Jumat, 2 Jan 2026

Taman Nasional
Tanjung Puting

Taman Nasional (TN) Tanjung Puting memiliki luas 412.548,24 hektar . Secara administratif, kawasan ini terletak di Provinsi Kalimantan Tengah.

Logo Kementerian Kehutanan
# Rencana Pengelolaan Kawasan
nan
# Foto Kawasan

Gallery foto kawasan TN Tanjung Puting.

Bangau Tongtong
Bayi Kukang
Bayi Orangutan
Ciconia stormii
Dara Laut Biasa
Fenomena Alam Perubahan Warna Air Sungai
Kegiatan Pelepasan Tukik dalam Rangka WWD 2022
Kegiatan Sensus Burung
Keluarga Bekantan
Kirik-kirik Laut (Merops philippinus)
Orangutan Kalimantan
Owa Kalimantan
Penyu Sisik
Stitching Kangkareng
Sungai Sekonyer
Tuntong Laut
Walking On Branches
# Sejarah Kawasan
  • Awalnya adalah Suaka Margasatwa Tanjung Puting, ditetapkan oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1936 seluas 305.000 hektar untuk perlindungan orangutan dan bekantan.
  • Ditetapkan sebagai taman nasional berdasarkan SK. Menteri Kehutanan No. 096/Kpts-II/84 tanggal 12 Mei 1984.
  • Berdasarkan SK. Dirjen PHPA No. 46/Kpts/IV-Sek/84 tanggal 11 Desember 1984, wilayah kerja Taman Nasional Tanjung Putting ditetapkan meliputi areal Suaka Margasatwa Tanjung Putting dengan luas 300.040 hektar.
  • Terakhir melalui SK. Menteri Kehutanan No. 687/Kpts-II/96 tanggal 25 Oktober 1996, luas kawasan Taman Nasional Tanjung Puting menjadi 415.040 ha, terdiri dari Suaka Margasatwa Tanjung Puting (300.040 ha), Hutan Produksi 90.000 ha, (eks HPH PT. Hesubazah) dan Kawasan Perairan sekitar 25.000 hektar.
# Keunikan

Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting merupakan kawasan konservasi pertama yang ada di Indonesia untuk melindungi spesies Orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii). Orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii) telah mengantar Taman Nasional Tanjung Puting menjadi dikenal dunia. Selain Orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii), kawasan Taman Nasional Tanjung Puting terdapat spesies kunci diantaranya ; Bekantan (Nasalis larvatus) dan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata). Untuk dapat melihat spesies tersebut akan disuguhkan dengan keindahan alam dengan melewati Sungai Sekonyer dan disambut dengan formasi vegetasi Nipah.

# Nilai Konservasi

TN Tanjung Puting  ditetapkan menjadi Situs Ramsar pada tahun 2013 seluas 408.286 hektar menjadi representasi kawasan lahan basah paling penting di Kalimantan Tengah yang berfungsi sebagai reservoir air, serta berfungsi dalam menjaga proses hidrologi, biologi dan ekologi dari ekosistem gambut serta keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Selain itu, TN Tanjung Puting juga ditetapkan sebagai Cagar Biosfer oleh UNESCO pada Tahun 1977.

TN Tanjung Puting merupakan salah satu Taman Nasional TERTUA di Indonesia yang tujuan penetapannya untuk penyelamatan ekosistem hutan rawa dan rawa gambut serta penyelamatan spesies unggulan tingkat dunia yaitu Orangutan (Pongo pygmaeus) dan Bekantan (Nasalis larvatus). 

# Spesies Mandat (3)

Spesies mandat merupakan jenis tumbuhan dan satwa liar yang menjadi prioritas pengelolaan dan perlindungan berdasarkan tingkat ancaman, nilai konservasi, serta kebijakan nasional dan internasional.

Penyu sisik Eretmochelys imbricata

Penyu sisik (Eretmochelys imbricata) adalah salah jenis penyu terancam punah yang tergolong dalam familia Cheloniidae. Perbedaan E. imbricata dari penyu lainnya yang sangat mudah dibedakan adalah paruhnya yang melengkung dengan bibir atas yang menonjol, dan tampilan pinggiran cangkangnya yang seperti gergaji. Cangkang penyu sisik dapat berubah warna, sesuai dengan temperatur air.

