Senin, 12 Okt 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Patroli Pencegahan Karhutla di CA. Gunung Picis dan CA. Gunung Sigogor

Ponorogo, 27 Oktober 2025. Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Resort Konservasi Wilayah (RKW) 06, Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro, kembali melaksanakan kegiatan Patroli Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di dua kawasan konservasi penting, Cagar Alam (CA) Gunung Picis dan CA. Gunung Sigogor. Kegiatan tersebut digelar pada 22 hingga 24 Oktober 2025. Dua tim patroli diterjunkan secara terpisah untuk menyusuri jalur-jalur rawan kebakaran di kedua kawasan yang berada di lereng pegunungan Wilis ini. Hasilnya, tidak ditemukan adanya titik api maupun tanda-tanda kebakaran, berkat kondisi cuaca yang lembab setelah hujan beberapa hari terakhir. Kelembaban seresah di kedua kawasan masih cukup baik. Patroli di CA Gunung Picis berfokus pada Blok Sangubanyu dan Blok Trungo, dengan luas sekitar 3,75 hektare, yang berbatasan langsung dengan hutan produksi Perhutani BKPH Wilis Barat. Kawasan ini sering dilintasi masyarakat untuk mencari pakan ternak dan menyadap getah Pinus, aktivitas yang kerap menjadi potensi awal kebakaran saat musim kemarau panjang. Di sepanjang jalur, tim mencatat keberadaan vegetasi khas pegunungan Jawa Timur, antara lain Pinus (Pinus merkusii), Morosowo, Cemara gunung, Puspo, Pasang, dan Suren. Serasah kering daun pinus dan puspo tampak menumpuk di lantai hutan, namun masih cukup lembab berkat curah hujan yang menjaga keseimbangan mikroklimat kawasan. Sementara itu, tim kedua yang bertugas di CA Gunung Sigogor melakukan patroli di Blok Wates dan Blok Kantil, dengan area pengamatan sekitar 4,5 hektare. Vegetasi di kawasan ini didominasi oleh Pinus, Bambu, Puspo, Kemaduh, dan Pasang. Hasil uji remas seresah juga menunjukkan tingkat kelembaban yang baik, serasah patah tanpa hancur, menandakan kadar air masih cukup tinggi. Selain memastikan kondisi ekologi kawasan, kegiatan patroli ini juga menjadi momen penting bagi petugas untuk melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat sekitar. Tim memberikan pemahaman tentang bahaya kebakaran hutan dan pentingnya menjaga kelestarian kawasan konservasi bersama-sama. Pendekatan partisipatif ini menjadi kunci keberhasilan pencegahan kebakaran di wilayah konservasi. Masyarakat sekitar yang menggantungkan hidup pada sumber daya alam di sekitar hutan, menjadi garda terdepan dalam menjaga ekosistem tetap aman dari api. Gunung Picis dan Gunung Sigogor adalah dua benteng terakhir hutan pegunungan asli di gugus Wilis Selatan, menyimpan berbagai jenis flora dan fauna penting yang menjadi penanda kesehatan ekosistem Jawa Timur bagian barat. Patroli ini bukan hanya tentang mencegah api, tetapi tentang menjaga kehidupan yang tersembunyi di balik lembabnya seresah, dari mikroba tanah hingga tegakan pohon besar yang menopang keanekaragaman hayati kawasan. Ketika seresah tetap lembab, kehidupan di lantai hutan tetap berdenyut. Di situlah, keseimbangan alam dijaga, dan api dicegah bahkan sebelum ia sempat lahir. Kegiatan patroli pencegahan kebakaran di CA Gunung Picis dan CA Gunung Sigogor ini merupakan bagian dari strategi pengelolaan adaptif Balai Besar KSDA Jawa Timur dalam menjaga integritas ekosistem hutan konservasi di tengah perubahan iklim. Sinergi antara petugas lapangan, masyarakat sekitar, dan kondisi alam yang mendukung menjadi faktor penting dalam memastikan kedua kawasan tetap lestari, menjaga paru-paru hijau pegunungan Wilis agar terus bernafas untuk kehidupan yang lebih panjang. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Lebih dari Sekadar Bunga Keraton! Mengapa Wijayakusuma Menentukan Nasib Pulau Kecil?

Bawean, 27 Oktober 2025. Langit Bawean berwarna kelabu, dan rintik hujan pelan berubah menjadi deras ketika tim SMART Patrol melangkah ke jantung Cagar Alam Pulau Nusa, Desa Teluk Jati Dawang, Kecamatan Tambak, Kabupaten Gresik (22/10/2025). Pulau mungil seluas 3,216 Ha itu tampak sunyi; sebuah pulau batuan, tanpa tanah, tanpa aliran sungai, hanya dikelilingi karang hitam dan ombak yang terus menggerus. Di bawah guyuran hujan, langkah tim Smart Patrol Resort Konservasi Wilayah 10 Bawean, Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Bawean Lestari, serta mahasiswa magang dari dari Program Studi Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, terpukau dengan temuan yang menakjubkan. Substrat batuan membentuk pondasi kehidupan di Cagar Alam Pulau Nusa. Dalam kondisi seekstrem seperti itu, hanya spesies tertentu yang mampu bertahan, dan Wijaya Kusuma (Pisonia grandis) adalah salah satunya. Tumbuhan ini membentuk struktur tajuk yang lebar melalui percabangan yang banyak dari pangkal, menjadi tempat berteduh yang ideal bagi burung-burung laut sekaligus sumber humus alami ketika daunnya gugur dan terurai. Akarnya memecah celah batuan, menambatkan kehidupan di bebatuan yang seolah tak memberi harapan. Pisonia grandis adalah spesies pantai tropika yang umum dijumpai di pulau-pulau karang. Keunikan utamanya terletak pada biji yang lengket, yang menempel pada bulu atau kaki burung laut, sehingga memudahkannya tersebar antar pulau. Fenomena ini menjadikan Pisonia sebagai penyambung ekosistem pulau-pulau kecil, penanda konektivitas ekologis di atas lautan luas. Vegetasi Pisonia sering ditemukan berdekatan dengan koloni burung laut. Burung membawa bijinya, sementara kotoran burung memperkaya nutrisi pulau yang miskin unsur hara. Hubungan ini membentuk siklus alami yang saling menguntungkan, tanpa burung, Pisonia tak bisa memencar, tanpa Pisonia, burung kehilangan tempat bersarang. Di Pulau Nusa, pohon-pohon wijayakusuma berdiri sebagai penanda harmoni itu. Mereka bukan sekadar tumbuhan perintis, mereka adalah penjaga pulau, yang menstabilkan substrat, menahan abrasi, dan menyediakan pakan sekaligus habitat bagi kehidupan lain. Dari Bunga Keraton ke Laboratorium Alam Nama “Wijayakusuma” memberi dimensi budaya tersendiri. Dalam tradisi Jawa, bunga ini diyakini sebagai lambang kebijaksanaan, kejayaan, dan kehidupan abadi, bunga yang konon hanya mekar di malam hari, membawa aura sakral bagi siapa pun yang menyaksikannya. Namun di Pulau Nusa, mitos itu menemukan bentuk ilmiahnya, keabadian yang dimaksud bukan pada bunganya, melainkan pada perannya menjaga keseimbangan ekosistem. Beberapa informasi sebelumnya menyoroti keberadaan Wijayakusuma hanya ada di dua pulau karang kawasan Nusakambangan itu, yakni Pulau Majeti dan Pulau Wijayakusuma, Jawa Tengah. Hal tersebut menegaskan betapa simbol ini melekat di benak masyarakat Indonesia. Namun, temuan di Pulau Nusa, Bawean, Gresik membawa makna baru, bukan sekadar bunga keraton yang indah, melainkan penjaga kehidupan di pulau batu yang rapuh. Hujan kembali mengguyur saat tim mencatat hasil pengamatan terakhir hari itu. Air menetes melalui daun wijayakusuma, mengalir ke menuju akar yang menembus batuan. Semua tampak sederhana, hanya pohon dan hujan, tetapi di baliknya tersimpan kisah tentang daya tahan, ketergantungan, dan keselarasan yang membentuk wajah pulau kecil Indonesia. Catatan 27 individu Wijayakusuma di Pulau Nusa menjadi data penting bagi konservasi jangka panjang. Ia menandai, meski kecil dan terpencil, pulau karang ini hidup dan produktif. Pulau Nusa adalah contoh mikro-ekosistem di mana setiap unsur, burung, batuan, hujan, dan pohon, saling terhubung. Menjaga satu artinya menjaga semuanya. Bagi tim SMART Patrol, hari itu bukan sekadar pendataan. Itu adalah pengingat bahwa konservasi bukan tentang skala luas, melainkan ketulusan menjaga yang kecil agar tetap berarti. Di bawah hujan deras, tegakan Wijayakusuma berdiri tenang. Mereka tidak membutuhkan tanah subur untuk hidup, cukup kesetiaan burung, air hujan, dan waktu. Di Pulau Nusa, konservasi menemukan maknanya yang paling murni, menjaga keseimbangan antara karang, laut, dan kehidupan yang tumbuh diam-diam di tengah badai. (dna) Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Penyusunan Master Plan Ibu Kota Sofifi : Bappenas dan World Bank Kunjungi TN Aketajawe Lolobata

