Jumat, 2 Jan 2026

Taman Nasional
Bunaken

Taman Nasional (TN) Bunaken memiliki luas 73.941,78 hektar . Secara administratif, kawasan ini terletak di Provinsi Sulawesi Utara.

Logo Kementerian Kehutanan
# Rencana Pengelolaan Kawasan

Untuk mencapai tujuan pengelolaan sebagaimana tertuang dalam visi dan misi pengelolaan Taman Nasional Bunaken (TNB), dilakukan identifikasi terhadap faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan. Dengan menggunakan analisa SWOT (Strenght, Weakness, Oppertunity & Threat), hasil identifikasi faktor tersebut kemudian digunakan untuk menyusun strategi pengelolaan, yang selanjutnya dijabarkan dalam rencana kegiatan. Analisa dan proyeksi SWOT antara lain digunakan untuk mendapatkan alternatif kegiatan dalam perencanaan yang dapat dituangkan berdasarkan prioritas. Berdasarkan hasil analisa SWOT terhadap seluruh parameter pencapaian visi dan misi pengelolaan TNB, strategi yang akan ditempuh adalah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif (Agresive Strategy).

Dalam strategi agresif, Balai TNB menitikberatkan faktor kekuatan yang dimiliki untuk memanfaatkan peluang yang ada. Strategi ini dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan pengelolaan TNB selama periode 2019-2028, yakni :
1. Melestarikan ekosistem Laut dan Daratan Taman Nasional Bunaken.
2. Melestarian manfaat sumber daya alam hayati dan ekosistem Taman Nasional Bunaken untuk kepentingan pendidikan, penelitian, menunjang budidaya dan pariwista alam.
3. Memantapkan kerja sama dengan para pihak untuk pengelolaan Taman Nasional Bunaken.
4. Menyediakan peluang usaha bagi masyarakat dan dunia usaha

# Foto Kawasan

Gallery foto kawasan TN Bunaken.

Penyu Hijau Terperangkap Jaring Nelayan di Tatapaan
# Sejarah Kawasan
1. Pulau Bunaken dan sekitarnya dikenal sebagai obyek wisata sudah sejak sekitar tahun 1978 dimana pada tahun tersebut sudah ada beberapa aktivitas yang dilakukan di sekitar gugus pulau Bunaken seperti pengusahaan ikan hias, penelitian taman laut oleh PT. Ida Cipta dan pembangunan pantai Liang.

2. Pada tahun 1979, kegiatan pariwisata di sekitar Bunaken ini kemudian dimulai secara formal setelah dipublikasikannya Hasil Penelitian Taman Laut oleh PT. Ida Cipta serta adanya kunjungan dari Pangeran Bernardt dari Kerajaan Belanda pada tahun yang sama.

3. Pada tahun 1980, Pemda Tingkat I Propinsi Sulawesi Utara mulai mempromosikan Taman Laut Bunaken dengan mengeluarkan SK.Gubernur No. 224/1980 tentang Perlindungan, Pengamanan dan Pengembangan Obyek Pariwisata Taman Laut Manado, Kawasan Bunaken ditunjuk sebagai Obyek Wisata Manado meliputi wilayah Pulau Bunaken, Siladen dan sekitarnya.

4. Pada tahun 1984 kembali dikeluarkan SK. Gubernur No. 201/1984 yang berisi penetapan mengenai Perluasan Obyek Wisata Manado hingga wilayah Arakan-Wawontulap. Instansi yang ditunjuk untuk pengelolaan tersebut adalah Dinas Pariwisata Daerah. Pada masa tersebut pernah muncul beberapa konflik antara Pemerintah Daerah dengan masyarakat lokal menyusul munculnya rencana relokasi penduduk dari dalam Kawasan. Penolakan sangat kuat muncul dari masyarakat sehingga pada akhirnya rencana tersebut tidak direalisasikan.

