Jumat, 2 Jan 2026
Taman Nasional (TN) Bukit Barisan Selatan memiliki luas 315.632,50 hektar . Secara administratif, kawasan ini terletak di Provinsi Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Lampung.

Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan telah menyusun dokumen Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) Periode 2015-2024 dan disahkan melalui keputusan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem nomor : SK.352/KPTS-SET/2015 tanggal 31 Desember 2015. Revisi RPJP TNBBS Periode 2015-2024 merupakan hasil peninjauan ulang dari Rencana Pengelolaan Jangka Panjang TNBBS Periode 2015- 2024.
Gallery foto kawasan TN Bukit Barisan Selatan.
Sejarah kawasan TNBBS di mulai sebagai Kawasan Suaka Margasatwa pada tahun 1935 melalui Besluit van der Gauverneur General van Nederlandsch Indie No. 48 stbl. 621 tahun 1935 dengan nama Suaka Margasatwa Sumaetra Selatan I.
Pada tahun 1982 memlui surat Pernyataan Menteri Pertanian No. 736/Mentan/X.1982 tanggal 14 Oktober 1982 kawasan tersebut dinyatakan sebagai calon Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dengan luas 365.000 ha. Setelah revisi luasan hutan di Provinsi Bengkulu sesuai dengan SK Menteri Kehutanan Nomor 489/Kpts-II/1999 tentang Penetapan Kelompok Hutan Kaur Timur Register 52 seluas 64.711 ha maka luas TNBBS adalah 366.511 ha dan sesuai dengan SK Menteri Kehutanan Nomor 71/Kpts-II/1990 tanggal 5 Februari 1990 CAL Bukit Barisan Selatan seluas 21.600 ha selanjutnya turut dikelola oleh TNBBS.
Selanjutnya berdasarkan SK Menteri Kehutanan Nomor 256/Kpts-II/2000 tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan di Wilayah Provinsi Lampung dan peta lampiran diketahui bahwa CAL Bukit Barisan Selatan yang berdampingan dan berbatasan langsung dengn TNBBS menjadi satu kesatuan pengelolaan dengan TNBBS.
Taman Nasional Bukit Barisan Selatan merupakan salah satu dari tiga taman nasional di Sumatera yang mewakili prioritas tertinggi bagi Unit Konservasi Harimau. Juga merupakan satu-satunya taman nasional yang memiliki ekosistem hutan dataran rendah terbesar pada hutan hujan tropis di Asia Tenggara.Selain itu, taman nasional ini memiliki fungsi strategis sebagai kawasan sistem penyangga kehidupan yang perannya sangat penting bagi masyarakat disekitarnya, karena kawasan ini merupakan daerah tangkapan air ( Catchment area). Kawasan ini sedikitnya memiliki 23 sungai besar dan ratusan anak-anak sungai yang mengalirkan airnya membawa kehidupan dari taman nasional ke daerah-daerah hilir di sepanjang pesisir Kabupaten Tenggamus, Lampung Barat dan Bengkulu Selatan.
Nilai Konservasi tinggi karena merupakan habitat dari Harimau Sumatera; Gajah Sumatera dan Badak Sumatera. Habitat dari Bunga Raflesia Arnoldi di Resort Sukaraja Atas SPTN I Sukaraja BPTN I Semaka.
Spesies mandat merupakan jenis tumbuhan dan satwa liar yang menjadi prioritas pengelolaan dan perlindungan berdasarkan tingkat ancaman, nilai konservasi, serta kebijakan nasional dan internasional.
Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) atau sumatran elephant merupakan mamalia darat terbesar di Indonesia. Gajah sumatera termasuk ke dalam subspesies gajah Asia, penyebarannya di alam bebas hanya ada di Pulau Sumatera.
Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satwa endemik Indonesia yang populasinya saat ini tersebar dalam populasi-populasi kecil di dalam dan di luar kawasan konservasi di Sumatera.
Siamang adalah kera hitam yang berlengan panjang, dan hidup pada pohon-pohon. Pada umumnya, siamang sangat tangkas saat bergerak di atas pohon, sehingga tidak ada predator yang bisa menangkap mereka. Siamang merupakan spesies terancam, karena deforestasi habitatnya cepat. Siamang tidak memliki ekor dan memiliki postur tubuh yang kurang tegak. Siamang juga memiliki perkembangan otak yang tinggi. Siamang berwarna hitam agak cokelat kemerahan. Kera ini memiliki anyaman antara jari kedua dan ketiga.