Ake Jawi, 24 Oktober 2025– Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bersama World Bank melakukan kunjungan lapangan ke Resor Ake Jawi, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Subaim, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (BTN Ajalo). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengambilan data tahap pertama dalam rangka penyusunan Master Plan Ibu Kota Sofifi, Maluku Utara. Kunjungan tersebut dipimpin oleh Direktur Pengembangan Wilayah Timur Regional III, Ika Retna Wulandary, S.T., M.Sc., sebagai tindak lanjut dari kunjungan sebelumnya oleh Deputi Pembangunan Kawasan Bappenas. Resor Ake Jawi terpilih sebagai salah satu lokasi strategis yang masuk dalam perencanaan pengembangan Master Plan Ibu Kota Sofifi karena letaknya yang sejalan dengan pembangunan jalan Trans Kie Raha di wilayah Ekor. Selama kunjungan, Tim melakukan pengumpulan informasi berupa potensi objek daya tarik wisata alam, potensi flora dan fauna, keberadaan infrastruktur penunjang, dan intensitas kunjungan wisatawan. Tim juga mewawancarai Bapak Mahroji, salah satu pemandu wisata di Resor Ake Jawi untuk mendapatkan gambaran langsung mengenai aktivitas wisata di kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Selain melakukan wawancara dan diskusi, tim Bappenas dan World Bank turut meminta data Master Plan TNAL serta data kunjungan wisatawan tahun 2025 guna mendukung proses sinkronisasi data perencanaan yang disusun. Kunjungan ini diharapkan menjadi langkah awal yang penting dalam memastikan potensi lingkungan dan pariwisata alam di kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata dapat terintegrasi secara berkelanjutan dalam perencanaan pengembangan Ibu Kota Sofifi. Sumber: Tim Medsos Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Memperkuat Baseline Kondisi Mangrove SM. Karang Gading Langkat Timur Laut

Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara memberi arahan pada kegiatan Paparan Hasil Kajian Kualitas Mangrove Alami dan Penilaian Keberhasilan Rehabilitasi Mangrove pada kawasan SM. Karang Gading Langkat Timur Laut Medan, 23 Oktober 2025. Balai Besar KSDA Sumatera Utara melaksanakan kegiatan Paparan Hasil Kajian Kualitas Mangrove Alami dan Penilaian Keberhasilan Rehabilitasi Mangrove pada Kawasan Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading Langkat Timur Laut di Hotel Grandhika, Medan, pada Kamis (23/10/2024). Sebelumnya, penilaian keberhasilan penanaman mangrove dilaksanakan berdasar pada kegiatan pemulihan ekosistem dari tahun 2014 sampai 2024 dengan tujuan untuk mengetahui persentase keberhasilan penanaman dan persentase kegagalan penanaman. Persentase kegagalan akan menjadi dasar kegiatan penanaman kembali dengan legal berita acara kegagalan penanaman. Persentase keberhasilan penanaman menjadi dasar keberhasilan penanaman mangrove secara nasional. Sementara itu, kajian kualitas mangrove merupakan proses penilaian kondisi ekosistem mangrove, baik yang alami maupun yang terdampak aktivitas manusia, untuk mengetahui tingkat kesehatan, produktivitas, dan fungsi ekologisnya. Kajian ini penting untuk konservasi, restorasi, dan pengelolaan berkelanjutan ekosistem mangrove. Kajian kualitas mangrove alami bertujuan untuk menilai kondisi ekosistem mangrove yang tumbuh alami dari segi fisik, kimia, biologi, dan fungsi ekologisnya. Kajian kualitas mangrove dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan: aspek fisik, aspek kimia, aspek biologi, dan aspek fungsi ekologis. Kajian perlu dilakukan untuk menilai kondisi ekosistem mangrove, baik yang alami maupun yang terdampak aktivitas manusia, untuk mengetahui tingkat kesehatan, produktivitas, dan fungsi ekologisnya. Kajian ini nantinya untuk konservasi, restorasi, dan pengelolaan berkelanjutan ekosistem mangrove. Acara paparan dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP.,M.Env., dilanjutkan dengan pemaparan Hasil Kajian Kualitas Mangrove Alami dan Penilaian Keberhasilan Rehabilitasi Mangrove Pada Kawasan SM. Karang Gading Langkat Timur Laut oleh beberapa narasumber seperti : Prof. Mohammad Basyuni, S.Hut., M.Si., Ph.D. dari Universitas Sumatera Utara, Prof. Catur Retnaningtyas dari Universitas Brawijaya Malang, Markus Sianturi, S.Si., M.Si. dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara, dan Kepala Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe, Amenson Girsang, SP., MH. Diakhir paparan dilakukan tanggapan oleh beberapa lembaga mitra dan penanggap dari akademisi Universitas Sumatera Utara, Onrizal, S.Hut., M.Si., Ph.D. Beberapa poin penting dari pertemuan tersebut, diantaranya bahwa kegiatan ini diharapkan sebagai baseline (data acuan) akan kondisi mangrove di SM. Karang Gading Langkat Timur Laut dari segi ekologi, biofisik dan kimia. Untuk kegiatan rehabilitasi mangrove kedepan, langkah pertama adalah menangani/mengatasi apa yang menjadi faktor gangguan/kendala/permasalahan, serta perlu dilakukan pemantauan dan pemeliharaan tanaman secara regular. Foto Bersama seluruh peserta Pertemuan yang bermanfaat ini diharapkan menjadi media komunikasi dan koordinasi kedepannya dalam meningkatkan keberhasilan kegiatan rehabilitasi pemulihan ekosistem kawasan SM. Karang Gading Langkat Timur Laut. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Penelaah Teknis Kebijakan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Cerita tentang Harapan dan Kepedulian Alam di Tulungagung

