Jumat, 2 Jan 2026

Taman Nasional
Alas Purwo

Taman Nasional (TN) Alas Purwo memiliki luas 44.037,30 hektar . Secara administratif, kawasan ini terletak di Provinsi Jawa Timur.

Logo Kementerian Kehutanan
# Rencana Pengelolaan Kawasan

Balai TNAP menetapkan destinasi edukasi dan spiritual” sebagai visi pengelolaan yang dijabarkan melalui fokus-fokus kegiatan pada RPTN yang meliputi; perlindungan hutan, pengawetan kehati dan pemanfaatan jasa lingkungan. Embanan pada masing masing fokus tersebut telah diimplementasikan secara teknis melalui program dan kegiatan, baik pada lajur baseline (data, informasi dan perencanaan), analitik, inisiatif, implementatif, evaluatif dan pengembangan tindak lanjut.

Secara sistemik program dan kegiatan tersebut dieksekusi berdasarkan struktur formal kelembagaan (balai, SPTN dan Resort), maupun melalui pelibatan para pihak eksternal seperti; perguruan tinggi, lembaga profesi, pemerintah daerah, swasta termasuk para pemegang ijin usaha penyediaan sarana wisata alam (IUPSWA). Sebagian besarnya telah diafiliasikan melalui sistem pengelolaan baerbasis resort (RBM) dan unit-unit khusus pegelolaan (UP) kawasan seperti; UP Pembinaan Habitat Banteng di Sadengan, Penyu di Ngagelan dan IUPSWA di Plengkung.  

Pada level regional, Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Banyuwangi tengah mendorong kebijakan pengembangan ekonomi kreatif melalui kepariwisataan dan budaya lokal. Kabupaten Banyuwangi sendiri tetap mempertahankan dan mengembangkan ruang kebijakan “Triangle Diamond” dan “Sunrise of Java” guna mendorong sektor kepariwisataan. Secara kongkrit Pemda Banyuwangi telah ikut serta mempromosikan TNAP melalui bahan-bahan publikasinya. TNAP juga dipilih sebagai lokasi utnuk mendukung venue International Tour de Banyuwangi-Ijen (ItdBI), Jungle Run dan  Savana Triathlon.

# Foto Kawasan

Gallery foto kawasan TN Alas Purwo.

Belajar Memanjat
Bersama Dalam Harmoni
Macan Tutul Selalu Waspada
Mangrove Bedul From The Air
# Sejarah Kawasan

Kawasan hutan Purwo ditunjuk sebagai kawasan cagar alam (CA) pada tahun 1920 berdasarkan keputusan Gubernur Hindia Belanda nomor 46, staatsblad nomor 736 tanggal 9 Oktober 1920, terdiri dari CA Djati Ikan dan CA Poerwo. Selain CA Djati Ikan dan CA Poerwo, kawasan lain yang ditunjuk adalah CA Tjeding, CA Kawah Idjen, Merapi, Oengoep-oengoep, dan CA Noesa Baroeng.

Pada tahun 1939, kawasan CA Djati Ikan dan CA Poerwo dirubah fungsinya sebagai suaka marga satwa (SM) Banyuwangi Selatan melalui keputusan Gubernur Hindia Belanda nomor 6, staatsblad nomor 456 tanggal 1 September 1939.

Berdasarkan hasil pengukuran dan pemetaan kembali pada tahun 1983, diketahui bahwa luas kawasan SM mencakup 43.420 Ha. Pada tahun 1992 SM Banyuwangi Selatan dirubah fungsinya menjadi taman nasional (TN) Alas Purwo melalui keputusan Menteri Kehutanan Nomor 283/Kpts-II/92 tanggal 26 Pebruari 1992. Kemudian pada tahun 2014 dilakukan penetapan kawasan TN. Alas Purwo melalui keputusan Menteri Kehutanan nomor: SK.3628/Menhut-VII/KUH/2014 tanggal 6 Mei 2014, dengan luas 44.037,30 Ha.

# Keunikan

Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) memiliki ekosistem yang unik, hampir sebagian besar kawasannya berbentukan lahan karst dengan jaringan sungai bawah tanah dan goa-goa yang melimpah. Goa Istana, Goa Basori, Sumberbaru dan Kunci adalah jaringan sungai utama menyuplai kebutuhan pengelolaan dan masyarakat.

