Jumat, 19 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Mengantar Lutung Jawa Pulang Ke Habitatnya

Malang, 31 Maret 2022 – Setelah menjalani serangkaian rehabilitasi selama kurang lebih 12 bulan (observasi intensif 3 bulan), dengan beberapa tahapan rehabilitasi, yaitu: a). Adaptasi lingkungan; b). Adaptasi pakan dan c). Adaptasi sosial dalam kelompok di Pusat Rehabilitasi Lutung Jawa Coban Talun, akhirnya pada Kamis 31 Maret 2022, tiga ekor Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) di pulangkan ke habitat alaminya. Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama Pusat Rehabilitasi Lutung Jawa Coban Talun (The Aspinall Foundation-Indonesia Program), melepasliarkan 3 ekor Lutung Jawa, dengan lokasi pelepasliaran berada di kawasan Hutan Lindung Coban Talun, blok Gunung Pusung alang-alang bagian utara, Perum Perhutani RPH Punten, BKPH Pujon, KPH Malang, lokasi tersebut berbatasan dengan kawasan hutan Taman Hutan Raya Raden Soerjo. Ketiga ekor Lutung Jawa yang dilepasliarkan tersebut, 2 ekor merupakan hasil penyerahan masyarakat di Pasuruan dan Malang bulan Maret dan April 2021 sedangkan 1 ekor jantan merupakan hasil translokasi dari Balai Besar KSDA Jawa Barat pada Maret 2021. Ke tiga Lutung Jawa yang di pulangkan ke habitatnya Lutung Jawa telah melalui pemeriksaan fisik, pemeriksaan parasit internal pada feses, hepatitis A, hepatitis B, hepatitis C, herpes, Tuberculosis (TBC), SIV (Simian Immunodeficiency Virus), STLV (Simian T-lymphotropic Virus), SRV (Simian Retro Virus), kultur bakteri melalui swab rectal, juga dilakukan pengambilan sampel dengan swab untuk pemeriksaan Covid-19. Hasilnya sudah dinyatakan sehat dan terbebas dari penyakit menular. Ketiga ekor Lutung tersebut juga telah dilakukan penandaan dengan microchip transponder. Pelepasliaran ini memberikan kesempatan Lutung Jawa untuk dapat hidup bebas di alam sesuai dengan kondisi perilaku dan habitat alaminya; Memulihkan keadaan populasi Lutung Jawa di kawasan hutan yang tidak ada atau sedikit populasi Lutung Jawa dengan tetap mempertimbangkan sebaran dan luasnya habitat, jumlah populasi liar serta tingkat ancaman terhadap populasi dan habitatnya; dan memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak memelihara satwa liar yang dilindungi jenis Lutung Jawa serta membiarkan satwa liar hidup bebas di alam. Lutung Jawa merupakan salah satu jenis Primata endemik Indonesia. Lutung Jawa sudah masuk kategori sebagai satwa yang dilindungi Negara berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 733/Kpts-11/1999 tentang Penetapan Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) sebagai satwa dilindungi. Keputusan tersebut diperkuat dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Pelepasliaran Lutung Jawa merupakan realisasi program konservasi primata endemik Jawa yang terancam punah, yang melibatkan berbagai pihak pemangku kawasan hutan di Jawa sebagai lokasi pelepasliaran yaitu: (Balai Besar KSDA, Balai Besar Taman Nasional, Tahura dan Perum Perhutani) serta untuk membangun rasa keperdulian terhadap upaya penyelamatan dan pelestarian Lutung Jawa. Selain itu juga merupakan upaya Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama The Aspinall Foundation-Indonesia Program (TAF-IP) dalam rangka mengembalikan satwa-satwa hasil penyitaan dan penyerahan masyarakat ke habitat alaminya, setelah melalui serangkaian proses rehabilitasi. Sumber: Hari Purnomo – Polisi Kehutanan Madya Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Kayu Olahan Diamankan di Resort Bukit Rimbang

Pekanbaru, 31 Maret 2022. Resort Bukit Rimbang Balai Besar KSDA Riau melakukan patroli pengamanan kawasan Suaka Margasatwa (SM) Bukit Rimbang Bukit Baling , Kec. Singingi Hilir, Kab. Kuansing pada tanggal 17 dan 18 Maret 2022 silam. Pemusnahan langsung dilakukan kepada barang bukti illegal logging berupa jerigen yang berisi bahan bakar minyak, oli dan alat - alat yang digunakan. Barang bukti kayu olahan saat ini diamankan ke kantor Resort Bukit Rimbang. Petugas mengawali patroli dengan menjumpai adanya mobil truk yang dicurigai di sekitar Sungai Tapi yang akan digunakan untuk memuat kayu Illegal logging. Dari hasil pengecekan di sekitar tempat tersebut ditemukan pula tumpukan kayu olahan namun tidak ada orang di sekitarnya. Kembali petugas melakukan pengecekan di jalur keluar tumpukan kayu dan melihat adanya tanda-tanda kendaraan yang masuk. Dan dipastikan mobil truk sudah tidak berada di tempatnya. Penjagaan dilanjutkan petugas sampai di persimpangan jalan dan terlihat tiga kendaraan bermotor melintas yang dikuti oleh truk. Petugas kemudian menghentikan kendaraan dan melakukan pengecekan truk yang ternyata tidak berisi muatan dan supir mengaku sedang membawa orang sakit. Patroli dilanjutkan kembali sampai petugas menemukan tumpukan kayu olahan yang berada tidak jauh dari portal yang mengarah ke kebun. Penyusuran kemudian dilakukan pada jalur lokasi kayu kedua dan ditemukan lokasi penebangan, pengolahan serta tumpukan kayu yang telah diolah. Petugas juga menemukan tumpukan kayu olahan yang tersembunyi di pinggir semak. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Upaya Menjaga Jarak Dengan Si Belang

