Jumat, 2 Jan 2026
Taman Nasional (TN) Kutai memiliki luas 192.596,23 hektar . Secara administratif, kawasan ini terletak di Provinsi Kalimantan Timur.

Penyusunan rencana pengelolaan jangka panjang, Taman Nasional Kutai berpegang pada isu terkini yang melanda kawasan saat ini. Isu-isu strategis yang terjadi di kawasan secara umum dibagi menjadi tiga bagian besar yaitu: 1) Rencana Pengelolaan Taman Nasional Kutai 2018 – 2027 iii konflik ruang dan sumberdaya alam, 2) kelembagaan dan tata kelola kawasan dan 3) integrasi konservasi dalam pembangunan ekonomi. Berdasar pada isu-isu strategis tersebut maka dalam rencana pengelolaan jangka pajang Taman Nasional Kutai 2016-2025 ini memiliki visi yaitu “Optimalnya Peran Taman Nasional Kutai Sebagai Habitat Terbaik Orangutan Morio dan Bagi Kesejahteraan Masyarakat” dengan menjalan misi sebagai berikut : 1) Menjaga keutuhan kawasan dan memulihkan ekosistem yang rusak, 2) Melindungi dan mengamankan populasi dan habitat orangutan morio dan flora fauna langka lainnya, 3) Melakukan inventarisasi dan memonitoring flora dan fauna Taman Nasional Kutai, 4) Memberikan penyadartahuan tentang pelestarian Taman Nasional Kutai, 5) Meningkatkan pemanfaatan Taman Nasional Kutai bagi kesejahteraan masyarakat, 6) Memperkuat kelembagaan Taman Nasional Kutai.
Gallery foto kawasan TN Kutai.
Kawasan ini semula berstatus sebagai Hutan Persediaan dengan luas 2.000.000 ha berdasarkan Surat Keputusan (SK) Pemerintah Belanda (GB) No. 3843/AZ/1934, yang kemudian oleh Pemerintah Kerajaan Kutai ditetapkan menjadi Suaka Margasatwa Kutai dengan SK (ZB) No. 80/22-ZB/1936 dengan luas 306.000 ha.
Sejak keberadaan TNK memang tidak pernah lepas dari konflik kepentingan. Berdasarkan data yang ada, dalam kurun waktu 67 tahun terakhir terhitung sejak tahun 1934 sampai tahun 2001 kawasan ini terus mengalami pengurangan luas secara drastis
Taman Nasional Kutai sebagai satu-satunya taman nasional di Provinsi Kalimantan Timur merupakan salah satu perwakilan hutan hujan tropis yang tersisa yang memiliki peran sangat penting tidak hanya sebagai water reservoir, tetapi juga sebagai genetic reservoir untuk menyuplai sumber daya genetik dan sumber cadangan benih yang tinggi (Moeliono dan Purwanto, 2008) serta menjadi rumah bagi populasi spesies endemik yaitu orangutan, Pongo pygmaeus morio, yang populasinya berada dalam kondisi kritis (Lee et.al., 2019). "Discover the secret of Borneo lowland rainforest" demikian slogan yang disematkan untuk mengggambarkan hutan hujan dataran rendah Kalimantan yang berada di dalam Kawasan Taman Nasional Kutai, yang harus dijelajahi sehingga dapat mengetahui kekayaan di dalamnya. Keunikan-keunikan ini menjadi alasan bagi Taman Nasional Kutai menjadi salah satu tujuan wisata tidak hanya di tingkat lokal. Buku/situs Lonely Planet yang menjadi rujukan bagi para traveller seluruh dunia bahkan merekomendasikan Taman Nasional Kutai sebagai salah satu destinasi yang wajib dikunjungi.
Salah satu alasan utama kawasan ini ditunjuk sebagai Taman Nasional adalah kerena keanekaragaman hayati (kehati) yang sangat tinggi, baik kehati tingkat genetik, spesies maupun ekosistem. Taman Nasional Kutai merupakan kawasan hutan hujan Dipterocarpaceae dataran rendah yang memiliki beragam potensi flora dengan jumlah mencapai 958 jenis. Diantara jenis-jenis tersebut, 8 dari 10 genus dalam famili Dipterocarpaceae di dunia ada di Taman Nasional Kutai yaitu: Anisoptera sp., Cotylelobium sp., Dipterocarpus sp., Dryobalanops sp., Hopea sp., Parashorea sp., Shorea sp. dan Vatica sp.
