Jumat, 2 Jan 2026

Taman Nasional
Ujung Kulon

Taman Nasional (TN) Ujung Kulon memiliki luas 105.694,46 hektar . Secara administratif, kawasan ini terletak di Provinsi Banten.

Logo Balai TN Ujung Kulon
# Rencana Pengelolaan Kawasan

Rencana Pengelolaan Jangka Panjang 2015-2025  Taman Nasional Ujung Kulon ini meliputi perumusan visi dan misi, tujuan dan sasaran pengelolaan, strategi dan kebijakan pengelolaan serta program dan kegiatan pengelolaan Taman Nasional Ujung Kulon selama 10 tahun kedepan. 

# Foto Kawasan

Gallery foto kawasan TN Ujung Kulon.

Anak Badak ID. 074.2018 (Betina)
Anak Badak ID. 077.2019(Betina)
Anak Badak ID. 078.2019 (Betina)
Anak Badak ID.075.2018 (Jantan)
Pulau Panaitan
Pulau Peucang
# Sejarah Kawasan
  • Tahun 1921, Berdasarkan rekomendasi dari Perhimpunan The Netherlands Indies Society for The Protectin of Nature, Semenanjung Ujung Kulon dan P. Panaitan ditetapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai Kawasan Suaka Alam melalui SK Pemerintah Hindia Belanda Nomor : 60  Tanggal 16 November 1921;
  • Tahun 1937, Besluit Van Der Gouverneur – General Van Nederlandch – Indie dengan keputusan  Nomor : 17 Tanggal 24 Juni 1937 menetapkan status kawasan Suaka Alam tersebut kemudian diubah menjadi Kawasan Suaka Margasatwa dengan memasukkan P. Peucang dan P. Panaitan;
  • Tahun 1958, berdasarkan SK Menteri Pertanian Nomor : 48/Um/1958 Tanggal 17 April 1958 Kawasan Ujung Kulon berubah status kembali menjadi Kawasan Suaka Alam dengan memasukkan kawasan perairan laut selebar 500 meter dari batas air laut surut terendah;
  • Tahun 1967, melalui SK Menteri Pertanian Nomor : 16/Kpts/Um/3/1967 Tanggal 16 Maret 1967 Kawasan G. Honje Selatan seluas 10.000 Ha yang bergandengan dengan bagian Timur Semenanjung Ujung Kulon ditetapkan menjadi Cagar Alam Ujung Kulon;
  • Tahun 1979, melalui SK Menteri Pertanian Nomor : 39/Kpts/Um/1979 Tanggal 11 Januari 1979 Kawasan G. Honje Utara seluas 9.498 Ha dimasukkan ke dalam wilayah Cagar Alam Ujung Kulon;
  • Tahun 1992, melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 284/Kpts-II/1992 Tanggal 26 Februari 1992, Ujung Kulon ditunjuk sebagai Taman Nasional Ujung Kulon dengan luas total 122.956 Ha terdiri dari kawasan darat 78.619 Ha dan perairan 44.337 Ha;

Dalam hal penegasan batas-batas hutan negara, perkembangan penataan batasnya adalah sebagai berikut:

  • Tahun 1980, dilaksanakan Tata Batas di Cagar Alam G. Honje, Berita Acara Tata Batas  pada Tanggal 26 Maret 1980, dan disyahkan Tanggal 2 Februari 1982 oleh Menteri Pertanian.
  • Tahun 1995, Dilaksanakan Rekonstruksi Batas Taman Nasional Ujung Kulon wilayah G. Honje oleh Badan Planologi Kehutanan; Badan Planologi Kehutanan, Taman Nasional Ujung Kulon bekerjasama dengan Pemerintah New Zealand melaksanakan pemasangan sebanyak 6 ( enam ) yang terdiri dari 1 ( satu ) unit Rambu suar, dan 5 (lima) unit pelampung sebagai batas perairan laut;
  • Tahun 1999, Badan Planologi Kehutanan melaksanakan pemasangan rambu suar kuning di Tj. Alang – alang dan pemancangan titik referensi di Tj. Sodong, Tj. Layar, Tj. Alang – alang, Tj. parat dan Tj. Cina; Badan Planologi Kehutanan melaksanakan pengukuran batas alam pantai Semenanjung Ujung Kulon; Sesuai SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor : 758/Kpts-II/1999 Tanggal 23 September 1999 menetapkan Kawasan Perairan Taman Nasional Ujung Kulon seluas 44.337 Ha sebagai Kawasan Pelestarian Alam Perairan.
  • Tahun 2004, Balai Pemantapan Kawasan Hutan ( BPKH ) Wilayah XI Jawa – Madura melaksanakan Rekonstruksi Batas Taman Nasional Ujung Kulon di daerah Gunung Honje. Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai kawasan yang dilindungi berdasarkan Undang-undang No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam dan Undang-undang No.41 tahun 1999 tentang Kehutanan, telah mendapat pengakuan sebagai kawasan yang penting dan dibanggakan secara nasional dan internasional, antara lain: Komisi Warisan Dunia UNESCO menetapkan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Natural World Heritage Site dengan Surat Keputusan Nomor: SC/Eco/5867.2.409 Tanggal 1 Februari 1992.
# Keunikan