Pekanbaru, 31 Maret 2022 - Mitigasi konflik satwa liar harimau sumatera dilakukan Balai Besar KSDA Riau di PT. THIP Estet Pulai, Ds. Tanjung Simpang, Kec. Pelangiran, Kab. Indragiri Hilir pada Kamis, (24/3). Tim yang terdiri dari Sehat Nasution, Aswar Habibina, Asep Firman, Azwar dan Dimas melakukan briefing di Kantor Estate Pulai bersama pihak PT. THIP. Dari hasil tersebut diperoleh keterangan bahwa pada Selasa silam (15/3) telah terjadi perjumpaan langsung satwa harimau sumatera oleh operator escavator. Pihak perusahaan melakukan mitigasi konflik, patroli, pemasangan papan peringatan, sosialisasi dan pemasang camera trap. Hasil dari camera trap terpantau adanya satu individu harimau sumatera jenis kelamin jantan. Tim Balai Besar KSDA Riau dan Tim PT THIP Estet Pulai bersama sama melakukan pengecekan lokasi kejadian dan melakukan penelusuran namun saat itu yang ditemukan hanya jejak babi dan tidak ditemukan tanda - tanda adanya jejak harimau sumatera. Kemudian Tim mendapat informasi kembali bahwa telah terjadi perjumpaan terhadap satwa harimau sumatera dan segera melakukan pengecekan pada lokasi tersebut. Dan benar saja, jejak harimau sumatera ditemukan diperkirakan satwa melintas pada pagi harinya. Sosialisasi pun dilakukan agar pekerja selalu waspada dan bekerja secara berkelompok. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

BBKSDA Sumut Dampingi Warga Desa Pintu Pohan Dolok Ketika Harimau Sumatera Muncul Lagi

Pintu Pohan, 29 Maret 2022. Hasil pengecekan petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah IV Tarutung Bidang KSDA Wilayah II sebanyak 3 (tiga) kali di lokasi konflik di Desa Pintu Pohan Dolok, Kecamatan Pintu Pohan Meranti, Kabupaten Toba, pada Selasa (15/3), Sabtu (19/3) dan terakhir Senin (28/3), ditemukan adanya jejak kaki harimau sumatera. Pada Senin 28 Maret 2022, seekor kerbau milik warga, Roben Tambunan, menjadi korban keganasan si raja hutan, ditemukan mati dengan luka bekas gigitan dibagian ekor/buntut,. Peristiwa matinya kerbau milik warga bukanlah yang pertama kali terjadi, sebelumnya juga berturut-turut terjadi, yaitu pada Senin (7/3) kerbau milik Dapot Simangunsong dan Rabu (9/3) kerbau milik Biston Simangunsong, juga menjadi korban dan ditemukan mati di tempat yang berbeda. Ketika informasi konflik harimau sumatera dengan masyarakat diterima, Tim BBKSDA Sumatera Utara langsung bergerak ke lokasi kejadian untuk melakukan upaya penanggulangan konflik. Petugas segera melakukan pendampingan dan memberikan sosialisasi kepada masyarakat untuk selalu berhati-hati dan waspada, termasuk juga memberikan pelatihan penggunaan jenduman atau meriam/petasan dari bambu, yang digunakan untuk mengusir harimau saat memasuki perkampungan warga. Selain itu, warga juga diingatkan untuk tidak mengangon/menggembalakan ternaknya di sekitar hutan, karena itu akan mengundang/memancing kehadiran binatang buas untuk memangsanya. Melihat tingginya intensitas kemunculan harimau di Desa Pintu Pohan Dolok sehingga meresahkan warga, Balai Besar KSDA Sumatera Utara mempertimbangkan untuk memasang kandang jebak di beberapa titik. Langkah ini dilakukan dalam upaya menyelamatkan satwa harimau dari perburuan dan tindakan anarkis warga yang dapat berdampak buruk terhadap kehidupan harimau. Tidak cukup sampai disitu, koordinasi dengan berbagai pihak/unsur-unsur terkait juga akan terus ditingkatkan sehingga upaya perlindungan baik terhadap warga maupun upaya penyelamatan satwa dapat dilakukan secara komprehensif dan memperoleh hasil yang terbaik. Sumber : Seksi Konservasi Wilayah IV Tarutung-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Petugas Resort Taman Buru Pulau Pini Ikut Padamkan Kebakaran Lahan di Madina

Natal, 29 Maret 2022. Kebakaran lahan terjadi di areal perkebunan masyarakat di Bukit Bendera yang terletak diantara dua desa, yaitu Desa Pasar 3 dan Desa Rukun Jaya Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal, pada Minggu 27 Maret 2022, sekitar pukul 17.00 Wib. Petugas Resort Taman Buru Pulau Pini pada Seksi Konservasi Wilayah V Sipirok, bersinergi dan berjibaku dengan petugas Kepolisian Sektor Natal, Kepala Desa Pasar 3 beserta perangkatnya , Kepala Desa Karya Bakti dan perangkatnya, tim pemadam kebakaran dari kecamatan Natal, tim pemadam kebakaran PT. Gruti, dan masyarakat setempat, dalam memadamkan kebakaran lahan ini. Beratnya kondisi medan menyebabkan api baru dapat dipadamkan setelah 4 jam kemudian. Dari keterangan yang dikumpulkan, sumber api diperkirakan berasal dari tempat pemakaman umum yang ada di atas bukit tersebut. Diduga ini diakibatkan kelalaian peziarah yang membakar sampah di sekitar lokasi pemakaman yang banyak ditumbuhi ilalang kering. Tiupan angin ikut membantu mempercepat api menjalar di lahan yang berbatasan dengan areal peruntukan lain (APL) PT. Gruti. Untungnya tidak ada korban jiwa. Kerugian dan luasan areal yang terbakar masih dalam penghitungan tim kepolisian serta pihak kecamatan Natal. Petugas Resort Taman Buru Pulau Pini tidak lupa menyampaikan sosialisasi dan mengingatkan masyarakat sekitar, untuk waspada dan tidak melakukan aktifitas atau kegiatan yang berdampak terhadap terjadinya kebakaran lahan, seperti yang baru terjadi. Sumber : Muslim Surbakti - Kepala Resort Taman Buru Pulau Pini Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Memantau Tren Populasi Kakatua Kecil Jambul Kuning di Pulau Bero dan Kampung Kerora

