Jumat, 2 Jan 2026
Taman Nasional (TN) Gunung Halimun Salak memiliki luas 87.699,40 hektar . Secara administratif, kawasan ini terletak di Provinsi Jawa Barat dan Banten.

Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak dikelola dengan sistem zonasi yang terdiri dari Zona Inti (35.434,23 Ha), Zona Rimba (18.208,45 Ha), Zona Pemanfaatan (11.107,69 Ha), Zona Rehabilitasi (17.327,25 Ha), Zona Tradisional (823,40 Ha), Zona Khusus (4.783,34 Ha), dan Zona Budaya (14,64 Ha).
Dengan melihat potensi keanekaragaman hayati yang tinggi dan perannya sebagai daerah tangkapan air, maka Balai TNGHS memiliki visi yang ingin dicapai dalam pengelolaannya pada periode Tahun 2018 - 2027 atau dalam sepuluh (10) tahun ke depan, yaitu Taman Nasional Gunung Halimun Salak sebagai pusat konservasi keanekaragaman hayati hutan hujan tropis pegunungan di Pulau Jawa, dengan misi untuk mencapainya adalah : (1). Memantapkan perlindungan dan pengawetan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya; (2). Membangun kesepakatan ruang kelola dengan para pihak dan (3). Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam TNGHS secara berkelanjutan.
Sedangkan, berdasarkan visi dan misi pengelolaan TNGHS tersebut maka ditetapkan tujuan pengelolaan TNGHS untuk 10 tahun ke depan yaitu (1). Mempertahankan kualitas habitat satwa kunci TNGHS; (2). Mempertahankan populasi satwa kunci TNGHS; (3). Meningkatkan kualitas tata air; (4). Menyelesaikan tata batas kawasan TNGHS yang belum diakui para pihak; (5). Memberikan akses ruang kelola dan pemanfaatan sumber daya alam kepada masyarakat dan (6). Memberikan akses pemanfaatan jasa lingkungan secara berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat.
Gallery foto kawasan TN Gunung Halimun Salak.
Taman nasional ini ditetapkan sebagai salah satu taman nasional di Indonesia. Berawal dari proses penunjukan taman nasional sebelumnya dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 282/ Kpts-II/1992 tanggal 28 Pebruari 1992 dengan luas 40.000 hektar sebagai Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) dan resmi ditetapkan pada tanggal 23 Maret 1997 sebagai salah satu unit pelaksana teknis di Departemen Kehutanan.
Selanjutnya atas dasar kondisi sumber daya alam hutan yang semakin terancam rusak dan adanya desakan para pihak yang peduli konservasi alam, kawasan TNGH ditambah dengan kawasan hutan Gunung Salak, Gunung Endut dan kawasan di sekitarnya yang status sebelumnya merupakan hutan produksi terbatas dan hutan lindung yang dikelola Perum Perhutani diubah fungsinya menjadi hutan konservasi. Menjadi satu kesatuan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung HalimunSalak (TNGHS) melalui SK Menteri Kehutanan No. 175/Kpts-II/2003 dengan luas total 113.357 ha.
Namun, pada Tahun 2016, atas dasar terdapatnya keterlanjuran di dalam kawassan TNGHS, luas kawasan TNGHS kembali mengalami perubahan, menjadi ± 87.699 ha sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 327/Menlhk/Setjen/PLA.2/4/2016 Tanggal 26 April 2016 Tentang Perubahan Fungsi Sebagian Kawasan Hutan TNGHS. Sebagian kawasan TNGHS tersebut berubah fungsi menjadi hutan lindung, hutab produksi tetap, dan hutan produksi terbatas, serta pengembalian areal penggunaan lain (enclave).
Kawasan TNGHS merupakan kawasan pelestarian alam yang memiliki keunikan sebagai kawasan dengan ekosistem hutan hujan tropis terluas yang masih tersisa di Pulau Jawa, dan merupakan habitat beberapa spesies terancam punah seperti Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) dan Owa Jawa (Hylobates moloch) (GHSNP-MP 2007).
