Jumat, 2 Jan 2026
Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung memiliki luas 43.077,30 hektar . Secara administratif, kawasan ini terletak di Provinsi Sulawesi Selatan.

Pengelolaan TN Bantimurung Bulusaraung dalam periode 10 tahun kedepan (2016-2025) diarahkan untuk pemanfaatan jasa lingkungan kawasan melalui pengembangan ekowisata Karst bagi keberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan tetap memegang prinsip-prinsip kelestarian ekosistemnya, melalui misi “Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menjadi Destinasi Ekowisata Karst Dunia”.
Gallery foto kawasan TN Bantimurung Bulusaraung.
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memiliki berbagai keunikan, berupa ekosistem karst (eksokarst dan endokarst), gua-gua dengan speleothem yang indah, dan yang paling dikenal adalah berbagai jenis kupu-kupu yang hidup di wilayah ini. Bantimurung oleh Alfred Russel Wallace dijuluki sebagai The Kingdom of Butterfly. Taman Nasional ini merupakan salah satu tujuan wisata yang akan menyuguhkan wisata alam berupa lembah bukit kapur yang curam dengan vegetasi tropis dan endokarst yang spektakuler, air terjun, serta beragam spesies tumbuhan dan satwa liar yang unik [termasuk [kupu-kupu]].
Taman nasional ini menonjolkan kupu-kupu sebagai daya tarik utamanya. Di tempat ini sedikitnya terdapat 20 jenis kupu-kupu yang dilindungi pemerintah. Beberapa spesies unik bahkan hanya terdapat di Sulawesi Selatan, yaitu Troides helena Linne, Troides hypolitus Cramer, Troides haliphron Boisduval, Papilo adamantius, dan Cethosia myrina. Antara tahun 1856-1857, Alfred Russel Wallace menghabiskan sebagian hidupnya di kawasan tersebut untuk meneliti berbagai jenis kupu-kupu. Wallace menyatakan Bantimurung sebagai The Kingdom of Butterfly . Menurutnya di lokasi tersebut terdapat sedikitnya 250 spesies kupu-kupu.
Lokasi wisata ini juga memiliki beberapa gua yang dapat dimanfaatkan sebagai tujuan wisata minat khusus. Gua itu adalah Gua Batu dan Gua Mimpi di kawasan Bantimurung serta Gua vertikal Leang Pute. Selain kawasan Bantimurung, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung juga memiliki beberapa lokasi ekowisata yang menarik. Terdapat lebih dari 400 gua alam dan gua prasejarah yang tersebar di kawasan karst TN Bantimurung Bulusaraung.
Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas +40.000 Ha merupakan bentang alam karst terluas kedua di dunia setelah bentang alam karst yang ada di China bagian Selatan, dimana sekitar ±20.000 Ha Kawasan Karst tersebut merupakan kawasan TN Bantimurung Bulusaraung. Kawasan tersebut ditunjuk sebagai kawasan konservasi dengan pertimbangan keberadaan ekosistem karst yang memiliki potensi sumberdaya alam hayati dengan keanekaragaman yang tinggi serta keunikan dan kekhasan gejala alam dengan fenomena alam yang indah. Bentang alam yang unik tersebut dapat dikembangkan sebagai laboratorium alam untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan konservasi alam serta kepentingan ekowisata. Ekosistem karst tersebut juga merupakan daerah tangkapan air (catchment area) bagi kawasan di bawahnya dan beberapa sungai penting di Provinsi Sulawesi Selatan.
Spesies mandat merupakan jenis tumbuhan dan satwa liar yang menjadi prioritas pengelolaan dan perlindungan berdasarkan tingkat ancaman, nilai konservasi, serta kebijakan nasional dan internasional.
Julang sulawesi (Aceros cassidix) adalah spesies burung rangkong dalam famili Bucerotidae. Burung ini endemik di Sulawesi. Di daerah Minahasa. burung ini dikenal dengan nama Burung Taong. Panjang tubuh dapat mencapai 100 cm pada jantan, dan 88 cm pada betina. Julang Sulawesi memiliki tanduk (casque) yang besar di atas paruh, berwarna merah pada jantan dan kuning pada betina. Paruh berwarna kuning dan memiliki kantung biru pada tenggorokan[2].
Kuskus beruang sulawesi (Ailurops ursinus) adalah spesies marsupialia dari famili Phalangeridae. Satwa ini hidup di hutan tropis dataran rendah yang lembab, endemik di Pulau Sulawesi dan pulau-pulau disekitarnya seperti Kepulauan Butung, Kepulauan Peleng, Kepulauan Togian, dan kemungkinan juga dapat ditemukan di Pulau Muna[2].
Macaca Maura merupakan salah satu satwa endemic yang mulai terancam punah, Macaca Maura dapat dijumpai di Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Terdapat patung Kera Macaca Maura yang berdiri mengangkang di Bantimurung Maros tepatnya di puntu gerbang wisata pemandian alam. Patung tersebut merupakan simbol bahwa di wilayah tersebut banyak kera, terutama di jalan lintas Maros-Bone. Macaca Maura dalam bahasa lokal disebut dare. Kera ini memiliki keistimewaan dibandingkan dengan kera jenis lain karena memiliki kecerdasan yang lebih karena memiliki otak yang lebih kompleks.
