Jumat, 2 Jan 2026
Taman Nasional (TN) Meru Betiri memiliki luas 65.268,35 hektar . Secara administratif, kawasan ini terletak di Provinsi Jawa Timur.

Sebagai akibat adanya perubahan Zona Pengelolaan Taman Nasional Meru Betiri perkembangan kebijakan, adanya dinamika sosial, ekonomi dan budaya masyarakat, serta perubahan kondisi fisik dan biotik di lapangan menyebabkan perlu adanya Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Taman Nasional Meru Betiri Periode 2018-2027 dimana perubahan perubahan kondisi lapangan sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan dan pencapaian visi dan misi pengelolaan Taman Nasional Meru Betiri. Penyusunan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Taman Nasional Meru Betiri Periode 2018-2027 dimaksudkan untuk merevisi terhadap arah kebijakan sasaran dan indikator kinerja keberhasilan pengelolaan Taman Nasional Meru Betiri Periode 2018-2027.
Tujuan penyusunan dokumen ini adalah untuk menciptakan pedoman penyusunan dan penetapan program pengelolaan Taman Nasional Meru Betiri dalam kurun waktu 10 tahun sekaligus menjadi jembatan bagi kegiatan pengelolaan yang dilakukan selama kurun waktu tersebut. Sasarannya adalah terbaharuinya rencana pengelolaan jangka panjang TNMB yang terpadu, aplikatif, partisipatif, dan fleksibel untuk sepuluh tahun mendatang sampai dengan tahun 2027 serta terakomodirnya kegiatan-kegiatan yang penting dilaksanakan secara berkelanjutan.
Visi yang telah ditetapkan oleh Balai TNMB adalah “Menjadikan Taman Nasional Meru Betiri Sebagai Pusat Wisata Edukasi dengan Biodiversitas terutuh di Indonesia”. Untuk mencapai visi tersebut dalam tahun 2018–2027, telah dipilih program dan kegiatan prioritas yang mencakup bidang bidang
sebagai berikut : Pengelolaan SDAHE, Pusat Penelitian Konservasi Penyu, Peningkatan Pemanfaatan ODTWA dan Jasa Lingkungan, Peningkatan Pengembangan Bina Cinta Alam, Peningkatan pemanfaatan SDAHE berkelanjutan dalam rangka pemberdayaan masyarakat, perlindungan dan pengamanan kawasan, pemantapan kawasan, pengembangan SDM dan kelembagaan serta kemitraan dan kolaborasi pengelolaan. Dalam rangka pencapaian target kinerja kegiatan dan anggaran, akan dilakukan pembinaan, bimbingan, pengendalian, monitoring, evaluasi dan juga pelaporan
Gallery foto kawasan TN Meru Betiri.
Kawasan hutan Meru Betiri pada awalnya berstatus sebagai hutan lindung . Pada tahun 1967 kawasan ini kemudian ditunjuk sebagai Calon Suaka Alam dan ditetapkan sebagai SM seluas 50.000 Ha berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 276/Kpts/Um/6/1972 tanggal 6 Juni 1972 dengan tujuan utama sebagai perlindungan terhadap jenis Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica).
DI kawasan TNMB juga terdapat bnga Padmosari/Rafflesia zollingeriana Kds. merupakan salah satu tumbuhan langka dan endemik yang dimiliki TNMB. Rafflesia merupakan tumbuhan yang
tidak mempunyai akar, batang dan daun. Satu-satunya bentuk yang dimiliki adalah berupa
bunga yang menempel pada akar dan atau batang inangnya. Tumbuhan ini tergolong dalam holoparasit, dimana bunga merupakan satu-satunya organ tumbuhan yang dapat dilihat. Bunga ini hanya dapat tumbuh pada akar dan batang liana Tetrastigma lanceolarium dan Tetrastigma papillosum sebagai inangnya
Kawasan TNMB juga menjadi lokasi pendaratan Penyu. Jenis penyu yang mendarat di Pantai Sukamade adalah empat jenis penyu dari enam jenis penyu yang ada di Indonesia yaitu Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Slengkrah (Lepidochelys olivaceae), dan Penyu Belimbing (Dermochelys coriaceae). Penyu yang paling sering mendarat adalah Penyu Hijau.