5. Pada tahun 1986 dikeluarkan SK. Menteri Kehutanan No. 328/Kpts.-II/86 yang menetapkan kawasan Pulau Bunaken ini menjadi Taman Nasional Bunaken Laut Bunaken- Manado Tua yang meliputi Pulau Bunaken, Pulau Manado Tua, Pulau Siladen dan pesisir sekitar Tanjung Pisok untuk wilayah utara dan untuk wilayah selatan ditetapkan sebagai Taman Nasional Bunaken Laut Arakan-Wawontulap yang meliputi kawasan Arakan hingga Wawontulap. Selanjutnya kewenangan pengelolaan berpindah pada Pemerintah Pusat melalui Instansi Teknis Departemen Kehutanan dalam hal ini Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam. 

6. Tahun 1989 dikeluarkan lagi SK. Menteri Kehutanan No. 444/Menhut-II/89 yang menetapkan Taman Nasional Bunaken Laut Bunaken-Manado Tua dan Taman Nasional Bunaken Laut Arakan-Wawontulap ini sebagai Calon Taman Nasional dengan menggabungkan keduanya dengan nama Taman Nasional Bunaken.

7. Pada tanggal 15 Oktober 1991 berdasarkan SK. Menteri Kehutanan No. 730/Kpts.-II/1991, resmi ditunjuk sebagai Kawasan Taman Nasional Bunaken dengan total luas wilayahnya mencapai 89.065 hektar. Peresmian Taman Nasional Bunaken ini dilakukan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 21 Desember 1992 di Manado. 

8. Pada Tahun 2014 dilakukan Review Tata Ruang , hingga terbit Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.734/Menhut-II/2014 tanggal 2 September 2014 tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Konservasi Perairan Provinsi Sulawesi Utara, luas kawasan TN Bunaken 73.983,29 Ha.  
# Keunikan

 Kawasan Taman Nasional Bunaken memiliki nilai konservasi sangat tinggi yang didukung oleh keanekaragaman hayati laut dan pesisir dengan komponen penyusun utama yakni ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove, padang lamun dan biota lainnya.

# Nilai Konservasi

Berdasarkan mandat pengelolaan TN Bunaken, maka beberapa nilai penting kawasan TN Bunaken antara lain:
1. Satwa duyung (Dugong-dugon)
2. Ekosistem terumbu karang
3. Satwa dilindungi penyu sisik (Lepidochelys olivacea), dan penyu hijau (Chelonia mydas)
4. Keanekaragaman ikan karang hias. 

# Spesies Mandat (4)

Spesies mandat merupakan jenis tumbuhan dan satwa liar yang menjadi prioritas pengelolaan dan perlindungan berdasarkan tingkat ancaman, nilai konservasi, serta kebijakan nasional dan internasional.

Penyu hijau Chelonia mydas

Penyu hijau (Chelonia mydas) memiliki karapas yang melebar. Bagian karapasnya berwarna kehitaman atau kuning kehijauan, sedangkan bagian tepi karapasnya berwarna putih tipis. Selain itu, penyu hijau juga memiliki plastron yang berwarna putih. Jumlah scales dan scutes pada penyu jenis ini sama. Kepala penyu hijau relatif kecil dan tumpul. Ukuran panjang penyu hijau adalah antara 80-150 cm dengan berat yang dapat mencapai hingga 132 kg. Penyu jenis ini merupakan satu-satunya penyu yang herbivora. Makanan utama mereka adalah lamun dan alga laut, tetapi pada fase tukik, mereka diasumsikan sebagai omnivora untuk mempercepat pertumbuhan tubuh mereka.

Dugong dugon

Duyung atau dugong (Dugong dugon) adalah sejenis mamalia laut yang merupakan salah satu anggota Sirenia atau sapi laut yang masih bertahan hidup selain manatee dan mampu mencapai usia 22 sampai 25 tahun. Duyung bukanlah ikan karena menyusui anaknya dan masih merupakan kerabat evolusi dari gajah. Ia merupakan satu-satunya hewan yang mewakili suku Dugongidae. Selain itu, ia juga merupakan satu-satunya lembu laut yang bisa ditemukan di kawasan perairan sekurang-kurangnya di 37 negara di wilayah Indo-Pasifik, walaupun kebanyakan duyung tinggal di kawasan timur Indonesia dan perairan utara Australia.