Tumbuhan gaharu (Aquilaria beccariana dan A. malaccensis), kantong semar (Nepenthes mirabilis), dan anggrek (Acriopsis indica, Bulbophyllum sp., Dendrobium anosmum, Eulophia nuda, Gramatophyllum speciosum, Luisia sp. Phalaenopsis cornucervi, Phalaenopsis gigantea, Robiquetia sp., Spathoglottis sp,. Sarcanthus subulatus, Thecostele alata) yang berada di dalamnya merupakan flora yang termasuk dalam daftar CITES dan keberadaannya semakin langka (Appendix II) (2005).
Dari hasil inventarisasi, ada 220 jenis tumbuhan tumbuhan berkhasiat obat. Salah satu tumbuhan berkhasiat obat yang merupakan tumbuhan endemik Kalimantan adalah pasak bumi (Eurycoma longifolia). Jenis-jenis tumbuhan mangrove dan jamur yang masih banyak belum teridentifikasi juga ada di Taman Nasional Kutai.
Selain kekayaan flora, Taman Nasional Kutai juga memiliki beragam jenis fauna. Taman Nasional Kutai memiliki 80% dari seluruh jenis burung di Borneo yaitu sebanyak 330 jenis. Kawasan ini juga mengandung lebih dari separuh jenis mamalia Borneo yaitu sebanyak 80 jenis dan di antaranya adalah 11 dari 13 jenis primata Borneo termasuk orangutan (Pongo pygmaeus), Satu-satunya kera besar di Asia yang sedang terancam keberadaannya. Empat jenis reptilia langka menurut CITES juga dapat ditemui di kawasan ini, yaitu Crocodylus porosus (buaya muara-Appendix I), Tomistoma schlegellii(Buaya senyulong-Appendix I) Varanus salvator(Biawak-Appendix II), Python reticulatus(Ular-Appendix II). Potensi serangga dan hewan lunak yang belum tergali menjadi bagian dari keanekaragaman hayati Taman Nasional Kutai.
Primata dan Mamalia; Taman Nasional Kutai dikenal memiliki keanekaragaman jenis satwa penting, terutama mamalia. Walaupun beberapa sudah punah, seperti badak, namun lebih dari separuh mamalia Kalimantan tercatat ada di sini. Mamalia yang menjadi daya tarik di Taman Nasional Kutai adalah Pongo pygmaeus morio. Di Taman Nasional Kutai terdapat 11 dari 13 spesies primata Kalimantan, diantaranya 5 jenis yang endemik Kalimantan. Selain orangutan, terdapat Bekantan (Nasalis larvatus) yang dapat dijumpai pada hutan bakau dan hutan di sepanjang sungai, serta Owa-owa (Hylobates muelleri).
Satwa lain yang dapat dijumpai di Taman Nasional Kutai adalah banteng (Bos javanicus), rusa sambar (Cervus unicolor), kijang (Muntiacus muntjak dan Muntiacus atherodes), dan kancil (Tragulus napu dan Tragulus javanicus), beruang madu (Helarctos malayanus), macan dahan (Neofelis nebulosa) dan kucing berbercak (Felis bengalensis). Satwa-satwa ini masih dapat dijumpai, baik secara langsung maupun melalui jejak-jejaknya di berbagai bagian Taman Nasional Kutai.
Burung ; Taman Nasional Kutai diketahui didiami oleh 330 species burung yang merupakan lebih dari separuh dari seluruh jumlah burung di Kalimantan. Sebelum kebakaran hutan tahun 1983, kawasan ini memiliki 80% jenis burung hutan Kalimantan, Petocz dkk pada 1990 mencatat masih ada sekitar 224 jenis burung di dalam Taman Nasional Kutai dan diantaranya termasuk jenis endemik, seperti Pitta baudi, Ptilocichla leucogrammica, Naphotera atrigularis, Prionochilus xanthopygius, dan Pityriasis gymnocephala. Diantara burung di Taman Nasional Kutai, terdapat 9 jenis berstatus rentan (Vulnerable) dan 17 jenis berstatus terancam punah (endangered), seperti Egretta sacra, Accipiter soloensis, Sturnus sinensis, Lanius schach, Pericrocotus ignaeus, Pericrocotus divaricatus.
