Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Pusat
IN-FLORES
IN-FLORES
Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Pusat
2 Oktober 2026
Pasir Panjang, Oktober 2026 - Di Tengah masa transisi pemulihan pascagempa bumi yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026, kelompok usaha Masyarakat di wilayah binaan IN-FLORES di Kabupaten Manggarai Barat masih menunjukkan semangat luar biasa, meskipun secara mental mereka sangat terdampak.
“Kami tidak terpengaruh secara fisik, tetapi secara psikologis kami terdampak. Gempa-gempa susulan itu yang selalu membuat kami khawatir,” kata Suratno, Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Golo Mori, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat. Hal ini disampaikan saat IN-FLORES mengadakan pertemuan Penguatan Forum Multistakeholder dalam Mendukung Ketangguhan Masyarakat dan Lingkungan Pascagempa Bumi di Flores pada 26 September 2026 di Kampung Kerora, Desa Pasir Panjang, Kabupaten Manggarai Barat.
IN-FLORES mengundang 12 Kelompok Tani Hutan (KTH) binaannya di Desa Golo Mori dan Desa Pasir Panjang untuk hadir dalam acara tersebut. Dari Golo Mori ada Kelompok Tenun Ca’ Nai, Kelompok Madu Wela Satar, Kelompok Kopi tuk Golo Mori, Kelompok Gudang Apung Bahari, Kelompok UMKM Laing Lewe, serta Kelompok Anyaman Pandan. Sedangkan dari Desa Pasir Panjang, KTH yang hadir adalah Kelompok Mai Taung Kerora, Kelompok Animal Pop Komodo, Kelompok Rinca Coral Nursery, Kelompok Pempeng Bersinar, kelompok Kukusan Sejahtera, serta Pokdarwis pasir Panjang.
“Kami mengapresiasi IN-FLORES karena sudah membentuk kelompok Masyarakat, ada kontribusi dan manfaat yang dirasakan masyarakat. IN-FLORES secara tidak langsung telah memberi motivasi perekonomian masyarakat,” kata Nurdin, Kepala Desa Pasir Panjang.
Hal itu diamini oleh Didimus Estanto Turuk, Sekretaris Badan Peduli Taman Nasional Komodo dan Perairan Sekitarnya (BPTNK PS) yang juga berfungsi seperti forum koordinasi multipihak di Manggarai Barat. “Saya sangat terkesan karena karya IN-FLORES sudah sampai di level ini. Kami punya PR untuk meneruskan semua ini ke khalayak yang lebih luas. Saya mengapresiasi IN-FLORES dan Kepala Desa atas upayanya ini,” kata Didimus dalam sambutannya.
Menanggapi hal ini, Maman Surahman, Koordinator Kemitraan IN-FLORES, mengajak semua untuk bangkit di masa transisi pemulihan setelah bencana. “Kami mengapresiasi atas inovasi, insiatif, dan kemajuan dari semua kelompok usaha. Kami datang hanya membantu hingga 2029, selama proyek ini masih ada,” kata Maman.
Bahkan ada permintaan dari Kepala Desa agar IN-FLORES bertahan dan tidak pindah ke tempat lain sebelum masyarakat sejahtera. Namun IN-FLORES menegaskan bahwa proyek hanya membantu hingga akhir proyek di 2029. Sementara usaha yang telah dirintis masyarakat harus tetap berjalan, bukan karena proyek, tetapi karena inisiatif semua untuk maju.
Komitmen untuk maju
Dalam pertemuan dengan masyarakat dari kelompok binaan IN-FLORES, para perwakilan dari kelompok usaha maupun dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bertukar pengalaman tentang usaha yang mereka jalankan, kondisi serta kendala yang dihadapi.
Suratno, Direktur BUMDes Golo Mori, mengatakan bahwa saat mengawali usaha mereka memerlukan pendamping untuk membakar semangat. Berkat pendampingan program dari Balai Taman Nasional Komodo melalui IN-FLORES kelompok usaha masyarakat pun makin berkembang.
“Awalnya IN-FLORES hanya mendampingi Kelompok Tenun dan Kelompok Kopi dan hanya menyentuh Sebagian kecil masyarakat. Dua kelompok itu lalu berkembang menjadi lima kelompok di bawah BUMDes yang didampingi oleh IN-FLORES,” kata Suratno. Sekarang ada Kelompok Gudang Apung Bahari, Kelompok Anyaman Pandan, dan Kelompok Laing Lewe yang baru bergabung.
Kendala umum yang dirasakan adalah turunnya pendapatan karena pasar yang terdampak gempa. Namun inisiatif dan kreativitas mereka terus membakar semangat untuk terus mengembangkan usaha.
Dini dari Kelompok Madu Wela Satar mengatakan bahwa kendala mereka adalah persaingan usaha madu yang dikaitkan dengan kualitas dan keaslian produk. “Kami berkomitmen tidak akan berbuat yang bukan-bukan, karena kami memproduksi madu asli tanpa campuran. Kami tidak ingin mengecewakan IN-FLORES dan pelanggan kami,” tegas Dini.
Para pelaku usaha di kampung itu dikuatkan oleh Alphons Parera dari Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Manggarai Barat. Menurutnya, IN-FLORES telah membantu ekonomi di semua desa, tapi hanya sampai 2029. Dia mengajak masyarakat agar usaha yang telah dirintis masyarakat harus berkelanjutan agar bisa diteruskan oleh generasi berikut.
“IN-FLORES hanya membantu memberikan fondasi. Untuk membangun bisnis yang lebih baik, kita perlu strategi agar bisnis kita terus berkelanjutan dengan atau tanpa kehadiran IN-FLORES,” kata Alphons sambil menekankan pentingnya diversifikasi produk, kolaborasi, dan promosi melalui teknologi digital yang harus dilakukan agar usaha bisa maju.
“Usaha yang dijalankan di sini adalah praktik bisnis lingkungan, karena yang dijual adalah alam di Bajo. Kita harus mengembangkan bisnis tanpa merusak alam agar tetap lestari. Bisnis hijau itu menarik, tinggal bagaimana kita menyikapinya,” tegas Alphons.
IN-FLORES saat ini juga menggandeng Lembaga Yakines sebagai mitra pelaksana proyek di wilayah darat dan laut di lima Desa, yaitu Pasir Panjang, Papagarang, Golo Mori, Komodo, dan Tanjung Boleng.
“Terima kasih telah bersama kami untuk mewujudkan mimpi bersama. Kita bisa bangkit agar kita punya strategi untuk menarik dolar ke sini,” kata Maman. ***
Sumber: IN - Flores
Sampaikan Pendapat Anda
Kami menghargai masukan Anda untuk meningkatkan kualitas acara ini. Silakan bagikan pandangan Anda.