Tulungagung, 20 Oktober 2025. Di antara pekarangan rumah warga di Desa Buntaran, Kecamatan Rojotangan, Kabupaten Tulungagung, seekor trenggiling Jawa (Manis javanica) tampak menggulung dalam diam. Mamalia bersisik keras ini mungkin sedang mencari perlindungan ketika langkah-langkah manusia mendekat. Namun, alih-alih ancaman, kali ini yang datang adalah uluran tangan penyelamat. Adalah Anis Rizal Falinuha, warga setempat, yang menjadi pahlawan kecil bagi satwa langka ini. Ia menemukan trenggiling itu di halaman rumahnya pada Minggu, 19 Oktober 2025, dan tanpa ragu segera melaporkannya kepada pihak berwenang. Keesokan harinya, Tim Penyelamatan Satwa Liar (MATAWALI) Seksi KSDA Wilayah I Kediri, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), bergerak cepat menuju lokasi setelah menerima laporan tersebut. Setiba di lokasi, tim melakukan pemeriksaan terhadap kondisi satwa. Trenggiling itu tampak sehat, tanpa luka atau tanda stres berarti. Kondisi fisiologisnya baik, nafsu geraknya normal. Ini indikasi bahwa satwa masih layak dilepasliarkan. Setelah memastikan semua aspek keselamatan, tim Matawali bersama warga melakukan prosesi kecil yang bermakna besar, pelepasan trenggiling kembali ke alam di kawasan Gunung Klotok, Kediri, pada Senin, 20 Oktober 2025. Kawasan berhutan dengan tutupan vegetasi yang masih baik itu menjadi rumah yang aman bagi trenggiling, jauh dari ancaman manusia dan jerat perburuan. Pelepasliaran ini, menandai komitmen nyata Balai Besar KSDA Jawa Timur dalam menjaga kehidupan liar tetap lestari. Trenggiling Jawa merupakan salah satu satwa paling terancam di dunia. Menurut IUCN Red List, spesies ini berstatus Critically Endangered (Kritis) akibat perburuan dan perdagangan ilegal yang masif untuk diambil sisiknya dan dijadikan bahan obat tradisional. Indonesia menjadi salah satu habitat terakhir bagi spesies unik ini di Asia Tenggara. Namun di tengah kabar suram tentang perburuan dan perdagangan, kisah dari Tulungagung ini membawa setitik cahaya. Kepedulian warga seperti Anis Rizal menjadi simbol bahwa konservasi bukan hanya tugas aparat, tetapi tanggung jawab bersama, mulai dari pekarangan rumah hingga bentang hutan terakhir. BBKSDA Jawa Timur menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kepedulian masyarakat terhadap satwa liar yang dilindungi. Kepedulian untuk melapor dan tidak mencoba memelihara satwa tersebut. Kepedulian seperti ini adalah pondasi penting bagi kelestarian keanekaragaman hayati kita. Kisah sederhana ini menegaskan bahwa konservasi bukan sekadar tindakan besar di lapangan, tetapi juga tentang keputusan kecil yang menyelamatkan kehidupan. Dari tangan warga yang peduli hingga tim Matawali yang sigap, trenggiling itu kini kembali menggali tanah, mencari semut di bawah lindungan pepohonan Gunung Klotok, di rumah sejatinya, di alam yang terus dijaga bersama. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Jalan Pulang Monyet Ekor Panjang dari Semen Kidul, Bojonegoro

Bojonegoro, 20 Oktober 2025. Seekor Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) jantan muda kembali mendapat harapan baru untuk hidup bebas di alam liar. Satwa cerdas dan lincah ini diserahkan secara sukarela oleh warga Desa Semen Kidul, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, kepada petugas Damkar setempat. Dari sana, primata tersebut kemudian diterima oleh tim Penyelamatan Satwa Liar (Matawali) Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), untuk menjalani perawatan awal. Tiba dalam kondisi sehat dan cukup aktif, Monyet Ekor Panjang itu kini berada di kandang transit kantor Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro. Selama masa observasi, tim akan memantau perilaku, kesehatan, serta adaptasinya sebelum diputuskan untuk dikembalikan ke habitat yang aman dan sesuai. Penyerahan sukarela satwa liar ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konservasi kian meningkat. Monyet Ekor Panjang seringkali terjebak dalam konflik manusia-satwa akibat penyempitan habitat dan perburuan untuk peliharaan. Namun, tindakan warga Semen Kidul memberi pesan kuat bahwa kepedulian dapat mengubah nasib satu kehidupan liar menjadi kisah penyelamatan. Sebagai primata yang hidup berkelompok dan mudah beradaptasi, Macaca fascicularis memegang peranan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan sekunder dan daerah tepi. Mereka membantu regenerasi tumbuhan dengan menyebarkan biji melalui sisa pakan di berbagai wilayah, menjadikan kehadirannya bagian vital dari proses alami dalam siklus kehidupan hutan. Sebuah harapan, setelah proses observasi selesai dan kondisi satwa dinyatakan stabil, Monyet Ekor Panjang ini akan dilepasliarkan ke habitat yang sesuai. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan Balai Besar KSDA Jawa Timur dalam melindungi, memulihkan, dan memastikan keberlangsungan satwa liar di alam. Penyerahan dan penyelamatan ini bukan sekadar tindakan penyelamatan satu individu, melainkan langkah kecil yang berdampak besar bagi keseimbangan ekosistem. Di setiap proses penyelamatan satwa, tersimpan cerita tentang harapan, tanggung jawab, dan masa depan alam yang bergantung pada pilihan manusia hari ini. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

