Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Pusat
IN-FLORES
IN-FLORES
Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Pusat
Proyek Investing in the Komodo Dragon and Other Globally Threatened Species in Flores (IN-FLORES) merupakan inisiatif ambisius yang digagas untuk melindungi spesies ikonik seperti komodo (Varanus komodoensis), kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea), dan elang flores (Nisaetus floris). Didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Global Environment Facility (GEF), dan UNDP Indonesia. Salah satu komponen penting dalam mencapai keberhasilan proyek ini adalah Knowledge Management System (KMS), yang berperan sebagai jembatan pengetahuan di antara pemangku kepentingan, mulai dari tingkat nasional hingga ke masyarakat lokal. KMS dalam proyek ini dirancang untuk mengelola, mendokumentasikan, dan menyebarluaskan pengetahuan serta praktik terbaik yang dihasilkan sepanjang implementasi program konservasi. Sistem ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat data, tetapi juga sebagai platform pembelajaran kolaboratif bagi pemerintah daerah, masyarakat, sektor swasta, LSM, hingga mitra internasional. Melalui Output 3.2, KMS akan mengintegrasikan berbagai strategi, seperti: KMS diharapkan tidak berhenti pada dokumentasi, tetapi menjadi warisan pengetahuan berkelanjutan yang memperkuat kapasitas lokal, nasional, dan internasional dalam melindungi keanekaragaman hayati Flores. Lebih dari itu, sistem ini menjadi contoh bagaimana teknologi informasi dan manajemen pengetahuan dapat bersinergi untuk konservasi, sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat sekitar.
Labuan Bajo, 7 Maret 2025. Taman Nasional Komodo bersama dengan Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Taman Nasional Gunung Leuseur, dan Taman Nasional Baluran, memperingati hari jadinya yang ke-45 sebagai taman nasional pertama Indonesia pada tanggal 06 Maret 2025. Hari ulang tahun Taman Nasional Komodo ini diperingati dengan berbagai kegiatan edukasi diantaranya: Lomba Mewarnai Anak di Gedung Komodo Visitor Center, Webinar 5 Taman Nasional Pertama bertajuk “45 Tahun Pengelolaan Taman Nasional: Menciptakan dan Menjaga Harmoni Alam Dengan Manusia”, dan peluncuran Film Animasi Anak “Waka dan Kibo: Episode Komi Komodo”. Dengan berdirinya Taman Nasional Komodo selama hampir setengah abad lamanya di Indonesia, tentu banyak perubahan yang terjadi seiring dengan berkembangnya Labuan Bajo, homebase dari Balai Taman Nasional Komodo, sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas. Hal ini tentu berkorelasi positif kepada meningkatnya kebutuhan pengelolaan dan berkembangnya tantangan pengelolaan kawasan Taman Nasional Komodo sebagai habitat dari satwa kunci biawak komodo (Varanus komodoensis) dan kakatua kecil kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea) dan sebagai magnet daya tarik wisata yang bernilai ekonomi tinggi bagi masyarakat setempat. Salah satu kebutuhan dan tantangan pengelolaan Taman Nasional Komodo adalah kesadaran lingkungan dan konservasi Masyarakat Indonesia terhadap ekosistem di Taman Nasional Komodo dan sekitarnya. Memasuki usia 45 tahun, Balai Taman Nasional Komodo didukung oleh Proyek Investing in the Komodo Dragon and Other Globally Threatened Species in Flores (IN-FLORES) berupaya berperan aktif dalam upaya penyadartahuan wawasan lingkungan dan konservasi melalui pembuatan dan peluncuran film animasi anak “Waka dan Kibo : Episode Komi Komodo” yang memperkenalkan biawak komodo dan habitatnya di Taman Nasional Komodo kepada anak-anak dengan menggandeng karakter Waka dan Kibo dari serial petualangan anak-anak Waka Kibo Kids hasil karya siswa SMK Raden Umar Said Kudus yang ditayangkan di Mentari TV. Seri “Waka dan Kibo” membuat episode khusus bertajuk Komi Komodo yang membawa Waka dan Kibo berpetualang dengan medali totempo-nya menjelajahi Taman Nasional Komodo. Film animasi berdurasi 10 menit ini berupaya mengedukasi anak-anak mengenai biawak komodo dan ekosistemnya dengan sangat menarik dan mudah dipahami bagi target audiens anak-anak. Episode Komi Komodo ini juga menyampaikan pesan-pesan positif mengenai cara berperilaku sebagai wisatawan yang baik saat mengunjungi Taman Nasional Komodo, khususnya menekankan untuk tidak mengganggu atau berinteraksi secara langsung dengan biawak komodo di habitat aslinya. Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Hendrikus Rani Siga, mengapresiasi pembuatan dan peluncuran Episode Komi Komodo. “Film pendek Komi Komodo dari Seri Petualangan Waka Kibo Kids ini adalah film animasi anak pertama dalam sejarah pengelolaan Taman Naisonal Komodo. Kami berharap melalui pendekatan film animasi anak, generasi muda Indonesia dapat belajar mengenai biawak komodo dan habitatnya sejak dini. Pendekatan penyadartahuan wawasan lingkungan dan konservasi melalui animasi, tentu akan membantu upaya pelestarian alam yang lebih berkesadaran sejak dini”, tutur Hendrikus Rani Siga. Banyak informasi mengenai Taman Nasional Komodo yang terangkum dalam film serial petualangan Waka Kibo Kids ini. “Dialog antara para tokoh juga dibuat sederhana sehingga mudah dipahami dan pesan yang diharapkan bisa sampai ke penonton segala usia. Informasi mulai dari cara mencapai tempat itu hingga asal muasal nama dan penemuan satwa Komodo terangkum secara menyeluruh,” ujar Ita Sembiring dari RUS Animation sebagai penulis naskah dari episode Komi Komodo. Sementara itu Agam Amintaha, selaku kepala sekolah SMK Raden Umar Said, juga menyambut baik kolaborasi ini. Menurutnya, adalah sangat membanggakan ketika melalui karya para siswa bisa berkontribusi dalam mengedukasi kelestarian satwa dan lingkungan. Episode Komi Komodo ini diharapkan dapat menjadi sarana edukasi para jagawana Balai Taman Nasional Komodo pada program Ranger Goes to School (RGTS) di sekolah dan dapat ditayangkan secara rutin bagi publik yang berkunjung ke Gedung Komodo Visitor Center sebagai Pusat Informasi dan Pelayanan Taman Nasional Komodo di Labuan Bajo. Balai Taman Nasional Komodo berharap agar Episode Komi Komodo dapat berlanjut dan memperkaya substansi edukasi konservasi yang lebih luas kedepannya.
Untuk memperkuat pengamanan kawasan konservasi, kegiatan SMART Patroli dan Monitoring Terpadu dilaksanakan pada 3–9 November 2024 di Taman Nasional Komodo. Kegiatan ini melibatkan berbagai mitra, termasuk Yayasan Komodo Survival Program dan BPPHLHK, dengan fokus meningkatkan pengawasan darat maupun perairan. Patroli menggunakan metode SMART (Spatial Monitoring and Reporting Tool), yang memungkinkan pengelolaan kawasan berbasis data terukur. Lokasi patroli mencakup titik-titik rawan seperti Loh Wenci, Loh Boko, dan Pulau Kalong, yang selama ini rentan terhadap aktivitas perburuan liar serta praktik ilegal lainnya. Selain pengawasan, kegiatan ini juga memberikan pelatihan bagi petugas dan masyarakat untuk mendeteksi dan melaporkan potensi ancaman. Dalam patroli laut, tim melakukan pemeriksaan terhadap kapal wisata dan nelayan untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan konservasi, termasuk kelengkapan dokumen perizinan. Sementara itu, patroli darat difokuskan pada pemantauan jalur baru, aktivitas perburuan, serta penggantian kamera jebak untuk memantau populasi fauna, khususnya komodo. Hasil kegiatan menunjukkan capaian positif: aktivitas ilegal di kawasan konservasi berhasil ditekan, kesadaran masyarakat meningkat, dan sinergi antar-pihak semakin kuat. Data hasil patroli kini menjadi rujukan penting dalam evaluasi sekaligus perencanaan kebijakan konservasi ke depan. Melalui pendekatan kolaboratif ini, pengelolaan Taman Nasional Komodo diharapkan dapat berlangsung secara berkelanjutan, menjaga keutuhan ekosistem sekaligus mendukung keberlangsungan spesies endemik yang dilindungi.