Kawasan hutan yang terdapat di Pegunungan Halimun dan Gunung Salak memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan merupakan sumber mata air yang perlu dilindungi dan dilestarikan, karena sumber mata air tersebut penting bagi keberlangsungan hidup masyarakat di sekitar kawasan TNGHS (Kompas 2003 dalam Galudra, dkk 2005).
Kawasan TNGHS memiliki nilai penting sebagai daerah tangkapan air. Banyak sungai berasal dari kawasan ini yang bermuara ke Laut Jawa di sebelah Utara maupun ke Lautan Hindia di sebelah Selatan. Berdasarkan pengamatan di lapangan, lebih dari 115 sungai dan anak sungai yang berhulu dari dalam kawasan TNGHS. Pada umumnya, aliran sungai di kawasan TNGHS mengalir sepanjang tahun dengan debit relatif tetap dan dengan tingkat fluktuasi yang rendah. Aliran air sungai-sungai ini banyak dimanfaatkan masyarakat untuk mengairi lahan pertanian, kegiatan rumah tangga, pembangkit listrik mikrohydro, industri dan wisata arung jeram yang sangat populer.
Daya tarik lain dari konservasi TNGHS juga adanya budaya tradisional masyarakat setempat yang hidup selaras dengan lingkungannya. Masyarakat lokal yang ada umumnya adalah suku Sunda, yang terbagi ke dalam kelompok masyarakat kasepuhan dan bukan kasepuhan. Untuk masyarakat kasepuhan, secara historis penyebaranya terpusat di Kampung Urug, Citorek, Bayah, Ciptamulya, Cicarucub, Cisungsang, Sirnaresmi, Ciptagelar dan Cisitu. Masyarakat kasepuhan masih memiliki susunan organisasi secara adat yang terpisah dari struktur organisasi pemerintahan dan merupakan bagian dari warisan budaya nasional.
Kawasan TNGHS mempunyai nilai penting sebagai daerah tangkapan air. Banyak sungai berasal dari kawasan ini yang bermuara ke Laut Jawa di sebelah Utara maupun ke Lautan Hindia di sebelah Selatan. Air sungai tersebut menyuplai air ke lahan-lahan pertanian di sekitar kawasan yang berkembang subur Sungai-sungai di sekitar kawasan ini berair sepanjang musim.
Di kawasan TNGHS telah diketahui terdapat jenis mamalia sebanyak 61 jenis, dimana terdapat jenis-jenis yang endemik Pulau Jawa dan jenis-jenis terancam punah. Jenis-jenis terancam punah yang masih dapat dijumpai pada saat ini, antara lain : Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas), Kucing Hutan (Prionailurus bengalensis), Owa Jawa (Hylobates moloch), Surili (Presbytis comata), Lutung (Trachypithecus auratus), Ajag atau Anjing Hutan (Cuon alpinus javanicus) dan Sigung (Mydaus javanensis).
Selain jenis-jenis mamalia juga telah tercatat 244 jenis burung, dimana 32 jenis diantaranya adalah endemik di Pulau Jawa dengan penyebaran yang terbatas/ langka bahkan beberapa jenis terancam punah, seperti Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), Ciung-mungkal Jawa (Cochoa azurea), Celepuk Jawa (Otus angelinae) dan Luntur Gunung (Harpactus reinwardtii).
Kawasan TNGHS merupakan habitat yang sangat penting untuk konservasi Elang Jawa, sehingga menjadi tempat yang menarik untuk kegiatan pengamatan burung. Karena pengunjung juga dapat mengamati burung-burung terancam punah lainnya seperti Rangkong dan burung-burung yang indah seperti Luntur Gunung, Srigunting Ekor Raket, Burung Kipasan Merah dan lain-lain. Untuk pengamat burung, sangat disarankan untuk membawa teropong binokuler.
Spesies mandat merupakan jenis tumbuhan dan satwa liar yang menjadi prioritas pengelolaan dan perlindungan berdasarkan tingkat ancaman, nilai konservasi, serta kebijakan nasional dan internasional.