Labuan Bajo, 29 Maret 2022. Ranger Balai Taman Nasional Komodo konsisten melaksanakan kegiatan monitoring burung kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea occidentalis) di kawasan Taman Nasional Komodo, termasuk di Pulau Bero dan Kampung Kerora. Kedua lokasi ini masuk ke dalam wilayah kerja Resort Kampung Kerora Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai Taman Nasional Komodo dan merupakan habitat penting bagi keberlangsungan hidup koloni burung kakatua kecil jambul kuning di Indonesia. Kegiatan monitoring kakatua kecil jambul kuning di Pulau Bero dan Kampung Kerora dilaksanakan mulai tanggal 13 – 19 Maret 2022. Kegiatan ini dikoordinir oleh Kepala Resort Kampung Kerora (Tarsan) dengan didampingi oleh Pengendali Ekosistem Hutan Mahir (Ande Kefi), Pengendali Ekosistem Hutan Terampil (Petrus Cornelius Paulus Laa), Tenaga GIS (Thomas David Carvallo), Tenaga Pengamanan Hutan Resort Kampung Kerora (Alwi, Leonardus Hendra Liu, dan Lukas Hana), Tenaga Pengamanan Hutan Resort Loh Baru (Faustino Abi Septano Parera), Tenaga Pengamanan Hutan Resort Gili Lawa (Gabriel Guan), Tenaga Pengamanan Hutan Resort Kampung Komodo (Stefanus Jalak), Tenaga Pengamanan Hutan Resort Loh Liang (Maksimianus Pamur), Tenaga Pengaman Hutan Resort Papagarang (Rafael A. Putra), Tenaga Pengamanan Hutan Resort Padar Selatan (Damianus A. Teda), Tenaga Pembantu Pengelolah Data Pelayanan (Wedny H. Lassa), dan Tenaga Pembantu Penata Administrasi Keuangan PNBP (Sahrudin) Masing-masing lokus pengamatan memiliki tiga titik pemantauan. Metode pemantauan yang digunakan adalah vantage point yaitu dengan mengamati satwa tertentu dari puncak ketinggian di sekitar habitat koloni kakatua kecil jambul kuning berada. Metode ini konsisten digunakan oleh ranger Balai Taman Nasional Komodo secara kontinyu karena memiliki kesesuaian kerja dengan topografi ekosistem yang ada di dalam kawasan Taman Nasional Komodo dan mampu menghasilkan data observasi akurat setiap tahunnya, khususnya bagi satwa aves. Tim juga turut melibatkan awak media swasta untuk meliput aktivitas monitoring secara langsung di tingkat tapak. Media yang dilibatkan diantaranya adalah media TV One dan Sea Today. Pelibatan awak media pada kegiatan pengelolaan adalah salah satu bentuk kolaborasi yang dilakukan oleh Balai Taman Nasional Komodo sebagai upaya untuk memperluas informasi edukasi bagi publik. Tim berharap agar awak media dapat membantu Balai Taman Nasional Komodo mempublikasikan potensi flora dan fauna agar masyarakat semakin memiliki kecintaan terhadap lingkungan dan paham bagaimana para jagawana bekerja aktif di alam. Pulau Bero dan Kampung Kerora memiliki ekosistem mangrove yang sehat dan lebat. Ekosistem mangrove menyediakan tempat tinggal (shelter) dan merupakan sumber pakan bagi kakatua kecil jambul kuning. Beberapa jenis tumbuhan yang buahnya menjadi dikonsumsi oleh kakatua berwarna putih ini antara lain: mangrove jenis Rhizopora sp. dan Xilocarphus sp., asam jawa (Tamarindus indica), dan kapuk (Ceiba pentandra). Selain itu, kakatua kecil jambul kuning juga memakan daun/pucuk yang masih muda. Berdasarkan hasil pengamatan dan pengulangan, diketahui setidaknya terdapat 105 individu burung kakatua kecil jambul kuning di Pulau Bero. Dugaan populasi ini meningkat sebesar 0,25% dari tahun 2021. Pulau Bero memiliki tingkat kepadatan dan kelimpahan mangrove yang tinggi sehingga ketersediaan pohon pakan dan pohon tidur bagi kakatua kecil jambul kuning turut melimpah. Hal ini juga dipercaya membuat koloni kakatua kecil jambul kuning lebih merasa nyaman untuk mendiami pulau kecil ini sebagai habitat utama bagi koloninya. Dugaan populasi kakatua kecil jambul kuning di Kampung Kerora hanya dijumpai 13 ekor. Dugaan populasi ini tidak berbeda dengan temuan pada tahun 2021. Tim menduga bahwa koloni kakatua kecil jambul kuning di Kampung Kerora hanya menjadikan wilayah ini sebagai tempat persinggahan saja. Tim berharap agar masyarakat juga turut melestarikan populasi kakatua kecil jambul kuning di Indonesia dengan mempelajarinya dan tidak menjadikannya sebagai hewan peliharaan. Diketahui bahwa kakatua kecil jambul kuning tergolong ke dalam kelompok satwa dengan status “Critically Endangered” berdasarkan IUCN Red List of Threatened Species. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Mahir - Ande Kefi, S.ST. (+6282242707977) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6282145675612)
Baca Berita

Si Raja Rimba Pulang Ke Habitatnya

Pekanbaru, 29 Maret 2022 - Seekor harimau sumatera betina bernama Lanustika (3 th) pada Sabtu, 26 Maret 2022 sekitar pukul 08.00 WIB telah dilepasliarkan di salah satu kawasan konservasi di Provinsi Riau dengan menempuh perjalanan kurang lebih 15 jam. Pelepasan dilakukan Balai Besar KSDA Riau bekerja sama dengan Yayasan Arsari Djodjohadikusumo dan dihadiri Kepala Balai KSDA Sumatera Barat. "Lanustika" ditangkap karena berkonflik dengan manusia di Kampung Teluk Lanus, Kec. Sungai Apit, Kab. Siak pada 29 Agustus 2021. Upaya penangkapan dilakukan Tim gabungan yang terdiri dari Balai Besar KSDA Riau, Yayasan Arsari, dan para pihak dengan menggunakan kandang jebak selama delapan hari sejak tanggal 31 Agustus hingga 8 September tahun 2021. Akhirnya, 8 September 2021 pukul 18.30 WIB "Lanustika" masuk kandang jebak. Lanustika telah melalui tahap observasi dan diobati terlebih dahulu di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PRHSD), Sumatera Barat. Dan pada tanggal 13 September 2021 dinyatakan sehat dan sembuh dengan Body Condition Score, ideal, serta dinyatakan layak untuk dilepasliarkan dengan perkembangan berat badan menjadi 108 kg dan panjang 203 cm dari awal seberat 85,2 kg dan panjang 145 cm. Pelepasliaran ini juga menjadi bukti kepemimpinan dengan contoh (leading by examples) yang diusung G20 Presidensi Indonesia, melalui aksi-aksi nyata Indonesia dalam menyelamatkan biodiversitas/keanekaragaman hayati yang menjadi salah satu isu bidang lingkungan hidup dan perubahan iklim yang dibahas dalam pertemuan G20. "Dengan pelepasliaran ini mudah-mudahan Harimau Sumatera yang merupakan satwa dilindungi dan secara red list IUCN masuk ke dalam critically endangered dapat berkembang dengan baik," pungkas Plt. Kepala Balai Besar KSDA Riau ibu Fifin A. Jogasara. Selanjutnya Tim Balai Besar KSDA Riau dengan para pihak terkait akan melakukan pemantauan di lapangan paska pelepasliaran. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Elang Hasil Temuan Masyarakat Kembali ke Habitatnya

