Jumat, 2 Jan 2026
Taman Nasional (TN) Tanjung Puting memiliki luas 412.548,24 hektar . Secara administratif, kawasan ini terletak di Provinsi Kalimantan Tengah.

Gallery foto kawasan TN Tanjung Puting.
Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting merupakan kawasan konservasi pertama yang ada di Indonesia untuk melindungi spesies Orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii). Orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii) telah mengantar Taman Nasional Tanjung Puting menjadi dikenal dunia. Selain Orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii), kawasan Taman Nasional Tanjung Puting terdapat spesies kunci diantaranya ; Bekantan (Nasalis larvatus) dan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata). Untuk dapat melihat spesies tersebut akan disuguhkan dengan keindahan alam dengan melewati Sungai Sekonyer dan disambut dengan formasi vegetasi Nipah.
TN Tanjung Puting ditetapkan menjadi Situs Ramsar pada tahun 2013 seluas 408.286 hektar menjadi representasi kawasan lahan basah paling penting di Kalimantan Tengah yang berfungsi sebagai reservoir air, serta berfungsi dalam menjaga proses hidrologi, biologi dan ekologi dari ekosistem gambut serta keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Selain itu, TN Tanjung Puting juga ditetapkan sebagai Cagar Biosfer oleh UNESCO pada Tahun 1977.
TN Tanjung Puting merupakan salah satu Taman Nasional TERTUA di Indonesia yang tujuan penetapannya untuk penyelamatan ekosistem hutan rawa dan rawa gambut serta penyelamatan spesies unggulan tingkat dunia yaitu Orangutan (Pongo pygmaeus) dan Bekantan (Nasalis larvatus).
Spesies mandat merupakan jenis tumbuhan dan satwa liar yang menjadi prioritas pengelolaan dan perlindungan berdasarkan tingkat ancaman, nilai konservasi, serta kebijakan nasional dan internasional.
Penyu sisik (Eretmochelys imbricata) adalah salah jenis penyu terancam punah yang tergolong dalam familia Cheloniidae. Perbedaan E. imbricata dari penyu lainnya yang sangat mudah dibedakan adalah paruhnya yang melengkung dengan bibir atas yang menonjol, dan tampilan pinggiran cangkangnya yang seperti gergaji. Cangkang penyu sisik dapat berubah warna, sesuai dengan temperatur air.
Bekantan (nama ilmiah: Nasalis larvatus) adalah jenis monyet berhidung panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan dan merupakan satu dari dua spesies dalam genus Nasalis. Bekantan merupakan hewan endemik pulau Kalimantan yang tersebar di hutan bakau, rawa dan hutan pantai. Ciri utama yang membedakan bekantan dari monyet lainnya adalah hidung panjang dan besar yang hanya ditemukan di spesies jantan. Spesies ini menghabiskan sebagian waktunya di atas pohon dan hidup dalam kelompok-kelompok yang berjumlah antara 10 sampai 32 monyet. Sistem sosial bekantan pada dasarnya adalah one-male group, yaitu satu kelompok terdiri dari satu jantan dewasa, beberapa betina dewasa dan anak-anaknya. Selain itu juga terdapat kelompok all-male, yang terdiri dari beberapa bekantan jantan. Hewan jantan yang menginjak remaja akan keluar dari kelompok one-male dan bergabung dengan kelompok all-male. Hal itu dimungkinkan sebagai strategi bekantan untuk menghindari terjadinya inbreeding. Bekantan juga dapat berenang dengan baik, kadang-kadang terlihat berenang dari satu pulau ke pulau lain. Untuk menunjang kemampuan berenangnya, pada sela-sela jari kaki bekantan terdapat selaputnya. Selain mahir berenang bekantan juga bisa menyelam dalam beberapa detik, sehingga pada hidungnya juga dilengkapi semacam katup.
Orangutan Kalimantan, Pongo pygmaeus, adalah spesies orangutan asli pulau Kalimantan. Bersama dengan orangutan Sumatra yang lebih kecil, orangutan Kalimantan masuk kedalam genus pongo yang dapat ditemui di Asia. Orangutan Kalimantan memiliki lama waktu hidup selama 35 sampai 40 tahun di alam liar, sedangkan di penangkaran dapat mencapai usia 60 tahun.
Secara geografis Taman Nasional Tanjung Puting terletak antara 2°35’ - 3°20’ Lintang Selatan dan 111°50’ - 112°15’ Bujur Timur. Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting secara administrative meliputi wilayah Kecamatan Kumai, Kecamatan Hanau di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kecamatan Pambuang Hulu, Kecamatan Sebuluh dan Kecamatan Seruyan Hilir di Kabupaten Seruyan. Kawasan ini dibatasi oleh
Pada umumnya tanah di kawasan TNTP bersifat masam dengan ph antara 3,8 – 5,0. Tanah di sekitar anak sungai dicirikan oleh lapisan topsoil yang berwarna abu-abu kecoklatan dan lapisan subsoil yang berwarna abu-abu kecoklatan. Pada rawa-rawa di daerah hulu tanah memiliki kandungan unsur organik yang lebih tinggi dan formasi gambut tersebar luas dengan kedalaman sampai 2 meter.
TNTP terdapat 6 jenis tanah pada kategori great group (USDA,1998) diantaranya yaitu : fluvaquents, placoquoas, tropemisis, tropofluvents, tropopsamments, tropoquepts, perairan dan belum teridentifikasi.
Secara geologis, kawasan TNTP berumur relatif masih muda, sebagian besar berupa sedimen aluvial dengan bentuk fisik tanah berlumpur dan miskin hara terbentuk oleh formasi endapan alluvium yang terdiri dari: