IN-FLORES

Artikel

Menggagas Ekowisata Berbasis Konservasi Penyu di Kampung Kerora

Kampung Kerora, yang terletak di Taman Nasional Komodo, menyimpan potensi besar untuk menjadi destinasi ekowisata berbasis konservasi penyu. Kedekatannya dengan habitat alami penyu di Pulau Muang memberikan peluang emas untuk mengembangkan wisata alam yang sekaligus berperan dalam pelestarian keanekaragaman hayati. Namun, peluang ini tidak lepas dari sejumlah tantangan. Minimnya infrastruktur pendukung dan rendahnya kesadaran masyarakat lokal tentang pentingnya konservasi masih menjadi hambatan utama. Tanpa strategi pengelolaan yang tepat, potensi ekowisata dapat berubah menjadi ancaman bagi habitat penyu itu sendiri. Kajian yang dilakukan di Kampung Kerora merekomendasikan sejumlah langkah kunci untuk mewujudkan ekowisata berbasis konservasi yang berkelanjutan: Dengan pendekatan terpadu ini, pengelolaan ekowisata di Kampung Kerora diharapkan mampu: Keberhasilan strategi ini membutuhkan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Kajian menekankan bahwa konservasi tidak bisa berjalan sendiri, melainkan harus menjadi gerakan bersama berbasis bukti dan pengalaman lapangan. Jika terwujud, Kampung Kerora tidak hanya dikenal sebagai kampung nelayan di dalam kawasan konservasi, tetapi juga sebagai contoh sukses pengelolaan ekowisata yang melindungi satwa langka sekaligus menyejahterakan masyarakat.

Berita

Pelatihan Selam Tingkatkan Kapasitas Pemantauan Ekosistem Laut di TN Komodo

Sebagai upaya memperkuat pengelolaan kawasan konservasi perairan, Pelatihan Selam Open Water dan Advanced Diving dilaksanakan pada 20–22 September 2024 di Taman Nasional Komodo. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas teknis para pengelola kawasan dalam melakukan pemantauan ekosistem laut secara langsung di lapangan. Peserta mengikuti kombinasi teori dan praktik penyelaman, mencakup navigasi bawah air, kontrol daya apung, penggunaan peralatan selam, hingga prosedur keselamatan darurat. Selain keterampilan teknis, pelatihan juga menekankan pentingnya keselamatan sebagai prioritas utama dalam setiap aktivitas bawah laut. Materi pelatihan memperdalam kemampuan identifikasi ekosistem laut, khususnya kondisi terumbu karang dan keanekaragaman hayati. Melalui praktik lapangan di Pulau Bidadari dan Sabolo Besar—lokasi dengan ekosistem laut yang kompleks—peserta dilatih menggunakan metode pemantauan berbasis bukti seperti transek garis dan observasi langsung. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman serta keterampilan peserta. Mereka yang berhasil menyelesaikan program memperoleh sertifikasi Open Water dan Advanced Diving, yang menjadikan mereka lebih siap dalam mendukung pemantauan dan konservasi laut di kawasan TN Komodo. Dengan kapasitas baru ini, diharapkan para pengelola kawasan dapat berperan lebih aktif dalam pengawasan berbasis data, memperkuat konservasi terumbu karang, dan memastikan keberlanjutan ekosistem laut sebagai bagian penting dari pengelolaan Taman Nasional Komodo.

Artikel

Kajian Mitigasi Perubahan Ekosistem Taman Nasional Komodo: Menjaga Habitat Satwa Ikonik Dunia

Taman Nasional Komodo (TNK) merupakan rumah bagi komodo (Varanus komodoensis) serta beragam ekosistem penting, mulai dari hutan bakau, padang lamun, hingga terumbu karang. Namun, kawasan ini menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim, pertumbuhan wisata, serta aktivitas manusia yang tidak terkendali. Kajian terbaru yang dilakukan oleh Balai TNK mengidentifikasi sejumlah ancaman utama: Sebagai respons, strategi mitigasi yang direkomendasikan mencakup: Kajian ini menjadi acuan penting bagi kebijakan konservasi nasional, sekaligus menegaskan bahwa menjaga TNK bukan hanya soal melindungi komodo, melainkan juga menjaga keseimbangan ekosistem darat dan laut yang menopang kehidupan masyarakat sekitar.