Balai Taman Nasional Komodo (TNK) melaksanakan studi baseline terhadap Kelompok Kopi Tuk Jaong Cama dan Kelompok Tenun Ca Nai di Desa Golo Mori, Manggarai Barat, NTT. Studi ini dilakukan untuk memetakan kondisi sosial-ekonomi kelompok, rantai pasok, kapasitas produksi, serta potensi pemasaran produk lokal. Hasil studi menunjukkan bahwa kedua kelompok memiliki potensi besar untuk berkembang, namun masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan modal, rendahnya kapasitas produksi, hingga belum optimalnya pemasaran. Kelompok Kopi Tuk Jaong Cama, yang berdiri sejak 2021, memproduksi kopi robusta dan arabika dengan metode tradisional. Produksinya masih terbatas pada 50–100 bungkus per bulan, dipasarkan secara lokal di desa dan sekitarnya. Sementara itu, Kelompok Tenun Ca Nai yang baru terbentuk pada 2023 masih dalam tahap awal pembelajaran menenun kain, dan saat ini lebih banyak menghasilkan anyaman tikar daun pandan. Kedua kelompok juga masih menghadapi kendala administrasi, seperti belum memiliki pencatatan keuangan yang rapi, keterbatasan legalitas usaha, serta belum memanfaatkan strategi pemasaran digital. Melalui studi baseline ini, Balai TNK merekomendasikan penguatan kapasitas bisnis, peningkatan legalitas usaha, kemitraan dengan pembeli lokal maupun nasional, serta diversifikasi produk dan pemasaran. Diharapkan langkah ini mampu membantu kelompok usaha berkembang secara berkelanjutan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus mendukung konservasi berbasis ekonomi lokal di sekitar Taman Nasional Komodo.
Kampung Kerora, yang terletak di Taman Nasional Komodo, menyimpan potensi besar untuk menjadi destinasi ekowisata berbasis konservasi penyu. Kedekatannya dengan habitat alami penyu di Pulau Muang memberikan peluang emas untuk mengembangkan wisata alam yang sekaligus berperan dalam pelestarian keanekaragaman hayati. Namun, peluang ini tidak lepas dari sejumlah tantangan. Minimnya infrastruktur pendukung dan rendahnya kesadaran masyarakat lokal tentang pentingnya konservasi masih menjadi hambatan utama. Tanpa strategi pengelolaan yang tepat, potensi ekowisata dapat berubah menjadi ancaman bagi habitat penyu itu sendiri. Kajian yang dilakukan di Kampung Kerora merekomendasikan sejumlah langkah kunci untuk mewujudkan ekowisata berbasis konservasi yang berkelanjutan: Dengan pendekatan terpadu ini, pengelolaan ekowisata di Kampung Kerora diharapkan mampu: Keberhasilan strategi ini membutuhkan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Kajian menekankan bahwa konservasi tidak bisa berjalan sendiri, melainkan harus menjadi gerakan bersama berbasis bukti dan pengalaman lapangan. Jika terwujud, Kampung Kerora tidak hanya dikenal sebagai kampung nelayan di dalam kawasan konservasi, tetapi juga sebagai contoh sukses pengelolaan ekowisata yang melindungi satwa langka sekaligus menyejahterakan masyarakat.
Sebagai upaya memperkuat pengelolaan kawasan konservasi perairan, Pelatihan Selam Open Water dan Advanced Diving dilaksanakan pada 20–22 September 2024 di Taman Nasional Komodo. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas teknis para pengelola kawasan dalam melakukan pemantauan ekosistem laut secara langsung di lapangan. Peserta mengikuti kombinasi teori dan praktik penyelaman, mencakup navigasi bawah air, kontrol daya apung, penggunaan peralatan selam, hingga prosedur keselamatan darurat. Selain keterampilan teknis, pelatihan juga menekankan pentingnya keselamatan sebagai prioritas utama dalam setiap aktivitas bawah laut. Materi pelatihan memperdalam kemampuan identifikasi ekosistem laut, khususnya kondisi terumbu karang dan keanekaragaman hayati. Melalui praktik lapangan di Pulau Bidadari dan Sabolo Besar—lokasi dengan ekosistem laut yang kompleks—peserta dilatih menggunakan metode pemantauan berbasis bukti seperti transek garis dan observasi langsung. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman serta keterampilan peserta. Mereka yang berhasil menyelesaikan program memperoleh sertifikasi Open Water dan Advanced Diving, yang menjadikan mereka lebih siap dalam mendukung pemantauan dan konservasi laut di kawasan TN Komodo. Dengan kapasitas baru ini, diharapkan para pengelola kawasan dapat berperan lebih aktif dalam pengawasan berbasis data, memperkuat konservasi terumbu karang, dan memastikan keberlanjutan ekosistem laut sebagai bagian penting dari pengelolaan Taman Nasional Komodo.