Owa Jawa (Hylobates moloch) merupakan salah satu spesies kunci di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) yang menjadi indikator kualitas ekosistem hutan. kawasan TNGHS. Owa Jawa merupakan primata arboreal (hidup di atas pohon) yang termasuk ke dalam famili Hylobatidae. Beberapa ahli memasukkan seluruh jenis Owa ke dalam satu genus (monogeneric). Nama lokal lain spesies Owa Jawa adalah Ungko Jawa, Wau-wau, Owa abu-abu, javan gibbon dan silvery gibbon. Genus Hylobates merupakan kera tidak berekor, mempunyai kepala kecil dan bulat, hidung tidak menonjol, rahang kecil, rongga dada pendek tetapi lebar, rambut tebal dan halus. Rambut di sekujur badan dan anggotatubuh sangat lebat berwarna kelabu keperakan. Kulit mukanya yang tidak berambut berwarna hitam kelabu. Panjang tubuh individu jantan dan betina hampir sama yaitu berkisar 75-80 cm. Berat tubuh Owa Jawa berkisar antara 5 – 9 kg. Owa Jawa merupakan satwa diurnal dan arboreal yang pandai memanjat pohon dan bergerak dengan cara brachiasi di dalam hutan. Owa Jawa nyaris tidak pernah turun ke lantai hutan, sehingga satwa ini sangat tergantung pada kanopi pepohonan untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Seperti halnya spesies gibbon yang lain, Owa Jawa hidup berkelompok, berpasangan secara monogami dan menjaga teritorinya secara berpasangan dengan ketat. Owa Jawa betina biasanya akan bersuara untk menandai teritorinya hingga berkali-kali dalam sehari, dan jika ada pendatang masuk ke dalam teritorinya maka jantan bersuara keras untuk menakut-nakutinya. Owa Jawa dapat dijumpai dalam kelompok-kelompok kecil 3-5 individu, terdiri atas pasangan jantan dan betina dewasa serta 1-3 Owa Jawa muda. Individu yang hidup soliter biasanya adalah jantan tua yang terisolasi atau individu muda yang memisahkan diri untuk mencari pasangan. Perkawinan Owa Jawa terjadi sepanjang tahun, di mana setiap tiga tahun rata-rata induk betina melahirkan satu anak dengan masa bunting 7 bulan. Anak Owa Jawa akan diasuh oleh induknya hingga usia 18 bulan dan hidup bersama dengan kelompok/keluarganya sampai mencapai dewasa seksual pada 8-10 tahun. Owa Jawa dewasa mulai ber-reproduksi pertama kali pada usia 10-12 tahun, dengan interval antar kelahiran sekitar 3-3,5 tahun
Elang Jawa adalah jenis berjambul dari jenis burung pemangsa bergenus Spizaetus /Nisaetus. Secara fisik, Elang Jawa dewasa memiliki badan yang langsing dengan total panjang mencapai antara 60 cm dan 70 cm . Hal ini menyebabkan saat Elang Jawa dewasa bertengger di pohon, ukuran badannya akan terlihat cukup besar. Elang Jawa dewasa betina berukuran lebih besar dari yang jantan, tetapi bentuknya masih terlihat ramping. Lebih lanjutnya, bobot Elang Jawa dewasa dapat mencapai sekitar 2,5 kg . Berfokus pada bagian kepala, kepala Elang Jawa dewasa berwarna coklat kadru, bagian tengkuk coklat kekuning-kuningan, di mana bagian ini akan terlihat seperti berwarna emas ketika terkena sinar matahari, dan selalu terlihat lebih terang dari badannya yang berwarna lebih tua. Bagian mahkota berwarna coklat kehitaman atau hitam dengan semua garis-garis tepi bulu yang halus berwarna bungalan. Selanjutnya, di sekitar mata