SMART Patrol Saobi Dan Harapan Yang Tumbuh Di Masakambing

Sumenep, 20 Oktober 2025. Di selatan angin Madura, di tengah laut biru yang mengurung pulau-pulau kecil, langkah-langkah para penjaga rimba terdengar lirih menapaki tanah kering. Mereka adalah tim SMART Patrol dari Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), bersama MMP Madura Kepulauan, yang selama hampir dua pekan (8–19 Oktober 2025) menelusuri setiap jengkal Cagar Alam Pulau Saobi, Kabupaten Sumenep. Mereka membawa tekad, bukan senjata, peta, bukan panji. Dalam rindangnya hutan tropis kering yang hanya sesekali dipecah suara burung dan gesekan dedaunan, tim ini memastikan satu hal, bahwa kehidupan di Saobi masih terus berdetak. Menembus Medan, Membaca Jejak Alam Dengan langkah hati-hati dan panduan Avenza Maps serta aplikasi SMART Mobile, tim menelusuri 35 grid area dengan luas sekitar 32 Ha, sebagian di antaranya berupa tebing dan tepi laut yang sulit dilalui. Beberapa grid seperti 274, 396, dan 481 nyaris tak bisa ditembus. Tebing curam dan ombak besar menjadi batas alami yang menantang. Namun mereka tak berhenti. Di setiap rintisan jalan yang dibuat mengikuti kontur, ratusan pohon diberi tanda, 370 pohon tepatnya. Pohon-pohon yang dominan, bernilai ekologis tinggi, dan rawan pencurian kini punya identitas. Setiap label adalah pernyataan bahwa mereka dijaga. Jejak Rusa dan Suara dari Kanopi Patroli kali ini juga membawa cerita kehidupan liar. Tercatat 8 tanda kehadiran satwa berupa jejak, kotoran, sarang, dan suara burung, serta perjumpaan langsung dengan 3 ekor rusa yang melintas cepat di antara pepohonan, terlalu cepat untuk sempat diabadikan. Rasa letih hilang seketika saat melihat rusa melompat di antara semak. Itu bukti bahwa Saobi masih punya nyawa. Sepanjang patroli, tidak ditemukan aktivitas ilegal. Tak ada jejak perambahan, tak ada tanda perburuan. Sebuah tanda positif bahwa kesadaran masyarakat sekitar terus tumbuh. Tim pun melakukan sosialisasi langsung kepada warga pesisir yang kadang melintas di sekitar kawasan, mengajak mereka ikut menjaga pulau kecil ini. Patroli malam juga digelar. Dalam sunyi yang hanya diterangi cahaya senter, para petugas menelusuri hutan. Hasilnya tetap sama, nihil pelanggaran, penuh harapan. Harapan dari Pulau Masakambing, Kakatua Kecil Jambul Kuning Sementara di Pulau Masakambing, jauh terbentang dari Saobi, kabar baik datang. Hasil pemantauan SMART Patrol dan tim pengamat satwa hingga 19 Oktober 2025 mencatat 4 sarang aktif Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea abbotti) di daratan, serta 2 sarang di mangrove tumbang. Sebuah tanda bahwa konservasi dan upaya masyarakat menjaga habitat endemik itu membuahkan hasil nyata. Burung dengan jambul kuning yang megah itu kini menjadi simbol harapan, bahwa di pulau-pulau kecil seperti Masakambing, kehidupan masih punya kesempatan kedua. SMART Patrol bukan sekadar patroli lapangan. Ia adalah komitmen konservasi berbasis sains dan empati, menyatukan langkah petugas, masyarakat, dan alam dalam satu irama, menjaga kehidupan. Data yang dikumpulkan menjadi fondasi bagi pengelolaan kawasan berbasis bukti (evidence-based conservation), memastikan bahwa setiap keputusan lahir dari pemahaman mendalam atas alam yang dijaga. Di tengah luasnya laut dan kecilnya pulau-pulau Madura, langkah para penjaga Saobi membuktikan satu hal, bahwa konservasi bukan hanya pekerjaan, tapi panggilan jiwa. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Aksi Cepat Karantina Ketapang dan BBKSDA Jatim Selamatkan Ribuan Burung dari Lombok

Banyuwangi, 19 Oktober 2025. Dari balik tumpukan boks di dalam truk fuso yang menyeberang dari Lombok menuju Surabaya, ribuan burung kecil menjerit gelisah. Sebagian telah kehilangan nyawa di perjalanan panjang. Namun, di ujung pelabuhan Ketapang, tim gabungan dari BBKSDA Jatim dan Karantina berhasil memutus rantai perdagangan yang bisa berakhir pada kepunahan lokal. Di bawah terik matahari siang yang memantul di atas dek pelabuhan Ketapang, sebuah truk box berpelat W 8816 UR berhenti di pos pemeriksaan Karantina (19/10/2025). Dari dalamnya, terdengar suara riuh ribuan burung yang saling bersahutan, seperti seruan minta tolong yang tertahan di dalam puluhan keranjang buah. Tim Matawali Resort Konservasi Wilayah (RKW) 13 Banyuwangi–Situbondo–Bondowoso, Seksi Konservasi Wilayah (SKW) V Banyuwangi, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) segera bergabung dengan Karantina BKHIT Jatim Satpel Ketapang untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dari hasil identifikasi, terungkap fakta mencengangkan: sebanyak 3.579 ekor burung berbagai jenis diangkut dari Pulau Lombok menuju Sidoarjo dan Surabaya. Namun, dari jumlah itu, 498 ekor ditemukan telah mati dalam perjalanan. Panas, dehidrasi, dan stres perjalanan panjang menjadi penyebab utama. Dapat dipastikan bahwa seluruh burung ini tidak termasuk satwa dilindungi. Namun, jumlah dan cara pengangkutannya jelas melanggar prinsip kesejahteraan satwa dan berpotensi besar mengancam populasi alam di daerah asalnya. Burung-burung tersebut terdiri dari 9 jenis, di antaranya: Cinenen Jawa (2.145 ekor), Pipit Zebra (584 ekor), Isap Madu Australia (385 ekor), Kacamata Biasa (335 ekor), Bentet (38 ekor), Kepudang (28 ekor), Anis Nusa Tenggara (10 ekor), Perenjak (49 ekor) dan Gelatik Batu Kelabu (5 ekor) Meski tidak berstatus dilindungi, perburuan dan pengiriman dalam jumlah besar ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kelestarian populasi liar di alam, terutama di wilayah Nusa Tenggara Barat. Karantina BKHIT Jatim Satpel Ketapang dan BBKSDA Jatim, kini tengah menyiapkan langkah penolakan dan pengembalian ke daerah asal (Lombok) agar burung-burung tersebut dapat dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya. Keputusan ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab moral dan ekologis, agar ribuan satwa kecil ini kembali pada fungsi pentingnya di alam: penyebar biji, pengendali serangga, dan penjaga keseimbangan ekosistem Hidup mereka bukan untuk disekap dalam sangkar, melainkan untuk menjadi bagian dari rantai kehidupan di alam bebas. Di Balik Angka, Ada Nyawa dan Ekosistem yang Terluka Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perdagangan burung liar antar pulau masih marak dan membutuhkan pengawasan ketat. Setiap kali seekor burung ditangkap, alam kehilangan satu penyeimbang, dan setiap kematian dalam perjalanan berarti retaknya satu simpul kehidupan di rantai ekologi Nusantara. ”Mereka hanya seukuran telapak tangan, tapi mereka membawa kehidupan dalam setiap kepakan sayapnya. Menjaga mereka berarti menjaga denyut alam Indonesia.” (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Tudung Pengantin Menari Di Rimba Bawean

