Jumat, 2 Jan 2026
Taman Nasional (TN) Kelimutu memiliki luas 5.356,50 hektar . Secara administratif, kawasan ini terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Rencana Pengelolaan Jangka Panjang TN Kelimutu 2018-2027
BTN Kelimutu sebagai pengelola kawasan TN Kelimutu telah merumuskan sebuah visi pengelolaan, yaitu “Pengelolaan Taman Nasional Kelimutu Berbasis Ekowisata dan Budaya setempat untuk menunjang kesejahteraan masyarakat.'' Selain itu telah ditetapkan Tujuan Pengelolaan Taman Nasional Kelimutu berdasarkan mandat pengelolaan yaitu ''Terwujudnya Taman Nasional Kelimutu sebagai Model Pengelolaan Kawasan Pelestarian Alam Berbasis Ekowisata dan Budaya Setempat untuk menunjang kesejahteraan masyarakat.'' Berdasarkan diskusi multipihak dan pertimbangan-pertimbangan tertentu maka untuk landasan visi bagi Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Taman Nasional di sempurnakan menjadi :
- Mengembangkan ekowisata dengan tema budaya sejajar dengan alamnya
- Memberdayakan masyarakat adat dan desa penyangga
- Memulihkan ekosistem dari Jenis Asing Invasif
Dalam proses perwujudannya, dilaksanakan melalui 2 tahapan yaitu :
- Periode I : penguatan aspek-aspek pengelolaan serta penerapan inovasi-inovasi pengelolaan
- Periode II : pemantapan dan perluasan inovasi pengelolaan serta pemantapan pengelolaan menuju Taman Nasional mandiri
Sedangkan beberapa inovasi pengelolaan yang akan di lakukan adalah :
- Pengembangan ekowisata berbasis budaya lokal
- Pemberdayaan Masyarakat Lokal Berbasis Potensi
- Domestifikasi plasma nutfah untuk kepentingan budidaya
- Pemberantasan Jenis Asing Invasif Kirinyuh bersama masyarakat
- Manajemen dan Pengelolaan Sampah Terpadu
Gallery foto kawasan TN Kelimutu.
Penetapan Taman Nasional Kelimutu melalui proses sejarah yang cukup panjang, Sejarah Penunjukan dan Penetapan Batas Kawasan Taman Nasional Kelimutu dapat diuraikan sebagai berikut:
Taman Nasional Kelimutu merupakan salah 1 dari 4 taman nasional yang terdapat di Provinsi NTT, yang terletak di Kabupaten Ende. TN Kelimutu yang telah ditunjuk sejak tahun 1992 merupakan kawasan wisata dengan fenomena geologis yang sudah mendunia berupa 3 kawah danau yang berbeda warna pada puncak gunung Kelimutu. Keberadaan TN Kelimutu juga tidak lepas dari 21 komunitas adat yang memiliki hubungan erat dengan Gunung Kelimutu melalui keyakinan masyarakat lokal bahwa Kelimutu sebagai tempat bersemayamnya para arwah leluhur.
Kawasan TN Kelimutu juga menjadi sumber 2 DAS utama bagi Kabupaten Ende yaitu DAS Loworea dan DAS Wolowona.
Kawasan TN Kelimutu merupakan habitat dari 140 jenis tumbuhan berkayu dan 36 jenis tumbuhan herba. terdapat 2 jenis tumbuhan sebagai flora endemik kelimutu yaitu Uta onga (Begonia kelimutuensis) dan Turuwara (Rhododendron renschianum) serta satu ekosistem spesifik kelimutu yaitu Ekosistem Vaccinium dan Rhododendron (EkosVR). Dua jenis flora yang diwaspadai status kelangkaannya yaitu Jita/Pulai (Alstonia scholaris) dan Upe/Ketimun (Timonius timon). Kelimutu juga merupakan rumah bagi 63 jenis burung , 14 jenis mamalia dan 4 jenis reptilia
Kawasan TN Kelimutu merupakan habitat dari 140 jenis tumbuhan berkayu dan 36 jenis tumbuhan herba. terdapat 2 jenis tumbuhan sebagai flora endemik kelimutu yaitu Uta onga (Begonia kelimutuensis) dan Turuwara (Rhododendron renschianum) serta satu ekosistem spesifik kelimutu yaitu Ekosistem Vaccinium dan Rhododendron (EkosVR), 63 jenis burung , 14 jenis mamalia dan 4 jenis reptilia. Satwa prioritas yaitu Elang Flores (Nisaetus floris), dan satwa Endemik : Tikus Raksasa dan Garugiwa (Pachychepala mudigula)
Spesies mandat merupakan jenis tumbuhan dan satwa liar yang menjadi prioritas pengelolaan dan perlindungan berdasarkan tingkat ancaman, nilai konservasi, serta kebijakan nasional dan internasional.
Elang flores tergolong burung berukuran besar dengan panjang tubuh sekitar 60 sampai 79 cm. Kepala putih, kadang dengan garis-garis coklat pada mahkota. Tubuh bagian atas coklat-kehitaman. Dada dan perut putih berpalang coklat kemerahan yang tipis. Ekor coklat dengan enam garis gelap. Kaki putih. Tidak ada perbedaan signifikan antara jantan-betina dan dewasa-muda. Mirip dengan elang brontok muda. Elang flores termasuk salah satu jenis burung endemik Indonesia yang dapat dijumpai di daerah timur khususnya di pulau Flores, Sumbawa, dan Lombok (di perbatasan Taman Nasional Rinjani) serta di dua pulau Satonda di dekat Sumbawa dan Rinca di dekat Komodo. Catatan dari Paloe dan Komodo belum diverifikasi.
Kawasan Taman Nasional Kelimutu terletak di wilayah Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan posisi geografis: 8°43’ - 8°48’ LS, 121°44’ - 121°51’ BT. Taman Nasional Kelimutu ditunjuk sebagai Kawasan Taman Nasional berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan, SK No. 279/Kpts-II/92 dengan luas ± 5.000 hektar. Pada tahun 1997 kemudian ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan dengan SK No. 675/Kpts-II/97 dengan luas 5.356,5 hektar. Luas kawasan Taman Nasional Kelimutu adalah 5356,50 ha dengan garis batas total sepanjang 48.423,44 m terdiri dari 241 pal batas hutan kawasan yang membatasi Taman Nasional dengan 24 desa di 5 wilayah kecamatan di Kabupaten Ende (Rekonstruksi Batas Kawasan Taman Nasional Kelimutu Kelompok Hutan Sokoria (RTK 52) Wilayah Kabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur- Badan Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah VIII Denpasar-Desember 2006).
Daratan Flores merupakan bagian dari jalur pegunungan vulkanik yang berawal dari ujung utara Sumatera, bersambung ke Jawa, Bali, Lombok, Sumba, Flores, Alor dan berakhir di Laut Banda.
Kondisi lapisan tanah di Flores tergolong muda dan labil. Mungkin kedua hal inilah yang menyebabkan sering terjadi gempa di P. Flores, baik tektonik maupun vulkanik.