Jumat, 2 Jan 2026

Taman Nasional
Gunung Leuser

Taman Nasional (TN) Gunung Leuser memiliki luas 830.880,17 hektar , yang ditetapkan berdasarkan Keputusan menteri Kehutanan Nomor :4039/MEHUT-VII/KUH dan Keputusan menteri Kehutanan Nomor :4039/MEHUT-VII/KUH/2014/2014 tanggal 28 Okt 2014 . Secara administratif, kawasan ini terletak di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara.

Logo Balai Besar TN Gunung Leuser
# Foto Kawasan

Gallery foto kawasan TN Gunung Leuser.

Air Panas Marpunge SPTN Wilayah III Blangkejeren
Air Terjun Gunung Setan Resor Lawe Gurah
Air terjun marike
Aksi Memandikan Gajah di Tangkahan
Aksi Memandikan Gajah di Tangkahan
Aksi Memandikan Gajah di Tangkahan
Anak Gajah di Tangkahan
Anggrek Macan
Anggrek Tien Soeharto
Anggrek pohon
Anggrek tanah
Apakah Butuh 2 hari untuk menuju puncak Leuser?
Badak Sumatera
Badak Sumatera
Bunga Bangkai
Bungai Bangkai Mekar
Danau Laot Bangko 1
Danau Laot Bangko 10
Danau Laot Bangko 14
Danau Laot Bangko 15
Danau Laot Bangko 3
Danau Laot Bangko 4
Danau Marpunge
Ekspedisi Pendakian Puncak Gunung Leuser
Gajah Bercengkerama
Gajah dan Mahout Tangkahan
Habitat Peneluran Penyu Ranto Sialang
Harimau Sumatera hasil camera trap
Harimau di gunung leuser
Hutan Lumut Jalur Pendakian Gunung Leuser
Indukan dan anak OU
Jalur Sungai yang dilewati menunju Puncak Gunung Leuser
Jejak Harimau di Resor Lawe Mamas
Jembatan Tangkahan Nining Galang Bridge
Kabut di Lawe Gurah
Kantong Semar di Taman Nasional Gunung Leuser
Kantong Semar di Taman Nasional Gunung Leuser
Kedih dan Buah hatinya ...
Kegiatan Olah Raga Rafting di Sungai Alas Lawe Gurah
Kenduri Pelepasan Tukik Ranto Sialang
Mahout memandikan gajahnya (Tangkahan)
Mandi Sungai di Tangkahan
Memanen Padi di Desa Peyangga Taman Nasional Gunung Leuser
Mendaki Gn. Leuser
Mengawali Perjuangan Hidup (Survive)
Menyaksikan Gajah Mandi di Tangkahan
Menyaksikan Gajah Mandi di Tangkahan
Menyaksikan Gajah Mandi di Tangkahan
Orangutan
Orangutan dan Anaknya di Bukit Lawang
Parade Gajah dan Mahot di Tangkahan
Parade Gajah di Tangkahan
Parade Gajah di Tangkahan
Patroli Gajah di Tangkahan
Pelepasan kucing emas (SPTN Wilayah V Bukit Lawang)
Pelepasliaran Tukik
Pemandangan Alam di Tangkahan
Pemandangan Alam di Tangkahan
Pendaki Menunjuk Puncak Gunung Leuser
Peneliti Asing di Stasiun Suaq Belimbing
Penyu Belimbing baru menetas Ranto Sialang
Penyu Lekang Datang Bertelur Ranto Sialang
Penyu Lekang sedang Bertelur Ranto Sialang
Perjalanan Ini ada tujuannya kawan...(Resor Alur Sungai Pinang)
Raflessia Patma
Salam Tanda Persahabatan Gajah Tangkahan
Sandra dan Anaknya di Bukit Lawang
Sungai tempat kami minum (Tangkahan)
Tangkahan Air Terjun
Team Track Patroli di Taman Nasional Gunung Leuser
Tubing di Bukit Lawang
Tutupan Vegetasi Lawe Gurah
Visit to School Bakongan
bercengkerama dengan gajah
kantong semar di sepanjang jalur pendakian gunung leuser
puncak leuser dari puncak loser
puncak loser 3414 m dpl, sejauh mata memandang pegunungan
# Sejarah Kawasan

Sejarah terbentuknya TNGL diawali pada tahun 1920-an atau zaman pemerintah Kolonial Belanda, melalui serangkaian proses penelitian dan eksplorasi seorang ahli geologi Belanda bernama F.C. Van Heurn di Aceh. Dalam perkembangannya muncul inisiasi positif yang didukung para tokoh masyarakat untuk mendesak Pemerintah Kolonial Belanda agar memberikan status kawasan konservasi (Wildlife Sanctuary) dan status perlindungan terhadap kawasan yang terbentang dari Singkil (pada hulu Sungai Simpang Kiri) di bagian selatan, sepanjang Bukit Barisan, ke arah lembah Sungai Tripa dan Rawa Pantai Meulaboh, di bagian utara.