Nilai penting kawasan TNMB berdasarkan tujuan berdirinya dapat dilihat dalam redaksi dokumen penunjukan kawasan TNMB. Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 277/Kpts-VI/1997 tentang Penunjukan TNMB seluas 58.000 Ha, yang terletak di Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, dapat diketahui
bahwa nilai penting kawasan TNMB terdiri dari :
1. Ekosistem mangrove, hutan rawa, hutan hujan dataran rendah di Pulau Jawa.
2. Habitat tumbuhan langka berupa Rafflesia (Rafflesia zollingeriana), serta beberapa jenis tumbuhan seperti Bakau (Rhizophora sp.), Waru (Hibiscus tiliencis), Nyamplung (Calophyllum inophyllum), Rengas (Gluta renghas), Bungur (Lagerstroemia speciosa), Pulai (Alstonia speciosa), Bendo (Artocarpus elasticus), serta beberapa jenis tumbuhan obat.
3. Fauna dilindungi yang terdiri dari 29 jenis mamalia dan ± 180 jenis burung antara lain Harimau Loreng (Panthera tigris sondaica), Banteng (Bos javanicus), Babi Hutan (Sus sp.), Kera (Macaca fascicularis), Macan Tutul (Panthera pardus melas), Kucing Hutan (Felis bengalis), Rusa (Cervus sp.), Musang (Paradoxurus hermaphroditus), dan jenis-jenis burung endemik Pulau Jawa.
4. Potensi keindahan alam, budaya, dan keunikan alam yang potensial untuk dikembangkan kepariwisataan.
5. Mempunyai peranan dan manfaat bagi keseimbangan ekosistem, kepentingan ilmu pengetahuan, pendidikan, kebudayaan, kepariwisataan dalam rangka mendukung pembangunan daerah.
Nilai penting kawasan TNMB sebagai kawasan perlindungan setempat dapat diekstrak dari Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 yang memberikan arahan untuk mengidentifikasi fungsi lindung berdasarkan empat parameter yaitu kelerengan di atas 40%, ketinggian diatas 2.000 m dpl, 50-100 m sempadan sungai, dan 100 m sempadan pantai.
Spesies mandat merupakan jenis tumbuhan dan satwa liar yang menjadi prioritas pengelolaan dan perlindungan berdasarkan tingkat ancaman, nilai konservasi, serta kebijakan nasional dan internasional.
Banteng (Bos javanicus) adalah hewan yang sekerabat dengan sapi dan ditemukan di Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Kalimantan, Jawa, dan Bali. Banteng dibawa ke Australia Utara pada masa kolonisasi Britania Raya pada tahun 1849 dan sampai sekarang masih lestari. Banteng dapat mencapai tinggi sekitar 1,6m di bagian pundaknya dan panjang badan 2,3 m. Berat banteng jantan biasanya sekitar 680 – 810 kg — jantan yang sangat besar bisa mencapai berat satu ton — sedangkan betinanya lebih ringan. Banteng memiliki bagian putih pada kaki bagian bawah dan pantat,punuk putih, serta warna putih disekitar mata dan moncongnya, walaupun terdapat sedikit dimorfisme seksual pada ciri-ciri tersebut. Banteng jantan memiliki kulit berwarna biru-hitam atau atau coklat gelap, tanduk panjang melengkung ke atas, dan punuk di bagian pundak. Sementara, betinanya memiliki kulit coklat kemerahan, tanduk pendek yang mengarah ke dalam dan tidak berpunuk. Banteng memakan rumput, bambu, buah-buahan, dedaunan, dan ranting muda. Banteng umumnya aktif baik malam maupun siang hari, tetapi pada daerah permukiman manusia, mereka beradaptasi sebagai hewan nokturnal. Banteng memiliki kecenderungan untuk berkelompok pada kawanan berjumlah dua sampai tiga puluh ekor. Di Jawa, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Meru Betiri, Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional Alas Purwo dan Taman Nasional Baluran menjadi pertahanan terakhir hewan asli Asia Tenggara ini.
Penyu hijau (Chelonia mydas) adalah penyu laut besar yang termasuk dalam keluarga Cheloniidae. Hewan ini adalah satu-satunya spesies dalam golongan Chelonia[1]. Mereka hidup di semua laut tropis dan subtropis, terutama di Samudera Atlantik dan Samudera Pasifik. Namanya didapat dari lemak bewarna hijau yang terletak di bawah cangkang mereka. Jumlah Penyu Hijau semakin berkurang karena banyak diburu untuk diambil pelindung tubuhnya (karapaks dan plastron) sebagai hiasan, telurnya sebagai sumber protein tinggi dan obat, juga dagingnya sebagai bahan makanan.