Bawean, 21 Oktober 2025. Di tengah kelembaban hutan Pulau Bawean, saat embun pagi masih bergelayut di ujung daun paku-pakuan, sepasang makhluk lembut muncul dari gelap tanah. Dari sela-sela serasah daun dan akar-akar halus, tubuh putih berenda menyeruak, pelan, membentangkan jaring halus seperti gaun pengantin di pesta hutan. Ia dikenal dengan nama Jamur Tudung Pengantin (Phallus indusiatus), jamur yang tak hanya memesona dalam rupa, tetapi juga menyimpan kisah ekologis dan kearifan yang tak kalah menarik. Jamur ini adalah bagian dari ordo Phallales, kelompok jamur yang unik karena cara berkembangbiaknya yang melibatkan serangga. Tudung renda (indusium) yang melingkar seperti kerudung pengantin berfungsi bukan sekadar hiasan alami, ia adalah strategi evolusioner. Aroma khas yang dikeluarkannya, sering disebut menyengat seperti buah busuk, bukan tanpa alasan. Bau itu menjadi sinyal bagi lalat dan serangga pengurai untuk datang, hinggap di kepala jamur yang berwarna gelap, lalu tanpa sadar membawa spora ke tempat lain. Dengan cara itu, jamur ini memperluas “jejak hidupnya”, menjadi bagian penting dari rantai dekomposisi hutan tropis. Ia membantu mempercepat penguraian bahan organik, mengembalikan unsur hara ke tanah, dan mendukung siklus nutrisi bagi pepohonan dan tumbuhan bawah lainnya. Dalam ekologi hutan, kehadiran jamur seperti ini menandai bahwa tanah sedang sehat dan lembab, dua indikator vital bagi keberlanjutan kehidupan di lantai hutan. Dalam beberapa budaya tropis di Asia, Phallus indusiatus lebih dari sekadar jamur hutan. Di Tiongkok dan beberapa daerah di Asia Tenggara, jamur ini dikenal sebagai “Bamboo Fungus” atau “Veiled Lady Mushroom”, dan telah lama digunakan dalam kuliner serta pengobatan tradisional. Diolah dalam sup herbal, jamur ini dipercaya memiliki kandungan antioksidan, antibakteri, dan imunomodulator yang dapat memperkuat daya tahan tubuh. Beberapa penelitian modern juga mengungkapkan potensinya dalam menekan peradangan dan melindungi sel saraf. Meski demikian, di alam liar Indonesia, terutama di kawasan konservasi seperti Pulau Bawean, jamur ini tidak dimanfaatkan secara massal. Etika konservasi menempatkannya sebagai penanda ekologis penting, bahwa hutan masih menjaga kelembaban alaminya, bahwa siklus hidup di bawah kanopi masih berjalan dalam keseimbangan sempurna. Temuan tim Smart Patrol Resort Konservasi Wilayah 10 Bawean, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), terhadap jamur ini adalah potret kecil dari keutuhan ekosistem hutan tropis. Ia bukan sekadar keindahan biologis yang memanjakan mata, melainkan sinyal ekologis bahwa kehidupan di bawah tanah masih bekerja dalam harmoni, dan keseimbangan itu harus dijaga. Melalui patroli rutin, para petugas tak hanya memantau satwa dan tumbuhan besar, tetapi juga memperhatikan tanda-tanda kecil seperti munculnya jamur langka ini. Karena dari satu jamur kecil yang tumbuh di antara serasah daun, kita bisa membaca cerita panjang tentang kesuburan, keanekaragaman, dan daya lenting hutan yang masih hidup. Dalam simfoni hutan, Phallus indusiatus menari lembut di antara sinar yang menembus celah daun. Keindahannya mengajarkan kita tentang kerendahan hati alam, bahwa yang rapuh pun memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan kehidupan. Jamur tudung pengantin bukan sekadar keajaiban mikologi. Ia adalah simbol keharmonisan ekologis, penanda bahwa alam masih bernafas, dan bahwa setiap detik di dalam hutan adalah orkestra kehidupan yang layak kita jaga. Temuan ini didokumentasikan oleh Tim SMART Patrol RKW 10 Bawean, Balai Besar KSDA Jawa Timur. Penemuan ini memperkaya data biodiversitas hutan Bawean, pulau kecil yang menjadi rumah bagi berbagai spesies endemik dan langka di Jawa Timur. Setiap jamur yang tumbuh dari tanah adalah puisi kecil dari bumi, tentang kehidupan yang tumbuh diam-diam, dan tentang keseimbangan yang seharusnya tidak kita ganggu. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Taman Nasional Ujung Kulon Diganjar Asia Environmental Enforcement Recognition of Excellence (AEEE) 2024–2025

Jakarta, 18 Oktober 2025. Bertempat di Ruang Center of Intelligence, Ditjen Gakkum Kehutanan Gedung Manggala Wanabakt pada 17 Oktober 2025, Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) berhasil meraih penghargaan bergengsi Asia Environmental Enforcement Recognition of Excellence (AEEE) 2024–2025, yang diselenggarakan oleh UN Environment Program (UNEP). Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan dan komitmen Balai TNUK dalam upaya penegakan hukum lingkungan, khususnya dalam penanganan kasus perburuan Badak Jawa. Acara dlaksanakan melalui daring/webinar dibuka oleh Sekretaris Jenderal CITES Ivonne Higuero dan sebagai moderator Sallie Yang dari UNEP. AEEE merupakan penghargaan yang diinisiasi oleh UN Environment Program bersama sejumlah lembaga internasional, antara lain - The International Criminal Police Organization (INTERPOL), - the Secretariat of the Basel Convention on the Control of Transboundary Movements of Hazardous Wastes and Their Disposal, - the Secretariat of CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), - the Secretariat of the Minamata Convention on Mercury, - the Ozone Secretariat for the Vienna Convention and the Montreal Protocol, - the United Nations Development Programme (UNDP), - the United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), - the World Bank Global Wildlife Programme, and - the World Customs Organization (WCO). Penerima penghargaan AEEE ini dari berbagai negara diantaranya Indonesia, China, Hongkong, India, Shanghai dan Singapore. Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Keruskaan Lingkungan di Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Rasio Ridho Sani mewakili Indonesia dalam penyerahan tersebut. Dalam ajang tersebut, Taman Nasional Ujung Kulon berhasil meraih penghargaan pada kategori “IMPACT” (Dampak) melalui kinerja luar biasa Satuan Tugas Operasi TNUK dalam upaya pengungkapan dan penanganan kasus perburuan liar di kawasan konservasi. Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Ardi Andono, S.TP., M.Sc, menyampaikan rasa syukur dan bangga atas pencapaian ini. “Penghargaan ini merupakan hasil kerja keras seluruh personil Balai TNUK, dengan dukungan dari Ditjen Gakum Kemenhut, Polri dan TNI serta Kejaksaan Negeri dan Hakim dari PN Pandeglang dan juga Masyarakat sekitar dalam menangani kasus perburuan Badak Jawa beberapa waktu yang lalu. Kami berharap, penghargaan ini menjadi motivasi agar seluruh personil TNUK semakin bersemangat dan terus meningkatkan kewaspadaan terhadap segala bentuk gangguan, terutama perburuan satwa di kawasan TNUK,” ujarnya. Penghargaan AEEE 2024–2025 ini menegaskan posisi Taman Nasional Ujung Kulon sebagai salah satu kawasan konservasi yang memiliki peran penting di tingkat regional dan internasional dalam menjaga keanekaragaman hayati serta menegakkan hukum lingkungan. Keberhasilan ini juga menjadi bukti nyata komitmen Indonesia dalam melindungi Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) sebagai salah satu spesies paling langka di dunia. Sumber: Balai Taman Nasional Ujung Kulon
Baca Berita