Nasalis larvatus

Bekantan (nama ilmiah: Nasalis larvatus) adalah jenis monyet berhidung panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan dan merupakan satu dari dua spesies dalam genus Nasalis. Bekantan merupakan hewan endemik pulau Kalimantan yang tersebar di hutan bakau, rawa dan hutan pantai. Ciri utama yang membedakan bekantan dari monyet lainnya adalah hidung panjang dan besar yang hanya ditemukan di spesies jantan. Spesies ini menghabiskan sebagian waktunya di atas pohon dan hidup dalam kelompok-kelompok yang berjumlah antara 10 sampai 32 monyet. Sistem sosial bekantan pada dasarnya adalah one-male group, yaitu satu kelompok terdiri dari satu jantan dewasa, beberapa betina dewasa dan anak-anaknya. Selain itu juga terdapat kelompok all-male, yang terdiri dari beberapa bekantan jantan. Hewan jantan yang menginjak remaja akan keluar dari kelompok one-male dan bergabung dengan kelompok all-male. Hal itu dimungkinkan sebagai strategi bekantan untuk menghindari terjadinya inbreeding. Bekantan juga dapat berenang dengan baik, kadang-kadang terlihat berenang dari satu pulau ke pulau lain. Untuk menunjang kemampuan berenangnya, pada sela-sela jari kaki bekantan terdapat selaputnya. Selain mahir berenang bekantan juga bisa menyelam dalam beberapa detik, sehingga pada hidungnya juga dilengkapi semacam katup.

Orangutan Kalimantan Pongo pygmaeus

Orangutan Kalimantan, Pongo pygmaeus, adalah spesies orangutan asli pulau Kalimantan. Bersama dengan orangutan Sumatra yang lebih kecil, orangutan Kalimantan masuk kedalam genus pongo yang dapat ditemui di Asia. Orangutan Kalimantan memiliki lama waktu hidup selama 35 sampai 40 tahun di alam liar, sedangkan di penangkaran dapat mencapai usia 60 tahun.

# Kondisi Fisik

Secara geografis Taman Nasional Tanjung Puting terletak antara 2°35’ -  3°20’ Lintang Selatan dan 111°50’ - 112°15’ Bujur TimurKawasan Taman Nasional Tanjung Puting secara administrative meliputi wilayah Kecamatan Kumai, Kecamatan Hanau di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kecamatan Pambuang Hulu, Kecamatan Sebuluh dan Kecamatan Seruyan Hilir di Kabupaten Seruyan. Kawasan ini dibatasi oleh

  • Sebelah utara : anak Sungai Kumai, Sungai Sekonyer;
  • Sebelah timur : Sungai Seruyan;
  • Sebelah selatan dan barat : pantai Laut Jawa.
# Topografi
Kawasan TNTP mempunyai tofografi datar sampai bergelombang dengan ketinggian 0 – 11 meter dari permukaan laut(mdpl). Di bagian utara terdapat beberapa punggung dari pegunungan yang rendah dan bergelombang serta umumnya mengarah ke selatan. Di sebelah selatan sungai Sekonyer tidak terdapat pegunungan atau bukit. Lokasi tertinggi di TNTP berada di wilayah Resort Pembuang Hulu SPTN Wilayah I.
# Letak Ketinggian (m.dpl)
11
# Jenis Tanah

Pada umumnya tanah di kawasan TNTP bersifat masam dengan ph antara 3,8 – 5,0. Tanah di sekitar anak sungai dicirikan oleh lapisan topsoil yang berwarna abu-abu kecoklatan dan lapisan subsoil yang berwarna abu-abu kecoklatan. Pada rawa-rawa di daerah hulu tanah memiliki kandungan unsur organik yang lebih tinggi dan formasi gambut tersebar luas dengan kedalaman sampai 2 meter.

TNTP terdapat 6 jenis tanah pada kategori great group (USDA,1998) diantaranya yaitu : fluvaquents, placoquoas, tropemisis, tropofluvents, tropopsamments, tropoquepts, perairan dan belum teridentifikasi.

# Geologi

Secara geologis, kawasan TNTP berumur relatif masih muda, sebagian besar berupa sedimen aluvial dengan bentuk fisik tanah berlumpur dan miskin hara terbentuk oleh formasi endapan alluvium yang terdiri dari:

  • Endapan alluvium sungai dan endapan gambut dan/atau bahan organik. Berdasarkan pengamatan dilapangan, bahan organik yang ditemukan adalah endapan bahan organik, pasir, dan liat.
  • Endapan bahan organik yang berwarna coklat sampai coklat kehitaman, dengan kedalaman mencapai 6 – 7 meter, membentuk kubah gambut (peat dome).
  • Fisiografi terdiri dari satuan lahan alluvial yang membentuk dataran rawa (floodplain) atau lebak lebung dan tanggul sungai (levee) serta satuan lahan kubah gambut (gambut ombrogen/oligotrofik) dengan tingkat kematangan fibril sampai saprik.
# DAS/Sub DAS
Berdasarkan Rencana Pengelolaan Taman Nasional 1999 – 2024, Kawasan TNTP terdiri dari 7 (tujuh) Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu DAS Sekonyer, DAS Buluh Kecil, DAS Buluh Besar, DAS Cabang, DAS Perlu, DAS Segintung dan DAS Pembuang. Rincian DAS yang terdapat di kawasan TNTP
# Tipe Iklim
Berdasarkan sistem klasifikasi Schmidt dan Ferguson, kawasan TNTP termasuk ke dalam kelompok atau tipe A, dengan nilai Q 10,5%. Sementara itu menurut Oldeman, masuk ke dalam zona agroklimat A1.
# Curah Hujan (mm)
2400.0
# Temperatur (0C)
25 - 27
# Kelembaban (%)
79 - 90