Jumat, 2 Jan 2026
Taman Nasional (TN) Kayan Mentarang memiliki luas 1.271.700,00 hektar . Secara administratif, kawasan ini terletak di Provinsi Kalimantan Utara.

Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) ditunjuk sebagai Kawasan Konservasi berdasarkanSurat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 631/Kpts-II/1996 tanggal 07 Oktober 1996. Kawasan TNKM merupakan perwakilan ekosistem Pulau Kalimantan dan salah satu taman nasional terluas di semenanjung Asia. Kawasan ini ditunjuk sebagai kawasan konservasi dengan pertimbangan keberadaan ekosistem yang memiliki potensi sumberdaya alam hayati dengan keanekaragaman yang tinggi sertakeunikan dan kekhasan gejala alam dengan fenomena alam yang indah. Bentang alam yang belum banyak terjamah tersebut dapat dikembangkan sebagai laboratorium alam untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan konservasi alam serta kepentingan ekowisata. Ekosistem hutan hujan TNKM juga merupakan daerah tangkapan air (catchment area) bagi beberapa sungai penting di Provinsi Kalimantan Utara.
Gallery foto kawasan TN Kayan Mentarang.
Taman Nasional Kayan Mentarang pertama kali ditetapkan oleh Pemerintah melalui Keputusan Menteri Kehutanan No. 631/Kpts-II/1996 tanggal 7 Oktober 1996 dengan luas sekitar 1.360.500 hektar. Sebelumnya kawasan ini berstatus sebagai Cagar Alam Kayan Mentarang yang ditetapkan oleh Pemerintah pada tahun 1980 melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 847/Kpts/Um/II/1980.
Perubahan status dari Cagar Alam menjadi Taman Nasional ini karena dua alasan mendasar, yaitu kawasan Kayan Mentarang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan beberapa diantanya bersifat endemik, serta di beberapa daerah bermukim masyarakat tradisional etnis dayak yang keberadaannya perlu diperhatikan.
Dalam SK Penunjukan, TNKM memiliki mandat melestarikan keanekaragaman hayati berupa potensi tumbuhan satwa dan ekosistemnya seperti 96 jenis mamalia, 200 jenis aves dan berbagai jenis tumbuhan endemik. Selain itu, TNKM merupakan tempat kehidupan masyarakat tradisional etnis Dayak yang keberadaannya perlu diperhatikan. Sedangkan, mandat berdasarkan National Conservation Plan for Indonesia adalah perlindungan hutan untuk daerah tangkapan air, perlindungan hutan perbukitan dan pegunungan, tumbuhan satwa termasuk banyak spesies endemik Borneo.
Spesies mandat merupakan jenis tumbuhan dan satwa liar yang menjadi prioritas pengelolaan dan perlindungan berdasarkan tingkat ancaman, nilai konservasi, serta kebijakan nasional dan internasional.
Salah satu spesies burung yang berada di dalam kawasan TNKM dan tersebar hampir merata di seluruh kawasan. Spesies ini diidentifikasi melalui perjumpaan langsung, suara yang khas, bekas sarang, bekas areal menari, dan helai bulu yang khas. Identifikasi jenis ini mulai dilakukan oleh tim petugas patroli TNKM semenjak 2021 dan pada tahun 2022 dilakukan monitoring khusus untuk mengidentifkasi sebaran jenis burung ini.
Banteng (Bos javanicus) adalah hewan yang sekerabat dengan sapi dan ditemukan di Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Kalimantan, Jawa, dan Bali. Banteng dibawa ke Australia Utara pada masa kolonisasi Britania Raya pada tahun 1849 dan sampai sekarang masih lestari. Banteng dapat mencapai tinggi sekitar 1,6m di bagian pundaknya dan panjang badan 2,3 m. Berat banteng jantan biasanya sekitar 680 – 810 kg — jantan yang sangat besar bisa mencapai berat satu ton — sedangkan betinanya lebih ringan. Banteng memiliki bagian putih pada kaki bagian bawah dan pantat,punuk putih, serta warna putih disekitar mata dan moncongnya, walaupun terdapat sedikit dimorfisme seksual pada ciri-ciri tersebut. Banteng jantan memiliki kulit berwarna biru-hitam atau atau coklat gelap, tanduk panjang melengkung ke atas, dan punuk di bagian pundak. Sementara, betinanya memiliki kulit coklat kemerahan, tanduk pendek yang mengarah ke dalam dan tidak berpunuk. Banteng memakan rumput, bambu, buah-buahan, dedaunan, dan ranting muda. Banteng umumnya aktif baik malam maupun siang hari, tetapi pada daerah permukiman manusia, mereka beradaptasi sebagai hewan nokturnal. Banteng memiliki kecenderungan untuk berkelompok pada kawanan berjumlah dua sampai tiga puluh ekor.
