Jumat, 2 Jan 2026

Taman Nasional
Danau Sentarum

Taman Nasional (TN) Danau Sentarum memiliki luas 127.393,40 hektar . Secara administratif, kawasan ini terletak di Provinsi Kalimantan Barat.

Logo Kementerian Kehutanan
# Rencana Pengelolaan Kawasan
nan
# Foto Kawasan

Gallery foto kawasan TN Danau Sentarum.

Landscape Danau Sentarum
Landscape Danau Sentarum 2
Landscape Danau Sentarum Jelang Sunset
Susur Sungai
# Sejarah Kawasan

 Didasarkan pada beragamnya fungsi kawasan dengan kekhasan dan keunikannya masing-masing dan total cakupan areal yang relatif luas, dalam mengelola kawasan konservasi diperlukan adanya suatu rencana pengelolaan yang jelas, bersifat komprehensif, dan dapat mengakomodasi setiap kemungkinan pengembangannya. Rencana pengelolaan ini diperlukan, baik oleh pengelola maupun pihak lain yang berminat mengembangkan segala aspek yang terkandung dalam kawasan konservasi.

Taman Nasional Danau Sentarum merupakan salah satu kawasan konservasi yang terdapat di Kalimantan Barat, yang mempunyai ekosistem asli dan dikelola dengan sistem zonasi, sehingga sebagai salah satu kawasan Ramsar taman nasional ini harus memiliki rencana pengelolaan yang sejalan dengan tujuan penetapan dan pengelolaan kawasan konservasi yaitu terutama ditujukan untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya agar dapat mendukung upaya peningkatan kesejahteraan dan mutu kehidupan masyarakat sekitar.

Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) adalah salah satu ekosistem lahan basah yang penting di Indonesia, dan di dunia. Sebelumnya kawasan ini ditetapkan sebagai suaka margasatwa pada tahun 1982, dan kemudian diubah statusnya menjadi taman nasional pada tahun 1999. Sejak tahun 1994, kawasan Danau Sentarum tercatat sebagai situs Ramsar. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan Taman Nasional Danau Sentarum memiliki nilai-nilai penting bagi perlindungan keanekaragaman hayati, terutama burung-burung air dan berbagai jenis fauna akuatik lainnya. 

# Keunikan
nan
# Nilai Konservasi
nan
# Spesies Mandat (4)

Spesies mandat merupakan jenis tumbuhan dan satwa liar yang menjadi prioritas pengelolaan dan perlindungan berdasarkan tingkat ancaman, nilai konservasi, serta kebijakan nasional dan internasional.

Trenggiling Biasa Manis javanica

Trenggiling biasa (Manis javanica syn. Paramanis javanica) adalah wakil dari ordo Pholidota yang masih ditemukan di Asia Tenggara. Hewan ini memakan serangga dan terutama semut dan rayap. Trenggiling hidup di hutan hujan tropis dataran rendah. Trenggiling kadang juga dikenal sebagai anteater (pemakan semut). Bentuk tubuhnya memanjang, dengan lidah yang dapat dijulurkan hingga sepertiga panjang tubuhnya untuk mencari semut di sarangnya. Rambutnya termodifikasi menjadi semacam sisik besar yang tersusun membentuk perisai berlapis sebagai alat perlindungan diri. Jika diganggu, trenggiling akan menggulungkan badannya seperti bola. Ia dapat pula mengebatkan ekornya, sehingga "sisik"nya dapat melukai kulit pengganggunya. Trenggiling terancam keberadaannya akibat habitatnya terganggu serta menjadi objek perdagangan hewan liar. Trenggiling merupakan salah satu hewan yang dilindungi di Indonesia.

Orangutan Kalimantan Pongo pygmaeus

Orangutan Kalimantan, Pongo pygmaeus, adalah spesies orangutan asli pulau Kalimantan. Bersama dengan orangutan Sumatra yang lebih kecil, orangutan Kalimantan masuk kedalam genus pongo yang dapat ditemui di Asia. Orangutan Kalimantan memiliki lama waktu hidup selama 35 sampai 40 tahun di alam liar, sedangkan di penangkaran dapat mencapai usia 60 tahun.

