Jumat, 2 Jan 2026
Taman Nasional (TN) Siberut memiliki luas 177.991,72 hektar . Secara administratif, kawasan ini terletak di Provinsi Sumatera Barat.

Terkait dengan belum disahkannya dokumen Revisi Zonasi TN Siberut tahun 2021 maka dokumen Rencana Pengelolaan Jangka Panjang TN Siberut yang sudah disusun belum dapat diunggah.
Dokumen diupload sementara adalah dokumen Rencana Pengelolaan Jangka Pendek TN Siberut tahun 2017.
Gallery foto kawasan TN Siberut.
Kawasan Taman Nasional Siberut ditunjuk berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 407/Kpts-II/93 tanggal 10 Agustus 1993 tentang Perubahan fungsi kawasan hutan seluas 190.500 (seratus sembilan puluh ribu lima ratus) hektar yang terdiri dari Kawasan Suaka Alam ± 132.900 (seratus tiga puluh dua ribu sembilan ratus) hektar, Hutan Lindung seluas ± 3.500 (tiga ribu lima ratus) hektar, Hutan Produksi Terbatas seluas ± 17.500 (tujuh belas ribu lima ratus) hektar, dan Hutan Produksi Tetap seluas ± 36.600 (tiga puluh enam ribu enam ratus) hektar yang terletak di Pulau Siberut Kabupaten Daerah Tingkat II Padang Pariman Provinsi Daerah Tingkat I Sumatera Barat menjadi Taman Nasional dengan nama Taman Nasional Siberut.
Pada Tahun 2012 Taman Nasional Siberut ditetapkan sebagai Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor .SK.787/Menhut-II/2012 tanggal 27 Desember 2012 tentang Penetapan Wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi Taman Nasional Siberut, yang terletak di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat Seluas ± 190.500 Hektar (seratus sembilan puluh ribu lima ratus ) Hektar. Taman Nasional Siberut merupakan salah satu dari 8 (delapan) rancang bangun Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi yang diusulkan oleh Ditjen PHKA.
Dengan luasan kawasan 190.500 ha (1.905 km2) atau ± 47,27% dari luas Pulau Siberut tahun 2015 telah dilakukan penataan kawasan dengan penyusunan zonasi dan penataan wilayah kerja sesuai Pasal 16 ayat (1) dan (2) Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam dan telah disahkan melalui Keputusan Direktur Jenderal PHKA Nomor: SK. 32/IV-SET/2015 tanggal 4 Februari 2015 tentang Zonasi Taman Nasional Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai Provinsi Sumatera Barat.
Taman nasional ini 60 (enam puluh) persen kawasannya ditutupi oleh hutan primer Dipterocarpaceae, hutan primer campuran, rawa, hutan pantai, dan hutan mangrove. Hutannya relatif masih alami dengan dominasi pohon-pohon besar yang tingginya mencapai 60 meter dan kaya dengan flora dan fauna langka yang endemik. Di samping kekayaan keanekaragaman hayatinya Taman Nasional Siberut merupakan rumah bagi masyarakat Mentawai yang masih hidup secara tradisional dan selaras dengan alamnya. Dalam banyak hal, masyarakat Mentawai merupakan salah satu dari suku bangsa Indonesia yang masih mempertahankan budaya nenek moyangnya.Pulau Siberut termasuk Taman Nasional Siberut merupakan salah satu Cagar Biosfir yang ditetapkan UNESCO dalam Program Man and the Biosphere (MAB) .
Kawasan TNS dengan ekosistemnya yang khas merupakan tempat tumbuh bagi berbagai spesies tumbuhan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) (1995) telah berhasil mencatat sekitar 846 spesies, 390 genus dan 131 famili dari kelompok pohon, semak belukar, herba, liana dan epifit. Teridentifikasi pula 18 spesies pakis, 6 jenis rumput dan 5 spesies lumut dan jamur. Famili terpenting adalah Euphorbiaceae (24 genus, 100 spesies), Orchidaceae (41 genus, 67 spesies), Rubiaceae (25 genus, 54 spesies) dan Lauraceae (11 genus, 39 spesies). Kelompok Dipterocarpaceae yang berhasil dicatat sebanyak 20 spesies, terdiri dari 6 spesies Dipterocarpus, 2 spesies Hopea, 8 spesies Shorea dan 4 spesies Vatica.
