Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Pusat
IN-FLORES
IN-FLORES
Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Pusat
11 Agustus 2026
Jakarta, 10 Agustus 2026. Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) dirayakan secara khusus pada 10 Agustus 2026 di Tawan Wisata Alam Angke Kapuk yang dihadiri oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Wakil Menteri Rohmat Marzuki, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Satyawan Pudyatmoko, serta seluruh rimbawan di Kementerian kehutanan. Gerakan Pemulihan Ekosistem memiliki tema sentral untuk melakukan konservasi alam dengan bekerja bersama merawat alam Indonesia.
Dalam sambutan tanpa teks, Menteri Kehutanan membuka dengan memaparkan kilas balik Sejarah kerusakan hutan di Indonesia yang dimulai pada sekitar tahun 1960-an. Forest Watch Indonesia (FWI) mencatat UU Kehutanan 1967 memberikan dasar hukum untuk pemberian hak pemanenan kayu yang memungkinkan Perusahaan memiliki hak untuk mengelola hutan selama 20 tahun.
Dari tahun tersebut hingga 1977 produksi kayu bulat Indonesia mencapai 28 juta meter kubik dan Sebagian besar diekspor. Bahkan dua tahun berikutnya Indonesia memiliki predikat negara produsen kayu bulat tropis yang menguasai 41 persen pangsa pasar dunia. Tak heran jika pada tahun-tahun tersebut pendapatan negara melonjak.
Namun, Hak Pengusahaan Hutan (HPH) telah menghasilkan kondisi hutan yang rusak pada 2000. Kebijakan pun berubah dengan keluarnya program Hutan Tanaman Industri (HTI), sehingga para pemegang HPH berpikir untuk memperbaiki lahan terdegradasi dengan HTI. Awalnya HTI diberikan untuk Kawasan hutan permanen nonproduktif. Faktanya, konsesi HTI sering dibangun di lahan hutan yang masih produktif.
Menurut laporan Kementerian Kehutanan pada Maret 2025, luas lahan berhutan di Indonesia pada 2024 seluas 95,5 juta hektare atau 51,1 persen dari total daratan. Dari angka itu, sekitar 91,9 persen berada di dalam Kawasan hutan. Mayoritas deforestasi bruto terjadi di hutan sekunder dengan luas 200,6 ribu hektare (92,8d persen) di mana 69,3 persen terjadi di dalam kawasan hutan dan sisanya di luar Kawasan hutan.
“Kita tidak ingin menyalahkan masa lalu, tapi kita hanya ingin tahu di mana fase-fase kerusakan hutan kita. Saya merasa (melihat hal) itu penting dalam momentum seperti ini sehingga bisa kita jadikan sebagai bahan refleksi…supaya (peringatan ini) tidak hanya menjadi ritual tahunan,” kata Raja Juli.
Dengan melihat sejarah kerusakan hutan Indonesia, ia berharap ada sesuatu yang bisa diambil dalam momentum-momentum seperti Hari Konservasi Alam Nasional seperti ini. Kita tidak mencari atau menghilangkan kesalahan masa lalu.
“Tapi, faktanya kita menghadapi hutan kita seperti ini. Inilah saatnya kita mulai bergerak untuk melakukan pemulihan eksosistem atau gerakan pemulihan ekosistem,” tegas Raja Juli.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kehutanan mengakui mendapatkan yang luar biasa dari Presiden Prabowo Subianto yang memberikan ruang untuk restorasi ekosistem. Karena itu, Raja Juli mencari gagasan agar negara hadir dan bertanggung jawab untuk melakukan proses restorasi.
“Yang penting tentu adalah membuka diri untuk kerja sama dengan pihak mana pun. Dengan rendah hati harus kita katakana bahwa sebagai policy maker atau regulator, negara memiliki keterbatasan baik dari segi pendanaan maupun dari segi sumber daya manusia,” katanya.
Konservasi adalah sinergi semua pihak
Sementara itu, dalam sambutannya Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Satyawan Pudyatmoko, menegaskan bahwa peringatan Hari Konservasi Alam Nasional ini adalah upaya terus menerus untuk selalu membangun kesadaran dan komitmen bersama.
“Peringatan ini untuk membangun kesadaran bahwa konservasi alam ini adalah upaya jangka panjang, dan HKAN melibatkan semua mitra,” kata Satyawan. Ia menggarisbawahi bahwa konservasi harus dilakukan bersama-sama. Ada peran serta masyarakat dalam konservasi dengan menjaga kesetaraan sumber daya alam secara bersama-sama dan partisipatif.
HKAN tahun ini mengusung tema konservasi alam adalah kerja bersama untuk merawat alam Indonesia. “Tema ini mengandung pesan bahwa merawat alam Indonesia tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah, atau sendirian oleh aktivis masyarakat, akademisi. Tetapi semua komponen bangs aini, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, pengusaha, akademisi, media, dan mitra Pembangunan yang bersama-sama bersinergi untuk melakukan konservasi keragaman hayati dan ekosistem,” papar Satyawan.
Implikasi lebih jauh lagi adalah bahwa konservasi tidak hanya diperingati sebagai sebuah seremoni tahunan, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Dari Kementerian Kehutanan sendiri ada 74 Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang mewakili 7 region di Indonesia yang bergerak bersama-sama.
“Kami berharap kegiatan hari ini menjadi momentum untuk semakin memperkuat kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga kekayaan rakyat di Indonesia. Konservasi ke depan tidak dapat dihadapi oleh satu institusi saja, tapi dibutuhkan sinergi yang sangat kuat dan komitmen bersama semua pihak,” tegas Satyawan.
Peringatan ditandai dengan penanaman mangrove oleh Menteri Kehutanan dan tamu undangan, pembibitan propagul, serta pelepasan burung air. Acara diselenggarakan luring dan daring yang menghadirkan semua UPT yang turut memeriahkan peringatan HKAN 2026 serta komitmen mereka untuk melakukan aksi nyata konservasi. ***
Sumber: Tim IN-FLORES
Sampaikan Pendapat Anda
Kami menghargai masukan Anda untuk meningkatkan kualitas acara ini. Silakan bagikan pandangan Anda.