Jumat, 2 Jan 2026

Taman Nasional
Baluran

Taman Nasional (TN) Baluran memiliki luas 29.706,59 hektar . Secara administratif, kawasan ini terletak di Provinsi Jawa Timur.

Logo Kementerian Kehutanan
# Rencana Pengelolaan Kawasan

Dalam satu dekade lampau, TNB mengalami berbagai permasalahan dan isu penting terkait konservasi TNB, antara lain adalah (1) dinamika ekosistem Baluran yang harus mendapat penangangan serius agar tidak mengarah kepada kehacuran, (2) penurunan populasi Banteng sebagai icon Baluran dan spesies-spesies lain dengan nilai konservasi tinggi yang disebabkan oleh invasi spesies eksotik, bencana dan masyarakat sekitar TNB, (3) interaksi TNB dengan masyarakat yang harus segera dipecahkan permasalahannya (i.e. permasalahan tanah eks HGU Gunung Kumitir, Tanah Gentong dan Translok AD, dan (4) sector kepariwisataan yang belum dikelola secara optimal untuk kepentingan konservasi dan peningkatan kesejahteran masyarakat sekitar tanaman nasional.

# Foto Kawasan

Gallery foto kawasan TN Baluran.

Awan Diatas Gunung Baluran dengan Hamparan Savana yang Sejuk
Panthera pardus
Penjelajah Dataran
# Sejarah Kawasan

Kawasan Taman Nasional Baluran berdasarkan sejarahnya dapat dibuat periodisasi sebagai berikut:

  • Awal mula kawasan taman nasional ini merupakan lokasi berburu.
  • Pada tahun 1928 A.H. Loedebour yang merupakan seorang pemburu berkebangsaan Belanda mengajukan permohonan agar kawasan Baluran dan kekayaan alam di dalamnya dapat dilestarikan.
  • Tahun 1930 K.W. Dammerman direktur Kebun Raya Bogor mengusulkan agar kawasan Baluran dijadikan sebagai hutan lindung.
  • Tahun 1937 Gubernur Jenderal Hindia Belanda menyatakan kawasan ini sebagai Suaka Margasatwa Baluran dengan Surat Keputusan Pemerintah Belanda Nomor 9 tahun 1937 (Lembaran Negara No. 544 tahun 1937).
  • Tahun 1962 Menteri Pertanian Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan untuk memperkuat status Suaka Margasatwa Baluran.
  • 6 Maret 1980 berdasarkan Surat Pernyataan Menteri Pertanian dan bertepatan dengan Hari Strategi Konservasi Dunia, diumumkan bahwa status Suaka Margasatwa Baluran menjadi Taman Nasional Baluran.
  • 14 Oktober 1982 dikeluarkan Surat Pernyataan Menteri Pertanian No. 736/Mentan/X/1982 yang menyatakan penetapan Taman Nasional Baluran.
  • 23 Mei 1997 dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 279/Kpts-VI/1997 untuk mengukuhkan penetapan status kawasan Taman Nasional Baluran dengan luas 25.000 hektare.


# Keunikan

Taman Nasional Baluran dikenal dengan julukan kerennya, Africa Van Java. Satu dari 5 taman nasional tertua di Indonesia ini merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.

Taman Nasional Baluran memiliki beberapa objek dan daya tarik wisata alam yang cukup beragam, terdiri dari kombinasi berbagai bentang alam mulai dari ekosistem laut hingga pegunungan, savana, dan keanekaragaman jenis satwa dan tumbuhan.

Beberapa daerah di Taman Nasional Baluran yang sering dikunjungi wisatawan dan masyarakat untuk berbagai keperluan terutama yang dimanfaatkan sebagai daerah tujuan wisata antara lain Gua Jepang, Curah Tangis, Sumur Tua, Evergreen Forest, Bekol, Bama, Manting, Dermaga, Kramat, Kajang, Balanan, Lempuyang, Talpat, Kacip, Bilik, Sejileh, Teluk Air Tawar, Batu Numpuk, Pandean, dan Candi Bang. Adapun wisatawan yang berkunjung ke Taman Nasional Baluran meliputi wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara. Dari berbagai obyek wisata yang ada di Taman Nasional Baluran sebagian telah dikembangkan menjadi produk wisata, antara lain Gua Jepang, Curah Tangis, Visitor Centre, Candi Bang, Savana Semiang, Savana Bekol, Evergreen Forest Bekol, dan Pantai Bama. (kabaralam.com)

# Nilai Konservasi

Potensi keanekaragaman flora dan fauna di Balai TN Baluran termasuk sangat tinggi, diketahui terdapat sekitar 444 jenis tumbuhan yang tergolong dalam 87 familia. Jenis-jenis tersebut terdiri dari 24 jenis tumbuhan eksotik, 265 jenis tumbuhan penghasil obat dan 37 jenis merupakan tumbuhan yang hidup pada ekosistem mangrove yang terdiri dari jenis mangrove sejati dan mangrove ikutan. Jenis-jenis tersebut : Ketapang (Terminalia catappa Linn), Manting (Syzygium polyanthum), Widoro Bukol (Zyziphus jujuba Lamk), Pilang (Acacia leucophloe Willd), Kepuh (Sterculia foetida Wall), Mimba (Azadirachta indica A. Juss), tembelekan (Lantana camara L), Simbar menjangan (Platycerium bifurcatum C.Chr), Asam (Tamarindus indica Linn), Gebang (Corypha utan Lamk).


sedangkan, jenis-jenis dari kelas mamalia (termasuk primata), burung, reptilia, amphibia dan lain sebagainya. Diketahui dari kelas mamalia sebanyak 28 jenis dan burung sebanyak 155 jenis sedangkan yang lain belum diketahui jumlahnya. Dari jenis-jenis yang diketahui tersebut 47 jenis merupakan satwa yang dilindungi Undang-undang perlindungan satwa liar yang terdiri dari insektivora 5 jenis, karnivora 5 jenis, herbivora 4 jenis, burung 32 jenis dan reptilia 1 jenis. Seperti : Banteng (Bos javanicus), Kerbau Liar (Bubalus bubalis), Rusa (Cervus timorensis), Kijang (Muntiacus muntjak), Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Lutung (Trachypithecus auratus cristatus), Ajag (Cuon alpinus), Macan Tutul (Panthera pardus), Kucing Bakau (Felis viverrina), Babi Hutan (Sus sp).

Jenis Burung, Dari ± 155 jenis burung di Taman NAsional Baluran, jenis-jenis yang mudah dijumpai antara lain : merak (Pavo muticus), ayam hutan (ayam hutan hijau dan ayam hutan merah), kangkareng (Anthracoceros convexus) dan rangkong (Buceros rhinoceros). 

Terumbu Karang. Tipe terumbu karang yang ada disepanjang pantai Taman Nasional Baluran adalah karang tepi yang memiliki lebar beragam dan berada pada kisaran kedalaman 0.5 m - 40 m. tempat yang baik diantaranya pantai bama dan Bilik.

Ikan. Jenis-jenis tersebut banyak dijumpai di daerah Bama, Bilik, Kajang, Balanan, Lempuyang, Air Karang dan Takat Wedi.

# Spesies Mandat (3)

Spesies mandat merupakan jenis tumbuhan dan satwa liar yang menjadi prioritas pengelolaan dan perlindungan berdasarkan tingkat ancaman, nilai konservasi, serta kebijakan nasional dan internasional.

Banteng Bos javanicus

Banteng atau tembadau (dari bahasa Jawa, ban?hèng), Bos javanicus, adalah hewan yang sekerabat dengan sapi dan ditemukan di Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Kalimantan, Jawa, dan Bali. Banteng dibawa ke Australia Utara pada masa kolonisasi Britania Raya pada tahun 1849 dan sampai sekarang masih lestari. Banteng dapat mencapai tinggi sekitar 1,6m di bagian pundaknya dan panjang badan 2,3 m. Berat banteng jantan biasanya sekitar 680 – 810 kg — jantan yang sangat besar bisa mencapai berat satu ton — sedangkan betinanya lebih ringan. Banteng memiliki bagian putih pada kaki bagian bawah dan pantat,punuk putih, serta warna putih disekitar mata dan moncongnya, walaupun terdapat sedikit dimorfisme seksual pada ciri-ciri tersebut. Banteng jantan memiliki kulit berwarna biru-hitam atau atau coklat gelap, tanduk panjang melengkung ke atas, dan punuk di bagian pundak. Sementara, betinanya memiliki kulit coklat kemerahan, tanduk pendek yang mengarah ke dalam dan tidak berpunuk. Banteng memakan rumput, bambu, buah-buahan, dedaunan, dan ranting muda. Banteng umumnya aktif baik malam maupun siang hari, tetapi pada daerah permukiman manusia, mereka beradaptasi sebagai hewan nokturnal. Banteng memiliki kecenderungan untuk berkelompok pada kawanan berjumlah dua sampai tiga puluh ekor. Di Jawa, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Meru Betiri, Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional Alas Purwo dan Taman Nasional Baluran menjadi pertahanan terakhir hewan asli Asia Tenggara ini.

