Jumat, 2 Jan 2026
Taman Nasional (TN) Kepulauan Seribu memiliki luas 107.489,00 hektar . Secara administratif, kawasan ini terletak di Provinsi Dki Jakarta.

nan
Gallery foto kawasan TN Kepulauan Seribu.
Spesies mandat merupakan jenis tumbuhan dan satwa liar yang menjadi prioritas pengelolaan dan perlindungan berdasarkan tingkat ancaman, nilai konservasi, serta kebijakan nasional dan internasional.
Penampilan penyu sisik mirip dengan penyu lainnya. Penyu ini umumnya memiliki bentuk tubuh yang datar, dengan sebuah karapaks sebagai pelindung, dan sirip menyerupai lengan yang beradaptasi untuk berenang di samudra terbuka. Perbedaan E. imbricata dari penyu lainnya yang sangat mudah dibedakan adalah paruhnya yang melengkung dengan bibir atas yang menonjol, dan tampilan pinggiran cangkangnya yang seperti gergaji. Cangkang penyu sisik dapat berubah warna, sesuai dengan temperatur air. Walaupun penyu ini menghabiskan separuh hidupnya di samudra terbuka, sesekali mereka juga mendatangi laguna yang dangkal dan terumbu karang.
Taman Nasional Kepulauan Seribu seluas 107.489 hektar, merupakan kawasan perairan laut sampai batas pasang tertinggi, pada geografis antara 5°24?-5°45? LS dan 106°25?-106°40? BT, termasuk kawasan darat Pulau Penjaliran Barat dan Pulau Penjaliran Timur seluas 39,50 hektar.
Taman Nasional Kepulauan Seribu tersusun oleh Ekosistem Pulau-Pulau Sangat Kecil dan Perairan Laut Dangkal, yang terdiri dari Gugus Kepulauan dengan 78 pulau sangat kecil, 86 Gosong Pulau dan hamparan laut dangkal pasir karang pulau sekitar 2.136 hektar (Reef flat 1.994 ha, Laguna 119 ha, Selat 18 ha dan Teluk 5 ha), terumbu karang tipe fringing reef, Mangrove dan Lamun bermedia tumbuh sangat miskin hara/lumpur, dan kedalaman laut dangkal sekitar 20-40 m.
Perairan dangkal dengan pulau-pulau (gosong) dan rataan terumbu karang (reff flat). (Sumber : Buku Taman Nasional di Indonesia, Ditjen PHKA)
0
nan
Kawasan ini terdiri dari perairan laut yang mempunyai pulau-pulau karang yang terbentuk di atas koloni binatang karang yang sudah mati. Koloni ini, awalnya tumbuh pada dasar laut yang dangkal, kemudian muncul di atas permukaan laut dan mengalami pelapukan. Pada akhirnya di atas daratan karang yang telah lapuk itu tumbuh rumput, semak belukar, beberapa jenis pohon dan terwujudlah pulau-pulau seperti sekarang. (Sumber : Buku Taman Nasional di Indonesia, Ditjen PHKA)
Termasuk ke dalam iklim A (Schmidt dan Fergusson)