berwarna coklat tua, sehingga terlihat gelap dengan tonjolan di alis mata jelas. Lingkaran mata berwarna kuning terang. Beralih pada paruh, paruh Elang Jawa berwarna abu tua sampai hitam, dengan dahi berwarna abu-abu. Elang Jawa dewasa memilik jambul yang terdiri dari dua sampai empat bulu yang panjang hingga mencapai 12 cm. Jambul tersebut berwarna hitam dengan ujung berwarna putih dan dapat terbuka seperti kipas, pada saat terancam/terintimidasi, atau lurus panjang dan sempit. Namun, jambul ini jarang terlihat ketika Elang Jawa dewasa sedang terbang . Elang Jawa dewasa memiliki bagian leher berwarna putih pucat yang dibatasi oleh strip kumis dan strip kumis mesial berwarna hitam. Kemudian, punggung dan sayap bagian atas berwarna coklat gelap dengan tepi bulu berwarna bungalan. Ujung bulu sayap utama atau primer berwarna hitam. Selanjutnya, bagian sisi atas ekor berwarna coklat tua dan terdapat empat garis lebar dengan bagian ujung bergaris putih tipis. Bagian sisi bawah ekor bungalan keabu-abuan terdapat empat garis lebar berwarna coklat dengan bagian ujung ekor bergaris putih. Bagian bawah tubuh Elang Jawa dewasa berwarna bungalan keputih-putihan dengan kecenderungan mendekati putih. Di bagian dada terdapat tanda titik-titik panjang tebal coklat tua dan di bagian perut terdapat garis-garis halus yang berdekatan dengan warna coklat tua. Pada bagian kaki berwarna putih bergaris-garis melintang coklat tua dengan bulu-bulu hingga ke tungkai, serta bagian jari berwarna kuning dengan cakar hitam .
Macan tutul Jawa (Pantera pardus melas) adalah salah satu dari empat kucing besar dan merupakan fauna identitas daerah Jawa Barat dan di Indonesia termasuk ke dalam salah satu hewan yang terancam punah (endangered species). Macan tutul berukuran besar, dan memiliki ukuran panjang tubuh satu sampai dua meter. Terdapat dua variasi warna rambut pada macan tutul, yaitu pola totol-totol hitam dan hitam polos yang bila diamati dengan seksama masih terdapat pola totol tetapi tidak jelas. Varian yang berwarna hitam sering dikenal sebagai macan kumbang, sedangkan varian dengan totol-totol hitam berwarna dasar coklat muda kekuningan disebut macan tutul. Pada varian macan tutul jantan, bintik hitam di kepalanya berukuran lebih kecil. Begitu pula pada macan tutul betina, hanya saja ukuran tubuh betina lebih kecil daripada jantan. Macan tutul merupakan pemburu yang oportunitis. Mereka memakan hampir segala mangsa dari berbagai usuran. Mangsa utamanya terdiri dari aneka binatang menyusui, binatang pengerat, ikan, monyet, burung, dan binatang-binatang lain yang terdapat di sekitar habitatnya. Habitat macan tutul terdapat di hutan primer dan hutan sekunder.
Secara administrasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak terletak di Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bogor dan Kabupaten Lebak, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis areal ini terletak antara 106°21’ - 106°38’ Bujur Timur dan 6°37’ - 6°51’ Lintang Selatan. Adapun berdasarkan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 327/Menlhk/Setjen/PLA.2/4/2016 Tanggal 26 April 2016, luasan kawasan TNGHS adalah seluas ± 87.699 hektar.