Sementara itu Holmes, D. et.al (2001) menambahkan bahwa Taman Nasional Kutai termasuk daerah yang penting bagi burung Kalimantan, meskipun telah mengalami kebakaran dua kali. Taman Nasional Kutai masih memiliki nilai penting bagi cangak laut (Ardea sumatrana) dan bangau tongtong (Loptoptilos javanicus), dan spesies burung penting lainnya seperti kuntul cina (Eggreta eulophotes), punai besar (Treron capellei), paok kepala biru (Pitta baudii), cucak rawa ( Pynonotus zeylanicus) serta burung-burung lahan basah yang bermigrasi.
Reptilia; Buaya muara, buaya senyulong, biawak, ular kobra, ular pyton, kadal terbang masih dapat dijumpai di Taman Nasional Kutai, walau kadangkadang berkonflik dengan manusia karena habitatnya yang rusak. Buaya muara (Crocodylus porosus) yang hidup di muara-muara sungai seperti Muara Sungai Sangkima, Teluk Pandan dan Kandolo, dilaporkan berkonflik dengan manusia karena habitatnya yang terganggu oleh pembukaan lahan untuk tambak.
Spesies mandat merupakan jenis tumbuhan dan satwa liar yang menjadi prioritas pengelolaan dan perlindungan berdasarkan tingkat ancaman, nilai konservasi, serta kebijakan nasional dan internasional.
Orangutan Kalimantan, Pongo pygmaeus, adalah spesies orangutan asli pulau Kalimantan. Bersama dengan orangutan Sumatra yang lebih kecil, orangutan Kalimantan masuk kedalam genus pongo yang dapat ditemui di Asia. Orangutan Kalimantan memiliki lama waktu hidup selama 35 sampai 40 tahun di alam liar, sedangkan di penangkaran dapat mencapai usia 60 tahun
Berdasarkan SK Menteri kehutanan No. 4194/Menhut-VII/KUH/2014 tanggal 10 Juni 2014 tentang Penetapan Kawasan Hutan Taman Nasional Kutai, luasan Taman Nasional Kutai adalah seluas 192.709,55 Ha. Taman Nasional Kutai secara administrasi pemerintahan terletak di Kota Bontang (0,36%),Kabupaten Kutai Kartanegara (12,88%) dan Kabupaten Kutai Timur (86,75%), Propinsi Kalimantan Timur. Secara geografis, TN Kutai terletak di 0°7’54” - 0°33’53” Lintang Utara dan 116°58’48” - 117°35’29” Bujur Timur.
Secara fisiografis permukaan tanah bergelombang ringan, sedang sampai sampai berat dan dibagian barat dan utara berbukit – bukit sampai dengan bergunung dengan ketinggian 0- 400 mdpl.
Geologi TN Kutai mencakup enam formasi yang strukturnya mempunyai kecenderungan untuk mengarah utara selatan yang tercermin dalam orientasi dan pengaturan kawasan yang tersusun atas 3 jenis batuan. Struktur bawah permukaan merupakan synclines yang kompleks, yang dipotong oleh lipatan dan patahan dan muncul dalam bentuk topografi berupa deretan punggung bukit dan lembah yang saling bergantian yang dibentuk oleh erosi yang berbeda-beda dari batuan-batuan dibawahnya
Struktur Geologi TN Kutai
| No. | Geologi | Lokasi |
| 1. | Batuan sedimen aluvial induk dan terumbu karang | Bagian pantai |
| 2. | Batuan sedimen miosen atas | Bagian tengah |
| 3. | Batuan sedimen miosen bawah | Bagian barat |
Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson, TN Kutai beriklim tipe B dengan nilai Q berkisar antara 14,3 % - 33, 3 %. Curah hujan rata-rata setahun mencapai 2000mm dengan rata-rata hari hujan setahun 66,4 hari atau rata-rata bulanan 5,5 hari. Suhu rata-rata adalah 26oC (berkisar antara 21-34oC) dengan kelembaban relatif 67 - 90% dan kecepatan angin normal rata-rata 2 – 4 knot/jam (Site Plan Kepariwisataan TN Kutai, 1995). Kalimantan Timur juga mengalami periode musim kering yang panjang sebagaimana terjadi dalam tahun 1963-1965, 1972-1973, 1977-1979 dan 1982-1983, 1987 serta 1997-1998. Periode musim kemarau panjang ini diduga berkaitan dengan osilasi elnino (Leighton dan Wirawan, 1985). Kemarau tahun 1982-1983 dan 1997-1998 diikuti oleh kebakaran hutan yang melanda TN Kutai.