meter masih terikat erat dan menyebabkan luka yang cukup parah. Mengingat sifat satwa yang masih liar dan untuk menghindari sifat agresif satwa terhadap tim penyelamat, maka digunakan senapan bius untuk melumpuhkannya. Dari hasil pemeriksaan di lapangan oleh tim medis IAR Indonesia, diketahui lukanya cukup parah dengan tali yang sudah masuk ke dalam daging dan mengenai tulang. Melihat kondisinya, tim memutuskan membawa Kumbang ke klinik satwa liar di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi IAR Indonesia di Desa Sungai Awan Kiri, Ketapang yang berjarak 6 jam perjalanan dari Desa Pulau Kumbang untuk dilakukan observasi dan diberikan perawatan. Keberadaan Kumbang pertama kali diketahui oleh warga Desa Pulau Kumbang yang berada di ladang pada tanggal 15 Februari 2022. Mendapati orangutan di ladang dengan tali jerat terikat di tangannya, warga melapor ke BKSDA Kalbar. Menindaklanjuti laporan warga, tim yang terdiri dari WRU BKSDA Kalbar dan Orangutan Protection Unit (OPU) IAR Indonesia (YIARI) turun untuk melakukan verifikasi. Tim kemudian memutuskan segara melakukan penyelamatan untuk mengobati luka Kumbang dan mencegah potensi konflik manusia-orangutan meningkat. Kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta mengatakan, “Apresiasi kami sampaikan kepada warga masyarakat atas kesadaran dan kepeduliannya terhadap satwa liar, khususnya satwa dilindungi, dengan segera melaporkan kepada pihak berwenang dan tidak mengambil tindakan sendiri yang mungkin saja bisa membahayakan keselamatan warga maupun satwa. Mempertimbangkan kejadian konflik yang masih terus terjadi antara manusia dengan satwa liar, kita harus siap membangun pola pikir baru terhadap hidupan liar, baik pola pikir pemangku kewenangan maupun masyarakat. Perlu dicari dan dirumuskan pola-pola penanganan baru yang bisa memberikan solusi jangka panjang/permanen atas semakin meningkatnya interaksi antara satwa liar dan manusia. Ke depan, manusia harus lebih siap dan bisa hidup ‘berdampingan’ dengan satwa liar”. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Resort Konservasi SM Paliyan Lepasliarkan Satwa Bersama Komunitas

Yogyakarta, 20 Februari 2022. Resort Konservasi Suaka Margasatwa (SM) Paliyan bersama dengan Komunitas Manah Ati, Exalos, Gunrident dan beberapa mahasiswa KKN UAD melakukan pelepasliaran Satwa di SM Paliyan, Sabtu (19/02/22). Pelepasliaran satwa ini dilatarbelakangi keinginan untuk mengembalikan satwa pada habitat aslinya sehingga dapat hidup bebas dan berkembangbiak demi menjaga kelestariannya juga memperingati anniversary Exalos ke-6. Satwa liar yang dilepasliarkan ini terdiri dari 7 ekor anakan dan 1 ekor dewasa Sanca Kembang (Phyton reticulatus), 1 ekor Ular Lanang Sapi (Coelognathus radiatus), 6 ekor Ular Jali (Ptyas mucosus), dan 3 ekor Ular Kobra Jawa (Naja sputatrix). Sebelumnya selain pelepasliaran jenis reptil juga akan dilepasliarkan jenis musang pandan, namun setelah dilakukan pemeriksaan, musang pandan tersebut tidak lolos uji liar. Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi memberikan apresiasinya kepada komunitas yang terlibat dalam kegiatan pelepasliaran satwa kali ini. M. Wahyudi mengingatkan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam pelepasliaran satwa. “Kami sangat bangga terhadap apa yang dilakukan Komunitas Manah Ati, Exalos, Gunrident dan adik-adik Mahasiswa KKN UAD ini. Kegiatan yang telah mereka lakukan menunjukkan adanya kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian satwa agar dapat hidup di alam bebas. Balai KSDA Yogyakarta mengapreasiasi dan mendukung langkah tersebut. Upaya pelestarian satwa ini memang membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Semakin banyak yang peduli akan kelestarian satwa, akan berdampak positif terhadap kondisi ekosistem yang ada di sekitar kita.” kata M. Wahyudi. Lebih lanjut M. Wahyudi mengingatkan agar kegiatan pelepasliaran dilakukan dengan mempertimbangkan kesejahteraan satwa dan keamanan serta kenyamanan masyarakat. “Lokasi pelepasliaran jenis reptil ini dilakukan di Blok perlindungan eks petak 138 SM Paliyan, dengan pertimbangan adanya sumber air dan ketersediaan pakan bagi satwa yang dilepasliarkan. Blok perlindungan ini juga merupakan salah satu Blok pengelolaan di SM Paliyan yang diarahkan sebagai area untuk perlindungan habitat satwa. Lokasinya berada jauh dari permukiman penduduk sehingga satwa yang dilepasliarkan ini tidak akan memberikan gangguan bagi penduduk sekitar kawasan SM Paliyan. Hal ini penting agar pelepasliaran yang dilakukan ini dapat memberikan jaminan satwa hidup bebas tanpa menimbulkan kekhawatiran kepada masyarakt sekitar kawasan.” tutup M. Wahyudi. Sumber : Siti Rohimah - Penyuluh Balai KSDA Yogyakarta, Kepala Resort SM Paliyan Penanggung jawab berita: Kepala Balai KSDA Yogyakarta-Muhammad Wahyudi (HP 0852-4401-2365) Kontak informasi: Call center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)
Baca Berita