Kawasan ini berada di ujung paling Barat (dalam bahasa sunda disebut kulon) Pulau Jawa, sehingga terkenal nama Taman Nasional Ujung Kulon. Taman Nasional ini merupakan tipe perwakilan ekosistem hutan hujan dataran rendah yang tersisa dan terluas di Jawa Barat dan Banten serta merupakan habitat terakhir bagi kelangsungan satwa langka Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan satwa langka lainnya.

Terdapat tiga tipe ekosistem di taman nasional ini yaitu perairan laut, ekosistem pesisir pantai, dan ekosistem daratan.

Pada peta bumi kawasan Taman Nasional terletak pada koordinat 6º30‘34 - 6º52‘17 Lintang Selatan dan 102º2‘32 - 102º37‘37 Bujur Timur, meliputi kawasan seluas 120.551 ha, yang berada dalam wilayah Pemerintahan Propinsi Banten.

Sebelum ditetapkan sebagai daerah suaka, kawasan ini merupakan daerah perburuan yang terhimpun dalam perkumpulan Perburuan - Venatoria. Tahun 1921 ditunjuk sebagai cagar alam dengan nama Natuurmonument Prinseiland (P. Panaitan) dan Natuurmonument Oedjoeng Koelon, dan tahun 1937 dirubah statusnya menjadi Suaka Margasatwa (Wildreservaat) Oedjoeng Koelon dan P. Panaitan serta mencakup P. Peucang dan P. Handeuleum.

Taman Nasional Ujung Kulon dan Cagar Alam Gn. Krakatau pada tahun 1992 ditetapkan sebagai salah satu Situs Warisan Alam Dunia (World Heritage Site) oleh UNESCO.

# Nilai Konservasi

Kawasan TN.  Ujung  Kulon adalah salah satu  fakta  sejarah,  yaitu merupakan sisa-sisa letusan  Gn.  Krakatau tahun 1883 yang sudah dikenal  secara umum hebatnya letusan gunung tersebut. Yang selanjutnya   mengalami  suksesi dengan tumbuh  dan berkembangnya kehidupan tumbuhan.  Dari berbagai hasil  survey yang dilakukan oleh  para  ahli  ditemukan  sebanyak 700 jenis tumbuhan yang ada di Taman Nasional Ujung  Kulon dan 57 jenis diantaranya termasuk jenis  yang langka  dan endemik di  Pulau  Jawa.

Ujung  Kulon  memiliki sejumlah  satwa liar,   dimana  sebagian diantaranya merupakan satwa langka. Beberapa jenis satwa liar mengembara secara bebas didalam  dan  dapat  dilihat setiap  hari, sementara  yang  lain  hanya  dapat didengar keberadaannya, dan beberapa jenis sangat jarang dijumpai. Taman Nasional  Ujung Kulon merupakan  salah satu Taman Nasional tertua di Indonesia. Beranekaragam satwa liar hidup dan berkembang baik di kawasan Taman Nasional Ujung kulon. Taman Nasional Ujung Kulon juga dikenal sebagai habitat Badak Bercula Satu (Rhinoceros sondaicus).

# Spesies Mandat (2)

Spesies mandat merupakan jenis tumbuhan dan satwa liar yang menjadi prioritas pengelolaan dan perlindungan berdasarkan tingkat ancaman, nilai konservasi, serta kebijakan nasional dan internasional.

