IN-FLORES

Berita

Manggarai Timur Deklarasikan Forum Konservasi Rugu Komodo dan Spesies Penting Lainnya

Dalam rangka memperkuat upaya konservasi rugu komodo dan spesies penting lainnya di wilayah Flores, telah dibentuk forum koordinasi para pihak di Kabupaten Manggarai Timur. Struktur kepengurusan dan tugas-tugas forum telah ditetapkan melalui Keputusan Bupati Manggarai TImur nomor HK/89 Tahun 2025 tentang Pembentukan Forum Konservasi Rugu (Komodo) dan Spesies Penting Lainnya di dalam dan di luar Kawasan Hutan di Kabupaten Manggarai Timur. Untuk menyamakan persepsi dan menggalang dukungan parapihak serta memulai pelaksanaan tugas forum maka Direktorat Jenderal Konservasi SDA Kementerian Kehutanan bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur menyelenggarakan Deklarasi dan Penyusunan Rencana Aksi Forum Kordinasi Parapihak (Multistakeholder Cordination Platform/MCP) . Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari pada 2 dan 3 Oktober 2025 di Aula Lawelujang kantor Bapperida Kabupaten Manggarai Timur dan secara resmi dibuka oleh Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas, S.H, M.Hum. Hadir pada kegiatan ini Kepala Balai Besar KSDA Provinsi NTT, Adhi Nurul Hadi, S.Hut. M.Sc.; Kabid KSDA Wilayah II BBKSDA NTT, Dadang Suryana, S.Hut.T., M.Sc.; Monitoring dan Reorting and Technicl Officer for Environment Unit UNDP, Mohammad Yayat Alfianto; Tim Konsultan dan Manajemen InFlores, Perangkar Daerah terkait lingkup Pemda Matim, Kepala UPTD Kesatuan Pemangku Hutan Manggarai Timur dan anggota MCP Manggarai Timur. Dalam sambutannya, Bupati Manggarai Timur menyampaikan bahwa pemerintah daerah menyadari bahwa forum konservasi ini bukan hanya kebutuhan tetapi sebuah keniscayaan dan wadah yang dibutuhkan untuk menyatukan semua kekuatan, agar upaya perlindungan rugu (komodo) dan spesies penting lainnya dalam wilayah Matim dalah berjalan sistematis, terkoordinasi dan berkelanjutan. “Tidak ada konservasi tanpa masyarakat, rugu dan spesies penting lainnya hanya dapat bertahan jika masyarakat yang hidup berdampingan dengan mereka juga sejahtera. Karenanya saya berharaop agar forum ini juga bisa memastian pemberdayaan masyarakat lokal melalui alternative ekonomi hijau dan pariwisata berkelanjutan. Keterlibatan partisipasi aktif perempuan dan kaum muda dalam upaya konservasi juga menjadi salah satu factor utama untuk menunjang pelaksanaan program pemerintah daerah. Penting juga untuk selalu melihat kearifan lokal dalam tata kelola hutan, tanah dan satwa.” Bupati Agas juga menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekedar lokal, ini merupakan bagian dari kontribusi yang kita berikan dari Manggarai Timur melalui upaya konservasi untuk menjaga bumi. “Saya juga ingin menyampaikan bahwa untuk konservasi Pemda Matim berkomitmen untuk menyediakan dukungan regulasi dan kebijakan yang kondusif, memastikan integrasi program dalam perencanaan pembangunan daerah, mendorong investasi hijau dan berkelanjutan serta menjadi jembatan antara masyarakat, swasta dan mitra internasional.” Selanjutnya dilaksanakan acara penandatanganan Deklarasi Bersama Forum Konservasi Rugu (Komodo) dan Spesies Penting Lainnya di dalam dan di luar Kawasan Hutan di Kabupaten Manggarai Timur dan penyerahan simbolis dukungan pengembangan usaha kelompok kepada KTH simu Nai Desa Nampar Sepang dan KTH Weki Ndai kelurahan Pota Kecamatan Sambi Rampas; masing-masing senilai 50juta rupiah. Sumber: https://www.floreseditorial.com/news/39716022444/manggarai-timur-deklarasikan-forum-konservasi-rugu-komodo-dan-spesies-penting-lainnya

