Jumat, 2 Jan 2026

Taman Nasional
Laiwangi Wanggameti

Taman Nasional (TN) Laiwangi Wanggameti memiliki luas 46.311,73 hektar . Secara administratif, kawasan ini terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Logo Balai TN Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
# Rencana Pengelolaan Kawasan

Penyusunan RPJP merupakan perwujudan mandat Undang-Undang nomor 5
tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, khususnya
terhadap pengelolaan kawasan Taman Nasional. TN Matalawa merupakan kawasan
konservasi penting, kawasan hutan ini menjadi benteng terakhir habitat alami flora dan
fauna endemik di Pulau Sumba. Nilai penting lain dari keberadaan TN Matalawa adalah
pengatur sistem penyangga kehidupan (sistem hidrology) di pulau Sumba.
Dalam proses penyusunannya RPJP TN Matalawa periode 2018 – 2027
dilaksanakan dengan pendekatan holistik dan komprehensif, serta mengakomodasi
kepentingan para pihak dalam pengelolaan kawasan TN Matalawa. partisipatif menjadi
hal yang cukup penting guna menyamakan persepsi dalam mewujudkan visi dan misi
pengelolaan TN Matalawa sehingga tujuan pengelolaan dapat terwujud dan dirasakan
manfaatnya oleh masyarakat.
Balai TN Matalawa menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para
pihak yang telah mendukung dan menyempurnakan dokumen RPJP TN Matalawa
periode 2018 – 2027. Diharapkan RPJP TN Matalawa 2018 – 2027 ini menjadi acuan
formal bagi Balai TN Matalawa dan para pemangku kepentingan dalam menyusun
program di kawasan TN Matalawa sesuai dengan kewenangan, peran dan kepentingan
masing-masing sehingga terwujud pengelolaan kawasan hutan TN Matalawa yang
efektif dan efisien

# Foto Kawasan

Gallery foto kawasan TN Laiwangi Wanggameti.

Dendrobium Affine
Kanabuwai Waterfall
# Sejarah Kawasan
Taman Nasional Laiwangi Wanggameti ini secara geografis terdiri dari hamparan  berbukit, lembah, dan undulating (bergelombang);     dikenal    ada    kelompok   hutan yakni  kelompok hutan   Laiwangi Wanggameti   (RTK 50).   Zaman  Pemerintah Hindia Belanda lewat Surat Keputusan Swapraja  ZB bsl 6-1-1932 No.3 dan   ZB bsl 6-1-1930 No.5   serta ZB bsl  20-7-1930 No.9, kelompok hutan ini dilindungi. Kemudian status hutan ini ditetapkan sebagai hutan tutupan dengan fungsi Hydrologisch   Reserve   berdasarkan SK Bupati Kepala Daerah TK II Sumba Timur No. 9/Pemb.1/3 tanggal 30 Januari 1965.
Tahun 1983 berdasarkan TGHK melalui SK Menhut No. 89/Kpts-II/1983 tgl 2 Desember 1983 telah ditetapkan 1. 667.962 ha hutan sebagai hutan tetap di propinsi NTT. Pada Tahun Anggaran 1984/1985 dilaksakan kegiatan Pengukuhan Kelompok Hutan Laiwangi Wanggameti (RTK 50) oleh Sub Balai Inventarisasi dan Perpetaan Hutan Kupang bekerja sama dengan Balai Inventarisasi dan Perpetaan Hutan Wilayah VIII Denpasar dengan hasil panjang batas luar 125,2 Km dan luas definitif 42.567,50 Ha. Berita Acara Tata Batas kelompok hutan Laiwangi Wanggameti (RTK 50) baik di tingkat Kabupaten, Propinsi dan Pusat sudah dapat diselesaikan dan disahkan oleh Menteri Kehutanan tanggal 21 Januari 1986.
Berdasarkan SK Menhutbun No. 576/Kpts-II/1998, Menhutbun menunjuk Taman Nasional Laiwangi Wanggameti yang berasal seluruhnya dari RTK 50 seluas ± 47.014 ha, tetapi di dalam SK Taman Nasional Laiwangi Wanggameti ini tidak menyebutkan adanya “enclave yang faktanya ada 2 desa di dalam kawasan yakni Ramuk dan Katikuai. Terhitung tahun 2006/2007 desa Ramuk telah mekar menjadi 2 (dua) desa yakni desa Mahaniwa dan desa Ramuk, luas desa enclave ini + 4.447 ha. Kedua desa Ramuk dan desa Katikuai dipandang sebagai kantong penduduk dan selanjutnya perlu klarifikasi penetapan enclave lewat proses tata batas definitif  Wanggameti.