Sekditjen KSDAE Lepas Nina, Moci dan Srikandi Pada Peresmian Gedung Pusat Penelitian Baluran

Situbondo, Balai Taman Nasional Baluran, Senin 21 Februari 2022. Menyambut Hari Strategi Konservasi Dunia yang akan jatuh pada 6 Maret 2022, Balai Taman Nasional Baluran kembali melepasliarkan 3 (tiga) ekor Banteng (Bos javanicus). Ketiga ekor banteng tersebut berjenis kelamin betina yang berasal / lahir dari Suaka Satwa Banteng (SSB). Pelepasliaran banteng ini dihadiri dan dilepaskan secara langsung oleh Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE, Bapak Suharyono, S.H.,M.Si.,M.Hum. Sekretaris Ditjen KSDAE tersebut berkesempatan melepasliarkan banteng yang bernama Nina dan Moci dan Srikandi. Beliau menyampaikan bahwa pelepasliaran banteng ini sebagai bentuk nyata upaya konservasi untuk menjaga keberadaan populasi banteng di alam liar tetap lestari dan terus bertambah. “Semoga keberadaan Banteng di TN Baluran semakin bertambah dan lestari sehingga upaya konservasi bisa berjalan dengan sebaik-baiknya; Konservasi merupakan bukan sekedar pekerjaan, melainkan ibadah bagi kita semua.” Ketiga ekor Banteng tersebut dilepasliarkan di area yang diketahui merupakan wilayah jelajah atau homerange beberapa banteng jantan melalui hasil pantauan kamera trap. Selain satwa Banteng, juga dilepasliarkan beberapa satwa dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta yakni 2 ekor Trenggiling (Manis javanica), 2 ekor Kucing hutan jawa (Prionailurus bengalensis), 1 ekor Merak (Pavo muticus), dan 1 ekor Landak (Hystrix javanica) yang merupakan hasil penyerahan dari masyarakat kepada BKSDA DKI. Pelepasliaran ini juga turut disaksikan oleh beberapa tamu undangan dari Forkompimca Kecamatan Banyuputih, Civitas Akademis dari beberapa kampus di sekitar TN Baluran dan wartawan. Sekditjen KSDAE menyampaikan bahwa kegiatan pelepasliaran satwa merupakan wujud kolaborasi multipihak yang harus bersama-sama untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati di Indonesia. “Kegiatan pelepasliaran ini merupakan salah satu bentuk upaya penyelematan satwa yang telah sesuai dengan Konsep 3 R (Rescue, Rehab dan Release) yang dikembangkan oleh Ditjen KSDAE.” Baluran Sebagai Pusat Penelitian Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Ditjen KSDAE juga meresmikan Stasiun Penelitian Baluran (Baluran Research Station). Gedung ini dibangun atas kerjasama antara Direktorat Jenderal KSDAE dengan Copenhagen Zoo. Stasiun penelitian ini diharapkan dapat menjadi rumah bagi pengetahuan-pengetahuan baru tentang kawasan TN Baluran, yang didapat dari berbagai penelitian-penelitian yang dilakukan berbagai pihak, baik universitas maupun lembaga penelitian lainnya. “Gedung Pusat Penelitian TN Baluran bisa dijadikan sebagai tempat secara bersama sama multipihak untuk melakukan pembelajaran tentang konservasi di Baluran, Jawa Timur dan Indonesia pada umumnya. Gedung ini juga sebagai wadah untuk melakukan penelitian, diskusi-diskusi dan sharing berbagai tema oleh peneliti, mahasiswa atau pun pelajar”. Penelitian merupakan salah satu pilar dalam konservasi. Namun dia mengingatkan bahwa konservasi tidak hanya tentang hal-hal teknis saja. Konservasi sangat terkait dengan religi dan spiritualitas. “Contohnya di Bali ada filosofi Tri Hita Karana, yang merupakan tuntunan bagi manusia untuk selaras dengan Tuhan, selaras dengan manusia, dan selaras dengan alam. Berkaca dari filosofi tersebut, konservasi