Presbytis chrysomelas

Lutung Sentarum (Presbytis chrysomelas ssp. cruiciger Thomas 1892) merupakan salah satu primata yang termasuk ke dalam spesies terancam punah menurut IUCN dan dapat ditemukan dalam kawasan Taman Nasional Danau Sentarum.

Scleropages formosus

Arwana Asia (Scleropages formosus), atau Siluk Merah adalah salah satu spesies ikan air tawar dari Asia Tenggara. Ikan ini memiliki badan yang panjang; sirip dubur terletak jauh di belakang badan. Arwana Asia umumnya memiliki warna keperak-perakan. Arwana Asia juga disebut "Ikan Naga" karena sering dihubung-hubungkan dengan naga dari Mitologi Tionghoa. Arwana Asia terdaftar dalam daftar spesies langka yang berstatus "terancam punah" oleh IUCN tahun 2004 [1]. Jumlah spesies ini yang menurun dikarenakan seringnya diperdagangkan karena nilainya yang tinggi sebagai ikan akuarium, terutama oleh masyarakat Asia. Pengikut Feng Shui dapat membayar harga yang mahal untuk seekor ikan ini.

# Kondisi Fisik

Secara administratif Taman Nasional Danau Sentarum termasuk dalam wilayah 7 (tujuh) kecamatan yaitu Kecamatan Badau, Kecamatan Nanga Kantuk, Kecamatan Batang Lupar, Kecamatan Suhaid, Kecamatan Selimbau, Kecamatan Jongkong, dan Kecamatan Bunut, 12 Desa dan 45 Dusun/Kampung.. Secara geografis TNDS terletak diantara koordinat 0°45’- 01° 02’ LU, dan 111° 57’- 112° 20’ BT.

Batas-batas wilayahnya TNDS meliputi :

  • Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Batang Lupar
  • Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Jongkong dan Kecamatan Bunut Hilir
  • Sebelah selatan berbatasan dengan Suhaid dan Kecamatan Selimbau
  • Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Badau dan Kecamatan Nanga Kantuk
# Topografi
Datar dan letaknya dikelilingi oleh pegunungan-pegunungan dan perbukitan
# Letak Ketinggian (m.dpl)
2500 - 5000
# Jenis Tanah

Tipe tanah pada kawasan TNDS dapat dibagi atas 2 kelompok besar, yaitu sedimen dan organosol pada daratan serta pasir dan lempung pada daerah perbukitan (Geisen, 1987). Sedimen terdiri dari kaolin dan liat serta batuan yang terdapat pada daerah terisolasi disekitar perbukitan. Batu pasir arkosik muncul membentuk formasi umum pada dan sekitar TNDS, Bukit Seligi/Lempai, Bukit Tekenang dan Menyukung. Substrat ini terkenal miskin nutrien dan tidak subur.

Tanah gambut terdapat dalam lembah-lembah Kapuas, antara sungai dan kaki bukit dengan kondisi air tergenang dan dekomposisi material organik tertahan. Tanah gambut didapatkan dengan kedalaman berkisar 0,5-2 m, atau sampai kedalaman 3-4 m pada beberapa daerah, yaitu bagian timur Bukit Pegah, selatan Danau Sekawi dan sebelah barat Bukit Semujan. Substrat dasar dataran banjir didominasi oleh lempung, yang mengandung pasir dan klorit.

Tanah perbukitan terdiri dari pasir dan lempung serta mineral-mineral lempung. Tanah dari perbukitan tidak subur dan beberapa lereng bukit seperti Bukit Pegah, Bukit Semujan dan Menyukung terhindar dari praktek perladangan. Lereng-lereng yang dulunya ditanami sekarang tandus dan hanya tumbuh paku-pakuan dan semak (Bukit Tekenang, Bukit Lempai dan Bukit Seligi). Pasir podsol terdapat pada puncak Bukit Semujan dan Menyukung dan membentuk hutan kerangas.

# Geologi
Keadaan geologi daerah ini cukup sederhana, daerah aliran sungainya terdiri dari sedimen (kaolin, clay/tanah lempung dengan lapisan tanah gambut yang dangkal sampai tebal) dan singkapan kandungan batu pasir /panas. Secara umum kandungan unsur hara tanah di daerah ini sangat rendah
# DAS/Sub DAS
kapuas
# Tipe Iklim
nan
# Curah Hujan (mm)
5000.0
# Temperatur (0C)
-
# Kelembaban (%)
-