Jumat, 2 Jan 2026
Taman Nasional (TN) Gunung Leuser memiliki luas 830.880,17 hektar , yang ditetapkan berdasarkan Keputusan menteri Kehutanan Nomor :4039/MEHUT-VII/KUH dan Keputusan menteri Kehutanan Nomor :4039/MEHUT-VII/KUH/2014/2014 tanggal 28 Okt 2014 . Secara administratif, kawasan ini terletak di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara.

Gallery foto kawasan TN Gunung Leuser.
Sejarah terbentuknya TNGL diawali pada tahun 1920-an atau zaman pemerintah Kolonial Belanda, melalui serangkaian proses penelitian dan eksplorasi seorang ahli geologi Belanda bernama F.C. Van Heurn di Aceh. Dalam perkembangannya muncul inisiasi positif yang didukung para tokoh masyarakat untuk mendesak Pemerintah Kolonial Belanda agar memberikan status kawasan konservasi (Wildlife Sanctuary) dan status perlindungan terhadap kawasan yang terbentang dari Singkil (pada hulu Sungai Simpang Kiri) di bagian selatan, sepanjang Bukit Barisan, ke arah lembah Sungai Tripa dan Rawa Pantai Meulaboh, di bagian utara.
Pada tanggal 6 Februari 1934, dilaksanakan Deklarasi Tapak Tuan yang merupakan tekad dari perwakilan masyarakat lokal di sekitar kawasan leuser untuk melakukan perlindungan lingkungan yang sekaligus mengatur sanksi pidana. Deklarasi ini juga ditandatangani oleh Gubernur Hindia Belanda. Berdasarkan hal tersebut, pada tanggal 3 Juli 1934 ditetapkan Suaka Margasatwa Gunung Leuser dengan luas 142.800 Ha berdasarkan Zelfbestuur Besluit (ZB) Nomor 317/35. Tahun 1936 ditetapkan kawasan Suaka Margasatwa Kluet di Provinsi Aceh dengan luas 20.000 Ha. Tahun 1938 ditetapkan kawasan Suaka Margasatwa Langkat di Provinsi Sumut dengan luas 51.000 Ha. Tahun 1976 ditetapkan kawasan Suaka Margasatwa Kappi di Provinsi Aceh dengan luas 142.000 Ha.
Pada tanggal 6 Maret 1980 Menteri Pertanian mengumumkan keempat suaka margasatwa tersebut dan beberapa hutan wisata sebagai di sekitarnya sebagai kawasan taman nasional. Pada tahun 1984, wilayah kerja TNGL ditetapkan mencakup 5 kawasan Suaka Margasatwa dan 2 Hutan Wisata, seluas 862.975 Ha . Tanggal 23 Mei 1997 dilakukan penunjukan Taman Nasional Gunung Leuser dengan luas 1.094.692 hektar.
Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) merupakan salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi di pulau Sumatera. Tipe ekosistemnya beragam dari ekosistem pantai hingga ekosistem pegunungan sub alpine, dengan puncak tertinggi pada ketinggian 3.404 mdpl. TNGL merupakan satu-satunya area di dunia yang menjadi tempat hidup dari 4 spesies penting, yaitu Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Orangutan Sumatera (Pongo abelii), Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus).
Terdapat 350 spesies burung di kawasan TNGL. Hampir 65% atau 129 spesies mamalia dari 205 spesies mamalia besar dan kecil di Sumatera tercatat menempati kawasan TNGL. Berdasarkan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi dan unik tersebut, kawasan TNGL ditetapkan sebagai natural world heritage site (situs warisan alam dunia), cagar biosfer, serta ASEAN heritage park (taman warisan ASEAN).
Taman Nasional Gunung Leuser menyandang 2 status yang berskala global yaitu sebagai Cagar Biosfer pada tahun 1981 dan sebagai Warisan Dunia pada tahun 2004. Kedua status tersebut ditetapkan oleh UNESCO dan World Heritage Committee (WHC) atas usulan Pemerintah Indonesia setelah melalui rangkaian proses seleksi yang ketat. Disamping itu terdapat nilai eksistensi lain yang menjadi potensi dari TNGL yang dapat diuraikan sebagai berikut:
Spesies mandat merupakan jenis tumbuhan dan satwa liar yang menjadi prioritas pengelolaan dan perlindungan berdasarkan tingkat ancaman, nilai konservasi, serta kebijakan nasional dan internasional.
Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), adalah satu-satunya badak Asia yang memiliki dua cula. Badak Sumatera adalah badak yang memiliki ukuran terkecil dibandingkan semua sub-spesies badak di dunia, meskipun masih tergolong hewan mamalia yang besar. Sebaran Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) di Kawasan TNGL, berada di wilayah Kabupaten Aceh Tenggara dan Aceh Selatan hasil survey kamera trap dan patroli antara Balai Besar TNGL dengan Mitra Kerja pada tahun 2014 – 2015.
Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) atau sumatran elephant merupakan mamalia darat terbesar di Indonesia. Gajah sumatera termasuk ke dalam subspesies gajah Asia, penyebarannya di alam bebas hanya ada di Pulau Sumatera. Sebaran Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Kawasan TNGL berada di daerah Kappi, Sei Lepan dan Sembabala Barat.
Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satwa endemik Indonesia yang populasinya saat ini tersebar dalam populasi-populasi kecil di dalam dan di luar kawasan konservasi di Sumatera. Sebaran Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Kawasan TNGL, ditemukan hampir sepanjang Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh Selatan hingga Aceh Barat Daya. Potensi terbesar berada di Daerah Kappi dan Langkat.
Orangutan Sumatra (Pongo abelli) adalah spesies orangutan terlangka. Orangutan Sumatra hidup dan endemik terhadap Sumatra, sebuah pulau yang terletak di Indonesia. Mereka lebih kecil daripada orangutan Kalimantan. Orangutan Sumatra memiliki tinggi sekitar 4.6 kaki dan berat 200 pon. Betina lebih kecil, dengan tinggi 3 kaki dan berat 100 pon
Secara geografis, kawasan TNGL berada pada posisi geografis antara 96°55” BT - 98°30” BT dan 2°56” LU – 4°03” LU. Berdasarkan letak administrasi pemerintahan, kawasan TNGL berada di 2 (dua) provinsi, yaitu: Provinsi Aceh (Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Aceh Tenggara) dan Propinsi Sumatera Utara (Kabupaten Langkat dan Kabupaten Karo).
Sebagian besar kawasan TNGL berada di wilayah pegunungan yang berbukit dan bergelombang, dengan 33 bukit atau gunung, dan 80% wilayahnya memiliki kemiringan di atas 40%. Sebagian kecil saja areal yang berupa dataran rendah dan tidak begitu luas yaitu di wilayah Sekundur dan Langkat.
0 - 3.404
Secara umum, pada kawasan TNGL terdapat minimal 11 jenis tanah. Tiga jenis mendominasi kawasan ini yaitu komplek podsolik dan litosol, komplek podsolik merah kuning latosol dan litosol dan andosol.Jenis-jenis tanah tersebut mencakup organosol dan gleihumus, regosol, podsolik merah kuning (batuan endapan), podsolik merah kuning (batuan aluvial), regosol, andosol, litosol, podsolik merah kuning (bahan endapan dan batuan beku), kompleks podsolik merah kuning latosol dan litosol, kompleks podsolik coklat, podsolik dan litosol, serta kompleks resina dan litosol.
Kawasan TNGL di wilayah Aceh memiliki tanah yang terdiri dari jenis: podsolik merah kuning, latosol dan litosol, podsolik cokelat, podosol dan litosol, andosol, regosol, podsolik merah kuning, rensing dan litosol, serta jenis organosol dang le humus. Adapun di wilayah Sumatera Utara, tanahnya terdiri atas jenis podsolik merah kuning, komplek podsolit cokelat, podosol dan litosol, tanah gambut, tanah vulkanik, adosol, komplek podsolit merah kuning, latosol dan litosol, dan tanah sedimentasi.
Bagian Utara Kawasan TNGL adalah pegunungan Leuser Simpoli yang terbentuk dari formasi Munkap mata-sedimen dan Glanelei dan baru mengalami sedikit pelapukan. Bagian Barat terdapat sabuk batu kapur yang membentuk rintangan.
DAS : Bakongan, Batang Serangan, Batee, Belawan, Belumai, Besitang, Deli, Kluet, Lembang, Lepan, Manyak Payed/ Tamiang, Pawoh Baroh, Percut, Singkil, Susoh, Tripa, Ular, Wampu
Termasuk ke dalam iklim A (Schmidt dan Fergusson)