Kijang Biasa Muntiacus muntjak

Muntiacus muntjak atau Kijang biasa adalah Kijang yang tersebar di India, Pakistan, Bangladesh, Myanmar, Indocina, Thailand, Malaysia dan Indonesia. Ini jenis kijang paling umum dan banyak. Ciri-ciri hewan ini Rambut pendek, coklat atau abu-abu, kadang-kadang dengan bercak berwarna krim . seekor jantan juga memiliki sepasang tanduk sampai 15 cm, dengan satu cabang yang jatuh dan tumbuh kembali sekali setahun. Ketika ketakutan atau bersemangat, hewan ini akan menyalak,terkadang ia mampu menyalak lebih dari sejam hewan ini adalah omnivora, yang makan pada buah, daun, rumput, tetapi kadang-kadang makan telur dan bahkan serangga. Pejantan spesies ini sering berkelahi di antara mereka sendiri, menggunakan tanduk pendeknya sebagai senjata karena jauh lebih efektif dari taring karnivora, yang ia dapat membela diri secara dari predator bahkan oleh anjing besar.

Macan Tutul Jawa Panthera pardus melas

Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) atau macan kumbang adalah salah satu subspesies dari macan tutul yang hanya ditemukan di hutan tropis, pegunungan dan kawasan konservasi Pulau Jawa, Indonesia. Macan tutul ini memiliki dua variasi warna kulit yaitu berwarna terang (oranye) dan hitam (macan kumbang). Macan tutul jawa adalah satwa indentitas Provinsi Jawa Barat. Dibandingkan dengan macan tutul lainnya, macan tutul jawa berukuran paling kecil, dan mempunyai indra penglihatan dan penciuman yang tajam. Subspesies ini pada umumnya memiliki bulu seperti warna sayap kumbang yang hitam mengilap, dengan bintik-bintik gelap berbentuk kembangan yang hanya terlihat di bawah cahaya terang. Bulu hitam Macan Kumbang sangat membantu dalam beradaptasi dengan habitat hutan yang lebat dan gelap. Macan Kumbang betina serupa, dan berukuran lebih kecil dari jantan.

# Kondisi Fisik

Secara geografis Taman Nasional Baluran terletak antara 7º29'10" - 7º55'5" Lintang Selatan dan 114º39'10" Bujur TimurKawasan Taman Nasional Baluran secara administrative terletak di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Propinsi Jawa Timur dengan batas-batas wilayah:

  • Sebelah utara berbatasan dengan selat Madura;
  • Sebelah timur berbatasan dengan selat Bali;
  • Sebelah selatan berbatasan dengan sungai Bajulmati, desa Wonorejo;
  • Sebelah Barat berbatasan dengan sungai Klokoran, Desa Sumberanyar.
# Topografi

Bentuk kawasan ini segi empat dan memiliki topografi kawasan yang bervariasi, mulai dari wilayah yang datar sampai dengan wilayah yang bergunung-gunung. Ketinggian kawasan taman nasional ini berada di antara 0 – 1.247 mdpl (puncak Gunung Baluran). Sebagian besar kawasan taman nasional ini merupakan daerah berbatu-batu, hal ini disebabkan oleh letusan Gunung Baluran pada masa lalu. Bagian timur dan selatan dari gunung Baluran ini memiliki kemiringan lereng yang cukup curam sehingga menyulitkan pada pendaki gunung.

# Letak Ketinggian (m.dpl)
1247
# Jenis Tanah
Kawasan ini memiliki jenis tanah aluvial dan tanah vulkanik.
# Geologi

Secara geologi TN Baluran memiliki dua jenis golongan tanah, yaitu tanah pegunungan yang terdiri dari jenis tanah aluvial dan tanah vulkanik, serta tanah dasar laut yang terbatas hanya pada dataran pasir sepanjang pantai daerahdaerah hutan mangrove. Tanah vulkanik berasal dari pelapukan basalt, debu vulkanik, batuan vulkanik intermedia yang berbentuk suatu urutan bertingkat dari kondisi tanah yang berbatu-batu di lereng gunung yang tinggi dan curam sampai tanah aluvial yang dalam di dataran rendah. Keadaan tanahnya terdiri dari jenis yang kaya akan mineral tetapi miskin akan bahan-bahan organik, dan mempunyai kesuburan kimia yang tinggi tetapi kondisi fisiknya kurang baik karena sebagian besar berpori-pori dan tidak dapat menyimpan air dengan baik

# DAS/Sub DAS
Airtawar, bajulmati, baru, dolok, gatel, gladak, kelokoran, merak, parkit, uling
# Tipe Iklim
klim di Taman Nasional Baluran termasuk ke dalam klasifikasi tipe iklim F dengan nilai Q sebesar 119,6%. Kawasan ini memiliki iklim dengan bulan kering yang lebih panjang daripada bulan basahnya, hal ini disebabkan oleh arus tenggara yang kuat selama periode bulan April sampai dengan Oktober atau November.
# Curah Hujan (mm)
172.0
# Temperatur (0C)
27 - 30
# Kelembaban (%)
77