Lutung banggat (Hose's langur, Presbytis hosei) adalah sebuah spesies primata dalam keluarga Cercopithecidae. Ini adalah endemik di pulau Borneo, yang meliputi Brunei, Kalimantan (Indonesia), dan Malaysia Timur. Habibat alaminya adalah hutan kering tropis atau subtropis. Hewan tersebut terancam kehilangan habitat. Hewan tersebut pertama kali diidentifikasikan di Taman Nasional Kutai dan Semenanjung Sangkulirang, Kalimantan Timur, Indonesia, pada 1985. Miller's grizzled langur, sebuah subspesies, merupakan yang paling langka dan sempat dianggap punah, sampai pers mengumumkan "penemuan kembali"nya pada Januari 2012. Populasi Miller's grizzled langur mula-mula dideskripsikan di Taman Nasional Kutai dan Semenanjung Sangkulirang, Kalimantan Timur, Indonesia, pada 1985.
Merupakan flora endemik yang tumbuh di dataran tinggi bagian utara kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang yang berbatasan langsung dengan Negara Malaysia. Spesies ini aktif dilindungi oleh Balai TNKM berkolaborasi dengan masyarakat adat setempat dengan menugaskan beberapa pemuda desa di sekitar kawasan habitat Rafflesia Pricei untuk melakukan pengamatan rutin dan pencegahan kerusakan habitat spesies tersebut.
Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) memiliki luas 1.271.696,56 hektar (berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK.4787/Menhut-VII/KUH/2014) yang terletak di 2 (dua) kabupaten, yakni Kabupaten Malinau dan Nunukan. Secara administrasi kecamatan, kawasan TNKM yang berada di Kabupaten Malinau meliputi wilayah Kecamatan Kayan Hilir, Kecamatan Pujungan, Kecamatan Bahau Hulu, Kecamatan Sungai Tubu, dan Kecamatan Mentarang Hulu. Sedangkan secara administrasi kecamatan, kawasan TNKM yang berada di Kabupaten Nunukan meliputi Kecamatan Krayan Selatan, Kecamatan Krayan dan Kecamatan Lumbis Ogong. Kawasan TNKM mencakup 11 (sebelas) wilayah adat besar, yaitu Lumbis Hulu, Krayan Hulu, Krayan Tengah, Krayan Hilir, Krayan Darat, Mentarang Hulu, Tubu, Hulu Bahau, Pujungan, Kayan Hilir dan Kayan Hulu.
Secara geografis, TNKM berada pada 40 07’ 38,94” s/d 20 08’ 48,12’’ Lintang Utara dan 1150 54’ 06,27” s/d 1140 48’ 38,90’’ Bujur Timur . Taman Nasional ini berbentuk panjang menyempit dan mengikuti batas internasional dengan negara bagian Malaysia (Sabah dan Serawak). TNKM merupakan kawasan konservasi terbesar di
Pulau Kalimantan dan termasuk salah satu yang terbesar di wilayah Asia Pasifik.
TNKM terletak di punggung pegunungan yang membentang dari Timur Laut ke Barat Laut di sepanjang perbatasan Indonesia – Malaysia hingga wilayah Kalimantan Tengah. Bagian rangkaian pegunungan tempat Taman Nasional berada biasanya disebut pegunungan Belayan–Kaba. Elevasi daerah-daerah di wilayah Taman Nasional bervariasi mulai dari 300 meter hingga lebih dari 2000 meter di atas permukaan laut. Lembah Kayan yang relatif rendah dan berbukit-bukit merupakan pengecualian dari topografi lain di wilayah Taman Nasional yang umumnya agak curam. Sekitar 50% dari wilayah Taman Nasional memiliki elevasi lebih dari 1000 meter. Gunung Siho (Gunung Menjoh) dengan ketinggian lebih dari 2000 meter terletak di tengah TNKM. Gunung Makita, saat ini tercatat dengan ketinggian 2.987 mdpl merupakan gunung tertinggi kedua di Borneo, berada di sebelah selatan tidak jauh dari batas luar Taman Nasional. Kemiringan lereng di kawasan Taman Nasional umumnya lebih dari 40%. Sekitar 75% dari wilayah pegunungan Belayan–Kaba terdiri dari batuan kapur atau bahan endapan lain dan terkadang bercampur dengan batuan metamorfik. Substrat atau bahan sisanya berasal dari batuan vulkanik, terutama basalt, tuff dan dolorit. Bukit batu kapur yang muncul ke permukaan bumi hanya terdapat dibeberapa tempat dalam kawasan, terutama di sepanjang Sungai Pujungan.
Gunung makita, gunung tertinggi ke-2 di Kalimantan
Secara geomorfologi ada dua bagian kawasan Taman Nasional yang menarik. Di wilayah Kecamatan Long Pujungan terdapat formasi endapan yang tertutup dengan lapisan batuan vulkanik dasar. Aliran sungai telah memotong batuan vulkanik tersebut dan kini sedang mengikis formasi endapan sehingga menghasilkan tebing - tebing yang tinggi pada dataran tinggi vulkanik di atas lembah-lembah, seperti yang terdapat di dataran tinggi Apo Kayan yang mendominasi bagian selatan kawasan Taman Nasional.