Taman Nasional Alas Purwo merupakan habitat dari beberapa satwa prioritas seperti Banteng Jawa , Elang Jawa dan Macan Tutul. Keberadaan satwa tersebut termonitor dengan baik terutama satwa Banteng Jawa di Savana Sadengan. Data menunjukan kehadiran Banteng Jawa ke Savana Sadengan pada tahun 2020 sebanyak 120 ekor.

Selain itu, Kawasan TN Alas Purwo menjadi salah satu tujuan dari burung-burung migran dari Australia pada akhir dan awal tahun untuk mencari wilayah yang lebih hangat. Tercatat ada 36 Jenis Burung Migran yang pernah singgah di TN Alas Purwo.


# Nilai Konservasi

Pelestarian banteng (Bos javanicus javanicus) dan macan tutul jawa (Panthera pardus melas) merupakan alasan utama penunjukkan kawasan TNAP. Hingga saat ini, hanya di TNAP (Sadengan) banteng dapat dilihat secara langsung setiap hari.

# Spesies Mandat (2)

Spesies mandat merupakan jenis tumbuhan dan satwa liar yang menjadi prioritas pengelolaan dan perlindungan berdasarkan tingkat ancaman, nilai konservasi, serta kebijakan nasional dan internasional.

Banteng Bos javanicus

Banteng (Bos javanicus javanicus) merupakan salah satu flag species TN. Alas Purwo. Pengelolaan habitat dan populasinya dimulai sejak tahun 1975 melalui pembukaan 3 lokasi padang penggembalaan buatan; Payaman, Sadengan dan Pancur. Saat ini, hanya Sadengan yang tersisa dan dikelola oleh unit setingkat resort yang memiliki tugas utama dalam pembinaan habitat dan pengamatan harian satwa. Pembinaan habitat yang dilakukan berupa eradikasi tumbuhan invasif, pemeliharaan bak minum satwa dan pemeliharaan rumput pakan. Banteng masuk dalam daftar satwa prioritas nasional dan daftar merah (IUCN Red-List) sebagai satwa yang terancam punah. Meskipun Sadengan telah ditetapkan sebagai site monitoring, tetapi populasi banteng di Sadengan tidak merepresentasikan keseluruhan populasinya di TN. Alas Purwo.

Macan Tutul Jawa Panthera pardus melas

Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) adalah sub spesies kucing besar yang tersebar secara spesifik di Pulau Jawa dan terklasifikasi sebagai satwaliar terancam punah . Pemerintah Indonesia melindunginya melalui Undang Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999 . Sejak tahun 2010, Macan Tutul Jawa tersasar sebagai spesies prioritas nasional yang perlu diselamatkan. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah, baik perlindungan habitat maupun populasinya. Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) merupakan salah satu daerah sebaran Macan Tutul Jawa. TNAP tengah melakukan monitoring untuk jangka menengah (5 tahun) sebagai salah satu upaya penguatan baseline data dan informasi sebagai acuan program pengelolaan habitat dan populasinya. Lokasi monitoring seluas ±39,71 Km2 dengan 8 unit sampel telah ditetapkan di Pancur sejak tahun 2013. Macan Tutul Jawa yang teridentifikasi (2014-2018) berjumlah 6 ekor, terdiri dari 2 jantan dan 4 betina pada 6 sub site. Kelimpahannya mencapai 4.36 individu dengan densitas 0.11 individu/Km2. Berdasarkan hasil perbandingan analisis wilayah distribusi melalui pemodelan MAXENT, prediksi populasi Macan Tutul Jawa di TNAP berkisar 23 – 39 ekor.

# Kondisi Fisik

Bentang lahan TNAP terdiri dari formasi Pantai, perairan, daratan, rawa, dataran rendah hingga daerah perbukitan dengan ketinggian dari 0 – 322 m dplGunung Lingga Manis adalah puncak tertinggi. Kelerengan TNAP terdiri dari; daerah datar (0-8%) seluas 10.554 ha, landai (8-15%) seluas 19.474 ha, agak curam (15-25%) seluas 11.091 ha, serta curam (25-40%) seluas 2.301 ha. Daerah pantai TNAP melingkar dari Segoro Anak (Grajagan) hingga ke Sembulungan dengan panjang garis pantai ±105 Km.