Penyu sisik Eretmochelys imbricata

Penampilan penyu sisik mirip dengan penyu lainnya. Penyu ini umumnya memiliki bentuk tubuh yang datar, dengan sebuah karapaks sebagai pelindung, dan sirip menyerupai lengan yang beradaptasi untuk berenang di samudra terbuka. Perbedaan E. imbricata dari penyu lainnya yang sangat mudah dibedakan adalah paruhnya yang melengkung dengan bibir atas yang menonjol, dan tampilan pinggiran cangkangnya yang seperti gergaji. Cangkang penyu sisik dapat berubah warna, sesuai dengan temperatur air. Walaupun penyu ini menghabiskan separuh hidupnya di samudra terbuka, sesekali mereka juga mendatangi laguna yang dangkal dan terumbu karang.

Penyu lekang Lepidochelys olivacea

Karapas penyu lekang berbeda dengan jenis penyu lainnya, lateral scutes nya berjumlah 6 sampai 10 buah pada kedua sisi karapas dan karapas relatif melebar serta berwana abu-abu kehijauan dengan ruas–ruas yang memanjang neural. Bentuk tubuh seperti piring (dish-shaped), batoknya meluas sesuai dengan panjangnya dan dibandingkan dengan penyu yang lain. Penyu lekang adalah penyu paling kecil dengan berat 31-43 kg. Bersifat vegetarian atau pemakan lamun.

# Kondisi Fisik

Kawasan Taman Nasional Bunaken merupakan kawasan konservasi yang terdiri dari wilayah perairan, pesisir daratan, serta pulau-pulau sehingga terbentuk beraneka tipe ekosistem dengan segala potensinya. Luas kawasan Taman Nasional Bunaken berdasarkan SK. Menteri Kehutanan No. 730/Kpts.-II/1991 tanggal 15 Oktober 1991 Tentang adalah 89.065 Ha. 

Adapun secara administratif berada di wilayah Kota Manado, Kab. Minahasa, Kab. Minahasa Utara dan Kab. Minahasa Selatan dengan jumlah keseluruhan desa/kelurahan sebagai Daerah Penyangga di dalam dan sekitar kawasan TN Bunaken berjumlah 25 desa/kelurahan.

Adapun wilayah TN Bunaken adalah bagian utara meliputi 2 kecamatan , yaitu
1. Kecamatan Bunaken Kota Manado, terdiri dari 3 pulau yaitu Bunaken, Manado Tua, Siladen dan pesisir kelurahan Molas, Meras, Tongkaina
2. Kecamatan Wori Kab. Minahasa Utara, terdiri dari pulau Mantehage, dan Nain serta desa Tiwoho.
Sedangkan wilayah TN Bunaken bagian selatan meliputi 2 kecamatan yaitu:
1. Kecamatan Tombariri Kab. Minahasa, terdiri dari pesisir Tanjung Kalapa Desa Poopoh, Teling, Kumu dan Pinasungkulan.
2. Kecamatan Tatapaan Kab. Minahasa Selatan, terdiri dari pesisir Desa Arakan, Rap-Rap, Sondaken, Pungkol, Wawontulap dan Popareng.

# Topografi

Taman Nasional Laut Bunaken memiliki kawasan berupa perairan dengan topografi yang beragam mulai dari landai, rataan, hingga curam. Terdapat gunung yang sudah tidak aktif yaitu Gunung Manado Tua dengan ketinggian +/ 800 mdpl dengan hutan lindung di kawasan puncaknya. Terumbu karang juga terdapat di tepi tebing yang curam. Di Pulau Nain terdapat pula karang penghalang yang mengelilingi laguna dan terumbu karang.

# Letak Ketinggian (m.dpl)
50 - 800
# Jenis Tanah
Tanah di sebagian wilayah TN Bunaken bagian utara berasal dari batuan vulkanik yang bersifat Andesit- Basalt (Meliputi P. Manado Tua, P. Nain, sebagian P. Bunaken dan wilayah pesisir daratan P. Sulawesi di TN Bunaken bagian utara dan bagian selatan).

