Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Pusat
IN-FLORES
IN-FLORES
Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Pusat
Riung, Oktober 2026 - Matahari sudah bersinar terik meski pagi itu masih pukul 10.00. Tapi panas pagi itu tak menyurutkan 145 penduduk Desa Ite Jaya, Nangamese, Benteng Tengah, dan Kota Raja yang berkumpul di bawah tenda di halaman Kantor Kecamatan Riung pada 22 September 2026. Hawa panas yang membuat gerah itu tak juga mengurangi keseriusan diskusi antara Pemerintah Kecamatan, Pemda Kabupaten Ngada dan IN-FLORES dengan seluruh elemen masyarakat dari keempat desa. “Sebelum melakukan pemulihan ekonomi, menurut saya yang penting dilakukan penyembuhan trauma dulu,” kata Firman, salah seorang warga Desa Kota Raja, yang hadir dalam acara kumpul warga di Kecamatan Riung. Mereka hadir dalam pertemuan Penguatan Forum Multistakeholder dalam Mendukung Ketangguhan Masyarakat dan Lingkungan Pascagempa Bumi di Flores yang diadakan IN-FLORES dari 21 sampai 26 September 2026 di Kabupaten Ngada, Manggarai Timur dan Manggarai Barat. Firman mengisahkan bagaimana bencana telah menghancurkan tempat tinggal masyarakat. Tak hanya itu. Sebagian nelayan belum berani melaut karena mereka trauma dengan kejadian gempa 7,7 Magnitudo yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Belum lagi yang kehilangan alat tangkap ikan dan kerusakan perahu akibat gempa. Sementara warga lain, Hasniati dari Desa Benteng Tengah, juga mengungkapkan harapan yang sama. “Saya berharap IN-FLORES berkolaborasi dengan BKSDA bisa memulihkan psikis dengan trauma healing bagi kaum perempuan, karena kita para ibu ini masih trauma dengan gempa,” katanya. Masyarakat memang masih trauma. Terbukti saat gempa susulan berskala 4,8 magnitudo mengguncang lokasi acara dialog, para perempuan berteriak kaget dan ada yang berlarian keluar tenda pertemuan. Tak berapa lama, mereka kembali ke tenda untuk melanjutkan diskusi yang dihadiri oleh perwakilan pemerintah Kabupaten Ngada, Kecamatan Riung, para tokoh masyarakat, kepala desa, dan anggota kelompok masyarakat. Sementara itu, tim IN-FLORES juga mengadakan kegiatan trauma healing secara khusus bersama anak-anak sekolah di Tadho, Lengkosambi Barat, Lengkosambi Timur, Lengkosambi, dan Lengkosambi Utara. Masyarakat yang hadir dari keempat desa itu 160 orang dan 66 siswa dan siswi SDK Bekek. Pemulihan trauma Di tempat terpisah, tim IN-FLORES bersama Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada, Yovita Maria Bernaditte Moi, juga bertemu masyarakat untuk membantu memulihkan trauma pascagempa besar di Flores. “Kita semua terdampak gempa. Kita bersyukur masih hidup sehingga kita harus bergerak, jalan, dan maju meski masih trauma,” kata Yovita. Ia menyemangati sekitar 130 kaum laki-laki dan perempuan yang berkumpul di tenda di Sambinasi. Mereka berasal dari Desa Sambinasi, Sambinasi Barat dan Sambinasi Tengah. Ia mengajak semua masyarakat yang hadir untuk bicara tentang Kesehatan jiwa, penyembuhan trauma yang disebutnya sebagai psiko edukasi. “Ayo, Bapak Ibu, katakan, saya baik-baik saja. Saya bisa mengatasi semua,” ajak Yovita di depan hadirin dengan penuh semangat. Dibantu oleh beberapa staf dari Dinas Kesehatan, ia pun mengajak para ibu untuk mengurangi stres dan melupakan masa-masa menyakitkan di saat bencana. Beberapa dari perempuan itu mengaku kalau mereka sekarang rata-rata mengalami tekanan darah yang jauh lebih tinggi dari biasanya. “Mungkin karena trauma dan panik, setiap kali periksa, tensi saya selalu tinggi,” kata Mirnawati dari Lengkosambi Barat. Para perempuan rata-rata masih takut kembali ke rumah. Mereka lalu diajak untuk belajar mengatur napas untuk meredakan stres dan penyembuhan diri. Teknik-teknik pernapasan sederhana, senam otot muka dengan mengerutkan dahi, meniupkan udara lewat