bukan lagi semata tentang pekerjaan-pekerjaan teknis saja, namun sudah menjadi bagian dari ibadah kita semua,” jelasnya lebih lanjut. Pengambilan keputusan berbasis sains (Science Based) memandatkan pengelolaan berbasis pada: (1) data dan informasi yang sahih, tidak dipalsu, yang berasal dari fakta lapangan, (2) metode pengambilan data dan analisisnya harus benar dan berdasarkan science, dan (3) penerapan teknologi tinggi dalam rangka menemukan nilai manfaat nyata sumber daya genetic untuk kemanusiaan. Beberapa hal tersebut lah yang mendasari dibangunnya Stasiun Penelitian Baluran yang mampu menampung 26 mahasiswa dan peneliti dan dilengkapi dengan 2 laboratorium untuk menunjang kegiatan penelitian dan tindakan medis satwa. Hal ini dijelaskan oleh Hariyawan Agung Wahyudi, Indonesia Program Director Copenhagen Zoo. “Stasiun ini dilengkapi dengan fasilitas untuk melakukan tindakan medis jika terdapat satwa yang memerlukan pertolongan medis atau melakukan nekropsi untuk mengetahui penyebab kematian satwa. Hal ini akan sangat membantu Taman Nasional mengetahui sedari awal faktor-faktor yang menjadi potensi yang mengancam kelestarian populasi satwa, sebagaimana beberapa saat lalu virus flu afrika yang sangat mematikan dan membuat banyak populasi babi kita mengalami kematian mendadak,” jelasnya. Untuk dapat mengoptimalkan manfaat stasiun penelitian tersebut, diperlukan adanya masukan dari berbagai fihak yang berkepentingan, agar stasiun penelitian ini dapat menjadi media untuk mengarusutamakan kegiatan penelitian yang mampu memberikan masukan terhadap peningkatan efektifitas pengelolaan kawasan, agar upaya pelestarian keragaman hayati di TN Baluran dapat terlaksana dengan baik, sekaligus memberikan manfaat bagi kepentingan pembangunan nasional dan regional, sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Kolaborasi antara antara Taman Nasional dan Universitas menjadi kunci penting agar kegiatan penelitian-penelitian mampu menjawab kebutuhan dan tantangan pengelolaan kawasan konservasi. Sulistino, Wakil Rektor II Universitas Banyuwangi, menyampaikan bahwa pihak Taman Nasional diharapkan dapat merangkul banyak universitas untuk melakukan penelitian secara intensif karena tidak semua hal dapat dilakukan oleh satu atau dua universitas. “Kolaborasi antar universitas yang satu dengan universitas yang lain juga sangat penting untuk diwujudkan, sehingga penelitian-penelitian yang dilakukan dapat saling mengisi,” jelasnya. Peran universitas sebagai sumber pengetahuan-pengetahuan mutakhir melalui berbagai kegiatan penelitian multidisiplin ilmu dan mampu menjadi referensi bagi pengambilan keputusan, dalam hal ini memegang peranan yang sangat penting. Dengan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas untuk melakukan eksplorasi secara efektif, peran universitas dalam upaya meningkatkan penelitian di TN Baluran di masa mendatang sangat diharapkan. “Alam telah membuat manusia menjadi bahagia dan baik, tetapi masyarakat mencelakakan dia dan membuatnya sengsara.” -Jean-Jacques Rousseau- Sumber : Balai Taman Nasional Baluran Informasi: Taman Nasional Baluran: Jl. Raya Banyuwangi – Situbondo Km.35 Wonorejo, Banyuputih, Situbondo email: balurannationalpark@gmail.com | Website: www.balurannationalpark.id | IG: @tamannasional_baluran Contact person : Joko Mulyo Ichtiarso, S.Hut.,M.Si. - Penyuluh Kehutanan Balai Taman Nasional Baluran (085319389646)
Baca Berita