Pada tanggal 6 Februari 1934, dilaksanakan Deklarasi Tapak Tuan yang merupakan tekad dari perwakilan masyarakat lokal di sekitar kawasan leuser untuk melakukan perlindungan lingkungan yang sekaligus mengatur sanksi pidana. Deklarasi ini juga ditandatangani oleh Gubernur Hindia Belanda. Berdasarkan hal tersebut, pada tanggal 3 Juli 1934 ditetapkan Suaka Margasatwa Gunung Leuser dengan luas 142.800 Ha berdasarkan Zelfbestuur Besluit (ZB) Nomor 317/35. Tahun 1936 ditetapkan kawasan Suaka Margasatwa Kluet di Provinsi Aceh dengan luas 20.000 Ha. Tahun 1938 ditetapkan kawasan Suaka Margasatwa Langkat di Provinsi Sumut dengan luas 51.000 Ha. Tahun 1976 ditetapkan kawasan Suaka Margasatwa Kappi di Provinsi Aceh dengan luas 142.000 Ha.

Pada tanggal 6 Maret 1980 Menteri Pertanian mengumumkan keempat suaka margasatwa tersebut dan beberapa hutan wisata sebagai di sekitarnya sebagai kawasan taman nasional. Pada tahun 1984, wilayah kerja TNGL ditetapkan mencakup 5 kawasan Suaka Margasatwa dan 2 Hutan Wisata, seluas 862.975 Ha . Tanggal 23 Mei 1997 dilakukan penunjukan Taman Nasional Gunung Leuser dengan luas 1.094.692 hektar.

# Keunikan

Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) merupakan salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi di pulau Sumatera. Tipe ekosistemnya beragam dari ekosistem pantai hingga ekosistem pegunungan sub alpine, dengan puncak tertinggi pada ketinggian 3.404 mdpl. TNGL merupakan satu-satunya area di dunia yang menjadi tempat hidup dari 4 spesies penting, yaitu Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Orangutan Sumatera (Pongo abelii), Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus).

Terdapat 350 spesies burung di kawasan TNGL. Hampir 65% atau 129 spesies mamalia dari 205 spesies mamalia besar dan kecil di Sumatera tercatat menempati kawasan TNGL. Berdasarkan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi dan unik tersebut, kawasan TNGL ditetapkan sebagai natural world heritage site (situs warisan alam dunia), cagar biosfer, serta ASEAN heritage park (taman warisan ASEAN). 