Kawasan ini dapat dikatakan luasan terbesar bagi sekelompok hutan pegunungan (submontane) yang masih utuh di Pulau Jawa. Beberapa gunung yang terdapat di sebelah barat kawasan ini yaitu; Gunung Endut Barat (1.297 m), Gunung Pameungpeuk (1.455 m), Gunung Ciawitali (1.530 m), Gunung Kencana (1.831 m), Gunung Halimun Utara (1.929 m), Gunung Sanggabuana (1.920 m) dan Gunung Botol (1.850 m). Sedangkan gunung-gunung yang terdapat di sebelah Timur Laut yaitu: Gunung Kendeng Utara (1.377 m) dan di bagian Tenggara terdapat Gunung Kendeng Selatan (1.680 m), Gunung Panenjoan (1.350 m) dan Gunung Halimun Selatan (1.758 m). Gunung Salak 1 (2.211m), Gunung Salak 2 (2.180 m), Gunung Endut Timur (1.471 m) dan Gunung Sumbul (1.926 m). Berdasarkan data tersebut diketahui, puncak gunung tertinggi yang terdapat di kawasan taman nasional adalah Gunung Salak 1 yaitu 2.211 m yang terletak di bagian Timur Laut taman nasional. Di sekitar kawasan TNGHS terdapat bukit memanjang mulai dari Gunung Endut (di sebelah Barat) melintas Gunung Kendeng (di kawasan Baduy) kemudian perlahan menurun sampai ke Gunung Honjedan Semenanjung Ujung Kulon. Sedangkan di sebelah Timur berhubungan dengan Gunung Gede Pangrango yang dipisahkan oleh sungai Citatih, sungai Cisadane dan jalan propinsi Ciawi – Sukabumi.
Berdasarkan peta tanah Propinsi Jawa Barat skala 1: 250.000 dari Lembaga Penelitian Tanah Bogor tahun 1966, sebagian jenis tanah di kawasan TNGHS terdiri dari asosiasi andosol coklat dan regosol coklat; latosol coklat; asosiasi latosol coklat kekuningan; asosiasi latosol coklat kemerahan dan latosol coklat, asosiasi latosol merah;latosol coklat kemerahan dan literit air tanah; kompleks latosol coklat kemerahan dan litosol; asosiasi latosol coklat dan regosol kelabu.
Berdasarkan sejarah geologi, kawasan ini merupakan bagian dari sabuk gunung berapi yang memanjang dari Pegunungan Bukit Barisan Selatan Sumatera ke Gunung Honje di Taman Nasional Ujung Kulon dan seterusnya ke Gunung Halimun-Salak.Selama periode Miocene dan Pleostean (sekitar 10-20 juta tahun yang lalu) permukaan pegunungan tersebut terdorong ke atas. Gerakan tektonik ini kemudian membentuk wilayah Bayah sedang bagian yang runtuh menjadi Selat Sunda yang telah memisahkan Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Rentetan gerakan tektonik ini membentuk dinding lava dan wilayah yang turun di sebelah selatan menghadap pegunungan yang membentuk formasi tapal kuda. Seiring berjalannya waktu, perubahan cuaca, erosi permukaan bumi sehingga membentuk bentang alam yang luas. Akibatnya sebagian komplek kawasan TNGHS terdiri dari batuan vulkanik seperti, brecsias, basalt, andesit dan beberapa dacitic. Bahkan Gunung Salak sampai saat ini masih berstatus gunung berapi strato type A dan tercatat terakhir Gunung Salak meletus tahun 1938. Gunung Salak memiliki kawah yang masih aktif dan lebih dikenal dengan nama Kawah Ratu.
Menurut Schmidt dan Ferguson, daerah ini beriklim B dimana 1,5 – 3 bulan kering. Perbandingan jumlah rata-rata bulan kering dan basah adalah 24,7. Namun ada sumber lain menyatakan bahwa berdasarkan overlay antara peta penutupan lahan dan peta tipe iklim kawasan TNGHS dan sekitarnya terdiri dari tipe iklim A, B1 dan B2.
Variasi curah hujan rata-rata di wilayah ini berkisar antara 4.000 mm sampai 6.000 mm/tahun, bulan Oktober-April merupakan musim hujan dengan curah hujan antara 400 mm - 600 mm/bulan, sedangkan musim kemarau berlangsung dari bulan Mei-September dengan curah hujan sekitar 200 mm/bulan.
Suhu udara rata-rata bulanan 31,5°C dengan suhu terendah 19,7°C dan suhu tertinggi 31,8°C. Kelembaban udara rata-rata 88%.