Hasil Sitaan Polres Pelalawan, BBKSDA Riau Evakuasi dan Lepas Liarkan Burung Ke Habitatnya

Pekanbaru, 21 Februari 2022 - Kembali Tim Balai Besar KSDA Riau melalu Bidang KSDA Wilayah I, melakukan evakuasi dan pelepasliaran burung ke habitatnya pada Jum'at, 18 Februari 2022. Burung diperoleh dari hasil sitaan perdagangan illegal oleh Polres Pelalawan. Sebelumnya dilakukan pengecekan dan identifikasi satwa bersama tim Opsnal Sat Reskrim Polres Pelalawan. Hasil Identifikasi, terdapat burung Ciblek (Prinia familiaris) dan Gelatik (Padda orzyivora) dengan status tidak dilindungi sebanyak 1300 ekor. Namun satwa diangkut tanpa disertai dokumen yang sah karena dibeli pelaku dari daerah Balam, Rokan Hilir dan direncanakan akan dijual kembali ke Rengat. Pelaku yang membawa satwa burung illegal tersebut terjaring di Pos PJR Kemang, pada jalan Lintas Timur. Pelaku sempat berhasil melarikan diri, kemudian dikejar petugas Pos PJR, namun akhirnya mobil yang mengangkut satwa illegal tersebut terguling hingga pelaku berhasil diamankan petugas. Tim Polres Pelalawan segera menyerahkan satwa burung kepada Balai Besar KSDA Riau untuk dievakuasi dan dilepasliarkan ke kawasan hutan, sedangkan pelaku yang warga Daerah Pematang Reba, Kel.Sungai Baung, Kec.Rengat Barat, Kab.Indragiri Hulu saat ini masih ditangani Polres Pelalawan. Mengingat jenis satwa ini sangat rentan dan mudah stres, maka pelepasliaran segera dilakukan hari itu juga, di habitatnya yaitu kawasan konservasi di bawah pengelolaan Balai Besar KSDA Riau. Satwa burung yang berjumlah 1300 ekor, tidak semuanya dalam keadaan hidup, sehingga untuk satwa yang mati segera dilakukan penguburan. Pelepasliaran yang dipimpin Tommy Sinambela juga disaksikan oleh Ketua RT dan masyarakat setempat serta mitra LSM Flight. Terima kasih atas kerjasamanya Polres Pelalawan. Sumber : Balai Besar KSDA Riau [Teks : DI, Foto : Tim admin BBKSDARIAU |022022]
Baca Berita

Seekor Gajah Liar Terobos Jalan Tol Pekanbaru Dumai

Pekanbaru, 21 Februari 2022 - Seekor gajah sumatera liar melintas di jalan tol Km. 73 + 250 m pada Senin (14/2) sekitar pukul 06.00 WIB. Laporan diterima pihak Balai Besar KSDA Riau menerima laporan tersebut dari pengelola jalan tol PT. Hutama Karya. Berdasarkan hasil pengecekan di lokasi, gajah liar yang diketahui bernama Condet tersebut berjalan dari arah Suaka Margasatwa (SM) Giam Siak Kecil tidak melalui terowongan pada km. 72. Terowongan tersebut karena hujan lebat pada malam harinya sehingga aliran air melimpah dan dan menyebabkan gajah codet melintas dengan cara merobohkan pagar bagian atas dan melewatinya untuk menyeberangi jalan tol menuju kawasan SM Balai Raja. Pantauan terakhir berdasarkan koordinat GPS Collar yang terpasang pada gajah Condet, saat ini gajah tersebut berada di kawasan SM Balai Raja (4 km dari jalan tol). Hasil koordinasi dengan pengelola jalan tol PT. Hutama Karya, disepakati untuk kedepannya akan ditingkatkan komunikasi antar pihak dalam informasi pergerakan gajah khususnya Condet. Upaya menanam pakan gajah di mulut terowongan (under pass) agar gajah melintas di terowongan tersebut dan pihak PT. Hutama Karya akan menanam jenis jeruk jerukkan di sepanjang pagar sekitar under pass agar gajah tidak melewati pagar tol. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Masyarakat Mengembalikan Lahan ke BBKSDA Riau