mulut, sampai meringis membuat mereka tertawa lepas. Teknik-teknik sederhana pereda stres yang bahkan selama ini tak terpikirkan pun dilakukan kaum perempuan di tenda itu. Mereka bukan kesulitan memraktikkan senam muka. Tapi mereka selalu tertawa lepas ketika melihat ekspresi muka teman-temannya yang jadi lucu. Akhirnya suasana pun makin cair, penuh canda tawa lepas. Mereka bahkan mungkin sudah lupa cara tertawa sejak terdampak gempa. Tapi siang itu, puluhan perempuan itu seolah bisa melepas beban sejenak dengan tertawa lepas. “Kita tidak tahu kapan gempa akan selesai, tapi ada cara untuk bersahabat dengan gempa untuk mengurangi rasa trauma,” kata Firman. *** Sumber: IN - Flores
Pota, Oktober 2026 – Bencana gempa bumi di Flores berskala 7.7 Magnitudo pada 15 Agustus 2026 silam masih menyisakan duka bagi banyak masyarakat yang terdampak. Namun kehadiran istri Bupati Manggarai Timur, Theresia Wisang, siang terik di lapangan depan Kecamatan Pota, Manggarai Timur, 24 September silam memberi suasana lain. “Setelah bencana gempa, banyak hal yang sudah kita alami. Tapi saya minta semua mengucapkan kata ‘luar biasa’, karena kita masih bisa hidup, bisa berdiri tegak dan tangguh,” kata Theresia berapi-api memberikan semangat pada 115 warga yang hadir di tenda dalam pertemuan Penguatan Forum Multistakeholder dalam Mendukung Ketangguhan Masyarakat dan Lingkungan Pascagempa Bumi di Flores yang diadakan IN-FLORES dari 21 sampai 26 September 2026 di Kabupaten Ngada, Manggarai Timur dan Manggarai Barat. Warga pun akhirnya menyambut dengan antusias. Acara itu dihadiri oleh IN-FLORES bersama istri Bupati dan istri Wakil Bupati Manggarai Timur, Dinas Kesehatan, Camat Pota, kepala desa, aparat dari Koramil, Kapolsek Pota, tokoh masyarakat, serta para anggota Kelompok Tani Hutan (KTH). “Saya harus memberikan motivasi pada Masyarakat dan kelompok usaha di Pota, Nanga MBaur, Nanga Mbaling agar mereka bersemangat untuk tetap membangun usaha, terlepas dari bencana,” tegas Theresia. Dalam kesempatan itu, ketua KTH Weki Ndai, Siti Zulaihah, membagikan pengalamannya dalam mengelola KTH yang beranggotakan 3 laki-laki dan 22 perempuan. Weki Ndai yang dibentuk sejak 2025 ini merupakan kelompok usaha yang memproduksi bawang goreng dan abon ikan. Bahkan kini produknya yang sudah berizin berhasil masuk ke Swalayan Nirwana di Ruteng. “Musibah gempa ini memberi dampak positif kepada kelompok kami karena kami masih bisa tetap memproduksi bawang goreng, abon ikan tuna. Ada banyak pesanan dari para relawan yang menangani gempa Flores. Bahkan kita bisa mendapat omset hingga tujuh juta rupiah untuk menyuplai kebutuhan relawan,” kata Siti. Siti mengajak semua KTH binaan IN-FLORES untuk tetap bersemangat. “Kita harus tetap aktif dan produktif agar dapat penghasilan,” tegasnya. Dalam kesempatan itu, istri Bupati Manggarai Timur memberi arahan untuk pengembangan industri pangan lokal untuk peningkatan ekonomi keluarga. Menurutnya, tidak penting lagi dengan pengalaman dalam musibah gempa, karena yang lebih penting adalah rasa semangat dan harapan positif ke depannya. “Saya yakin pengembangan usaha ini ada harapan bahwa Roh Tuhan akan bekerja dalam hati dan budi kita semua,” kata Theresia. Pengembangan potensi lokal Ia mengangkat tema pengembangan pangan lokal ini karena melihat kekayaan dan potensi di Sambi Rampas selain ikan tuna dan bawang goreng. Potensi komoditi yang sangat besar di Manggarai Timur adalah jagung yang bisa diolah menjadi emping jagung. Sementara potensi besar di Golo Lijun adalah coklat. “Peminat untuk coklat ini banyak sekali. Kita semua suka coklat, tapi di pasar belum ada,” kata Theresia. Ia mengusulkan agar jagung yang dikembangkan adalah jagung lokal karena hasilnya bagus dan lebih berkualitas dibanding jagung hibrida yang cepat hancur saat dibuat