Owa Jawa Hylobates moloch

Owa Jawa merupakan salah satu primata di Ujung Kulon yang mempunyai habitat di kawasan Gunung Honje. Mempunyai ekor pendek, bulu halus berwarna abu-abu dan wajah hitam yang menyebabkan primata ini dinamai owa. Owa merupakan satwa monogamy sekali kawin dalam hidupnya, dan hidup dalam kelompok keluarga kecil yang terdiri dari seekor jantan, seekor betina dengan satu atau lebih anak.satwa dewasa muda meninggalkan kelompoknya untuk selanjutnya menjelajahi hutan untuk mencari pasangan hidup dan daerah kekuasaan yang baru.

Badak jawa Rhinoceros sondaicus

Badak Jawa termasuk ke dalam golongan binatang berkuku ganjil atau Perrisdactyla, mempunyai kulit tebal berlipat-lipat seperti perisai dari bahan tanduk sehingga satwa ini kelihatan seperti bongkah batu yang besar dan tubuhnya lebih besar dari Badak Sumatera (Dicerorhinus sumetrensis). Cula Badak Jawa jantan biasanya lebih besar dari betinanya, dimana cula Badak Jawa betina hanya berupa tonjolan di atas kepalanya (Veevers dan Carter, 1978; Prawirosudirjo, 1975). Tinggi rata-rata Badak Jawa antara 140-175 cm. Sedangkan panjang badannya 300 – 315 cm dan adapula yang pernah ditemukan dengan panjang mencapai 392 cm. Tebal kulitnya 25 – 30 mm, lebar kaki rata-rata 27-28 cm dan beratnya sekitar 2300 Kg. Panjang cula diukur mengikuti lengkungnya bisa mencapai 48 cm (Hoogerwerf, 1970). Penglihatan Badak jawa tidaklah tajam, tapi pendengarannnya maupun penciumannya sangat tajam. Badak dapat mengetahui adanya bahaya atau musuh yang kan datang walaupun sesungguhnya bahaya atau musuh itu masih terpaut jarak jauh dengan badak tersebut (Hoogerwerf, 1970; Prawirosudirjo, 1975). Kadang-kadang badak sanggup untuk menempuh jarak 15 – 20 km dalam sehari, tetapi sebaliknya sering berada beberapa hari dalam daerah yang tidak lebih dari 0,5 km2 (Hoogerwerf, 1970).

# Kondisi Fisik

Kawasan Taman nasional Ujung Kulon secara administrative terletak di Kecamatan Sumur dan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Propinsi Banten. Secara geografis Taman Nasional Ujung Kulon terletak antara 102º02’32” - 105º37’37” Bujur Timur dan 06º30’43” - 06º52’17” Lintang Selatan.

Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 284/Kpts-II/1992 tanggal 26 Februari 1992 tentang Perubahan Fungsi Cagar Alam Gunung Honje, Cagar Alam Pulau Panaitan, Cagar Alam Pulau Peucang, dan Cagar alam Ujung Kulon seluas 78.619 Ha dan Penunjukan perairan laut di sekitarnya seluas 44.337 Ha yang terletak di Kabupaten Daerah Tingkat II Pandeglang, Propinsi Dati I Jawa Barat menjadi Taman Nasional dengan nama Taman Nasional Ujung Kulon maka luas kawasan Taman Nasional Ujung Kulon adalah 122.956 Ha.