Tapir asia (Tapirus indicus) merupakan jenis yang terbesar dari keempat jenis tapir dan satu-satunya yang berasal dari Asia. Nama ilmiahnya indicus merujuk pada Hindia Timur, yaitu habitat alami jenis ini. Di Sumatra tapir umumnya disebut tenuk or seladang, gindol, babi alu, kuda ayer, kuda rimbu, kuda arau, marba, cipan, dan sipan. Tapir asia mudah dikenali dari cirinya berupa "pelana" berwarna terang dari bahu hingga pantat. Bulu-bulu di bagian lain tubuhnya berwarna hitam kecuali ujung telinganya yang berwarna putih seperti jenis tapir lain. Pola warna ini berguna untuk kamuflase: warna yang membuat kacau membuatnya tidak nampak seperti tapir, binatang lain mungkin mengiranya batu besar dan bukannya mangsa saat tapir ini berbaring atau tidur. Tapir asia tumbuh hingga sepanjang antara 1,8 sampai 2,4 m (5 kaki 11 inci sampai 7 kaki 10 inci), dengan tingginya mencapai antara 90 sampai 107 cm (2 kaki 11 inci sampai 3 kaki 6 inci). Hewan ini biasanya mempunyai berat antara 250 sampai 320 kg (550 sampai 710 pon), meskipun beberapa yang dewasa ada yang beratnya dapat mencapai 540 kg (1.190 pon). Tapir asia betina biasanya lebih besar daripada Tapir asia jantan. Seperti jenis tapir lain ekornya pendek gemuk serta belalai yang panjang dan lentur. Di tiap kaki depannya terdapat empat kuku dan di tiap kaki belakangnya ada tiga kuku. Indera penglihatan Tapir asia agak buruk namun indera pendengarannya dan penciuman sangat tajam.
Secara administrasi pemerintahan, kawasan Taman Nasional Bukit barisan Selatan terletak di wilayah Provinsi Lampung Kabupaten Tanggamus dan Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Bengkulu Kabupaten Kaur. Secara geografis areal ini terletak antara 4°29’-5°57’ Lintang Selatan dan 103°24’-104°44’ Bujur Timur.
Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan terletak di ujung Selatan dari rangkaian pegunungan Bukit Barisan, sehingga memiliki topografi yang cukup bervariasi yaitu mulai datar, landai, bergelombang, berbukit-bukit curam dan bergunung-gunung dengan ketinggian berkisar antara 0 -1964 m dpl. Lereng Timurnya cukup curam sedangkan lereng Barat ke arah Samudera Hindia agak landai. Berdasarkan Peta Lereng Dan Kemampuan Tanah Provinsi Lampung, kawasan taman nasional ini merupakan daerah yang labil karena terletak pada zona sesar utama Sumatera (Zona Sesar Semangka).
Daerah dataran rendah (0-600 m dpl) dan berbukit (600 - 1.000 m dpl) terletak di bagian Selatan taman nasional sementara daerah pegunungan (1.000 - 2.000 m dpl) terletak di bagian tengah dan Utara taman nasional. Puncak tertinggi adalah Gunung Palung (1964 m dpl) yang terletak di sebelah Barat Danau Ranau, Lampung Barat.
Keadaan lapangan bagian Utara bergelombang sampai berbukit-bukit dengan kemiringan bervariasi antara 20-80 Bagian Selatan merupakan daerah yang datar dengan beberapa bukit yang agak tinggi dan landai di mana makin ke Selatan makin datar dengan kemiringan berkisar antara 3-5
1.964
Berdasarkan Peta Tanah yang dibuat oleh Lembaga Penelitian Tanah Bogor (1976), tanah di kawasan TN Bukit Barisan Selatan terdiri dari 6 jenis tanah yaitu Aluvial, Rensina, Latosol, Podsolik Merah Kuning dan 2 jenis Andosol. Tanah yang paling luas tersebar adalah jenis Podsolik Merah Kuning yang mempunyai sifat fisik labil dan rawan erosi.
Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan menurut Peta Geologi Sumatera yang dibuat oleh Lembaga Penelitian Tanah (1965), terdiri dari Batuan Endapan (Miosin Bawah, Neogen, Paleosik Tua, Aluvium), Batuan Vulkanik (Recent, Kuatener Tua, Andesit Tua, Basa Intermediet) dan Batuan Plutonik (Batuan Asam). Batuan yang tersebar paling luas adalah Batuan Vulkanik yang berada di bagian Tengah dan Utara taman nasional.
A Malsano, Anak Selanak, Anak Selanakduo, Kolek, Luas, Manula, Musi, Nasal, Sambat, Semangka, Tanjung Belimbing, Tanjungcina, Tanjungjati, Tetap, Tulang Bawang, Way Asahan, Way Atau, Way Babuta, Way Babutakanan, Way Balak, Way Bambang, Way Batulawang, Way Baturaja, Way Bayuk, Way Belambang, Way Belimbing, Way Betung, Way Gedau, Way Halami, Way Hanuan, Way Haru, Way Jambu 2, Way Kabuduk, Way Karwi, Way Kawat, Way Kawat Kecil, Way Kawat Kiri, Way Kejadinan, Way Krui, Way Laay, Way Mahnai, Way Menangkanan, Way Menangkiri, Way Mengkudu, Way Napaliut, Way Ngambur 2, Way Ngaras, Way Nipah Besar, Way Nipah Kecil, Way Panago, Way Panago Hilir, Way Paya, Way Pemerihan 2, Way Pemerihan Hilir, Way Ruapampang, Way Sarubalak, Way Selayan, Way Selayangduo, Way Seleman, Way Simpang Balak, Way Sleman Hilir, Way Tabakah, Way Tampang, Way Temuli, Way Tenubang, Way Tirompedada, Way Titan
Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan merupakan kawasan yang dapat menghasilkan keseimbangan iklim. Pengaruh rantai pegunungan Bukit Barisan Selatan mengakibatkan kawasan ini memiliki dua tipe iklim (tipe iklim A di sisi Barat taman nasional dan tipe iklim B yang lebih kering di sisi Timur taman nasional).