Taman Nasional Komodo (TNK) merupakan rumah bagi komodo (Varanus komodoensis) serta beragam ekosistem penting, mulai dari hutan bakau, padang lamun, hingga terumbu karang. Namun, kawasan ini menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim, pertumbuhan wisata, serta aktivitas manusia yang tidak terkendali. Kajian terbaru yang dilakukan oleh Balai TNK mengidentifikasi sejumlah ancaman utama: Sebagai respons, strategi mitigasi yang direkomendasikan mencakup: Kajian ini menjadi acuan penting bagi kebijakan konservasi nasional, sekaligus menegaskan bahwa menjaga TNK bukan hanya soal melindungi komodo, melainkan juga menjaga keseimbangan ekosistem darat dan laut yang menopang kehidupan masyarakat sekitar.
Kepulauan Seribu, 13–16 Agustus 2024 – Sebanyak 13 kader konservasi dan petugas Balai Taman Nasional Komodo mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas konservasi penyu dan ekowisata di Taman Nasional Kepulauan Seribu. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman peserta dalam mengelola habitat penyu sekaligus mengintegrasikan konservasi dengan pengembangan wisata berbasis masyarakat. Pelatihan dilakukan melalui in-class coaching dan praktik lapangan. Peserta mempelajari teknik pengelolaan sarang semi-alami, pelepasan tukik, hingga strategi ekowisata berkelanjutan. Pada sesi out-class coaching, peserta mengunjungi Pulau Pramuka untuk mengamati langsung relokasi sarang, pemeliharaan penyu di sanctuary, serta keterlibatan masyarakat lokal sebagai pemandu wisata dan edukator lingkungan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kapasitas kader konservasi dalam merancang program konservasi berbasis masyarakat. Para peserta berkomitmen untuk menerapkan ilmu tersebut di Taman Nasional Komodo, terutama dalam pengelolaan konservasi penyu yang terintegrasi dengan strategi kawasan. Dengan kolaborasi antar-taman nasional, kegiatan ini diharapkan dapat mendukung pelestarian ekosistem laut dan memperkuat ekowisata berkelanjutan di Indonesia.
Labuan Bajo, 2–4 Agustus 2024 – Sebanyak puluhan kader konservasi tingkat pemula mengikuti kegiatan Bimbingan Teknis terkait pengelolaan Other Effective Area-Based Conservation Measures (OECMs) di kawasan penyangga Taman Nasional Komodo. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas generasi muda konservasi dalam mendukung pengelolaan kawasan secara inklusif dan berkelanjutan. Melalui sesi pelatihan intensif, peserta dibekali keterampilan praktis dan pengetahuan mendalam mengenai teknik pemantauan biodiversitas, strategi mitigasi ancaman terhadap ekosistem, serta praktik konservasi berbasis kearifan lokal. Selain pembekalan teknis, kegiatan ini juga membuka ruang dialog dan kolaborasi antara komunitas lokal, pemerintah, serta mitra konservasi. “Pembekalan bagi kader konservasi pemula sangat penting, karena mereka akan menjadi garda terdepan dalam menjaga keseimbangan antara kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat,” ujar salah satu narasumber kegiatan. Melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan partisipasi masyarakat, kegiatan ini diharapkan melahirkan kader konservasi yang siap berperan aktif dalam mendukung pengelolaan kawasan penyangga TN Komodo, sekaligus memperkuat sistem OECMs di tingkat tapak.