Di sebelah utara wilayah Kecamatan Krayan, merupakan dataran tinggi yang memiliki strata endapan yang sama seperti Long Pujungan, tetapi tidak tertutup oleh lapisan batuan vulkanik. Di masa lalu wilayah Krayan merupakan sebuah danau besar yang mengalami pengeringan secara perlahan-lahan dan meninggalkan tanah aluvial yang subur (Sellato. 1997 dalam RPTNKM 2001-2025 Buku II).
Berdasarkan tipe batuannya, jenis tanah di daerah dataran berbukit non aluvial dan pegunungan di bawah ketinggian 1000-1500 mdpl dapat dibagi menjadi 2 (dua) kelompok besar. Batu endapan merupakan bahan induk yang paling umum dimana jenis tanah semacam ini mencakup 75% dari seluruh kawasan Taman Nasional dan bersifat miskin hara.
Dibawah kondisi temperatur tinggi dan curah hujan yang umum di Taman Nasional, jenis tanah yang paling umum adalah Ultisol kemerahan dan kekuningan, berlempung dan tidak subur. Pada lereng-lereng yang terjal umumnya adalah Dystropert coklat berlempung. Tanah yang terbentuk pada batuan vulkanik memiliki tekstur halus dan struktur yang baik tetapi memiliki kemampuan yang lemah dalam mengikat zat hara. Jenis-jenis tanah ini diklasifikasikan sebagai Tropeduls dan mencakup sekitar 25% dari kawasan terutama terletak pada bagian selatan kawasan, yakni pada bagian barat Sungai Bahau.
Sejarah geologi wilayah TNKM belum sepenuhnya terungkap, tetapi hal tersebut mencakup peristiwa-peristiwa berurutan yang kompleks, mulai dari pembentukan dan perusakan lengkungan pulau dan lembah sungai, benturan antar lempengan tektonik dan banyak patahan, batuan terobosan yang disertai aktivitas vulkanik pada masa tersier (Brookfield et al., 1995 dalam RPTNKM 2001-2025 Buku II). Sejarah geologi tersebut merupakan sejarah Borneo ketika masih menjadi bagian pinggir timur daratan Sunda (Sunda Land) pada saat ada pergeseran dengan lempengan tektonik pasifik yang berdekatan.
Eksplorasi pada kawasan TNKM belum dilakukan secara lengkap dan belum dipetakan secara teliti oleh ahli geologi, tetapi tipe-tipe batuan berikut diketahui berada didalamnya, yaitu batu pasir, sedimen klastik metamorfose rendah notably quatzite, graywacke, dan jenis batu yang berasal dari gunung api, terutama basalt, tuff, dan dolorite.
Sumber air asin yang disebut “SUNGAN” oleh suku Dayak Kenyah adalah bagian terpenting dari bentuk wilayah geomorfologi. Di daerah Krayan, terdapat salah satu jenis sumber air asin yang masih digunakan untuk pembuatan garam dan merupakan bagian penting dalam perdagangan masyarakat adat setempat paling tidak sekitar 200 tahun lalu. Pada bagian lain, ada pula sumber air asin yang tidak dapat diolah menjadi garam. Kebanyakan sumber air asin merupakan tempat minum binatang seperti Babi Hutan, Rusa, Kancil, Kijang dan beberapa jenis burung atau satwa lainnya (RPTNKM 2001-2025 Buku II).
Taman Nasional ini merupakan catchment area dari 3 sungai besar di Kalimantan Utara, yakni Sungai Kayan, Sungai Sesayap dan Sungai Sembakung. Sumber air sungai Kayan berasal dari sungai Bahau Hulu dan Sungai Iwan yang letaknya berdekatan dengan batas Taman Nasional bagian selatan. Pegunungan yang berada di bagian tengah dan utara kawasan merupakan sumber air untuk Sungai Mentarang dan Sungai Tubu dimana keduanya merupakan anak sungai dari Sungai Sesayap. Anak sungai utama dari Sungai Sembakung mengalir dari bagian utara kawasan Taman Nasional. Di kawasan TNKM tidak terdapat stasiun pengukuran aliran sungai, tetapi aliran permukaan secara musiman dapat diukur melalui alat ukur yang terdapat di bagian hilir. Volume aliran dan tinggi air sungai naik dan turun dengan cepat tergantung dari tingkat kekeringan dan curah hujan yang terjadi pada bagian hulu sungai di kawasan.
sungai bahau di Taman Nasional Kayan Mentarang
Semua sungai memiliki jiram-jiram utama di mana beberapa diantaranya tidak dapat dilalui oleh perahu tempel selama periode air tinggi, sementara pada saat air rendah juga dapat mengganggu perjalanan melalui sungai. Banjir bandang di sungai-sungai sangat umum terjadi. Potensi air tanah di dalam kawasan ini hampir tidak ada sehingga semua keperluan air untuk penduduk diambil dari sungai.