Jumat, 2 Jan 2026
Taman Nasional (TN) Sebangau memiliki luas 537.299,72 hektar . Secara administratif, kawasan ini terletak di Provinsi Kalimantan Tengah.

Rencana Pengelolaan Taman Nasional Sebangau (RPTNS) ini merupakan pengelolaan dalam jangka waktu 20 tahun mendatang (2007 - 2026). RPTNS merupakan pedoman pengelola yang berisikan rencana-rencana kegiatan pengelolaan yang lebih bersifat indikatif daripada defenitif serta berupa garis- garis besar kegiatan daripada teknis kegiatan pelaksanaan kegiatan.
Mengingat taman nasional ini merupakan taman nasional yang baru ditetapkan dan berasal dari kawasan hutan yang semula berstatus hutan produksi dan hutan produksi terbatas serta tingginya intensitas illegal logging, maka kegiatan prakondisi dalam rangka perlindungan dan pelestarian menjadi perhatian utama dalam awal pengelolaan terutama dalam upaya optimalisasi fungsi sistem penyangga kehidupan. Pertimbangan lain dari perhatian utama pengelolaan ini adalah masih sedikitnya data dan informasi mengenai kawasan ini. Dalam hal zonasi kawasan, inventarisasi sumberdaya yang terkandung di dalamnya, kegiatan pengamanan kawasan, penelitian dasar dan terapan serta pembentukan organisasi, serta upaya-upaya kearah peningkatan partisipasi masyarakat menjadi prioritas kegiatan perlu segera dilaksanakan dalam rangka menuju kemantapan pengelolaan untuk mencapai tujuan pengelolaan yang telah ditetapkan.
Gallery foto kawasan TN Sebangau.
Sebelum menjadi Taman Nasional, Kawasan Sebangau adalah kawasan HPH yang aktif sekitar awal 1970 an hingga pertengahan tahun 1990 an. Setelah perusahaan-perusahaan HPH tersebut berhenti beroperasi, kegiatan illegal logging oleh masyarakat marak terjadi di kawasan Sebangau. Cara pengambilan kayu, baik oleh sebagian perusahaan HPH maupun oleh kegiatan illegal logging oleh masyarakat marak terjadi di Kawasan Sebangau. Cara pengambilan kayu, baik oleh sebagian perusahaan HPH maupun oleh kegiatan illegal logging dengan cara menggali parit/kanal di Hutan Rawa Gambut Sebangau, sangat mengancam keutuhan ekosistem Sebangau. Cara ini akan mengakibatkan Kawasan Hutan Rawa Gambut Sebangau kehilangan air dan dapat merusak fungsi hidrologisnya, serta menyebabkan kekeringan di saat musim kemarau sehingga mudahnya terbakar di saat musim kemarau. Beberapa insiden kebakaran besar telah terjadi di Kawasan Sebangau pada tahun 1992, 1994, 1997, dan 2002. Hampir selalu terjadi insiden hotspot yang kecil dan sporadic di Kawasan Sebangau, dalam hampir setiap musim kemarau setiap tahunnya.
Mengingat akan kerusakan dan Potensi Alam yang berada di Kawasan Sebangau, dengan Didukung inisiator dari World Wide Fund (WWF) Sunderland Biorigion untuk menjadikan Sungai Sebangau dan Sungai Katingan sebagai Kawasan Perlindungan dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kabupaten/ Kota dan Provinsi. Hutan Sebangau yang terletak di tiga wilayah Kalimantan Tengah yaitu Kota Palangka Raya, Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Katingan diusulkan menjadi kawasan perlindungan dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW) Provinsi Kalteng dan menjadikan Sebangau sebagai Wilayah Konservasi yang akan dikelola sebagai daerah Pembangunan Berkelanjutan. Berikut kronologis sejarah kawasan TN Sebangau berdasarkan SK Menhut :
TN Sebangau merupakan perwakilan ekosistem rawa gambut yang masih tersisa di Provinsi Kalimantan Tengah dengan kondisi yang relatif masih utuh dengan karakteristik ekosistem yang unik ditinjau dari jenis tanah, topografi, hidrologi, flora, dan fauna. Berdasarkan data pengumpulan jenis flora dan fauna di kawasan Sebangau sejak tahun 1993, diketahui bahwa di kawasan TN Sebangau terdapat 808 jenis flora (223 jenis tanaman obat dan 4 jenis kantong semar), 92 jenis flora non pohon, 73 jenis semut, 66 jenis kupu-kupu, 297 jenis laba-laba, 41 jenis kadal, 72 jenis ikan, 11 jenis amfibi, 46 jenis reptil, 182 jenis burung, dan 65 jenis mamalia (Sumber : Jurnal ilmiah BNF-CIMTROP Biodiversity of the Sebangau tropical peat swamp forest, Indonesian Borneo Tahun 2005), dengan update terbaru 72 jenis ikan, 9 primata endemic, 808 jenis flora (BTNS, 2019)
TN Sebangau adalah habitat berbagai jenis satwa liar antara lain Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii), bekantan (Nasalis larvatus), owa-owa (Hylobates agilis albibarbis), dan macan dahan (Neofelis diardi). Orangutan Kalimantan merupakan flagship species di kawasan TN Sebangau. Berdasarkan hasil survei populasi dan distribusi orangutan di TN Sebangau tahun 2015 terdapat ± 5.826 individu orangutan di kawasan TN Sebangau. TN Sebangau juga memiliki bentang alam asli, keindahan danau alami, dan atraksi kehidupan berbagai jenis burung di habitat aslinya seperti burung Bangau Tong-tong (Leptoptilus javanicus).