Berita

Forum Konservasi Komodo Dibentuk di Manggarai Timur, Pemda Tekankan Partisipasi Masyarakat Lokal

Untuk memperkuat upaya perlindungan rugu (komodo) dan spesies penting lainnya di Flores, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur bersama sejumlah pihak membentuk Forum Konservasi Rugu dan Spesies Penting Lainnya. Pembentukan forum ini ditetapkan lewat Keputusan Bupati Manggarai Timur Nomor HK/89 Tahun 2025. Forum ini akan menjadi wadah koordinasi lintas pihak, baik di dalam maupun di luar kawasan hutan di wilayah Manggarai Timur. Sebagai langkah awal, pemerintah daerah bersama Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Kementerian Kehutanan menyelenggarakan deklarasi sekaligus penyusunan rencana aksi. Kegiatan itu berlangsung pada 2–3 Oktober 2025 di Aula Lawelujang, Kantor Bapperida Manggarai Timur. Acara dibuka langsung oleh Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas. Sejumlah pihak hadir, antara lain Kepala Balai Besar KSDA Provinsi NTT, Adhi Nurul Hadi; Kabid KSDA Wilayah II, Dadang Suryana; perwakilan UNDP, Mohammad Yayat Alfianto; tim konsultan InFlores; perangkat daerah lingkup Pemda Matim; serta perwakilan UPTD Kesatuan Pemangku Hutan Manggarai Timur. Dalam sambutannya, Bupati Agas menekankan bahwa forum ini lahir dari kebutuhan mendesak. Menurutnya, perlindungan komodo dan spesies lain tidak akan berhasil tanpa keterlibatan masyarakat. “Tidak ada konservasi tanpa masyarakat. Rugu dan spesies penting lainnya hanya bisa bertahan jika masyarakat yang hidup berdampingan dengan mereka juga sejahtera,” kata Agas. Ia berharap forum ini juga mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal melalui skema ekonomi hijau dan pariwisata berkelanjutan. Selain itu, keterlibatan perempuan, kaum muda, serta pengakuan atas kearifan lokal disebut sebagai kunci dalam keberlanjutan program. Agas menegaskan bahwa konservasi bukan hanya agenda lokal, tetapi juga kontribusi Manggarai Timur untuk keberlanjutan bumi. “Pemerintah daerah berkomitmen menyediakan regulasi dan kebijakan kondusif, memastikan program konservasi masuk dalam perencanaan pembangunan, serta mendorong investasi hijau yang berkelanjutan,” ujarnya. Sebagai bagian dari kegiatan, dilakukan penandatanganan Deklarasi Bersama Forum Konservasi Rugu dan penyerahan simbolis dukungan pengembangan usaha kelompok kepada KTH Simu Nai di Desa Nampar Sepang serta KTH Weki Ndai di Kelurahan Pota, Kecamatan Sambi Rampas. Masing-masing kelompok menerima bantuan sebesar Rp50 juta. Sumber: https://flotim.pikiran-rakyat.com/daerah/pr-3669692295/forum-konservasi-komodo-dibentuk-di-manggarai-timur-pemda-tekankan-partisipasi-masyarakat-lokal