# Topografi

Bentang lahan TNAP terdiri dari formasi Pantai, perairan, daratan, rawa, dataran rendah hingga daerah perbukitan dengan ketinggian dari 0 – 322 m dpl. Gunung Lingga Manis adalah puncak tertinggi. Kelerengan TNAP terdiri dari; daerah datar (0-8%) seluas 10.554 ha, landai (8-15%) seluas 19.474 ha, agak curam (15-25%) seluas 11.091 ha, serta curam (25-40%) seluas 2.301 ha. Daerah pantai TNAP melingkar dari Segoro Anak (Grajagan) hingga ke Sembulungan dengan panjang garis pantai ±105 Km.

# Letak Ketinggian (m.dpl)
0-322
# Jenis Tanah

Jenis tanah di kawasan TNAP terdiri atas 4 (empat) kelompok, yaitu (1) tanah komplek Mediteran Merah-Litosol seluas 2.106 ha, (2) tanah Regosol Kelabu seluas 6.238 ha, (3) tanah Grumosol Kelabu seluas 379 ha, dan (4) tanah Aluvial Hidromorf seluas 34.697 ha.


# Geologi

Secara fisiografis kawasan TNAP terdiri atas 4 unit bentuklahan, yaitu: bentuklahan fluvial; bentuklahan organik; bentuklahan marin; dan bentuk lahan karst. Bentuklahan fluvial menempati daerah bagian barat TNAP memanjang dari Teluk Pangpang sampai ke Pantai Triangulasi dengan luas 2097,7 ha. Bentuk lahan organik menempati bagian tepi kawasan TNAP, terbagi menjadi dua yaitu daerah mangrove dan terumbu karang dengan luas yang belum dapat dipastikan karena bersifat sangat dinamik utamanya dipengaruhi oleh pasang- surut air laut. Bentuklahan marin menempati bagian tepi kawasan TNAP berasosiasi dengan bentuklahan organik. Bentuklahan ini terbagi menjadi 5 macam bentukan yaitu; Bura (1470,2 ha), dataran pasang surut (47,7 ha), lagun (582,6 ha), beting gisik dan gerong laut (marine notch). Bentuklahan karst menempati sebagian besar kawasan TNAP mulai dari Gunung Sembulungan, Tanjung Purwo, Tanjung Bantenan dan Teluk Banyubiru.Bentuk lahan karts, terbagi menjadi 3 bentukan utama yaitu: perbukitan gamping terkarstifikasi awal, perbukitan gamping terkarstifikasi muda, dan perbukitan gamping terkarstifikasi dewasa, dengan total luas 39.481 ha.

Formasi geologi pembentuk kawasan Taman Nasional Alas Purwo berumur Meosen atas, terdiri dari batuan berkapur dan batuan berasam. Pada batuan berkapur terjadi proses karstifikasi yang tidak sempurna, karena faktor iklim yang kurang mendukung (relatif kering), serta batuan kapur yang diperkirakan terintrusi oleh batuan lain. Jenis batuan kapur ini menyebabkan terjadinya sejumlah gua di kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Tidak kurang dari 44 buah gua telah teridentifikasi di dalam kawasan.

Berdasarkan elevasinya goa di TNAP dapat di kelompokkan menjadi tiga level. Level pertama adalah kelompok goa yang menempati elevasi paling rendah. Secara genetik goa pada level ini merupakan kelompok goa yang paling aktif karena pada beberapa goa proses pembentukannya sedang berlangsung, hal ini diindikasikan oleh aliran air yang keluar dari lubang goa. Goa pada kelompok pertama ini memiliki elevasi antara 21 mdpl sampai 90 mdpl. Goa-goa yang merupakan kelompok goa pada level pertama adalah : Goa Istana (sumber mata air), Goa Basori, Goa Kucurmas. Selain goa-goa yang telah disebutkan di atas pada level pertama ini juga ditemukan goa-goa lain yang secara genetik berbeda dengan kelompok tersebut. Goa-goa tersebut diantaranya adalah : Goa Kaji, Goa Gajah Mungkur, Goa Satrio, Goa Garuda, Goa Lowo, Goa Baru, Goa Jengger, Goa L, Goa Gobol 1, Goa Dobol 2, dan Goa Dobol 3. Level ke dua adalah kelompok goa yang menempati elevasi antara teras pertama dan teras kedua. Kelompok goa ini dicirikan oleh tidak adanya aliran air aktif, tetapi beberapa goa masih meneteskan air melalui stalaktit. Goa pada kelompok kedua ini memiliki elevasi antara 100 mdpl sampai 155 mdpl. Goa-goa yang termasuk kelompok ini adalah : Goa Mayangkara, Goa Padepokan, Goa Mangkleng, Goa Angkrik, Goa 45, dan Goa Rajawali. Level ketiga adalah kelompok goa yang menempati elevasi di atas teras pertama. Kelompok goa ini dicirikan oleh karakteristiknya yang tidak memiliki lorong, dan dikategorikan sebagai goa ceruk (rock seltter).