# Nilai Konservasi

Taman Nasional Gunung Leuser menyandang 2 status yang berskala global yaitu sebagai Cagar Biosfer pada tahun 1981 dan sebagai Warisan Dunia pada tahun 2004. Kedua status tersebut ditetapkan oleh UNESCO dan World Heritage Committee (WHC) atas usulan Pemerintah Indonesia setelah melalui rangkaian proses seleksi yang ketat. Disamping itu terdapat nilai eksistensi lain yang menjadi potensi dari TNGL yang dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Cagar Biosfer, Cagar Biosfer didefinisikan sebagai kawasan ekosistem daratan atau pesisir yang diakui oleh Program Man and the Biosphere UNESCO (MAB-UNESCO) untuk mempromosikan keseimbanganhubungan antara manusia dengan alam. Cagar Biosfer melayani perpaduan tiga fungsi yaitu (1) kontribusi konservasi lansekap, ekosistem, spesies, dan plasma nutfah, (2) menyuburkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan baik secara ekologi maupun budaya, dan (3) mendukung logistik untuk penelitian,pemantauan, pendidikan, dan pelatihan yang terkait dengan masalah konservasi dan pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal,regional, nasional, maupun global. Sebagai hasil KTT Bumi1992, berbagai fungsi Cagar Biosfer serta Jaringan Cagar Biosfer Dunia telah didefinisikan dan diuraikan dalam “Strategi Seville dan Kerangka Hukum Jaringan Dunia” (LIPI, 2004).
  2. Warisan Dunia (World Heritage), Konvensi Warisan Dunia (World Heritage Convention) mengenai Perlindungan Warisan Budaya dan Alam diadopsi pada sidang ke-17 Konferensi Umum UNESCO di Paris tanggal 16 November 1972, dan berlaku efektif sejak 17 Desember 1975. Sampai dengan bulan Maret 2005, Konvensi Warisan Dunia telah diratifikasi oleh lebih dari 180 negara, termasuk Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 29 tahun 1989. Warisan Dunia adalah warisan yang: (1) Terdiri dari Warisan Alam dan Warisan Budaya, (2) Melestarikan warisan yang tidak dapat digantikan dan warisan yang memiliki “Nilai Universal Istimewa”, (3) Perlu melindungi warisan yang tidak dapat dipindahkan, dan (4) Menjadi tanggungjawab kesadaran dan kerjasama kolektif international (UNESCO, 2004). Hingga tahun 2006, terdapat 830 situs di 138 negara yang telah tercantum di dalam Daftar Warisan Dunia, terdiri dari 644 situs budaya, 162 situs alami dan 24 situs campuran.
  3. Laboratorium Alam, Taman Nasional Gunung Leuser merupakan laboratorium alam yang kaya keanekaragaman hayati sekaligus juga merupakan ekosistem yang rentan. MacKinnon and MacKinnon (1986) menyatakan bahwa Leuser mendapatkan skor tertinggi untuk kontribusi konservasi terhadap kawasan konservasi di seluruh kawasan Indo Malaya. Leuser merupakan habitat sebagian besar fauna, mulai dari mamalia, burung, reptil, ampibia, ikan, dan invertebrata. Leuser menjadi kawasan dengan daftar burung terpanjang di dunia dengan 380 spesies, dimana 350 diantaranya merupakan spesies yang tinggal di Leuser. Leuser juga rumah bagi 36 dari 50 spesies burung “Sundaland”. Hampir 65% atau 129 spesies mamalia dari 205 spesies mamalia besar dan kecil di Sumatera tercatat ada di tempat ini. Ekosistem Leuser merupakan habitat orangutan Sumatera (Pongo abelii), harimau Sumatera (Panthera tigris), badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), tapir (Tapirus indicus), gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), owa (Hylobathes lar), kedih (Presbytis thomasii), dan masih banyak yang lainnya. Di samping rumah bagi berbagai fauna kunci, di TN. Leuser kita bisa menemukan lebih dari 4.000 spesies flora. Juga ditemukan 3 jenis dari 15 jenis tumbuhan parasit Rafflessia di Leuser. Demikian pula, Leuser merupakan tempat persinggahan dari banyak jenis tumbuhan obat (Brimacombe & Elliot, 1996).
  4. Sistem Penyangga Kehidupan (life support system), Taman Nasional Gunung Leuser menyediakan suplai air bagi 4 (empat) juta masyarakat yang tinggal di Propinsi Aceh dan Propinsi Sumatera Utara. Hampir 9 (sembilan) kabupaten tergantung pada jasa lingkungan TNGL, yaitu berupa ketersediaan air konsumsi, air pengairan, penjaga kesuburan tanah, mengendalikan banjir, dan sebagainya. Daerah Aliran Sungai (DAS) yang dilindungi oleh TNGL dan Ekosistem Leuser sebanyak 5 (lima) DAS di wilayah Propinsi Aceh, yaitu DAS Jambo Aye, DAS Tamiang-Langsa, DAS Singkil, DAS Sikulat-Tripa, dan DAS Baru-Kluet. Sedangkan yang berada di wilayah Propinsi Sumatera Utara adalah DAS Besitang, DAS Lepan, DAS Batang Serangan dan DAS Wampu Sei Ular. Studi yang dilakukan oleh Beukering, dkk (2003) mensinyalir bahwa Nilai Ekonomi Total Ekosistem Leuser, termasuk TNGL di dalamnya, dihitung dengan suku bunga 4% selama 30 tahun adalah USD 7.0 milyar (bila terdeforestasi), USD 9.5 milyar (bila dikonservasi), dan USD 9.1 milyar (bila dimanfaatkan secara lestari). Hal ini menunjukkan bahwa peran dan fungsi kawasan hutan di Ekosistem Leuser dan TNGL sangat besar dalam mendukung sistem penyangga kehidupan (life support system) dan keberlanjutan pembangunan (sustainable development) khususnya di daerah hilir.
# Spesies Mandat (4)

Spesies mandat merupakan jenis tumbuhan dan satwa liar yang menjadi prioritas pengelolaan dan perlindungan berdasarkan tingkat ancaman, nilai konservasi, serta kebijakan nasional dan internasional.