Warga Pakis Jember, Serahkan Monyet Ekor Panjang ke BBKSDA Jatim

Jember, 17 Oktober 2025. Seorang warga Desa Pakis, Kecamatan Panti, Joko Prasetyo, dengan penuh kesadaran menyerahkan seekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) peliharaannya kepada petugas Balai Besar KSDA Jawa Timur (17/10/2025). Langkah ini muncul bukan semata karena aturan, melainkan karena rasa takut yang berubah menjadi kepedulian. Beberapa hari sebelumnya, masyarakat Jember dihebohkan oleh peristiwa konflik satwa di Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi, dimana adanya kejadian seekor monyet peliharaan lepas dan menyerang warga. Kabar itu menyebar cepat, memunculkan kesadaran baru tentang potensi bahaya dari memelihara satwa liar tanpa izin dan tanpa pemahaman terhadap perilakunya. Merespons situasi tersebut, Kepala Desa Pakis segera menghubungi petugas Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Bidang KSDA Wilayah III Jember, melaporkan adanya warga yang bersedia menyerahkan satwa peliharaannya secara sukarela. Tim segera bergerak menuju kediaman Sdr. Joko Prasetyo, memastikan proses serah terima berlangsung aman dan penuh tanggung jawab. Kini, monyet ekor panjang tersebut telah diamankan di kandang transit Bidang KSDA Wilayah III Jember untuk menjalani pemeriksaan kesehatan dan observasi perilaku. Nantinya, satwa ini akan melalui proses penilaian sebelum dapat ditentukan lokasi pelepasliaran yang sesuai, sesuai dengan prosedur konservasi yang berlaku. Tindakan sukarela seperti ini adalah cermin perubahan cara pandang masyarakat terhadap satwa liar, dari sekadar objek hiburan menjadi makhluk hidup yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Monyet ekor panjang, yang kerap ditemukan di kawasan hutan dan tepi perkampungan, adalah spesies kunci ekosistem hutan tropis. Mereka membantu penyebaran biji dan menjaga dinamika ekologi di hutan-hutan Jawa Timur. Namun, ketika diambil dari alam dan dijadikan peliharaan, keseimbangan itu terganggu, baik bagi manusia maupun bagi satwanya sendiri. Langkah kecil dari seorang warga Pakis ini menjadi pengingat bahwa kesadaran konservasi dapat tumbuh dari rasa takut, lalu berkembang menjadi kepedulian, dan akhirnya menjadi bagian dari upaya besar menjaga keharmonisan antara manusia dan alam. Setiap satwa liar yang kembali ke alam adalah bagian dari upaya kita mengembalikan keseimbangan. Alam tak menuntut banyak, hanya ingin dibiarkan tetap hidup sebagaimana mestinya. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Berbagai Temuan Potensi Saat Patroli di CA Dolok Sibual - Buali

Temuan sarang orangutan di CA Dolok Sibual-buali Tapanuli Selatan, 17 Oktober 2025 — Tim Patroli Gabungan yang dipimpin oleh Parta Basmely (Kepala Resor CA Dolok Sibual-buali) bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan Pusat Perlindungan Orangutan (Center for Orangutan Protection-COP) melaksanakan patroli kawasan di Cagar Alam (CA) Dolok Sibual-buali pada 6-10 Oktober 2025. Kegiatan patroli dilakukan di Desa Situmba Julu, Dusun Mandurama, Kelurahan Beringin Tower (grid N11W18-N11W18-IB3, dan N11W18-1B2). Tujuannya adalah untuk menjaga keamanan kawasan konservasi, memantau kondisi batas kawasan, serta mendata potensi satwa dan tumbuhan liar di dalam area konservasi. Selama patroli, tim tidak menemukan satwa secara langsung, namun berhasil mengidentifikasi sejumlah tanda tidak langsung yang menunjukkan aktivitas dan keberadaan berbagai jenis fauna. Temuan tersebut meliputi sarang orangutan kelas C dan D, yang menjadi indikator penting keberadaan orangutan tapanuli (Orangutan tapanuliensis) di kawasan ini. Selain itu, tim juga menemukan jejak rusa (Cervus sp.), kijang (Muntiacus muntjak), babi hutan (Sus scrofa), kambing hutan (Capricornis sumatraensis) serta jejak trenggiling (Manis javanica). Tak hanya itu, ditemukan pula sarang dan bagian tubuh landak (Hystrix sp.) yang mengindikasikan adanya interaksi alami antara satwa liar dengan ekosistem. Selain potensi fauna, tim juga mendapati sekitar 70 batang tanaman aren yang tumbuh secara alami, serta berbagai tumbuhan liar dan obat tradisional seperti mayang, hoteng, hayu andolok, anggrek dan gagatan harimau. Tim juga menemukan beberapa ancaman ringan, di antaranya pal batas kawasan yang berlumut, rapuh, dan sebagian roboh serta satu lubang jebak bekas perburuan dalam kondisi tidak aktif. Sebagai tindak lanjut, dilakukan pembersihan dan pemeliharaan batas kawasan, pemasangan lima plat seng bertuliskan “CA Dolok Sibual-buali”, serta satu spanduk himbauan “larangan berburu” di titik perbatasan kawasan. Patroli ini menempuh jarak sekitar 5 kilometer dengan medan berbukit dan banyak aliran sungai, sehingga petugas kerap harus menyeberangi atau mengikuti alur sungai menuju lokasi target. Di beberapa titik, tim juga melewati kawasan kawah aktif yang memiliki semburan uap, lumpur, dan air panas, sehingga diperlukan kewaspadaan tinggi selama perjalanan. Kondisi cuaca di kawasan Sibual-buali umumnya berkabut pada pagi hari, cerah menjelang siang, dan terkadang gerimis pada sore hari. Cuaca yang berubah-ubah ini turut menjadi tantangan bagi tim dalam melaksanakan patroli. Kegiatan patroli ini melibatkan Efrina Rizkiyah, Fahmi Humala, Fazri Alghipari, serta personel dari COP (Rangga dan Yoga) dan Masyarakat Mitra Polhut (Ruslan dan Khiruddin). Sebagai satu-satunya petugas perempuan, Efrina menuturkan bahwa ia berusaha keras mengimbangi langkah rekan-rekan laki-laki, terutama saat menyeberangi sungai dan melewati tanjakan terjal. Hal ini menunjukkan semangat dan keterlibatan aktif perempuan dalam kegiatan konservasi di lapangan. Berdasarkan hasil patroli, tim merekomendasikan agar patroli kawasan dilakukan secara berkala dengan melibatkan masyarakat setempat serta lembaga mitra konservasi, guna memperkuat pengamanan dan menjaga kelestarian ekosistem CA Dolok Sibual-buali di masa mendatang. Sumber: Resor CA Sibual-buali - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Dari Rumpun Pisang di Mojokerto, Sebuah Harapan untuk Satwa Liar yang Hampir Hilang

