Jumat, 2 Jan 2026

Taman Nasional
Bantimurung Bulusaraung

Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung memiliki luas 43.077,30 hektar . Secara administratif, kawasan ini terletak di Provinsi Sulawesi Selatan.

Logo Kementerian Kehutanan
# Rencana Pengelolaan Kawasan

Pengelolaan TN Bantimurung Bulusaraung dalam periode 10 tahun kedepan (2016-2025)  diarahkan  untuk  pemanfaatan  jasa  lingkungan  kawasan  melalui pengembangan ekowisata Karst bagi keberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat  dengan  tetap  memegang  prinsip-prinsip  kelestarian  ekosistemnya, melalui misi “Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menjadi Destinasi Ekowisata Karst Dunia”.

# Foto Kawasan

Gallery foto kawasan TN Bantimurung Bulusaraung.

Gua Leang Londrong
Gunung Bulusaraung
Jembatan Gantung Patunuang
Kalibong Aloa
Kampung Balea
Macaca Maura
Pachliopta polyphontes
Taman Kupu-kupu
Tarsius Fuscus
Troides Helana
# Sejarah Kawasan
  • 1857, Wallace melakukan eksplorasi di Bantimurung. Tahun 1869, ia mempublikasikan “The Malay Archipelago”;
  • 1970-1980, di kawasan Karst Maros-Pangkep telah ditunjuk/ ditetapkan 5 unit kawasan konservasi seluas ± 11.906,9 Ha, yaitu TWA. Bantimurung, TWA. Gua Pattunuang, CA. Bantimurung, CA. Karaenta dan CA. Bulusaraung;
  • 1989, Kanwil Dephut Sulsel mengusulkan TN Hasanuddin;
  • 1993, Kongres XI International Union of Speleology merekomendasikan Karst Maros-Pangkep sebagai Warisan Dunia;
  • 1995, National Conservation Plan memuat calon TN Hasanuddin seluas 86.682 Ha;
  • 1997, Seminar Lingkungan Karst PSL-UNHAS merekomendasikan perlindungan Karst Maros-Pangkep;
  • 1999, Unit KSDA Sulsel I & Unhas melaksanakan penilaian potensi calon TN Hasanuddin;
  • 2001, pada bulan Mei IUCN Asia Regional Office dan UNESCO World Heritage Center mengadakan The Asia-Pasific Forum on Karst Ecosystems and World Heritage di Gunung Mulu, Serawak, Malaysia. Forum ini memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Indonesia agar mengkonservasi kawasan Karst Maros Pangkep. November, Bapedal Reg. III mengadakan Simposium Karst Maros-Pangkep. Forum ini merekomendasikan TN & Warisan Dunia;
  • 2002, Dalam rangka perubahan fungsi kawasan hutan, Tim Terpadu dibentuk oleh Pemprov Sulsel;
  • 2004, Menhut menerbitkan SK.398/Menhut-II/2004 tanggal 18 Oktober 2004 tentang Perubahan fungsi kawasan hutan pada Kelompok Hutan Bantimurung - Balusaraung seluas ± 43.750 (empat puluh tiga ribu tujuh ratus lima puluh) hektar sebagai Taman Nasional Bantimurung - Bulusaraung.
# Keunikan

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memiliki berbagai keunikan, berupa ekosistem karst (eksokarst dan endokarst), gua-gua dengan speleothem yang indah, dan yang paling dikenal adalah berbagai jenis kupu-kupu yang hidup di wilayah ini. Bantimurung oleh Alfred Russel Wallace dijuluki sebagai The Kingdom of Butterfly. Taman Nasional ini merupakan salah satu tujuan wisata yang akan menyuguhkan wisata alam berupa lembah bukit kapur yang curam dengan vegetasi tropis dan endokarst yang spektakuler, air terjun, serta  beragam spesies tumbuhan dan satwa liar yang unik [termasuk [kupu-kupu]].

Taman nasional ini menonjolkan kupu-kupu sebagai daya tarik utamanya. Di tempat ini sedikitnya terdapat 20 jenis kupu-kupu yang dilindungi pemerintah. Beberapa spesies unik bahkan hanya terdapat di Sulawesi Selatan, yaitu Troides helena LinneTroides hypolitus CramerTroides haliphron BoisduvalPapilo adamantius, dan Cethosia myrina. Antara tahun 1856-1857, Alfred Russel Wallace menghabiskan sebagian hidupnya di kawasan tersebut untuk meneliti berbagai jenis kupu-kupu. Wallace menyatakan Bantimurung sebagai The Kingdom of Butterfly . Menurutnya di lokasi tersebut terdapat sedikitnya 250 spesies kupu-kupu.