Pada tahun 2006 TN Laiwangi Wanggameti melakukan tata batas partisipatif dengan panjang seluruhnya 76.456,47 meter. Hasil tata Batas Partisipatif dituangkan ke dalam 2 Berita Acara Tata Batas antara lain:

  • BATB 16 Juni 2006 sepanjang 50.923,74 meter
  • BATB 9 November 2006 sepanjang 25.532, 73 meter

Selanjutnya, pada tahun 2014 dikeluarkan Surat Keputusan No. 3911/Menhut-VII/KUH/2014 tanggal 14 Mei 2014 tentang Kawasan Hutan dan Konservasi Perairaran Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Pada Tahun 2016 Menteri Kehutanan mengeluarkan SK Penetapan Kawasan Hutan TN Laiwangi Wanggameti No. SK.1158/MenLHK-PKTL/Kuh/PKTL.2/4/2016 tanggal 8 April 2016 dengan luas 41.772,18 Ha. Namun SK tersebut belum mengakomodiri satupun tata batas partisipatif.
Pada Tahun 2017 SK Penetapan 1158 di revisi dengan SK.6009/MenLHK-PKTL/KUH/PLA.2/11/2017 tanggal 7 November 2017 Namun SK tersebut belum mengakomodir BATB 9 November 2006.

# Keunikan

Berdasarkan pengkajian hasil survey dan rekomendasi National Conservation Plan (UND/FAO, 1982) mengenai potensi cadangan kawasan konservasi di Pulau Sumba serta hasil penelitian potensi yang dilakukan oleh Birdlife International, Taman Nasional Manupeu Tanah Daru memiliki kekayaan alam keankearagaman hayati yang tinggi sehingga dipandang perlu untuk terus meningkatkan upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan kawasan - kawasan tersebut secara optimal sebagai Taman Nasional.

# Nilai Konservasi

Potensi Flora

Berdasarkan serangkaian inventarisasi yang sudah dilakukan oleh PEH TN Matalawa bersama beberapa pihak diantaranya LIPI, JICA, JICS, Litbang Kehutanan Kupang, dan Himakova IPB, diketahui terdapat sekitar 375 jenis tumbuhan yang sudah teridentifikasi dari dalam Kawasan TN Matalawa. Sebanyak 90 jenis merupakan tumbuhan berkhasiat obat. Sebanyak 70 jenis epipit sudah teridentifikasi yang 16 jenis diantaranya adalah anggrek.  

Jenis-jenis flora didominasi Alstonia spectabilis, Canarium sp, Ficus sp, Syzygium sp, Dysoxylum sp dan Palaqium sp. Jenis vegetasi penciri hutan sekunder – jenis yang umum dijumpai di hutan dataran rendah –  adalah Melochia umbelata, Ficus septica, Casuarium oleosum, Toona sureni dan Legistromea sp. Beberapa jenis merupakan jenis yang dilindungi dan masuk dalam kategori CITES, Appedix II, yaitu Gaharu (Grinops verstegi) dan  kategori CITES Appendix I, yaitu Cendana (Santalum album) (Iriansyah M dkk, 2005). Spesies-spesies potensial dan bernilai komersial tinggi tersebut merupakan aset potensi TN Matalawa yang perlu dieksplorasi dan dibudidayakan dalam rangka upaya konservasi biodiversitas.

Potensi jenis flora lainnya adalah jenis-jenis pohon kayu bangunan dengan kualitas mendekati kuat dan awet yaitu pohon Mayela (Artocarpus glaucus). Kayu jenis ini dipergunakan secara terbatas pada perumahan adat sebagai penyangga utama bangunan rumah adat. Pada pemakaian di masyarakat, penggunaan jenis kayu mayela terbatas pada golongan/tingkat kelas sosial tertinggi pada status sosial adat Sumba, pada umumnya adalah pemuka dan tokoh adat.