emping. “Saya sudah berdiskusi dengan Dinas Pertanian agar bisa mencari lokasi pengembangan jagung lokal yang jauh dari jagung hibrida,” katanya. Ia berharap agar IN-FLORES membentuk, mendampingi dan mengembangkan usaha pengembangan pangan di Desa Nanga Baras dan Golo Lijun melalui pelatihan-pelatihan seperti yang diberikan pada kelompok Weki Ndai. Menanggapi hal ini, Maman Surahman sebagai Koordinator Kemitraan IN-FLORES mengatakan bahwa kelompok usaha yang sudah ada tetap dikembangkan dan akan terus didampingi meskipun mereka sudah diberi pancing. Yang penting ada kemauan. “Potensi dan skill adalah dua elemen penting untuk pengembangan komoditi jagung dan coklat. Yang penting dijalankan dulu, karena hanya ada dua kemungkinan, untung atau rugi. Yang penting ada semangat kita akan membantu,” kata Maman. Di Kabupaten Manggarai Timur, verifikasi data sampai 29 September telah mencakup 24.392 unit. Rumah rusak berat 2.348 unit, rusak sedang 3.934 unit, rusak ringan 7.179 unit, dan 10.931 unit tidak masuk kriteria. Ada 28 fasilitas layanan Kesehatan dan 354 fasilitas Pendidikan yang terdampak dan rusak, termasuk 94 kantor dan 118 rumah ibadah rusak. Gempa di Manggarai Timur menelan 20 korban jiwa langsung dan 33 korban meninggal karena faktor penyakit dan usia. Menurut data, ada 10.130 orang yang mengungsi dan 514 orang terluka atau sakit. “Bencana boleh merobohkan apa pun, tapi tidak boleh merobohkan semangat kita” kata Theresia. Ia berharap agar kaum ibu tetap punya semangat dan harapan sambil berdamai dan bersahabat dengan gempa, karena kita tidak tahu kapan gempa ini akan berakhir. *** Sumber: IN - Flores
Pasir Panjang, Oktober 2026 - Di Tengah masa transisi pemulihan pascagempa bumi yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026, kelompok usaha Masyarakat di wilayah binaan IN-FLORES di Kabupaten Manggarai Barat masih menunjukkan semangat luar biasa, meskipun secara mental mereka sangat terdampak. “Kami tidak terpengaruh secara fisik, tetapi secara psikologis kami terdampak. Gempa-gempa susulan itu yang selalu membuat kami khawatir,” kata Suratno, Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Golo Mori, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat. Hal ini disampaikan saat IN-FLORES mengadakan pertemuan Penguatan Forum Multistakeholder dalam Mendukung Ketangguhan Masyarakat dan Lingkungan Pascagempa Bumi di Flores pada 26 September 2026 di Kampung Kerora, Desa Pasir Panjang, Kabupaten Manggarai Barat. IN-FLORES mengundang 12 Kelompok Tani Hutan (KTH) binaannya di Desa Golo Mori dan Desa Pasir Panjang untuk hadir dalam acara tersebut. Dari Golo Mori ada Kelompok Tenun Ca’ Nai, Kelompok Madu Wela Satar, Kelompok Kopi tuk Golo Mori, Kelompok Gudang Apung Bahari, Kelompok UMKM Laing Lewe, serta Kelompok Anyaman Pandan. Sedangkan dari Desa Pasir Panjang, KTH yang hadir adalah Kelompok Mai Taung Kerora, Kelompok Animal Pop Komodo, Kelompok Rinca Coral Nursery, Kelompok Pempeng Bersinar, kelompok Kukusan Sejahtera, serta Pokdarwis pasir Panjang. “Kami mengapresiasi IN-FLORES karena sudah membentuk kelompok Masyarakat, ada kontribusi dan manfaat yang dirasakan masyarakat. IN-FLORES secara tidak langsung telah memberi motivasi perekonomian masyarakat,” kata Nurdin, Kepala Desa Pasir Panjang. Hal itu diamini oleh Didimus Estanto Turuk, Sekretaris Badan Peduli Taman Nasional Komodo dan Perairan Sekitarnya (BPTNK PS) yang juga berfungsi seperti forum koordinasi multipihak di Manggarai Barat. “Saya sangat terkesan karena karya IN-FLORES sudah sampai di level ini. Kami punya PR untuk meneruskan semua ini ke khalayak yang lebih luas. Saya mengapresiasi IN-FLORES dan Kepala Desa atas upayanya ini,” kata Didimus dalam sambutannya. Menanggapi hal ini, Maman Surahman, Koordinator Kemitraan IN-FLORES, mengajak semua untuk