Pekanbaru, 21 Februari 2022 - Seksi Wilayah III Duri Balai Besar KSDA Riau bersama Polsek Bukit Batu dan Staff Desa Bukit Batu melakukan patroli bersama di kawasan konservasi Suaka Margasatwa (SM) Bukit Batu, tepatnya di Desa Temiang KM. 2.5, Kec. Bandar Laksmana, Kab. Bengkalis pada Senin hingga Jum'at, 14 s/d 18 Februari 2022. Dari hasil patroli keseluruhan, warga yang sebelumnya menguasai lahan dalam kawasan SM Bukit Batu telah menandatangani surat pernyataan menyerahkan lahan ke Balai Besar KSDA untuk dihutankan kembali. Banyak masyarakat yang sudah sadar untuk menyerahkan lahan yang masuk dalam kawasan konservasi, sehingga hutan dapat dikembalikan fungsinya sebagaimana seharusnya. Kepala Seksi Wilayah, MB Hutajulu mengawali patroli bersama di SM Bukit Batu KM. 2,5 Desa Temiang dan menemukan tanaman yang ditanam sekitar 3 bulan berjumlah 180 batang. Tanaman tersebut dimusnahkan dengan cara mencabut dan memotong batangnya serta rambu-rambu peringatan dipasang pada lokasi tersebut. Patroli bergerak ke arah sungai dan ditemukan tanaman sawit sekitar 50 batang yang diperkirakan telah berumur di atas 2 tahun. Sawit tersebut dimusnahkan dengan menggunakan mesin chainsaw dan dilakukan pemasangan rambu-rambu peringatan. Tim melanjutkan patroli di KM. 4 dekat areal kebun sawit warga dan memusnahkan tanaman sawit menggunakan mesin chainsaw yang masuk ke dalam kawasan SM Bukit Batu sebanyak 50 batang. Di tempat tersebut juga dilakukan penanaman bibit tanaman kehutanan dan pemasangan rambu-rambu kawasan. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Memantau Perkembangan KTH Desa Redang dan Desa Rantau Bakung

Pekanbaru, 21 Februari 2022 - Resort Kerumutan Selatan (Pekan Heran) Balai Besar KSDA Riau melakukan pengecekan Kelompok Tani Hutan (KTH) Desa Redang dan KTH Desa Rantau Bakung, Kamis (17/2). Kedua KTH tersebut merupakan binaan Balai Besar KSDA Riau bekerjasama dengan BRG (Badan Restorasi Gambut), Kepala Resort Kerumutan Selatan, Zulkifli memimpin pengecekan dan pembinaan ke lokasi kolam ikan Patin di KTH Desa Redang didampingi Ketua KTH dan Kepala Desa Redang. Hasilnya, kondisi dan perkembangan ikan patin terpantau cukup baik. Ikan telah mencapai ukuran 10 s/d 15 cm dalam waktu tiga bulan. Jumlah ikan patin yang dibudidayakan sekitar 21.000 ekor yang ditempatkan dalam 4 kolam dan berkembang dengan baik. Untuk menambah nutrisi agar ikan lebih cepat besar Ketua KTH Desa Redang mencoba membudidayakan ulat naghot sebagai pakan tambahan dan untuk pengamanan kolam dilakukan penjagaan siang dan malam secara bergantian oleh anggota kelompok tani. Menurut keterangan Pak Kades Redang, pemanenan akan dilakukan sekitar tiga bulan ke depan sekitar bulan Mei atau Juni 2022. Pengecekan dan pembinaan kedua dilakukan di KTH Desa Rantau Bakung berupa ternak sapi yang didampingi Ketua KTH, Pasaribu. Peninjauan dilakukan langsung pada kandang dan kondisi ternak sapi. Hasilnya, kondisi kandang sapi terpantau baik serta kondisi kesehatan 12 ekor sapi cukup baik. Menurut keterangan Pak Pasaribu semua sapi yang ada dalam kondisi baik dan telah dilakukan pengecekan oleh Tim Dokter hewan yang ada di Kab. Indragiri Hulu. Evaluasi dan monitoring ini bermanfaat dan dapat menambah kesejahteraan anggota kelompok serta tetap terjaganya hutan yang tersisa di sekitarnya. Sumber : Balai Besar KSDA Riau [Teks : DI, Foto : Tim admin BBKSDARIAU |022022]
Baca Berita