Elang yang bertubuh sedang sampai besar, langsing, dengan panjang tubuh antara 60-70 cm (dari ujung paruh hingga ujung ekor). Kepala berwarna coklat kemerahan (kadru), dengan jambul yang tinggi menonjol (2-4 bulu, panjang hingga 12 cm) dan tengkuk yang coklat kekuningan (kadang tampak keemasan bila terkena sinar matahari). Jambul hitam dengan ujung putih; mahkota dan kumis berwarna hitam, sedangkan punggung dan sayap coklat gelap. Kerongkongan keputihan dengan garis (sebetulnya garis-garis) hitam membujur di tengahnya. Ke bawah, ke arah dada, coret-coret hitam menyebar di atas warna kuning kecoklatan pucat, yang pada akhirnya di sebelah bawah lagi berubah menjadi pola garis (coret-coret) rapat melintang merah sawomatang sampai kecoklatan di atas warna pucat keputihan bulu-bulu perut dan kaki. Bulu pada kaki menutup tungkai hingga dekat ke pangkal jari. Ekor kecoklatan dengan empat garis gelap dan lebar melintang yang tampak jelas di sisi bawah, ujung ekor bergaris putih tipis. Betina berwarna serupa, sedikit lebih besar. Iris mata kuning atau kecoklatan; paruh kehitaman; sera (daging di pangkal paruh) kekuningan; kaki (jari) kekuningan. Burung muda dengan kepala, leher dan sisi bawah tubuh berwarna coklat kayu manis terang, tanpa coretan atau garis-garis.
Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) atau macan kumbang adalah salah satu subspesies dari macan tutul yang hanya ditemukan di hutan tropis, pegunungan dan kawasan konservasi Pulau Jawa, Indonesia. Macan tutul ini memiliki dua variasi warna kulit yaitu berwarna terang (oranye) dan hitam (macan kumbang). Macan tutul jawa adalah satwa indentitas Provinsi Jawa Barat. Dibandingkan dengan macan tutul lainnya, macan tutul jawa berukuran paling kecil, dan mempunyai indra penglihatan dan penciuman yang tajam. Subspesies ini pada umumnya memiliki bulu seperti warna sayap kumbang yang hitam mengilap, dengan bintik-bintik gelap berbentuk kembangan yang hanya terlihat di bawah cahaya terang. Bulu hitam Macan Kumbang sangat membantu dalam beradaptasi dengan habitat hutan yang lebat dan gelap. Macan Kumbang betina serupa, dan berukuran lebih kecil dari jantan.
Kawasan Taman Nasional Meru Betiri secara administrative terletak di Andongrejo, Tempurejo, Kabupaten Jember, Propinsi Jawa Timur. Secara geografis Taman Meru Betiri terletak antara 8°20’48" - 8°33’48" Lintang Selatan dan 113°38'48"’ - 113°58’30" Bujur Timur. Taman Nasional Meru Betiri berbatasan dengan :
Topografi TNMB umumnya berbukit-bukit dengan kisaran elevasi mulai dari tepi
laut hingga ketinggian 1.223 meter pada puncak Gunung Betiri. Pada umumnya keadaan topografi di sepanjang pantai berbukit-bukit sampai bergunung-gunung dengan tebing yang curam. Sedangkan pantai datar yang berpasir hanya sebagian kecil, dari timur ke barat adalah Pantai Rajegwesi, Pantai Sukamade, Pantai Permisan, Pantai Meru dan Pantai Bandealit, serta Pantai Nanggelan. Sungai-sungai yang berada di kawasan TNMB antara lain: Sungai Sukamade, Sungai Permisan, Sungai Meru dan Sungai Sekar Pisang yang mengalir dan bermuara di Pantai Selatan Jawa
Berdasarkan hasil survey John Seidenticker dkk tahun 1976, di dalam kawasan TN Meru Betiri sedikitnya terdapat 3 (tiga) jenis tanah yaitu Aluvial, Regosol, dan Latosol. Tanah di bagisn selatan merupakan campuran tanah Mediteranian Kuning dan yang kurang subur, sedangkan di bagian utara tanahnya subur karena mengandung batuan vulkanik. Tanah Alluvial umumnya dijumpai di daerah lembah dan tempat rendah sampai daerah pantai, sedangkan tanah Regosol dan latosol umumnya terdapat di lereng dan puncak gunung.
Menurut Suganda dkk (1992), geologi kawasan Taman Nasional Meru Betiri terdiri dari :