Mojokerto, 16 Oktober 2025. Sebuah Kisah sederhana tentang kepedulian manusia dan kehidupan yang masih berdenyut di antara kebun-kebun pinggir sungai. Di bawah rimbun daun pisang yang basah oleh embun malam, seekor makhluk kecil menggulung tubuhnya rapat-rapat. Bersisik seperti tetesan perunggu, diam namun waspada. Ia adalah Trenggiling jawa (Manis javanica), satwa pemakan semut yang kini semakin langka di hutan-hutan Jawa. Malam itu (15/10/25), Muhammad Sasunil Huda, warga Dusun Jampirogo, Kecamatan Soko, Kabupaten Mojokerto, tengah mencari pakan ikan di tepi sungai yang mengalir tak jauh dari rumahnya. Saat langkahnya berhenti di bawah rumpun pisang, ia menemukan satwa yang awalnya dikira ular itu, namun ketika didekati ternyata seekor satwa yang tidak asing asing di antara bayang daun. Namun alih-alih mengusir atau mengabaikan, ia justru memilih tindakan yang tak banyak dilakukan orang: menyelamatkan. Dengan kesadaran dan kepedulian, ia segera menghubungi Resort Konservasi Wilayah 09 Mojokerto, Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, untuk menyerahkan Trenggiling tersebut kepada negara melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Tindakan sederhana itu menjadi simbol besar tentang bagaimana nurani manusia masih menjadi penjaga terakhir bagi alam yang terluka. Malam yang Menyentuh Batas Nurani Keesokan harinya, Kamis, 16 Oktober 2025, tim Resort KSDA Wilayah 09 Mojokerto melakukan evakuasi. Satwa tersebut berjenis kelamin jantan, dalam kondisi hidup dan sehat tanpa luka. Trenggiling itu kemudian diserahkan ke Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Jawa Timur di Surabaya untuk menjalani proses penyelamatan, rehabilitasi, dan persiapan pelepasliaran ke habitat alaminya. Langkah ini menjadi bagian dari implementasi Program MATAWALI (Penyelamatan Satwa Liar), sebuah pendekatan konservasi berbasis empati, yang berupaya menumbuhkan kesadaran ekologis masyarakat dengan menyentuh sisi nurani mereka. Jejak yang Berulang di Tempat yang Sama Penemuan Trenggiling di bawah rumpun pisang ini bukan yang pertama. Pada 4 Mei 2023, satwa sejenis juga ditemukan di titik yang sama oleh saudara Muhammad Sasunil Huda. Kawasan tersebut memiliki vegetasi semak, rumpun bambu, pisang, dan aliran sungai, yang menunjukkan karakter habitat alami Trenggiling jawa, meskipun lokasinya tidak biasa. Kejadian berulang ini menjadi indikasi kuat adanya jalur lintasan alami atau kantong populasi kecil Trenggiling jawa di wilayah Mojokerto bagian selatan. Di antara bentangan kebun dan permukiman, masih tersisa ruang hidup bagi makhluk bersisik pemalu ini, sebuah fragmen kecil dari kehidupan liar yang masih berjuang untuk bertahan. Dari hasil pengamatan lapangan, sebuah langkah perlu dilakukan kajian populasi dan habitat Trenggiling jawa di wilayah Kecamatan Soko dan sekitarnya untuk memastikan potensi populasi liar dan koordinasi lintas sektor dengan perangkat desa, Babinsa, lembaga pendidikan, dan aparat hukum guna memperkuat pengawasan terhadap peredaran satwa liar. Harapan dari Sebuah Tindakan Sederhana Seekor Trenggiling kecil di bawah rumpun pisang mungkin tampak remeh di mata banyak orang, namun kisah di baliknya menyimpan harapan besar bagi konservasi di Jawa Timur. Di tengah desakan modernisasi, masih ada ruang di mana manusia dan satwa liar saling menghormati keberadaannya. Tindakan seorang warga menjadi bukti bahwa konservasi bukan hanya tugas petugas, melainkan panggilan hati setiap manusia. Dan selama masih ada hati yang memilih untuk menyelamatkan, bukan mengabaikan, maka harapan untuk satwa liar yang hampir hilang itu akan tetap hidup. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Elang Brontok Kembali ke Gua Nglirip, Dari Barang Bukti Menjadi Penjaga Langit Tuban

Tuban, 13 Oktober 2025. Suara desir angin menelusup di antara bebatuan karst Gua Nglirip saat seekor Elang brontok (Nisaetus cirrhatus) mengepakkan sayapnya menuju langit biru. Ia menembus udara kawasan karst Tuban, melingkar di atas hutan alami yang menjadi rumah barunya. Dari satwa sitaan hasil penegakan hukum, kini elang itu kembali menjadi bagian dari rantai kehidupan liar yang semestinya, bebas dan berdaulat di alam. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama PT. PLN Nusantara Power UP Tanjung Awar-awar, serta dukungan berbagai pihak melaksanakan pelepasliaran satwa hasil rehabilitasi tersebut di kawasan Cagar Alam Gua Nglirip, Kabupaten Tuban, 13 Oktober 2025. Selain itu turut hadir Perum Perhutani KPH Parengan, Muspika Montong, Pemerintah Desa Guwoterus dan Tingkis, Kelompok Tani Lembu Suro, masyarakat sekitar kawasan, siswa SD Guwoterus II, dan komunitas lingkungan “Masyarakat Ficus Tuban”. Gua Nglirip bukan sekadar bentang batuan karst, tetapi sebuah mosaik kehidupan di mana air, hutan, dan satwa berpadu dalam sistem ekologis yang rapuh sekaligus menakjubkan. Kawasan ini merupakan bagian dari ekosistem karst Tuban Timur yang meliputi Merakurak, Plumpang, Rengel, Widang, Montong, Jatirogo, hingga Senori, wilayah yang menjadi penopang sumber-sumber mata air utama seperti Krawak, Merakurak, dan Rengel. Survei habitat menunjukkan bahwa kawasan ini sangat sesuai untuk pelepasliaran Elang Brontok, yang merupakan predator puncak penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Satwa tersebut sebelumnya merupakan barang bukti hasil penegakan hukum oleh Bareskrim Polri pada 5 Agustus 2024, dan telah melalui proses panjang rehabilitasi di bawah pengawasan BBKSDA Jawa Timur. Pemeriksaan kesehatan, observasi perilaku, hingga adaptasi pakan dilakukan agar satwa siap kembali menghadapi alam bebas. “Pelepasliaran ini bukan sekadar simbol, tetapi bentuk nyata dari upaya mengembalikan fungsi ekologis kawasan konservasi dan menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga habitat satwa liar,” ujar Nofi Sugianto, Kepala Bidang Teknis BBKSDA Jawa Timur, dalam sambutannya. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi momentum edukasi bagi generasi muda, agar belajar menghormati kehidupan liar dan berhenti melakukan perburuan satwa di kawasan konservasi. Dukungan dari sektor swasta juga menjadi kunci. Yunan Kurniawan, Senior Manager PT PLN Nusantara Power UP Tanjung Awar-awar, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen PLN dalam menjaga keanekaragaman hayati melalui program Nusantaraversary Green Fest bertema “Hijaukan Bumi dan Lestarikan Satwa demi Masa Depan Berkelanjutan”. Sementara itu, di tempat terpisah, Nur Patria Kurniawan, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata kolaborasi pentahelix antara pemerintah, dunia usaha, masyarakat, akademisi, dan media. “Sinergi seperti ini adalah kunci untuk menjaga, menyelamatkan, dan melestarikan keanekaragaman hayati Jawa Timur. Saat seekor elang kembali ke langit, itu bukan hanya kisah pelepasan, melainkan simbol kembalinya keseimbangan ekosistem,” tegasnya. Kini, di langit Gua Nnglirip, sayap elang brontok itu menjadi saksi bahwa upaya konservasi bukan sekadar tugas, melainkan panggilan nurani untuk menjaga harmoni antara manusia dan alam. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Burung Takur Api: Penebar Biji dan Penjaga Keberlanjutan Hutan TN Batang Gadis