Artikel

Bersama Menjaga Alam Flores

Flores bukan hanya sebuah pulau yang indah di jantung Nusa Tenggara Timur, tetapi juga rumah bagi kekayaan alam yang menakjubkan dan komunitas yang penuh kepedulian. Hutan yang rimbun, laut yang kaya akan keanekaragaman hayati, serta budaya masyarakat lokal yang selaras dengan alam menjadi identitas yang tak ternilai. Namun, keindahan ini tidak dapat bertahan tanpa upaya nyata dari kita semua. Flores memiliki ekosistem yang unik, mulai dari terumbu karang yang menjadi rumah bagi ribuan spesies laut, hingga hutan tropis yang menjadi penyangga kehidupan bagi satwa endemik. Keberadaan alam ini bukan hanya penting bagi masyarakat lokal, tetapi juga memberikan kontribusi besar bagi keseimbangan ekosistem global. Masyarakat adat, para nelayan, dan pengelola wisata di Flores telah lama menjadi garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan alam. Melalui kearifan lokal dan praktik ramah lingkungan, mereka berusaha memastikan bahwa hutan tetap hijau, laut tetap lestari, dan kehidupan terus berlanjut. Namun, tantangan terus berdatangan: perburuan liar, penangkapan ikan yang merusak, hingga tekanan dari aktivitas pariwisata yang tidak berkelanjutan. Semua ini membutuhkan solusi yang melibatkan kita semua. Konservasi bukan hanya tanggung jawab mereka yang tinggal di Flores, tetapi juga kita yang peduli pada masa depan bumi. Ada banyak cara yang dapat dilakukan: Upaya konservasi tidak akan berhasil jika berjalan sendiri. Butuh sinergi antara masyarakat lokal, pemerintah, pelaku usaha, dan kita semua yang peduli. Dengan setiap langkah kecil yang kita ambil, baik berupa dukungan, edukasi, maupun aksi nyata, kita sedang ikut menjaga sebuah warisan berharga: alam Flores yang hidup dan lestari untuk generasi mendatang.

Artikel

Hijaukan Kembali, Pulihkan Kehidupan

Flores dikenal sebagai rumah bagi spesies ikonik seperti komodo, kakatua kecil jambul kuning, dan elang flores. Namun, sebagian habitat alaminya telah mengalami degradasi, yang mengancam keseimbangan ekosistem dan keberlangsungan kehidupan satwa serta masyarakat di sekitarnya. Sebagai bagian dari Proyek IN-FLORES, langkah strategis telah disiapkan untuk memulihkan 300 hektar lahan terdegradasi yang terdiri dari 150 hektar kawasan hutan dan 150 hektar padang rumput alami. Rencana ini bertujuan mengembalikan fungsi ekologis habitat yang mendukung kelestarian spesies serta membuka peluang bagi pengelolaan ekosistem yang lebih berkelanjutan di masa depan. Saat ini, restorasi berada pada tahap persiapan, dengan rencana pelaksanaan yang telah disetujui dan akan dimulai pada periode pertengahan proyek. Setiap hektar yang akan dipulihkan merepresentasikan komitmen nyata menuju SDG 15: Life on Land, sekaligus dukungan Indonesia dalam menjaga keanekaragaman hayati dunia. Mari bersama mendukung langkah ini karena setiap pohon yang kelak tumbuh kembali adalah langkah kecil yang berarti besar bagi bumi dan generasi mendatang.

Artikel

Peran Knowledge Management System dalam Proyek IN-FLORES

Proyek Investing in the Komodo Dragon and Other Globally Threatened Species in Flores (IN-FLORES) merupakan inisiatif ambisius yang digagas untuk melindungi spesies ikonik seperti komodo (Varanus komodoensis), kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea), dan elang flores (Nisaetus floris). Didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Global Environment Facility (GEF), dan UNDP Indonesia. Salah satu komponen penting dalam mencapai keberhasilan proyek ini adalah Knowledge Management System (KMS), yang berperan sebagai jembatan pengetahuan di antara pemangku kepentingan, mulai dari tingkat nasional hingga ke masyarakat lokal. KMS dalam proyek ini dirancang untuk mengelola, mendokumentasikan, dan menyebarluaskan pengetahuan serta praktik terbaik yang dihasilkan sepanjang implementasi program konservasi. Sistem ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat data, tetapi juga sebagai platform pembelajaran kolaboratif bagi pemerintah daerah, masyarakat, sektor swasta, LSM, hingga mitra internasional. Melalui Output 3.2, KMS akan mengintegrasikan berbagai strategi, seperti: KMS diharapkan tidak berhenti pada dokumentasi, tetapi menjadi warisan pengetahuan berkelanjutan yang memperkuat kapasitas lokal, nasional, dan internasional dalam melindungi keanekaragaman hayati Flores. Lebih dari itu, sistem ini menjadi contoh bagaimana teknologi informasi dan manajemen pengetahuan dapat bersinergi untuk konservasi, sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat sekitar.