Diperkirakan 15% tumbuhan di Siberut merupakan spesies endemik. Di antara yang telah ditemukan adalah sebanyak 6 spesies tumbuhan endemik, yaitu : Mesua cathairinae (Clusiaceae), Diospyros brevicalyx (Ebenaceae), Aporusa quadrangularis (Euphorbiaceae), Baccaurea dulcis (Euphorbiaceae), Drypetes subsymmetrica (Euphorbiaceae) dan Horsfieldia macrothyrsa (Myristicaceae).
Dari hasil inventarisasi Balai TNS (1999) ditemukan 15 spesies rotan-rotanan di Siberut yang terdiri dari 3 genus, yaitu : Calamus 10 spesies, Daemonorops 3 spesies dan Korthalsia sebanyak 2 spesies. Dari rotan-rotan tersebut, spesies Calamus manan dan Calamus scipionum merupakan spesies yang bernilai ekonomis, yang banyak terdapat di hutan primer campuran.
Anggrek alam yang terdapat di kawasan TNS sebanyak 25 spesies, termasuk dalam 13 genus yang terdiri dari 22 spesies anggrek epifit dan 3 spesies anggrek tanah (LIPI, 2002). Anggrek yang cukup terkenal dari Siberut adalah Anggrek Bulan Putih (Phalaenopsis amabilis), bunganya berwarna putih, daun berdaging tebal, lama berbunga 3-4 bulan dengan jumlah kuntum 7-15 dalam satu tangkai. Anggrek-anggrek lain yang dapat ditemukan adalah Coelogyne incrasata, Eria nutans, Dendrobium paphyllum, dan lainnya. Hasil survey Balai TNS tahun 2015 menemukan 10 genus tanaman anggrek dengan 33 spesies .
TNS juga memiliki berbagai jenis tumbuhan yang memberikan nilai manfaat bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Selain berperan dalam fungsi hidrologi kawasan, tumbuhan tersebut juga manjadi bagian dari aspek sosial ekonomi masyarakat setempat. Di antara tumbuhan yang memberikan nilai manfaat tersebut adalah: jenis bambu dan jenis tumbuhan obat yang digunakan oleh Sikere (Dukun) untuk ritual pengobatan. Hasil Penelitian tanaman Obat TNS tahun 2011 menemukan sebanyak 80 jenis tanaman obat yang terdiri dari pohon, semak dan herba.
Jenis-jenis mamalia merupakan keanekaragaman hayati yang paling menarik perhatian dari berbagai jenis fauna yang ada di Pulau Siberut. Terdapat sekitar 28 spesies mamalia, 65% di antaranya bersifat endemik pada tingkat genus, spesies dan subspesies. Di antara 28 spesies mamalia tersebut, kelompok primata menjadi perhatian utama, karena empat jenis primata yang ada di Mentawai bersifat endemik. Selain itu ditemukan sebanyak 7 spesies tupai, 5 spesies diantaranya bersifat endemik, yaitu : Callosciurus melanogster, Sundasciurus fraterculus, Lariscus obscurus, Iomys sipora, dan Hylopetes sipora.
Tiga spesies tikus di Siberut merupakan subspesies endemik dari Kepulauan Mentawai, yaitu Rattus tiamonicus mentawi (biasa di dapati di rumah-rumah dan tepi hutan), Rattus surifer pagensis (hidup di hutan primer, tubuh berwarna-warni dan sekitar leher berwarna coklat, punggung hitam, perut putih dan kedua belah sisi tungging dan paha berwarna kuning tua), dan Ratus sabanus siporanus (dijumpai di hutan primer berwarna hitam pada bagian atas dan putih sebelah bawah).