Panyabungan, 16 Oktober 2025. Tok-tok-tok... Suara khas itu menggema di antara rimbunnya pepohonan hutan tropis — berasal dari burung takur api (Psilopogon lineatus), si mungil berwarna hijau cerah dengan semburat merah di wajahnya. Penampilannya mencolok, namun tetap menyatu indah dengan alam sekitarnya. Burung kecil nan memesona ini bukan hanya mempercantik hutan, tapi juga punya peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Sebagai pemakan buah, takur api hijau membantu menyebarkan biji-bijian ke berbagai penjuru, menumbuhkan kehidupan baru di hutan yang menjadi rumahnya. Menariknya, burung takur api ini juga menjadi salah satu penghuni Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) — surga bagi beragam satwa liar dan benteng terakhir ekosistem tropis di Mandailing Natal. Keberadaan mereka menjadi pengingat bahwa hutan yang terjaga akan selalu menghadirkan harmoni kehidupan — antara manusia, satwa, dan alam yang saling bergantung satu sama lain. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Denyut Konservasi di Pulau Sempu yang Menyimpan Kehidupan

Malang, 15 Oktober 2025. Dari balik rimbun hutan tropis yang menggantung di bibir tebing karang, suara Lutung Jawa bersahut dengan kepak Elang Ular Bido. Di sinilah, di Cagar Alam Pulau Sempu, kehidupan berdenyut dalam kesunyian. Selama sepekan, tim SMART Patrol Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menapaki jalur-jalur rimba dan pantai dengan karst yang terjal, merekam setiap tanda kehidupan dan ancaman di pulau seluas 969, 88 ha ini, sebuah laboratorium alam yang rapuh namun luar biasa kaya. Patroli kali ini berlangsung pada 7 hingga 12 Oktober 2025, unsur tim dari Seksi KSDA Wilayah VI bersama Bidang KSDA Wilayah III, dengan dukungan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Probolinggo dan Jember. Melalui pendekatan SMART (Spatial Monitoring and Reporting Tool), tim menyisir 146 grid seluas 146 hektare, menempuh jalur terjal di tengah kontur karst yang ekstrem. Tidak semua area dapat dijangkau, beberapa grid seperti 43, 66, 91, 117, dan 146 merupakan tebing curam yang langsung menjatuh ke laut selatan, menantang nyali dan tenaga petugas. Dengan Avenza Maps dan aplikasi SMART Mobile, setiap langkah terekam. Setiap temuan, baik flora, fauna, maupun aktivitas manusia, diinput lengkap dengan koordinat, foto, dan keterangan detail. Jejak Kehidupan di Tengah Sunyi Patroli menemukan berbagai jejak dan perjumpaan satwa liar, bukti bahwa hutan Sempu masih menyimpan kehidupan yang lestari. Jejak Kijang dan babi hutan menandai jalur-jalur lembab di antara kubangan alami, sementara suara elang, ayam hutan, dan burung tohtor menggema di kanopi. Tim juga berhasil menjumpai langsung Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), simbol satwa endemik Jawa yang menjadi indikator ekosistem sehat. Serta beberapa biawak, serangga, dan kerangka kepala kijang yang memberi petunjuk adanya rantai makanan alami yang masih bekerja. Menyusuri Hutan yang Menyimpan Sejarah Tim mencatat pohon-pohon dominan dan bernilai ekologis tinggi, di antaranya Baros, Kedondong Hutan, Walangan, Joho, Rawu, Bendo, Kedoya, Laban, Sindur, Bayur, Ficus spp., hingga Nyamplung, penanda keanekaragaman tinggi pada kawasan karst pesisir. Banyak di antaranya merupakan jenis pohon yang menjadi sumber pakan satwa liar dan menjaga sistem hidrologi alami pulau. Di beberapa titik, tim juga menemukan mata air, kubangan, rawa tadah hujan, dan batuan karang berongga, fitur alami penting yang menopang kehidupan di pulau kecil ini. Menembus Alam, Merekam Ancaman Meski terisolasi, Sempu tak sepenuhnya bebas dari jejak manusia. Tim patroli mendapati sampah laut yang terdampar di pesisir, serta keranjang bekas pemungutan hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan tanda perburuan lebah madu. Temuan ini menjadi pengingat bahwa tekanan terhadap kawasan konservasi datang bukan hanya dari dalam, tapi juga dari luar, terbawa arus laut, atau dari aktivitas ekonomi masyarakat sekitar. Untuk mengantisipasi hal tersebut, patroli laut turut dilakukan di sekitar pesisir, memantau potensi pelanggaran kawasan yang dapat diakses melalui jalur perairan. Dari ratusan titik koordinat, foto, dan catatan yang dikumpulkan, SMART Patrol kali ini bukan sekadar patroli rutin. Ia adalah upaya memahami denyut kehidupan dan ancaman di pulau yang kerap disebut “miniatur ekosistem Jawa”. Sempu bukan hanya bentang alam yang indah, ia adalah ruang belajar tentang harmoni, ketahanan, dan keterhubungan antara laut, hutan, dan manusia. BBKSDA Jawa Timur melalui kegiatan ini menegaskan komitmennya untuk menjaga setiap jengkal kawasan konservasi, memastikan bahwa suara lutung jawa dan desir ombak Sempu tetap menjadi simfoni kehidupan yang lestari. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 161–176 dari 11.144 publikasi