Berita

Peluncuran Film Animasi Waka Dan Kibo di Peringatan Hari Ulang Tahun Taman Nasional Komodo Ke-45

Labuan Bajo, 7 Maret 2025. Taman Nasional Komodo bersama dengan Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Taman Nasional Gunung Leuseur, dan Taman Nasional Baluran, memperingati hari jadinya yang ke-45 sebagai taman nasional pertama Indonesia pada tanggal 06 Maret 2025. Hari ulang tahun Taman Nasional Komodo ini diperingati dengan berbagai kegiatan edukasi diantaranya: Lomba Mewarnai Anak di Gedung Komodo Visitor Center, Webinar 5 Taman Nasional Pertama bertajuk “45 Tahun Pengelolaan Taman Nasional: Menciptakan dan Menjaga Harmoni Alam Dengan Manusia”, dan peluncuran Film Animasi Anak “Waka dan Kibo: Episode Komi Komodo”. Dengan berdirinya Taman Nasional Komodo selama hampir setengah abad lamanya di Indonesia, tentu banyak perubahan yang terjadi seiring dengan berkembangnya Labuan Bajo, homebase dari Balai Taman Nasional Komodo, sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas. Hal ini tentu berkorelasi positif kepada meningkatnya kebutuhan pengelolaan dan berkembangnya tantangan pengelolaan kawasan Taman Nasional Komodo sebagai habitat dari satwa kunci biawak komodo (Varanus komodoensis) dan kakatua kecil kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea) dan sebagai magnet daya tarik wisata yang bernilai ekonomi tinggi bagi masyarakat setempat. Salah satu kebutuhan dan tantangan pengelolaan Taman Nasional Komodo adalah kesadaran lingkungan dan konservasi Masyarakat Indonesia terhadap ekosistem di Taman Nasional Komodo dan sekitarnya. Memasuki usia 45 tahun, Balai Taman Nasional Komodo didukung oleh Proyek Investing in the Komodo Dragon and Other Globally Threatened Species in Flores (IN-FLORES) berupaya berperan aktif dalam upaya penyadartahuan wawasan lingkungan dan konservasi melalui pembuatan dan peluncuran film animasi anak “Waka dan Kibo : Episode Komi Komodo” yang memperkenalkan biawak komodo dan habitatnya di Taman Nasional Komodo kepada anak-anak dengan menggandeng karakter Waka dan Kibo dari serial petualangan anak-anak Waka Kibo Kids hasil karya siswa SMK Raden Umar Said Kudus yang ditayangkan di Mentari TV. Seri “Waka dan Kibo” membuat episode khusus bertajuk Komi Komodo yang membawa Waka dan Kibo berpetualang dengan medali totempo-nya menjelajahi Taman Nasional Komodo. Film animasi berdurasi 10 menit ini berupaya mengedukasi anak-anak mengenai biawak komodo dan ekosistemnya dengan sangat menarik dan mudah dipahami bagi target audiens anak-anak. Episode Komi Komodo ini juga menyampaikan pesan-pesan positif mengenai cara berperilaku sebagai wisatawan yang baik saat mengunjungi Taman Nasional Komodo, khususnya menekankan untuk tidak mengganggu atau berinteraksi secara langsung dengan biawak komodo di habitat aslinya. Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Hendrikus Rani Siga, mengapresiasi pembuatan dan peluncuran Episode Komi Komodo. “Film pendek Komi Komodo dari Seri Petualangan Waka Kibo Kids ini adalah film animasi anak pertama dalam sejarah pengelolaan Taman Naisonal Komodo. Kami berharap melalui pendekatan film animasi anak, generasi muda Indonesia dapat belajar mengenai biawak komodo dan habitatnya sejak dini. Pendekatan penyadartahuan wawasan lingkungan dan konservasi melalui animasi, tentu akan membantu upaya pelestarian alam yang lebih berkesadaran sejak dini”, tutur Hendrikus Rani Siga. Banyak informasi mengenai Taman Nasional Komodo yang terangkum dalam film serial petualangan Waka Kibo Kids ini. “Dialog antara para tokoh juga dibuat sederhana sehingga mudah dipahami dan pesan yang diharapkan bisa sampai ke penonton segala usia. Informasi mulai dari cara mencapai tempat itu hingga asal muasal nama dan penemuan satwa Komodo terangkum secara menyeluruh,” ujar Ita Sembiring dari RUS Animation sebagai penulis naskah dari episode Komi Komodo. Sementara itu Agam Amintaha, selaku kepala sekolah SMK Raden Umar Said, juga menyambut baik kolaborasi ini. Menurutnya, adalah sangat membanggakan ketika melalui karya para siswa bisa berkontribusi dalam mengedukasi kelestarian satwa dan lingkungan. Episode Komi Komodo ini diharapkan dapat menjadi sarana edukasi para jagawana Balai Taman Nasional Komodo pada program Ranger Goes to School (RGTS) di sekolah dan dapat ditayangkan secara rutin bagi publik yang berkunjung ke Gedung Komodo Visitor Center sebagai Pusat Informasi dan Pelayanan Taman Nasional Komodo di Labuan Bajo. Balai Taman Nasional Komodo berharap agar Episode Komi Komodo dapat berlanjut dan memperkaya substansi edukasi konservasi yang lebih luas kedepannya.