Lokasi wisata ini juga memiliki beberapa gua yang dapat dimanfaatkan sebagai tujuan wisata minat khusus. Gua itu adalah Gua Batu dan Gua Mimpi di kawasan Bantimurung serta Gua vertikal Leang Pute. Selain kawasan Bantimurung, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung juga memiliki beberapa lokasi ekowisata yang menarik. Terdapat lebih dari 400 gua alam dan gua prasejarah yang tersebar di kawasan karst TN Bantimurung Bulusaraung.

# Nilai Konservasi

Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas +40.000 Ha merupakan bentang alam karst terluas kedua di dunia setelah bentang alam karst yang ada di China bagian Selatan, dimana sekitar ±20.000 Ha Kawasan Karst tersebut merupakan kawasan TN  Bantimurung  Bulusaraung.  Kawasan  tersebut  ditunjuk  sebagai  kawasan konservasi  dengan  pertimbangan  keberadaan  ekosistem  karst  yang  memiliki potensi  sumberdaya  alam  hayati  dengan  keanekaragaman  yang  tinggi  serta keunikan dan kekhasan gejala alam dengan fenomena alam yang indah. Bentang alam  yang  unik  tersebut  dapat  dikembangkan  sebagai  laboratorium  alam  untuk pengembangan   ilmu   pengetahuan   dan   pendidikan   konservasi   alam   serta kepentingan   ekowisata.   Ekosistem   karst   tersebut   juga   merupakan   daerah tangkapan  air (catchment  area) bagi  kawasan  di  bawahnya  dan  beberapa  sungai penting di Provinsi Sulawesi Selatan.

# Spesies Mandat (9)

Spesies mandat merupakan jenis tumbuhan dan satwa liar yang menjadi prioritas pengelolaan dan perlindungan berdasarkan tingkat ancaman, nilai konservasi, serta kebijakan nasional dan internasional.

Julang Sulawesi Aceros cassidix

Julang sulawesi (Aceros cassidix) adalah spesies burung rangkong dalam famili Bucerotidae. Burung ini endemik di Sulawesi. Di daerah Minahasa. burung ini dikenal dengan nama Burung Taong. Panjang tubuh dapat mencapai 100 cm pada jantan, dan 88 cm pada betina. Julang Sulawesi memiliki tanduk (casque) yang besar di atas paruh, berwarna merah pada jantan dan kuning pada betina. Paruh berwarna kuning dan memiliki kantung biru pada tenggorokan[2].

Ailurops ursinus

Kuskus beruang sulawesi (Ailurops ursinus) adalah spesies marsupialia dari famili Phalangeridae. Satwa ini hidup di hutan tropis dataran rendah yang lembab, endemik di Pulau Sulawesi dan pulau-pulau disekitarnya seperti Kepulauan Butung, Kepulauan Peleng, Kepulauan Togian, dan kemungkinan juga dapat ditemukan di Pulau Muna[2].

Macaca maura

Macaca Maura merupakan salah satu satwa endemic yang mulai terancam punah, Macaca Maura dapat dijumpai di Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Terdapat patung Kera Macaca Maura yang berdiri mengangkang di Bantimurung Maros tepatnya di puntu gerbang wisata pemandian alam. Patung tersebut merupakan simbol bahwa di wilayah tersebut banyak kera, terutama di jalan lintas Maros-Bone. Macaca Maura dalam bahasa lokal disebut dare. Kera ini memiliki keistimewaan dibandingkan dengan kera jenis lain karena memiliki kecerdasan yang lebih karena memiliki otak yang lebih kompleks.

Macrogalidia musschenbroekii

Musang sulawesi memiliki lapisan tipis dan pendek berwarna kastanye cokelat muda dengan sejumlah campuran bulu halus. Bagian tubuh bawahnya beragam dari kuning kemerahan hingga putih; dadanya sedikit berwarna kemerahan. Ada sepasang garis membujur yang tak jelas dan beberapa titik gelap di bagian tersembunyi di punggung. Cambangnya bercampur antara cokelat dan putih. Ekornya ditandai dengan cincin gelap dan cokelat muda yang berselang-seling, yang tidak dapat dibedakan di permukaan bawah, dan lenyap menuju ujung yang gelap. Panjang kepala dan tubuhnya sekitar 35 in (89 cm) dengan ekor sepanjang 25 in (64 cm). Tengkorak dengan palatum durum banyak terbentuk ke belakang, namun sebaliknya menyerupai Paradoxurus hermaphroditus. Giginya berbeda dari semua spesies Paradoxurus karena 2 seri pipinya sejajar daripada divergen luas ke arah belakang.[3]

Penelopides exarhatus

Kangkareng sulawesi (Penelopides exarhatus) adalah spesies burung rangkong dalam famili Bucerotidae. Burung ini endemik di Pulau Sulawesi dan pulau-pulau satelitnya (Lembeh, Muna, dan Butung).