Yogyakarta, 25 Maret 2022. Balai KSDA Yogyakarta tindak lanjuti laporan masyarakat terkait penemuan 1 (satu) ekor satwa yang dilindungi sekaligus endemik Pulau Jawa yakni Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), Jum’at (25/3/22), setelah sehari sebelumnya petugas Balai KSDA Yogyakarta menerima laporan dari warga Sambisari, Ploso Kerep, Cangkringan terkait penemuan satwa elang jawa di pekarangan rumahnya. Mengingat lokasi penemuan yang berada di daerah penyangga Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), personil Quick Respon Balai KSDA Yogyakarta pun segera berkoordinasi dengan petugas Balai TNGM untuk melakukan rescue dan identifikasi satwa yang dilaporkan tersebut. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa satwa yang ditemukan warga Cangkringan adalah benar jenis elang jawa. Setelah dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh dokter hewan Balai KSDA Yogyakarta, ternyata satwa yang identik dengan lambang negara Republik Indonesia ini dalam kondisi sehat dan menunjukkan perilaku liar. Elang jawa tersebut selanjutnya diserahkan kepada petugas Balai TNGM untuk kemudian dilepasliarkan di hari yang sama dengan proses evakuasinya. Hal tersebut berdasarkan pertimbangan elang dalam kondisi sehat dan masih berperilaku liar. Dihubungi secara terpisah, Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi memberikan respon positif terhadap kejadian penemuan satwa elang jawa di Cangkringan tersebut. “Terimakasih kepada warga masyarakat yang telah peduli terhadap kelestarian satwa liar dilindungi ini. Apa yang dilakukan oleh warga Cangkringan ini patut kita acungi jempol. Kesadarannya untuk menyelamatkan satwa dan melaporkan penemuan satwa dilindungi kepada petugas merupakan langkah yang tepat. Rasa bangga juga saya sampaikan kepada Tim Quick Response Balai KSDA Yogyakarta dan Petugas Balai TNGM yang telah mengambil langkah tepat mulai dari proses evakuasi, pemeriksaan kesehatan, hingga analisis yang diberikan terkait pelepasliaran satwa sesegera mungkin setelah melihat hasil pemeriksaan kesehatan dan perilaku satwanya.” kata M. Wahyudi. Lebih lanjut M. Wahyudi meminta stafnya untuk berkoordinasi dengan petugas TNGM. “Selama 2 (dua) hari berturut-turut Balai KSDA Yogyakarta menerima laporan masyarakat terkait penemuan elang jawa di sekitar kawasan TNGM dan personil Quick Response Balai KSDA Yogyakarta telah menindaklanjuti upaya penyelamatan satwa tersebut. Saya minta petugas dari Balai KSDA Yogyakarta dapat berkoordinasi dengan Balai TNGM untuk melakukan telaahan lebih lanjut terkait penemuan elang jawa ini dan melakukan analisa apa yang melatarbelakangi keluarnya elang jawa dari habitatnya di TNGM.” tutup M. Wahyudi. Sumber: Uut Budiarto – Polisi Hutan Balai KSDA Yogyakarta Penanggung jawab berita: Kepala Balai KSDA Yogyakarta-Muhammad Wahyudi (HP 0852-4401-2365) Kontak informasi: Call center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)
Baca Berita

Translokasi 5 Raptor ke TaNa Halisa

Yogyakarta, 26 Maret 2022. Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta bersama bersama Centre for Orangutan Protection (COP) dan Wildlife Rescue Centre (WRC) Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY) baru saja melakukan translokasi 5 (lima) ekor raptor terdiri dari Elang brontok (Nisaetus cirrhatus) sebanyak 3 (tiga) ekor, Elang tikus (Elanus caeruleus) sebanyak 1 (satu) ekor dan Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) sebanyak 1 (satu) ekor ke Pusat Suaka Satwa Elang Jawa (PSSEJ), Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TaNa Halisa/BTNGHS), Jawa Barat, Jum’at (25/3/22). Untuk jenis satwa elang brontok dan elang tikus merupakan satwa yang sebelumnya dirawat di WRC – YKAY, sedangkan satu ekor elang jawa yang diberi nama Wahyudi, merupakan hasil penyerahan masyarakat Kemalang, Klaten, Jawa Tengah. Mempertimbangkan hasil assesmen kesehatan dan fisik terhadap Elang jawa yang masih jinak sehingga sesuai arahan Kepala Balai KSDA Yogyakarta, satwa elang jawa tersebut turut serta ditranslokasikan ke PPSEJ – BTNGHS untuk menjalani rehabilitasi disana hingga siap dilepasliarkan kembali ke alam. Sementara itu terhadap keempat satwa lainnya telah dilakukan persiapan menyeluruh meliputi administrasi, tes kesehatan serta handling satwa yang dilakukan bersama dengan WRC YKAY dan COP untuk memastikan kesiapan satwa. Setelah proses persiapan selesai, tim translokasi berangkat dengan perjalanan darat selama hampir 13 jam menuju PSSEJ di Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Sampai di lokasi tujuan, petugas PSSEJ segera melakukan pengecekan dokumen dan fisik satwa oleh drh. Septi Dewi Cahaya, selaku dokter hewan dan tim PSSEJ-BTNGHS. Serah terima satwa dari BKSDA Yogyakarta yang dilakukan Plt. KSBTU BKSDA Yogyakarta - Untung Suripto, kepada Balai TNGHS diterima oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Dr. Pairah, S.Si., M.P. Melepas keberangkatan tim translokasi satwa Balai KSDA Yogyakarta ke TNGHS, Kepala BKSDA Yogyakarta M. Wahyudi mendukung penuh pelaksanaan translokasi raptor ini. “Kegiatan tanslokasi ini bertujuan untuk mempercepat proses rehabilitasi elang dalam rangka pelepasliaran, harapan kami proses rehabilitasi berjalan dengan lancar sehingga raptor dapat segera dikembalikan ke habitatnya, dan raptor tersebut akan mampu bertahan hidup dan berkembangbiak di alam pasca dilepasliarkan.” jelasnya. Lebih lanjut, M. Wahyudi menyampaikan terimakasihnya kepada Balai TNGHS, “Saya ucapkan terimakasih kepada Kepala Balai TNGHS yang telah berkenan menerima elang dari YKAY dan serahan dari masyarakat ini untuk direhabilitasi di PSSEJ-TNGHS. Semoga sinergi dari berbagai pihak ini dapat menjadi langkah baik dalam mendorong kelestarian raptor di indonesia.” tutupnya. Sumber : Balai KSDA Yogyakarta Penanggung jawab berita : Kepala Balai KSDA Yogyakarta- Muhammad Wahyudi (HP 0852-4401-2365) Kontak informasi : Call center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)
Baca Berita