Berita

SMART Patroli dan Monitoring Terpadu Kawasan TN Komodo

Untuk memperkuat pengamanan kawasan konservasi, kegiatan SMART Patroli dan Monitoring Terpadu dilaksanakan pada 3–9 November 2024 di Taman Nasional Komodo. Kegiatan ini melibatkan berbagai mitra, termasuk Yayasan Komodo Survival Program dan BPPHLHK, dengan fokus meningkatkan pengawasan darat maupun perairan. Patroli menggunakan metode SMART (Spatial Monitoring and Reporting Tool), yang memungkinkan pengelolaan kawasan berbasis data terukur. Lokasi patroli mencakup titik-titik rawan seperti Loh Wenci, Loh Boko, dan Pulau Kalong, yang selama ini rentan terhadap aktivitas perburuan liar serta praktik ilegal lainnya. Selain pengawasan, kegiatan ini juga memberikan pelatihan bagi petugas dan masyarakat untuk mendeteksi dan melaporkan potensi ancaman. Dalam patroli laut, tim melakukan pemeriksaan terhadap kapal wisata dan nelayan untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan konservasi, termasuk kelengkapan dokumen perizinan. Sementara itu, patroli darat difokuskan pada pemantauan jalur baru, aktivitas perburuan, serta penggantian kamera jebak untuk memantau populasi fauna, khususnya komodo. Hasil kegiatan menunjukkan capaian positif: aktivitas ilegal di kawasan konservasi berhasil ditekan, kesadaran masyarakat meningkat, dan sinergi antar-pihak semakin kuat. Data hasil patroli kini menjadi rujukan penting dalam evaluasi sekaligus perencanaan kebijakan konservasi ke depan. Melalui pendekatan kolaboratif ini, pengelolaan Taman Nasional Komodo diharapkan dapat berlangsung secara berkelanjutan, menjaga keutuhan ekosistem sekaligus mendukung keberlangsungan spesies endemik yang dilindungi.