Musang sulawesi memiliki lapisan tipis dan pendek berwarna kastanye cokelat muda dengan sejumlah campuran bulu halus. Bagian tubuh bawahnya beragam dari kuning kemerahan hingga putih; dadanya sedikit berwarna kemerahan. Ada sepasang garis membujur yang tak jelas dan beberapa titik gelap di bagian tersembunyi di punggung. Cambangnya bercampur antara cokelat dan putih. Ekornya ditandai dengan cincin gelap dan cokelat muda yang berselang-seling, yang tidak dapat dibedakan di permukaan bawah, dan lenyap menuju ujung yang gelap. Panjang kepala dan tubuhnya sekitar 35 in (89 cm) dengan ekor sepanjang 25 in (64 cm). Tengkorak dengan palatum durum banyak terbentuk ke belakang, namun sebaliknya menyerupai Paradoxurus hermaphroditus. Giginya berbeda dari semua spesies Paradoxurus karena 2 seri pipinya sejajar daripada divergen luas ke arah belakang.[3]
Kangkareng sulawesi (Penelopides exarhatus) adalah spesies burung rangkong dalam famili Bucerotidae. Burung ini endemik di Pulau Sulawesi dan pulau-pulau satelitnya (Lembeh, Muna, dan Butung).
Elang sulawesi adalah spesies burung pemangsa dalam famili Accipitridae. Burung ini endemik di Pulau Sulawesi dan pulau-pulau satelit (Bangka(Sulawesi), Lembeh, Muna, dan Butung); Kepulauan Banggai; dan Kepulauan Sula
Kuskus kerdil (Strigocuscus celebensis) adalah spesies marsupial dari keluarga Phalangeridae.[2] Kuskus Kerdil adalah hewan endemik dari Pulau Sulawesi dan pulau lain disekitarnya.
Babi Sulawesi atau Babi Berkutil Sulawesi, disebut juga Celebes warty pig (Sus celebensis), merupakan species babi genus (Sus) hidup di daerah Sulawesi, Indonesia. Habitat hidupnya pada ketinggian diatas 2,500 m (8,202.1 kaki).
Troides helena merupakan spesies kupu-kupu besar yang juga disebut Common Birdwing. Troides helena pertama kali di deskripsikan oleh Linnaeus pada tahun 1758. Bentangan sayapnya berkisar antara 13 sampai 17 cm. Kupu-kupu ini termasuk dalam suku Troidini pada family Papilionidae. Tubuh dan sayap troides helena biasanya berwarna gelap dengan sayap bagian bawah berwarna kuning keemasan dengan bintik hitam. Perbedaan mencolok antara jantan dan betina adalah, kupu-kupu betina memiliki tubuh yang lebih besar daripada kupu-kupu jantan. Kupu-kupu ini sering diperjual-belikan dengan harga yang cukup mahal (biasanya dalam pasar ilegal) dikarenakan popularitas dan keindahannya. Kupu-kupu ini memiliki tujuh belas subspsies.
Secara administrasi pemerintahan, kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung terletak di wilayah Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Provinsi Sulawesi Selatan. Secara geografis areal ini terletak antara 119° 34’ 17” – 119° 55’ 13” Bujur Timur dan antara 4° 42’ 49” – 5° 06’ 42” Lintang Selatan. Secara kewilayahan, batas-batas TN. Babul adalah sebagai berikut :
Secara umum, kondisi fisik kawasan TN Bantimurung Bulusaraung bervariasi dari datar, bergelombang, berbukit sampai dengan bergunung. Bagian kawasan yang bergunung terletak pada sisi Timur Laut kawasan atau terletak pada Pegunungan Bulusaraung di Kecamatan Mallawa Kabupaten Maros dan Gunung Bulusaraung sendiri di Kecamatan Balocci Kabupaten Pangkep. Puncak tertinggi terletak pada ketinggian 1.565 m.dpl di sebelah Utara Pegunungan Bulusaraung.
Kalsium dan Magnesium
Batuan Sedimen, Batuan Gunung Api Terpropilitkan, Aluvium, Batu Gamping
Kawasan TN Bantimurung Bulusaraung merupakan bagian dari hulu beberapa sungai besar di SUlawesi Selatan. Sisi sebelah timur antara lain merupakan hulu Sungai Walanea yang merupakan salah satu sungai yang mempengaruhi sistem Danau Tempe. Pada bagian Barat terdapat Sungai Pangkep dan Sungai Bone di Kabupaen Pangkep, Sungai Pute dan Sungai Bantimurung di Kabupaten Maros. Sungai Bantimurung adalah merupakan sumber pengairan persawahan di Kabupaten Maros serta dimanfaatkan untuk pemenuhan air bersih bagi masyarakat Kota Maros. Disamping itu, juga ditemukan beberapa mata air dan sungai-sungai kecil, terutama di wilayah karts, serta aliran air bawah tanah/danau bawah tanah pada sistem perguaan. Mata air berdebit besar dijumpai pada batu gamping pejal dengan debit 50 - 250 l/dtk, sedang mata air yang muncul dibatuan sedimen terlipat dan batuan gunung api umumnya kurang dari 10 l/dtk. Fluktuasi debit air sungai-sungai besar dari dalam kawasan TN Bantimurung Bulusaraung sampai saat ini masih relatif stabil sepanjang tahun, namun berbeda dengan debit pada sungai di permukaan karst.
Bantimurung termasuk ke dalam iklim D (Schmidt dan Ferguson)