Warga Kemalang Serahkan Elang

Yogyakarta, 25 Maret 2022. Balai KSDA Yogyakarta kembali menerima penyerahan satwa dilindungi jenis Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) sebanyak 1 ekor. Satwa berasal dari warga Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (24/3/22). Saat dimintai keterangan oleh petugas Balai KSDA Yogyakarta, warga Kemalang tersebut menyampaikan kronologis penemuan satwa di ladang dalam kondisi lemas tidak bisa terbang dan diduga karena kelaparan. Warga berupaya untuk merawat elang tersebut dengan memberikan lele sebagai makanannya dan selanjutnya melaporkan ke Call Center Balai KSDA Yogyakarta di nomor 0821-4444-9449. Menerima laporan penemun satwa dari masyarakat tersebut, operator Call Center Balai KSDA Yogyakarta menyarankan untuk menyerahkan satwa ke wilayah kerja Balai KSDA Jawa Tengah mengingat satwa ditemukan di wilayah Jawa Tengah. Akan tetapi pada akhirnya pelapor membawa satwa tersebut dan menyerahkannya ke Balai KSDA Yogyakarta hari Kamis Siang (24/3/22) untuk dapat dilakukan tindakan penyelamatan oleh Balai KSDA Yogyakarta. Menindaklanjuti penyerahan satwa tersebtut, personil tim Quick Response Balai KSDA Yogyakarta segera melakukan identifikasi terhadap satwa dan hasil identifikasi menunjukkan satwa yang dilaporkan adalah benar jenis Elang Jawa (Nisaetus bartelsi). Petugas kemudian memproses kelengkapan administrasi penyerahan satwa tersebut dan dituangkan dalam Berita Acara Penyerahan Satwa dari warga Kemalang, Klaten, Jawa Tengah kepada Balai KSDA Yogyakarta. Satwa selanjutnya ditangani oleh dokter hewan Balai KSDA Yogyakarta untuk dilakukan tindakan lebih lanjut. Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi menyampaikan arahan teknisnya terkait penyerahan jenis satwa elang jawa tersebut. “Saya sudah berikan arahan kepada personil pelaksana di lapangan agar satwa-satwa yang diperoleh dari hasil sitaan saat operasi penertiban kepemilikan satwa maupun satwa hasil penyerahan masyarakat dapat ditindaklanjuti upaya perawatan dan penyelamatan satwanya sesegera mungkin. Dokter hewan bisa segera melakukan pemeriksaan kesehatan dan tindakan lebih lanjut. Jika satwa dalam kondisi sehat dan memungkinkan dilakukan translokasi, saya arahkan satwa untuk dibawa ke Pusat Suaka Satwa Elang Jawa (PSSEJ) di Taman Nasional Halimun untuk dapat menjalani proses rehabilitasi di sana sebelum dilepasliarkan ke alam.” kata M. Wahyudi. Lebih lanjut M. Wahyudi mengapresiasi masyarakat yang telah memiliki kesadaran untuk menyerahkan satwa dilindungi undang-undang tersebut. “Kesadaran masyarakat untuk menyerahkan satwa dilindungi kepada negara ini merupakan langkah positif yang pantas untuk diapresiasi. Kedepan semoga kesadaran masyarakat semakin tumbuh lagi untuk tidak memelihara jenis satwa dilindungi dan membiarkannya hidup di alam. Terimakasih kepada masyarakat yang telah bekerjasama dan kami dari Balai KSDA Yogyakarta siap memberikan pelayanan kepada masyarakat. Aduan dan pelaporan terkait perdagangan dan perburuan tumbuhan dan satwa liar, gangguan di kawasan konservasi, konflik satwa, illegal logging dan kebakaran hutan dapat dilakukan masyarakat dengan menghubungi nomor call center Balai KSDA Yogyakarta.” tutupnya. Sumber : Arif Budiarto - Polhut Balai KSDA Yogyakarta Penanggung jawab berita: Kepala Balai KSDA Yogyakarta-Muhammad Wahyudi (HP 0852-4401-2365) Kontak informasi: Call center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)
Baca Berita

Siswa SD Tetandara Ende Serahkan Bambangan Coklat

Ende, 24 Maret 2022. Para siswa SDI Tentadara Ende yang berjumlah 7 orang mendatangi Kantor Balai Taman Nasional (TN) Kelimutu pada hari Rabu, 23 Maret 2022. Mereka datang dengan membawa seekor burung yang ditemukan di pinggir Jalan Nangka, Ende dalam kondisi lemas. Salah satu anak bernama Dede menuturkan bahwa mereka menjumpai burung tersebut dipinggir jalan ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang sekolah menuju rumah. Pada awalnya mereka berniat menjual burung tersebut kepada para wartawan yang sedang berkumpul di kantor DPRD Kab.Ende. Namun, oleh wartawan tersebut anak-anak itu diarahkan menuju Kantor Balai Taman Nasional Kelimutu yang berada tidak jauh dari kantor DRPD Kab. Ende. Setelah anak-anak datang menyerahkan burung tersebut, dilakukan proses identifikasi oleh petugas Balai TN Kelimutu dan didapatkan hasil bahwa burung tersebut merupakan burung Bambangan Coklat (Ixobrychus eurythymus) yang biasa hidup didaerah rawa atau persawahan. Burung Bambangan Coklat (Ixobrychus eurythymus) termasuk kedalam satwa liar dilindungi sesuai dengan Peraturan Menteri LHK Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 dan termasuk kedalam kategori Least Concern/Resiko Rendah oleh IUCN. Pemeriksaan terhadap burung tersebut kemudian dilakukan oleh dokter hewan dari Dinas Peternakan Kabupaten Ende. Dokter hewan menyatakan bahwa burung dalam keadaan sehat dan hanya mengalami kelaparan sehingga perlu diberikan pakan terlebih dahulu berupa jangkrik ataupun ikan kecil sebagai pakan alaminya. Setelah proses pemeriksaan selesai, dilakukan proses koordinasi dengan BBKSDA NTT Resort Konservasi Wilayah Ende untuk dititipkan dan akan dilakukan perawatan sampai burung tersebut dapat dilepasliarkan lagi dialam. Sebagai apresiasi kepada ketujuh siswa SDI Tetandara yang telah memberi kepedulian terhadap satwa dan lingkungan, Balai TN Kelimutu memberikan apresiasi dengan berupa souvenir sebagai kenang-kenangan. Harapannya setelah ini akan lebih banyak siswa dan pelajar yang peduli terhadap satwa dan lingkungan terlebih melalui program KSDAE Mengajar. Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