Labuan Bajo, 30 Juli – 1 Agustus 2024 – Sebanyak 30 kader konservasi dari desa-desa penyangga sekitar Taman Nasional Komodo mengikuti kegiatan Pembentukan dan Lokakarya Manajemen Konflik Manusia-Satwa Liar. Kegiatan ini digelar untuk memperkuat kapasitas masyarakat lokal dalam menghadapi dinamika interaksi dengan satwa liar, khususnya komodo dan spesies lain yang hidup di kawasan konservasi. Selama tiga hari, peserta mendapatkan pembekalan materi mengenai ekologi komodo, dasar-dasar manajemen konflik manusia-satwa liar, serta praktik langsung di lapangan. Salah satu sesi praktik yang paling menarik adalah simulasi relokasi telur penyu, yang memberikan pemahaman konkret mengenai langkah-langkah penyelamatan satwa dilindungi. Lokakarya ini juga menghadirkan forum diskusi interaktif antara kader konservasi dan pemangku kepentingan, guna merumuskan solusi berbasis komunitas yang aplikatif dalam pengelolaan konflik satwa liar. Dari hasil evaluasi, tercatat peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta, dengan nilai rata-rata post-test meningkat hingga 80% dibandingkan dengan pre-test. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat kapasitas teknis para kader konservasi, tetapi juga mempererat kolaborasi antara masyarakat lokal dan pengelola kawasan Taman Nasional Komodo. Dengan adanya kader yang terlatih, diharapkan konflik manusia-satwa liar dapat diminimalisir, sehingga kelestarian satwa terlindungi sekaligus menjaga kesejahteraan masyarakat sekitar.
Jakarta, 7 Juli 2024 – Inception Workshop Proyek IN-FLORES resmi digelar pada 7 Juli 2024 dengan menegaskan pentingnya harmonisasi pelaksanaan proyek konservasi dengan berbagai agenda pembangunan nasional dan komitmen global. Proyek ini diselaraskan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework (KM-GBF), Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045, serta RPJPN 2025–2045. Melalui pendekatan lintas sektor, IN-FLORES berfokus pada konservasi Komodo dan spesies terancam punah lainnya dengan tata kelola terpadu darat dan laut. Target utama proyek meliputi pembentukan kawasan konservasi seluas lebih dari 160.000 hektare, restorasi habitat prioritas, pengurangan emisi gas rumah kaca hingga 3,3 juta tCO₂e, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dan peran aktif perempuan dalam kegiatan konservasi berbasis komunitas. Proyek ini dikelola dengan sistem UNDP-GEF melalui National Implementation Modality (NIM) dan mekanisme Direct Cash Transfer (DCT). Untuk menjamin keberlanjutan dan akuntabilitas, monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkala melalui laporan tahunan (Project Implementation Report), evaluasi tengah (Mid-Term Review) pada 2026, serta evaluasi akhir (Terminal Evaluation) pada 2029. Selain itu, proyek menerapkan Social and Environmental Safeguards (SESP), strategi komunikasi publik, serta sistem manajemen pengetahuan yang terintegrasi. Salah satu inovasi penting adalah pengembangan portal daring Komodo, yang akan menjadi pusat data dan informasi konservasi berbasis digital. Melalui Inception Workshop ini, seluruh pemangku kepentingan menegaskan komitmen bersama untuk menghadirkan upaya konservasi yang inklusif, berbasis ilmu pengetahuan, dan terintegrasi dengan pembangunan berkelanjutan di tingkat nasional maupun global.
Jakarta, 17 Mei 2024 — Proyek IN-FLORES resmi dimulai melalui acara Kick Off yang digelar pada Jumat (17/5), bertepatan dengan Pekan Keanekaragaman Hayati Indonesia 2024 di Auditorium Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta. Proyek ini menjadi tonggak awal implementasi program konservasi berskala nasional yang berfokus pada perlindungan Komodo dan spesies terancam punah lainnya di wilayah Flores. Seremoni pembukaan ditandai dengan penyerahan kunci secara simbolis oleh Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik kepada Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur serta perwakilan Balai Taman Nasional Komodo. Simbolisasi ini disertai dengan pemberian perangkat pendukung operasional bagi tim teknis proyek. Perangkat tersebut akan menunjang pelaksanaan fungsi utama proyek, mulai dari perencanaan, pemantauan, supervisi teknis, hingga pelaporan kegiatan lapangan. Selain sebagai dukungan logistik, penyerahan ini juga menegaskan pentingnya kesiapan teknologi dan sistem pendukung untuk menjamin pelaksanaan proyek yang transparan, akuntabel, serta adaptif terhadap dinamika di lapangan. Kick Off Proyek IN-FLORES juga menjadi momentum penguatan koordinasi antara pemerintah pusat, unit pelaksana daerah, dan mitra proyek. Momen ini menandai dimulainya langkah konkret dalam mewujudkan upaya konservasi yang inklusif, berbasis ilmu pengetahuan, dan terintegrasi dengan program pembangunan berkelanjutan nasional.
Menampilkan 13 dari 25 item