Berita

Peningkatan Kapasitas Kader Konservasi Terkait Konservasi Penyu dan Ekowisata di Kepulauan Seribu

Kepulauan Seribu, 13–16 Agustus 2024 – Sebanyak 13 kader konservasi dan petugas Balai Taman Nasional Komodo mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas konservasi penyu dan ekowisata di Taman Nasional Kepulauan Seribu. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman peserta dalam mengelola habitat penyu sekaligus mengintegrasikan konservasi dengan pengembangan wisata berbasis masyarakat. Pelatihan dilakukan melalui in-class coaching dan praktik lapangan. Peserta mempelajari teknik pengelolaan sarang semi-alami, pelepasan tukik, hingga strategi ekowisata berkelanjutan. Pada sesi out-class coaching, peserta mengunjungi Pulau Pramuka untuk mengamati langsung relokasi sarang, pemeliharaan penyu di sanctuary, serta keterlibatan masyarakat lokal sebagai pemandu wisata dan edukator lingkungan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kapasitas kader konservasi dalam merancang program konservasi berbasis masyarakat. Para peserta berkomitmen untuk menerapkan ilmu tersebut di Taman Nasional Komodo, terutama dalam pengelolaan konservasi penyu yang terintegrasi dengan strategi kawasan. Dengan kolaborasi antar-taman nasional, kegiatan ini diharapkan dapat mendukung pelestarian ekosistem laut dan memperkuat ekowisata berkelanjutan di Indonesia.

Berita

Peningkatan Kapasitas Kader Konservasi Pemula untuk Pengelolaan OECMs di Penyangga TN Komodo

Labuan Bajo, 2–4 Agustus 2024 – Sebanyak puluhan kader konservasi tingkat pemula mengikuti kegiatan Bimbingan Teknis terkait pengelolaan Other Effective Area-Based Conservation Measures (OECMs) di kawasan penyangga Taman Nasional Komodo. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas generasi muda konservasi dalam mendukung pengelolaan kawasan secara inklusif dan berkelanjutan. Melalui sesi pelatihan intensif, peserta dibekali keterampilan praktis dan pengetahuan mendalam mengenai teknik pemantauan biodiversitas, strategi mitigasi ancaman terhadap ekosistem, serta praktik konservasi berbasis kearifan lokal. Selain pembekalan teknis, kegiatan ini juga membuka ruang dialog dan kolaborasi antara komunitas lokal, pemerintah, serta mitra konservasi. “Pembekalan bagi kader konservasi pemula sangat penting, karena mereka akan menjadi garda terdepan dalam menjaga keseimbangan antara kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat,” ujar salah satu narasumber kegiatan. Melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan partisipasi masyarakat, kegiatan ini diharapkan melahirkan kader konservasi yang siap berperan aktif dalam mendukung pengelolaan kawasan penyangga TN Komodo, sekaligus memperkuat sistem OECMs di tingkat tapak.

Berita

Lokakarya TN Komodo: Masyarakat Dibekali Strategi Atasi Konflik dengan Satwa Liar

Labuan Bajo, 30 Juli – 1 Agustus 2024 – Sebanyak 30 kader konservasi dari desa-desa penyangga sekitar Taman Nasional Komodo mengikuti kegiatan Pembentukan dan Lokakarya Manajemen Konflik Manusia-Satwa Liar. Kegiatan ini digelar untuk memperkuat kapasitas masyarakat lokal dalam menghadapi dinamika interaksi dengan satwa liar, khususnya komodo dan spesies lain yang hidup di kawasan konservasi. Selama tiga hari, peserta mendapatkan pembekalan materi mengenai ekologi komodo, dasar-dasar manajemen konflik manusia-satwa liar, serta praktik langsung di lapangan. Salah satu sesi praktik yang paling menarik adalah simulasi relokasi telur penyu, yang memberikan pemahaman konkret mengenai langkah-langkah penyelamatan satwa dilindungi. Lokakarya ini juga menghadirkan forum diskusi interaktif antara kader konservasi dan pemangku kepentingan, guna merumuskan solusi berbasis komunitas yang aplikatif dalam pengelolaan konflik satwa liar. Dari hasil evaluasi, tercatat peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta, dengan nilai rata-rata post-test meningkat hingga 80% dibandingkan dengan pre-test. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat kapasitas teknis para kader konservasi, tetapi juga mempererat kolaborasi antara masyarakat lokal dan pengelola kawasan Taman Nasional Komodo. Dengan adanya kader yang terlatih, diharapkan konflik manusia-satwa liar dapat diminimalisir, sehingga kelestarian satwa terlindungi sekaligus menjaga kesejahteraan masyarakat sekitar.

