Jumat, 2 Jan 2026
Taman Nasional (TN) Ujung Kulon memiliki luas 105.694,46 hektar . Secara administratif, kawasan ini terletak di Provinsi Banten.

Rencana Pengelolaan Jangka Panjang 2015-2025 Taman Nasional Ujung Kulon ini meliputi perumusan visi dan misi, tujuan dan sasaran pengelolaan, strategi dan kebijakan pengelolaan serta program dan kegiatan pengelolaan Taman Nasional Ujung Kulon selama 10 tahun kedepan.
Gallery foto kawasan TN Ujung Kulon.
Dalam hal penegasan batas-batas hutan negara, perkembangan penataan batasnya adalah sebagai berikut:
Kawasan ini berada di ujung paling Barat (dalam bahasa sunda disebut kulon) Pulau Jawa, sehingga terkenal nama Taman Nasional Ujung Kulon. Taman Nasional ini merupakan tipe perwakilan ekosistem hutan hujan dataran rendah yang tersisa dan terluas di Jawa Barat dan Banten serta merupakan habitat terakhir bagi kelangsungan satwa langka Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan satwa langka lainnya.
Terdapat tiga tipe ekosistem di taman nasional ini yaitu perairan laut, ekosistem pesisir pantai, dan ekosistem daratan.
Pada peta bumi kawasan Taman Nasional terletak pada koordinat 6º30‘34 - 6º52‘17 Lintang Selatan dan 102º2‘32 - 102º37‘37 Bujur Timur, meliputi kawasan seluas 120.551 ha, yang berada dalam wilayah Pemerintahan Propinsi Banten.
Sebelum ditetapkan sebagai daerah suaka, kawasan ini merupakan daerah perburuan yang terhimpun dalam perkumpulan Perburuan - Venatoria. Tahun 1921 ditunjuk sebagai cagar alam dengan nama Natuurmonument Prinseiland (P. Panaitan) dan Natuurmonument Oedjoeng Koelon, dan tahun 1937 dirubah statusnya menjadi Suaka Margasatwa (Wildreservaat) Oedjoeng Koelon dan P. Panaitan serta mencakup P. Peucang dan P. Handeuleum.
Taman Nasional Ujung Kulon dan Cagar Alam Gn. Krakatau pada tahun 1992 ditetapkan sebagai salah satu Situs Warisan Alam Dunia (World Heritage Site) oleh UNESCO.
Kawasan TN. Ujung Kulon adalah salah satu fakta sejarah, yaitu merupakan sisa-sisa letusan Gn. Krakatau tahun 1883 yang sudah dikenal secara umum hebatnya letusan gunung tersebut. Yang selanjutnya mengalami suksesi dengan tumbuh dan berkembangnya kehidupan tumbuhan. Dari berbagai hasil survey yang dilakukan oleh para ahli ditemukan sebanyak 700 jenis tumbuhan yang ada di Taman Nasional Ujung Kulon dan 57 jenis diantaranya termasuk jenis yang langka dan endemik di Pulau Jawa.
Ujung Kulon memiliki sejumlah satwa liar, dimana sebagian diantaranya merupakan satwa langka. Beberapa jenis satwa liar mengembara secara bebas didalam dan dapat dilihat setiap hari, sementara yang lain hanya dapat didengar keberadaannya, dan beberapa jenis sangat jarang dijumpai. Taman Nasional Ujung Kulon merupakan salah satu Taman Nasional tertua di Indonesia. Beranekaragam satwa liar hidup dan berkembang baik di kawasan Taman Nasional Ujung kulon. Taman Nasional Ujung Kulon juga dikenal sebagai habitat Badak Bercula Satu (Rhinoceros sondaicus).
Spesies mandat merupakan jenis tumbuhan dan satwa liar yang menjadi prioritas pengelolaan dan perlindungan berdasarkan tingkat ancaman, nilai konservasi, serta kebijakan nasional dan internasional.
