Jumat, 2 Jan 2026
Taman Nasional (TN) Bogani Nani Wartabone memiliki luas 283.314,02 hektar . Secara administratif, kawasan ini terletak di Provinsi Sulawesi Utara dan Gorontalo.

Dalam mengoptimalkan seluruh potensi di TNBNW termasuk didalamnya mengantisipasi seluruh permasalahan maka pengelola TNBNW telah menetapkan visi “Sebagai kawasan konservasi ix terdepan dalam pengelolaan keanekaragaman hayati khas wallacea”. Visi menjadi penting karena dengan visi tersebut pengelola TNBNW telah mempunyai gambaran tentang apa yang akan diraih dimasa depan. Untuk mewujudkan visi tersebut maka pengelola TNBNW telah menetapkan misi yang terdiri dari 1) meningkatkan upaya pengawetan, perlindungan dan pengamanan kawasan TNBNW, terutama sebagai habitat jenis kunci; 2) mengoptimalkan fungsi dan manfaat potensi keanekaragaman hayati dan jasa lingkungan di kawasan TNBNW, 3) memantapkan system kelembagaan TNBNW dengan pengelolaan adaptif dan penguatan jejaring kerja (networking); dan 4) memperkuat ekonomi masyarakat di sekitar kawasan TNBNW
Gallery foto kawasan TN Bogani Nani Wartabone.
Taman Nasional Bogani Nani Wartabone merupakan penggabungan dari tiga kawasan konservasi, yaitu : Suaka Margasatwa Dumoga seluas ± 93.500 ha di Kabupaten Bolaang Mongondow (SK Menteri Pertanian No. 476/Kpts/Um/8/1979 tanggal 2 Agustus 1979). Suaka Margasatwa Bone seluas ± 110.000 ha di Kabupaten Gorontalo (SK Menteri Pertanian No. 764/Kpts/Um/12/1979 tanggal 5 Desember 1979); dan Cagar Alam Bulawa seluas ± 75.200 ha di Kabupaten Bolaang Mongondow (SK Menteri Pertanian No. 438/Kpts/Um/6/1980 tanggal 8 Juni 1980). Pada Konggres Taman Nasional sedunia ke-II di Bali tahun 1982, ketiga kawasan suaka alam tersebut diumumkan oleh Menteri Pertanian sebagai Taman Nasional dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian nomor No. 736/Mentan/X/1982 tanggal 15 Oktober 1982.
Berdasarkan SK Menteri kehutanan Nomor: 731/Kpts-II/91 tanggal 15 Oktober 1991 tentang Perubahan Fungsi Suaka Margasatwa Dumoga, Suaka Margasatwa Bone dan Cagar Alam Bulawa di Kabupaten Daerah Tingkat II Bolaang Mongondow dan Kabupaten Daerah Tingkat II Goprontalo, Propinsi Daerah tingkat I Sulawesi Utara seluas :287.115 Hektar menjadi Taman Nasional.
Kemudian berdasarkan SK Menteri Kehutanan Nomor: 724/Kpts-II/93 tanggal 8 Nopember 1993 tentang Penetapan Kelompok Hutan Suaka Margasatwa Dumoga, Suaka Margasatwa Bone dan Cagar Alam Bulawa di Kabupaten Daerah tingkat II Gorontalo dan Kabupetn daerah Tingkat II Bolaang Mongondow Propinsi Daerah tingat I Sulawesi Utara, seluas 287.115 (dua ratus delapan puluh tujuh ribu seratus lima belas) hektar, sebagai Kawasan Hutan Tetap dengan fungsi Taman Nasional.
Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: SK. 325/Menhut-II/2010 tanggal 25 Mei 2010 tentang Penunjukan Kawasan Hutan Provinsi Gorontalo Menteri Kehutanan Republik Indonesia. Terdapat perubahan luas kawasan TN. Bogani Nani Wartabone di daerah Bone Bolango.
Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: SK 434/Menhut-II/2013 tanggal 17 Juni 2013 tentang Perubahan Peruntukan Kawasan Hutan Menjadi Bukan Kawasan Hutan Seluas ± 6.334 (Enam Ribu Tiga Ratus Tiga Puluh Empat) Hektar, Perubahan Fungsi Kawasan Hutan seluas ± 761 (Tujuh Ratus Enam Puluh Satu) Hektar dan Penunjukan Bukan Kawasan Hutan Menjadi Kawasan Hutan Seluas ± 290 (Dua Ratus Sembilan Puluh) Hektar di Provinsi Sulawesi Utara. Tidak ada perubahan luas kawasan TN. Bogani Nani Wartabone di Propinsi Sulawesi Utara
Berdasarkan surat keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 734/Menhut-II/2014 tanggal 2 September 2014 tentang Kawasan hutan dan Konservasi Perairan Provinsi Sulawesi Utara. yang secara khusus belum ada penetapan untuk kawasan TNBNW di wilayah Propinsi Sulawesi Utara.