bangkit di masa transisi pemulihan setelah bencana. “Kami mengapresiasi atas inovasi, insiatif, dan kemajuan dari semua kelompok usaha. Kami datang hanya membantu hingga 2029, selama proyek ini masih ada,” kata Maman. Bahkan ada permintaan dari Kepala Desa agar IN-FLORES bertahan dan tidak pindah ke tempat lain sebelum masyarakat sejahtera. Namun IN-FLORES menegaskan bahwa proyek hanya membantu hingga akhir proyek di 2029. Sementara usaha yang telah dirintis masyarakat harus tetap berjalan, bukan karena proyek, tetapi karena inisiatif semua untuk maju. Komitmen untuk maju Dalam pertemuan dengan masyarakat dari kelompok binaan IN-FLORES, para perwakilan dari kelompok usaha maupun dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bertukar pengalaman tentang usaha yang mereka jalankan, kondisi serta kendala yang dihadapi. Suratno, Direktur BUMDes Golo Mori, mengatakan bahwa saat mengawali usaha mereka memerlukan pendamping untuk membakar semangat. Berkat pendampingan program dari Balai Taman Nasional Komodo melalui IN-FLORES kelompok usaha masyarakat pun makin berkembang. “Awalnya IN-FLORES hanya mendampingi Kelompok Tenun dan Kelompok Kopi dan hanya menyentuh Sebagian kecil masyarakat. Dua kelompok itu lalu berkembang menjadi lima kelompok di bawah BUMDes yang didampingi oleh IN-FLORES,” kata Suratno. Sekarang ada Kelompok Gudang Apung Bahari, Kelompok Anyaman Pandan, dan Kelompok Laing Lewe yang baru bergabung. Kendala umum yang dirasakan adalah turunnya pendapatan karena pasar yang terdampak gempa. Namun inisiatif dan kreativitas mereka terus membakar semangat untuk terus mengembangkan usaha. Dini dari Kelompok Madu Wela Satar mengatakan bahwa kendala mereka adalah persaingan usaha madu yang dikaitkan dengan kualitas dan keaslian produk. “Kami berkomitmen tidak akan berbuat yang bukan-bukan, karena kami memproduksi madu asli tanpa campuran. Kami tidak ingin mengecewakan IN-FLORES dan pelanggan kami,” tegas Dini. Para pelaku usaha di kampung itu dikuatkan oleh Alphons Parera dari Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Manggarai Barat. Menurutnya, IN-FLORES telah membantu ekonomi di semua desa, tapi hanya sampai 2029. Dia mengajak masyarakat agar usaha yang telah dirintis masyarakat harus berkelanjutan agar bisa diteruskan oleh generasi berikut. “IN-FLORES hanya membantu memberikan fondasi. Untuk membangun bisnis yang lebih baik, kita perlu strategi agar bisnis kita terus berkelanjutan dengan atau tanpa kehadiran IN-FLORES,” kata Alphons sambil menekankan pentingnya diversifikasi produk, kolaborasi, dan promosi melalui teknologi digital yang harus dilakukan agar usaha bisa maju. “Usaha yang dijalankan di sini adalah praktik bisnis lingkungan, karena yang dijual adalah alam di Bajo. Kita harus mengembangkan bisnis tanpa merusak alam agar tetap lestari. Bisnis hijau itu menarik, tinggal bagaimana kita menyikapinya,” tegas Alphons. IN-FLORES saat ini juga menggandeng Lembaga Yakines sebagai mitra pelaksana proyek di wilayah darat dan laut di lima Desa, yaitu Pasir Panjang, Papagarang, Golo Mori, Komodo, dan Tanjung Boleng. “Terima kasih telah bersama kami untuk mewujudkan mimpi bersama. Kita bisa bangkit agar kita punya strategi untuk menarik dolar ke sini,” kata Maman. *** Sumber: IN - Flores