Si Belang Terpantau, BBKSDA Sumut Sosialisasi Mitigasi Konflik Satwa Liar

Pintu pohan, 23 Maret 2022. Bermula dari kemunculan satwa liar Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) pada Senin, 8 Maret 2022, kemudian langsung disikapi Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar Balai Besar KSDA Sumatera Utara dengan melakukan Sosialisasi Mitigasi Konflik Satwa Liar di aula kantor Desa Pintu Pohan, Kecamatan Pintu Pohan Meranti, Kabupaten Toba, pada Senin 14 Maret 2022. Sosialisasi yang ditujukan kepada masyarakat Desa Pintu Pohan turut dihadiri Plt. Camat Pintu Pohan Meranti, Kanit Reskrim Kepolisian Sektor Porsea, Komando Rayon Militer (Koramil) Porsea, UPTD KPH Wilayah IV Balige dan Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV Tarutung. Dalam sosialisasi tersebut, Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, Seno Pramudito, S.Hut, ME., menghimbau kepada masyarakat Desa Pintu Pohan jika dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari termasuk saat melakukan pekerjaan di ladang, agar tidak melakukannya secara sendirian, usahakan dilakukan oleh beberapa orang (secara berkelompok). “Selain itu juga kami menghimbau kepada masyarakat untuk tidak memasang jerat yang dapat membahayakan dan mengancam kehidupan satwa liar termasuk jenis yang dilindungi. Sejauh mungkin hindari tindakan-tindakan atau perbuatan-perbuatan yang berdampak buruk, baik bagi warga maupun bagi satwa liar. Bila menemukan adanya tanda-tanda kehadiran satwa liar, agar segera melaporkan kepada pihak-pihak terkait terdekat untuk dilakukan tindakan penanganan,” ujar Seno. Perkembangan terakhir, hasil penyisiran tim patroli di lapangan pada Sabtu, 19 Maret 2022, menemukan adanya jejak harimau, namun lokasinya jauh dari pemukiman maupun perladangan masyarakat. Untuk itu tim mengingatkan agar masyarakat tetap tenang dan senantiasa waspada. Tim akan terus memantau perkembangannya. Sumber : Yustiil Fazri – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Telah Resmi, Kabupaten Kediri Ditetapkan Sebagai Pusat Ficus Nasional Pertama di Indonesia

Kediri, 23 Maret 2022. Deklarasi Pusat Ficus Nasional (PFN) yang berada di Buffer Zone Cagar Alam (CA) Manggis Gadungan dilaksanakan di kantor Bupati Kediri, Rabu (23/3). Deklarasi diawali dengan penyerahan piagam penghargaan Direktur Jenderal KSDAE kepada Bupati Kediri, Ketua DPRD, dan Perum Perhutani. Penandatangan Deklarasi PFN dan Peresmian PFN oleh Direktur Jenderal KSDAE disaksikan oleh Bupati Kediri dan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI. Acara kemudian dilanjutkan dengan Sambutan Bupati Kediri, Sambutan Dirjen KSDAE, dan Sambutan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI. Cagar Alam Manggis Gadungan merupakan salah satu cagar alam tertua di Indonesia. Beberapa jenis Ficus dijumpai tumbuh dengan baik di dalamnya, diantaranya Leses (Ficus albiphila) yang merupakan pohon terbesar di kawasan. Selain itu juga terdapat Ficus nervosa, Ficus varigata, Ficus kurzii, Ficus callophyla, Ficus benjamina, Ficus hispida, Ficus virens dan Ficus septica. Tercetusnya ide didirikannya PFN berawal pada saat kunjungan Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur yang saat itu dijabat oleh Dr. Nandang Prihadi, S.Hut., M.Sc, beliau memerintahkan kepada Kepala Resort Konservasi Manggis Gadungan Siti Nurlaili untuk melakukan kajian terhadap dominasi vegetasi Cagar Alam Manggis Gadungan sekaligus menggali sejarah tentang keberadaan kawasan tersebut. Berdasarkan hasil kajian, menyatakan bahwa Cagar Alam Manggis Gadungan didirikan dengan tujuan sebagai perlindungan botani dan perlindungan tata air dengan dominasi vegetasi awal kawasan tersebut adalah jenis Ficus. Berdasarkan inventarisasi vegetasi, pada saat ini di kawasan Cagar Alam Manggis Gadungan semakin sulit dijumpai adanya anakan Ficus, hal ini dikarenakan daun maupun buah dari ficus merupakan sumber pakan dari satwa-satwa yang ada dalam kawasan tersebut, Sehingga diperlukan usaha untuk menjaga kelestariannya, diantaranya dengan pembuatan bibit dan penanaman. Untuk dapat melestarikan jenis-jenis ficus tersebut, dan berdasarkan gagasan dari para stakeholder maka tercetuslah wacana pembangunan PFN yang berada di Buffer Zone Cagar Alam Manggis Gadungan. Perhutani pun dengan dikawal administrator/ KPH Kediri selaku pemangku kawasan menginisiasi untuk mengusulkan kawasan hutan produksi tersebut menjadi Lapangan Dengan Tujuan Istimewa (LDTI) seluas 7,5 ha sebagai lokasi PFN, areal tersebut berada di sekeliling kawasan Cagar Alam Manggis Gadungan. Selain LDTI manggis saat ini juga telah dipersiapkan LDTI di buffer zone Cagar Alam Besowo Gadungan dengan luas 2,62 Ha. Dalam Sambutannya, Mas Bupati (Mas Dhito) menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih khususnya kepada Masyarakat Ficus Indonesia dan juga para relawan yang telah merintis terbentuknya PFN di Kabupaten Kediri dan secara sukarela telah melakukan upaya konservasi dan penyelamatan sumber air di Kabupaten Kediri. “Dengan terbangunnya PFN di Kabupaten Kediri kedepannya dapat berfungsi sebagai pusat informasi, edukasi, pelatihan, penelitian, kepustakaan, literasi, media informasi, sarana budidaya tanaman dan ekowisata Ficus”, Kata Mas Bupati. “Aksi nyata dalam waktu dekat ini adalah bagaimana kita menghijaukan kediri bagian barat sungai, penanaman 1218 akan kita laksanakan selaras dengan perayaan hari jadi Kabupaten Kediri yang ke 1218, Hal ini merupakan salah satu langkah nyata kita sebagai upaya antisipasi dan mitigasi perubahan iklim” pungkasnya. Ir. Wiratno selaku Direktur Jenderal KSDAE, mengawalinya dengan memberikan ucapan selamat ulang tahun Kabupaten Kediri yang ke 1218 Kepada Mas Bupati dan segenap rakyat kediri, Wiratno juga menyampaikan bahwa pengelolaan kawasan konservasi tidak bisa dipisahkan dengan kawasan-kawasan yang ada di sekitarnya. Konsep Pusat Ficus Nasional merupakan konsep pengelolaan lanskap berbasis spesies yang pertama di Indonesia. Sebuah pengelolaan kolaborasi yang ditunjuk dalam bentuk pengelolaan lahan berbagai fungsi yang dilakukan bersama-sama para Pihak. PFN merupakan salah satu bentuk nyata wujud energi positif dari para stakeholder yang peduli terhadap kelestarian lingkungan, hal ini harus terus didorong untuk menjadikan PFN-PFN baru di wilayah lain.“kerjasama dan sinergitas kinerja kita kedepan semakin solid dan mantap, Kolaborasi Membangun Konservasi, Hijaukan Bumi”, ungkap beliau di akhir sambutannya. Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Ibu Anggia Erma Rini yang hadir dalam acara kali ini juga menyampaikan, “mari kita kembalikan kesehatan bumi kita yang semakin lama semakin tidak sehat ini, jadikan PFN sebagai model pengelolaan hutan berbasis kolaboratif dan pemberdayaan masyarakat” pesan ibu Anggia, terus kobarkan semangat untuk melestarikan dan menghijaukan bumi. Komisi IV DPR RI akan terus memberikan dukungan terhadap kegiatan-kegiatan pemulihan dan pelestarian lingkungan, pungkasnya. Rangkaian acara penandatangan Deklarasi diakhiri dengan podcast 5 Minutes with Wiratno, Mas Bupati dan Wakil Ketua Komisi IV. 5 Minutes with Wiratno akan segera tayang di chanel media sosial BBKSDA Jatim. *humasbbksdajatim Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur Informasi lebih lanjut bisa menghubungi:
Baca Berita