Balai Besar KSDA Riau Kembali Lakukan Mitigasi Konflik Gajah Liar dengan Warga

Pekanbaru, 17 Februari 2022 – Balai Besar KSDA Riau, Resort Kerumutan Selatan (Pekanheran) melakukan mitigasi konflik satwa liar Gajah sumatera di Pangkalan Kasai, Kecamatan Siberida, Kabupaten Inhu tepatnya pada tanggal 11-12 Februari. Bermula dari aduan masyarakat Desa Pangkalan Kasai yang melaporkan tentang adanya gajah liar memasuki kebun warga. Tim segera berkoordinasi dengan Lurah dan Babinkantimnas setempat. Keesokan harinya tim melakukan pengecekan lapangan dan menemukan jejak baru satwa dimaksud di sekitar kebun warga yang ditumbuhi tanaman sawit, semangka, melon, dan terong. Tim terus menelusuri jejaknya hingga masuk ke area hutan PT. Riau Bara Harum (RBH). Pada hari ke-2, tim kembali melakukan penelusuran jejak Gajah dan berhasil menemukan jejaknya di sekitar kebun sawit warga. Menurut pengakuan pemilik kebun, satwa diperkirakan masih berada di sekitar kebun tersebut yang memiliki luas ± 6 ha. Diduga satwa masuk ke dalam hutan bekas areal tambang batubara PT. RBH di siang hari, namun pada malamnya kembali masuk ke areal kebun warga. Akhirnya tim dan warga memutuskan untuk berjaga di sekitar kebun tersebut. Tim mengingatkan kepada warga agar berhati hati dalam beraktifitas dan tidak anarkis terhadap satwa dilindungi termasuk Gajah sumatera. Sumber : Balai Besar KSDA Riau (Teks : DI, Foto : Tim admin BBKSDA Riau)
Baca Berita

Mahout Bersama 3 Ekor Gajah Jinak Melakukan Penggiringan Gajah Liar

Pekanbaru, 15 Februari 2022 - Balai Besar KSDA Riau melalui Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas melakukan penggiringan gajah liar menggunakan gajah jinak melalui medan yang cukup berat yaitu semak belukar untuk mengurangi dampak kerusakan kebun warga yang semakin parah. Penggiringan ini memakan waktu dari hari Rabu – Jumat (9-11 Februari 2022). Bersama 3 ekor gajah jinak yang bernama Bankin, Jopi dan Indah, 9 mahout melakukan penggiriangan ke dalam hutan Tahura sekaligus patroli penjagaan agar gajah liar tidak masuk kembali ke pemukiman warga. Gajah liar terpantau sudah cukup jauh masuk ke dalam hutan Tahura, maka tim kembali ke camp. Sumber : Balai Besar KSDA Riau [Teks : DI, Foto : Tim admin BBKSDARIAU |022022]
Baca Berita

Stasiun Konservasi Penyu Rantau Sialang Lepasliarkan Puluhan Tukik di Hutan Pantai TN Gunung Leuser

Aceh Selatan, 14 Februari 2022. Bidang Pengelolaan Taman Nasional (BPTN) Wilayah I Tapaktuan, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), lepasliarkan enam puluh satu ekor tukik (anakan) Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) di kawasan Pantai Singgah Mata Rantau Sialang, Gampong Pasie Lembang, Kecamatan Kluet Selatan, Kabupaten Aceh Selatan pada Senin, sore (14/2/2022). Pelepasliaran tukik penyu ini dilakukan untuk menyambut Hari Kehidupan Liar Sedunia (Global Wild Day) dan mendukung pelestarian populasi penyu di habitat alaminya. CTA. Project BCCPGLE - KFW, Ir. Muhammad Khairul Rizal, M.Si mengatakan bahwa kegiatan pelepasliaran tukik penyu ini adalah agenda rutin tahunan di Stasiun Konservasi Penyu Rantau Sialang, Resor Kluet Selatan, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Kluet Utara, BPTN Wilayah I Tapaktuan, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL). "Melalui kegiatan pelepasliaran tukik penyu ini diharapkan kesadaraan masyarakat akan kelestarian penyu laut meningkat" ungkapnya. Secara terpisah Ka. BPTN Wilayah I Tapaktuan, Agung Widodo, S.H., M.H., menghimbau masyarakat yang berada di sekitar pantai kawasan TN Gunung Leuser untuk ikut serta bersama menjaga kelestarian penyu di habitat alaminya. "Dengan tidak mengkonsumsi telur dan tidak melakukan perburuan penyu laut merupakan suatu perujudan nyata konservasi secara harfiah" tutupnya. Rangkaian kegiatan antara lain acara seremonial, ngobar konservasi (ngobrol bareng seputaran konservasi penyu), diskusi interaktif dan berakhir dengan pelepasliar tukik penyu menuju laut lepas. Tamu undangan yang hadir meliputi CTA Project BCCPGLE - KFW beserta staf, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh Selatan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Aceh Selatan, Dinas Pariwisata Aceh Selatan, Camat Kluet Selatan, Polsek Kluet Selatan, Danramil Kluet Selatan dan Geuchik Gampong Pasie Lembang beserta perangkat adat dan hukum lainnya. Sumber : Efa Wahyuni - Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser
Baca Berita