Sedangkan Goa-goa yang termasuk pada level ketiga adalah goa yang memiliki elevasi di atas 155 mdpl. Goa-goa yang termasuk kelompok level ketiga adalah : Goa Trisula, Goa Putri dan Goa Gentong.

# DAS/Sub DAS

Jaringan sungai di kawasan TNAP berpola radial karena leher semenanjungnya menyempit. Aliran airnya langsung mengarah ke laut (Samudera Hindia dan Selat Bali). Sungai di kawasan Alas Purwo, secara umum berupa sungai-sungai kecil (aliran kurang dari 10 m dengan panjang kurang dari 5 Km), namun jumlahnya sangat banyak (sekitar 70 buah). Beberapa sungai, seperti Sunglon Ombo dan Sungai Pancur, berhubungan dengan sungai bawah tanah yang mengalir di bawah kompleks perbukitan/ lipatan kapur (daerah karst).

Sungai Pancur mengalir dari sungai bawah tanah gua Istana dimanfaatkan untuk keperluan pengelolaan TNAP, terutama Pos Rowobendo, Pesanggrahan, Triangulasi dan Pos Pancur. Sungai yang ukurannya relatif besar (Sungai Kemiri, Sungai Pail dan Sungai Paluh Agung dan Sungai Segoro Anak) terdapat di daerah Bedul – Rowobendo, dimana aliran airnya meng-umpul di bagian hilir Sungai Segoro Anak, memiliki lebar lebih dari 500 m di bagian hilirnya dan membentuk daerah berawa. Sungai yang mengalir sepanjang tahun hanya terdapat di bagian Barat Taman Nasional yaitu Sungai Segoro Anak dan Sunglon Ombo. Pada musim penghujan muara sungai sering jebol dan air mengalir jernih, Sungai Pancur mengalir sepanjang tahun yang pada musim kemarau airnya berasa sadah dan pada musim penghujan berasa tawar. Di beberapa tempat air sumber dalam jumlah kecil dapat diperoleh dari sistim rekahan atau celahan dari lapisan lapuk tebal serta  endapan aluvium yang tipis. Sumber air semacam ini dapat ditemui di blok hutan Pecari Kuning dan Sadengan. Mata air banyak terdapat di daerah Gunung Kucur, Gunung Kunci, Goa Basori dan Sendang Srengenge.

# Tipe Iklim

Kawasan TNAP dan sekitarnya memiliki curah hujan yang tidak merata sepanjang tahun. Hari hujan berkisar dari tidak ada hari hujan hingga lebih dari 15 hari hujan. Curah hujan tahunan mencapai 1.079 mm (Tegaldlimo), 1.491 mm (Purwoharjo), 1.554 mm (Muncar), masing-masing dengan hari hujan sebanyak 55 hari, 71 hari dan 79 hari.

Menurut sistem klasifikasi Schmidth dan Ferguson daerah sekitar TNAP memiliki tipe iklim sekitar D (agak lembab) sampai E (agak kering). Secara umum, bulan basah terjadi pada bulan Nopember sampai April, dan bulan kering terjadi pada bulan Mei sampai Oktober. Kisaran penyinaran matahari bulanan di Banyuwangi dan sekitarnya adalah 52% (bulan Januari) hingga 89% (bulan September), dengan rata-rata sebesar 75%.

Suhu udara maksimum bulanan di Banyuwangi antara 31,2oC – 34,5oC dan suhu udara minimumnya antara 20,7oC – 22,5oC, sedangkan suhu udara rata-rata bulanan berkisar antara 25,9oC – 28,2oC. Fluktuasi kelembaban udara juga tergolong kecil, yaitu berkisar antara 75% - 81%. Arah angin terbanyak yang bertiup di daerah Banyuwangi adalah arah Selatan dengan kecepatan antara 2,3 – 4,2 knot.

# Curah Hujan (mm)
1500.0
# Temperatur (0C)
26
# Kelembaban (%)
75