# Topografi
Bagian timur kawasan Taman Nasional Ujung Kulon didominasi oleh deretan Pegunungan Honje dengan puncak tertinggi 620 m di atas permukaan laut. Disebelah Barat dipisahkan oleh dataran rendah tanah genting yang merupakan Semenanjung Ujung Kulon dan membentuk dataran utama TNUK. Semenanjung ini mempunyai topografi datar di sepanjang pantai Utara dan Timur, bergunung dan berbukit - bukit di sekitar Gunung Telanca dan Pantai Bagian Barat Daya dan Selatan dengan Puncak tertinggi 480 m diatas permukaan laut. Sebagian juga merupakan dataran rendah dan berawa - rawa yaitu di daerah Jamang yang ditumbuhi Bakau. Pulau - Pulau besar yang ada di Taman Nasional tersebar ada 3 yaitu Pulau Peucang, Pulau Hnadeuleum dan Pulau Panaitan. Pulau peucang dan Pulau Handeuleum relatif datar sedangkan Pulau Panaitan sebagian besar topografinya datar sampai berbukit dan bergunung dengan puncak tertinggi Gunung Raksa 320 m di atas permukaan laut.
# Letak Ketinggian (m.dpl)
620
# Jenis Tanah
Keadaan tanah di Semenanjung Ujung Kulon telah mengalami modifikasi lokal yang ekstensif mengiringi terjadinya endapan gunung merapi selama letusan Gunung Krakatau tahun 1883 (Hommel, 1987). Bahan induk tanah di Taman Nasional Ujung Kulon berasal dari batuan vulkanik seperti batuan lava merah, marl, tuff, batuan pasir dan konglomerat. Jenis tanah yang paling luas  penyebarannya di sebagian Gunung Honje, Semenanjung Ujung Kulon, dan sebagian Pulau Peucang adalah jenis tanah kompleks grumosol, regosol, dan mediteran dengan fisiogafi bukit lipatan.

Di daerah Gunung Honje didapati pula tipe tanah regosol abu-abu berpasir di daerah pantai, tanah podsolik kekuningan dan coklat, tanah mediteran, grumosol, regosol dan latosol. Sebagian besar tanah di Gunung Honje  mempunyai tingkat kesuburan tanah dengan batuan induk asam dan miskin unsur hara. Pulau Panaitan umumnya mempunyai tipe tanah alluvial  hidromorph, regosol coklat abu-abu, dengan campuran latosol merah-coklat, serta miskin hara.  Tanah di wilayah Kecamatan Sumur dan Kecamatan Cimanggu berdasarkan peta tanah dari Lembaga Penelitian Tanah tahun 1954 terdiri dari tipe-tipe regosol abu-abu coklat berpasir di bagian pantai, grumosol, regosol dan latosol di bagian sebelah dalam dari pantai terutama pada lereng-lereng Gunung Honje. Tanah-tanah tersebut umumnya mempunyai tingkat kesuburan rendah dan miskin hara.

TN Ujung Kulon yang meliputi Pegunungan Honje, Semenanjung Ujung Kulon dan Pulau Panaitan termasuk pegunungan tersier muda yang menutupi strata pra-tersier dari dangkalan Sunda pada zaman tersier. Selama masa Pleistosen deretan pegunungan Honje diperkirakan telah membentuk Ujung Selatan dari deretan pegunungan Bukit Barisan di Sumatera yang kemudian terpisah setelah  terlipatnya Kubah Selat Sunda. Bagian Tengah dan Timur Semenanjung Ujung Kulon terdiri formasi batu kapur miosen yang tertutupi oleh endapan aluvial di bagian Utara dan endapan pasir di bagian Selatan.  

Di bagian Barat yang merupakan deretan Gunung Payung terbentuk dari endapan batuan miosen di bagian Timur yang merupakan deretan Pegunungan Honje, batuannya lebih tua tertutup endapan vulkanis dan tufa laut di bagian Tengah dan tertutup oleh batuan kapur dan liat (marl) di bagian Timur. Pulau Panaitan mempunyai pola lipatan dan formasi batuan yang sama dengan yang terlihat di Gunung Payung dan di Bagian Barat terutama Barat Laut ditemukan bahan-bahan Vulkanis termasuk breksia, tufa dan kuarsit yang terbentuk pada zaman Holosen. 
# Geologi

TN Ujung Kulon yang meliputi Pegunungan Honje, Semenanjung Ujung Kulon dan Pulau Panaitan termasuk pegunungan tersier muda yang menutupi strata pra-tersier dari dangkalan Sunda pada zaman tersier. Selama masa Pleistosen deretan pegunungan Honje diperkirakan telah membentuk Ujung Selatan dari deretan pegunungan Bukit Barisan di Sumatera yang kemudian terpisah setelah terlipatnya Kubah Selat Sunda. Bagian Tengah dan Timur Semenanjung Ujung Kulon terdiri formasi batu kapur miosen yang tertutupi oleh endapan aluvial di bagian Utara dan endapan pasir di bagian Selatan.