Siberut hanya mempunyai tiga karnivora, dua spesies dari musang bersifat endemik pada tingkat subspesies dan satu spesies berang-berang (Aonyx cinerea). Musang yang hidup di Siberut sangat berbeda dibandingkan musang yang umum dijumpai di Sumatera. Tidak ada satupun kesamaan ciri dijumpai pada musang yang hidup di Siberut, sehingga disebut sebagai musang primitif. Dua spesies musang tersebut, yaitu Paradoxurus hermaproditus siberu dan Hemigalus derbyanus sipora.
Mamalia terbesar yang hidup di Siberut adalah Rusa Sambar (Cervus unicolor oceanus). Binatang ini sering diburu jika berada di sekitar desa atau diburu dengan menggunakan jerat di hutan.
Keanekaragaman hayati burung yang ada di Siberut ditunjukkan dengan adanya spesies burung dari 106 jumlah burung yang ada, 13 spesies (12%) di antaranya termasuk endemik pada tingkat subspesies. Satu-satunya spesies burung endemik di pulau ini adalah Celepuk Mentawai (Otus mentawai). Hasil inventarisasi Balai TN Siberut (2015) tercatat sebanyak 134 spesies burung terdapat di Siberut. Burung-burung tersebut menempati berbagai stratifikasi profil hutan. Spesies penghuni pohon tajuk utama (ketinggian >25 m) antara lain burung rangkong, elang, gagak, beo, dan lainnya. Penghuni tajuk pertengahan (10-25 m) adalah burung punai, kutilang, srigunting, dan sebagainya. Pada tajuk bawah (4-10 m) dihuni burung-burung madu, murai, bubut, dan lain-lain. Di antara burung yang banyak diperdagangkan adalah burung beo (Gracula religiosa batuensis) dan murai batu (Copsychus malabaricus).
Berdasarkan hasil inventarisasi serangga oleh Balai TNS tahun 1999, teridentifikasi sebanyak 45 famili yang termasuk ke dalam 11 ordo. Melihat dari data tersebut, maka di Siberut terdapat 29,4% ordo dan 5,9% famili serangga yang terdapat di dunia. Ordo-ordo tersebut, yaitu Diptera terdiri dari 5 famili, Orthopteridae terdiri dari 4 famili, Dermaptera terdiri dari 1 famili, Hymenoptera terdiri dari 5 famili, Coleoptera terdiri atas 11 famili, Hemiptera terdiri atas 4 famili, Lepidoptera terdiri dari 9 famili, Phasmida terdiri dari 1 famili, Odonata terdiri atas 4 famili, dan Isoptera terdiri dari 1 famili.
Hasil inventarisasi Balai TNS tahun 1999, ditemukan 12 famili kupu-kupu yang terdiri dari 45 genus dengan 60 spesies kupu-kupu. Dari spesies tersebut terdapat 1 spesies yang bersifat endemik untuk Kepulauan Mentawai, yaitu Chyntia sipora dari famili Nymphalidae. Saat ini kupu-kupu belum mempunyai nilai ekonomis, tetapi pada era-80 diketahui banyak orang asing yang membeli kupu-kupu di masyarakat, terutama orang jepang.
Menurut A. Whitten, J. Dring dan Mitchell (1982), terdapat 21 spesies amfibia di Pulau Siberut dan salah satunya merupakan katak endemik, yaitu Rana signata siberut. Sedangkan dari kelas reptilia, terdapat 62 spesies dan 3 di antaranya merupakan ular endemik, yaitu Calamaria klossii dan Oligodon sp. dari famili Colubrinae, serta Boiga nigriceps brevicauda dari famili Boiginae.