Mitigasi Konflik Gajah Liar, BBKSDA Riau Evakuasi Dua Keluarga

Pekanbaru, 13 Februari 2022 - Balai Besar KSDA Riau melalui Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas melanjutkan mitigasi konflik satwa liar gajah sumatera dengan melakukan penggiringan di Kel. Rantau Panjang, Kec. Rumbai, Kota Pekanbaru, Senin (7/2). Tim sempat kehilangan jejak dan mulai melakukan pengecekan kembali di sekitar bendungan PT. Panca Eka, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan gajah liar di sekitar lokasi. Sampai pada malam hari, Tim menerima informasi bahwa kawanan gajah liar berada di sekitar Jl. Parang. Di lokasi tersebut, Tim bergabung dengan warga melakukan penggiringan kawanan gajah liar dari pemukiman dan kebun warga. Dalam penggiringan ini kawanan gajah liar sudah merusak 2 (dua) unit rumah warga. Dan mengevakuasi 2 keluarga yang rumahnya terjebak kawanan gajah liar karena dikelilingi satwa tersebut. Sumber : Balai Besar KSDA Riau [Teks : DI, Foto : Tim admin BBKSDARIAU |022022]
Baca Berita

Jesy Si Musang Besar Diserahkan ke Balai Besar KSDA Sulsel

Makassar, 9 Februari 2022 – Balai Besar KSDA Sulsel melalui Tim Wildlife Rescue Unit (WRU), menerima penyerahan 1 ekor satwa dilindungi jenis Binturong (Arctictis binturong) dari warga atas nama Indira Basalamah beralamat di BTP Blok A No. 129, Kota Makassar pada tanggal 9 Februari 2022. Informasi tentang adanya satwa yang dilindungi di BTP Blok A, No. 129 berawal dari laporan warga atas nama Indira Basalamah pada hari Selasa tanggal 8 Februari 2022 kepada Tim WRU. Menindaklanjuti laporan tersebut, tim WRU Rudi Ashadi, S.Hut, Kherno Subroto, S.Hut dan Drh. Nur Fadhilah Pardan melakukan pengecekan satwa di rumah Indira Basalamah pada hari Rabu tanggal 9 Februari 2022. Berdasarkan hasil identifikasi tim WRU dan keterangan pemilik, Binturong diperoleh data bahwa 1 ekor Binturong telah berumur 3 tahun. Kondisi Kesehatan Binturong yang diberi nama Jesy dalam keadaan sehat hal ini terlihat dari nafsu makan dan minum yang baik, perilaku normal, warna bulu normal, serta tidak ada cacat fisik maupun luka ditubuh Binturong. Tim WRU menjelaskan bahwa satwa yang dimiliki termasuk jenis dilindungi Undang-Undang. Atas dasar penjelasan tersebut, pemilik Binturong bersedia menyerahkan 1 ekor Binturong secara sukarela dengan No. BA. 266/K.8/BIDTEK/KSA/02/2022 pada hari Rabu, tanggal 9 Februari 2022 dan menandatangani pernyataan tertulis bermaterai untuk tidak memelihara jenis satwa yang dilindungi. Kepala Bidang Teknis Balai Besar KSDA Sulsel, Ir. Anis Suratin, MP menyampaikan “Terima kasih dan apresiasi yang tinggi untuk kepedulian Sdri. Indira Basalamah atas kerjasamanya terhadap upaya pelestarian satwa liar yang dilindungi". Dalam kesempatan tersebut beliau mengajak dan menghimbau kepada semua pihak untuk tidak memelihara dan memperjual belikan satwa liar yang dilindungi dan membiarkanya hidup di alam bebas untuk keseimbangan ekologis. Binturong atau Binturung yang dalam bahasa latin disebut Arctictis binturong adalah sejenis musang bertubuh besar. Ekor Binturong dapat berfungsi sebagai kaki kelima guna berpegangan pada dahan. Hal ini menyebabkan binturong memiliki keahlian dalam memanjat pohon dengan sangat baik. Binturung (A. binturong) tersebar mulai dari Bangladesh, Bhutan, Brunei Darussalam, Kamboja, Cina, India, Indonesia (Jawa bagian barat, Kalimantan, Sumatera), Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Populasi Binturong (A. binturong) cenderung mengalami penurunan, sehingga oleh IUCN Redlist binatang ini dimasukkan dalam status konservasi Vulnerable (VU; Rentan) dan terdaftar dalam (CITES) Apendiks III. Menurut Undang-Undang yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia Binturong termasuk salah satu satwa yang dilindungi. Berkurangnya populasi Binturong disebabkan oleh perburuan dan rusaknya hutan sebagai akibat penggundulan hutan dan kebakaran hutan. Binturong diburu untuk diperdagangkan dalam pasar gelap, sebagai hewan peliharaan, dan juga diambil kulitnya yang berbulu tebal, dan untuk dimanfaatkan bagian-bagian tubuhnya sebagai bahan obat tradisional oleh masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. Binturong merupakan hewan aboreal dan jarang untuk turun ke tanah. Hal ini dikarenakan makanan binturong lebih banyak terdapat di pepohonan daripada di tanah. Makanan hewan ini adalah burung-burung kecil, telur, dan hewan-hewan kecil lainnya, serta juga dapat memakan buah-buahan yang telah masak pohon. Pergerakan lambat ini disebabkan karena ukuran yang besar dan berat, sehingga menyebabkan pergerakan binturong begitu lambat. Pergerakan yang lambat dan tenang ini dapat memudahkan pengamat melakukan pengamatannya dengan lebih baik dan jelas. Memelihara satwa liar dilindungi bukan merupakan bentuk cinta dan sayang terhadap satwa liar. Mengekang dan merenggut kebebasan mereka untuk hidup dan berkembang biak di alam memberikan dampak terhadap keseimbangan ekologis. Untuk itu, biarkan satwa liar tetap hidup liar di alam. Mereka dan keberadaannya di habitat asli adalah bagian dari siklus ekologis yang tidak dapat terpisahkan. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penanggung Jawab Berita: Eko Yuwono, S.Hut. Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Berita