Dicerorhinus sumatrensis

Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), adalah satu-satunya badak Asia yang memiliki dua cula. Badak Sumatera adalah badak yang memiliki ukuran terkecil dibandingkan semua sub-spesies badak di dunia, meskipun masih tergolong hewan mamalia yang besar. Sebaran Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) di Kawasan TNGL, berada di wilayah Kabupaten Aceh Tenggara dan Aceh Selatan hasil survey kamera trap dan patroli antara Balai Besar TNGL dengan Mitra Kerja pada tahun 2014 – 2015.

Gajah sumatera Elephas maximus sumatranus

Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) atau sumatran elephant merupakan mamalia darat terbesar di Indonesia. Gajah sumatera termasuk ke dalam subspesies gajah Asia, penyebarannya di alam bebas hanya ada di Pulau Sumatera. Sebaran Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Kawasan TNGL berada di daerah Kappi, Sei Lepan dan Sembabala Barat.

Harimau sumatera Panthera tigris sumatrae

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satwa endemik Indonesia yang populasinya saat ini tersebar dalam populasi-populasi kecil di dalam dan di luar kawasan konservasi di Sumatera. Sebaran Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Kawasan TNGL, ditemukan hampir sepanjang Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh Selatan hingga Aceh Barat Daya. Potensi terbesar berada di Daerah Kappi dan Langkat.

Orang utan sumatra Pongo abelii

Orangutan Sumatra (Pongo abelli) adalah spesies orangutan terlangka. Orangutan Sumatra hidup dan endemik terhadap Sumatra, sebuah pulau yang terletak di Indonesia. Mereka lebih kecil daripada orangutan Kalimantan. Orangutan Sumatra memiliki tinggi sekitar 4.6 kaki dan berat 200 pon. Betina lebih kecil, dengan tinggi 3 kaki dan berat 100 pon

# Kondisi Fisik

Secara geografis, kawasan TNGL berada pada posisi geografis antara 96°55” BT - 98°30” BT dan 2°56” LU – 4°03” LU. Berdasarkan letak administrasi pemerintahan, kawasan TNGL berada di 2 (dua) provinsi, yaitu: Provinsi Aceh (Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Aceh Tenggara) dan Propinsi Sumatera Utara (Kabupaten Langkat dan Kabupaten Karo).

# Topografi

Sebagian besar kawasan TNGL berada di wilayah pegunungan yang berbukit dan bergelombang, dengan 33 bukit atau gunung, dan 80% wilayahnya memiliki kemiringan di atas 40%. Sebagian kecil saja areal yang berupa dataran rendah dan tidak begitu luas yaitu di wilayah Sekundur dan Langkat.

# Letak Ketinggian (m.dpl)

0 - 3.404

# Jenis Tanah

Secara umum, pada kawasan TNGL terdapat minimal 11 jenis tanah. Tiga jenis mendominasi kawasan ini yaitu komplek podsolik dan litosol, komplek podsolik merah kuning latosol dan litosol dan andosol.Jenis-jenis tanah tersebut mencakup organosol dan gleihumus, regosol, podsolik merah kuning (batuan endapan), podsolik merah kuning (batuan aluvial), regosol, andosol, litosol, podsolik merah kuning (bahan endapan dan batuan beku), kompleks podsolik merah kuning latosol dan litosol, kompleks podsolik coklat, podsolik dan litosol, serta kompleks resina dan litosol.

Kawasan TNGL di wilayah Aceh memiliki tanah yang terdiri dari jenis: podsolik merah kuning, latosol dan litosol, podsolik cokelat, podosol dan litosol, andosol, regosol, podsolik merah kuning, rensing dan litosol, serta jenis organosol dang le humus. Adapun di wilayah Sumatera Utara, tanahnya terdiri atas jenis podsolik merah kuning, komplek podsolit cokelat, podosol dan litosol, tanah gambut, tanah vulkanik, adosol, komplek podsolit merah kuning, latosol dan litosol, dan tanah sedimentasi.

# Geologi

Bagian Utara Kawasan TNGL adalah pegunungan Leuser Simpoli yang terbentuk dari formasi Munkap mata-sedimen dan Glanelei dan baru mengalami sedikit pelapukan. Bagian Barat terdapat sabuk batu kapur yang membentuk rintangan.

# DAS/Sub DAS

DAS : Bakongan, Batang Serangan, Batee, Belawan, Belumai, Besitang, Deli, Kluet, Lembang, Lepan, Manyak Payed/ Tamiang, Pawoh Baroh, Percut, Singkil, Susoh, Tripa, Ular, Wampu 

# Tipe Iklim

Termasuk ke dalam iklim A (Schmidt dan Fergusson)

# Curah Hujan (mm)
2.468
# Temperatur (0C)
23 - 25
# Kelembaban (%)
65 - 75