Owa Jawa merupakan salah satu primata di Ujung Kulon yang mempunyai habitat di kawasan Gunung Honje. Mempunyai ekor pendek, bulu halus berwarna abu-abu dan wajah hitam yang menyebabkan primata ini dinamai owa. Owa merupakan satwa monogamy sekali kawin dalam hidupnya, dan hidup dalam kelompok keluarga kecil yang terdiri dari seekor jantan, seekor betina dengan satu atau lebih anak.satwa dewasa muda meninggalkan kelompoknya untuk selanjutnya menjelajahi hutan untuk mencari pasangan hidup dan daerah kekuasaan yang baru.
Badak Jawa termasuk ke dalam golongan binatang berkuku ganjil atau Perrisdactyla, mempunyai kulit tebal berlipat-lipat seperti perisai dari bahan tanduk sehingga satwa ini kelihatan seperti bongkah batu yang besar dan tubuhnya lebih besar dari Badak Sumatera (Dicerorhinus sumetrensis). Cula Badak Jawa jantan biasanya lebih besar dari betinanya, dimana cula Badak Jawa betina hanya berupa tonjolan di atas kepalanya (Veevers dan Carter, 1978; Prawirosudirjo, 1975). Tinggi rata-rata Badak Jawa antara 140-175 cm. Sedangkan panjang badannya 300 – 315 cm dan adapula yang pernah ditemukan dengan panjang mencapai 392 cm. Tebal kulitnya 25 – 30 mm, lebar kaki rata-rata 27-28 cm dan beratnya sekitar 2300 Kg. Panjang cula diukur mengikuti lengkungnya bisa mencapai 48 cm (Hoogerwerf, 1970). Penglihatan Badak jawa tidaklah tajam, tapi pendengarannnya maupun penciumannya sangat tajam. Badak dapat mengetahui adanya bahaya atau musuh yang kan datang walaupun sesungguhnya bahaya atau musuh itu masih terpaut jarak jauh dengan badak tersebut (Hoogerwerf, 1970; Prawirosudirjo, 1975). Kadang-kadang badak sanggup untuk menempuh jarak 15 – 20 km dalam sehari, tetapi sebaliknya sering berada beberapa hari dalam daerah yang tidak lebih dari 0,5 km2 (Hoogerwerf, 1970).
Kawasan Taman nasional Ujung Kulon secara administrative terletak di Kecamatan Sumur dan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Propinsi Banten. Secara geografis Taman Nasional Ujung Kulon terletak antara 102º02’32” - 105º37’37” Bujur Timur dan 06º30’43” - 06º52’17” Lintang Selatan.
Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 284/Kpts-II/1992 tanggal 26 Februari 1992 tentang Perubahan Fungsi Cagar Alam Gunung Honje, Cagar Alam Pulau Panaitan, Cagar Alam Pulau Peucang, dan Cagar alam Ujung Kulon seluas 78.619 Ha dan Penunjukan perairan laut di sekitarnya seluas 44.337 Ha yang terletak di Kabupaten Daerah Tingkat II Pandeglang, Propinsi Dati I Jawa Barat menjadi Taman Nasional dengan nama Taman Nasional Ujung Kulon maka luas kawasan Taman Nasional Ujung Kulon adalah 122.956 Ha.
TN Ujung Kulon yang meliputi Pegunungan Honje, Semenanjung Ujung Kulon dan Pulau Panaitan termasuk pegunungan tersier muda yang menutupi strata pra-tersier dari dangkalan Sunda pada zaman tersier. Selama masa Pleistosen deretan pegunungan Honje diperkirakan telah membentuk Ujung Selatan dari deretan pegunungan Bukit Barisan di Sumatera yang kemudian terpisah setelah terlipatnya Kubah Selat Sunda. Bagian Tengah dan Timur Semenanjung Ujung Kulon terdiri formasi batu kapur miosen yang tertutupi oleh endapan aluvial di bagian Utara dan endapan pasir di bagian Selatan.