Di bagian Barat yang merupakan deretan Gunung Payung terbentuk dari endapan batuan miosen di bagian Timur yang merupakan deretan Pegunungan Honje, batuannya lebih tua tertutup endapan vulkanis dan tufa laut di bagian Tengah dan tertutup oleh batuan kapur dan liat (marl) di bagian Timur. Pulau Panaitan mempunyai pola lipatan dan formasi batuan yang sama dengan yang terlihat di Gunung Payung dan di Bagian Barat terutama Barat Laut ditemukan bahan-bahan Vulkanis termasuk breksia, tufa dan kuarsit yang terbentuk pada zaman Holosen.

# DAS/Sub DAS

Di Semenanjung Ujung Kulon terdapat pola aliran sungai yang sangat berbeda, pada daerah berbukit di bagian barat banyak sungai kecil dengan arus yang umumnya deras berasal dari Gunung Payung dan Gunung Sikuya, serta sungai- sungai tersebut tidak pernah kering sepanjang tahun.

Sungai Cikuya dan Ciujung Kulon mengalirkan airnya ke arah utara, sedang Sungai Cibunar mengalirkan airnya ke arah selatan dari Gunung Payung dan dataran Telanca. Di bagian Timur Semenanjung Ujung Kulon tidak memiliki pola aliran sungai yang baik, dan umumnya mengalir ke arah Utara, Timur dan Selatan dari dataran Telanca dengan muara-muara yang berendapan/gugusan pasir, sehingga membentuk rawa-rawa musiman. Di bagian ini terdapat sungai- sungai  Cigenter,  Cikarang, Citadahan, Cibandawoh  dan  Cikeusik.  Di  bagian Utara sungai Nyawaan, Nyiur, Jamang dan Citelang membentuk daerah-daerah rawa  air  tawar  yang  luas.  Di  Pulau  Peucang  karena  pulaunykecil  tidak dijumpai adanya sungai, tetapi pada musim hujan pada bagian barat dan timur laut Pulau Peucang terjadi rawa air tawar. Pulau Panaitan umumnya mempunyai pola aliran sungai yang baik, yang mengalir ke arah pantai dengan sungai- sungai kecil (musiman) dan sungai besar antara lain sungai Cilentah yang mengalir ke arah Timur, Sungai Cijangkah yang mengalir ke arah utara, dan Sungai Ciharashas yang mengalir ke selatan ke Teluk Kasuari. Juga terdapat beberapa hutan rawa air tawar di bagian timur laut (Legon Lentah- Citambuyung) dan bagian selatan pada Teluk Kasuari.

Wilayah sekitar kawasan Gunung Honje (Kecamatan Sumur dan Kecamatan Cimanggu) membentuk dua aliran sungai yang mengalir ke arah barat (Teluk Selamat Datang) dan kearah timur/selatan (Samudera Hindia). Sumber mata air sungai-sungai tersebut berasal dari kawasan hutan Taman Nasional Ujung Kulon. Sungai-sungai tersebut mengalir melewati lereng-lereng Gunung Honje menuju  pantai,  dan  umumnya  merupakan  sungai-sungai  kecil  dan  yang terbesar hanya Sungai Cikalejetan berasal dari bagian barat Gunung Honje mengalir ke arah barat daya mencapai pantai Selatan. Air sungai tersebut banyak  dipakai  oleh  masyarakat  untuk  keperluan  hidup  sehari-hari,  serta sumber air tersebut potensial untuk dikembangkan bagi keperluan air bersih, irigasi sawah dan kolam ikan. Fluktuasi aliran air pada musim kemarau dan musim hujan berbeda sangat nyata, sehingga dimusim kemarau terasa sungai- sungai kering dan dimusim hujan sungai-sungai melimpah aimya. Hal ini terjadi akibat rusaknya fungsi hidrologis dari hutan-hutan yang ada di bagian hulu sungai-sungai tersebut akibat perambahan hutan.

# Tipe Iklim
Menurut SCHMIDT & FERGUSON termasuk dalam iklim tipe B, dengan curah hujan 100-4000 mm, temperatur 15-30? C dan kelembaban udara 80-90%
# Curah Hujan (mm)
3249.0
# Temperatur (0C)
15-30
# Kelembaban (%)
80-90
Publikasi Terkait

Publikasi siaran pers, berita, artikel atau pengumuman terkait kawasan TN Ujung Kulon.