Artikel

Studi Baseline terhadap Kelompok Kopi Tuk Jaong Cama dan Kelompok Tenun Ca Nai di Desa Golo Mori

Balai Taman Nasional Komodo (TNK) melaksanakan studi baseline terhadap Kelompok Kopi Tuk Jaong Cama dan Kelompok Tenun Ca Nai di Desa Golo Mori, Manggarai Barat, NTT. Studi ini dilakukan untuk memetakan kondisi sosial-ekonomi kelompok, rantai pasok, kapasitas produksi, serta potensi pemasaran produk lokal. Hasil studi menunjukkan bahwa kedua kelompok memiliki potensi besar untuk berkembang, namun masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan modal, rendahnya kapasitas produksi, hingga belum optimalnya pemasaran. Kelompok Kopi Tuk Jaong Cama, yang berdiri sejak 2021, memproduksi kopi robusta dan arabika dengan metode tradisional. Produksinya masih terbatas pada 50–100 bungkus per bulan, dipasarkan secara lokal di desa dan sekitarnya. Sementara itu, Kelompok Tenun Ca Nai yang baru terbentuk pada 2023 masih dalam tahap awal pembelajaran menenun kain, dan saat ini lebih banyak menghasilkan anyaman tikar daun pandan. Kedua kelompok juga masih menghadapi kendala administrasi, seperti belum memiliki pencatatan keuangan yang rapi, keterbatasan legalitas usaha, serta belum memanfaatkan strategi pemasaran digital. Melalui studi baseline ini, Balai TNK merekomendasikan penguatan kapasitas bisnis, peningkatan legalitas usaha, kemitraan dengan pembeli lokal maupun nasional, serta diversifikasi produk dan pemasaran. Diharapkan langkah ini mampu membantu kelompok usaha berkembang secara berkelanjutan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus mendukung konservasi berbasis ekonomi lokal di sekitar Taman Nasional Komodo.

Artikel

Menggagas Ekowisata Berbasis Konservasi Penyu di Kampung Kerora

Kampung Kerora, yang terletak di Taman Nasional Komodo, menyimpan potensi besar untuk menjadi destinasi ekowisata berbasis konservasi penyu. Kedekatannya dengan habitat alami penyu di Pulau Muang memberikan peluang emas untuk mengembangkan wisata alam yang sekaligus berperan dalam pelestarian keanekaragaman hayati. Namun, peluang ini tidak lepas dari sejumlah tantangan. Minimnya infrastruktur pendukung dan rendahnya kesadaran masyarakat lokal tentang pentingnya konservasi masih menjadi hambatan utama. Tanpa strategi pengelolaan yang tepat, potensi ekowisata dapat berubah menjadi ancaman bagi habitat penyu itu sendiri. Kajian yang dilakukan di Kampung Kerora merekomendasikan sejumlah langkah kunci untuk mewujudkan ekowisata berbasis konservasi yang berkelanjutan: Dengan pendekatan terpadu ini, pengelolaan ekowisata di Kampung Kerora diharapkan mampu: Keberhasilan strategi ini membutuhkan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Kajian menekankan bahwa konservasi tidak bisa berjalan sendiri, melainkan harus menjadi gerakan bersama berbasis bukti dan pengalaman lapangan. Jika terwujud, Kampung Kerora tidak hanya dikenal sebagai kampung nelayan di dalam kawasan konservasi, tetapi juga sebagai contoh sukses pengelolaan ekowisata yang melindungi satwa langka sekaligus menyejahterakan masyarakat.

