Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Pusat
IN-FLORES
IN-FLORES
Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Pusat
26 Februari 2026
Pada akhir tahun 2025 lalu, Direktorat Jenderal KSDAE Kementerian Kehutanan menerbitkan dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Komodo. Dokumen ini penting keberadaannya untuk memandu langkah-langkah pelaksanaan upaya konservasi komodo, baik di habitat alaminya maupun untuk individu Komodo yang berada pada fasilitas konservasi eksitu. Menurut Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, Ahmad Munawir, dokumen SRAK Komodo penting sebagai instrumen negara untuk mengendalikan risiko kepunahan keanekaragaman hayati, untuk menjamin konsistensi kebijakan nasional, panduan untuk memitigasi resiko kepunahan Komodo, serta penguatan kendali pemerintah sebagai pengelola keanekaragaman hayati.
Dokumen SRAK Komodo berlaku untuk jangka waktu 10 tahun, yaitu sampai dengan tahun 2035. dokumen ini berisi informasi dasar dan baseline data Komodo sampai dengan tahun 2025, trend ancaman yang terjadi terhadap satwa liar endemik ini, perspektif genetik Komodo, serta terutama upaya-upaya apa saja yang perlu dilakukan untuk mencegah kepunahan Komodo. Pihak-pihak yang berkepentingan dan yang akan terlibat dalam upaya konservasi tentu saja juga telah terpetakan dalam dokumen SRAK.
Adapun upaya utama yang perlu dilakukan dalam upaya konservasi komodo antara lain dengan melakukan: perlindungan dan pengaweta habitat Komodo; penelitian, pendidikan dan penguatan kelembagaan sehubungan dengan upaya konservasi Komodo; intervensi sosial dan ekonomi masyarakat di sekitar habitat Komodo; pengembangan instrumen pembiayaan berkelanjutan untuk konservasi; serta komunikasi, edukasi dan public awareness (CEPA).
Lebih lanjut, Munawir juga menyampaikan pentingnya upaya sinergi dan kolaborasi multi pihak dalam konservasi Komodo. Banyak pihak yang selama ini berperan dengan baik namun tidak terpetakan dengan baik, dan di sisi lain banyak pula pihak yang seharusnya berkewajiban untuk berperan dalam konservasi namun belum terlibat secara penuh. Basis ilmiah dan monitoring berkelanjutan dalam upaya konservasi juga sangat penting untuk dilakukan. Banyak hal yang harus dipelajari dengan baik karena keterbatasan pengetahuan manusia terkait proses-proses yang berlangsung di alam. Keanekaragaman hayati tentu saja rentan terhadap perubahan dan akan semakin parah dampaknya apabila hal tersebut terjadi karena ketidaktahuan. Sebagai penutup, Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan juga menekankan pentingnya pengintegrasian upaya konservasi Komodo ke dalam perencanaan pembangunan, baik di level lokal maupun di level nasional.
Kami ingin mengetahui apa yang Anda rasakan. Bagikan reaksi Anda!
Sampaikan Pendapat Anda
Kami menghargai masukan Anda untuk meningkatkan kualitas acara ini. Silakan bagikan pandangan Anda.