Sedangkan sebagian wilayah lainnya merupakan bentukan endapan (aluvial) yang dapat berasal dari batuan gunung atau endapan karang. Namun demikian tipe-tipe tanah dikawasan TN. Bunaken relative beraneka ragam sesuai dengan karakteristik geologisnya.

Deskripsi tanah dan geologi yang diuraikan disini hanya merupakan gambaran umum. Peta jenis tanah secara rinci di Sulawesi Utara belum ada, karena hanya ada peta tanah skala tinjau (Rtk-RHL DAS, BP DAS Tondano Tahun 2009). 
# Geologi

Kawasan Taman Nasional Bunaken terdiri dari perairan laut dan pulau-pulau kecil.  Ujung barat pulau Bunaken, pulau Siladen, pulau Nain dan pulau Mantehage serta sebelah utara Tanjung Pisok terbentuk dari batu gamping asal terumbu karang.  Pulau Manado Tua dan bagian tengah pulau Bunaken terbentuk pada masa pembentukan gunung api di Rataan Minahasa.  Wilayah Arakan-Wawontulap terdapat batuan yang seusia tufa vulkanik trakit yang sangat lapuk.  Dari Poopoh hingga Tatapaan di bagian pesisirnya terdapat endapan sungai dan tanah alluvium.

# DAS/Sub DAS

Berdasarkan karakter biofisiknya letak dan keadaan DAS di Taman Nasional Bunaken terbagi atas :
1. Bagian pulau-pulau (P. Bunaken, P. Siladen, P. Manado Tua, P. Mantehage, dan P. Nain), merupakan wilayah DAS kepulauan yang termasuk dalam kategori satuan pengelolaan wilayah daerah aliran sungai (SWP DAS) pulaupulau kecil. DAS yang terbentuk dari pulau- pulau sebagian besar dihadapkan pada masalah kekeringan, dengan dominasi penggunaan lahan perkebunan kelapa dan kebun campuran (kelapa, pala, cengkih). Luas DAS Bunaken dan sekitarnya adalah 4294,02 Ha.
2. Bagian Pesisir Utara termasuk dalam satuan pengelolaan wilayah daerah aliran sungai (SWP DAS) Likupang.
3. Bagian Pesisir Selatan termasuk dalam satuan pengelolaan wilayah daerah aliran sungai (SWP DAS) Tumpaan
4. Terdapat DAS yang tidak termasuk dalam kawasan TN Bunaken, akan tetapi dimungkinkan mempunyai dampak secara langsung terhadap kawasan yaitu satuan pengelolaan wilayah (SWP DAS) Tondano. DAS Likupang dan DAS Pulau Bunaken dan sekitarnya merupakan salah satu wilayah DAS paling utara di daratan Pulau Sulawesi.

# Tipe Iklim

Iklim daerah Sulawesi Utara termasuk tropis yang dipengaruhi oleh angin muson. Pada bulan - bulan Nopember sampai dengan April bertiup angin Barat yang membawa hujan di pantai Utara, sedangkan dalam Bulan Mei sampai Oktober terjadi perubahan angin Selatan yang kering.

Demikian pula iklim di daerah TN. Bunaken pada umumnya adalah iklim basah tropis katulistiwa (BMKG 2010). Berdasarkan Schmidt dan Ferguson (1951) terdapat dua zona iklim di dalam TN Bunaken, yaitu zona A dan B4 TN. Bunaken bagian Utara termasuk Zona A (Q = 0 – 14, dimana terdapat 10 atau lebih bulan basah dalam satu tahun TN. Bunaken bagian selatan termasuk Zona B (Q = 14,3 - 33,3), dimana 7 hingga 9 bulan pertahun adalah bulan basah (Whitten et al 1987).

Klasifikasi tersebut berdasarkan rumus Q = bulan basah/bulan kering × 100, dimana bulan basah >100 mm curah hujan rata-rata dari bulan kering < 60>

# Curah Hujan (mm)
3000.0
# Temperatur (0C)
26 - 31
# Kelembaban (%)
82,37 - 88,50