Melihat Calon Penangkaran Binturong di Yogyakarta

Yogyakarta, 22 Maret 2022. Direktur Jenderal KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc di sela-sela acara Presidensi G20 yang dilaksanakan di Yogyakarta berkesempatan melakukan pembinaan dalam rangka pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) kepada calon penangkar mamalia jenis binturong (Arctictis binturong) yang dikelola PT. Alpha Natura Mataram yang berlokasi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (22/3/22). Jalan panjang telah ditempuh PT. Alpha Natura Mataram untuk mewujudkan penangkaran binturong yang sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Binturong (Arctictis binturong) merupakan jenis mamalia yang dilindungi Undang-Undang berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 dan termasuk dalam daftar Appendix III CITES. Proses pengembangbiakan binturong di masyarakat dilakukan melalui mekanisme ijin penangkaran yang telah diatur dalam peraturan perundangan yang berlaku. Sesuai Permen LHK No. 3 Tahun 2021 tentang Standar Kegiatan Usaha Pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko Sektor Lingkungan Hidup Dan Kehutanan, saat ini PT. Alpha Natura Mataram sedang berproses di sistem OSS (One Single Submission) untuk legalitas kegiatan penangkaran tersebut. Ditemui saat kunjungan ke calon penangkaran binturong, Dirjen KSDAE, Ir. Wiratno M.Sc menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada PT Alpha Natura Mataram atas dukungannya dalam upaya pelestarian satwa binturong di Indonesia “Apresiasi yang tinggi kami berikan kepada PT Alpha Natura Mataram yang berlokasi di Sleman, DIY atas partisipasi dan dukungannya terhadap upaya pelestarian satwa binturong di Indonesia. PT Alpha Natura Mataram dengan serius berupaya mewujudkan penangkaran satwa dilindungi yang terlihat dari kondisi fasilitas sarana prasarana yang dibangun dan keseriusan untuk mendukung kajian penentuan status generasi Binturong. Menurut saya spirit mereka itu keren.” kata Wiratno. Melalui kerjasama dengan Lab. Genetika, Pemuliaan dan Reproduksi, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro yang melibatkan pakar craniometri Ir. Daud Samsudewa, S.Pt, M.Si, P.hD, IPM, serta adanya pendampingan dari Balai KSDA Yogyakarta, PT Alpa Natura Mataram melakukan proses penentuan status generasi satwa binturong yang akan ditangkarkan tersebut. Dengan menggunakan metode pengukuran craniometri (pengukuran tulang tengkorak), akan dapat ditentukan status generasi satwa binturong yang dimiliki PT Alpha Natura Mataram. Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi menyampaikan “penggunaan metode craniometri untuk menentukan silsilah generasi binturong merupakan langkah inovatif yang menjadi salah satu alternatif untuk menentukan dasar silsilah satwa yang akan dikembangkan dalam penangkaran dan semuanya didukung dengan komitmen penataan recording satwa. Pada acara kunjungan ke penangkaran Binturong PT Alpha Natura Mataram tersebut, Direktur Jenderal KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc juga menyerahkan piagam penghargaan kepada Ir. Daud Samsudewa, S.Pt, M.Si, P.hD, IPM atas bantuan dan dukungannya kepada Ditjen KSDAE dalam penentuan status generasi pada 134 ekor Burung Jalak tahun 2018 di Jawa Tengah, 364 ekor burung Parrot di Jawa Timur pada tahun 2020 dan 68 ekor Binturong di D.I. Yogyakarta tahun 2022 dengan menggunakan metode craniometri sebagai dasar proses perijinan satwa penangkaran. Piagam penghargaan lain juga diberikan kepada Anggit Mas Arifudin, MT atas dedikasinya menginisiasi penangkaran Merak Hijau (Pavo muticus) pertama di D.I. Yogyakarta sejak tahun 2019; Mashuri Maschab atas dedikasinya dalam penangkaran rusa timor (Cervus timorensis) sejak tahun 2014; Andi Rahmato atas dedikasinya dalam pengembangan penangkaran Nuri Bayan (Eclectus roratus aruensis) sejak tahun 2015; Suyanto atas jasanya dalam penangkaran Jalak Bali sejak tahun 2015 dan melakukan restocking sejak tahun 2017; serta Saliyo atas jasanya dalam penyelamatan satwa terutama jenis reptil, burung, dan ikan serta edukasi konservasi dan konflik gangguan satwa liar di masyarakat sejak tahun 2017. Pemberian piagam penghargaan kepada para penangkar tersebut melalui hasil penilaian dari tim BKSDA Yogyakarta meliputi teknis, administrasi dan keberhasilan penangkaran. Mengakhiri kunjungannya, Wiratno menegaskan pentingnya peran serta berbagai pihak dalam upaya pelestarian satwa di Indonesia. “Dirjen KSDAE mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh BKSDA Yogyakarta yang melakukan pendampingan kepada para calon penangkar agar berproses untuk legalitas kegiatan unit penangkaran dan bagi para penangkar ada kewajiban untuk melakukan re-stocking agar populasi binturong di alam tetap lestari”. Sumber : Balai KSDA Yogyakarta Penanggung jawab: Kepala Balai KSDA Yogyakarta- Muhammad Wahyudi (HP 0852-4401-2365) Kontak informasi: Call center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)
Baca Berita