Biodiversitas flora kawasan TN Matalawa menyimpan beragam potensi obat-obatan pada tiap tipe vegetasi, mulai dari vegetasi Padang savana, hutan tropika kering, dan hutan semi awet. Beberapa diantaranya adalah tipe epifit dan herba. Jenis epifit potensial obat adalah kepala monyet/sarang semut (Myrmecodia pendans), digunakan sebagai imuno stimulan kekebalan tubuh dan penyembuhan obat penyakit dalam (anti kangker, penyakit jantung dan stroke, gangguan ginjal dan penyakit dalam lainnya). Jenis herba dan perdu potensial obat antara lain alang-alang (Imperata cylindrica), famili Zingiberacea, may kunyit (Curcuma longa) dan sebagainya. Sedangkan jenis obat dari pohon adalah Pohon Linu (Grewia acuminata), sebagai obat penambah darah, obat sakit perut dan obat vitalitas pria. Lamtoro/Petai Cina (Leucana glauca) berkhasiat untuk peluruh air seni (diuretik) dna sebagai obat cacing. Potensi-potensi flora lainnya masih banyak tersimpan dalam kawasan dan belum dibudidayakan secara optimal. Jenis potensial lainnya antara lain : rotan (Calamus sp) dan pandan (Pandanus sp) sebagai bahan kerajinan (Balai TNMT, 2010). Tabel daftar jenis flora terdapat pada lampiran.


Potensi Fauna


Biodiversitas fauna didominasi oleh jenis-jenis burung Sumba, baik jenis endemik maupun migran. Pulau Sumba memiliki keragaman jenis-jenis burung endemik yang tinggi. Jumlah spesises burung di kawasan taman nasional sebanyak 159 jenis dan terdapat delapan (11) spesies burung endemik yaitu: Burungmadu Sumba (Cinnyris buettikoferi), Cabai Sumba (Dicaeum wilhelminae), Myzomela Sumba (Myzomela dammermani), Gemak Sumba (Turnix everetti), Punai Sumba (Treron teysmanii), Walik Rawamanu (Ptilinopus dohertyl), Sikatan Sumba (Ficedula harterti), Sikatan Coklat Sumba (Muscicapa segregate), Pungguk Sumba, (Ninox sumbaensis), Pungguk Wengi (Ninox rudolfi) dan Julang Sumba (Rhyticeros everetti). Selain itu terdapat sekitar 19 anak jenis endemik, misalnya Nuri Bayan (Eclectus roratus cornelia) dan Kakatua Sumba (Cacatua sulphurea citrinocristata).

# Spesies Mandat (2)

Spesies mandat merupakan jenis tumbuhan dan satwa liar yang menjadi prioritas pengelolaan dan perlindungan berdasarkan tingkat ancaman, nilai konservasi, serta kebijakan nasional dan internasional.

Julang sumba Aceros everetti

Julang Sumba atau dalam nama ilmiahnya Aceros everetti adalah sejenis burung berukuran besar, dengan panjang lebih kurang 70cm, dari suku Bucerotidae. Burung ini memiliki bulu berwarna hitam dan paruh berwarna kekuningan. Burung jantan dan betina mudah dibedakan. Kepala dan leher burung jantan berwarna merah, sedang burung betina memiliki kepala dan leher berwarna hitam. Endemik Indonesia, Julang Sumba hanya terdapat di hutan primer dan sekunder daerah Sumba, Nusa Tenggara Barat. Spesies ini ditemukan dari dataran rendah sampai ketinggian 950 meter. Julang Sumba adalah monogami spesies. Pakannya terdiri dari buah-buahan. Burung ini dapat ditemukan sendiri atau berkelompok hingga 15 ekor.