Di bagian Barat yang merupakan deretan Gunung Payung terbentuk dari endapan batuan miosen di bagian Timur yang merupakan deretan Pegunungan Honje, batuannya lebih tua tertutup endapan vulkanis dan tufa laut di bagian Tengah dan tertutup oleh batuan kapur dan liat (marl) di bagian Timur. Pulau Panaitan mempunyai pola lipatan dan formasi batuan yang sama dengan yang terlihat di Gunung Payung dan di Bagian Barat terutama Barat Laut ditemukan bahan-bahan Vulkanis termasuk breksia, tufa dan kuarsit yang terbentuk pada zaman Holosen.
Di Semenanjung Ujung Kulon terdapat pola aliran sungai yang sangat berbeda, pada daerah berbukit di bagian barat banyak sungai kecil dengan arus yang umumnya deras berasal dari Gunung Payung dan Gunung Sikuya, serta sungai- sungai tersebut tidak pernah kering sepanjang tahun.
Sungai Cikuya dan Ciujung Kulon mengalirkan airnya ke arah utara, sedang Sungai Cibunar mengalirkan airnya ke arah selatan dari Gunung Payung dan dataran Telanca. Di bagian Timur Semenanjung Ujung Kulon tidak memiliki pola aliran sungai yang baik, dan umumnya mengalir ke arah Utara, Timur dan Selatan dari dataran Telanca dengan muara-muara yang berendapan/gugusan pasir, sehingga membentuk rawa-rawa musiman. Di bagian ini terdapat sungai- sungai Cigenter, Cikarang, Citadahan, Cibandawoh dan Cikeusik. Di bagian Utara sungai Nyawaan, Nyiur, Jamang dan Citelang membentuk daerah-daerah rawa air tawar yang luas. Di Pulau Peucang karena pulaunya kecil tidak dijumpai adanya sungai, tetapi pada musim hujan pada bagian barat dan timur laut Pulau Peucang terjadi rawa air tawar. Pulau Panaitan umumnya mempunyai pola aliran sungai yang baik, yang mengalir ke arah pantai dengan sungai- sungai kecil (musiman) dan sungai besar antara lain sungai Cilentah yang mengalir ke arah Timur, Sungai Cijangkah yang mengalir ke arah utara, dan Sungai Ciharashas yang mengalir ke selatan ke Teluk Kasuari. Juga terdapat beberapa hutan rawa air tawar di bagian timur laut (Legon Lentah- Citambuyung) dan bagian selatan pada Teluk Kasuari.Wilayah sekitar kawasan Gunung Honje (Kecamatan Sumur dan Kecamatan Cimanggu) membentuk dua aliran sungai yang mengalir ke arah barat (Teluk Selamat Datang) dan kearah timur/selatan (Samudera Hindia). Sumber mata air sungai-sungai tersebut berasal dari kawasan hutan Taman Nasional Ujung Kulon. Sungai-sungai tersebut mengalir melewati lereng-lereng Gunung Honje menuju pantai, dan umumnya merupakan sungai-sungai kecil dan yang terbesar hanya Sungai Cikalejetan berasal dari bagian barat Gunung Honje mengalir ke arah barat daya mencapai pantai Selatan. Air sungai tersebut banyak dipakai oleh masyarakat untuk keperluan hidup sehari-hari, serta sumber air tersebut potensial untuk dikembangkan bagi keperluan air bersih, irigasi sawah dan kolam ikan. Fluktuasi aliran air pada musim kemarau dan musim hujan berbeda sangat nyata, sehingga dimusim kemarau terasa sungai- sungai kering dan dimusim hujan sungai-sungai melimpah aimya. Hal ini terjadi akibat rusaknya fungsi hidrologis dari hutan-hutan yang ada di bagian hulu sungai-sungai tersebut akibat perambahan hutan.