Berita

Inception Workshop Proyek IN-FLORES Tegaskan Sinergi Konservasi dan Agenda Nasional-Global

Jakarta, 7 Juli 2024 – Inception Workshop Proyek IN-FLORES resmi digelar pada 7 Juli 2024 dengan menegaskan pentingnya harmonisasi pelaksanaan proyek konservasi dengan berbagai agenda pembangunan nasional dan komitmen global. Proyek ini diselaraskan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework (KM-GBF), Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045, serta RPJPN 2025–2045. Melalui pendekatan lintas sektor, IN-FLORES berfokus pada konservasi Komodo dan spesies terancam punah lainnya dengan tata kelola terpadu darat dan laut. Target utama proyek meliputi pembentukan kawasan konservasi seluas lebih dari 160.000 hektare, restorasi habitat prioritas, pengurangan emisi gas rumah kaca hingga 3,3 juta tCO₂e, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dan peran aktif perempuan dalam kegiatan konservasi berbasis komunitas. Proyek ini dikelola dengan sistem UNDP-GEF melalui National Implementation Modality (NIM) dan mekanisme Direct Cash Transfer (DCT). Untuk menjamin keberlanjutan dan akuntabilitas, monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkala melalui laporan tahunan (Project Implementation Report), evaluasi tengah (Mid-Term Review) pada 2026, serta evaluasi akhir (Terminal Evaluation) pada 2029. Selain itu, proyek menerapkan Social and Environmental Safeguards (SESP), strategi komunikasi publik, serta sistem manajemen pengetahuan yang terintegrasi. Salah satu inovasi penting adalah pengembangan portal daring Komodo, yang akan menjadi pusat data dan informasi konservasi berbasis digital. Melalui Inception Workshop ini, seluruh pemangku kepentingan menegaskan komitmen bersama untuk menghadirkan upaya konservasi yang inklusif, berbasis ilmu pengetahuan, dan terintegrasi dengan pembangunan berkelanjutan di tingkat nasional maupun global.

Berita

Kick Off Proyek IN-FLORES

Jakarta, 17 Mei 2024 — Proyek IN-FLORES resmi dimulai melalui acara Kick Off yang digelar pada Jumat (17/5), bertepatan dengan Pekan Keanekaragaman Hayati Indonesia 2024 di Auditorium Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta. Proyek ini menjadi tonggak awal implementasi program konservasi berskala nasional yang berfokus pada perlindungan Komodo dan spesies terancam punah lainnya di wilayah Flores. Seremoni pembukaan ditandai dengan penyerahan kunci secara simbolis oleh Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik kepada Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur serta perwakilan Balai Taman Nasional Komodo. Simbolisasi ini disertai dengan pemberian perangkat pendukung operasional bagi tim teknis proyek. Perangkat tersebut akan menunjang pelaksanaan fungsi utama proyek, mulai dari perencanaan, pemantauan, supervisi teknis, hingga pelaporan kegiatan lapangan. Selain sebagai dukungan logistik, penyerahan ini juga menegaskan pentingnya kesiapan teknologi dan sistem pendukung untuk menjamin pelaksanaan proyek yang transparan, akuntabel, serta adaptif terhadap dinamika di lapangan. Kick Off Proyek IN-FLORES juga menjadi momentum penguatan koordinasi antara pemerintah pusat, unit pelaksana daerah, dan mitra proyek. Momen ini menandai dimulainya langkah konkret dalam mewujudkan upaya konservasi yang inklusif, berbasis ilmu pengetahuan, dan terintegrasi dengan program pembangunan berkelanjutan nasional.

Berita

Bimbingan Teknis IN-FLORES Perkuat Kapasitas Pelaksanaan dan Pengelolaan Proyek

Jakarta, 23–24 April 2024 — Proyek IN-FLORES menggelar kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) pada 23–24 April 2024 dengan fokus utama memperkuat kapasitas teknis dan administratif dalam pelaksanaan serta pengelolaan proyek. Bimtek ini menitikberatkan pada sejumlah aspek strategis, antara lain tata kelola kelembagaan, pengelolaan hibah, monitoring dan evaluasi, serta penyusunan perencanaan kegiatan tahunan. Dalam struktur kelembagaan, proyek dijalankan melalui Project Management Unit (PMU) dan Landscape Management Units (LMU). Sebagai bagian dari sesi perencanaan, peserta dibekali panduan penyusunan rencana kegiatan dan anggaran tahunan yang diselaraskan dengan indikator kinerja Direktorat Jenderal KSDAE serta target RPJMN 2025–2029. Penetapan target menggunakan pendekatan SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound) untuk memastikan implementasi proyek yang terukur dan memberikan dampak nyata di tingkat tapak. Melalui Bimtek ini, fondasi implementasi proyek semakin diperkuat dengan tata kelola yang baik, kolaborasi lintas pemangku kepentingan, serta pengelolaan berbasis hasil dan risiko. Kegiatan ini juga menjadi momentum penting untuk menyatukan langkah semua pihak dalam mendukung keberhasilan Proyek IN-FLORES secara berkelanjutan.

Menampilkan 13 dari 21 item