Kakatua-kecil Jambul-kuning Cacatua sulphurea parvula

Kakatua-kecil jambul-kuning atau dalam nama ilmiahnya Cacatua sulphurea adalah burung berukuran sedang, dengan panjang sekitar 35 cm, dari marga Cacatua. Burung ini hampir semua bulunya berwarna putih. Di kepalanya terdapat jambul berwarna kuning yang dapat ditegakkan. Kakatua-kecil jambul-kuning berparuh hitam, kulit di sekitar matanya berwarna kebiruan dan kakinya berwarna abu-abu. Bulu-bulu terbang dan ekornya juga berwarna kuning. Burung betina serupa dengan burung jantan. Daerah sebaran kakatua-kecil jambul-kuning adalah Kepulauan Sunda Kecil, Sulawesi, Bali, dan Timor, di tempat yang masih terdapat hutan-hutan primer dan sekunder. Pakan unggas cerdas dan gemar berkawanan ini terdiri dari biji-bijian, kacang, dan aneka buah-buahan. Burung betina menetaskan antara dua sampai tiga telur dalam sarangnya di lubang pohon.

# Kondisi Fisik

Tipologi kawasan TN Laiwangi Wanggameti didominasi oleh perbukitan dengan bukit tertinggi adalah Wanggameti (±  1.225 meter dpl) dan terletak pada koordinat geografis kawasan yaitu diantara 9°58’ - 10°11’ Lintang Selatan, 120°00’ - 120°22’ Bujur  TimurSecara administratif pemerintahan Taman Nasional Laiwangi Wanggameti berada pada tiga wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Tabundung, Kecamatan Matawai Lapau, Kecamatan Karera dan Kecamatan Pinupahar yang semuanya berada di wilayah administrasi kabupaten Sumba Timur. Kawasan ini terletak sekitar 60 Km sebelah Selatan kota Waingapu. 

# Topografi

Pada umumnya keadaan topografi di TN Laiwangi Wanggameti berbukit, dengan memiliki lereng-lereng agak curam sampai sangat curam. Topografi yang agak datar sampai bergelombang terdapat di bagian tenggara dan selatan, sedangkan di bagian barat dan timur mempunyai topografi berbukit sampai bergunung dengan memiliki lereng-lereng agak curam sampai sangat curam. Berdasarkan Peta Kelas Lereng Pulau Sumba skala 1 : 500.000, kawasan TN Laiwangi Wanggameti termasuk dalam kelas lereng 3 yaitu agak curam (15%-25%), kelas lereng 4 yaitu curam (25%-45%) dan kelas lereng 5 yaitu sangat curam (> 45%).

# Letak Ketinggian (m.dpl)
1225
# Jenis Tanah
Jenis Tanah yang berada di kawasan TN Laiwangi Wanggameti terdiri dari kambisol distrik, gleisol, renzina, dan podsolik pelik
# Geologi

Kawasan TN Laiwangi Wanggameti formasi geologinya terdiri dari endapan permukaan Aluvium, batuan sedimen (Formasi Kananggar, Formasi Paumbapa dan Formasi Tanahroong), batuan gunung api (Formasi Masu dan Formasi Jawila) serta batuan terobosan granit.  Menurut Peta Tanah Bagan Indonesia 1 : 2.500.000 dari Lembaga Penelitian Tanah Bogor 1968, di Pulau Sumba terdapat jenis-jenis tanah Grumusol dengan bentuk wilayah Palembahan, Mediteran dengan bentuk wilayah dataran, mediteran dengan bentuk wilayah volkan, mediteran dengan bentuk wilayah pegunungan lipatan dan latosol dengan bentuk wilayah Plato/vulkan. 

# DAS/Sub DAS

Kawasan TN Laiwangi Wanggameti terdiri dari 7 DAS antara lain:

  1. Taraba Nggongi,
  2. Lailunggi,
  3. Malaikababa2,
  4. Kambiniru,
  5. Tapil Pamilikaba,
  6. Wahang dan
  7. Kambaneru.
# Tipe Iklim

Menurut Curah Hujan Pulau Sumba Peta Skala 1: 2.000.000 (Verhandelingen No.42 Map.II 1951), jenis iklim di pulau Sumba bervariasi dari C ke F. Untuk daerah curah hujan TNLW negara berkisar 100-1500 mm. Berdasarkan sistem klasifikasi hutan-Ferguson termasuk iklim Schmidth Wanggameti basah dengan kelembaban sekitar 71%.

# Curah Hujan (mm)
800.0
# Temperatur (0C)
26 - 30
# Kelembaban (%)
71