Famili dari reptilia yang ada di Siberut adalah Gekkonidae/tokek sebanyak 6 spesies, Varadinae/biawak 1 spesies, Scincidae/Kadal 7 spesies, Columbrinae/Ular 11 spesies, Boidae/sanca 2 spesies, Xenopeltidae/ular 1 spesies, Natricinae/Ular air 2 spesies, Agamidae/kadal air 8 spesies, Boiginae/Ular 7 spesies, Elapidae/ular berbisa 2 spesies, Viperidae/ular berbisa 5 spesies, Testudinidae/kura-kura 2 spesies, Cheloniidae/penyu 2 spesies, Dermochelyidae/penyu belimbing 1 spesies, Crocodylidae/biawak 1 spesies, Homalopsinae/ular laut 1 spesies, Sibynophinae/ular 1 spesies, dan Pareinae/ular 2 spesies. dari hasil inventarisasi tahun 2017 yaitu Bilou (Hylobates klosii) 0,1798/ha, Joja (Presbytis potenziani) 0,1407/ha, Bokkoi (Macaca pagensis siberu) 0,2116/ha dan Simakobu (Symias concolor ) 0,3112/ha
Spesies mandat merupakan jenis tumbuhan dan satwa liar yang menjadi prioritas pengelolaan dan perlindungan berdasarkan tingkat ancaman, nilai konservasi, serta kebijakan nasional dan internasional.
Bilou/ Kloss Gibbon (Hylobates klossii Miller 1903), nama daerahnya siamang kerdil, dan nama lokalnya adalah bilou, bileu, atau kuak. Habitat bilou adalah hutan primer Kepulauan Mentawai, satwa ini dimanfaatkan oleh masyarakat untuk konsumsi dan hewan peliharaan. Bilou dilindungi dengan UU RI No. 5 tahun 1990, PP RI No. 7 tahun 1999, Appendix I CITES tahun 2001, IUCN memberikan status genting pada tahun 2008. Ciri-ciri dari bilou yaitu: Semua rambut berwarna hitam, rambutnya jarang yaitu tidak selebat rambut keluarga owa lainnya. Jantan dan betina sulit dibedakan, berat tubuh dewasa rata-rata 5,5 kg dengan panjang tubuh rata-rata 45 cm. Kelompok bilou terdiri dari induk jantan dan betina yang monogamy dengan 1 atau 2 ekor anak. Pakan utamanya adalah buah-buahan dan daun-daunan, dan mempunyai daerah teritori 20-35 ha. Hewan ini merupakan primate yang paling terkenal di Kepulauan Mentawai dan merupakan jenis ungko tertua (primitive) yang masih hidup dengan bulu-bulunya yang lebih jarang dan berwarna hitam gelap, terdapat selaput antara jari ke-2 dan jari ke-3. Semua ungko lain mempunyai bulu-bulu yang lebih lebat dengan berbagai bentuk dan sedikit selaput. Pekik Bilou paling sederhana diantara pekikan ungko lainnya, paling panjang, bervariasi, dan tidak dilakukan dengan ungko lain. Ternyata pekik ungko berasal dari nenek moyang ungko yang menyerupai Bilou. Dengan demikian bilou menjadi penting khususnya untuk mempelajari evolusi ungko dan cara-cara pekiknya. Bilou hidup berkelompok yang terdiri dari induk jantan dan betina dengan anak-anaknya yang belum dewasa. Bilou merupakan satwa dengan bentuk keluarga monogami dengan ukuran 1 keluarga (kelompok) rata-rata tiga sampai empat individu, sedangkan jumlah anggota dalam satu kelompok dapat mencapai 11 individu. Setiap kelompok memiliki daerah teritori seluar 5-8 ha (rata-rata 6,7 ha) atau di literature lain daerahnya mencapai 20- 30 ha. Individu dewasa selalu berusaha untuk mempertahankan teritori