Temuan Buaya Saat Mengambil Air di Kanal

Pekanbaru, 22 Maret 2022 - Tim Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Balai Besar KSDA Riau dengan anggota Ahmad Fitriansyah, Sehat Nasution dan Azwar melakukan evakuasi satwa liar Buaya di Desa Palas, Kec. Pangkalan Kuras, Kab. Pelalawan, Selasa (15/3). Berawal dari Pak Ari, salah seorang pekerja kebun sawit milik pak Taufik yang menemukan seekor Buaya saat mengambil air di kanal untuk menyemprot rumput. Pak Taufik melaporkan kepada Bhabinkamtibmas Desa Palas yang segera meneruskannya ke Kapolsek Pangkalan Kuras. Diperkirakan Buaya berasal dari sungai Nilo kecil yang meluap dan masuk ke dalam kanal perkebunan masyarakat. Kapolsek Pangkalan Kuras berkoordinasi dengan pihak Balai Besar KSDA Riau terkait temuan tersebut, Sekira pukul 14.30 WIB, Buaya berhasil diamankan oleh Tim Polsek Pangkalan Kuras yang dipimpin oleh Kapolsek AKP Agustinus Chandra Pietama dan langsung diserahkan ke Tim Balai Besar KSDA Riau di lapangan. Buaya dibawa ke Polsek Pangkalan Kuras untuk dilakukan Identifikasi, pemeriksaan kondisi fisik dan pembuatan Berita acara serah terima satwa. Hasil Identifikasi Jenis Buaya adalah sinyulong (Tomistoma schlegelii) , panjang 2,9 meter, lebar 35 cm, jenis kelamin betina dan kondisi sehat tidak terdapat luka. Mengingat kondisi Buaya yang sehat, lincah, dan tidak terluka Buaya langsung dilepasliarkan kembali ke habitatnya di sungai yang berada di Kawasan Konservasi yang jauh dari aktifitas penduduk. Terima kasih bapak Taufik dan Kapolsek Pangkalan Kuras Bapak Agustinus beserta jajarannya telah sigap melakukan penyelamatan untuk menghindari konflik antara manusia dan satwa Sumber : Balai Besar KSDA Riau Teks : DI, Foto : Tim admin BBKSDARIAU |032022]
Baca Berita

Kuliah Konservasi Alam di TWA Pulau Bakut

Pulau Bakut, 19 Maret 2022 – Sebanyak 50 orang Mahasiswa dari Universitas Lambung Mangkurat Fakultas Kehutanan melakukan kegiatan Praktek Mata Kuliah Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan “Valuasi Taman Wisata Alam Pulau Bakut”, Sabtu (19/3). Bersama dosen pendamping Ibu Arfa Agustina Rezekiah, S. Hut MP dan Bapak Dr. Abdi Fithria di TWA Pulau Bakut, Praktek Kerja Lapangan ini bertujuan untuk melakukan analisis nilai ekonomi TWA Pulau Bakut dan nilai rekreasi serta perhitungan pada biomassa tegakan berdiri menggunakan pendekatan allometrik dan nilai rekreasi menggunakan pendekatan travel cost dan penilaian kontingensi realita pekerjaan yang akan dihadapi dan membandingkan pengetahuan selama perkuliahan dengan praktek di lapangan. Kedatangan Mahasiswa untuk melakukan kegiatan praktek lapangan diharapkan akan menghasilkan data dan informasi TWA Pulau Bakut yang nantinya bisa bermanfaat sebagai konsevasi TWA Pulau Bakut. Kepala Balai KSDA Kalsel Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc berpesan bahwa “Mahasiswa yang akan melakukan Praktek di TWA Pulau Bakut agar dapat memanfatkan kegiatan tersebut dengan sebaik-baiknya agar pembelajaran dan mendapatkan pengetahuan dan keterampilan selama masa perkuliahan. Dalam kesempatan ini juga Kepala Resort Imam Riyanto, S.Hut memberikan penjelasan singkat mengenai TWA Pulau Bakut yang mempunyai fungsi sebagai perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan. Menurut Bapak Dr. Abdi Fithria sebagai dosen pendamping Mahasiswa Praktek bahwa pengelolaan TWA memberikan pelayanan yang baik, tersedianya informasi beberapa jenis pohon yg ditanam sehingga menambah wawasan pengunjung, namum perlu adanya pelang tentang potensi flora dan fauna TWA agar wisatawan bisa membaca dan mengetahuinya. (ryn) Sumber : Imam Riyanto, S.Hut. - Kepala Resort TWA Pulau Bakut, SKW II Banjarbaru Balai KSDA Kalimantan Selatan

Menampilkan 1.697–1.712 dari 11.142 publikasi