Kawasan TN Sebangau yang menjadi tumpuan bagi masyarakat sekitar kawasan yang bermata pencaharian utama sebagai nelayan tangkap tradisional, penyedia jasa wisata berbasis alam, dan pemungutan hasil hutan non kayu. TN Sebangau merupakan ikon pariwisata alam dan kearifan lokal menjadi kebanggaan daerah dengan destinasi wisata alam meliputi Sungai Koran (Palangka Raya), Stasiun Penelitian Gambut SSI (Pulang Pisau), dan Panggu Alas (Katingan).
Spesies mandat merupakan jenis tumbuhan dan satwa liar yang menjadi prioritas pengelolaan dan perlindungan berdasarkan tingkat ancaman, nilai konservasi, serta kebijakan nasional dan internasional.
Bekantan (nama ilmiah: Nasalis larvatus) adalah jenis monyet berhidung panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan dan merupakan satu dari dua spesies dalam genus Nasalis. Bekantan merupakan hewan endemik pulau Kalimantan yang tersebar di hutan bakau, rawa dan hutan pantai. Ciri utama yang membedakan bekantan dari monyet lainnya adalah hidung panjang dan besar yang hanya ditemukan di spesies jantan. Spesies ini menghabiskan sebagian waktunya di atas pohon dan hidup dalam kelompok-kelompok yang berjumlah antara 10 sampai 32 monyet. Sistem sosial bekantan pada dasarnya adalah one-male group, yaitu satu kelompok terdiri dari satu jantan dewasa, beberapa betina dewasa dan anak-anaknya. Selain itu juga terdapat kelompok all-male, yang terdiri dari beberapa bekantan jantan. Hewan jantan yang menginjak remaja akan keluar dari kelompok one-male dan bergabung dengan kelompok all-male. Hal itu dimungkinkan sebagai strategi bekantan untuk menghindari terjadinya inbreeding. Bekantan juga dapat berenang dengan baik, kadang-kadang terlihat berenang dari satu pulau ke pulau lain. Untuk menunjang kemampuan berenangnya, pada sela-sela jari kaki bekantan terdapat selaputnya. Selain mahir berenang bekantan juga bisa menyelam dalam beberapa detik, sehingga pada hidungnya juga dilengkapi semacam katup.
Orangutan Kalimantan, Pongo pygmaeus, adalah spesies orangutan asli pulau Kalimantan. Bersama dengan orangutan Sumatra yang lebih kecil, orangutan Kalimantan masuk kedalam genus pongo yang dapat ditemui di Asia. Orangutan Kalimantan memiliki lama waktu hidup selama 35 sampai 40 tahun di alam liar, sedangkan di penangkaran dapat mencapai usia 60 tahun
Taman Nasional Sebangau terletak di Kabupaten Katingan, Kabupaten Pulang Pisau, dan Kota Palangkaraya Ibukota Propinsi Kalimantan Tengah, merupakan serambi muka Propinsi Kalimantan Tengah dan dikelilingi 2 Sungai Besar : S. Sebangau dan S. Katingan. Secara geografis Taman Nasional Sebangau terletak antara 113o 18’ – 114o 03’ Bujur Timur dan 01o 55’ – 03º07’ Lintang Selatan.
Ekosistem hutan rawa gambut tropika Sebangau merupakan hutan rawa gambut yang tersisa di Propinsi Kalimantan Tengah dengan kondisi yang masih baik dan memainkan peranan yang sangat penting bagi gudang penyimpanan karbon dan pengatur tata air.
Kawasan Taman Nasional Sebangau sebagian besar tergolong datar dengan kelerengan ,2% dengan ketinggian antara 0-35 mdpl. Hanya pada beberapa tempat yang berdekatan dengan bukit-bukit antara lain Bukit Jack, Bukit Cinta birahi, Bukit Akah dan beberapa bukit di sekitarnya terdapat topografi yang lebih curam dengan ketinggian > 35 mdpl.
35
Kawasan TN Sebangau terbentuk oleh formasi endapan alluvium (Qa) yang terdiri dari :
Termasuk ke dalam iklim A (Schmidt dan Fergusson)