ketika melawan individu dewasa dari kelompok lain dengan jenis kelamin yang sama. Isyarat yang dikeluarkan terutama melalui pekikan mereka keluarkan. Bilou jantan mengeluarkan pekik lebih awal yaitu sekitar jam 04.00 pagi hingga kira-kira waktu matahari terbit, pagi hari juga mereka akan berbunyi sekali lagi. Pekik Bilou betina berbeda dengan pekik Bilou jantan dan di sebut sebagai “ Irama Paling Indah yang dikeluarkan oleh jenis mamalia”. Pekik bilou betina di keluarkan sekitar waktu lima jam sesudah Fajar, selam sekitar 10-20 menit, yaitu jumlah perulangan sebanyak ± 15 kali. Pada puncak pekikan, bilou betina meloncat dengan gairah sekitar pohon tempatnya berpekik yang memberi pandangan yang sangat indah. Perkelahian antara individu jantan dewasa merupakan cara untuk mempertahankan system berpasangan monogami. Pada Bilou juga terdapat kelompok lain yaitu betina dewasa yang tidak berpasangan dan jantan tidak berpasangan. Bilou merupakan jenis primate yang paling banyak menghabiskan waktu di atas pohon yang tinggi (lebih dari 20 meter). Bilou tidur di puncak pohon yang menjulang yang relative bebas dari tumbuhan menjalar. Jenis ini jarang sekali turun ke tanah, hal ini disebabkan Bilou merupakan satwa yang pergerakknya banyak menggunakan lengan-lengan yang panjang untuk berpindah/melompat dari satu pohon ke pohon yang lain maka sulit bergerak di permukaan tanah.
Beruk Siberut (Macaca siberu) adalah spesies kera yang rentan, yang merupakan endemik Pulau Siberut di Indonesia. Spesies ini sebelumnya dianggap sama dengan beruk Pulau Pagai (Macaca pagensis) yang secara keseluruhan warnanya lebih pucat, tetapi susunan ini polifiletik. Keduanya sebelumnya dianggap sebagai subspesies dari kera ekor babi selatan (Macaca nemestrina). Ukuran tubuh Macaca siberu lebih kecil bila dibandingkan dengan ukuran Macaca pagensis.
Joja/ Mentawai leaf monkey (Presbytis potenziani Bonaparte, 1856) memiliki nama daerah lutung joja, nama lokalnya bajet, joja, sagalai, atau ateipeipei. Terdiri dari dua sub sepsies yaitu Presbytis potenziani potenziani Bonaparte 1856 dan Presbytis potenziani siberu Chasen & Kloss 1927 (yang hanya hidup di Siberut). Habitat Joja adalah hutan primer dan sekunder, dataran rendah seperti hutan rawa, dan di sekitar daerah perladangan hingga perbukitan. Joja dilindungi dengan Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1990, PP RI No. 7 Tahun 1999, Appendix CITES Tahun 2001, IUCN memberikan status genting pada tahun 2008. Joja memilik warna tubuh bagian dorsal dan ekor hitam, sedangkan tubuh bagian ventral berwarna pucat sampai coklat kemerahan. Tubuh bagian dahi, dagu dan pipi berwarna putih. Tubuh bagian kelamin (genital) putih kekuningan pada individu jantan pada bagian kemaluannya (scrotum) ditimbuhi rambut putih. Panjang tubuh sekitar 50 cm, panjang ekor sekitar 55 cm, dan berat tubuh berkisar antara 6 sampai dengan 6,5 kg. Hampir seluruh waktu Joja dihabiskan di pohon dan jarang turun ke bawah (arboreal).