Berita

Pelatihan Selam Tingkatkan Kapasitas Pemantauan Ekosistem Laut di TN Komodo

Sebagai upaya memperkuat pengelolaan kawasan konservasi perairan, Pelatihan Selam Open Water dan Advanced Diving dilaksanakan pada 20–22 September 2024 di Taman Nasional Komodo. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas teknis para pengelola kawasan dalam melakukan pemantauan ekosistem laut secara langsung di lapangan. Peserta mengikuti kombinasi teori dan praktik penyelaman, mencakup navigasi bawah air, kontrol daya apung, penggunaan peralatan selam, hingga prosedur keselamatan darurat. Selain keterampilan teknis, pelatihan juga menekankan pentingnya keselamatan sebagai prioritas utama dalam setiap aktivitas bawah laut. Materi pelatihan memperdalam kemampuan identifikasi ekosistem laut, khususnya kondisi terumbu karang dan keanekaragaman hayati. Melalui praktik lapangan di Pulau Bidadari dan Sabolo Besar—lokasi dengan ekosistem laut yang kompleks—peserta dilatih menggunakan metode pemantauan berbasis bukti seperti transek garis dan observasi langsung. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman serta keterampilan peserta. Mereka yang berhasil menyelesaikan program memperoleh sertifikasi Open Water dan Advanced Diving, yang menjadikan mereka lebih siap dalam mendukung pemantauan dan konservasi laut di kawasan TN Komodo. Dengan kapasitas baru ini, diharapkan para pengelola kawasan dapat berperan lebih aktif dalam pengawasan berbasis data, memperkuat konservasi terumbu karang, dan memastikan keberlanjutan ekosistem laut sebagai bagian penting dari pengelolaan Taman Nasional Komodo.

Artikel

Kajian Mitigasi Perubahan Ekosistem Taman Nasional Komodo: Menjaga Habitat Satwa Ikonik Dunia

Taman Nasional Komodo (TNK) merupakan rumah bagi komodo (Varanus komodoensis) serta beragam ekosistem penting, mulai dari hutan bakau, padang lamun, hingga terumbu karang. Namun, kawasan ini menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim, pertumbuhan wisata, serta aktivitas manusia yang tidak terkendali. Kajian terbaru yang dilakukan oleh Balai TNK mengidentifikasi sejumlah ancaman utama: Sebagai respons, strategi mitigasi yang direkomendasikan mencakup: Kajian ini menjadi acuan penting bagi kebijakan konservasi nasional, sekaligus menegaskan bahwa menjaga TNK bukan hanya soal melindungi komodo, melainkan juga menjaga keseimbangan ekosistem darat dan laut yang menopang kehidupan masyarakat sekitar.

Berita

Peningkatan Kapasitas Kader Konservasi Terkait Konservasi Penyu dan Ekowisata di Kepulauan Seribu

Kepulauan Seribu, 13–16 Agustus 2024 – Sebanyak 13 kader konservasi dan petugas Balai Taman Nasional Komodo mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas konservasi penyu dan ekowisata di Taman Nasional Kepulauan Seribu. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman peserta dalam mengelola habitat penyu sekaligus mengintegrasikan konservasi dengan pengembangan wisata berbasis masyarakat. Pelatihan dilakukan melalui in-class coaching dan praktik lapangan. Peserta mempelajari teknik pengelolaan sarang semi-alami, pelepasan tukik, hingga strategi ekowisata berkelanjutan. Pada sesi out-class coaching, peserta mengunjungi Pulau Pramuka untuk mengamati langsung relokasi sarang, pemeliharaan penyu di sanctuary, serta keterlibatan masyarakat lokal sebagai pemandu wisata dan edukator lingkungan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kapasitas kader konservasi dalam merancang program konservasi berbasis masyarakat. Para peserta berkomitmen untuk menerapkan ilmu tersebut di Taman Nasional Komodo, terutama dalam pengelolaan konservasi penyu yang terintegrasi dengan strategi kawasan. Dengan kolaborasi antar-taman nasional, kegiatan ini diharapkan dapat mendukung pelestarian ekosistem laut dan memperkuat ekowisata berkelanjutan di Indonesia.

Menampilkan 13 dari 29 item