Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Pusat
IN-FLORES
IN-FLORES
Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Pusat
2 Oktober 2026
Pota, Oktober 2026 – Bencana gempa bumi di Flores berskala 7.7 Magnitudo pada 15 Agustus 2026 silam masih menyisakan duka bagi banyak masyarakat yang terdampak. Namun kehadiran istri Bupati Manggarai Timur, Theresia Wisang, siang terik di lapangan depan Kecamatan Pota, Manggarai Timur, 24 September silam memberi suasana lain.
“Setelah bencana gempa, banyak hal yang sudah kita alami. Tapi saya minta semua mengucapkan kata ‘luar biasa’, karena kita masih bisa hidup, bisa berdiri tegak dan tangguh,” kata Theresia berapi-api memberikan semangat pada 115 warga yang hadir di tenda dalam pertemuan Penguatan Forum Multistakeholder dalam Mendukung Ketangguhan Masyarakat dan Lingkungan Pascagempa Bumi di Flores yang diadakan IN-FLORES dari 21 sampai 26 September 2026 di Kabupaten Ngada, Manggarai Timur dan Manggarai Barat.
Warga pun akhirnya menyambut dengan antusias. Acara itu dihadiri oleh IN-FLORES bersama istri Bupati dan istri Wakil Bupati Manggarai Timur, Dinas Kesehatan, Camat Pota, kepala desa, aparat dari Koramil, Kapolsek Pota, tokoh masyarakat, serta para anggota Kelompok Tani Hutan (KTH).
“Saya harus memberikan motivasi pada Masyarakat dan kelompok usaha di Pota, Nanga MBaur, Nanga Mbaling agar mereka bersemangat untuk tetap membangun usaha, terlepas dari bencana,” tegas Theresia.
Dalam kesempatan itu, ketua KTH Weki Ndai, Siti Zulaihah, membagikan pengalamannya dalam mengelola KTH yang beranggotakan 3 laki-laki dan 22 perempuan. Weki Ndai yang dibentuk sejak 2025 ini merupakan kelompok usaha yang memproduksi bawang goreng dan abon ikan. Bahkan kini produknya yang sudah berizin berhasil masuk ke Swalayan Nirwana di Ruteng.
“Musibah gempa ini memberi dampak positif kepada kelompok kami karena kami masih bisa tetap memproduksi bawang goreng, abon ikan tuna. Ada banyak pesanan dari para relawan yang menangani gempa Flores. Bahkan kita bisa mendapat omset hingga tujuh juta rupiah untuk menyuplai kebutuhan relawan,” kata Siti.
Siti mengajak semua KTH binaan IN-FLORES untuk tetap bersemangat. “Kita harus tetap aktif dan produktif agar dapat penghasilan,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, istri Bupati Manggarai Timur memberi arahan untuk pengembangan industri pangan lokal untuk peningkatan ekonomi keluarga. Menurutnya, tidak penting lagi dengan pengalaman dalam musibah gempa, karena yang lebih penting adalah rasa semangat dan harapan positif ke depannya. “Saya yakin pengembangan usaha ini ada harapan bahwa Roh Tuhan akan bekerja dalam hati dan budi kita semua,” kata Theresia.
Pengembangan potensi lokal
Ia mengangkat tema pengembangan pangan lokal ini karena melihat kekayaan dan potensi di Sambi Rampas selain ikan tuna dan bawang goreng. Potensi komoditi yang sangat besar di Manggarai Timur adalah jagung yang bisa diolah menjadi emping jagung. Sementara potensi besar di Golo Lijun adalah coklat. “Peminat untuk coklat ini banyak sekali. Kita semua suka coklat, tapi di pasar belum ada,” kata Theresia.
Ia mengusulkan agar jagung yang dikembangkan adalah jagung lokal karena hasilnya bagus dan lebih berkualitas dibanding jagung hibrida yang cepat hancur saat dibuat emping. “Saya sudah berdiskusi dengan Dinas Pertanian agar bisa mencari lokasi pengembangan jagung lokal yang jauh dari jagung hibrida,” katanya.
Ia berharap agar IN-FLORES membentuk, mendampingi dan mengembangkan usaha pengembangan pangan di Desa Nanga Baras dan Golo Lijun melalui pelatihan-pelatihan seperti yang diberikan pada kelompok Weki Ndai.
Menanggapi hal ini, Maman Surahman sebagai Koordinator Kemitraan IN-FLORES mengatakan bahwa kelompok usaha yang sudah ada tetap dikembangkan dan akan terus didampingi meskipun mereka sudah diberi pancing. Yang penting ada kemauan.
“Potensi dan skill adalah dua elemen penting untuk pengembangan komoditi jagung dan coklat. Yang penting dijalankan dulu, karena hanya ada dua kemungkinan, untung atau rugi. Yang penting ada semangat kita akan membantu,” kata Maman.
Di Kabupaten Manggarai Timur, verifikasi data sampai 29 September telah mencakup 24.392 unit. Rumah rusak berat 2.348 unit, rusak sedang 3.934 unit, rusak ringan 7.179 unit, dan 10.931 unit tidak masuk kriteria. Ada 28 fasilitas layanan Kesehatan dan 354 fasilitas Pendidikan yang terdampak dan rusak, termasuk 94 kantor dan 118 rumah ibadah rusak. Gempa di Manggarai Timur menelan 20 korban jiwa langsung dan 33 korban meninggal karena faktor penyakit dan usia. Menurut data, ada 10.130 orang yang mengungsi dan 514 orang terluka atau sakit.
“Bencana boleh merobohkan apa pun, tapi tidak boleh merobohkan semangat kita” kata Theresia. Ia berharap agar kaum ibu tetap punya semangat dan harapan sambil berdamai dan bersahabat dengan gempa, karena kita tidak tahu kapan gempa ini akan berakhir. ***
Sumber: IN - Flores
Sampaikan Pendapat Anda
Kami menghargai masukan Anda untuk meningkatkan kualitas acara ini. Silakan bagikan pandangan Anda.