Upaya Penyisiran Gajah Sumatera Yang Merusak Kebun Warga

Pekanbaru, 10 Februari 2022 - Makin maraknya pembukaan lahan dan sempitnya ruang gerak satwa liar menjadikan makin tingginya konflik yang terjadi antara manusia dan satwa itu sendiri. Seperti yang terjadi Rabu, 2 Februari 2022, Tim Balai Besar KSDA Riau dari Resort Kerumutan Selatan (Pekan Heran) melakukan mitigasi konflik satwa liar gajah sumatera di Desa Aur Cina dan Desa Pejangki, Kec. Batang Cenaku, Kab. Inhu. Laporan diterima dari Wakil Bupati Kab. Inhu dan Kepala Desa Aur Cina bahwa satwa liar gajah sumatera memasuki perkebunan warga Desa Aur Cina. Menurut keterangan Kades Aur Cina, gajah sudah bergerak memasuki Desa Pejangki, Kec. Batang Cenaku lewat areal perkebunan sawit PT. Arvena Sepakat yang berbatasan dengan Kec. Batang Gansal. Informasi didapat bahwa gajah sudah dua hari berada di wilayah tersebut dan merusak perkebunan sawit warga yang baru ditanam. Bersama masyarakat, Tim turun ke lokasi kebun sawit warga yang dirusak dan ditemukan jejak gajah serta sisa makanan berupa tanaman sawit. Tim melakukan upaya penyisiran di sekitar hutan penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) namun tidak menemukan satwa tersebut. Diperkirakan gajah berjumlah dua ekor dan bergerak ke arah selatan menuju ke Kec. Batang Gansal Kab. Inhu. Pengecekan dan penyisiran jejak satwa dilakukan Tim bersama Staf Kesbangpol Kab. Inhu kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi dan himbauan kepada masyarakat agar tidak melakukan tindakan anarkis terhadap satwa yang dilindungi oleh Undang - Undang termasuk satwa liar gajah sumatera yang tergolong satwa langka dan hampir punah. Sumber : Balai Besar KSDA Riau

Menampilkan 1.761–1.776 dari 11.142 publikasi