Balai Taman Nasional Komodo (TNK) melaksanakan studi baseline terhadap Kelompok Kopi Tuk Jaong Cama dan Kelompok Tenun Ca Nai di Desa Golo Mori, Manggarai Barat, NTT. Studi ini dilakukan untuk memetakan kondisi sosial-ekonomi kelompok, rantai pasok, kapasitas produksi, serta potensi pemasaran produk lokal. Hasil studi menunjukkan bahwa kedua kelompok memiliki potensi besar untuk berkembang, namun masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan modal, rendahnya kapasitas produksi, hingga belum optimalnya pemasaran. Kelompok Kopi Tuk Jaong Cama, yang berdiri sejak 2021, memproduksi kopi robusta dan arabika dengan metode tradisional. Produksinya masih terbatas pada 50–100 bungkus per bulan, dipasarkan secara lokal di desa dan sekitarnya. Sementara itu, Kelompok Tenun Ca Nai yang baru terbentuk pada 2023 masih dalam tahap awal pembelajaran menenun kain, dan saat ini lebih banyak menghasilkan anyaman tikar daun pandan. Kedua kelompok juga masih menghadapi kendala administrasi, seperti belum memiliki pencatatan keuangan yang rapi, keterbatasan legalitas usaha, serta belum memanfaatkan strategi pemasaran digital. Melalui studi baseline ini, Balai TNK merekomendasikan penguatan kapasitas bisnis, peningkatan legalitas usaha, kemitraan dengan pembeli lokal maupun nasional, serta diversifikasi produk dan pemasaran. Diharapkan langkah ini mampu membantu kelompok usaha berkembang secara berkelanjutan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus mendukung konservasi berbasis ekonomi lokal di sekitar Taman Nasional Komodo.
Labuan Bajo, 2–4 Agustus 2024 – Sebanyak puluhan kader konservasi tingkat pemula mengikuti kegiatan Bimbingan Teknis terkait pengelolaan Other Effective Area-Based Conservation Measures (OECMs) di kawasan penyangga Taman Nasional Komodo. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas generasi muda konservasi dalam mendukung pengelolaan kawasan secara inklusif dan berkelanjutan. Melalui sesi pelatihan intensif, peserta dibekali keterampilan praktis dan pengetahuan mendalam mengenai teknik pemantauan biodiversitas, strategi mitigasi ancaman terhadap ekosistem, serta praktik konservasi berbasis kearifan lokal. Selain pembekalan teknis, kegiatan ini juga membuka ruang dialog dan kolaborasi antara komunitas lokal, pemerintah, serta mitra konservasi. “Pembekalan bagi kader konservasi pemula sangat penting, karena mereka akan menjadi garda terdepan dalam menjaga keseimbangan antara kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat,” ujar salah satu narasumber kegiatan. Melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan partisipasi masyarakat, kegiatan ini diharapkan melahirkan kader konservasi yang siap berperan aktif dalam mendukung pengelolaan kawasan penyangga TN Komodo, sekaligus memperkuat sistem OECMs di tingkat tapak.
Labuan Bajo, 30 Juli – 1 Agustus 2024 – Sebanyak 30 kader konservasi dari desa-desa penyangga sekitar Taman Nasional Komodo mengikuti kegiatan Pembentukan dan Lokakarya Manajemen Konflik Manusia-Satwa Liar. Kegiatan ini digelar untuk memperkuat kapasitas masyarakat lokal dalam menghadapi dinamika interaksi dengan satwa liar, khususnya komodo dan spesies lain yang hidup di kawasan konservasi. Selama tiga hari, peserta mendapatkan pembekalan materi mengenai ekologi komodo, dasar-dasar manajemen konflik manusia-satwa liar, serta praktik langsung di lapangan. Salah satu sesi praktik yang paling menarik adalah simulasi relokasi telur penyu, yang memberikan pemahaman konkret mengenai langkah-langkah penyelamatan satwa dilindungi. Lokakarya ini juga menghadirkan forum diskusi interaktif antara kader konservasi dan pemangku kepentingan, guna merumuskan solusi berbasis komunitas yang aplikatif dalam pengelolaan konflik satwa liar. Dari hasil evaluasi, tercatat peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta, dengan nilai rata-rata post-test meningkat hingga 80% dibandingkan dengan pre-test. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat kapasitas teknis para kader konservasi, tetapi juga mempererat kolaborasi antara masyarakat lokal dan pengelola kawasan Taman Nasional Komodo. Dengan adanya kader yang terlatih, diharapkan konflik manusia-satwa liar dapat diminimalisir, sehingga kelestarian satwa terlindungi sekaligus menjaga kesejahteraan masyarakat sekitar.
Menampilkan 1 dari 6 item