Spizaetus lanceolatus

Elang sulawesi adalah spesies burung pemangsa dalam famili Accipitridae. Burung ini endemik di Pulau Sulawesi dan pulau-pulau satelit (Bangka(Sulawesi), Lembeh, Muna, dan Butung); Kepulauan Banggai; dan Kepulauan Sula

Strigocuscus celebensis

Kuskus kerdil (Strigocuscus celebensis) adalah spesies marsupial dari keluarga Phalangeridae.[2] Kuskus Kerdil adalah hewan endemik dari Pulau Sulawesi dan pulau lain disekitarnya.

Sus celebensis

Babi Sulawesi atau Babi Berkutil Sulawesi, disebut juga Celebes warty pig (Sus celebensis), merupakan species babi genus (Sus) hidup di daerah Sulawesi, Indonesia. Habitat hidupnya pada ketinggian diatas 2,500 m (8,202.1 kaki).

Troides helena

Troides helena merupakan spesies kupu-kupu besar yang juga disebut Common Birdwing. Troides helena pertama kali di deskripsikan oleh Linnaeus pada tahun 1758. Bentangan sayapnya berkisar antara 13 sampai 17 cm. Kupu-kupu ini termasuk dalam suku Troidini pada family Papilionidae. Tubuh dan sayap troides helena biasanya berwarna gelap dengan sayap bagian bawah berwarna kuning keemasan dengan bintik hitam. Perbedaan mencolok antara jantan dan betina adalah, kupu-kupu betina memiliki tubuh yang lebih besar daripada kupu-kupu jantan. Kupu-kupu ini sering diperjual-belikan dengan harga yang cukup mahal (biasanya dalam pasar ilegal) dikarenakan popularitas dan keindahannya. Kupu-kupu ini memiliki tujuh belas subspsies.

# Kondisi Fisik

Secara administrasi pemerintahan, kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung terletak di wilayah Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Provinsi Sulawesi Selatan. Secara geografis areal ini terletak antara 119° 34’ 17” – 119° 55’ 13” Bujur Timur dan antara 4° 42’ 49” – 5° 06’ 42” Lintang Selatan. Secara kewilayahan, batas-batas TN. Babul adalah sebagai berikut :

  • Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Pangkep, Barru dan Bone;
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Maros dan Kabupaten Bone;
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Maros;
  • Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep.
# Topografi

Secara umum, kondisi fisik kawasan TN Bantimurung Bulusaraung bervariasi dari datar, bergelombang, berbukit sampai dengan bergunung. Bagian kawasan yang bergunung terletak pada sisi Timur Laut kawasan atau  terletak  pada  Pegunungan  Bulusaraung  di  Kecamatan  Mallawa Kabupaten   Maros   dan   Gunung   Bulusaraung   sendiri   di   Kecamatan Balocci  Kabupaten  Pangkep.  Puncak  tertinggi  terletak  pada  ketinggian 1.565 m.dpl di sebelah Utara Pegunungan Bulusaraung. 

# Letak Ketinggian (m.dpl)
1353
# Jenis Tanah

Kalsium dan Magnesium

# Geologi

Batuan Sedimen, Batuan Gunung Api Terpropilitkan, Aluvium, Batu Gamping

# DAS/Sub DAS

Kawasan TN Bantimurung Bulusaraung merupakan bagian dari hulu beberapa sungai besar di SUlawesi Selatan. Sisi sebelah timur antara lain merupakan hulu Sungai Walanea yang merupakan salah satu sungai yang mempengaruhi sistem Danau Tempe. Pada bagian Barat terdapat Sungai Pangkep dan Sungai Bone di Kabupaen Pangkep, Sungai Pute dan Sungai Bantimurung di Kabupaten Maros. Sungai Bantimurung adalah merupakan sumber pengairan persawahan di Kabupaten Maros serta dimanfaatkan untuk pemenuhan air bersih bagi masyarakat Kota Maros. Disamping itu, juga ditemukan beberapa mata air dan sungai-sungai kecil, terutama di wilayah karts, serta aliran air bawah tanah/danau bawah tanah pada sistem perguaan. Mata air berdebit besar dijumpai pada batu gamping pejal dengan debit 50 - 250 l/dtk, sedang mata air yang muncul dibatuan sedimen terlipat dan batuan gunung api umumnya kurang dari 10 l/dtk. Fluktuasi debit air sungai-sungai besar dari dalam kawasan TN Bantimurung Bulusaraung sampai saat ini masih relatif stabil sepanjang tahun, namun berbeda dengan debit pada sungai di permukaan karst.

# Tipe Iklim

Bantimurung termasuk ke dalam iklim D (Schmidt dan Ferguson)

# Curah Hujan (mm)
3750.0
# Temperatur (0C)
27 - 33,2
# Kelembaban (%)
65 - 89
Publikasi Terkait

Publikasi siaran pers, berita, artikel atau pengumuman terkait kawasan TN Bantimurung Bulusaraung.