Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Pusat
IN-FLORES
IN-FLORES
Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Pusat
Labuan Bajo Pemerintah Indonesia, Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Kehutanan didukung oleh Proyek IN-FLORES, menyelenggarakan Seminar Nasional “Penguatan Manajemen Cagar Biosfer di Indonesia” di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Seminar ini menjadi ruang dialog strategis yang mempertemukan pemerintah pusat dan daerah, pengelola taman nasional, akademisi, organisasi masyarakat sipil, serta mitra pembangunan Proyek IN-FLORES untuk membahas tantangan, praktik baik, dan peluang dalam memperkuat tata kelola cagar biosfer di Indonesia. Direktur Jenderal KSDAE, Prof. Satyawan Pudyatmoko, menegaskan bahwa cagar biosfer merupakan model pembangunan berkelanjutan yang menyatukan fungsi konservasi, pembangunan ekonomi, serta pelestarian sosial dan budaya masyarakat setempat. “Pengelolaan cagar biosfer membutuhkan tata kelola yang kolaboratif, berbasis data ilmiah, serta adaptif terhadap dinamika sosial dan tekanan ekologis yang terus berkembang,” ujar Prof. Setyawan, pada, Selasa, 16/12/2025. Sementara, Iwan Kurniawan, Programme Manager UNDP Indonesia, menyampaikan bahwa Proyek IN-FLORES tidak hanya mendukung upaya konservasi, tetapi juga mendampingi para pemangku kepentingan lokal dalam merancang dan menerapkan solusi yang kontekstual. Pendampingan tersebut mencakup mitigasi konflik manusia-satwa, restorasi habitat, pengembangan mata pencaharian alternatif, serta penguatan peran dan kapasitas kelembagaan daerah dalam upaya-upaya konservasi. Seminar ini juga menghasilkan beberapa rencana tindak lanjut strategis, yaitu pentingnya perumusan indikator kinerja cagar biosfer, pemanfaatan teknologi pemantauan yang inovatif, dan penguatan model pembiayaan yang berkelanjutan. Proyek “Integrated Biodiversity Management in Flores Investing In The Komodo Dragon and Other Globally Threatened Species in Flores (IN-FLORES)” adalah inisiatif bersama Pemerintah Indonesia dan UNDP yang didanai oleh GEF. Proyek ini bertujuan memperkuat kapasitas pengelolaan keanekaragaman hayati dan sistem tata kelola kawasan berbasis lanskap di Pulau Flores, termasuk mitigasi konflik manusia-satwa, restorasi, serta pembangunan kelembagaan dan sistem pemantauan. Sumber: Spiritnesia.com
Flores dikenal sebagai rumah bagi spesies ikonik seperti komodo, kakatua kecil jambul kuning, dan elang flores. Namun, sebagian habitat alaminya telah mengalami degradasi, yang mengancam keseimbangan ekosistem dan keberlangsungan kehidupan satwa serta masyarakat di sekitarnya. Sebagai bagian dari Proyek IN-FLORES, langkah strategis telah disiapkan untuk memulihkan 300 hektar lahan terdegradasi yang terdiri dari 150 hektar kawasan hutan dan 150 hektar padang rumput alami. Rencana ini bertujuan mengembalikan fungsi ekologis habitat yang mendukung kelestarian spesies serta membuka peluang bagi pengelolaan ekosistem yang lebih berkelanjutan di masa depan. Saat ini, restorasi berada pada tahap persiapan, dengan rencana pelaksanaan yang telah disetujui dan akan dimulai pada periode pertengahan proyek. Setiap hektar yang akan dipulihkan merepresentasikan komitmen nyata menuju SDG 15: Life on Land, sekaligus dukungan Indonesia dalam menjaga keanekaragaman hayati dunia. Mari bersama mendukung langkah ini karena setiap pohon yang kelak tumbuh kembali adalah langkah kecil yang berarti besar bagi bumi dan generasi mendatang.
Menampilkan 1 dari 2 item