Simakobu/ Pig tailed snub-nosed monkey (Simias concolor Miller 1903). Nama daerahnya adalah beruk simakobu, sedangkan nama lokalnya simakobu, masesep, masesep simabulau, atau silabai (yang berwarna keemasan). Terdiri dari sub spesies yaitu Simias concolor concolor (yang terdapat di Pagai Utara, Pagai Selatan dan di Sipora) dan Simias concolor siberu (yang terdapat di Siberut). Simakobu tergolong kelompok lutung akan tetapi meiliki ekor yang berbeda dengan jenis lutung lainnya. Habitat dari Simakobu adalah hutan primer dataran rendah, hutan rawa, dan hutan perbukitan. Simakobu dilindungi dengan UU RI No. 5 tahun 1990, PP RI No. 7 tahun 1999, Appendix I CITES tahun 2001, dan IUCN memberikan status kritis pada tahun 2008. Ciri-ciri dari Simakobu adalah warna tubuh coklat gelap keabu-abuan dan ada yang berwarna keemasan. Pada jambul kepala dan bahu warna rambutnya lebih gelap. Aki dan tangan berwarna kehitam-hitaman. Wajah berwarna hitam dengan hidung pesek dan bentuk tubuh mirip beruk. Panjang tubuh berkisar antara 45 sampai dengan 52,2 cm, ekor pendek dengan ukuran sekitar sepertiga panjang tubuhnya (berkisar 8 sampai dengan 13 cm). Berat tubuh berkisar 6 sampai 9 kg, dan hidup berkelompok serta monogami.
Balai Taman Nasional Siberut berada pada titik koordinat lintang 01º 05' – 01º 45' LS dan bujur 98º 36' – 99º 03' BT. Lokasi obyek wisata berada di Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I di Meileppet (Siberut Selatan) dan Wilayah II di Muara Sikabaluan (Siberut Utara).
Taman Nasional Siberut berada di Pulau Siberut, termasuk wilayah Provinsi Sumatera Barat. Terletak di Selat Mentawai atau kurang lebih 155 km dari kota Padang. Taman nasional ini 60 (enam puluh) persen kawasannya ditutupi oleh hutan primer Dipterocarpaceae, hutan primer campuran, rawa, hutan pantai, dan hutan mangrove. Hutannya relatif masih alami dengan dominasi pohon-pohon besar yang tingginya mencapai 60 meter dan kaya dengan flora dan fauna langka yang endemik.
Kawasan TN Siberut bervariasi dari datar, berawa-rawa sampai berbukit dan berlereng curam. Dataran rendah sebagian besar terletak di sebelah timur yang terdiri dari rawa, gambut, pemukiman dan perladangan dengan kelerengan 0 – 15%. Wilayah perbukitan terdapat di bagian barat. Kelerengan bervariasi antara 40 – 75 dengan puncak tertinggi 384 m dpl.
384
Tanah hutan tropis agak miskin kandungan haranya, yang sering dijumpai di dalam biomassa hutan. Analisa tanah Siberut memperlihatkan bahwa tanah setempat lebih miskin kandungan haranya dari kebanyakan hutan tropis lainnya. Tumbuhan hutan Siberut mungkin berada di bawah tekanan hara tambahan karena umumnya tersedia Sodium , Natrium dan mineral lainnya rendah dalam tanah.
Pulau Siberut adalah pulau sedimen yang didominasi oleh serpihan, endapan, tanah liat, lumpur dan marmer berumur relatif muda. Ada beberapa daerah kecil terdiri dari konglomerasi pra-Miocene yang mengandung sista (lapisan karang tipis), kwarsa dan sedikit karang kapur yang mungkin terbentuk pada masa Miocene, serta beberapa batuan vulkanis yang bersebaran yang mungkin berasal dari ledakan gunung api di Sumatera pada masa Meiocene. Tetapi sebagian besar dari bentukan geologis muncul pada masa Pliocene, Pleistocene dan Holocen.
Buga, Cimpungan, Kalea, Mabosoa, Makerumonga, Murak, Noinan, Sagulubek, Saibi, Sigep, Sikabaluan, Silotok, Simalegi, Simatalu, Siribakbak, Takungan
Pulau Siberut mempunyai iklim khatulistiwa yang panas dan lembab. Curah hujannya tinggi dan tidak ada musim kemarau yang cukup lama. Rata-rata curah hujan per tahun adalah 3.320 mm. Hujan paling lebat bisasanya turun pada bulan April dan Oktober, sedangkan bulan yang relatif kering adalah bulan Februari dan Juni. Suhu dan kelembaban relatif konstan dengan kelembaban berkisar antara 91-95 suhu berkisar antara 22ºC dan 31ºC.