Taman Nasional Bogani Nani Wartabone adalah Kawasan Konservasi darat terluas di Pulau Sulawesi. terdapat satwa endemik dengan 3 satwa prioritas yaitu Maleo, Anoa dan Bairusa
Spesies mandat merupakan jenis tumbuhan dan satwa liar yang menjadi prioritas pengelolaan dan perlindungan berdasarkan tingkat ancaman, nilai konservasi, serta kebijakan nasional dan internasional.
Julang sulawesi (Aceros cassidix) adalah spesies burung rangkong dalam famili Bucerotidae. Burung ini endemik di Sulawesi. Di daerah Minahasa. burung ini dikenal dengan nama Burung Taong. Panjang tubuh dapat mencapai 100 cm pada jantan, dan 88 cm pada betina. Julang Sulawesi memiliki tanduk (casque) yang besar di atas paruh, berwarna merah pada jantan dan kuning pada betina. Paruh berwarna kuning dan memiliki kantung biru pada tenggorokan
Babirusa sulawesi adalah satu dari tiga jenis babirusa di dunia, dengan status dilindungi oleh Pemerintah Indonesia berdasarkan PP no. 7/1999 dan secara global berstatus rentan (VU). Jenis ini biasa hidup berkelompok, di hutan-hutan primer dataran rendah Sulawesi. Walaupun IUCN memperkirakan babirusa di sebagian Sulawesi Utara telah punah secara lokal, namun di TN Bogani Nani Wartabone (282.089,93 ha), babirusa Sulawesi termasuk cukup mudah dijumpai.
Anoa (Bubalus sp.) adalah mamalia terbesar dan endemik yang hidup di daratan Pulau Sulawesi dan Pulau Buton. Banyak yang menyebut anoa sebagai kerbau kerdil. Anoa merupakan hewan yang tergolong fauna peralihan. Anoa merupakan mamalia tergolong dalam famili bovidae yang tersebar hampir di seluruh pulau Sulawesi. Kawasan Wallacea yang terdiri atas pulau Sulawesi, Maluku, Halmahera, Kepulauan Flores, dan pulaupulau kecil di Nusa Tenggara. Wilayah ini unik karena banyak memiliki flora dan fauna yang endemik dan merupakan kawasan peralihan antara benua Asia dan Australia. Salah satu kawasan yang memiliki flora dan fauna endemik Sulawesi antara lain Kawasan Poso. Anoa (Bubalus sp.) merupakan salah satu satwa endemik yang dilindungi yang menjadi ciri khas Pulau Sulawesi yang turut mendiami Kawasan Hutan Lindung Desa Sangginora Kabupaten Poso. Anoa tergolong satwa liar yang langka dan dilindungi Undang-Undang di Indonesia sejak tahun 1931 dan dipertegas dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999.
Maleo Senkawor (Macrocephalon maleo) adalah sejenis burung gosong berukuran sedang, dengan panjang sekitar 55cm, dan merupakan satu-satunya burung di dalam genus tunggal Macrocephalon. Yang unik dari maleo adalah, saat baru menetas anak burung maleo sudah bisa terbang. Ukuran telur burung maleo beratnya 240 gram hingga 270 gram per butirnya, ukuran rata-rata 11 cm, dan perbandingannya sekitar 5 hingga 8 kali lipat dari ukuran telur ayam. Namun saat ini mulai terancam punah karena habitat yang semakin sempit dan telur-telurnya yang diambil oleh manusia. Burung ini memiliki bulu berwarna hitam, kulit sekitar mata berwarna kuning, iris mata merah kecoklatan, kaki abu-abu, paruh jingga dan bulu sisi bawah berwarna merah-muda keputihan. Di atas kepalanya terdapat tanduk atau jambul keras berwarna hitam. Jantan dan betina serupa, biasanya betina berukuran lebih kecil dan berwarna lebih kelam dibanding burung jantan.
Secara administratif pemerintahan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone terletak di 2 (dua) Propinsi yaitu Propinsi Sulawesi Utara dan Propinsi Gorontalo serta 4 (empat) Kabupaten yakni Kab. Bolaang Mongondow, Kab. Bolaang Mongondow Selatan, Kab. Bolaang Mongondow Utara dan Kab. Bone Bolango. Secara geografis Taman Nasional Bogani Nani Wartabone terletak diantara 0° 25’ – 0° 51’ Lintang Utara dan 123° 06’ - 124° 18’ Bujur Timur.